My Fox Devil

Desclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Rated: T (Akan tetap T)

Warning: bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo, abal, amatir, mainstream


.

.

Check it Out!

.

.


Dengan lesu, Hinata berjalan menuju salah satu untuk mengantarkan pesanan. Karena tidak berkonsentrasi, tidak sengaja dia memumpahkan pesanan ke salah satu pelanggan. "Gomennasai Tuan, saya benar-benar tidak sengaja," ucap Hinata menyesal sambil menundukkan badannya. Andaikan Namikaze kuning itu tidak terus bersarang di kepalanya dia tidak akan melakukan hal ceroboh seperti ini. "Saya benar-benar minta maaf," ulangnya sekali lagi.

"Apa-apa kau ini!" teriak orang itu marah. "Pelayan rendahan sepertimu berani-beraninya membuat baju mahalku menjadi kotor!" ucapnya nyalang. Orang itu terlihat benar-benar marah karena baju kesayangannya menjadi kotor.

Hinata menegakkan tubuhnya dan melihat pemuda yang telah ditabraknya. Hinata berdecih dalam hati, pemuda dihadapannya adalah pemuda kaya dengan sifat angkuh, seperti yang kebanyakan dikenalnya. Padahal dia hanya menumpahkan snack-snack ringan dan apabila mengenai baju mungkin hanya akan meninggalkan sedikit noda, apalagi baju yang dipakai pemuda itu berwarna hitam jadi bila dibersihkan sedikit pasti nodanya tidak akan terlihat atau malah tidak berbekas sama sekali. "Saya minta maaf Tuan. Kalau Tuan mau, saya akan segera melaudry baju Tuan. Tuan hanya perlu menunggunya sekitar tiga puluh menit. Dan untuk sementara Tuan dapat memakai baju yang kami sediakan." Hinata mencoba menawarkan solusi kepada Tuan yang suka membesar-besarkan masalah di depannya.

Pemuda itu sejenak tersenyum menyerigai ketika melihat wajah Hinata. "Kalau dilihat kau manis juga." Pemuda itu mengangkat tangannya untuk menyetuh dagu Hinata.

Tapi sebelum sampai ke dagu Hinata, sebuah tangan mungil langsung menahannya. "Maaf," ucap Hinata dengan suara datar, berbeda dengan suara yang dipakainya sebelumnya. Hinata menepis pelan tangan pemuda itu dan menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam.

"Ck! Sok jual mahal," ujar pemuda itu dengan nada meremehkan. Pemuda berambut merah yang bernama Akasuna Sasori itu mengeluarkan dompet dari sakunya. "Kau butuh berapa untuk melayaniku malam ini, Nona?" Sasori mengeluarkan puluhan lembar uang dari dompetnya dan melemparkannya begitu saja ke wajah Hinata. "Apa itu cukup?!" ucapnya dengan nada tinggi.

Hinata menatap datar uang-uang itu. Kemudian dia berjongkok dan mengambil satu persatu uang yang dilemparkan Sasori. Sebenarnya Hinata mengenal Sasori sebagai salah satu senpainya di KHS, tapi sepertinya Sasori sama sekali tidak mengenal Hinata.

Sasori tertawa mengejek ketika melihat Hinata yang sudah selesai mengumpulkan uang yang dilemparnya dan sekarang sedang menghitung uang tersebut. Ternyata pelayan sok jual mahal itu sama seperti perempuan rendahan lainnya, pikirnya.

"Ah." Hinata berseru pelan ketika selesai menghitung, ternyata uang yang dipegangnya cukup banyak, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama satu bulan. "Apa hanya ini yang bisa Tuan berikan kepada saya?"

Sasori mengernyit tak paham atas apa yang dikatakan gadis bermata amethyst di depannya

"Saya tidak akan mau melayani Tuan. Uang yang anda berikan ini sangat sedikit, saya tidak mau." Hinata mengambil tangan Sasori dan meletakkan uang itu di atasnya. "Sebaiknya Tuan menyewa perempuan lain. Dan maaf, jangan membuang uang seperti itu, anda membuat lantai kami menjadi kotor, Tuan." Hinata tersenyum tipis, tapi Sasori tahu kalau Hinata tengah mengejeknya.

Sasori geram, baru kali ini dia menemui gadis seperti Hinata yang berani menginjak-injak harga dirinya di depan umum. Sasori mengepalkan tangannya dan bersiap melayangkan pukulannya ke wajah Hinata, sebelum tangan seputih porselen kembali menghalanginya.

Hinata yang tahu apa yang akan dilakukan Sasori segera menangkap tangan Sasori dan memelintirnya ke belakang, mengunci tubuh Sasori. "A… kupikir Tuan terhormat seperti anda, tahu bahwa tindakan memukul perempuan adalah tindakan pengecut." Hinata semakin menarik kuat tangan Sasori, hingga pemuda berambut merah itu merintih kesakitan. Hinata sudah sering mendapatkan perlakuan seperti ini, tapi menurutnya perlakuan Sasori yang paling keterlaluan hingga dia tidak ragu-ragu mengeluarkan kemampuannya dalam bela diri yang sudah dilatihnya sejak kecil.

Sasori merasakan nyeri pada bagian bahu dan tangannya akibat ulah Hinata. Seharusnya dia tidak meremehkan kekuatan gadis berambut indigo itu. "Lepaskan!" teriak Sasori sambil menggerak-gerakkan badannya supaya bisa terlepas dari kuncian Hinata.

Hinata melepaskan tangan Sasori. Dia tersenyum dalam hati ketika melihat wajah Sasori yang memerah karena marah. "Maafkan saya, Tuan. Tapi kalau saja sikap Tuan lebih sopan, saja juga tidak akan menyakiti Tuan seperti itu." Hinata membungkukkan badannya. "Saya permisi. Sekali lagi, maafkan saya atas tindakan tidak menyenangkan tadi." Hinata segera membereskan makanan yang tadi sempat terjatuh, kemudian lekas pergi dari hadapan Sasori.

"Argh! Sial!" umpat Sasori kesal sambil meremas rambutnya frustasi. Kemudian dia memukul meja disampingnya dengan keras, saking marahnya. "Aku ku buat perhitungan denganmu, nona!"


Hinata memadang dengan bosan para gadis yang sedang berkumpul dan menjerit histeris ketika sekumpulan siswa popular berjalan melewati mereka. Paling depan ada Sang Namikaze angkuh, Namikaze Naruto kemudian Uchiha Sasuke, disusul Sabaku Gaara dan Inuzuka Kiba, dan barisan terakhir ada si pemalas Nara Shikamaru dan Namikaze lainnya, Namikaze Menma yang sejak tadi berjalan sambil membaca komiknya. Namikaze Menma memang sedikit berbeda dari sang kakak kembarnya. Menma lebih acuh, dan kalem. Dia tidak suka keramaian, maka dari itu dia jarang berkumpul bersama-sama teman-temannya dan lebih memilih menyibukan dirinya sendiri.

"Kyaaa… Naruto-sama."

"Prince cool, Sasuke-sama."

"Kyaa… Kyaa…"

Siswi-siswi tersebut menyebutkan nama Naruto dan teman-temannya masing-masing beserta julukannya dengan teriakan histerisnya. Sedangkan pemuda-pemuda yang diteriaki, hanya dua dari mereka yaitu Namikaze Naruto dan Inuzuka Kiba yang menanggapi dan memberikan senyum kepada siswi-siswi tersebut.

Senyuman itu. Hinata sangat muak dengan senyuman palsu yang diberikan pemuda berambut blonde itu. Apalagi dengan wajah tan-nya yang seakan memasang muka malaikat, Hinata seakan bisa muntah kapan saja apabila melihatnya. Hinata harus segera pergi dari sini sebelum dia benar-benar memuntahkan semua makanan paginya.

Sedangkan di sisi lain, Naruto tersenyum tipis melihat 'mainan' barunya yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini. Saatnya bermain dengan peliharaan barunya, pikirnya. "Kalian bisa pergi terlebih dahulu. Aku ada urusan," katanya kepada teman-temannya.

Sasuke dan lainnya tidak terlalu memperdulikan kepergian Naruto dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke tempat biasa mereka berkumpul.

"Hyuuga!" Naruto memanggil Hinata ketika dilihatnya Hinata yang tengah berbalik dan akan berjalan menuju kelasnya.

Terlambat, runtuk Hinata dalam hati ketika dia terlambat pergi dari situ sebelum Naruto mengetahui keberadaannya. Impian Hinata untuk setidaknya lebih lama beberapa jam lagi meladeni sang iblis Namikaze sudah musnah. Hinata sebenarnya hanya ingin menikmati paginya hari ini dan pagi-pagi selanjutnya dengan tenang, tapi sebertinya itu hanya mimpi yang sulit sekali diwujudkan ketika dia dihadapkan dengan Naruto.

"A… peliharaan, sepertinya kau terlihat senang ketika majikanmu sudah datang menjemputmu bukan?" Naruto melipat tangannya di depan dada dan mulai memasang wajah iblisnya.

"Dalam mimpimu Namikaze!" Hinata mencoba bersikap tenang, ini baru permulaan baginya. Kalau dia sudah kalah di awal, iblis seperti Naruto akan semakin menjadi, melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan kemauannya sendiri kepadanya.

"Sepertinya aku mempunyai peliharaan yang galak. Mungkin perlu beberapa tindakan untuk menjinakkannya." Naruto berjalan mendekat ke arah Hinata dan dengan sekali gerakan, dia sudah berhasil menarik rambut Hinata seperti yang dilakukannya kemarin.

Hinata mengaduh pelan, terkejut ketika Naruto menarik rambutnya dengan tiba-tiba. Sekarang dia tahu kalau dia harus memasang mode siaga ketika berdekatan dengan Naruto. "Apa yang kau lakukan Namikaze!" umpatnya marah.

"Ah… aku tak punya tali untuk memastikan peliharaanku tidak akan lari ketika dia berjalan mengikuti. Dan rambut panjangmu itu alternative yang tepat bukan." Naruto tertawa. "Tak ku sangka aku begitu pintar memanfaatkan keadaan," pujinya kepada dirinya sendiri.

"Idiot!" Dengan menggunakan kedua tangannya, Hinata mencoba melepaskan genggaman Naruto dari surainya. Tapi nihil, genggaman Naruto semakin menguat dan makin membuat kepalanya semakin nyeri. "Lepaskan iblis brengsek!"

"Tak kusangka kau cerewet juga mata putih." Naruto menguap bosan. "Sepertinya kita harus segera menuju ke tempat teman-temanku. Aku tidak ingin mereka menunggu terlalu lama, si Teme pasti akan marah."


"Yo Naruto," sapa Kiba ketika melihat Naruto datang menghampiri mereka. Orang-orang lainnya yang berada di meja itu kecuali Shikamaru yang entah sejak kapan sudah tertidur hanya mengalihkan pandangan mereka masing-masing dari objek yang dipandangnya sebelumnya ke arah Naruto tanpa berkomentar sedikitpun.

Sedangkan Naruto membalas sapaan Kiba seperlunya dan segera duduk di samping Sasuke. "Cepat sekali si rusa pemalas itu tertidur," komentarnya sambil melihat Shikamaru yang berada di samping Menma.

"Kau dari mana?" tanya Sasuke singkat, dengan nada datarnya.

"Menjemput seseorang." Naruto menyeruput mimuman kesukaannya yang pasti sudah di pesankan oleh Menma.

"Ah! Kau yang waktu di bar itu kan?" seru Kiba sambil menunjuk Hinata yang tengah merapikan rambutnya yang berantakan akibat sulung Namikaze.

Hinata tidak menjawab, karena menurutnya Kiba sendiri sudah tahu jawabannya.

"Dia siapa Nii-san?" tanya Menma yang baru pertama kali melihat Hinata, karena di jarang sekali ikut pergi bersama teman-temannya dan otomatis dia tidak tahu sama sekali tentang kejadian di bar.

"Peliharaan baruku," ucap Naruto santai.

"Sepertinya yang Nii-san maksud adalah teman baruku. Kau salah menggunakan kata, Nii-san," tegur Menma.

Naruto hanya berdecih sebal mendengar kata-kata adiknya.

Menma melihat ke arah Hinata. "Kau bisa duduk di sini," ucapnya sambil sedikit menggeser tempat duduknya agar muat untuk diduduki Hinata.

Hinata hanya diam dan menghampiri Menma, selanjutnya dia duduk di tempat yang disediakan Menma. "Arigatou gozaimasu," ucap Hinata kepada Menma sambil tersenyum. Setidaknya masih ada orang yang baik diantara mereka berenam dan sifat bungsu Namikaze ini berbeda jauh dari iblis Namikaze, pikir Hinata.

"Aku Namikaze Menma." Menma mulai mengenalkan dirinya. "Yang tidur, Nara Shikamaru. Rambut merah, Sabaku Gaara. Di samping Naruto-nii, Uchiha Sasuke. Dan itu yang mirip anjing namanya Inuzuka Kiba." Menma menunjuk satu-persatu temannya.

"Wooft," sahut Kiba dengan gaya seperti anjing yang senang karena dipanggil tuannya. Kiba menjulurkan lidahnya dengan kedua tangannya yang dibuat seperti anjing yang tengah berdiri.

Hinata terkikik pelan melihat wajah menggemaskan Kiba. "Kau lucu sekali Kiba-san."

"Jadi, siapa namamu?" tanya Menma.

"Sadako! Kau bisa memanggilnya Sadako, Menma," sahut Naruto tiba-tiba. Ada nada kesal dan tidak suka di sana. Naruto menatap ke arah Hinata dan Menma dengan tatapan tajam.

Menma tertawa kecil, seakan tidak tahu kalau Naruto benar-benar tidak sedang bercanda. "Jangan dimasukkan ke hati, Nii-sanku memang begitu," ucap Menma kepada Hinata

Hinata mengangguk kecil dan tidak memperdulikan tatapan tajam Naruto yang ditujukan kepadanya. "Watashi Hyuuga Hinata desu." Hinata memperkenalkan diri dan membungkukkan sedikit badannya. "Seharusnya kau tidak perlu mengenalkan mereka semua, Menma-san. Aku sudah mengenal kalian semua."

Menma tersenyum senang. "Apakah Nii-san yang memberitahumu?"

"Tidak," jawab Naruto kesal. "Bisakah kalian berhenti bicara! Hyuuga, ambilkan aku makanan, aku tidak menyuruhmu untuk duduk-duduk di sini dan mengobrol dengan adikku!" hardik Naruto.

Hinata bangkit dari tempat duduknya dengan wajah masam. Menghela nafas panjang, kemudian Hinata bergegas untuk melakukan perintah Naruto.

Menma menatap punggung kecil Hinata yang semakin menjauh. "Jangan terlalu keras kepadanya Nii-san," ucap Menma pelan kemudian dia kembali membuka komiknya dan membacanya, seperti sebelum kedatangan Naruto dan Hinata.

"Ini tidak ada hubungannya denganmu! Dia milikku Menma. Aku bisa melakukan apa saja kepadanya!" Naruto memberikan tatapan tajam kepada Menma. "Dan jangan sekali-kali mencampuri urusanku!"

"Hei, tenanglah Naruto," ucap Kiba mencoba menenangkan Naruto. Kiba tahu kalau Naruto sedang dalam mode buruknya, dia tidak mau terjadi pertengkaran antara dua saudara itu.

"Aku sepertinya harus mencari tempat lain untuk menamatkan bacaanku." Menma bangkit dari duduknya. Tanpa melepaskan pandangannya dari komik yang dibacanya, dia berjalan meninggalkan Naruto dan teman-temannya. "Jaa Minna," ucapnya dengan mengangkat tangannya.

Naruto melihat Menma yang sudah menjauh sambil mengepalkan tangannya kuat, menyebabkan otot di tangannya terlihat jelas.

"Sepertinya kau mendapatkan mainan baru eh Dobe," ucap Sasuke pelan sambil memasang serigai. "Kalau kau sudah bosan, kau bisa menyerahkannya kepadaku."

Naruto memberikan tatapan membunuhnya untuk Sasuke.

Sedangkan Gaara yang melihat teman kuningnya, hanya bisa memutar mata bosannya, dia sama sekali tidak berminat untuk mencampuri urusan mereka.

Tak lama kemudian Hinata datang membawakan seporsi makanan yang diminta oleh Naruto. Dian mengernyit heran ketika mendapati aura yang tidak mengenakan diantara mereka, berbeda sebelum dia meninggalkan mereka beberapa saat lalu. 'Ada apa?' batin bingung. 'Kemana Menma-san?'

Hinata berjalan menuju meja Naruto, hendak meletakkan makanan. Tapi sedetik setelah piring yang dibawanya mendarat di meja, Naruto tiba-tiba menepisnya dengan kasar sehingga isinya tupah semua.

"Ada apa denganmu Namikaze!" Hinata memekik marah. Dia sudah susah-susah membelikan makanan itu tadi, tapi dengan seenaknya Naruto membuang makanan itu.

"Argh!" teriak Naruto kesal sambil menjambak rambutnya.


.

.

To be continue…

.

.


.buat chapter yang pertama maaf, masih banyak typo sana-sini, lalu sewaktu mau aku ganti tiba-tiba akunnya error, jadi saya malu banget…

.Thanks buat yang udah baca, favorite, follow, apalagi yang udah mau review… saya cuma bisa bilang "Arigatou gozaimasu" buat yang bersedia review. Jujur saja reviewnya bikin saya speechless, gak nyangka bisa sebanyak itu. Maaf gak bisa bales satu persatu, tapi beneran setiap review baru saya suka senyum-senyum gaje. Moga aja yang review kagak kapok buat beri reviewnya tiap chapternya…


Akankah jadi rated M?

Kemungkinan sampai akhir ratednya akan tetap T, jadi maaf udah buat kecewa yang pengen fanficnya jadi Rated M

Pernah baca alur dan fanfic semacam ini?

Ide saya emang mainstream, pasaran. Tapi saya juga gak niat buat fanfic kayak yang orang lain udah buat. Jadi setelah baca chapter 2, dan masih ada yang mikir fanfic saya mirip fanfic lainnya, bisa protes ke saya.

Kenapa Naruto kejam banget sama Hinata? Alasan? Naruto suka sama Hinata? Naruto ngincer Hinata? Dan pertanyaan sejenisnya

Nanti akan terjawab di chapter-chapter selanjutnya. Tapi yang perlu diingat pairingnya NaruHina, jadi woles aja.

Chapter/ceritanya jangan dibuat panjang-panjang, nanti bosen?

Belum bisa dipastikan. Tapi kalau nanti udah ngebosenin, bisa berhenti baca fanfic saya. Atau kalau bisa ngingetin saya


.Dan yang terakhir, Reviewnya please….