Disclaimer : Isayama Hajime

Warn! : OOC, Gaje, DLL

Genre : Fantasy, Adventure, Romance

Pair : Eren x Mikasa

Note : Part ini Dari sudut Pandang Eren.

Salvatore Part 1 : Bertemu Kembali


~Bertemu Kembali~

Akhirnya pekerjaan ku selesai, rasanya sangat menyenangkan diberkati dengan kekuatan semacam ini, meski sudah beraktifitas seharian, aku bahkan belum merasa lelah sedikit pun, meskipun pakaian yang ku gunakan terlihat sudah lusuh karnanya, dan pacul yang kugunakan untuk menggali pun mungkin akan berkata 'hentikan, aku sudah lelah menggali berjam jam' namun mana mungkin benda ini akan berkata seperti itu atau mungkin perut ku akan berkata 'Tolong isilah aku dengan makanan, dari pagi aku belum makan' dan lagi.. mana mungkin ia akan berbicara, Ya Tuhan, terimakasih karna kau sudah menganugerahkan kekuatan ini padaku.

Bayangan ku terlihat semakin tinggi, ia terus mengikuti langkah kaki ku menuju rumah, hari semakin sore, dan tak lama malam akan tiba, suasana disini sangatlah jauh dari kata ramai, sejauh mata memandang hanya ada perkebunan luas dengan pohon pohon berjajar disisinya yang kami kelola dan peternakan yang membantu kelangsungan hidup kami, sudah sangat lama aku tidak memiliki teman dan bahkan hampir tidak bersosialisasi dengan orang lain selain ibu dan ayah, karna ditanah luas yang jauh dari kota ini, terdapat hutan yang banyak binatang buasnya dan tak ada satupun manusia yang datang kesini untuk hidup seperti kami.

Terkadang aku teringat masa – masa dimana kami masih tinggal di kota, disana aku memiliki teman, yang bermain, bercerita dan tumbuh bersama dengan ku, tapi pertumbuhanku seolah terhenti diusiaku yang ke 17, aku sama sekali tidak menyadari hingga tahun demi tahun berlalu dimana teman – teman ku beranjak dewasa, menikah dan punya anak, bahkan hingga anak mereka menua pun aku masih terlihat semuda ini, perlahan keberadaan kami ditakuti oleh orang – orang disekitar, kami selalu dianggap sebagai Vampir yang akan membahayakan hidup mereka, karena didunia ini, hanya vampir sajalah yang dapat hidup ratusan tahun tanpa penuaan.

Akhirnya Ayah memutuskan agar kita tidak lagi tinggal di kota, dan kami pergi meninggalkan kota melewati hutan yang dipagari disekelilingnya dengan cara membolongi pagar tersebut dan menemukan tempat ini, sebidang tanah luas yang tidak berpenghuni, kami mulai mendirikan rumah sederhana dengan kayu – kayu yang kami potong dari pepohonan hutan, Salah satu kekuatanku yang aku sadari sejak lama ialah dapat berlari sangat cepat dan melebihi kecepatan kuda, aku selalu menggunakan kekuatanku untuk pergi kekota membeli alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mendirikan rumah, karna kami pergi tanpa mempersiapkan itu terlebih dahulu, meskipun awalnya Ibu Melarangku menggunakan kekuatan ini, tapi Ayah mengizinkanku karna tidak ada pilihan lain selain menggunakan kekuatan ku untuk dapat mendirikan rumah dengan cepat, akhirnya dalam waktu beberapa jam saja rumah sederhana kami sudah jadi dan kami memulai hidup baru disini.

Sudah satu minggu berlalu sejak Ayah pergi ke kota, jika perniagaannya lancar, ia akan kembali besok, mungkin aku harus menyusul kesana bila ia belum datang besok, seperti yang biasa kulakukan, jika Ayah belum kembali dalam satu minggu, aku yang akan menyusulnya ke Kota untuk membantu menjual barang – barang, meskipun jarak dari rumah kami sampai ke kota membutuhkan perjalanan jauh yang hampir satu hari dengan kuda tapi aku dapat sampai kesana hanya dalam beberapa jam saja dengan kekuatan ku ini.

Huuh... Rasanya duduk diteras bersandar dikursi kayu yang dapat digoyangkan sambil menikmati pemandangan matahari yang akan terbenam cukup menyenangkan, ditambah lagi hembusan angin yang menyejukkan ini, pasti siapapun akan merasa nyaman menikmati ini semua, keindahan alam ini belum terjamah manusia lain selain keluarga ku, benar – benar indah, aku jadi penasaran seperti apa ya kota saat ini, aku rasa sudah hampir lima puluh tahun aku tidak kesana, sejauh apapun aku menjelajah aku tidak pernah masuk ke kota, hanya sampai ke desa – desa kecil pinggir kota yang dekat dengan gunung setelah melewati hutan ini, ingin rasanya berkunjung menemui gadis kecil waktu itu, tapi saat aku mengunjungi tempat itu untuk kedua kalinya, aku menemukan rumah gadis itu kosong tak berpenghuni, mungkin ia sudah pindah ke kota bersama kakaknya.

"Eren! Ayahmu bilang ia sedang bersiap untuk pulang, dan sudah membeli semua perlengkapan untuk kita" Ahh saking asiknya menikmati suasana ini aku sampai tidak menyadari kalau ibu sudah duduk disampingku, tapi kabar dari ibu membuat ku lega.

Aku menoleh dan hendak bangun dari tempat duduk "Syukurlah, Ibu.. bilang pada ayah, aku akan menyusul untuk membantu membawa barangnya" setelah itu aku meninggalkan ibu teras, masuk ke kamar ku dan mengambil jubah hitam yang biasa kupakai bila menjelajah.

Aku bergegas menemui ibu diteras mendengar pesan selanjutnya "Ayah mu bilang ia akan menunggu mu dirumah Paman Erwin, segeralah berangkat" perintah ibu ku setelah memberi lokasi keberadaan Ayah.

"Baik bu, aku akan kembali secepatnya"

"Ya, Berhati – hatilah" Sore itu juga aku berangkat menuju kota, senyum dan lambaian tangan dari ibu menghiasi keberangkatanku, aku menggunakan jubah hitam dengan penutup kepala dan wajah agar tidak ada yang melihat jelas wajah ku.

Sejauh ini yang ku tahu tentang kekuatan kedua orang tuaku ialah telepati disamping ketahanan dan kekuatan fisik kami yang berbeda dari manusia biasa, sehingga mereka tetap dapat berkomunikasi meskipun tubuh mereka jauh terpisah, aku belum melihat dan belum bertanya mengenai kekuatan mereka selain yang sudah kusaksikan secara langsung, ah..

"Siapa disana? Cepat Keluar atau kau terima akibatnya!" Aku bersumpah telah mendengar suara aneh disemak – semak hutan ini, aku terus bersiaga sambil terus mengawasi sekitar, indra ku ini sangat tajam, pendengaran, penglihatan penciuman semuanya diatas manusia normal.

Disana! "Jangan macam – macam denganku!" Akupun menerjang semak yang berada kurang lebih dua belas meter dibelakang ku setelah yakin disana ada seseorang.

Apa! kosong, 'sial kemana mereka..' aku memejamkan mata sejenak untuk lebih memfokuskan diri terhadap pendengaran ku, sudah sejauh ini, aku sudah hampir tiba di kota.

"EREN! Segeralah temui Ayah mu dan Jangan kembali kerumah untuk sementara waktu! Apapun yang terjadi larilah lebih cepat" Ibu, ini suara ibu, sial bagaimana caranya agar aku bisa membalas pesan ibu melalui telepati, aku ingin bertanya 'Ada apa? atau Mengapa?' pada ibu, namun percuma saja, aku tidak bisa terus memikirkan cara untuk bertelepati, hanya ada satu cara untuk memastikannya, yaitu kembali kerumah secepat mungkin dan memeriksa keadaan ibu, entah kenapa aku merasa yakin ibu dalam bahaya.

Entah kenapa tubuhku merasa gemetar saat ini, aku takut terjadi sesuatu pada ibu, meskipun aku sudah berusaha menambah kecepatan, tapi aku rasa ini sudah mencapai batas kecepatan maksimal ku, aku tidak bisa bertambah cepat dari ini.

Sial! Kenapa ini harus terjadi, aku harap ibu dapat bertahan, sebentar lagi...

Apa?

Apa yang terjadi?

Aku terkejut dengan pemandangan didepanku sesaat setelah keluar dari hutan, sesosok Vampir wanita berkulit abu abu pucat dengan Sayap Putih yang terluka dan dua tanduk yang salah satunya sudah patah dikepalanya sedang berhadapan dengan belasan Warewolf setinggi dua sampai empat meter.

Tidak, tidak mungkin.. apa itu ibu? Ah tubuhku masih gemetar.. kenapa ini, kenapa kakiku tidak bisa bergerak, kenapa aku tidak bisa berhenti gemetar, Vampir itu terbang diatas rumah ku ia menoleh kearah ku seolah tau kalau aku ada disini memperhatikannya bertarung sejak tadi setelah itu terbang menjauh dari ku, itu pasti ibu, senyumnya, aku lihat ia tersenyum dan menitikkan airmata sebelum berpaling dan pergi, tidak ada waktu untuk jadi pengecut!

Aku harus mengejar mereka, tidak ada yang perlu diragukan lagi, itu pasti ibu, aku harus menolong ibu apapun yang terjadi dan akan "KUBASMI KALIAN SEMUA WAREWOLF!"

Aku mengejar mereka dengan murka, kaki ku terasa sangat ringan, seluruh tubuku panas bak lava yang baru keluar dari gunung, aku dapat merasakan sesuatu tumbuh dari tubuhku, entah aku tidak terlalu menyadarinya, yang ku tahu, kuku ini menjadi panjang dan runcing, taringku tumbuh keluar dan aku.. melayang? Ah tidak.. aku terbang? Ya aku terbang,, pandangan ku semakin jelas dan semakin dekat dengan mereka.

Aku terbang bagai burung yang baru saja sembuh dari luka patah sayapnya, aku tidak terlalu mengerti bagaimana cara mengepakkan sayap yang benar hingga hampir berkali kali menabrak pepohonan, tapi tak lama aku dapat menyesuaikan diri, dan aku rasa terbang lebih cepat daripada berlari.

Itu mereka! Aku terbang tepat dibelakang mereka seringai iblis pun mungkin sudah terukir diwajah ku, Tch.. kalian lebih terlihat seperti kelinci yang akan segera disambar Elang, Akan kucabik kau Warewolf "MATI KAU SIALAN!" Aku terjun menerjang serigala itu dan merobek tubuhnya menjadi dua bagian, membunuh satu dari mereka, tingginya hanya 2 meter, sangat lambat dan.. menjijikan!

Itu ibu, ia... "LEPASKAN IBUKU BERENGSEK!" mereka melompat dan berhasil menangkap ibu, sayapnya digigit hingga putus dan ibu ku tengah dikerumuni banyak Warewolf dengan taring taring besar dan kuku kuku yang jauh lebih panjang dari ku, yang aku yakini sama tajamnya dengan pedang, kecepatanku tidak mampu menghadang mereka yang tengah mengerumuni ibu ku didepan sana.

Mereka melolong, semuanya, kepakan sayapku makin cepat, aku melihat dari celah kecil diantara kerumunan itu, melihat ibuku tergeletak tak berdaya.

"Apa kalian.."

"SENANG TELAH MEMBUNUH IBUKU?!" Aku merasa bagai ditusuk dengan pedang saat melihat mereka memakan bagian – bagian tubuh ibuku, mereka menoleh kearah ku setelah mendengar teriakan ku barusan.

Dengan seluruh amarah atas kejadian didepan mataku aku terbang menuju mereka, menuju kerumunan Warewolf, sepertinya tanduk mulai tumbuh dikepalaku, aku merasa sayap ku bertambah besar dan... aku benar – benar murka kepada mereka!

Aku melihat mereka mulai bersiaga melihat ku yang terbang rendah kehadapan mereka, kini aku melesat keatas, mulai mengintai "RASAKAN INI DASAR ANJING SIALAN!" dan menerjang mereka dari atas, aku berputar layaknya bor yang hendak melubangi kayu dengan kedua tangan terulur kedepan sebagai senjatanya, aku tak menyangka dapat melakukan ini, aku bergerak refleks untuk menghindari cakaran yang mengarah pada sayapku setelah berhasil membunuh salah satu dari mereka, aku kini berdiri dihadapan mereka, semua rasa takutku berubah menjadi amarah, kami saling menatap, aku bersiaga untuk menghindari serangan selanjutnya, aku memperhatikan setiap gerakan yang dibuat, bahkan suara nafas mereka pun ku anggap ancaman.

Akhirnya salah satu dari mereka menerjang ku dan membuka mulutnya sangat lebar, aku dapat melihat dengan jelas betapa tajam taring – taring ini dan pasti buruk apabila salah satunya menancap ditubuhku, dengan cepat aku mengepakkan sayap ku untuk terbang menghindari terjangan, namun salah satu dari mereka yang setinggi empat meter berhasil menarik kaki ku dan menghempaskan ku ketanah dengan sangat kuat, aku dapat mendengar suara sesuatu yang patah dari tubuhku, aku melirik kearah sayap kanan ku yang terasa nyeri dan baru kusadari ternyata warna sayap kanan ku berwarna putih sementara yang kiri berwarna hitam.

Aku meringis dan tak mampu mengepakkan sayap kanan ku lagi, sementara dua dari mereka menerjang ku dari atas dan dari depan, aku berlari dengan cepat menuju kearah yang didepanku, dan ia terlihat kaget akan kecepatanku namun tetap membuka lebar mulutnya seperti seekor anjing yang akan melahap daging pemberian tuannya, tapi aku tidak selemah itu untuk memberikan makanan gratis padanya, sesaat setelah sampai didepan wajahnya aku berhenti dengan tumpuan kaki kiri dan melompat kearah kanan dan saat ia telah melewati ku, aku berbalik menerjang dengan cepat dan menebas lehernya hingga putus dengan tanganku yang dilengkapi kuku tajam, melihat pertahananku terbuka, warewolf yang tadi dari arah atas pun kembali mengincar ku, ia melompat dan seolah mengincar kepalaku, aku melakukan gerakan kayang dengan cepat sehingga dapat menghindari amukannya, setelah aku berdiri, ia kembali menerjangku namun kali ini aku tidak menghindar, melainkan menahan gigitannya dengan tanganku, darah mulai mengucur, tangan kananku menahan rahang bawahnya dan yang kiri menahan rahang atasnya, dengan tatapan sinis aku memandang mereka, merasa jijik dan merobek mulutnya hingga ia terkulai lemah tak berdaya.

Aku berdiri tegak menatap tajam mereka yang tersisa "Akan kubasmi kalian semua" dengan nada datar, Itulah kata – kata ancaman yang kulontarkan kepada mereka, jubahku telah penuh dengan darah beku, ini sama seperti sepuluh tahun lalu, ketika aku menolong gadis kecil bernama Mikasa, yang keluarganya dibantai oleh Warewolf, bedanya kali ini mereka lebih kuat dan jumlahnya lebih banyak, baru pertama kalinya aku merasa lelah dan merasa sakit seperti ini, bukan hanya fisik, tapi hati ku juga, aku merasa tercabik melihat kematian ibuku yang sangat mengenaskan, harus mati dimakan oleh mereka.

Aku merasa amarah telah menyelimuti seluruh tubuhku, aku tidak dapat mengontrol kekuatan ku lagi, aku terus bertarung lagi, lagi dan lagi hingga tubuhku terasa seperti diperas, aku sangat lelah dan tidak tahu sudah berapa banyak yang aku bunuh, lengan kiri ku terputus dan sayap ku rusak parah mata ku mulai tidak dapat melihat dengan jelas dan tak lama kemudian seluruhnya gelap.. 'sial padahal masih ada dua yang tersisa' gumamku sebelum hilang seluruh kesadaranku.

"Apa kau sudah Gila? Dia itu Vampir"

"Ya benar kita harus membunuhnya sebelum ia sadarkan diri"

"Tidak, jika ada yang menyentuhnya aku tidak akan mengampuni kalian"

Itulah kata – kata yang sempat terdengar olehku sebelum aku membuka kedua mata ini secara perlahan 'Ngh.. suara ribut ini sangat mengganggu, aku.. dimana?' itu yang kupikirkan, perlahan aku membuka mataku dan melihat sekeliling, ternyata ini rumahku dan aku terbaring dikamar ku.

"Kau sudah sadar?" suara seorang gadis mengejutkanku aku menatap sumber suara dan melihat ada lima orang disana.

Aku memperhatikan mereka semua yang menatapku dengan was – was "Hey.. apa yang kalian lakukan dirumahku?" itulah kata – kata yang keluar dari mulutku, wajar saja, ini aneh karna ada manusia disini, ah tunggu, jangan - jangan mereka ini warewolf yang tadi? Seseorang dari mereka menghampiri ku, seorang gadis berambut hitam panjang yang nyaris menyentuh punggungnya dengan tatapan mata tajam berwarna hitam semakin dekat kearah ku, aku pikir dia akan memakanku, aku segera berusaha bangun tapi tubuhku terasa sakit dan sulit digerakkan.

Dapat kurasakan keringat menetes dari dahi ku "Jangan mendekat atau aku bunuh kalian semua!" karna keadaanku saat ini, aku hanya bisa mengancam mereka, wajah mereka terlihat panik, hanya wanita yang menghampiriku ini yang terlihat tenang dan tatapan tajamnya berubah, matanya membulat sempurna dan senyum mulai terukir diwajahnya.

"Apa kau tidak ingat padaku tuan?" Tuan? Aku kaget ia memanggilku seperti itu.. seperti..

"Oi.. Mikasa.. menjauh darinya, bagaimana kalau tiba – tiba dia berubah dan menggigit mu" teriak salah seorang dari mereka.

Ahh tunggu.. barusan dia memanggil nya apa? Mikasa? Ah aku tidak dapat membayangkan wajah bingung seperti apa yang saat ini tengah ku tunjukkan pada mereka.

Aku memperhatikan dengan teliti wanita ini, dan tatapan ku terhenti pada syal yang melingkar dilehernya "Apa kau gadis kecil yang tinggal dikaki gunung yang aku selamatkan waktu itu?" tanpa sadar aku melontarkan pertanyaan yang membuat ku sangat penasaran tentang wanita ini, karna syal itu, aku yakin milikku karna ada namaku terukir disana dan aku dapat melihat potongan huruf E dan R diantara lipatannya.

"Ternyata anda mengingat ku ya.." sahutnya sambil masih mempertahankan senyumnya. Ternyata benar, ia adalah gadis kecil yang kuselamatkan sepuluh tahun yang lalu, benar – benar berubah, ia tumbuh jadi wanita yang cantik sekarang, ah bodoh apa yang kupikirkan.

Aku sedikit agak tenang setelah tahu ia adalah gadis kecil yang kutolong dulu "Seharusnya aku yang berkata seperti itu, ternyata kau masih mengenali ku, padahal sudah sepuluh tahun berselang" aku melontarkan senyum padanya.

"Tentu saja, karna wajah anda tidak berubah samasekali, bagaimana keadaan mu sekarang tuan?" ia kini duduk disamping ku, menggenggam tangan kiri ku. Ah? Tunggu.. bukankah tadi tangan ku ini sudah putus? Aku melepaskan genggaman Mikasa, mengangkat tangan kiriku dan memperhatikannya, sesekali aku menatap mereka dan mereka masih terlihat ketakutan.

Dengan agak shock aku mencoba bertanya pada mereka "Tanganku.. bukankah tanganku sudah putus?" Aku rasa mereka tak akan menjawab apapun, terlihat dari wajah mereka yang terlihat panik dan berkeringat.

"Tangan mu tumbuh kembali kurang lebih dua menit setelah kau pingsan" Jawab Mikasa yang ada disampingku, ku rasa hanya dia yang sanggup aku tanyai berbagai macam pertanyaan saat aku tak sadarkan diri.

Aku menurunkan kembali tangan kiri ku, memperhatikan mereka semua "Begitu ya.. jadi sedang apa kalian disini? Kalian ini manusia kan?" tak kusangka aku akan bertanya pertanyaan bodoh ini, sudah jelas mereka ini manusia biasa, tapi rasa khawatir ku akan serangan warewolf mungkin mengalahkan pemikiran rasional ku.

"Ya.. kami manusia biasa, kami diperintahkan untuk memeriksa Rumah mu Tuan" Lagi – lagi Mikasa yang menjawab pertanyaan ku dengan tenang.

Dengan mendengar jawaban Mikasa barusan membuat kepalaku terisi berbagai macam pertanyaan "Memeriksa Rumah ku? Kenapa? Apa yang salah dari kami? Dan seragam itu.. kalian anggota militer ya?" Aku menghujani mereka pertanyaan – pertanyaan yang mengganggu kepalaku sambil masih memperhatikan mereka, ada yang mengganggu ku, mereka membawa alat aneh dipinggangnya, seperti pedang.

"Ya, kami adalah Anggota X-Cution, divisi militer yang ditugaskan khusus untuk membasmi vampir dan warewolf, rumah mu sudah di intai begitu lama oleh tim pengintai kami, dan tim terbaik dikirim kesini untuk memastikan kalau yang tinggal disini bukanlah vampir atau warewolf" Jawab mikasa

"Lalu apa yang terjadi kalau kalian tahu penghuni rumah ini adalah vampir?" sambung ku

"Kami akan memusnahkannya" Jawab Mikasa singkat.

Aku merasa sangat terkejut, bahkan manusia punya tim pembasmi vampir dan warewolf mereka sendiri "Bahkan bila itu keluargaku?" aku kembali bertanya.

"Tidak" Jawabnya singkat sambil memejamkan mata dan menundukkan sedikit pandangannya.

Jawabannya membuatku semakin terkejut, teman – teman mereka pun mengeluarkan ekspresi yang sama dengan ku, mereka seakan tak percaya akan jawaban Mikasa barusan.

"Kenapa?" Aku kembali bertanya.

"Karena Kau orang baik yang menyelamatkan hidupku dan kakakku hingga aku bisa membalas kematian keluargaku pada warewolf" jawabnya.

"Oi Mikasa, kau sudah keterlaluan, kau terlalu terbawa perasaan, aku tidak yakin kalau dia tidak akan menghisap darah kita, aku akan membunuhnya sekarang, selagi dia tak bisa apa – apa" Perkataan Salah satu dari mereka membuat ku panik seketika, ia terlihat mencabut sesuatu dari alat tersebut, dan itu ternyata sebuah pedang kembar berwarna perak berkilau yang disarungkan dipinggangnya, perlahan ia menghampiri ku, aku benar – benar tidak dapat berbuat apapun, aku hanya mampu menelan ludah ku berkali – kali dan pasrah akan keadaan.

"Jean, apa kau lupa? Salah satu keahlianku adalah membunuh dan menebas daging dengan cepat, jika kau sampai menyentuhnya dengan pedang itu, aku pastikan nyawa mu akan berakhir disini" aku terpaku melihat Mikasa yang kini tengah berdiri membelakangi ku, tepat didepanku dengan pedang yang sama dengan lelaki yang dipanggil Jean itu, ia berusaha melindungiku.

Aku lihat Jean mulai ragu akan keputusannya, sepertinya ia tidak berani menghadapi Mikasa, apa karna Mikasa memiliki kemampuan bertarung yang hebat? Atau karna ia mengalah untuk menghindari pembunuhan yang sia – sia pada rekan satu tim nya? Entahlah.. itu menjadi tanda tanya besar bagiku.

"Ini berlaku bagi kalian semua, aku tidak perduli siapapun yang berani melukainya, aku pastikan aku akan menghabisinya tanpa ampun" Kata – kata yang tegas tak ada keraguan dengan apa yang ia ucapkan, Mikasa.. Aku tak menyangka kau akan tumbuh jadi seorang penolong ku saat ini.

"Mikasa.. apa yang terjadi saat kalian tiba disini?" Tanyaku lagi, aku masih penasaran dengan kejadiaan saat aku pingsan tadi.

Mikasa menyarungkan pedang kembarnya dan kembali duduk disampingku, sambil menatap ku ia mulai berbicara. "Kami sudah mengikuti mu sejak di hutan, tapi kecepatanmu tak dapat kami tandingi, sehingga kami tertinggal jauh dibelakang, setelah kami keluar dari hutan kami menemukan rumah mu ini, dan saat itu kau sudah memiliki sayap dan terbang kearah timur, setelah kami melihat mu terbang, kami mengurungkan niat untuk memeriksa rumah mu, kami langsung mengikuti mu dan kami tiba sesaat setelah kau mengigit leher salah satu warewolf hingga lehernya nyaris putus dan saat aku hampir menusuk badan mu dari belakang tiba – tiba kau ambruk kearah depan dan sayapmu perlahan menghilang, aku dapat melihat wajahmu dari samping dan aku mengenali wajahmu sehingga aku perintahkan yang lain untuk tidak menyentuhmu dan menjagamu, aku membunuh tiga warewolf yang tersisa dan Armin berhasil membunuh satu yang masih mengincar mu, setelah itu kami membawamu kesini, karna ini satu – satunya rumah yang ada disini." Aku memperhatikan dengan serius apa yang Mikasa ceritakan dan aku heran akan sesuatu.

"Bagaimana caranya kau mampu mengejarku? Dan keluar dari hutan dengan cepat? Padahal jika dengan kuda pun akan memakan waktu empat sampai lima jam?"

"Kami menggunakan ini" Mikasa menunjukkan sebuah alat aneh yang menggantung dipinggang nya, aku pikir itu sarung pedang, tapi bila diperhatikan bentuknya seperti koper tipis dan panjang.

"Apa itu?" aku kembali menggali informasi tentang alat – alat manusia ini.

"Ini adalah 3D Manuver Gear, yang diciptakan khusus untuk kami anggota X-Cution sehingga dapat mengejar vampir yang terbang dengan cara menembakkan jangka dengan tali pengikat yang kuat yang terhubung dengan alat ini, sehingga dapat menarik kami dan membantu kami mendekati vampir yang terbang, ini juga bisa digunakan untuk alat pengejaran dengan cepat dan leluasa bila pemakainya handal dan kondisinya memungkinkan, dalam kasus ini seperti banyak pohon atau bangunan – bangunan yang tinggi"

"Jadi manusia sudah sangat maju sampai sejauh ini ya.. aku sudah lama tak pergi ke kota dan sampai tak tau perkembangan zaman yang sudah cukup pesat"

"Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya Tuan?"

"Hei berhentilah memanggilku seperti itu, aku sudah bilang kan aku punya nama, apa jangan jangan kau lupa nama ku?" aku bertanya sambil menatap wajah nya yang tengah memperhatikanku.

Ia Tersenyum dan berkata "Tidak, aku akan selalu mengingat namamu Eren Jieger"

TBC!


Next Chap Dari sudut pandang Mikasa

Mohon maaf Kalau belum memuaskan