.

.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.


My Fox Devil

Desclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Rated: T

Warning: bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, Hinata-centric, flat, DLL


.

.

Check it Out!

.

.


Naruto menyerahkan beberapa tumpuk buku kepada gadis dihadapannya. "Kau yang mengerjakan semua tugasku!" perintahnya dengan santai.

"Hei!" Hinata berseru tidak terima. "Bukankah kau hanya bisa menyuruhku ketika kita berada di lingkungan sekolah saja?"

"Tidak. Aku bisa melakukan apapun dan kapanpun terhadapmu, Hyuuga." Naruto menampakkan senyum angkuhnya kepada Hinata. "Kau ingat kan? Kartu AS mu ada padaku?"

"T-tapi… Kau tidak bisa menyuruhku mengerjakan semua tugasmu itu Namikaze," protes Hinata. "Aku juga mempunyai banyak tugas yang harus ku kerjakan, Namikaze. Bahkan aku tidak yakin kalau aku bisa mengerjakan semua tugasku. Dan ditambah lagi tugasmu, aku…"

"Itu bukan urusanku," sahut Naruto yang sengaja memotong ucapan Hinata. "Aku tidak menerima penolakan Hyuuga!" Naruto akan bergegas pergi dari Hinata sebelum tangan kurus menahannya.

"Dengarkan aku, Namikaze!" ucap Hinata setengah memohon. "Aku benar-benar tidak bisa." Kegiatan Hinata memang terlalu padat dengan sejumlah kerja sambilannya. Setelah pulang sekolah, pada pukul 2, dia akan langsung bekerja menjaga mini market sampai pukul 7 malam. Setelah itu pada pukul 8 sampai 2 pagi dia akan menjadi pelayan di bar. Itu artinya dia hanya punya waktu untuk mengerjakan semua tugasnya dan belajar setelah semua pekerjaannya selesai.

Naruto berdecih. "Sudah ku bilang, itu urusanmu Hyuuga. Atau kau mau Tou-sanmu tersayang itu dikeluarkan secara tidak hormat dari Namikaze corp, hah?"

"Jangan!" seru Hinata cepat. "Baik. Baiklah, aku akan mengerjakan semua tugasmu. Tapi jangan bawa-bawa Tou-san dalam urusan kita." Hinata memang tidak bisa melakukan apapun kalau sudah menyangkut tentang Tou-sannya.

"Anak pintar." Naruto tersenyum dan memukul-pukul pelan kepala Hinata seperti seorang tuan yang sedang memberikan pujian kepada hewan peliharaannya. "Aku harus pergi sekarang. Dan pastikan kau mengerjakan tugasku dengan baik!"

Hinata menatap kesal punggung Naruto. "Dasar, iblis kuning brengsek!"


Waktu istirahat dihabikan oleh Hinata dengan mengerjakan tugas Naruto yang menumpuk. "Argh! Sial!" Hinata mengacak-acak rambutnya frustasi. "Kenapa sulit sekali!" gumamnya kesal karena dari tadi dia hanya bisa menggerjakan dua dari seratus soal yang ditanyakan. Hinata memang sedikit kesulitan dalam pelajaran menghitung menggunakan rumus yang rumit seperti pelajaran Fisika, dia kurang bisa membedakan antara menerapkan rumus satu dan lainnya.

Kryuuukkk!

"Hei. Kenapa kau juga tidak bisa mengerti aku?" tanya Hinata kepada perutnya yang sudah berbunyi. Hinata memutuskan untuk menutup buku-bukunya dan mengambil bekal yang sudah disediakan rumah. Ketika dia baru saja akan menggunakan sumpitnya, tiba-tiba seseorang merampas paksa kotak bekalnya.

"Hei!" seru Hinata spontan. "Kau lagi!" Hinata menatap nyalang kepada orang yang sedang tersenyum meremehkan sambil menenteng kotak bekalnya. "Kembalikan Namikaze! Aku lapar."

"Kau membawa bekal berapa heh?" tanya Naruto, matanya menjelajahi isi dalam kotak bekal Hinata yang di dalamnya terdapat ramen dengan beberapa sayuran yang dipotong kecil-kecil, tetapi tidak ada lauk sama sekali karena hari ini Hinata bangun kesiangan dan tidak sempat menyiapkannya.

"Apa maksudmu?"

"Kau tidak membuatkan satu untukku heh?" ketika Hinata lengah, Naruto mengambil sumpit yang masih berada di tangan Hinata. Setelah mendapatkan sumpit, Naruto segera melahap ramen buatan Hinata. "Kalau begitu, ini milikku," ucap Naruto enteng dan segera duduk di salah satu kursi untuk memakan bekal Hinata.

"Kembalikan Namikaze," ucap Hinata sedikit merengek.

Kryuuuukkk!

Perut Hinata kembali berbunyi. Hinata memegangi perutnya yang terasa perih karena sudah tidak terisi dari tadi pagi.

"Kau bisa membeli makanan di kantin kalau kau mau," usul Naruto.

"Tidak. Aku tidak mau," tolak Hinata. Dia sengaja membawa bekal sendiri untuk menghemat uangnya. Dan kalau sekarang dia membeli makanan di kantin menggunakan uangnya sendiri itu berarti Hinata akan rugi dua kali. "Hei, siapa yang menyuruhmu menghabiskannya?!" tanya Hinata ketika menengok kotak bekalnya yang sekarang tinggal setengah.

"Nii-san," panggil Menma yang berada di depan pintu kelas Hinata dan Naruto. Menma melihat ke arah Naruto yang duduk tidak jauh dari tempat Hinata berdiri. "A… aku baru saja akan mengajakmu untuk makan siang, ternyata kau sudah makan terlebih dahulu," ucapnya kecewa.

"Kau seharusnya harus menegur 'Nii-san'mu ini Menma-san," ujar Hinata dengan menekankan kata Nii-san. "Dia dengan seenaknya mengambil bekal punyaku. Padahal aku sangat lapar," adu Hinata sambil memasang muka cemberut.

"Begitukah? Bagaimana kalau kau ku traktir makan? Hitung-hitung sebagai pengganti bekalmu yang dimakan Naruto-nii," tawar Namikaze berambut hitam itu.

"Benarkah?" tanya Hinata senang. Hinata menghampiri Menma yangdari tadi masih berada di depan pintu kelas. "Kalau begitu ayo! Aku lapar sekali," ajaknya bersemangat, tanpa tahu sepasang bola mata shappire tengah menatapnya marah.


"Doumo arigatou gozaimasu, Menma-san. Kau benar-benar baik, tidak seperti si rubah kuning jelek," ucap Hinata sambil membersihkan mulutnya, setelah selesai makan.

"Dou itashimashite, Hinata." Menma tersenyum menanggapi Hinata. "Kita kan teman?"

"Te... man?" tanya Hinata ragu. Baru kali ini ada yang menganggapnya teman setelah sekian lama dia tidak mempunyai teman seorang pun. Hinata tersenyum tulus kepada Menma. "Ah ya, tentu. Kita berteman," ucapnya gembira.

"Kalau begitu, bisakah kau jangan memanggilku Menma saja? Tidak pakai -san?"

"Men-ma? Oke baiklah, Menma." Hinata berucap senang, ada perasaan membuncah ketika menyebutkan kata Menma, tidak seperti ketika dia memanggil Menma dengan sebutan Menma-san. 'Ini berbeda', pikirnya. 'Aku benar-benar mempunyai seorang teman sekarang,' girangnya dalam hati.

Tapi sepertinya kegembiraan Hinata hanya bertahan sebentar saja, sebelum seseorang menyiraminya dengan nasi bekal yang sudah susah payah dibuatnya.

"N-nii-san," gumam Menma kaget ketika melihat keadaan Hinata yang rambutnya dipenuhi mie.

"Namikaze!" teriak Hinata keras. "Apa yang kau lakukan, brengsek!" Hinata mengamuk. Dia tidak bisa terima kalau sang Namikaze sulung itu dengan seenaknya membuang-buang makanan yang sudah susah payah dibuatnya. Tangan Hinata mengepal kuat, sampai menyebabkan buku-buku jarinya memucat.

Menma yang berada di samping Hinata langsung saja mencoba membersihkan mie-mie yang berada di atas kepala Hinata.

Sedangkan Naruto hanya menatap Hinata dengan wajah datar dan dinginnya.

Seluruh isi kantin mengalihkan pandangannya ke arah kembar Namikaze dan Hinata. Tontonan Namikaze sulung sedang mengamuk adalah hal langka, karena Namikaze berambut pirang itu lebih sering memamerkan cengiran khasnya kepada mereka, khususnya para siswi. Mereka bertanya-tanya apa yang dilakukan Hinata sampai menyebabkan Naruto terlihat sangat murka.

"Kenapa kau seenaknya membuang makananku? Kau sendiri tadi yang merebutnya dariku. Kenapa kau sekarang membuangnya. Aku tidak tahu apakah kau mempunyai otak atau tidak. Kau gila, Namikaze!" seru Hinata lantang.

"Kupikir makanan sampah itu pantas mendarat di kepala seseorang yang seperti sampah." Naruto mengatakan itu dengan mudahnya. Naruto menyengkram erat rahang bawah Hinata yang menyebabkan Hinata mendongak menatapnya. "Dan berhenti berimajinasi! Aku tidak pernah merebut makanan sampahmu itu!"

Wajah Hinata semakin memerah saking kesalnya. Tangan Hinata sudah terangkat untuk segera menampar wajah tampan Naruto, tetapi tangan kekar menahannya.

"Men… ma?" Hinata terkejut ketika mendapati Menma yang tengah memegangi tangannya. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Hinata memberontak, mencoba menghentak-hentakkan tangannya dengan kasar.

"Tenanglah Hinata," suruh Menma lembut, tetapi tangannya masih dengan kuat menahan tangan Hinata agar tidak melukai kakak kembarnya.

"Biarkan aku memberi pelajaran pada iblis itu!" Hinata yang sangat tidak terima dengan ucapan Naruto mencoba melepaskan tangan Menma yang masih terus memeganginya.

Dengan terpaksa, akhirnya Menma menarik paksa Hinata keluar menjauh dari kerumunan siswa-siswi ─yang melihat mereka─ yang mulai memadat. Tak jarang siswi-siswi berbisik-bisik mengatakan kalau Hinata adalah gadis gila yang berani sekali berteriak-teriak kepada sang bungsu Namikaze.

"Hentikan Hinata," ucap Menma karena walaupun mereka sudah cukup jauh dari tempat Naruto tetapi Hinata belum juga berhenti berontak dan mengumpat kesal.

"Ada apa denganmu! Aku hanya ingin memberikan dia pelajaran." Hinata terus meracau. "Lepaskan aku Menma! Si brengsek itu…." Ucapan Hinata berhenti ketika dia merasakan Menma mendekapnya dengan erat.

"Tenanglah." Menma berucap pelan dan lembut. Kedua tangan Menma mengkurung tubuh munggil Hinata. Sesekali tangannya mengusap lembut punggung Hinata, agar Hinata merasa tenang. Menma menarik Hinata untuk menjauh dari Naruto bukan tanpa alasan, dia tidak mau Naruto semakin mempermalukan Hinata di depan umum. Dan besar kemungkinan kalau Hinata terus melawan Naruto, Naruto akan melakukan hal lebih buruk kepada Hinata.

"Menma?" gumam Hinata pelan setelah dia tadi sempat syok dengan apa yang dilakukan Hinata. Hinata mengakui kalau pelukan Menma membuatnya lebih tenang. Entah kapan terakhir, dia mendapatkan pelukan yang terasa sangat nyaman seperti itu. Dengan perlahan Hinata mulai membalas pelukan Menma.

"Maafkan Nii-san, Hinata. Dia sama sekali tidak bermaksud menyakitimu."

Hinata terdiam mendengar gumaman Menma. Sebenarnya dia sama sekali tidak mengerti ucapan Menma. Bagaimana dia berkata kalau rubah kuning itu tidak akan menyakitinya? Padahal dengan jelas sekali Naruto berulang kali melakukan hal yang segaja menyakiti Hinata dan harga dirinya. Hinata yakin kalau Menma bukanlah orang yang suka membual dengan mengatakan hal seperti itu dan Hinata yakin kalau ada sesuatu dibalik ucapan Menma. "Menma?" panggil Hinata setelah melepaskan pelukannya dari Menma.

"Kau sudah tenang?"

"Ya. Arigatou!" ucap Hinata berterima kasih. "Em… Menma, sebenarnya ucapanmu tadi…"

"Kau harus segera berganti baju dan membersihkan dirimu," sela Menma. "Aku akan membelikanmu seragam baru. Tunggu di sini," suruh Menma dan kemudian dia pergi meninggalkan Hinata.

Hinata mengernyit heran melihat tingkah laku Menma. Menma seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi apa itu? Bukankah mereka baru kemarin berkenalan dan beberapa menit lalu resmi berteman.


"Tsk! Gara-gara iblis rubah itu, penampilanku jadi seperti orang gila yang baru bangun tidur dari tempat sampah," gerutu Hinata di depan kaca toilet sambil menciumi rambutnya yang sekarang berbau kaldu ramen. Hampir seluruh seragam atasnya juga kotor karena kuah ramen.

"Lihat siapa yang kita temui," ucap seorang gadis berambut merah dan menggunakan kaca mata kepada kedua temannya.

"Sepertinya kita bertemu Hyuuga miskin itu, Karin," sahut salah satu dari dua temannya yang juga mempunyai rambut merah yang sedikit lebih pucat.

Hinata menengok kepada tiga siswi yang tiba-tiba datang menghampirinya, yang sama sekali tidak ramah. Ketiga siswi itu sama-sama mempunyai rambut merah. Siswi-siswi tersebut adalah Karin, Tayuya dan Sara.

Hinata menatap bosan ke arah mereka. Kemudian dia segera kembali membersihkan rambutnya yang masih berantakan, menghiraukan ketiga siswi itu yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.

"Hei, Hyuuga yang berani sekali kau berteriak kepada Naruto-sama!" ucap Sara mendorong pelan kepala Hinata dengan menggunakan telunjuknya.

Hinata masih diam dan mengacuhkan mereka.

"Kami sedang berbicara denganmu Hyuuga," ucap Tayuya geram karena dari tadi Hinata menganggap mereka hanya sekumpulan burung yang berkicau sendiri.

Tiba-tiba Karin menjambak rambut Hinata karena kesal dengan kelakuan Hinata. "Hyuuga!" teriaknya marah di dekat telinga Hinata. "Kau tidak tahu siapa kami hah?"

Hinata tersenyum miring. Tangannya bergerak untuk melepaskan tangan Karin dari rambutnya. "Bisa tolong lepaskan rambutku, senpai!" pinta Hinata halus.

"Tidak akan semudah itu Hyuuga!" kata Karin. Tangannya yang satu lagi juga bergerak untuk menjambak rambut Hinata. "Hyuuga jelek sepertimu, berani sekali menantang kami dan Naruto-sama hah?"

"Naruto-sama?" tanya Hinata sambil mengernyit. "Ah, maksud senpai, iblis rubah itu?"

Plak!

Sara yang mendengar ucapan Hinata langsung menampar pipi Hinata dengan keras. "Beraninya kau menyebut Naruto-sama seperti itu hah?!"

Karin yang tangannya masih bertahan memegangirambut Hinata, memberi kode kepada Tayuya. Tayuya mengangguk mengerti, kemudian dia berjalan untuk mengambil air dan menyiramkannya ke tubuh Hinata.

"Kau pantas merasakannya Hyuuga!" Karin bersama teman-temannya tertawa dengan penuh rasa kemenangan. Mereka melihat Hinata yang terus menunduk dari tadi. "Kurasa dia sudah mendapatkan pelajaran dari apa yang dilakukannya. Sebaiknya kita pergi dari sini," ucap Karin kepada teman-temannya.

"Tunggu senpai-senpai!" ucap Hinata pada akhirnya. Kepalanya mendongak. Karin dan teman-temannya dapat melihat Hinata dalam versi yang lain daripada tadi. Mata Hinata menatapnya tajam dan menusuk, membuat mereka merasakan hawa-hawa tidak mengenakkan. Hinata sekarang terlihat benar-benar seperti hantu, dan itu membuat mereka merasa takut.

Hinata perlahan berjalan mendekati mereka. Sedangkan secara tidak sadar mereka ─Karin, Tayuya dan Sara─ berjalan mundur menjauhi Hinata.

Dengan sekali gerakan Hinata mengambil wadah yang digunakan Tayuya untuk menyiraminya tadi dan mengisinya kembali dengan air. Kemudian Hinata kembali bergerak menuju senpai-senpai cantik itu dan mengguyur mereka seperti apa yang dilakukan mereka kepadanya.

"Hyuuga!" teriak mereka secara bersamaan.

"Ya, senpai?!" Hinata berucap dengan nada dingin dan menusuk. Yang langsung membuat senpai-senpainya bungkam dan tidak berani memprotes, apalagi setelah mereka melihat pandangan menusuk Hinata. "Sebaiknya senpai-senpai cantik ini pergi! Sebelum…"

Krack!

Wadah yang terbuat dari ember plastic itu dipatahkan Hinata menjadi beberapa bagian. Hinata tersenyum sinis ketika mendapati raut ketakutan dari senpai-senpainya itu. Hinata mengangkat tangannya yang mengepal. "Aku hitung sampai tiga, kalau senpai masih di sini, mungkin nasib sial akan menimpa wajah-wajah cantik senpai." Hinata mengangkat jari telunjuknya membentuk angka satu. "Satu…" Kemudian jari tengahnya kembali terangkat. "Dua. Dan…" Sebelum Hinata mengangkat jari manisnya, senpai-senpai itu sudah hilang dari hadapan Hinata.

Hinata tersenyum puas. Kemudian menuju sudut toilet tempat dia meletakkan seragam baru yang sudah dibelikan Menma untuknya. "Untunglah aku belum memakainya," ucap Hinata bersyukur.

Setelah Hinata selesai berganti baju dan membersihkan dirinya, dia langsung bergegas untuk menuju ke kelas karena sepertinya bel masuk akan segera berbunyi. Tapi kelihatannya Kami-sama kembali mengujinya sekali lagi. Sekarang Hinata menyadari kalau dia tidak hanya membenci warna kuning karena identic dengan rambut dari sang iblis Namikaze, tetapi dia juga membenci warna merah yang sekarang ini kerap mucul dipenglihatannya.

"Kita bertemu lagi eh, Nona?!"

-To Be Continue-


.Buat Romance and Hurt/Comfort nya masih belum muncul sampai sekarang, ditunggu aja ya...

.Adakah yang mau bantu saya buat mendeskripsikan fisik Menma? warna kulitnya tan atau putih? dan matanya hitam, merah, atau biru? Saya cuma tahu warna rambut Menma yang hitam saja soalnya. Saya juga sebenarnya udah cari di mbah google tapi masih kesulitan identifikasi ciri fisik Menma. Menmanya juga gak terlalu jelas Naruto Road to Ninja punya saya yang mungkin kualitas gambanya jelek dan latar cerita malam hari.

.Big thanks buat yang udah bersedia read and review chap-chap kemarin…

Demikooo, Guest(1), .9, Beetha, JihanFitrina-chan, Guest(2), Anyone, Hyuuga Divaa Atarashii, hakeriouss, kilat kuning, rienaldisjah, Saus Kacang, Kazehaya Sakazuki, Ayzhar, Durara, Saladin no jutsu, TheBrownEyes'129, M P, NaruHina-Lover, .777, Bunshin Anugrah E T, Nata-chan, , uchiha kagami, iededywidiastra, aila-ansory, Eigar alinafiah, Amu-B, RepublikP, , 2nd princhass, Guest(3), AkiraRaymundo, Chi-chan, Guest(4), , XXX, Soputan, NameNHL, Fujiwara Hana, ochideeumi, Noal Hoshino, anggaraange, Princess Li-chan, minyak tanah, utsukushi hana-chan, gorm speir, flowers lavender, NHL'S, naruhinalover's, WhiyaY, uzumaki zhufar, Maguni, sinuza, andypraze, aizyevilkyu, EL Ghashinia, ArisaKinoshita0, Archiles, Guest(Siska), zae-hime, kunieda-hime, morie-hime, Abrory-The-Kijin27, Fuu, , Mr. Acoustic, Kagax, putchy-chan.


Cuap-cuap!

Menma ngingetin salah satu tokoh di BBF? setelah saya baca reviewnya, dan dipikir-pikir, saya juga inget tokoh itu yang saya lupa namanya, tapi insyaallah Menma beda kok

Naru cepet banget cemburuannya sama Hina, harusnya acuh tak acuh aja dulu? Dari chap awal saya udah buat karakter Naruto yang terlihat sangat posesif dengan Hinata, lihat dibagian akhir chap 1, "KAU HANYA MILIKKU, Hyuuga!". Jadi dia gak bisa cuek-cuek saja dengan hal yang sudah dipatenkan miliknya.

Entah mengapa Naru seperti ingin membuktikan sesuatu? No coment dulu lah :)

Ada romance NH gak? Pasti ada, tapi mungkin masih lama munculnya

Ada Slight SasoHina? Slight yang bagaima nih yang ditanya? Sasorinya disini saya buat antagonis

Gak ada Neji nih? Belum kepikiran ngadain Neji. Tapi walaupun nanti ada Neji, saya gak akan buat Neji terlalu dekat dengan Hinata, saya gak mau jadiin Neji tameng/pelindungnya Hinata

Pairing endnya apa? NARUHINA. Saya gak mungkin buat end dengan pairing MenmaHina, SasoHina atau yang lain, karena dari awal udah tercantum pair NH, gak lucu juga tiba-tiba pairnya melenceng

Naruto jangan terlalu kejam? Narutonya emang dibuat kejam, kalau terlalu baik, nanti gak cocok sama judul ficnya

Apa Menma jadi pihak ke 3 diantara NH? Mungkin iya. Mungkin enggak. ;D

Kalau Naruto suka Hinata, kenapa kejam banget Narutonya? Sampai saat ini saya belum memperjelas kalau Naruto suka sama Hinata lho…

Naruto emosinya labil? Iya, emang labil banget

Naruto jadi cowok arogan ya? Ya :)


Gak bosen-bosennya saya buat ngingetin, reviewnya please…