YO... yang chapter 2... chapter 2...

#Ada tukang sayur ye#

Tak sobek-sobek mulutmu.

#Tukul Arwana ada disini ternyata#

BERISIK LU. Ehem..

Yo minna, inilah chapter 2 dari fic ini. Untuk fic Kaa-san saya sudah update lhoooo...

#HEH, FIC BIKIN RUSUH GAK USAH DIPASANG YE#

Hahahaha... biasalah orang syirik kayak Raiko butuh dimusnahin kayaknya.

#Tak getsuga tenshou baru tahu rasa#

URUSAIIII... Ehem.. Untuk chapter 2 masih belum keliatan inti dari cerita. Sengaja begitu karena saya dan Raiko pengen bikin multichapter untuk kali ini. Khukhukhu

#Si Rinko tu yang maksa. Ane mah ngikut-ngikut.#

KO, ANE PECAT JADI PARTNER LU YE. KAGAK USAH BANYAK NGEMENG.

Byakuya: berantem lagilah Raiko & Rinko... oke mari kita sambit.

Byakun-chan... bukan sambit honey, tapi sambut. (dilempar Byakuya FC pake galon)

My Baby By Rin & Rai Kurochiki

Chapter 2: Pertemuan tak terduga.

Disclaimer: Ampe si Baragan bangkit dari kuburpun BLEACH tetep punya TITE KUBO. (IKO.. ntar dihantuin mbah Baragan lho)

Warning: AU, OOCness, Aneh, siapin kantong oksigen supaya gak sesek nafas, don't like don't read.


.

.

#Rin_Rai Kurochiki#

.

.


''Waa... Sugoi!''

''Kau benar, Hime!'' Teriak Nell kagum ketika melihat Roller Coaster yang melaju cepat. Membayangkan mereka yang menaiki wahana tersebut membuat adrenalin mereka terpacu. Bayangkan saja jika badanmu harus berjungkir-balik mengikuti arah. Pasti rasanya perut pun ikut terkocok-kocok karena hal itu. Dan serunya adalah, kau dapat menguji seberapa besar nyalimu. Tatsuki dan Momo menggeleng-gelengkan kepala mereka ketika melihat tingkah heboh duo seksi itu.

''Hey.. hey.. Kalian ini memalukan sekali.'' Gerutu Tatsuki melihat Nell dan Orihime berlarian seperti anak TK.

''Kau benar Tatsuki.'' Momo membenarkan. Ingin rasanya mereka pergi menjauh dari duo sksi itu ketika meneriakkan 'Aku ingin naik yang itu' dengan teriakkan kencang dan mata berbinar-binar. Tetapi apa mau dikata, mereka sudah datang bersama. Astaga... sebenarnya mereka ini anak SMA atau anak TK.

Ya, kalian bisa menebaknya. sekarang ini mereka telah sampai di taman bermain yang ada di Karakura. Begitu sampai di tempat tujuan, Nell dan Orihime begitu antusias berlarian di arena taman bermain. Dan tentu saja hal itu dlihat oleh banyak pengunjung. Dan mau tak mau, Tatsuki dan Momo menarik mereka menjauh. Rukia juga tampak senang sekali ketika menginjakkan kakinya pertama kali di taman bermain. Rukia merasa kenangannya bersama mendiang kakanya kembali lagi.

Flashback

''kakak,ayo ke sana''

''Iya, iya Rukia.''

Rukia terus berlari menuju wahana bermain komedi putar. Sang kakak, Kuchiki Hisana hanya tersenyum sembari menghampiri sang adik yang tampak ceria sekali hari ini. Rukia yang saat ini sudah berusia 9 tahun terlihat lucu dengan pakaian mini dress yang di buat oleh Hisana sendiri. Rambutnya yang dikuncir ekor kuda dan diberi pita berwarna putih semakin menambah kesan manis pada diri Rukia. Hisana sangat senang melihat Rukia yang dikuncir seperti itu. Terlihat bersinar dan memperlihatkan keanggunannya. Keceriaan Rukia terhenti melihat Hisana hanya terdiam ditempat. Ia merasa khawatir. Segera Ia menghampiri Hisana.

''Kakak, kau baik-baik saja?'' Ujar Rukia dengan nada cemas.

''Ah Rukia, aku baik-baik saja. Kau tak usah khawatir.'' Balas Hisana tersenyum. Rukia kembali menatap kakaknya khawatir.

''Lalu, kenapa tadi kakak melamun?'' Tanya Rukia kecil pada Hisana.

Hisana tersenyum mendengar penuturan Rukia. Diraihnya tangan Rukia untuk duduk di bangku dekat wahana.

''Kau tahu Rukia, aku sangat senang saat kau mengajakku pergi ke taman bermain. Meskipun Byakuya melarangnya karena takut penyakitku kambuh. Dan karena ini untuk menyenangkanmu, akhirnya Byakuya mengijinkannya.'' Hisana tersenyum sembari memandang awan yang bergerak.

Hari ini cuaca benar-benar sangat cerah. Cocok sekali untuk bertamasya dengan keluarga. Setidaknya itu yang sedang dilakukan kakak-adik ini. Hisana menatap banyaknya pengunjung yang tengah berlalu-lalang.

''Aku pernah berdoa pada Kami-sama agar aku dapat pergi kesini bersama denganmu, dan sekarang doaku terkabulkan. Aku rela jika Kami-sama akan memanggilku sekarang juga, Rukia.'' Senyum Hisana lembut.

Mendengar kata-kata itu Rukia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan memeluk Hisana.

''Jangan berkata seperti itu, kak. Aku yakin kakak akan sembuh. Kapanpun itu aku akan menunggunya. Aku ingin kemari bersama kakak lagi.'' Isak Rukia pelan sembari memeluk Hisana lebih erat. Hisana membelai rambut Rukia lembut.

''Hey dengarkan aku. Kapanpun kau ingin pergi ke taman bermain, aku akan menemanimu. Kau tidak usah risau sayang.''

Rukia menatap Hisana. Senyum terpatri diwajah ayunya ketika mendengar kata-kata Hisana. Dilepaskannya pelukan tersebut.

''Benarkah kakak akan ikut jika ku ajak kemari lagi?'' Tanya Rukia menyeka bekas air matanya.

''Aku janji. Kapanpun itu.'' Ujar Hisana tersenyum sembari menghapus air mata Rukia.

''Baiklah. Aku juga akan berjanji tidak menangis lagi.'' Senyum Rukia meyakinkan kakak perempuannya ini.

Hisana tersenyum lembut mendengar kata-kata Rukia. Ya... Lebih baik melihatnya tersenyum daripada menangis. Walaupun Ia tahu tidak lama lagi Kami-sama akan memanggilnya untuk ada bersamanya. Biarlah Rukia tetap tersenyum walaupun Ia tidak disampingnya.

'Kami- sama, aku berharap semoga nantinya Ia akan mendapat teman-teman yang mengasihinya dan laki-laki yang menyayanginya. Aku ingin laki-laki itu selalu membawa kebahagiaan untuknya. Ku mohon Kami-sama.' Doa hisana. Ini adalah doanya untuk kebahagiaan adik tercintanya. Orang yang paling berharga dalam hidup Hisana.

Dan awal yang bahagia berubah menjadi kelam setelah mereka pulang dari taman bermain. Penyakit kanker otak yang diidap Hisana selama kurang lebih 3 tahun ini kambuh saat mereka tiba di rumah. Rukia yang panik segera menelepon Byakuya dan dokter. Kondisi Hisana sungguh sangat buruk. Ia terus menahan sakit dikepalanya dan badannya sangat lemah. Rukia yang sangat panik keluar rumah mencari bantuan. Tetangga Rukia yang melihat terlihat kepanikan segera menghampirinya, dan bergegas menuju ke dalam rumah Rukia untuk segera membawa Hisana ke Rumah Sakit. Namun takdir berkata lain, Hisana telah menutup mata untuk selama-lamanya saat Rukia telah sampai di kamar Hisana.

Rukia yang melihat kakanya telah terbujur kaku segera menghampirinya dan mencoba membangunkan Hisana.

''kakak, bangunlah kak. Ayo kita ke Rumah Sakit. kak, bangun.''

Rukia terus mengguncang tubuh Hisana. Mencoba untuk membangunkan orang terkasihnya. Orang-orang yang ada di dalam menyaksikan Rukia yang terus mencoba membangunkan Hisana hanya mampu menatap pilu. Byakuya yang baru saja tiba dari kantor dan mendengar suara Rukia yang berteriak langsung menghampirinya. Dilihatnya tubuh sang istri yang telah tidak bernyawa sedang di guncang-guncangkan oleh Rukia.

''kakak aku mohon jangan begini. Bangunlah kak.'' Isak Rukia kembali.

Byakuya yang melihat ratapan Rukia, tidak mampu berbuat apa-apa. istri tercintanya telah pergi menuju tempat Kami-sama berada. Hatinya benar-benar terpukul menyaksikan hal ini. Bagaimana bisa Ia tidak dapat menemani istrinya disaat-saat terakhir. Dengan menguatkan dirinya, sendiri di dekatinya Rukia perlahan.

''Rukia.''

''Nii-sama, hiks... Hisana-nee..''

''Sudahlah Rukia. Hisana sudah pergi. Relakanlah.'' Ujar Byakuya mencoba menguatkan adik iparna ini.

''Tidak boleh! Ini tidak boleh terjadi. Hisana-nee...'' Jerit Rukia tertahan. Byakuya menggelengkan kepalanya.

''Sudahlah Rukia. Dia sudah tiada.''

''Hiks... hiks... Hisana-nee!''

Byakuya segera memeluk Rukia yang berteriak histeris melihat kepergian kakaknya. Kakak yang selalu Ia anggap sebagai ibu kini sudah tiada. Wanita yang penuh dengan kehangatan kini telah pergi ke tempat Kami-sama berada...

Flashback end

Rukia tersenyum memandangi awan yang saat ini bergerak. Sama persis saat Ia pergi ke taman bermain bersama sang kakak.

'Kakak, apa kau bisa melihatk? Sekarang ini aku sedang berada di taman bermain. Walaupun tempatnya berbeda tapi aku senang sekali bisa ada di sini bersama teman-teman.'

Rukia mencoba memejamkan matanya ketika angin lembut membelai wajahnya.

''Syukurlah kau sudah memiliki teman Rukia. Berbahagialah sayang.''

''Ka.. Kakak.''

Rukia membalikkan badannya ketika mendengar suara kakaknya. Namun tidak ada sosok kakaknya. Yang ada hanya kerumunan orang yang berlalu lalang. Rukia tersenyum lembut seraya menatap langit cerah.

''kakak, aku yakin kau sudah bahagia sekarang.'' Gumam Rukia pelan.

''Kuchiki, hey Kuchiki sedang apa kau disana?'' Teriak Tatsuki dari kejauhan.

''Ayo kuchiki-chan. Mereka sudah menunggu.'' Sahut inoue berteriak juga.

''Ah baik. Aku datang.''

Rukia berlari menyusul teman-temannya untuk segera pergi ke tempat pertemuan

.

.

#Rin_Rai Kurochiki#

.

.

''Grimm!''

''Ah Nell.''

Nell berlari menghampiri Grimmjow dan teman-temannya. Dengan lincahnya, Nell berhasil memeluk laki-laki berambut biru itu. Grimmjow tersenyum lembut seraya membelai rambut hijau tosca gadis tersebut.

''Hey jangan berlari Nell. Kau lincah sekali.'' Ujar Grimmjow mengingatkan. Nell melepaskan pelukan tersebut.

''Ah maaf ya menunggu lama. Kami tadi berjalan-jalan sebentar dulu.'' Ujar Nell seraya menggelayut mesra pada lengan Grimmjow. Perlu diketahui walaupun Nell baru mengenal Grimmjow selama kurang lebih seminggu yang lalu, tetapi Nell sudah sangat manja pada Grimmjow. Dan ini merupakan sifat alamiah Nell.

Grimmjow terkekeh pelan.

''Tidak apa-apa. Yang penting kau sudah ada disini.'' Grimmjow menenangkan. Nell tersenyum manis menanggapinya.

''Grimm, apa ini teman-temanmu?'' Tanya Nell mengarahkan pandangannya pada orang di samping Grimmjow.

''Oh ya. Akan aku kenalkan teman-temanku padamu. Yang ada di sebelah ku ini Ishida Uryuu. Dia siswa terpintar di sekolahku. Ayahnya pemilik rumah sakit terbesar di Tokyo dan Karakura.'' Ujar Grimmjow. Laki-laki bernama Ishida itu menundukkan kepalanya.

''Salam kenal. Namaku Ishida Uryuu.''

''Yang berambut putih itu Hitsugaya Toushiro. Pewaris perusahaan berlian di Belgia.''

''hay'' Balas hitsugaya cuek.

''Dan yang berambut nanas merah itu Renji Abarai. Dia juga pewaris perusahaan senjata terkenal di Rusia.'' Kembali Grimmjow mengenalkan temannya.

''Hey kucing biru, kuperingatkan kau untuk tidak mengataiku seperti itu.'' Ucap Renji bersungut-sungut.

''ok, ok Babon. Maaf ya.''

''Apa kau bilang?'' Nell menengahi pertengkaran.

''Ah salam kenal untuk kalian semua. Terutama untuk Abarai-san. Benar-benar bersemangat.'' Ujar Nell tersenyum polos. Renji hanya berblushing ria mendengar hal itu.

''Nah giliranku untuk mengenalkan gadis-gadia cantik ini. Disebelahku namanya Inoue Orihime.''

''Hay namaku Inoue Orihime. Salam kenal.'' Ujar Orihime tersenyum manis.

''Yang berambut cepol itu namanya Hinamori Momo.'' Nell menunjuk Momo.

''Namaku hinamori momo.'' Ujar Momo seraya menundukkan kepala hormat.

''Gadis tomboy yang ada disebelah Momo adalah Tatsuki Arisawa.'' Kembali Nell mengenalkan sahabatnya. Tatsuki hanya tersenyum biasa.

''Aku Tatsuki Arisawa. Salam kenal.''

''Dan yang terakhir namanya Kuchiki Rukia.'' Nell memegang pundak Rukia seraya tersenyum manis. Rukia hanya tersenyum simpul.

''Namaku Kuchiki Rukia.''

Renji segera maju dan meraih tangan Rukia.

''Ah namamu Kuchiki Rukia ya. Nama yang manis, nona. Mau kencan denganku?''

Renji mengecup pelan punggung tangan Rukia. Dan tentu saja Rukia membelalakan matanya tidak percaya.

Duak..

''AUW... Hey pendek! Apa yang kau lakukan, hah?'' Amuk Renji pada teman pendeknya Hitsugaya Toushiro.

''Bersikaplah sopan, nanas.'' Ujar Hitsugaya cuek.

''apa kau bilang. ku hajar kau.''

Yang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepala heran melihat tingkah manusia berbeda warna rambut itu. Yang satu memiliki sifat cuek dan terkesan dingin dan yang satunya lagi memiliki sifat ceroboh dan tempramentnya tinggi. Perpaduan yang menarik.

''Hey Grimm, bukankah kau bilang akan membawa 4 teman. Kenapa hanya ada 3?'' Tanya Nell bingung menatap sekelilingnya.

''Ah memang ada 4. Tapi manusia jeruk satu itu pasti selalu terlambat untuk berkumpul.'' Ujar Grimmjow menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

''Manusia.. jeruk?'' Nell menatap Grimmjow bingung.

''Nama aslinya adalah Ichigo Kurosaki. Pewaris perusahaan otomotif yang ada di Perancis, pemilik departement store yang ada di Tokyo, juga pewaris Kurosaki Coorporation yang terkenal itu.'' Ujar Ishida panjang lebar.

''A.. apa? jadi Kurosaki Ichigo yang terkenal itu.'' Momo berteriak histeris.

''Ya. Biar ku hubungi dulu Si Jeruk itu.'' Sambung Grimmjow meraih ponsel yang ada dalam sakunya.

Sementara itu di Kediaman Kurosaki...

''Mmnh..''

Seorang pria berperawakan tinggi masih tertidur nyenyak diranjang besarnya. Rambutnya yang berwarna orange menyembul di balik selimutnya. Ia tampak masih sangat menikmati tidurnya walaupun jarum jam sudah menunjukan pukul 10 pagi. Kurosaki Ichigo benar-benar sangat menikmati tidur paginya hari ini.

Kring.. Kring..

Suara ponsel dari samping tempat tidurnya membuat suasana yang tadinya hening menjadi berisik. Ichigo yang sedikit terbangun dari tidurnya membiarkan ponselnya terus berdering. Ia sedang tidak mau diganggu sekarang. Namun semakin lama dibiarkan semakin membuat telinga ichigo tuli.

''Argggghhhh.. Siapa yang menghubungiku disaat seperti ini'' Geram ichigo seraya menyingkap selimutnya.

Ichigo meraih ponselnya dan di tekannya tombol dial.

''ada apa?'' Sahut Ichigo ketus.

'Hey jeruk, kenapa kau belum datang juga, hah?'

''oh ternyata kau Blue Cat. Ada apa?''

'Ada apa kau bilang. Kau lupa dengan pertemuan kita dengan teman kencanku, hah Jeruk?'

''Ah itu. Em.. jam berapa?''

'Astaga jeruk. Jangan bilang kau lupa.'

''Itu.. Maaf aku lupa, cat.''

'Dasar bodoh. Cepatlah kemari atau pesawat yang kau pesan pada ku akan ku batalkan.'

''Berani kau membatalkannya akan ku cekik lehermu, kucing''

'Kalau begitu datanglah kemari, jeruk.'

Pip

Sambungan telepon terputus sepihak. Ichigo menggeram frustasi sambil melempar bantalnya.

''Argh dasar kucing sialan. Mengganggu saja. Tidak tahu apa jika aku sedang tidur.''

Ichigo segera bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang telah di janjikan Grimmjow dan teman-temannya.

''Dia akan datang kemari. Tenang saja.'' Ujar Grimmjow meyakinkan.

''Benarkah? Baguslah.'' Nell tersenyum lega. Setelah puas beradu mulut dengan Hitsugaya, Renji mendekati kawan-kawannya.

''Lebih baik kita bermain dulu. Bagaimana?'' Usul Renji.

''Ehm.. Ide yang bagus. Baiklah. Ayo.'' Sahut Nell menyetujui.

Mereka semua pergi ke beberapa wahana yang mereka inginkan. Ishida terlihat asyik mengobrol dengan Inoue mengenai beberapa wahana. Nell begitu antusias menunjuk wahana roller coaster sambil merangkul tangan Grimmjow. Renji terlihat begitu semangat menceritakan tentang perusahaannya pada Tatsuki. Momo asyik bersenda gurau dengan Hitsugaya. Sedangkan Rukia berjalan sendiri mengiringi teman-temannya. Ia tampak begitu asyik sendiri memperhatikan gadis kecil yang tertawa gembira menikmati wahana permainan komedi putar bersama kakak perempuannya. Sama saat Rukia dulu. Ia dan Hisana begitu asyik menikmati permainan itu. Ia merindukan kakaknya

'kakak'

Drrt..drrt...

Getaran ponsel membuat lamunan Rukia terhenti. Diraihnya ponsel flip putihnya. Rukia melihat siapa orang yang telah menghubunginya.

'Nii-sama?'

Segera di takannya tombol dial.

''moshi-moshi''

'Rukia, bisakah kau pulang sekarang. Kaien ada di rumah mencarimu.'

''Kaien-dono?''

'Iya. Pulanglah segera.'

''Baik Nii-sama. Aku mengerti.''

Pip

''teman-teman''

Serempak teman-temannya yang ada didepan menoleh ketika Rukia memanggilnya.

''Ah kuchiki-san, ada apa?'' Sahut Momo karena posisi dia dan Hitsugayalah yang paling dekat dengannya.

''Gomen. Aku harus pulang. Nii-sama meneleponku tadi.'' Ujar Rukia pada teman-temannya.

''Huff.. Tidak seru jika Kuchiki chan pulang.'' Ujar Inoue lesu. Nell menghampiri Rukia.

''Jika memang penting, tidak apa-apa kalau kau pulang, Kuchiki-san.'' Sambung Nell tersenyum lembut pada Rukia.

''benarkah? Arigatou, minna. Aku pulang dulu ya.'' Pamit Rukia pada teman-temannya.

''Em, hati-hati di jalan ya.'' Ujar Tatsuki pada Rukia.

Rukia mengangguk mengerti.

''Kuchiki-san.''

''ya?''

'' Salam kenal ya. Besok jika ada waktu kami akan datang ke sekolah mu.'' Sambung Renji melambaikan tangannya.

''Arigatou Abarai-san. Salam kenal juga untuk kalian semua. Aku pergi dulu. Sampai jumpa.''

''Sampai jumpa kuchiki. Hati-hati.''

Rukia berjalan pulang. Sementara Nell dan yang lainnya meneruskan acara datting mereka.

.

.

#Rin_Rai Kurochiki#

.

.

Sebuah mobil sport baru saja terparkir di tempat parkir taman bermain. Banyak pengunjung yang kagum akan mobil berwarna silver tersebut. Tentu saja mereka kagum. Dari semua mobil yang terparkir disini mobil ini adalah mobil ke-4 yang menarik perhatian mereka setelah mobil sport lain yang -tentu saja- dimiliki oleh sahabat-sahabat dari pemilik mobil ini. Dan dari dalam mobil tersebut, muncullah seorang pria berambut orange dengan penampilan maskulinnya. Siapa lagi kalau bukan Ichigo Kurosaki.

Dengan mengenakan baju kemeja pas badan berwarna putih yang memperlihatkan tubuh atletisnya, ditambah celana jeans yang menutupi kaki jangkungnya, dan kaca mata hitam yang bertengger, serta rambut orange yang kelihatan mencolok membuat Ichigo kini menjadi pusat perhatian para gadis yang melihat dirinya. Teriakkan kekaguman terus menggema kala Ichigo membuka kacamatanya, memperlihatkan mata hazel lembutnya. Oh tetapi ada satu yang disayangkan, kerutan permanen yang bertengger apik didahinya. Kerutan itu dapat terlihat jelas ketika Kurosaki Sulung itutengah mengomel tidak jelas. Ya.. contohnya lihat saja sekarang. Ichigo kembali meracau tidak jelas melihat suasana tempat ini.

''Dasar kucing gila, apa tidak ada tempat lain untuk datting, hah. Apa masa kecilnya kurang bahagia?''

Ichigo terus menggerutu pada dirinya sendiri tentang tempat datting ini. Ya, siapa sih yang tidak kesal jika tempat untuk datting yang harusnya romantis menjadi tempat yang tidak elit seperti ini. Ichigo terus merutuki sahabatnya tersebut. Dari kejauhan Ichigo melihat seorang gadis pendek dengan dress birunya tengah sibuk dengan ponselnya. Gadis itu terlihat begitu asyik dengan pembicaraannya lewat ponsel. Ichigo sama sekali tidak tertarik dengan itu. Namun ini jadi menarik pada saat Ia melihat sebuah sepeda motor tengah mengincar nyawa gadis itu. Dan tentu saja, gadis itu tidak menyadari bahwa ada motor yang sedang melaju di belakangnya bersiap untuk menabraknya. Entah pengemudi motor itu yang sudah tidak waras atau gadis itu yang tidak menyadarinya. Ichigo harus mencegahnya

''Hey nona awas.'' Teriak Ichigo mengingatkan.

Namun gadis itu tidak menyadarinya ketika motor itu siap menabrak gadis itu. Dengan sigap Ichigo berlari kearah gadis itu dan menarik pergelangan tangan gadis itu.

''Gyaa..''

Dan tak ayal, merekapun terjatuh bersamaan.

Rukia berjalan menuju ke stasiun untuk pulang ke rumah setelah Nii-samanya menghubunginya untuk segera pulang. Ditengah perjalanan , ponsel yang ada didalam tasnya berbunyi. Segera Ia angkat telepon tersebut

''moshi-moshi.''

'Hay Rukia.'

''Ka... Kaien-dono.''

'Aku ada dirumahmu sekarang. Kapan kau akan pulang, Rukia?'

''Ah, ini aku sedang perjalanan pulang ke rumah. Kenapa Kaien-dono tidak menghubungiku saat tiba disini?''

'Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Aku benar-benar merindukanmu, Rukia.'

''Benarkah itu?''

Rukia terlihat asyik mengobrol dengan kaien di ponsel. Sampai sampai Rukia tidak mengetahui bahaya yang mengancamnya dari belakang.

''Hey nona awas.''

Samar samar Rukia mendengarkan teriakan tersebut. Namun , Ia anggap itu sebagai angin lalu. Dari depan Ia melihat seorang laki-laki berlari kearahnya dan menarik dirinya hingga terjatuh bersamaan.

''A.. aduh.'' Rukia mengaduh keaskitan ketika tubuhnya harus terjatuh karena hal yang tidak elit seperti ini.

''Kau tidak apa-apa, nona.'' Rukia membuka matanya ketika mendengar suara seseorang.

Ia mendongakan kepalanya ketika orang yang ada di bawah tubuhnya menanyakan keadaannya. Begitupun Ichigo yang langsung menatap mata gadis yang ada di atasnya. Saat Ichigo melihat mata gadis itu, mata Ichigo seakan terpaku pada keindahan bola mata indigo tersebut.

''Cantik.'' Gumam Ichigo terpesona. Rukia menatap bingung pada laki-laki yang ada dihadapannya.

''Maaf?''

''Ah apa kau baik baik saja, nona?''

Tanya ichigo mengalihkan pembicaraan. Rukia yang merasa tidak enak dengan posisi seperti ini segera bangun dari tubuh bidang pria tersebut.

''Ma.. maaf ya aku telah merepotkanmu.''

Tunduk Rukia malu. Ichigo segera bangun dari posisinya dan merapikan bajunya yang agak kotor.

''Tidak apa-apa nona. Apa kau terluka?''

Tanya Ichigo seraya membersihkan debu yang menempel di bajunya.

''Ah aku tidak apa-apa. Sekali lagi maafkan aku.'' Tunduk Rukia sekali lagi.

''Bukan masalah.'' Ichigo tersenyum tulus.

'RUKIA.. RUKIA...'

Merasa ada yang memanggil namanya, Rukia segera mencari tahu. Ternyata ponselnya yang terjatuh dekat dengannya.

''kaien-dono?''

Rukia segera meraih ponselnya.

''kaien-dono.''

'Kau tidak apa-apa Rukia? Apa yang terjadi?'

''Tidak ada apa-apa Kaien-dono. Tadi aku hanya hampir tertabrak.''

'Astaga, cepatlah pulang.'

''Baik-baik. Aku akan pulang sekarang.''

'Baiklah. Hati-hati di jalan.'

''ehm''

Rukia menekan tombol merah diponselnya. Ichigo yang merasa tertarik mencoba bertanya pada gadis itu.

''Apa.. tadi kekasihmu?'' Tanya Ichigo penasaran.

''Bukan. dia seniorku. Ah ya, sekali lagi maaf merepotkanmu. Aku harus segera kembali terima kasih atas bantuanmu.'' Ujar Rukia seraya membungkukan badannya.

''Tidak apa-apa nona. Apa.. mau kuantar pulang?'' Tawar Ichigo pada gadis manis itu.

''Tidak usah. Sekali lagi terima kasih ya. Aku permisi.'' Pamit Rukia.

''Baiklah. Hati-hati.''

Rukia segera bergegas pulang ke rumah. Melihat punggung kecil gadis itu menjauh darinya, Ichigo merasa kehilangan. Ada perasaan yang terasa kosong saat gadis itu pergi.

''Huff.. dia pergi. Aku benar-benar terpesona dengan gadis itu. Oh iya... kenapa aku lupa menanyakan nama gadis itu. Dasar Ichigo bodohhhhhh.''

''hah... tapi biarlah. Mungkin besok aku akan bertemu kembali. Gadis dengan siluet mata yang menarik. Kubuktikan jika Ia akan jadi milikku suatu saat nanti.''

Ujar Ichigo meyakinkan dirinya sendiri.

To Be Continued (again)

Rin 'n' Rai Kurochiki Room

#Readers tau gak. Waktu ada adegan si Ichigo make kemeja pas body trus ngeliatin tubuh atletisnya si Rinko dengan senengnya ngerebut laptop trus ketawa-ketawa gila#

Suka-suka gue ye. Lu kayak kagak pernah gitu aje. Waktu ngeliat Rukia di episode 228 aja hikmat bener liat begituan. Mupengkan lu.

#HEY. BUKA AIB LU#

Hah... beginilah Raiko... suka marah-marah kalo ngebongkar rahasia sendiri. Dan Readers.. ini adalah hasil ketikan Raiko. Gak jauh bedakan dengan saya. Jelek banget.

#JUJUR AMAT SIH LU RIN. NYESEL GUE NGETIK CAPEK-CAPEK.#

Kan biar readers tau kalo lu juga ikut ngetik, koplak...

#Hah. Terserahlah. Ya... ini karya saya (walaupun ada sebagian yang Rinko ketik) Minna, mungkin saya bakalan out dari ffn karena kesibukan yang makin padat#

Yahhhh... ane sendiri donk. Hiks.. hiks...

#jijay ah Rin. Nangis mulu kerjaan lu. Kemaren nangis gara-gara cowok sekarang apalagi coba#

YA ALLAH.. DOSA APE GUE PUNYA PARTNER KAYAK LUUUUUUUUUUUUUU...

#Bersyukurlah punya partner kayak gue#

TERSERAHLAH... nah readers... gimana dengan chapter ini? Kurang puas? Silahkan caci maki si Raiko. Disiram pake bensin juga boleh.

#RINKOOOOOOOOOOOO#

Apa? Marah mulu kerjaannya. Senyum itu ibadah, ko. Senyum ama yang ada di sms doank.

#ASTAGHFIRULLAH.. SONO BACK TO THE STORY#

Ya udah mau gimana lagi. Kan ente yang ketik, ntar ente yang nanggepin review orang. Ane mau istirahat.

#sono ke alam barzah#

Kalo Min Hoo mau ntar gue bareng ama dia. PUASSSS.

#hah makin ngaco omongan Rinko. Oke bagi yang mau dilanjutin silahkan kirim PM atau apapun. Gak pun juga bakalan tetep diupdate kok. Tenang aja. Rin, gue udah kelar. Rin?#

(Lagi makan)

#Ya ampun. Enak bener lu. Ayam paha dimakan sendiri. Okelah see you at next chapter, guys#

Rin 'n' Rai Kurochiki couw