Disclaimer : Isayama Hajime

Warn! : OOC, Gaje, DLL

Genre : Fantasy, Adventure, Romance

Pair : Eren x Mikasa

Note : Part ini Dari sudut Pandang Mikasa

Salvatore Part 2 : Sang Pahlawan


~Sang Pahlawan~

Siang itu.. saat usiaku delapan tahun... Hujan turun sangat deras, padahal sebelumnya langit sangat cerah, sejak pagi kakak ku Levi pergi ke ladang yang berjarak sekitar dua kilo meter dari rumah ku, ia berkuda menuju tempat paman keny disana, kami tinggal di desa kecil dikaki gunung yang tak jauh dari hutan, disini hanya ada puluhan rumah dan jaraknya pun berjauhan, kami hanyalah orang biasa yang hidup mengandalkan kebaikkan Tuhan yang disalurkan lewat alamnya, Ayah ku rutin berjualan di kota seminggu sekali, untuk menjual hasil panen dan hasil ternak serta membeli perlengkapan untuk dirumah, bisa dibilang kami adalah keluarga sederhana yang hidup bahagia dilingkungan asri nan sejuk dikaki gunung, hingga hari itu tiba.


Tok Tok Tok!

Suara ketukan pintu yang cukup keras terdengar jelas disela sela hujan yang lebat, saat itu aku sedang diajari cara merajut oleh ibu ku, dan ibuku berkata kalau 'tekhnik merajut ini sudah diwarisi turun temurun di keluarga kita' dan ibu ingin aku mengajari anak ku kelak bagaimana caranya merajut seperti ini, dan dengan polosnya aku saat itu bertanya "Bagaimana caranya membuat anak?" kepada ibuku, ibuku tertawa dan dengan gugup ia berkata "Wah bagaimana ya, ibu juga kurang mengerti, coba tanyakan pada Ayah mu" dan Ayah yang mendengarnya pun ikut gugup, ia terlihat berkeringat dan kebingungan, tapi Ayah bilang "Mikasa, kau akan mengerti suatu saat nanti, Saat kau sudah dewasa, temukanlah orang yang membuat hatimu bergetar serta yang membuatmu merasa nyaman padanya dan bila kalian sudah menikah tanyakan padanya cara membuat anak, ialah yang tahu rahasia membuat anak" Aku melihat ibu tertawa mendengar jawaban Ayah, ayah hanya tersenyum setelah berkarata demikian, lalu ia bangun dan hendak membuka pintu yang diketuk tadi, tapi ketukan itu perlahan berubah menjadi gedoran, Ayah pun bergegas membuka pintu, mungkin Ayah pikir itu kak Levi yang kehujanan sehingga sangat buru – buru dan saat pintu terbuka seseorang menusuk ayah dengan pisau secara tiba - tiba.

Aku melihat Ayah meringis memegangi perutnya yang mengucurkan darah, ia berusaha mencabut pisau ditubuhnya dan mundur mengambil posisi siaga, orang – orang berjas dan bertopi bulat itu masuk kedalam rumah kami, jumlahnya lima orang, ayah menghadapi mereka sekaligus, dan ayah berhasil membuat tumbang dua diantaranya, namun orang – orang itu tiba – tiba berkelakuan aneh, kulit mereka seakan bergetar, aku dapat melihat dengan jelas bagaimana kulit mereka memelar seperti karet, hingga tersobek dan taklama mereka semua berubah wujud menjadi Serigala, aku pun berteriak karena ketakutan, aku berteriak sekeras mungkin dalam keputus asaan yang menyandra hidup keluargaku saat itu.

Tak lama setelah mereka berubah, Ayah dan ibuku pun tewas seketika karena tak mampu melindungi ku dari mereka, aku terpojok disudut ruangan, menggenggam sebuah pisau yang aku ambil diatas meja dengan tangan mungil yang tak berhenti gemetar dan mengacungkannya dihadapan mereka, mereka sama sekali tidak takut dan terus mendekati ku, aku sudah putus asa dan tak tahu harus bagaimana lagi saat itu, kurasakan lemas disekujur tubuhku, dan basah diseluruh pipiku, melihat warna merah dilantai kayu rumah ku yang sebelumnya berwarna cokelat membuat ku pusing, penglihatan ku perlahan memburam, aku pikir itulah akhir dari kehidupan bahagia ku selama ini, aku akan mati secara mengenaskan dikunyah oleh serigala – serigala ini, kematian paling mengenaskan yang tak pernah terpikir oleh ku, setidaknya itulah yang aku pikirkan saat itu.

Namun saat aku diujung jurang keputusasaan tiba – tiba aku mendengar suara seseorang berkata "Hentikan itu dasar anjing sialan" dari arah belakang para serigala itu, aku menyaksikan seseorang masuk kedalam rumah ku, ia menghampiri kerumunan serigala dihadapanku dan bertarung melawannya, ia berhasil membunuh para serigala itu dengan susah payah, tubuhnya luka – luka terkena cakaran, darahnya terus mengucur dari kepalanya, seakan tak akan berhenti sampai kulitnya memucat, ia telah berhasil membunuh empat dari lima serigala itu, tapi yang terakhir ini terlihat sangat kuat, pria itu terpojok, ia terjatuh dan ditindih tubuh besar serigala itu, kedua tangan serigala itu menahan kedua tangan pria yang menolongku, serigala itu melolong membuat tubuhku merinding mendengarnya dan tak lama lagi mungkin akan memakan kepala pria itu, aku tak tahu harus berbuat apa, seluruh tubuhku gemetar, melihat mayat mayat ini, dan isi perut mereka yang berhamburan membuat ku merasa makin pusing dan mual karenanya, namun tiba – tiba aku mendengar pria itu berkata "Bertarunglah! Dunia ini memang kejam! Jika kau tak bertarung kau tak kan menang, jika kau tak bertarung kau akan mati, kau tak akan bisa membalas dendam kedua orang tua mu dan jika kau mati, pengorbanan nyawa orangtua mu untuk melindungi mu agar tetap hidup menjadi sia sia! Bertarunglah! Bertarunglahh!". Dalam keadaan terdesaknya ia melirik kearah ku dan menyemangati ku dengan kata – katanya.

Setelah mendengar kata – katanya, dan melihatnya hampir mati, tiba – tiba sesuatu terjadi pada tubuhku, aku berdiri dan berhenti gemetar, apa yang pria itu ucapkan terngiang dikepalaku, lagi dan lagi, seperti kaset rusak yang diputar berulang kali, pisau yang ku pegang semakin erat kugenggam, aku merasa kalau aku bisa melakukan apa saja saat itu, aku dapat mengontrol dengan sempurna gerakan tubuhku, dunia ini memang kejam, jika tidak bertarung... "MATILAH KAU!" Aku berteriak dan menerjang serigala itu, aku menusuk belakang kepalanya dengan pisau yang kugenggam, kutusuk dengan sekuat tenaga hingga kurasakan benda ini menembus matanya, kugerakkan pisau itu keatas, kutarik sekuat tenaga hingga kepala serigala itu terbelah karnanya.

Setelah serigala itu ambruk, akupun menangis sekencang – kencangnya, kulihat pria itu berusaha menyingkirkan onggokan daging besar yang menimpanya, meski sambil menangis aku berusaha membantunya menyingkirkan mayat itu, setelah itu ia memelukku erat sambil menenangkan ku yang masih menangis.

Ia menyeka pipiku yang sudah basah oleh airmata dan ternodai cipratan darah ini dengan tangannya, kemudian ia melepaskan jaket tebalnya yang basah karna hujan dan memakaikannya padaku, ternyata bagian dalamnya tidak basah samasekali, dan terasa hangat, melepaskan syal merahnya dan mengalungkannya dileherku setelah itu dia kembali memelukku yang masih menangis, ia sepertinya tau kalau aku sedang menggigil kedinginan setelah menyeka pipiku, namun kali ini aku merasa lebih tenang, terasa hangat, meskipun udara dingin yang datang dari luar masuk memenuhi ruangan rumah ku, aku sama sekali tidak merasa kedinginan lagi, tubuhnya hangat, meskipun darah masih mengalir keluar dari tubuhnya ia tetap mencoba menenangkanku.

"Kau tidak apa – apa gadis kecil?" tanya nya.

"Hm.. Terimakasih" jawab ku yang mulai berhenti menangis.

"Maaf aku tidak bisa menyelamatkan kedua orangtua mu, apa kau tinggal sendiri sekarang?" pertanyaannya mengingatkanku pada levi, kakakku.

"Tidak, kakak ku sedang pergi ke ladang memberi makan ternak kami" aku bingung apa yang harus aku jelaskan pada Levi saat ia lihat kedua orang tua kami seperti ini, aku menatap mayat kedua orang tuaku yang kondisinya sangat mengenaskan dengan lubang didada mereka dan airmataku kurasa mulai menetes lagi.

"Hm.. begitu, aku akan pergi setelah mengubur kedua orang tuamu, sampaikan permintaan maaf ku pada kakak mu juga" Orang ini baik sekali, aku bahkan tidak mengenalnya, dia sampai merelakan hidupnya hampir berakhir ditangan serigala kejam demi menyelamatkan ku yang bukan siapa – siapanya, dia sangat baik.

"Terimakasih Tuan.." hanya itu yang dapat ku ucapkan, karna aku tidak tau apa lagi yang bisa membalas jasanya pada saat itu.

"Hey jangan panggil aku Tuan, apa aku setua Itu? Namaku Eren, Eren Jieger, siapa namamu gadis kecil?"

"Namaku.. Mikasa.." setelah aku menyebutkan nama ku, ia bangun dari duduknya, kulihat darah mulai berhenti mengalir dari kepalanya, ia menghampiri mayat kedua orang tua ku dan memejamkan matanya untuk beberapa saat, aku tidak tahu apa yang ia lakukan, yang kupikirkan saat itu, dia berdoa untuk orang tua ku.

Ia keluar rumah, di tengah hujan, melihat kesana – kemari seperti mencari sesuatu, lalu ia mengambil sebuah skop yang ada disamping rumah kami dan mulai menggali disana, aku memperhatikannya dari balik jendela rumah kami, ia menggali tiga lubang ditengah hujan lebat, setelah selesai ia kembali kedalam dan menggendong mayat kedua orang tua ku di masing – masing pundaknya, ia menguburkan kedua orang tua ku, setelah itu ia kembali masuk dan mengeluarkan mayat – mayat serigala itu dari rumah ku, ia melemparkan semuanya di satu lubang besar, aku pikir ia akan menguburkannya, namun tidak, ia kembali menemuiku dan berkata "Saat kakak mu pulang dan hujannya sudah berhenti, bakarlah mereka, anggap saja itu sebagai tindak balas dendam kalian terhadap kematian kedua orangtua mu itu" Aku mengangguk kecil, ia sedikit menghela nafas dan memegang kepalaku dengan tangannya "Jaga dirimu baik – baik Mikasa, mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi, tapi ingatlah pesanku, jika kau berada dalam bahaya, bertarunglah sehingga kau dan kakak mu dapat bertahan hidup di dunia yang kejam ini, selamat tinggal" setelah mengacak - acak rambutku, ia pergi meninggalkan ku sendirian, itulah saat terakhir aku melihat nya, saat pertama dan terakhir ku mengenal seorang pria yang menolong gadis kecil yang bahkan tidak ia kenal sama sekali, seseorang yang aku idamkan dan ku kagumi, sang pahlawan yang memotivasi aku dan kakaku untuk bergabung dengan X-Cution sebuah organisasi militer yang ditugaskan khusus untuk membasmi Vampir dan Warewolf.

~()~()~()~

Jauh Sebelum aku bergabung dengan X-Cution, setelah kejadian suram itu, aku tinggal bersama Kakak dan paman ku, didikan paman ku sangat berbeda jauh dengan orangtua ku, ia memang baik, ia mengajarkan banyak hal kepada kami, terutama cara bertarung dan bertahan hidup menghadapi kerasnya kota, paman adalah mantan penjahat terkenal di ibu kota Sina, namanya sangat ditakuti orang – orang, ia sudah sering membunuh para polisi militer di kota dan selalu lolos dalam pengejaran nya, ia juga sudah membunuh belasan vampir dan puluhan warewolf sendirian, paman keny adalah kakak dari ibu ku, mungkin ia sudah lelah dan terlalu tua untuk berbuat kejahatan di kota, sehingga ia memutuskan tinggal didekat ladang kami, di kaki gunung, yang dekat dengan hutan dan jauh dari keramaian.

Aktifitas sehari – hari ku ialah berkebun dan beternak, disamping berlatih cara bertarung, aku juga merasa tumbuh menjadi anak yang mandiri, setiap minggu aku dan kakak pergi ke kota untuk menjual hasil panen kami, dijalan tak sedikit kami jumpai para perampok yang hendak mengambil uang atau barang dari kami dan bahkan tak sedikit pula orang yang berusaha menculikku, beruntung aku banyak belajar cara bertarung sehingga aku dapat melindungi diriku sendiri, kakak tumbuh menjadi anak yang pendiam, ia selalu menatap sinis terhadap seseorang, seakan ia benci akan dunia ini dan seluruh isinya, kakak bahkan tak segan – segan membunuh orang yang hendak merampok kami, apa yang paman keny katakan kepada kami tentang kehidupan di kota ternyata memang benar, selain banyak perampok di pinggir kota, ternyata banyak vampir dan warewolf juga disini, hanya saja mereka semua lemah, entah karna beruntung atau memang kami yang tumbuh menjadi orang – orang yang hebat, tetapi sesuai dengan apa yang paman katakan, selemah apapun vampir, ia berbeda dengan warewolf, saat ia ditusuk atau anggota tubuhnya terputus, itu akan tumbuh lagi meskipun membutuhkan waktu satu hingga dua jam sampai ia mati, dan cara untuk membunuh vampir ialah menusuk jantungnya dengan perak, dalam kasus ini paman membekali kakak dan aku sebuah pisau yang terbuat dari perak untuk membunuh para vampir yang kami temui.

Selama perjalanan ke kota, aku selalu berharap bisa bertemu dengan orang yang menolongku dulu, Eren! aku selalu berfikir kalau aku akan bertemu lagi dengannya, mengingat sudah lama sejak pertemuan terakhir kami, tapi setidaknya aku ingin membalas jasa kebaikannya hingga aku dapat tumbuh menjadi orang yang seperti sekarang.

~()~()~()~

Saat usia kakak mencapai 15 tahun, ia bergabung dengan anggota militer, meninggalkan aku dan paman Keny, demi mewujudkan ambisinya untuk melindungi orang – orang dari kematian mengenaskan seperti yang menimpa keluarga ku, saat itu usia ku masih 10 tahun, sementara salah satu syarat untuk bergabung dengan divisi militer ialah ketika usia kita sudah 15 tahun.

Hari demi hari kami lewati tanpa Levi, pekerjaan ku semakin berat karna ditinggal olehnya ditambah lagi ia pergi membawa jaket kesayangan ku yang merupakan peninggalan dari Eren, untung saja ia tidak membawa syal pemberian Eren bersamanya juga. Aku pun kini harus pergi menjual barang sendiri ke kota, namun kadang paman menggantikan ku untuk pergi, sebetulnya aku agak takut apabila paman yang pergi ke kota, aku takut ia tertangkap Polisi Militer disana dan membuatku hidup sebatang kara disini, maka dari itu aku selalu memasang ekspresi kesal apabila ia bilang 'Biar aku saja yang pergi hari ini'.

Perlahan aku mulai mewajarkannya, karena mungkin itu bentuk rasa khawatirnya padaku, aku ini adalah keponakan wanitanya dan sudah sewajarnya seorang paman mengkhawatirkan keselamatan anak perempuan dari adik kandungnya tersebut, meski begitu, setelah sekian lama aku akhirnya berhasil membuatnya percaya pada kemampuan ku, kekuatan dan keterampilan bertarungku, dan paman tidak pernah mempermasalahkan itu lagi semenjak itu.

~()~()~()~

Sudah lima tahun lebih sejak kepergian kakak, kini giliranku untuk bergabung dengan divisi militer, aku pun memiliki ambisi dan tujuan yang sama dengan kakak ku, yaitu melindungi orang - orang dari kematian mengenaskan seperti yang menimpa keluarga kami, menjadi anggota X-Cution adalah salah satu cara untuk dapat mewujudkan tujuanku. Aku banyak mendengar kabar yang beredar dikalangan prajurit salah satunya tentang kakak ku yang diangkat menjadi salah satu kapten yang memimpin pasukkannya sendiri saat ia baru bergabung selama satu setengah tahun dengan X-Cution, aku merasa bangga memiliki kakak seperti Levi, dengan prestasinya yang luar biasa itu, karna untuk menjabat sebagai Kapten, sejauh yang ku tahu ialah harus memiliki pengalaman bertarung minimal tiga tahun, mampu mengorganisir dan memiliki keahlian tinggi dalam pertempuran. Selain kabar tentang kakaku sebagai kapten, aku banyak mendengar julukkan - julukkan baru yang melekat pada kakak ku, satu diantaranya adalah 'Si Manusia Terkuat yang ada dibumi' terlepas dari berlebihan atau tidaknya julukkan yang melekat pada kakak ku, aku benar - benar bangga mendengarnya.

Di camp pelatihan aku banyak menemui orang – orang dengan karakter yang unik dan motivasi yang aneh untuk bergabung di divisi militer, seperti Jean Contohnya, sebelum bergabung menjadi X-Cution cita – cita nya adalah ingin masuk menjadi polisi militer, dengan alasan ingin dihormati dan dapat melindungi Raja di ibu kota, namun dilihat dari pribadi sehari - harinya itu hanya alasan konyol pria berambut coklat ini saja, ia pasti hanya ingin menjadi seperti para koruptor di kepolisian, hidup aman dengan perut buncit yang selalu terisi makanan enak dan dikelilingi wanita, tapi aku tidak terlalu memperdulikan mereka yang ku anggap hanya sampah – sampah masyarakat belaka, siapapun yang menghalangi ambisiku, akan kubasmi mereka, hanya itu saja yang aku pikirkan.

Kami dilatih selama tiga tahun di camp sebelum akhirnya memutuskan memilih tiga cabang militer yang ada disini, yang pertama adalah Polisi Militer, mereka yang bergabung dengan polisi militer haruslah lulusan dengan peringkat sepuluh besar, dan dalam angkatan ku, aku menempati peringkat pertama, Polisi Militer akan tinggal dan bertugas dikota, menjaga tata tertib kota dan melindungi Raja, yang kedua adalah Assaulter, mereka adalah divisi militer bersenjata yang bertugas menghadapi ancaman dari negara tetangga, tugas mereka menjaga dan menyerang suatu negara sesuai perintah Raja, dan yang terakhir adalah X-Cution, divisi khusus yang diajarkan seni membunuh tingkat tinggi, untuk mengatasi konflik manusia dengan Vampir dan Warewolf, setelah bergabung dan memilih cabang X-Cution kami pun harus kembali mengikuti pelatihan khusus selama enam bulan sebelum diturunkan kemedan perang sesungguhnya, mental kami benar – benar diasah dimana banyak dari rekan – rekan seangkatan ku yang tewas dalam pelatihan X-Cution ini karna salah mengambil tindakan, tidak hanya kecerdasan yang dibutuhkan, daya tahan tubuh serta kemampuan bertahan hidup pun sangat mempengaruhi keselamatan dan keberhasilan dalam menjalani pelatihannya, lebih dari tiga ratus orang memilih cabang ini, dan yang terpilih hanya 110 orang saja, tiga puluh tujuh orang tewas dan sisanya dipulangkan karna gagal diterima di X-Cution.

Bagiku cara ini cukup adil, meskipun kami sudah dilatih selama tiga tahun tapi seluruh latihan yang kami jalani dulu tidak dikuhususkan untuk membunuh, melainkan membentuk disiplin serta kemampuan mempertahankan diri, dan disini kami baru diajarkan cara membunuh yang tak kenal ampun dan tak melibatkan perasaan, kami diharuskan membuang jauh – jauh rasa kemanusiaan kami, mengingat Vampir dan Warewolf pun mampu berubah menjadi bentuk manusia, dan bila kami tidak dapat memenggal kepala seorang manusia, kami tidak layak berada di X-Cution ini, beginilah kerasnya kehidupan..

Dunia yang kejam selalu menuntut mu untuk bertarung demi mempertahankan kehidupan Ras Manusia yang nyaris tergantikan oleh para Vampir dan Warewolf.


"Mikasa Ackerman, Armin Arlert, Coonie Springer, Jean Kirstain , dan Sasha Braus kalian akan ku kirim untuk menjalani misi ke lima kalian yang akan dipimpin oleh Mikasa menuju suatu tempat melewati hutan terlarang yang berada di bagian selatan kota Shigasina, berdasarkan data dari tim pengintai, disana terdapat sebuah Rumah, ini merupakan hal yang mencurigakan, karena harusnya tempat itu kosong tak berpenghuni, medannya melewati hutan yang banyak binatang buas dan dilarang untuk dimasuki, tugas kalian adalah memastikan orang yang tinggal disana adalah manusia, selain daripada itu.. Bunuh mereka"

"SIAP!" Jawab Kami serentak dan menyanggupi misi yang diberikan kepada kami, dan kami bergegas berangkat setelah seluruh persiapan telah matang.

Pagi itu, Aku dan rekan – rekan ku yang lain mulai memacu kuda kearah hutan terlarang di luar kota Shigasina, perjalanan sangat jauh ku rasakan, saat melihat kearah rekan – rekan ku pun mereka terlihat kelelahan, akhirnya setelah berkuda cukup lama kami memutuskan untuk beristirahat disebuah padang rumput yang cukup luas dengan pohon tinggi besar sebagai atapnya, melindungi kami dari sengatan sinar matahari, karena kami tiba saat siang hari.

Aku menyandarkan diri dipohon besar ini dan memejamkan mata, tak lama suara langkah kaki semakin dekat menghampiri ku, kutoleh arah suara tersebut dan menemukan Jean yang kini tengah membungkuk untuk ikut duduk disampingku, orang ini selalu saja mengikuti ku, mengganggu saja.

"Mikasa apa kau lelah? Biar aku pijat kaki mu" Jean yang duduk disampingku menawari jasa yang samasekali tak ku butuhkan

Setelah menghela nafas aku menatapnya dan berkata "Tidak Terimakasih" dengan datar dan tanpa memberikan ekspresi apapun padanya.

"Ya ampun kau seram sekali ya, jangan menatapku seperti itu, wajah cantikmu menjadi sia – sia jika tak dihiasi senyum dibibirmu itu"

Aku kembali memejamkan mata dan menghela nafas "Diam, pergi dan pijat lah Armin sana! Aku rasa ia lebih membutuhkan bantuan mu dibanding aku" Setelah kukatakan itu, meskipun masih memejamkan mata, tapi aku tahu Jean kini bangun dan meninggalkan ku sendirian, entah ekspresi kecewa seperti apa yang menyelimuti wajahnya saat itu, yah tapi itu lebih baik daripada harus terus diganggu olehnya.

Aku menikmati hembusan angin yang menerpaku dibawah pohon ini, aku biarkan rambut hitam panjangku ikut terurai bersama dengan berlalunya angin, aku menatap cerahnya langit biru diatas sana, sekali lagi angin kembali berhembus kencang melewati ku, ini sangat membantu kami terutama di cuaca terik saat ini, meskipun panas, tapi aku tetap tidak melepaskan syal merah yang menggulung dileherku ini, aku merasa seperti ia sedang bersama ku..

"Mikasa!" Suara Armin menyadarkan lamunan ku dan menoleh kearahnya.

Aku melihat surai kuningnya yang berantakan diterpa angin "Armin? Ada apa?" tanyaku sambil melambai kecil padanya, dengan maksud mengajaknya duduk disampingku.

Armin berjalan menghampiri, kemudian duduk disamping ku "Apa kau tidak merasa kegerahan memakai syal itu ditengah terik matahari seperti ini?" tanya nya seolah aku ini orang yang aneh ditengah terik matahari disaat orang – orang merasa kepanasan, aku malah memakai syal yang sewajarnya dipakai saat cuaca dingin.

Aku hanya tersenyum, memegang syal dengan tangan kananku kemudian mengangkatnya sebatas hidung, sehingga menutupi mulut dan hidungku "Tidak, ini adalah pemberiannya waktu itu, satu satunya yang masih tersisa, setelah jaket yang orang itu berikan dibawa oleh kakakku, aku selalu memakai syal ini" seketika aku teringat akan masa kecil yang menyakitkan, namun ku alihkan pandanganku kembali menatap langit biru untuk menyembunyikan gumpalan air yang kurasa sudah mengisi mata ku.

Aku mendengar Armin menghela nafas dan tiba – tiba ia berkata "Maaf kan aku Mikasa, aku tidak bermaksud mengungkit kenangan yang menyakitkan" Seolah ia tahu kalau aku teringat kejadian pembantaian orang tua ku, ia meminta maaf dengan suara yang bergetar dan gugup.

Ya begitulah Armin, kurasa meskipun aku pandai menyembunyikan ekspresi wajahku, namun itu semua tidak berlaku dihadapan pria yang satu ini, meskipun ia tidak terlalu kuat dalam hal fisik namun kecerdasan otaknya sangat menakjubkan, ialah satu – satunya orang yang ku percaya untuk berbagi cerita bersama, karena ia mampu membaca suasana hatiku yang orang – orang dan bahkan kakak ku sendiri pun tidak pernah tau persis apa yang aku rasakan.

"Tak apa Armin, Aku senang kau ada disini, menjadi teman yang selalu mendengar keluh kesah ku"

Hembusan angin kembali menerpa, menemani nuansa hening yang baru saja terjadi diantara aku dan Armin.

Armin merupakan salah satu ahli strategi kami di X-Cution, aku percaya suatu saat nanti ia akan memimpin kami semua sebagai komandan menggantikan Erwin Smith atau menjadi penerus Hanji Zoe apabila ia sudah pensiun atau mungkin gugur dalam pertempuran, sejauh ini berdasarkan pengamatanku kandidat yang cocok menggantikan posisi Komandan Erwin hanyalah dua orang, yang pertama dan yang paling pantas ialah Hanji Zoe, salah seorang kapten seperti kakak ku, ia seorang peneliti yang sangat senang meneliti tubuh Vampir dan Warewolf, meskipun ia wanita kemampuan bertarungnya tidak bisa dipandang sebelah mata, ia cukup terampil dalam pertarungan juga penyusunan strategi, pengalamannya sudah cukup banyak untuk membuatnya memegang tonggak kepemimpinan, maka bukan hal berlebihan bila dikatakan ia adalah penerus Komandan Erwin.

Yang kedua Armin Arlert, Pria cerdas ini lemah dalam aktifitas fisik, namun terampil dalam menggunakan alat bermanuver 3DMG dan cukup bisa diandalkan saat pertarungan, meskipun tidak terlalu menonjol, aku rasa ia hanya butuh pengalaman lebih untuk mengasah kemampuannya dan kelak mampu bersaing dengan kapten Hanji.

Sekilas aku melihat Armin melirik kearah ku dan aku tahu pasti ia akan bertanya sesuatu, terlihat dari ekspresi wajahnya yang seperti ingin mengetahui sesuatu dariku "Eren itu.. Seperti apa Eren yang kau ceritakan itu Mikasa?"

"Engh? Darimana kau tahu nama itu Armin?"

TBC


Part 3 masih dari sudut pandang Mikasa

Fa - san : oke dilanjut

hammadya : bukan twilight ko, beda jalan ceritanya, oke dilanjut. Sankyu..