Tok.. tok... Ada warganya gakkkkkkkkkkk...
#BERISIK LU RIN.#
MASALAH BUAT LOEEEEE... kan ini fic buatan ane juga.
#ASHIDOOOOOOO... BINI LU NIIIIIIIIIIIII URUSIN SONOOO#
Mana ayank gue. Mana? Come with me, Ashido-kunnnnnnnnnnn... (dihajar ashido fc).
#Itu dia kenapa gue kagak setuju dia ama lu. Kasian si Ashido dapet bini kayak lu.#
Syirik aje Lu. Oke Minna.. inilah Chapter 3. Nanti Readers bakalan tau sesuatu yang bakalan cetar membahana badai. Ulala...
#Syahrini move on#
Ye lu kan supirnye. Jadi kagak usah banyak cingcong. Patuh ama majikan.
#kagak di PM orang kagak di Sms isinya harus jadi babu lu. Bosen kagak pernah digaji#
TAMBAH NGACOOOOOOOO... oke langsung aja ya. Keburu si Raiko banyak cingcong.
My Baby By Rin 'n' Rai Kurochiki.
Chapter 3: Rencana perjodohan yang konyol.
Disclaimer: Mulut Raiko lagi ane bekep gara-gara pengen ngomong kalo dia titisan OM TITE. Jadi dengan bangga Rinko bilang kalo BLEACH punya Om Tite Kubo.
Warning: AU, OOCness, Siapkan kantong oksigen buat persiapan biar gak sesek nafas, Aneh bin ajaib, gampangnya Don't like Don't read. Oke..
.
.
#Rin_Rai Kurochiki#
.
.
''Tadaima.''
Kuchiki Rukia baru saja tiba di rumah. Akibat insiden tadi, pastilah kakaknya akan merasa khawatir pada dirinya. Dan baru saja Ia akan melepas sepatu, tubuh seseorang baru saja menubruk dirinya. Tubuh besar yang berbeda jauh dibandingkan dirinya. Oh untung saja Rukia memiliki keseimbangan yang bagus. Jika tidak, bisa dijamin Ia akan menjadi roti gepeng sekarang. Dan jika kalian menebak itu adalah Kaien, bingo seratus ribu dibagi 100 orang untuk kalian.
(Hoy Rai, serius bro.. serius..)
Oke mangap saya salah. Saya bakalan serius. BACK TO THE STORY
''Rukia.. kau tidak apa-apa?'' Ujar Kaien membelai rambut Rukia. Terlihat sekali jika Kaien mengkhawatirkan gadis bersiluet indah ini.
''Ka.. Kaien-dono. A.. aku tidak apa-apa.'' Rukia menenangkan. Jantungnya sekarang ini hampir keluar akibat perlakuan seniornya ini.
''Syukurlah.''
Kaien melepas pelukannya dan tersenyum lembut kearah Rukia. Dari arah belakang mereka, muncul Kuchiki Byakuya menyambut kedatangan adiknya.
''Kau sudah pulang Rukia.'' Ucap Byakuya datar.
''Iya Nii-sama. Maaf terlambat.'' Rukia tersenyum simpul pada kakak iparnya ini.
''Tidak apa-apa. Apa kau terluka?'' Tanya Byakuya khawatir.
''Tidak Nii-sama. Aku baik-baik saja. Nii-sama tidak perlu khawatir.''
Inilah kebiasaan kakanya jika terjadi apa-apa padanya. Pastilah kakak iparnya ini akan menanyakannya dengan to the point. Walaupun cara bicaranya terkesan datar dan dingin, tapi Rukia bisa tahu bahwa Nii-samanya sangat mengkhawatirkan dirinya.
''Syukurlah. Kalian berdua masuklah dulu. Aku akan pergi ke suatu tempat.'' Byakuya membuka pintu dan pergi keluar.
''Baik Nii-sama. Hati-hati dijalan.''
Kaien dan Rukia mengantarkan Byakuya ke depan pintu. Setelah dipastikan Byakuya telah pergi merekapun masuk kedalam. Tinggalah dua insan berbeda jenis ini. Terdiam diruang keluarga. Rukia merasa canggung ketika bertemu dengan Kaien lagi.
Ini adalah pertemuan mereka kembali setelah kematian mendiang Hisana. Setelah Hisana meninggal, Ia mengatakan bahwa Kaien dan keluarganya akan pergi ke Amerika untuk hijrah. Rukia sebagai orang yang bisa dibilang dekat dengan Kaien merasa sedih akan di tinggal Kaien. Tapi, sebelum keberangkatannya, Kaien sempat berjanji bahwa nanti saat SMA Ia akan meminta orang tuanya untuk bersekolah disini. Dan sekarang disinilah Kaien. Ia telah menepati janjinya walaupun tidak tepat 100 %.
Dapat dilihat, sekarang ini mereka terdiam membisu dan saling sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya Rukia benci dengan situasi seperti ini. Dan demi menghilangkan kecanggungan, Rukia mencoba untuk bersuara.
''Em.. Kapan kau tiba disini Kaien dono.''
''Sebenarnya sudah 1 minggu yang lalu. Aku sengaja tidak memberitahu siapa-siapa, karena aku sibuk mencari sekolah yang tepat.'' Ujar Kaien menjelaskan. Rukia mengangguk paham. Urusan mencari sekolah memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
''ah, jadi.. kau akan bersekolah di mana Kaien-dono?'' Tanya Rukia kembali. Ia begitu penasaran sekarang.
''di SMA Karakura putra.'' Jawab Kaien seraya menyenderkan bahunya disofa.
''Be.. benarkah. Aku juga di SMA Karakura putri.'' Jelas Rukia dengan riangnya. Senang sekali rasanya bisa sekolah dengan nama yang sama walaupun tempatnya berbeda.
''Benarkah, wah itu bagus. Tapi sayang kita berbeda. Kau putri dan aku putra. Apa... aku harus menyamar menjadi siswi.'' Ujar Kaien menggoda Rukia dengan candaannya. Ia sangat suka menggoda gadis manis ini.
''Dasar. Bilang saja jika Kaien-dono ingin menggoda gadis-gadis di sekolahku.'' Gerutu Rukia pada senoirnya ini. Yang tentu saja sudah Rukia anggap sebagai kakaknya. Kaien terkekeh pelan.
''Hehehe.. sedikit sih.''
''Dasar. Oh iya, di mana Kaien-dono akan tinggal?'' Tanya Rukia lagi.
Kaien menyandarkan kepalanya di sofa dengan santai.
''Aku akan tinggal di rumah sepupuku. Kebetulan dia juga bersekolah di sana.'' Ujar kaien tersenyum. Rukia mengangguk paham.
''oh begitu''
Percaya atau tidak, ada guratan kekecewaan dari wajah gadis Kuchiki ini. Wajahnya terlihat tidak bersemangat dan lesu. Seperti orang yang tengah dirundung perang batin. Melihat wajah kecewa itu, Kaien mencoba untuk menggoda gadis manis ini.
''Kenapa? Kau kecewa ya aku sudah memiliki tempat tinggal, hem?'' Goda Kaien sekali lagi. Ohhhh... lihat saja sekarang bagaimana wajah putih porselen itu sekarang tersepuh warna merona yang sangat terlihat. Gadis Kuchiki ini benar-benar tersipu malu sekarang.
''Ti.. tidak. Aku hanya bertanya saja. Sudah, aku akan menyiapkan makan siang dulu. Kaien-dono di sini saja.'' Ujar Rukia meninggalkan Kaien. Kaien terkikik geli karena tingkah gadis manis itu. Sungguh sangat senang menggodanya.
''baik-baik. Jangan lama-lama ya adik kecil.'' Goda Kaien kembali.
''Huh, dasar.''
Rukia pergi ke dapur sementara Kaien bersantai di ruang keluarga. Dan berkeliling ruang tamu melihat-lihat foto yang terpajang.
.
.
#Rin_Rai Kurochiki#
.
.
Grimmjow dan yang lainnya masih asyik dengan permainan di taman bermain. Acara datting tentu saja haruslah berjalan seru jika ingin calon kekasih merasa senang dan terhibur. Setidaknya itulah aturan main acara datting jika ingin mendapatkan pujaan hati pilihannya. Oh.. tapi ini tidak berlaku untuk seorang Kurosaki Ichigo. Lihat saja, dengan santainya Ia menghampiri kawan-kawannya dan mengagetkan mereka.
''Wah, wah, wah kelihatannya asyik sekali.''
Mendengar suara familiar itu, Grimmjow dan yang lainnya membalikan badannya dan menatap sang pelaku dengan tatapan kaget.
''I.. Ichigo.''
''Apa aku melewatkan hal yang bagus?'' Canda Ichigo. Dan tentu saja mendapat tatapan jengkel dari kawan-kawannya.
''Dasar bodoh. Sudah terlambat masih bicara omong kosong.'' Sahut Ishida menggerutu.
''Ok maaf-maaf. Tadi ada insiden kecil di tempat parkir.'' Ujar Ichigo membela diri. Setidaknya Ia harus melakukan itu jika tidak ingin Ishida Uryuu berbicara panjang lebar dengannya.
''Insiden apa?'' Tanya Hitsugaya cuek.
''Ada seorang gadis yang sedang diincar nyawanya.'' Ucap Ichigo jujur. Ia masih berusaha untuk membersihkan noda yang ada dikemeja mahalnya. Ya... seorang eksekutif harus tampil menawan tentunya.
''apa? Lalu?'' Renji menimpali.
''Aku menolongnya. Dan untungnya dia baik-baik saja.'' Ichigo menjawab seadanya.
''Oh. Itukah sebabnya kau terlambat dan bajumu yang mahal itu kotor, jeruk'' Sindir Grimmjow. Ichigo tersenyum simpul.
''kau benar, blue kitty.'' Balas Ichigo mengejek.
''Apa kau bilang, kepala jeruk?''
''Hey sudah-sudah. tidakkah kalian malu dItonton oleh banyak orang, hah'' Murka Ishida melerai pertengkaran mereka. Inilah peranan seorang Ishida Uryuu. Ia akan dengan senang hati menjadi orang penengah sekaligus orang yang paling suka memarahi dua pria berbeda rambut ini.
''hahaha, Grimm kau benar-benar lucu.'' Tawa Nell melihat tingkah konyol teman mesranya ini. Grimmjow hanya bisa merengut lucu.
''Oh ya Kurosaki, kenalkan mereka adalah teman-teman datting kita.'' Iishida mengenalkan Nell dan kawan-kawannya.
''Aku nelliel tu.'' Nell tersenyum simpul.
''Hajimemashite, Hinamori Momo. Yoroshiku.'' Ujar Momo seraya membukukkan badan.
''Namaku Inoue Orihime.'' Orihime tersenyum manis.
''Tatsuki, Arisawa Tatsuki. Salam kenal.'' Ujar Tatsuki cuek.
''Aku Kurosaki Ichigo, Salam kenal, minna.'' Balas Ichigo tersenyum sopan.
''Ah gomen Kurosaki-san, sebenarnya ada satu teman kami yang pulang karena suatu hal. Jadi dia tidak dapat ikut.'' Sambung Nell menjelaskan. Ichigo tersenyum simpul.
''Oh, tidak apa-apa. Aku mengerti.''
Nell dan teman-temannya tersenyum menanggapinya.
''Ya sudah, lebih baik kita lanjutkan acara ini.'' Ishida memberi usul. Sebelum mereka melanjutkannya, Ichigo menyela.
''Sebelumnya maaf, aku harus pergi karena sekretarisku menghubungiku tadi.''
''Kau tidak sedang berbohong kan jeruk'' Sindir Grimmjow. Ichigo menatap sahabat birunya itu dengan bosan.
''Terserah padamu, Kitty. Ada rapat penting yang harusku hadiri.'' Ungkap Ichigp jujur. Memang benar saat tadi ditengah perjalanan sekertarisnya menghubungi dirinya untuk segera menghadiri rapat bersama ayahnya. Sebenarnya Ia benar-benar malas menghadiri rapat itu. Tapi mau bagaimana lagi.
Nell mengangguk paham.
''Baiklah Kurosaki-san. Pergilah jika itu penting. Kami tidak apa-apa kok.'' Sambung Nell.
''Terima kasih Nelliel-san. Aku pergi dulu. Senang bertemu kalian semua.''
''Kami juga Kurosaki-san.'' ujar Nell mewakili teman-temannya yang tersenyum.
''Aku pergi dulu.'' Ichigo berbalik badan. Namun, Ia mengingat sessuatu. ''Grimm, jangan lupa dengan apa yang kau janjikan padaku. Besok aku akan menemuimu. Ingat itu.''
''Iya-iya... Dasar cerewet.'' Gerutu Grimmjow menanggapi omongan Ichigo.
Ichigo segera pergi ke kantor untuk menghadiri rapat yang mendadak tersebut.
''Dasar orang sibuk. Selalu ada urusan dimanapun.'' Ungkap Renji menggerutu. Melihat Ichigo yang begitu sibuk, tentu kawan kecil Ichigo ini menghela nafas heran.
''Maklumlah, dia kan pewaris dari perusahaan-perusahaan kakek dan ayahnya.'' Ujar Hitsugaya bersedekap dada.
''Bukankah kau juga sama, Hitsugaya-kun.'' Momo menanggapi.
''Itu memang benar. Tapi perusahaan ku tidaklah sebanyak milik Ichigo.''
Momo ber-oh ria. Jawaban yang singka tetapi mengandung banyak makna.
''Hey Grimm, barang apa yang diminta olehnya.'' Sambung Nell sambil bergelayut manja dilengan Grimmjow. Grimmjow sejenak memandang sekelilingnya, kemudian beralih pada teman-temannya.
''Kalian pasti akan kaget jika melihatnya. Besok datanglah ke rumahku.'' Grimmjow tersenyum simpul kemudian berbalik melanjutkan perjalanannya.
''Apa.. dia meminta barang baru.'' Tanya Renji penasaran. Manusia satu ini memang diciptakan dengan rasa penasaran yang tinggi memang. Grimmjow menganggukan kepala.
''Begitulah. Sudahlah ayo kita lanjutkan acaranya.''
''Yosh!'' Ujar Nell semangat.
Mereka pun meneruskan acara bermain mereka yang tadi tertunda.
.
.
#Rin_Rai Kurochiki#
.
.
Kurosaki Coorporation, merupakan perusahaan yang maju diera globalisasi saat ini. Khususnya di negeri Jepang, perusahaan ini menduduki peringkat ke-2 terbesar selama puluhan tahun ini. Ichigo Kurosaki saat ini telah tiba di perusahaan milik mendiang kakeknya dulu. Begitu Ia tiba di lobby perusahaannya, banyak para karyawan terutama para wanita yang tersenyum usil melihat sang calon presdir tersebut.
Ya.. tidak heran memang banyak orang yang kagum dengan Kurosaki sulung tersebut. Selain dia adalah pewaris seluruh aset keluarganya yang bisa dibilang lebih dari cukup untuk anak cucunya kelak, Ia juga dibekali dengan wajah yang tampan, tubuh yang bidang, dan kepintaran yang sungguh memukau. Belum lagi sekarang ini Ia tidak memiliki kekasih. Semakin membuat para gadis ingin terus mendekatinya dan mencoba untuk mendapat perhatian darinya. Itulah Kurosaki Ichigo. Gambaran seorang pria yang benar-benar bisa dikatakan idaman para gadis dari semua kalangan.
Dengan dikawal oleh asisten pribadinya, Coyotte Stark dan para pengawal pribadinya, Ichigo berjalan menuju ruangan rapat tempat ayahnya dan para dewan petinggi menunggunya untuk memulai rapat dadakan tersebut. Begitu Ia tiba di ruangan tersebut dan masuk, terlihat ayahnya sedang bersama dengan seorang pria yang sebaya dengan ayahnya. Begitu melihat kehadirannya, Isshin Kurosaki tersenyum sumringah
''Oh my son, kau sudah datang rupanya. Kemarilah.'' Ichigo menghampiri ayahnya. Tampak raut kebingungan diwajah pria berambut orange itu.
''Bukankah.. ada rapat hari ini?'' Tanya Ichigo meyakinkan. Isshin tertawa pelan.
''Sebenarnya tidak ada rapat kok. Ayah hanya ingin memperkenalkanmu pada teman lama ayah. Aizen, kenalkan ini putraku Kurosaki Ichigo.''
Ichigo menundukan kepalanya seraya memperkenalkan diri.
''Namaku Kurosaki Ichigo, salam kenal Aizen-san.''
Aizen terlihat begitu kagum dengan laki-laki didepannya ini.
''Aku Aizen Sousuke. Kau benar-benar pria yang gagah dan terlihat jenius, Ichigo-san.'' Ujar Aizen tersenyum seraya menepuk pundak Ichigo.
''Sama seperti diriku. Benarkan Aizen?'' Ucap Isshin membanggakan dirinya. Aizen terkekeh pelan.
''Tentu Isshin. Dan jangan lupa dia juga mirip dengan mendiang istrimu Masaki.'' Tandas Aizen pada sahabat lamanya ini.
Mendengar candaan Aizen, Isshin pun tertawa
''Hahaha... Kau bisa saja Aizen. oh ya, kenapa putrimu belum tiba?'' Tanya Isshin menatap Aizen bingung. Ichigo yang mendengar penuturan ayahnya menatap ayahnya tersebut dengan heran.
''Oh mungkin sebentar lagi.'' Ujar Aizen seraya melirik asistennya yang mengangguk paham.
Saat mereka tengah asyik mengobrol, pintu ruangan tersebut terbuka. Muncullah seorang gadis cantik berambut ungu dengan warna mata hazelnya. Aizen tersenyum simpul.
''Oh. Senna''
''Ayah.''
Gadis yang diketahui bernama Senna tersebut berlari memeluk sang ayah dengan manja. Aizen melepas pelukan putrinya tersebut .
''Senna, ayah ingin mengenalkan teman lama ayah padamu. Namanya Isshin Kurosaki'.'' Ujar Aizen mengenalkan putrinya pada Isshin.
''Hajimemashite, namaku Sousuke Senna. Salam kenal Kurosaki-san.'' Senna memperkenalkan dirinya. Dengan senyum lebarnya, Isshin tersenyum senang.
''Astaga gadis yang manis. Aku tahu dirimu saat kau memenangkan kejuaraan anggar di Paris bulan lalu. Benarkan, Senna-chan?'' Isshin mencoba mengingatnya. Sifat alamiah Isshin, jika sudah melihat gadis cantik dan manis maka Ia akan bersikap tidak wajar dan sok akrab. Dan satu lagi, gadis itu harus tahan dengan semua omongan orang tua ini.
''Anda benar Kurosaki-san.'' Senna membenarkan perkataan Isshin seraya tersenyum manis. Isshin segera menghampiri gadis itu dan menggenggam tangan gadis berparas manis itu. Senna berjengit (?) kaget.
''Wah.. berarti aku benar. Aku sangat kagum dengan permainanmu.''
Dan ya, keluarlah sifat Isshin yang asli. Ichigo sebenarnya ingin sekali rasanya menghajar orang tua tidak tahu malu ini. Tapi, karena Ia menghormati kawan lama ayahnya –yang sekarang tengah asyik duduk dibangku sambil meminum teh-, akhirnya Ichigopun mengurungkan niatnya.
''Hah.. jangan kagum dengan permainanya, Isshin. Berulang kali aku melarangnya untuk memainkan permainan itu. Terlihat seperti anak laki-laki.'' Cela Aizen pada putrinya. Mendengar itu Senna berpaling memandang ayahnya.
''Ayah! Selalu saja melarangku untuk memainkan anggar.'' Ujar Senna seraya menggembungkan pipinya. Melihat tingkah Senna, Isshin tertawa geli.
''Hahaha.. biarkanlah Aizen. Lagipula itu sudah jadi hobinya. sama seperti istrimu bukan.'' Aizen menghela nafas panjang.
''Ya kau benar.''
''Oh ya Senna, aku lupa memperkenalkanmu pada putraku. Ichigo kemarilah.''
Ichigo menghampiri ayahnya saat namanya di panggil. Isshin merangkul bahu Senna seraya tersenyum bangga.
''Nah Ichigo kenalkan ini Sousuke Senna, putri dari Aizen. Cantik kan.'' Puji Isshin pada calon menantunya ini. Senna hanya menunduk malu dengan wajah meronanya.
''Namaku Ichigo Kurosaki. Salam kenal, Senna-san.'' Ichigo tersenyum simpul.
''Panggil saja aku Senna'' Ungkap Senna menambahkan. Kelihatanya ada letupan cinta yang terlihat digambaran wajah gadis manis ini. Ya.. bisa dibilang cinta pada pandangan pertama.
Ichigo hanya tersenyum sopan menanggapi perkataan Senna.
''Wah.. ternyata kalian memang pasangan yang serasi. Benarkan Aizen?'' Isshin tersenyum bangga
''Kau benar Isshin. Kalau begitu bagaimana kalau pertunangan kita percepat saja?''
''Ide bagus!'' Setuju Isshin menanggapi komentar Aizen. Ichigo membelalakan matanya.
''A.. apa..? Pe.. pertunangan?'' Teriak Ichigo kaget.
Hey.. jelas saja. Ia kan tidak tahu soal ini. Baginya ini terlalu terburu-buru dan mendadak. Orang gila mana yang merencanakan semua ini. Oh... sudah pasti Oyajimya ini. Dan lihat saja sekarang, Isshin Kurosaki tampak tersenyum lebar bahkan kalau mau diukur kelebarannya melebihi orang normal.
Isshin menhampiri putranya dengan senyum abnormalnya itu.
''Iya. Kami berdua sudah sepakat untuk menjodohkan kalian. Dan sebenarnya, Senna juga sudah tahu bahwa dia akan dijodohkan. Bukankah begitu, senna chan?''
Tung.. tunggu. Senna juga? Ichigo menatap tajam ayahnya. Dan Isshin hanya menganguk-anggukan kepala seperti burung kakak tua. Merespon pertanyaan calon mertuanya, Senna menunduk malu.
''A.. ah iya.'' Senna tersenyum tersipu.
Oh Ichigo selamat padamu. Karena semua telah bersekongkol untuk menjodohkanmu pada gadis didepanmu ini. Dan yang lebih membuat Ichigo tercengang, kenapa tidak ada yang memberitahukannya soal ini. Ini sudah yang ke-5 kali setelah ayahnya menjodohkan dirinya dengan gadis pilihannya. Dan semuanya Ichigo tolak. Lalu sekarang, apa Ichigo harus menolaknya? Tentu saja harus. Ada seseorang yang sedang Ichigo incar bukan. Katakan sekarang atau tidak sama sekali, Kurosaki.
''Ah ayah, bisa kita bicara sebentar?''
''Oh tentu. Maaf Aizen, Senna-chan kutinggal sebentar.''
''Silahkan.''
Setelah Ichigo dan Isshin pamit, Ichigo segera menggeret oyajinya keluar ruangan. Tepat setelah pintu ruangan tertutup, Ichigo memarahi habis ayahnya.
''Dasar Oyaji. Apa yang Oyaji lakukan, hah? Apa Oyaji sudah gila.'' Ungkap Ichigo dengan bersungut-sungut. Untungnya tembok ruang rapat itu kedap suara. Jadi, tak mungkin kalau mereka mendengarnya.
Isshin bersedekap dada. Nampak santai menanggapi putranya itu.
''Tentu saja ayah ingin kau menikahinya. Sudah jelas kan.''
Perempatan sudah muncul dikepala Ichigo. Apa telinganya salah mendengar. Menikah?
''Hah. Oyaji tahu kan kalau aku tidak ingin. Lagipula ini akan percuma.'' Ichigo menatap ayahnya bosan.
''Kau tahu siapa Sousuke Aizen?''
Ichigo mengendikkan bahunya. ''Aku tidak tahu dan tidak mau tahu.''
Isshin menatap putranya serius. Kali ini Ia terlihat benar-benar seperti orang normal.
''Dia seseorang perdana mentri. Dia berperan penting dalam kemajuan Kurosaki Coorporation.''
''Lalu?''
''Jika kau ingin dia berpihak pada kita, nikahi putrinya.''
Ichigo mengalihkan pandangannya kearah lain. '' Tidak mau. Aku sudah memiliki calonku sendiri.''
''Sayang sekali. Percuma saja. Apapun yang kau lakukan tidak akan mengubah apapun.'' Setelah mengatakan itu Isshin berlalu dari tempat itu. Namun, sejenak Ia menatap putranya.
''Aku akan tetap menjodohkanmu dengan Senna.''
Dengan kata itu, Isshin berlalu meninggalkan Ichigo yang masih diam terpaku menatap ayahnya. Pilhan yang sangat pahit dan harus diterima oleh Ichigo.
Hari beranjak malam, Kaien harus segera pulang jika tidak ingin paman dan saudara sepupunya khawatir dengan dirinya.
''Nah Rukia, aku pulang dulu ya. Kau tidak apa-apa kan ku tinggal sendiri di rumah?'' Canda Kaien pada adik kesayangannya tersebut.
''Kaien-dono ini. Aku kan sudah besar. Kenapa Kaien-dono selalu memperlakukan aku layaknya anak kecil.'' Kesal Rukia yang tentu saja itu hanya gurauan saja.
Kaien tertawa geli mendengar hal itu. Dipegangnya kepala gadis manis ini dengan sedikit mengacak-acak rambutnya. Kebiasaan yang tidak akan pernah hilang saat mereka sedang bercanda.
''Bagus kalau begitu. Aku pulang dulu ya.'' Rukia mengangguk-angguk.
''Ehm, hati-hati di jalan Kaien-dono.''
Kaien berjalan menjauh dari rumah Rukia. Dari kejauhan, Kaien melambaikan tangannya seraya tersenyum pada Rukia yang tentu saa dibalas senyum oleh gadis berparas cantik itu. Setelah memastikan Kaien telah jauh, Rukia masuk kedalam rumahnya.
Sesuai dengan janji ajakan Grimmjow, Nell dan kawan-kawannya akan pergi ke rumah Ichigo untuk membawakan pesawat pesanannya. Nell dan kawan-kawan telah sampai dihanggar pesawat milik Grimmjow. Dan tebak bagaimana reaksi mereka saat ini. Mulut mereka menganga lebar ketika melihat hangar pribadi milik Grimmjow.
''Sugoiii!'' Orihime dan Nell berteriak keras. Teriakan duo seksi ini bahkan menggema dimana-mana.
''Besar sekali hangar pesawat ini.'' Momo berulang kali berdecak kagum.
''Kau benar, Momo. Sangat besar.'' Tatsuki menambahkan. Sedangkan Rukia hanya menatap hangar ini dengan tatapan yang menggambarkan betapa luar biasanya hanggar ini.
Melihat kehadiran teman-temannya, Grimmjow pun menyambut mereka.
''Selamat datang, kawan-kawan.'' Grimmjow tersenyum simpul.
''Ah Grimm, besar sekali hanggar ini'' Kagum Nell melihat betapa luasnya hanggar ini. Maklum saja, walaupun orang tuanya juga orang kaya, tetapi hangar sebesar ini jarang sekali ada yang punya.
''Ya... ini hanyalah hanggar saja. Perusahaanku yang asli lebih besar dari ini.'' Jelas Grimmjow. Nell dan kawan-kawan menganga tidak percaya mendengar penuturan Grimmjow tersebut.
''Be.. benarkah?'' Ujar Tatsuki kaget.
''Tentu saja. Ah, sudahlah teman-teman yang lain sudah menunggu di dalam pesawat. Ayo.'' Ajak Grimmjow pada gadis-gadis tersebut.
''Ung.'' Nell bergelayut manja pada lengan Grimmjow.
Dengan dikawal oleh pengawal pribadi Grimmjow, merekapun masuk kedalam pesawat mewah tersebut. Dan betapa kagetnya mereka saat melihat interior dari pesawat tersebut. Pesawat yang didominasi warna putih susu dan dekorasi yang bernuansa ungu violet semakin menambah elegan pesawat ini. Dengan mulut terbuka mereka tak henti-hentinya berdecak kagum.
''Wow.. astaga.. Bagus sekali rancangan pesawat ini.'' Decak kagum Orihime.
''Benar.. aku benar-benar takjub. '' Angguk Momo setuju.
Tidak jauh berbeda dengan teman-temannya Rukia pun tersenyum kagum dengan pesawat ini. Warna ungu adalah warna favoritnya. Waalaupun warnanya terkesan gelap dan suram, tetapi bagi Rukia warna ini benar-benar anggun dan menenangkan.
'Siapapun yang meemiliki pesawat ini pastilah orang yang mencintai warna ungu.' Batin Rukia tidak henti-hentinya berdecak kagum.
''Oh.. rupanya kalian sudah datang.''
''Astaga. Kalian sudah ada disini.'' Nell berteriak kaget.
Hitsugaya dan Ishida hanya melambaikan tangan mereka. Sementara Renji..
''Hay, Kuchiki-san. ''
Dengan sukarela. Renji berlutut didepan Rukia dan mencium punggung tangan gadis manis itu. Tentu saja Rukia membelalakan matanya mendapat perlakuan seperti itu.
''Kau cantik sekali hari ini, Kuchiki-san.'' Ungkap Renji dengan tidak henti-hentinya mencium punggung tangan Rukia.
''A.. Abarai-san.''
Dan sebagai hadiah atas kekurang ajarannya, Abarai Renji mendapat kado surprise. Sebuah kepalan tangan mendarat tepat dihidungnya setelah kemejanya ditarik oleh seseorang. Beri tepuk tangan untuk penyelamat kita –Hitsugaya Toushirou- yang telah sedia memukul manusia mesum ini.
''Jika kau butuh lagi, hubungi aku .''
Renji terkapar tidak berdaya setelah menerima hadiah indah itu. Sedangkan Hitsugaya, tersenyum simpul lalu kembali ketempatnya. Sementara yang lain, bersweat drop ria melihat kejadian itu. Mereka tidak percaya jika seorang Hitsugaya yang terkesan cuek dan dingin bisa seperti itu. Sungguh hal yang tidak biasa.
To Be Continued
Rin 'n' Rai Kurochiki Room..
Alhamdulillah. TBC jg ni fic. Rin, lu kenape sih? Mulut lu manyun muluk kayak ikan gurame. Nape?
(Ya lu tau kan kenape.)
Jangan bilang kalo ente abis nonton Bleach movie 1.
(Bagus deh kalo ente tau.)
MASYA ALLAH... kan dah ane bilang jangan nonton. Masih aja bandel ni ye. Ni ye readers ane kasi tau, si Rinko kalo udah nonton Bleach movie itu orng disampingnya bisa babak belur dihajar ama preman satu ni.
(Hahahaha... gue jadi inget waktu gue dengan sadisnya mukul lu ampe merah semua. Mangap ye Rai.)
Giliran itu aja seneng bngt lu. Oke readers, ada yang nanya kenapa Senna saya jadiin anak Aizen? Sebab musababnya adalah karena saya dapet feel waktu Senna jadi anaknya Aizen. Jadi ya, beginilah.
disela buat bales review yang gak log in ya.
Darries san: ahahahaha...pengen dapet si Ichigo ya. ambil dah saingan saya. ridho bngt kalo mau diambil.
(Rukia, ini pacar lu mau diambil.)
banyak cingcong ni bocah. pergi sono. thu si Min Hoo nyari.
(ayankkkkkkkkkk... come with me...)
kita tinggalin orang gila satu itu. untuk judulnya memang sengaja saya bikin begitu karena bukan hanya mengandung satu arti, tapi ada banyak. hehehe. maksih untuk reviewnya ya.
(Ko, ngemeng-ngemeng konflik kapan ni?)
Ssst.. Rahasia dapur. Jangan dikasi tau. Ngarti kagak?
(Iye... iye.. gantian ngobrol donk)
Iye deh.. monggo.
Hay Readers, senpai, and anak-anak gue dimanapun kalian berada. Disini Rinko mau bilang terima kasih banget buat para readers yang dah review atau Cuma numpang lewat doank. Rinko ada spesial thanks buat orang-orang yang dah berjasa dalam pembentukan fic ini dan yang lainnya. Special Thanks to:
Kinkyou sou-Nee, Searaki-Nee, Reiji Mitsurugi-Nee, Hepta Py-Nee, Ci-lee-Nee, Curio Cherry-Nee, Owwie (anak emak), Hiru15-Nee(kalo gak ganti nama ye), Alexa Yuuhyun Oppa-Nee, Hoshikawa Mey-Nee, Yoshizo Kurochi-Nee (My Master), Aira Yuzuhira-Nee, KittyluvBunny (a.k.a Mbak Berry), Kurosaki Kuchiki-Nee, Voidy-San karena para Senpai dan kakak-kakak ku ini aku jadi berani untuk bikin fic dan mereka ini yang bener-bener aku jadikan panutan dalam membuat fic. (kalo baca Alhamdulillah kalo gak ya gak apa-apa)
Rukaga Ann (Anak emak), Toyama Ichiru (My beloved sister), Jessi (Love you), ChapChappy (a.k.a Rangiku Chan), Bleu-San, Nara eichi (Na-Chan aq lupa nama akunmu. Hehehe), Vida Tranquilla, Hendrik Widyawati, Keiko Eni Naomi (Anak emak), Darries-chan berkat kalianlah aku bisa bikin akun dan bisa dapet inspirasi yang melimpah ruah... LOVE YOU, ANAK-ANAK EMAK.
Of course buat para Readers dan Reviewer yang sudah mau repot-repot masuk kesini. Saya dan Raiko bener-bener terharu karena anda sekalian. Maaf ya kalo gak bisa disebutin satu-satu. Takut kalo kebanyakan.
Oke Readers, untuk chapter depan masih tetep Raiko yang ngetik karena saya mau ngetik yang Be A Good Daddy. Ada yang nunggu?
Readers: kagak ada.
YA ALLAH... tragis bener. Iko... Ni gue kasi ke lu.
#Oke gue terima.#
Nah ini udah panjang kan?
Ichigo: kepanjangan egok.
Heh, saingan gue. Ngapain lu disini? Ngikut aje lu.
Ichigo: masalah banget kayaknya buat lu. Gue Cuma mampir beli terasi diwarung sebelah.
Awas lu berani balik lagi ye. Hem Maaf ya readers ketemu saingan kayak dia mesti kudu waspada. Oh iya, Kalo ada yang nanya seputar fic ini silahkan aja. Tapi, kalau tanya ending saya gak kasi tau.
(Pelit ==)
Bodo amat. Oh ya, terima kasih buat kalian ya. Tadi yang diomongin Rinko soal spesial Thanks saya ikut. Berkat kalian adek oon saya bisa bangkit dari kubur.
(HEH.. APE MAKSUD ENTE)
Okelah. Kelamaan nunggu Rinko ngamuk. Tunggu kelanjutannya ya.
Rin 'n' Rai Kurochiki Couw
