Oke melanjutkan proyek saya yang tertunda akibat vakumnya partner saya Raiko, maka saya dengan bangga mengatakan kalo saya yang akan melanjutkan fic ini. Ada masalah? Tidak. Oke bagus.

Lebih baik kita mulai ya. Karena capek kalo mesti banyak cingcong. Kalo saya udah banyak mulut, cerewet saya pasti kumat.

Readers: thu udah kumat.

Suka-suka saya lah . hahahaha # #

My Baby By RinRaiKurosakiKuchiki

Chapter 4: kesalahan fatal mengundang berkah

Disclaimer: Undang-undang mengatakan bahwa BLEACH punya TITE KUBO. Bwahahahahaha

Warning: AU, TYPO gentayangan kayak arwah, Gajeneess, Mengacu ke Rate M, Don't Like Don't Read. BACA DENGAN SEKSAMA WARNINGNYA. KALO KAGAK AWAS AJE.

.

.

#RinRaiKurochiki#

.

.

Grimmjow dan kawan-kawan terlihat asyik mengobrol bersama di dalam pesawat berinterrior mewah itu. Rukia juga sudah mulai ikut membaur akrab bersama teman laki-laki yang lain. Padahal saat SMP dulu, gadis Kuchiki ini begitu malu berkenalan dengan laki-laki manapun. Banyak pria yang tertarik dengan gadis berparas manis ini.

Selain memiliki wajah yang ayu dan manis, Ia juga gadis yang pandai dalam hal apapun. Baik itu dalam pelajaran maupun lainnya. Tidak salah jika gadis ini begitu disukai oleh banyak pria. Tapi sayang, kebanyakan dari pria itu agak sedikit ngeri berkenalan dengan gadis Kuchiki ini. Sebabnya selain karena kakak iparnya yang terkenal dengan tatapan menusuknya, Kuchiki Rukia ternyata pemegang sabuk hitam di dunia karate. Itulah yang membuat mereka tidak berani mendekati gadis Kuchiki ini.

Grimmjow terus menerus mengamati arlojinya. Ia benar-benar jengkel dengan tingkah sahabat berambut jeruknya itu. Janji bertemu pukul 8 malah mundur menjadi pukul 10.

''Jeruk bodoh. Pukul berapa dia akan datang? Aku juga harus pergi menemui ayahku di Paris.'' Grimmjow menggerutu seraya bersedekap dada. Kelihatan sekali bahwa manusia ber-titlekan Kitty berwajah tampan ini tengah kesal menanti sahabat penanya.

''Apa ada pembahasan tentang kapan kau akan menjadi CEO, hah?'' Renji menatap bosan kawan birunya itu.

''Bukan. Aku hanya akan bertemu dengan relasi ayahku disana.'' Ujar Grimmjow sangat santai sambil terus-menerus mengecek ulang jadwalnya sendiri.

''Lalu kapan kau pulang, Grimm?'' Nell merangkul tangan Grimmjow mesra.

''Mungkin besok. Ayahku bilang akan mengadakan pesta malam ini. Jadi, terpaksa akan kuhadiri.''

Orang berkelas seperti Grimmjow memang harus selalu sedia menghadiri acara yang diadakan ole orang sekelasnya. Oh tentu.

Hitsugaya menghela nafas panjang. ''Terus saja kau mengadakan pesta. Keluargamu memang aneh.''

Grimmjow hanya menatap sinis sahabat berambut putihnya itu. Mengadakan pesta bagi keluarga Grimmjow memang tidaklah aneh. Mereka kan berkebangsaan Spanyol yang gemar berpesta. Jadi ya, kapanpun mereka bisa mengadakan pesta, pasti mereka akan melakukannya.

Jika kalian bertanya bagaimana bisa Grimmjow tinggal di Jepang dan mengerti bahasanya, itu cukup simpel. Ayahnya adalah warga asli Spanyol sedangkan ibunya warga asli Jepang. Orang tuanya menetap di Spanyol sedangkan Grimmjow sendiri menetap di Jepang sudah sekitar 5 tahun yang lalu. Dan di Jepang pun Ia juga mengurusi perusahaan yang sengaja ayahnya dirikan disini. Ya... hitung-hitung belajar menjadi calon CEO itu penting kan.

Kring.. Kring...

Suara ponsel menyadarkan mereka dari lamunan masing-masing. Rukia sebagai si empu pemilik ponsel, tersenyum simpul menatap teman-temannya yang memperhatikan dirinya.

''Maaf permisi.'' Ujar Rukia seraya berdiri dari tempatnya.

''Silahkan Rukia-san.'' Grimmjow mempersilahkan.

Rukia keluar dari pesawat itu dan menjawabnya.

''Moshi-moshi.''

'Rukia, kau sedang sibuk?'

''Oh Kaien-dono, ada apa?''

'Aku ingin mengajakmu ke Restaurant yang baru dibuka dekat taman. Kau mau?'

''Ehm... baiklah. Aku akan segera kesana.''

'Baiklah. Kutunggu. Sampai jumpa.'

''Iya.''

Rukia menghela nafas dengan berat. Lagi-lagi Ia harus mengecewakan kawan-kawannya disaat mereka sedang berkumpul. Tapi mau bagaimana lagi, Ia sudah berjanji pada Kaien-dononya untuk pergi bersama. Ia tidak bisa menolaknya.

Dengan setengah hati, Rukia menemui teman-temannya untuk berpamitan.

''Ano Gomen kawan-kawan, sepertinya aku harus pergi.'' Rukia terlihat berat sekali mengatakannya. Maklumlah, jarang sekali kan bisa bertemu dengan teman-temannya.

''Hey pergi kemana? Baru saja kita bisa berkumpul kan.'' Ujar Inoue menggerutu.

''Iya. Maaf ya Minna.'' Rukia menunduk dalam.

''Hahhhh.. sebenarnya kami tidak ingin kau pergi. Tapi tidak apa-apa jika itu penting. Aku akan menyuruh supir untuk mengantarkanmu.'' Grimmjow memanggil salah satu pengawalnya untuk mengantarkan Rukia. Inilah salah satu kepedulian dari Grimmjow, selalu setia memberi pertolongan pada kawan-kawannya.

''Tidak usah Grimmjow-san. Aku akan naik bis saja.'' Tolak Rukia halus. Gengsikan jika harus merepotkan teman baru.

''Tidak apa-apa, Rukia-san. Turuti saja Grimmjow.'' Nell ikut berpendapat.

''Baiklah. Sebelumnya terima kasih Grimmjow-san. Aku pergi dulu.''

''Hati-hati Rukia-san.''

''Ehm. Jaa mata.''

''Jaa.''

Rukia meninggalkan tempat itu ditemani pengawal Grimmjow dan supir yang mengantarkannya. Disaat itulah sebuah mobil sport silver terparkir tepat di belakangnya. Mobil sport dengan merk terkenal dari Swiss milik Kurosaki Ichigo itu terparkir tepat saat Kuchiki Rukia meninggalkan tempat itu.

Pengawal Grimmjow tampak menunduk hormat menyambutnya.

''Selamat datang, Kurosaki-sama.''

''Dimana Grimmjow?'' Ichigo to the point.

''Silahkan, Kurosaki-sama.''

Ichigo mengikuti 2 pengawal Mansion itu. Sepertinya dewi fortuna kurang mendukung untuk hari ini. Ichigo tidak dapat bertenu dengan malaikat cintanya. Ya, malaikat yang telah memikat hatinya beberapa hari yang kita salahkan dia yang terlambat datang akibat jam karet yang sedang getolnya Ia terapkan.

.

.

#RinRaiKurochiki#

.

.

''Kau terlambat jeruk.''

''Gomen kawan-kawan.''

Beginilah Kurosaki Ichigo. Selalu santai menyikapi apapun yang Ia lakukan. Mungkin karena dia paling keras kepala di sini makanya dia juga yang paling santai.

''Apa ini pesawat pesananku?'' Ichigo memasuki pesawat pesanannya. Pesawat yang sudah Ia pesan ya... kurang lebih 1 tahun yang lalu.

''Tentu saja. Bagaimana rancanganku? Bagus kan?''

''Boleh juga.''

Ichigo masih mengamati pesawat bernamakan Kurosaki Airline itu. Ia tampak takjub dengan rancangan pesawat sahabat birunya itu. Sebenarnya Ichigo membuat ini bukan tanpa alasan. Ia membuat ini agar kelak nantinya Ia dapat berpergian kemana-mana bersama dengan belahan jiwanya. Ia sangat ingin pergi keliling dunia dengan pesawat ini. Bagi Ichigo, membeli sebuah pesawat bukanlah hal sulit untuknya. Cukup memesannya saja maka Ia akan segera mendapatkannya.

Dan lucunya, Ichigo mengatakan pada Grimmjow agar nanti interrior pesawatnya harus terkesa elegan dan menawan. Ia sedikit terinspirasi dari salah satu Hotel terkenal yang ada di Paris. Warna ungu begitu dominan di pikirannya saat itu. Entah apa yang sebenarnya Ia pikirkan. Tapi... see look so amazing. Terlihat sangat elegan dimatanya.

''Tidak salah jika aku mengandalkanmu, Grimmjow. Aku suka dengan rancanganmu.'' Ichigo tersenyum sumringah.

''Siapa dulu... Grimmjow!'' Grimmjow membusungkan dada membanggakan dirinya. ''Oh ya, Kau akan membawanya sekarangkan?''

''Tentu saja. Aku akan membawanya ke hangar milikku.''

''Bagus. Aku harus pergi sekarang.''

''Ya aku tahu kau sibuk. Pergilah.'' Ucap Ichigo dengan nada mengusir teman birunya itu. Sebenarnya disini siapa sih yang menjadi tuan rumah, Grimmjow atau Ichigo?

''Sialan kau. Lalu bagaimana dengan kalian?'' Grimmjow memandang kawan-kawannya.

''Kami akan pergi ke Restaurant dekat sini. Apa kau mau ikut Ichigo?'' Renji mewakili teman-temannya.

''Aku tidak bisa ikut. Aku harus bertemu dengan seseorang.''

Ishida berdeham pelan. ''Apa.. itu pacar barumu Kurosaki?'' Walaupun Ishida terkesan pendiam dan terlihat no comment tetapi Pria berkacamata ini selalu up to date dalam mencari berita seputar sahabatnya. Ya.. bisa di bilang seperti wartawan mungkin.

''Bicaralah sesukamu, Ishida. Aku tidak akan menanggapi komentarmu. Dan yang pasti, dia bukan pacarku.'' Ichigo terlihat menatap Ishida dengan santai sambil berlalu.

''Dasar.''

.

.

#Rin_Rai Kurochiki#

.

.

Rukia sudah sampai disebuah Restaurant bergaya Eropa yang terletak di dekat taman. Suasananya tampak terkesan romantis dengan aksen bunga mawar di setiap sudutnya. Benar-benar indah.

Seorang pelayan tampak menghampirinya.

''Selamat siang, Nona Kuchiki. Tuan Shiba sudah menunggu, mari ikuti saya.''

Kaget. Hanya satu kata itu yang menggambarkan ekspresi wajah Rukia. Pelayan ini bisa tahu namanya? Benar-benar hebat. Apa mungkin ini ulah Kaien-dononya? Oh sudah pasti. Siapa lagi yang bisa melakukan hal itu selain dirinya.

Akhirnya mereka sampai di tempat dimana Kaien Shiba tengah menanti kedatangan Rukia. Senyum menawan khas seorang Kaien terpampang jelas diwajah tampannya.

''Hay Rukia. Kemarilah.''

Kaien menggeser bangku kebelakang perlahan demi mempersilahkan gadis berparas manis itu untuk duduk. Rukia tersenyum lembut dan duduk ditempat itu. Perlakuan yang sungguh romantis bagi seorang Kuchiki Rukia.

Kaien duduk tepat di hadapan Rukia. ''Jadi.. bagaimana tentang restaurant ini. Apa berkesan untukmu?'' Ujar Kaien seraya menatap lembut gadis dihadapannya.

''Ini sungguh luar biasa. Baru pertama kali aku kemari. Dan apa ini semua adalah rencanamu, Kaien-dono?''

''Maksudmu soal pelayan tadi bukan?''

''Exactly. Kau mengagetkanku, Kaien-dono.'' Rukia mengerutu sebal.

Mendengar itu Kaien terkikik geli. ''Itu memang rencanaku, Rukia. Tapi aku punya kejutan untukmu.''

''Apa itu?'' Rukia mengernyit heran. Biasanya jika Seniornya ini memiliki kejutan, maka pasti bukanlah kejutan biasa. Rukia yakin itu.

''Restaurant ini milikku.''

''A.. apa? Benarkah itu?'' Rukia terlonjak kaget.

''Tentu saja. Aku sudah membangunnya selama 3 bulan ini. Tentunya tanpa sepengetahuanmu.''

Rukia memukul pelan bahu seniornya ini. Sudah tidak terhitung berapa kali Ia memukul seniornya ini karena kesal. Dan Kaien selalu seperti ini ketika penyakit menyebalkan miliknya kumat.

''Dasar jahat. Kenapa kau tidak mau memberitahuku. Aku kan bisa membantu.''

''Jika kau membantuku, kau pasti akan tahu soal ini dan ini bukan kejutan namanya.'' Kaien tersenyum jahil. Rukia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Selalu seperti ini. Tapi, inilah yang Rukia suka dari Kaien-dononya. Selalu dapat membuatnya bangkit. Seperti sifat Hisana-nee.

.

.

#Rin_Rai Kurochiki#

.

.

''Kita mau kemana Senna?''

''Sudahlah. Kau pasti akan tahu. Tenang saja.''

Sousuke Senna, tampak antusias menarik tangan Ichigo kesana-kemari bak boneka yang bisa Ia tarik-ulur kemanapun. Sejak Oyajinya menyetujui tentang perjodohan itu, orang tua itu selalu rajin untuk menyuruhnya mengajak Senna berjalan-jalan kemanapun. Sebenarnya Ichigo tidak suka jika Ia harus pergi kemana saja tanpa mobil kesayangannya. Tapi apa mau dikata, gadis berambut ungu bermata hazel ini terus menerus menarik tangannya kesana-kemari demi memenuhi hasrat berjalan-jalannya.

Kalau kalian mau tahu, putri tunggal dari perdana mentri Sousuke Aizen ini gemar sekali berjalan-jalan tanpa ada pengawal dan mobil yang menyertainya. Ia mengatakan bahwa ''alam akan lebih memberkahi kita jika kita bisa menikmati dengan hikmat apa yang telah disediakan olehnya.'' Ya... lebih tepatnya ''Back to nature.'' Itulah yang tengah dianut oleh gadis berparas manis ini.

Ichigo sudah sangat lelah sebenarnya. Kakinya terasa mati rasa sekarang.

'Astaga, kapan aku bisa beristirahat kalau begini?' Batin Ichigo menggerutu. Sebenarnya batin Ichigo terus menerus menggerutu ketika awal pertemuannya dengan gadis ini. Anggaplah itu hanya bonus kekesalannya saja.

''Nah kita sudah sampai. Ayo kita duduk di bangku itu.''

'Oh arigatou Kami-sama. Kau masih menyelamatkan hidupku.' Ichigo tampak tersenyum lega.

Merekapun duduk di bangku taman yang terletak ditengah kota Tokyo. Taman ini terlihat sangat sejuk dan nyaman. Cocok sekali untuk bersantai-santai.

''Ah Ichigo, Kau menyukai tempat ini?'' Senna mulai membuka topik pembicaraan.

''Ya suka.'' Ichigo tersenyum manatap Senna. Walaupun senyum itu terlihat sangat memaksa.

''Benarkah? Itu bagus. Dulu, aku sering sekali pergi kemari dengan ayah dan ibu. Tapi semenjak kematian ibu dan kesibukan ayah, aku jadi jarang kemari.'' Senna menunduk sedih. Ia kembali mengenang masa-masa dimana dirinya bisa tertawa riang bersama ayah dan ibunya.

Ichigo menatap iba gadis disampingnya ini. Tidak disangka, ternyata gadsi bertitlekan gadis manja ini memiliki kisah sedih juga. Ichigo pikir gadis ini hanya mampu tertawa riang dan bersikap seenaknya. Tidak disangka ternyata Ia juga bisa merasa sedih. Oh ayolah Ichigo. Semua orang juga mempunyai kisah sedih kan? Kisah sedih di malam minggu. Ah ya.. hari ini kan tepat hari sabtu. Banyak para remaja yang sering galau karena datangnya hari sabtu. Sebabnya karena apa? Karena mereka tidak punya pacar. Hahahaha.

Ichigo: WOY THOR, FOKUS KE CERITA. MABUK YE?

#Oh oke maaf, author salah. Mari kita balik ke cerita.#

Ichigo menggenggam tangan Senna dengan perlahan. Mencoba untuk menyalurkan sisi positifnya.

''Jangan sedih Senna. Bukankah sekarang kau ada di taman ini bersamaku?''

Senna menatap kaget lawan jenisnya ini. Ichigo terlihat begitu perhatian padanya. Suatu mukjizat sekali karena baru kali ini Ichigo menanggap positif dirinya. Senyum manis terpatri dari wajah gadis itu.

''Iya. Arigatou, Ichigo.''

''Em. Ah.. mau kubelikan es krim?''

''Tentu.''

Ichigo segera berlari menuju kearah tukang es krim yang ada disudut taman ini. Ini adalah salah satu usaha Ichigo demi mengembalikan wajah ceria Senna.

.

.

.

Rukia dan Kaien tampak tengah berjalan santai di taman sambil berbincang-bincang dengan asyiknya. Sesekali gelak tawa akan meluncur dari mulut Kaien ketika mendengar perkataan Rukia.

''Oh ya Kaien-dono, kapan Kaien-dono akan mengenalkan pacar Kaien-dono?''

''Oh kau penasaran ya?'' Kaien menatap jahil gadis disebelahnya ini.

''Tentu saja aku penasaran. Kaien-dono kan sudah saatnya untuk mencari pacar baru.'' Ujar Rukia seraya menatap wajah seniornya itu.

Kaien tertawa lepas mendengar hal itu. ''Hahahahaha... kalau kau penasaran, kenapa kau tak mencarikannya untukku, adik kecil.'' Kaien mengacak-acak pelan rambut Rukia.

''Jika aku bisa pasti akan kulakukan dari dulu. Susah sekali menemukan gadis yang pas untuk Kaien-dono.'' Rukia menggerutu sebal. Mencari pasangan untuk Kaien memanglah tidak mudah. Terlalu banyak kriteria yang diminta oleh pria berwajah tampan ini. Mulai dari yang sopan, baik hati, menerima apa adanya, sampai harus memiliki kepribadian yang mantap dihati. Semua itu membuat dirinya pusing.

''Hahahaha... jika aku katakan bahwa kaulah yang kucari bagaimana?''

Rukia membulatkan matanya lebar. Ia terlalu syok mendengar hal itu. Kaien terkikik geli.

''Hanya bercanda. Aku masih mencari gadis yang tepat untukku. Baru nanti aku akan memikirkannya kembali. '' Ujar Kaien menenangkan.

''Dasar. Tidak pernah berubah. Selalu mengagetkan.''

''Kau tahu diriku kan, nona Kuchiki. Oh ada es krim. Kau mau?''

Rukia menganguk-anggukan kepalanya setuju. Soal es krim, Rukia lah jagonya. Ia sangat menyukai makanan berbahan dasar es itu. Apalagi jika es itu berbentuk chappy, dia sangat menyukainya.

Kaien segera berlari membeli es krim sedangkan Rukia duduk dibangku taman dekat dengan pohon cemara yang tumbuh rindang disampingnya. Ia terlihat begitu antusias memandang pemandangan yang ada di sekitar taman ini. Ada beberapa pohon cemara dan pohon sakura yang tampak berdiri kokoh di setiap sudut taman ini. Burung-burungpun juga banyak yang berterbangan dengan riangnya di langit. Sungguh menyenangkan.

Namun tiba-tiba matanya menangkap seorang pria berambut orange dan gadis yang membelakangi tubuhnya. Mereka tampak sangat menikmati es krim yang tengah mereka makan. Dan yang lebih membuat ini terasa hebat adalah dengan tiba-tiba gadis itu mencium bibir pria itu tanpa melihat situasi taman ini. Si pria tampak terkejut dan melepas paksa ciuman itu. Tapi tunggu dulu.. Rukia merasa pernah bertemu dengan laki-laki itu. Tapi dimana?

''Maaf Rukia menunggu lama. Kau melihat apa?''

Kaien mengarahkan pandangannya ke arah yang sedang Rukia lihat. Matanya membelalak ketika melihatnya.

''Ichigo.''

.

.

.

''Ini untukmu.''

Ichigo menyodorkan es krim rasa anggur kepada Senna. Dengan senyum sumringahnya, Senna menerima.

''Arigatou.''

Ichigo hanya tersenyum sekilas dan menikmati es krim coklat kesukaannya. Walaupun Ichigo sudah dewasa, tapi saat melihat es krim coklat pasti Ia akan langsung membelinya. Kecintaan Ichigo pada coklat memang tidak bisa terbantahkan.

''Kau tahu, ayahku pernah berkata bahwa es krim merupakan media yang baik untuk memperoleh maaf dari pasangan saat mereka tengah bertengkar.''

''Benarkah?''

''Ya. Dan itu memang benar. Aku sudah membuktikannya.''

''Oh.''

Oh menjadi jawaban yang tepat untuk menanggapi kata-kata dari gadis berparas manis itu. Bukannya Ichigo pelit berkata-kata, hanya saja memang dirinya sedang tidak dalam keadaan mood yang baik hari ini. Ya tahulah bahwa dirinya ini paling tidak suka jika dirinya dipaksa untuk banyak bicara.

Suasana menjadi hening sekarang. Hanya ada angin musim gugur yang menerpa dua insan ini –atau lebih-. Senna sebenarnya benci dengan situasi ini. Terkesan canggung dan membosankan baginya. Demi menghilangkan rasa bosan itu, Senna memalingkan wajahnya kearah Ichigo. Dapat dilihatnya Ichigo yang tengah asyik memakan es krimnya dengan lahap. Sepertinya tidak bisa diganggu sekarang. Namun sekilas Senna melihat ada es krim yang menempel di bawah bibir laki-laki berambut orange itu. Senna risih dengan hal itu. Ia ingin menghapusnya. Tapi bagaimana?

Aha... dia memiliki ide. Kenapa tidak melakukan hal itu saja. Yak, itu benar. Hitung-hitung merasakan rasanya juga bisa kan.

''Ichigo.''

''Em.''

'Cup.'

Senna segera mencium bibir Ichigo. Nampak mata Ichigo yang membelalak kaget melihat dirinya yang tengah dicium oleh wanita bermanik hazel itu. Ini ciuman pertamanya. Kenapa dia yang mengambilnya? Buru-buru dilepaskan ciuman dari gadis itu. Ichigo tampak geram sekarang.

''Apa yang kau lakukan, hah?!''

''Aku hanya ingin menjilati es krim yang ada dibawah bibirmu. Apa itu salah?'' Bela Senna sambil menyeka bibirnya.

''Tapi kau tidak bisa melakukannya tanpa seizinku.'' Geram Ichigo pada gadis itu.

Oh ya, sekarang mereka telah menjadi tontonan yang apik ditaman kota ini. Banyak orang yang tengah mengawasi mereka akibat suara Ichigo yang terlampau keras.

''Hey Ichigo!''

Ichigo menoleh ketika namanya diteriakan oleh seseorang. Begitupun juga Senna. Mata Ichigo membelalak ketika dirinya melihat malaikatnya ada bersama Kaien.

''Sedang apa kau disini? Berkencan?'' Kaien menyikut lengan Ichigo mencoba untuk menggoda adik sepupunya ini.

''Apa-apaan kau ini?'' tanggap Ichigo risih. Ia selalu benci jika kakak sepupunya ini.

''Lho? Rukia kan?''

''Iya. Kau siapa ya?'' Rukia memandang Senna polos.

''Ini aku Sousuke Senna, teman masa kecilmu. Kau masih ingat?''

''Ah... Senna yang dulu berkuncir dua itu ya?''

''Tepat sekali. Gyaaaa... lama tidak jumpa, Rukia-chan.''

Dengan ganasnya, Senna memeluk tubuh mungil Rukia. Walaupun tubuh Senna juga termasuk mungil, tetapi tidaklah sepadan dengan tenaga seorang atlet seperti sahabatnya ini. Ichigo dan Kaien yang tadinya tengah berdebat menatap mereka dengan heran. Kenapa Senna bisa seheboh itu?

''Kau kenal dengan nona ini, Senna?'' Ichigo bertanya seraya menatap Rukia.

''Tentu saja. Dia adalah sahabatku sejak kami TK. Kami sudah seperti saudara.'' Ujar Senna sambil merangkul bahu Rukia. Sedangkan Rukia hanya tersenyum simpul.

''Lalu kau Ichigo, kenapa gayamu seperti mengenal Kuchiki saja? Apa kau pernah bertemu dengannya?''Kaien mencoba meminta penjelasan pada Ichigo.

''Kami hanya bertemu secara tidak sengaja saja. Benarkan, nona?''

''Benar. Ah maaf sbelumnya, aku belum tahu siapa nama anda. Namaku Kuchiki Rukia. Anda?''

''Oh iya. Aku lupa. Namaku Kurosaki Ichigo. Panggil saja aku Ichigo.''

Ichigo menjabat tangan Rukia dengan lembut. Rukia hanya mampu menanggapi Ichigo dengan tersenyum lembut. Kaien dan Senna yang melihat keakraban mereka dan kelihatan asyik sendiri, mencoba mengganggu pasangan itu.

''He'em...'' Deham mereka kompak. Ichigo segera melepas jabatan tangannya itu dan tersenyum kikuk.

''Oke. Lebih baik kita pulang Rukia. Aku takut Byakuya memarahiku karena terlambat membawamu pulang.''

''Baiklah, Kaien-dono. Aku permisi dulu.''

''Baiklah. Ah ya Rukia, besok aku akan menemuimu dan Byakuya-nii.''

''Em baiklah. Sampai jumpa.''

''Sampai jumpa.''

Ichigo terpaku melihat bidadari pujaannya pergi bersama sepupunya perasaan tidak tega melihat malaikatnya harus pergi bersama orang seharusnya dirinyalah yang bersamanya.

Senna terpaku melihat Ichigo yang terus melihat Rukia dan Kaien. kenapa Ichigo kelihatan sedih.

''Ichigo? Apa kau baik-baik saja?'' Senna menepuk pundak Ichigo.

''Ah ya. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita pulang.''

Ichigo berjalan duluan meninggalkan Senna. Sementara Senna menatap Ichigo heran.

''Ada apa sebenarnya dengan pria ini?''

.

.

#RinRai_Kurochiki#

.

.

Di dapur apartement tempat Rukia dan Byakuya tinggal, terlihat kesibukan yang sedang dilakukan oleh gadis bermata violet tersebut. Rukia tengah menyiapkan makan malam untuk kakak tercintanya ini.

''Hem.. sepertinya rasanya sudah pas. Nii-sama, makan malam sudah siap.'' Teriak Rukia dari dapur.

''Baiklah.''

Byakuya duduk tepat di depan bangku Rukia. Melihat makan malam yang disediakan oleh adik iparnya ini, Byakuya tersenyum memuji.

''Kau semakin pintar membuat makan malam, Rukia. Aku pikir kau sudah cukup pintar untuk menjadi istri nantinya.''

''Hem jika iya, maka Nii-sama harus siap untuk membiarkanku meninggalkan Nii-sama seorang diri.'' Rukia tersenyum manis pada Nii-samanya ini. Tawa kecil terdengar dari mulut duda berumur 26 tahin ini.

''Hahaha.. sepetinya aku akan meyuruh suamimu untuk tinggal disini nanti.''

''Nii-sama ini.''

Rukia mengambilkan sup kacang merah untuk Byakuya. Terlihat lezat sekali masakan gadis berusia 17 tahun ini. Sebelum Byakuya menyantap makanannya, Byakuya ingin menyampaikan sesuatu pada adiknya ini. Sesuatu yang seharusnya sudah ia beritahukan seminggu yang lalu.

''Rukia, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.''

''Apa itu?'' Rukia menatap heran kakaknya ini. Tumben sekali kakaknya ini ingin berbicara seserius ini.

''Aku akan pergi ke Tokyo selama 1 bulan. Ada sesuatu yang harus ku urus disana.''

''Tokyo? Apakah ada sesuatu?"

Byakuya menggelengkan kepalannya pelan. ''Tidak ada. Hanya urusan dengan kantor pusat saja. Selama aku tidak ada, temanku Matsumoto Rangiku akan menjagamu.''

''Ehem, baiklah kalau begitu."

Byakuya tersenyum simpul menanggapi jawaban adiknya. Ya... setidaknya masih ada yang bisa menjaga adiknya. Lega rasanya.

.

.

#Rin_Kurochiki#

.

.

Hari sabtu, sepertinya hari yang menyenangkan untuk teman-teman. Tadi siang, sahabt-sahabat Rukia mnegajaknya untuk ke club malam merayakan dimulainya hubungan antara Grimmjow dan Nell. Rukia sebenarnya mau, tetapi Ia mengingat pesan kakaknya agar tidak keluar ke tempat yang aneh seperti itu. Ya jadi disinilah dia, menonton TV sambil memakan shiratama kesukaannya.

Suara dering ponsel mengagetkan Rukia yang tengah asyik menonton fil horror kesayangannya. Nomor tidak dikenal. Siapa ini?

''Moshi-moshi.''

'Ah Rukia-chan, kau sedang tidak sibuk kan sekarang?'

''Em tidak, maaf siapa ini?''

'Ini aku Senna. Aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat. Kau mau kan?'

'Oh Senna-chan, aku sebenarnya mau saja. Tapi, Nii-sama melarangku pergi kemana-mana.''

'Tenang saja. Aku sudah meminta izin pada Byakuya-nii..aku akan menjemputmu 15 menit lagi. Jadi bersiaplah.'

''A.. A.. Tung.. gu..''

Sambungan diputus sepihak oleh Senna. Rukia menghela mafas panjang mendengar kata-kata sahabat ciliknya itu. Bagaimana tidak, seenaknya dia mengatakan bahwa dirinya akan diajak untuk pergi. Apalagi saat tadi dia mengatakan bahwa Nii-samanya telah mengijinkannya untuk membawanya pergi. Lucu sekali.

Ya mau tidak mau, Rukia harus bersiap-siap untuk diajak pergi.

.

.

#Rin_Kurochiki#

.

.

''Wari, Rukia-chan. Sudah lama menunggu ya?''

''Tidak juga. Aku juga tadi sibuk memilih pakaian apa yang pantas.''

''Oke. Kalau begitu ayo kita berangkat. Calon tunanganku sudah menunggu.''

Dengan mobil sport berwarna ungu milik Sousuke Senna, mereka segera berangkat menuju tempat yang dikatakan Senna tadi. Rukia sendiri tidak tahu tempat apa yang akan dituju oleh mereka. Tapi, tidak ada salahnya juga jika dia menikmati malam minggu yang langitnya begitu cerah ini. Menudkung sekali untuk berpesta. Yosh!

Setelah menempuh jarak yang –sebenarnya- tidak jauh, akhirnya mereka sampai di tempat. Tapi tunggu, apa Rukia tidak salah menebak? I.. inikan?

''Dis.. diskotik? Kenapa kita kesini?''

''Entahlah. Calon tunanganku yang meminta untuk bertemu disini. Ayo kita masuk.''

Dengan langkah riangnya, Senna menarik tangan Rukia untuk mengikuti langkahnya memasuki club malam itu.

'Kenapa hari ini begitu banyak sekali yang mengajak ku untuk ke club malam?' batin Rukia semabari memanyunkan bibirnya.

Tampaknya nona Kuchiki ini tidak lagi bersemangat untuk berpesta lagi. Ketakutannya akan kemarahan Nii-samanya lah yang membuatnya begini. Terang saja begitu. Pernah suatu hari saat Rukia merayakan kelulusan SMP bersama teman-temannya, Rukia pulang dalam keadaan mabuk akibat shoju. Alhasil... sang kakak memarahinya ketika dirinya sudah sadar sepenuhnya dari minuman beralkohol itu. Bagaimana Byakuya tidak marah, Rukia pulang sambil digendong teman laki-lakinya dan bersikap memalukan di depan temannya itu. Efek minuman beralkohol memang hebat. Itu sebabnya Rukia menghindari itu.

''Ah itu dia, Ichi!''

Senna berlari senang menghampiri sang calon tunangannya itu. Apa Ichigo juga begitu? Oh sepertinya tidak. Raut wajah kusut menyertai wajah tampannya. Sudah dijelaskan jika ia tidak menyukai pergi bersama dengan gadis yang memiliki bola mata yang sama dengan dirinya ini. Senna selalu berisik jika ada didekatnya. Itu saja alasannya ia tidak menyukai Senna.

Menyadari ada orang dibelakang Senna, Ichigo terpaku luar biasa. Astaga. Bidadari pujaannya.

"Apa kabar, Kurosaki-san?"

Rukia tersenyum simpul menatap pria berambut orange didepannya.

"B-baik, Kuchiki-san."

Melihat sang bidadari ada dihadapannya dan tersenyum begitu indah membuat semburat merah merekah di pipi Ichigo. Belum lagi sepertinya bunga-bunga indah tengah bermekaran dihatinya. Indah sekali malam ini jika ada dirinya.

"HOY JERUK!"

Mattaku. Siapa juga yang memanggil dirinya dengan tidak begitu elit dikeramaian seperti ini.

"Kitty teme." Geram Ichigo melihat orang yang tadi memanggilnya, tengah berjalan menghampirinya bersama dengan para sahabatnya itu.

Grimmjow memukul pelan kepala dengan pria berambut orange ini, sepertinya.

"Apa maksudmu mengatakan jika kau tidak bisa datang ke acara ku? Kau sedang mengencani gadis ya?" Grimmjow mulai memukul-mukul kecil sahabatnya itu geram.

"Berhenti, teme. Aku kesini bukan untuk mengencani gadis."

"Ara Rukia-chan? Kenapa kau bisa ada disini?" Nell merangkul pundak Rukia pelan.

Rukia tersenyum meringis. "Gomen, minna. Tadi sore aku mengatakan bahwa aku tidak dapat datang tapi aku malah ada disini. Gomen."

"Tidak apa-apa kok. Lagipula, toh kau juga ada disini. Benarkan, Grimm?"

Grimmjow menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan kekasih barunya ini. Rukia tersenyum simpul. Beruntungnya ia memiliki sahabat yang pengertian seperti mereka.

"Ara, apakah kalian teman-teman Rukia-chan?"

Grimmjow dan yang lainnya membalikkan badan mereka. Hohoho sepertinya ada satu orang yang mereka lupakan dari tadi.

"Minna, perkenalkan ini adalah sahabat kecilku, Sousuke Senna." Rukia mengenalkan sahabatnya pada sahabt-sahabtnya.

"Halo semua, namaku Sousuke Senna. Aku adalah calon tunangan dari Ichigo." Ujar Senna merangkul tangan Ichigo.

Semua yang ada disitu terbengong-bengong mendengar pernyataan dari gadis bermanik sama dengan pria berambut orange disampingnya ini. Tapi Ichigo kelihatannya hanya memandang risih sang calon tunangannya ini.

"Hey Ichigo, kau bohong kan? kenapa kau tidak mengatakan jika kau sudah punya calon tunangan?"

Renji menatap Ichigo ragu. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Okelah jika sahabatnya ini telah memiliki pacar dan idak memberi mereka soal itu. Tapi jika mendapat kabar bahwa pria orange ini akan bertunangan, ini beda lagi urursannya.

"Diam, babon. Jika ini bukan karena kambing tua itu, siapa juga yang ingin cepat-cepat."

Ichigo menghela nafas panjangnya memikirkan nasibnya sendiri. Ia sebenarnya sudah memiliki gadis yang tepat bersanding dengannya. Berhubung Oyajinya memutuskan kehendak seenak hatinya, maka apa lagi yang bisa ia lakukan. Eh iya, bukankah sang pujaan hati ada disini? Ichigo kembali menghela nafas yang lebih panjang lagi. Ya, sepertinya rencananya untuk meminang sang pujaan hati batal.

"Ya kami tidak akan memikirkan soal itu. Mari kita sama-sama merayakan pesta ini."

Nell mencoba mencairkan suasana yang tadinya menyenangkan rusak akibat berita yang mengejutkan ini.

"Ayo!"

Semuanya kembali melanjutkan acara yang tadi mereka tunda. Tampaknya mereka semua telah kembali bahagia seperti semula. Sedangkan Ichigo?

'Dasar sahabat tidak tahu diuntung. Harusnya kan kalian bantu aku untuk lepas dari gadis ini.'

Batin Ichigo yang meronta sambil berjalan pasrah ketika Senna menariknya untuk berpesta bersama teman-temannya. Sabar Kurosaki Ichigo, dewi fortuna akan datang jika dirimu merasa sangat sengsara. Maybe yes, maybe no.

.

.

.

Senna merasakan getaran ponsel disakunya. Dilihatnya siapa yang meneleponnya saat ia tengah asyik berkumpul dengan kawan-kawan barunya. Nama ayahnya terpampang jelas dilayar ponsel itu. Segera ditekannya tomobol dial yang ada diponselnya itu.

"Iya ayah. Ehm. Baiklah aku akan segera kesana."

"Ada apa, Senna?" Rukia yang berada diseberang meja Senna menatapnya heran.

"Ayahku memintaku untuk pergi ke Amerika malam ini. Ada yang ingin dibicarakan." Ujar Senna memandangi teman-teman barnya yang ikut menatapnya juga.

"Jika itu penting maka pergilah Sousuke-chan. Nanti kami akan mengantarkan Rukia ke tepatnya. Kau tidak perlu khawatir."

"Benarkah? Apa kau tidak apa-apa, Rukia?"

"Ne. Daijobou, Senna-chan." Angguk Rukia mantap sambil menyunggingkan senyumnya.

"Baiklah kalau begitu. Ichi sayang, aku pergi dulu ya. Kita bertemu lusa."

Ichigo hanya mengangguk lesu dengan pandanganj yang terus menuju pada sang bidadari pujaan hatinya. Merasa tidak diacuhkan, Senna mengecup pelan pipi Ichigo dan berlari pergi dari semuanya. Good, sekarang lihat Ichigo. Tampaknya ia benar-benar terusik sekarang.

"Ehem. Dasar mikan payah. Diberikan kecupan harusnya kau membalasnya dong."

Renji mencoba menggoda teman sedari SMP nya itu.

"Berisik kau, babon. Setelah ini pasti aku akan mimpi buruk."

Ichigo mendesah pasrah. Sempurna sekali malam terburuknya hari ini. Ia ingin ini segera berakhir. Yup, lebih tepatnya ia ingin pikirannya untuk berhenti berharap dengan sang bidadari pujaannya itu.

Acara terus berlanjut hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam. Bukannya suasana makin sepi, tapi ini semakin ramai. Banyak pasangan muda-mudi yang berpesta pora hari ini.

"Hey Kitty, jangan hanya karena kau sudah resmi berpacaran dengan Nell kau menelantarkan sahabat Senna. Dimana dia?"

Ujar Ichigo menggerutu pada Grimmjow yang tengah asyik bercumbu ria dengan Nell. Membuat Ichigo iri saja.

"Aku lihat tadi dia sedang minum bersama dengan Orihime dan yang lainnya. Susul saja sana. Jangan ganggu aku."

"Cerewet. Aku tahu. Ingat jika dia hamil, kau sendiri yang tanggung."

Ichigo menggeretak teman birunya itu. Berharap semoga dengan gertakannya, si Kitty ini taubat.

"Itu urusanku. Sana, sana."

Ichigo melengos pergi menuju tempat teman-temannya berada meninggalkan si Kitty yang tengah asyik dimanja oleh kekasih barunya. Ichigo takut jika rimmjow nantinya memiliki banyak anak. Kitty an suka beranak.

Grimmjow: THOR, GUE LEMPAR SAPU NIH. ENAK AJE LU. BELUM PERNAH GUE CERO YE.

Ampun bang Grimmjow. Jangan marah yak. Ntar saya kasi uang buat beli permen.

#Lanjuttttt#

"Astaga disini kalian rupanya. Ada apa dengan Kuchiki?"

Ichigo menunjuk Rukia yang terlihat tidak sadarkan diri di sofa. Sepertinya gadis ini mabuk.

"Tadi Orihime dan yang lainnya memaksa Rukia-san untu minum 1 gelas alkohol. Dan ternyata, ia malah jadi begini."

Terang Hitsugaya yang terlihat kebingungan memapah Hinamori yang juga ikut mabuk. Yang mabuk bukanlah hanya Rukia dan Hinamori juga, tapi yang lainnya juga.

"Baiklah. Kalian bawa pulang masing-masing wanita, biar aku yang mengantarkan Kuchiki pulang."

"Oke. Hati-hati dijalan."

Ichigo mengangguk paham dan mulai mendekati sang gadis Kuchiki itu. Ichigo menepuk pelan bahu Rukia. Tapi si empunya hanya diam. Sekali lagi Ichigo mencoba untuk menepuk si bidadari mungil ini.

"Hey Kuchiki-san. Bangunlah. Aku akan mengantarmu pulang."

Dan sekali lagi sang gadis hanya terdiam tidak sadarkan diri. Ichigo menggaruk belakang lehernya. Sekarang ia harus bagaimana? Apa mungkin ia harus menghubungi Senna untuk menjemput sepupunya pulang?

Tanpa Ichigo duga, Rukia bangun dan duduk menatap tajam dirinya. Tentu saja Ichigo kaget bukan kepalang melihat gadis bermata indah ini bangun seperti orang mati yang hidup kembali. Melihat ada seorang pria dihadapannya, Kuchiki Rukia tersenyum manis dan mendekatinya.

"Ara Kurosaki-kunnnnn... mau bermain denganku tidak..~."

"Ber-bermain apa?"

Ichigo mencoba memundurkan duduknya menjauhi gadis yang tengah mabuk ini. Tangan Rukia meraba dada bidang Ichigo. Tangan mungil itu terus menerus meraba setiap inci dari tubuh Ichigo. Membuat Kurosaki sulung ini merinding geli. Dengan gerakan perlahan, Rukia mendekatkan wajahnya ke wajah pria dihadapannya dan mulai mengecup manis bibir Kurosaki Ichigo ini.

Ichigo membelalakkan matanya akbat terkejut bukan main. Ada apa dengan gadis Kuchiki ini? Rukia melepaskan cumbuan manisnya itu dan menatap Ichigo dengan tatapan mengodanya.

"Jika kau mau lagi, ayo kita lakukan di tempat yang sepi."

Mulut Ichigo menganga lebar sekarang. Apa yang baru saja dikatakan gadis ini? Melakukan ditempat sepi? Oke good. Sepertinya si jantan yang berada didaerah terlarangnya telah meminta untuk dipuaskan. Jika dipikir, bukankah ini kesempatan yang Kami-sama berikan agar Ichigo dapat bersama dengan sang gadis pujaan?

'kami-sama jika ini adalah kesempatan besar yang kau berikan padaku, maka aku akan mengambilnya dengan senang hati.' Batin Ichigo berteriak senang.

Lihat. Sekarang bidadarinya telah duduk dipangkuannya menanti jawaban dari dirinya. Tentu Ichigo tidak mau membiarkan bidadarinya menunggu kan? Dengan semangat 45, Kurosaki Ichigo menggendong bidadarinya ini. Seringaian ia sunggingkan unuk ratu malamnya ini.

"Jika kau mengingnkannya, mana bisa kutolak. Let's do it, my queen."

Segera Ichigo membopong gadis ini menuju ke kamar yang disediakan oleh pemilik club malam bagi siapapun yang mau menikmati sensasi malam yang panjang bersama ratu malam mereka. Dan tentu saja jika kalian mau tahu, author bisa-bisa saja menuliskan adegan malam indah mereka. Tapi karena berhubung ini sudah melebihi kapasitas, jadi...

To Be Continued

Jengkel? Kepengen tahu? Penasaran? Greget?

Rinko Kurochiki selalu membuat readers jengkel. Iya kan? thu reders liat wordnya, 4 ribu lho. Nanti kalo mau dilanjutin, readers pada ngamu gara-gara kepanjangan. Kan readers pada jago bikin adegan gituan. Yaaa... saya serahin readers aja deh.

Hora, maaf nunggu lama ya. Rinko lagi buntu buat ide fic ini. Jadi yaaaa.. terlantarlah fic beta. Okelah, Rinko bingung mau bilang apa. Jadi tunggu chapter berikutnya ya.

Thanks for all reviewer, readers, and you.

Love you all.