Chapter 5 kembali..
Minna, entah kenapa saya akhir-akhir ini kehilangan semangat buat bikin fic. Padahal hutang saya banyak bngt. Jadi kesenengan sama real world kayaknya.
Oke deh, saya lagi gak mau banyak bicara sekarang. Kita mulai aja ya..
My Baby
Chapter 5 : If...
By : RinRai KurosakiKuchiki a .k, a Rinko Kurochiki
Disclaimer: Bleach punya om Kubo. Saya Cuma pinjem charanya aja.
Warning: Typo maybe masih ada, OOC, AU, don't like don't read.
.
.
Chapter 5
.
.
Sang raja matahari telah berdiri angkuh dikala pagi yang indah ini. menampakkan cahaya yang menyilaukan demi menyambut hari yang menyenangkan bagi yang merasakannya. Semua orang yang mensyukuri indahnya hidup, pasti sangat senang menyambut hari Minggu yang ceria ini. mungkin bisa kita katakan begitu juga kepada dua sejoli yang –tadi malam- telah menikmati surga dunia walau hanya sebentar saja.
Di sebuah kasur yang ukurannya –mungkin- lebih dari cukup untuk kedua orang berbeda rambut itu, terlihat jelas posisi mereka yang tengah memeluk tubuh masing-masing. Jika kita amati sekarang, sebenarnya mereka tidak terbungkus sehelai benang pun sekarang. Sepertinya pergulatan diatas kasur telah terjadi tadi malam.
"Ungh."
Suara lenguh seorang gadis tampak terdengar jelas ketika mata indigonya menerima paparan cahaya yang menyilaukan dari balik gorden kamar itu. perlahan-lahan, mata bersiluet indah itu membuka menampakkan betapa anggunnya bola mata itu. tubuhnya agak menggeliat ketika merasakan sebuah tangan kekar yang merangkul pinggang mungilnya.
Tapi.. tunggu dulu?
"Tangan?"
Kuchiki Rukia, segera membuka matanya lebar-lebar ketika dirinya menyadari ada yang salah disini. Dirabanya tangan yang tengah ia herankan itu.
"Ta-tangan siapa ini?"
Perlahan-lahan Rukia mencoba membalikkan badannya untuk melihat tangan siapakah ini. begitu badannya telah mengarah kehadapan orang itu, matanya terbelalak lebar dan mulutnya ia bungkam demi menahan jeritannya.
"Ku..Kurosaki-san?"
Yak itulah kenyataann yang harus ia lihat. Kurosaki Ichigo masih tertidur nyenyak menyelami mimpi indah yang tadi malam ia rasakan. Kalau ia bilang kemarin "Rejeki jangan ditolak". Impiannya kan bisa bersama dengan bidadari pujaannya, jadi mana mungkin ia mau melewatkan itu.
Rukia terduduk kaget melihat siapa pria yang sudah berani membuat dirinya seperti ini. tapi menyadari kenapa dirinya merasakan dingin di tubuhnya, Rukia menengok kearah tubuh bagian bawahnya. Dan...
"Gyaaa..."
Itulah reaksi dari gadis berusia 16 tahun itu. oke, ini membuat matanya lebih membelalak lebar sekarang.
"Ke-kenapa? Kenapa bisa? A-apa tadi malam aku..."
Rukia mencoba mengingat kejadian tadi malam. Seingatnya dia minum satu gelas alkohol bersama dengan teman-temannya. Saat itu ia mabuk berat dan merasa tubuhnya seperti melayang-layang. Lalu, ia melihat ada Kurosaki yang mencoba memberikan bantuannya untuk mengantarkan dirinya pulang. Dan saat itu, ia tidak ingat apa-apa lagi.
"Huwaaa.. ini semua karena alkohol gila itu. bagaimana ini?" Rukia mengacak-acak rambutnya kasar. Frustasi dengan dirinya yang seperti ini.
"I-ini gawat. Le-lebih baik sekarang aku pergi dulu dari sini. Aku harus pulang dulu."
Ya itu ide yang bagus. Rukia harus pulang dulu sebelum ada yang menyadari bahwa dirinya telah melakukan hal diluar dugaan dengan calon tunangan sahabat kecilnya itu. dengan segera Rukia turun dari kasur dan memakai pakaian yang tadi malam –mungkin- sudah pria itu buang kesembarang tempat
Sebelum ia meninggalkan kamar, Rukia sempat melihat wajah tidur laki-laki berambut orange itu. Digeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Astaga. Kenapa pria ini masih santai dengan tidurnya sih? Dasar gila." Ujar Rukia secara lirih melihat Ichigo yang masih setia menyelami tidurnya.
Tapi lebih baik seperti itu daripada pria itu bangun. Bisa-bisa Rukia akan melemparkan kursi ke wajahnya nanti. Rukia harus pergi sesegera mungkin.
.
.
.
Dengan mengumpat tentang kejadian yang menimpa dirinya disepanjang perjalanannya, Rukia akhirnya sampai di apartement yang ada di district Karakura. Ia masih mensyukuri satu hal. Untung saja kakak iparnya sedang pergi ke Tokyo dan Senna yang tengah pergi ke Amerika untuk bertemu dengan ayahnya. Jika tidak, tamatlah dirinya.
Rukia mengambil kunci apartement yang tadi malam ia masukkan di tas tangannya. Eh, tunggu dulu. Kenapa... terdengar suara seorang wanita didalam?
Rukia mencoba memutar knop pintu apartementnya.
"Terbuka?"
Pikiran yang tidak-tidak sudah ada dikepalanya. Apakah ada maling yang tengah asyik merajalela di apartementnya? Atau... Apakah... kakaknya sudah pulang?
"Rukia?"
Seketika bulu kuduknya berdiri mendengar baritone suara yang begitu familiar ditelinganya. Kuchiki Byakuya telah berdiri dibelakang Rukia. Benarkan? Kakaknya sudah pulang?. Firasat buruk memang selalu benar. Ia harus tenang jika tidak ingin kakaknya ini curiga dengan apa yang terjadi.
Segera Rukia membalikkan badannya menghadap sang kakak. Senyum meyakinkan coba ia lontarkan demi merubah suasana hati yang tengah berkecamuk didalam dirinya.
"Nii.. Nii-sama?"
"Semalam kau tidur dimana? Ponselmu pun juga tidak aktif." Ujar Byakuya to the point seraya bersedekap dada.
Ya wajar saja ia seperti itu. mana ada kakak yang tidak khawatir menyadari adiknya tidak pulang tadi malam
Rukia menelan ludahnya berat. Bagaimana ini? apa ia harus jujur? Tapi jika ia jujur, maka kakaknya pasti akan marah?
"A-aku.."
"Dia pergi bersamaku, Byakuya-nii."
Byakuya dan Rukia menatap kearah seseorang yang sudah menjawab pertanyaan Byakuya tadi. Nampak Senna yang tengah berdiri dibelakang Byakuya sambil tersenyum manis.
'Se.. sejak kapan Senna disini?' Batin Rukia menjerit melihat keberadaan sahabatnya itu. Dan lagi, waraskah Senna mengatakan itu?
"Lalu, kenapa kau dan Rukia tidak berangkat bersama kemari? Apa kalian terpisah dan tersesat satu sama lain?" Byakuya memejamkan matanya seraya bersandar ditembok.
Senna menghembuskan nafasnya heran. Oke, mungkin ini penjelasan yang ketiga kalinya setelah tadi Senna sudah susah payah mencoba menjelaskan kepada kakak sahabatnya ini.
"Bukankah tadi aku sudah bilang kalau tadi malam aku pergi ke Amerika bertemu dengan ayahku dan Rukia-chan tidur di hotel milik ayahku? Penerbangan dari Amerika kesini juga tidak pendek kan, Byakuya-nii? Dan lagi, apakah perjalanan dari hotel kemari membutuhkan waktu hanya 15 menit? Rukia kan ingin menikmati pelayanan hotel VIP juga " Ujar Senna mencoba menjelaskan kepada kakak ipar Rukia ini.
Mulut Rukia menganga lebar sekarang. Bagaimana bisa Senna memberikan alasan yang begini luar biasat demi membela dirinya?
"Baiklah kalau begitu. Kita bicarakan nanti setelah aku pulang kerja. Sebaiknya kau mandi dulu Rukia. Kaien akan datang 30 menit lagi." Byakuya pergi meninggalkan Rukia dan Senna yang masih terdiam di tempatnya masing-masing.
"Baik, Nii-sama."
Tanpa ada peringatan apapun, Sousuke Senna segera menarik tangan Rukia menuju ke dalam kamar Rukia. Senna segera mengarahan sahabat kecilnya itu untuk duduk di kasur bergambarkan Chappy itu.
"Ne Rukia, katakan padaku. Tadi malam kau tidur dimana? Pengawalku tidak menemukan dirimu ketika kusuruh untuk membawamu ke hotel ku. Aku sempat bingung."
Gawat. Senna juga ikut menanyakan dimana ia tidur semalam. Apakah ia harus jujur mengenai dirinya yang sudah melakukan hal itu pada Senna? Bukankah Kurosaki adalah calon tunangan Senna?
"Rukia-chan? Hoy Rukia-chan?"
"A-ah itu tadi malam aku tidur di rumah Tatsuki-chan. Ia mengajakku untuk tidur di tempatnya." Ujar Rukia berbohong pada Senna. Ia merasa belum saatnya ia menceritakan yang sebenarnya pada Senna.
"Oh begitu. Pantas kalau pengawalku tidak menemukanmu tadi malam. Ternyata kau tidur di rumah temanmu. Yokatta!" Senna memeluk Rukia senang. Dengan ragu, Rukia memeluk tubuh sahabatnya itu pelan. Ia merasa jahat sekarang.
"Ne Senna, bagaimana dengan rencana pertunanganmu?" Rukia mencoba mengalihkan perasaan berkecamuknya. Yaaa walaupun tidak jauh dari topik pertunangan.
"Tanggalnya sudah ditentukan. Mungkin sekitar 3 minggu lagi acara itu akan dilangsungkan. Sebenarnya tetua keluargaku bilang kalau aku harus menunggu sekitar 2 bulan lagi. Tapi aku mengatakan pada ayahku untuk dilaksanakan secepatnya. Jadilah 3 minggu lagi." Ujar Senna dengan menggebu-gebu. Ia sudah tidak sabar menjadikan Ichigo tunangannya.
"Benarkah? Syukurlah. Aku ikut bahagia untukmu." Rukia mengenggam tangn Senna lembut.
Senyum simpul terukir dari wajah cantik gadis bermata hazel itu. dipeluknya tubuh mungil sahabat masa kecilnya itu.
"Terima kasih, Rukia-chan."
Rukia menunduk sedih sekarang. Bagaimana dengan kejadian itu? apa ia harus tetap menyembunyikan hal itu?
.
.
Rin Kuro
.
.
Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Tetapi, tuan muda Kurosaki ini masih asyik menikmati mimpi indahnya yang sebenarnya sudah berakhir tadi malam. Apa ia masih merasakan kesenangan itu sekarang?
Kringggg... kringgggg..
Suara ponsel terus berdering disamping ranjang Ichigo. Tanda bahwa ada panggilan masuk yang meminta untuk diangkat. Dengan ogah-ogahan, Ichigo mengangkat telepon itu. apa sudah waktunya makan siang sekarang?
'Hey Ichigo! Kenapa kau belum kembali juga, hah?'
"Oh Oyaji. Ada apa? Aku masih mengantuk."
'Mattaku. Cepatlah pulang. Ayah akan membicarakan tentang pertunanganmu dengan Senna-chan.'
"Nanti siang saja. aku masih ada urusan. Jika tidak ada yang perlu dikatakan, ku tutup."
'He-hey. Matte Ichigo.'
Tuutt.. tuutt..
Oke. Kebiasaan Kurosaki Ichigo dimulai. Ia tidak akan menghiraukan apapun ketika dirinya tengah tidur. Hanya orang tertentu yang bisa membangunkan si raja tidur ini. eh tapi tunggu, sepertinya ada yang dilupakan oleh Kurosaki sulung ini.
"Ku-kuchiki."
Itu dia. Ichigo terbangun ketika menyadari tadi malam ia tidur bersama gadis cantik itu. melihat kekosongan ranjang disebelahnya, membuat Ichigo panik luar biasa. Dengan mengenakan kimono mandi, Ichigo mencoba mencari dimana keberadaan bidadari mungilnya itu.
"Kuchiki-san?" Ichigo membuka pintu kamar mandi hotel itu.
Kosong. Tidak ada keberadaan gadis itu disini. Kemana gadis itu pergi?
"Astaga. Jika memang dia pergi, dia pasti nanti akan bertemu Senna. Tamat riwayatku."
Ichigo segera meraih kemeja yang tadi malam ia gunakan dan segera berlari menuju keluar hotel mencari keberadaan gadis Kuchiki itu. Jika gadis itu memberitahu Senna mengenai kejadian semalam, bisa gawat jadinya.
Pagi ini setelah Senna kembali ke rumahnya, Rukia terduduk merenung di dekat jendela balkon apartementnya. Pikirannya berkutat pada hal yang tadi malam telah ia lakukan bersama dengan tunangan dari sahabatnya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang tadi malam ia lakukan bersama pria berambut orange itu. Hal yang seharusnya ia lakukan nanti bersama dengan Senna, kini telah ia renggut. Malu rasanya tadi ia bertemu Senna. Tapi...
"Aku memang bodoh." Ujar Rukia lirih seraya menyembunyikan wajahnya diantara dua lututnya.
Ting.. Tong..
Rukia mengangkat kepalanya mendengar suara bel rumah apartementnya. Itu pasti Kaien yang Nii-samanya katakan akan datang kesini. Rukia berdiri dari duduknya dan berniat membuka pintunya.
"Kuchiki, tolong buka pintunya."
Rukia menghentikan seenak niatnya untuk membuka knop pintu. Telinganya merasa tidak asing mendengar suara dari pria ini. Tapi dimana? Dengan segera Rukia membuka pintu apartementnya, namun alangkah kagetnya melihat siapakah tamunya pagi ini. Dia..
"Ku-kurosaki-san?"
"Yo. Bolehkah kita berbicara sebentar?"
Rukia melihat ada banyak peluh yang membaniri baju kemeja pemuda ini. Bukan hanya itu saja, nafasnya juga terengah-engah seperti orang yang selesai melakukan lari maraton. Apa dia berlari ke apartementnya? Sebenarnya, apa yang menyebabkan pemuda ini harus berlari?
"A-ah aku tahu jika aneh rasanya kalau aku yang seorang calon tunangan sahabatmu bertamu sepagi ini di apartementmu. Jika kau keberatan, kita bisa berbicara sambil berjalan disepanjang sungai dekat sini. Kau mau?" Ichigo mencoba meyakinkan gadis bermarga Kuchiki ini.
Rukia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju kepada pemuda bermarga Kurosaki itu. Segera Ichigo menarik tangan Rukia dan membawanya ke sungai dekat apartement.
.
.
.
Hembusan semilir angin mengalir lembut menerpa wajah Ichigo. Sesekali matanya akan ia peamkan demi menikmati terpaan lembut sang angin dan hidungnya yang mencoba menyesap oksigen dalam-dalam. Sejuk. Hanya satu kata yang cocok menggambarkan suasana pagi ini. Dengan Rukia yang berjalan dibelakang mengikutinya, ia nampak begitu menikmati jalan santainya pagi ini.
Sesekali mata Ichigo menoleh kebelakang demi melihat wajah gadis itu. Cantik, menjadi kata yang pantas disematkan pada wajah laksana cahaya rembulan dengan mata berhiaskan manik amnetys itu. Wajah putih meronanya menjadi pelengkap kecantikannya yang mampu menjerat setiap mata yang melihatnya. Hal itulah yang kini sedang dirasakan oleh Ichigo.
Ia telah terpikat oleh pesona sang gadis Kuchiki. Setiap ia dekat dengan gadis ini, jantungnya tidak akan berhenti berdegup kencang. Bahkan ketika malam hari menelang tidur, ia tidak mampu menghilangkan bayangan wajah cantiknya. Ichigo rasa, hatinya ini tidak mungkin berbohong. Hatinya tidak salah dengan gadis mana yang harus ia pilih. Haruskah ia mengatakan agar gadis Kuchiki ini mau menerima perasaannya ini? Apa gadis ini akan menerimanya?
'Oh ayolah Ichigo. Kau harus berani menyatakannya. Masalah Senna, nanti bisa kau urus.' Batin Ichigo menyemangati dirinya sendiri.
Itu benar. Terlebih dahulu dirinya harus mengatakan bahwa ia telah jatuh cinta pada gadis bermata indah itu. Ya harus!
"Kuchiki, sebenarnya aku.."
"Bisakah kau melupakan semuanya, Kurosaki-san?"
Ichigo menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap gadis Kuchiki yang kini tengah menatap sungai. Melupakan?
"Kenapa tiba-tiba kau.."
"Kukira ini semua salah, Kurosaki-san. Ini semua tidak benar untukmu dan untukku."
Mata Ichigo terbelalak mendengar penuturan gadis itu. Kepalanya yang tadi terlihat yakin menghadapnya, kini tertunduk.
"A-aku tidak mengerti, Kuchiki." Ujar Ichigo yang berusaha menampik kata-kata gadis dihadapannya.
Mendengar ucapan Ichigo, Rukia segera menegakkan kepalanya. air mata kini sudah membasahi mata indah itu.
"Tidak bisakah... tidak bisakah kau melupakan semuanya, Kurosaki-san? Kumohon."
Kini dapat Ichigo lihat tangisan yang tadinya hanya sekedar air mata yang menetes, sekarang berubah menjadi isakan yang cukup kuat. Bahunya yang bergetar serta wajahnya yang coba ia tutupi dengan kedua telapak tangan mungilnya, menjadi bingkai dari seorang gadis Kuchiki yang nampak tersakiti hatinya. Ichigo bodoh. Kenapa ia bisa begitu tega melihat wajah menyedihkan orang yang ia cintai?
Dengan segera Ichigo memeluk gadis dihadapannya ini.
"Maafkan aku jika aku telah menyakiti perasaanmu. Jika keinginanmu agar aku melupakannya, aku akan mengabulkannya. Maafkan aku, Kuchiki." Ichigo berbisik lirih seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh gadis pujaannya ini. Terdengar tangisan yang semakin kencang dengan isakan hebat gadis Kuchiki ini.
Jika dirinyalah yang harus berkorban demi kebahagiaan gadis ini, maka ia harus merelakan dirinya agar melupakan semuanya. Termasuk juga gadis yang dicintainya ini. Ikhlaskan agar gadis ini pergi darinya.
.
.
.
Kaien terus melihat jam tangannya. Sudah jam 09.30. sudah setengah jam Kaien menanti kemunculan Rukia di depan gedung apartement. Dan sekarang, kemana perginya Rukia sampai-sampai ponselnya tidak bisa dihubungi.
"Semoga acaranya belum dimulai." Kaien bergumam sambil tersenyum memandangi pohon disekitar apartement ini.
Dari arah seberang jalan dapat dilihatnya Rukia yang tengah berjalan seraya fokus menatap jalanan didepannya. Ah benar, mungkin ia akan terkejut jika melihatnya ada disini. Bagaimana dengan menyapanya?
"Rukia hey!"
Mata Rukia tertuju menatap Kaien yang kini telah melambaikan tangannya. Melihat Rukia hari ini membuat hati Kaien senang bukan kepalang. Rukia sudah menyebrangi jalan sekarang. Senyum tak henti-hentinya Kaien lontarkan begitu melihat gadis itu sudah dihadapannya.
"Hey, kau darimana saja tadi? Kenapa ponselmu tidak aktif, hem?" Kaien sedikit mengacak-acak pelan rambut Rukia.
Rukia tertegun. Benarkah ponselnya tidak aktif?
"Ah sudahlah. Aku tahu jika kau meninggalkan ponselmu di apartement dan lupa membawanya. Dasar pelupa." Kaien mengacak-acak pelan kembali rambut Rukia. "Oh ya, aku ingin mengajakmu menonton opera. Kau harus ikut. Ayo sekarang bersiap-siap." Ujar Kaien menggebu-gebu dan menarik lengan Rukia.
Kaien merasakan tangan mungil memeluk erat pinggangnya.
"Ru-rukia, kenapa kau.."
"Sebentar saja..."
"Ha- hah?"
"Sebentar saja Kaien-nii tetap pada posisi ini. Bolehkan?"
Kaien tidak bisa menolak keinginan Rukia kali ini. Terlebih lagi, kini dia sudah menangis terisak dibelakangnya. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan gadis ini?
Dari arah seberang jalan, mata hazel Ichigo tengah menyaksikan gadis pujaannya tengah menangis bersama dengan laki-laki yang tentu tidak asing untuknya. Seandainya... seandainya...
TBC
.
.
Rinko In Here
.
.
Yak, adakah yang emosi membaca chapter kali ini? Kalo ada ngacungin jempol...
Maaf ya minna saya udah membuat yang gak sesuai keinginan minna. Saya tahu kalo banyak dari kalian yang menginginkan adanya adegan lemon #sotoyyyyy# tapi saya gak kasi. Abis kan ini Rate T. Nanti saya dimarahin pak Jokowow lho kalo ganti Rate. #kampanya hitam#
Dan maaf juga kalo saya belum bisa membalas review minna. Saya tahu saya kurang ajar. Raiko aja sampe gregetan sama saya.#poor me#
Gak kerasa romancenya? Kurang panjang? kurang greget? Itukah yang ada dibenak minna? Ya Rin anggep gitu deh. abisssss...ini udah abis idenya. blm lagi kenaWB. Bikin tambah lama updatenya. Tapi Rin terima kok segalanya. #asekkk#
Ya sudah saya mau terima kasih buat yg review. Maaf ya Rinko gak bisa bales. Ffn juga lagi susah dibuka sekarang. Kena inet positive...#gue libas juga ntar thu Inet positive#
Oke, Rin gak mau banyak ngomong lagi. Arigatou, Minna-samaaaaa...
