Setelah Hinata selesai berganti baju dan membersihkan dirinya, dia langsung bergegas untuk menuju ke kelas karena sepertinya bel masuk akan segera berbunyi. Tapi kelihatannya Kami-sama kembali mengujinya sekali lagi. Sekarang Hinata menyadari kalau dia tidak hanya membenci warna kuning karena identic dengan rambut dari sang iblis Namikaze, tetapi dia juga membenci warna merah yang sekarang ini kerap mucul dipenglihatannya.

"Kita bertemu lagi eh, Nona?!"


.

.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.


My Fox Devil

Desclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Rated: T

Warning: bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, Hinata-centric, flat, DLL

.

.

Check it Out!

.

.


Sasori tersenyum menyerigai kepada Hinata.

"Hai Akasuna-san," sapa Hinata mencoba bersikap ramah kepada pemuda bersurau merah dihadapannya, mencoba melupakan perdebatan anatara mereka berdua beberapa hari lalu ketika di bar. "Apa kabar?"

"A… ternyata kau sudah mengenalku? Pantas saja," ucap Sasori sambil mengingat-ingat kejadian tempo hari. "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kita satu sekolah, Hyuuga?" Tadi saat keributan di kantin sekolah, secara tidak sengaja Sasori melihat Hinata yang tengah menjadi sorotan siswa-siswi KHS. Dan setelah mengetahui perselisihan antara Hinata dan duo Namikaze, Sasori lebih memilih menonton Hinata sampai selesai. Dan menemuinya sekarang, setelah urusan Hinata dengan duo Namikaze itu selesai.

"Kupikir itu tidak perlu Akasuna-san. Lagi pula aku yakin kita tidak ingin berhubungan lebih jauh lagi bukan?" Hinata berbicara dengan sangat tenang.

"Begitukah menurutmu?" tanya Sasori. "Kau tahu? Kau adalah satu-satunya gadis yang membuatku sangat tertarik."

"Benarkah? Aku sangat tersanjung," jawab Hinata dengan nada yang sama sekali tidak berminat.

"Kulihat, kau sangat dekat dengan duo Namikaze. Apakah mereka memberikanmu banyak uang? Lebih dari yang kutawarkan waktu itu?"

Hinata hanya diam, sama sekali tidak ingin menanggapi Sasori lebih jauh lagi.

"Sepertinya memang benar. Berapa mereka memberimu?" Sasori menrogoh celananya, untuk menemukan dompetnya. "Aku juga bisa memberimu lebih, Hyuuga."

"Tuggu, Akasuna-san!" cegah Hinata ketika Sasori akan mengeluarkan dompetnya. "Bukankah waktu itu sudah sangat jelas ku katakan kepadamu? Kenapa Akasuna-san tidak mau mengerti juga?"

"Bukankah juga sudah ku katakan kalau kau satu-satunya gadis yang sangat membuatku tertarik. Maka dari itu, akan ku bayar berapapun yang kau mau, asal aku bisa mendapatkanmu."

Hinata menghela nafas lelah. Setelah si Namikaze Naruto, sekarang dia harus menghadapi si Akasuna Sasori? Oh Kami-sama, lalu apa lagi hal yang lebih buruk yang akan menimpanya. "Kiba-san!" panggil Hinata ketika melihat pemuda pencinta anjing yang sedang melintas.

Kiba menoleh dan tersenyum kepada Hinata. "Yo Hinata!" sapanya sambil mengangkat tangan.

"Kau mau ke kelas?" tanya Hinata yang dibalas angukan oleh Kiba. "Bolehkah aku ikut?"

"Tentu. Ayo! Sebentar lagi pelajaran Orochimaru sensei, aku tidak mau dijadikan makanan Manda, kalau kita terlambat," ajak Kiba.

Hinata mengangguk sekilas, kemudian menatap Sasori yang masih berdiri di tempatnya semula. "Akasuna-san, aku pergi dulu. Jaa ne!" Hinata pergi meninggalkan Sasori dengan sedikit mendorong tubuh Kiba supaya mereka cepat menjauh dari Sasori.

"Menarik!" gumam Sasori sambil menyerigai memandang perginya Hinata.


BRAK!

Suara benturan keras antara dinding dan pintu itu menarik perhatian Menma untuk melihat apa gerangan yang sedang terjadi. "Hai Naruto-nii," sapa Menma ramah ketika melihat Naruto yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Ada apa?"

Naruto menatap Menma dengan pandangan bosan dan tentu saja dengan emosi. Bisa-bisanya Menma menyapanya dengan begitu tenang padahal dia tahu Menma sadar tentang mood buruk yang sedang menguasainya. "Menjauh darinya!" ucap Naruto singkat, tapi Naruto yakin kalau Menma akan langsung paham tentang arah pembicaraannya.

"Ah, jadi Naruto-nii kesini hanya untuk membicarakan itu?" tanya Menma sambil mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Tapi ku rasa, aku tidak bisa menjauh darinya."

"Menma!" ucap Naruto kesal. "Sudah kukatakan, dia milikku! Kenapa kau tidak mengerti hah?!"

"Aku tahu itu. Dia… milik Nii-san," kata Menma pelan, matanya tidak berani menatap saudara pirang kembarnya. Tapi menurut Naruto, nada ucapan Menma terdengar tidak rela dengan apa yang diucapkannya. "Tapi maaf. Aku benar-benar tidak bisa menjauh darinya."

Naruto mengernyit heran. "Kenapa?"

"Kau terlalu keras kepadanya Nii-san!" Menma mengatakan dengan suara agak lebih tinggi daripada tadi. "Tidak bisakah kau memperlakukannya lembih lembut? Walaupun hanya sedikit saja?" tanya Menma dengan tatapan memohon, Menma sebenarnya sangat tidak suka perlakuan Naruto yang terlalu kejam kepada Hinata. Walaupun Naruto itu kakaknya sendiri, tapi tetap saja, dia tidak rela Hinata diperlakukan seperti itu.

"Tidak!" Naruto berucap cepat. "Aku tahu apa yang kulakukan. Aku mempunyai caraku sendiri."

"Kalau begitu, aku juga tidak akan menjauh darinya Nii-san," ucap Menma mantap, tanpa sedikitpun rasa takut.

Naruto berjalan mendekati Menma yang berdiri di samping ranjangnya, dengan tatapan penuh amarah karena adik kembarnya itu tidak mau menuruti perintahnya. Naruto langsung menarik kerah baju Menma dan mendorong tubuh Menma ke dinding. "Apakah kau tetap tidak mau menjauhinya?" tanya Naruto dengan nada mengancam.

"Aku tidak akan menjauhinya Nii-san!" jawab Menma tenang, walaupun dia sebenarnya merasakan nyeri dibagian punggungnya akibat ulah Nii-sannya.

Mata Naruto melotot, menatap tajam Menma yang menurutnya keras kepala. Naruto mengangkat tangannya yang sudah terkepal kuat, bersiap-siap untuk memukul Menma.

Sedangkan Menma hanya menatap Naruto dengan tatapannya seperti biasa, bahkan Menma tersenyum tipis. Menma sudah siap menerima apapun yang akan dilakukan Naruto, dan dia sama sekali tidak berniat untuk mengelak.

BUGH!

Tangan Naruto mendarat pada tembok tepat di samping kepala Menma, sama sekali tidak menyentuh Menma. Senyum Menma makin mengembang. Kakaknya itu memang tidak berubah, pikirnya. Dia tahu kalau Naruto tidak mungkin akan setega itu memukulnya. Walaupun semua orang, termasuk teman-teman dekat mereka menganggap hubungan Menma dan Naruto tidak sehangat hubungan kakak-adik lainnya, tapi Menma tahu kalau Naruto tetaplah seorang kakak yang menyayanginya, hanya saja Naruto terlalu malas menunjukkan hal itu.

"Hei, apa-apaan ini?!" tanya wanita paruh baya berambut merah yang tiba-tiba datang karena mendengar keributan dari kamar sang bungsu. "Naru-chan, Menma-chan, kenapa kalian bertengkar lagi?" tanya Kushina kesal, karena sepertinya kedua anak kembarnya ini tidak pernah akur.

Naruto yang sudah menurunkan tangannya, hanya bisa menunduk, mencoba menyebunyikan kemarahannya dari sang Ibu.

Menma tersenyum tipis kepada Kushina. "Gomen Kaa-san. Ini semua kesalahanku, karena tidak mau mendengarkan ucapan Nii-san."

Kushina mengernyit bingung mendengar ucapan si bungsu. Kemudian pandangannya mengarah pada tangan Naruto yang memerah dan terdapat beberapa luka lecet. "Astaga Naru-chan! Ada apa dengan tanganmu!" ucap Kushina khawatir. Kushina berjalan mendekati putra sulungnya, kemudian dengan lembut dia mengambil tangan Naruto agar bisa melihatnya lebih jelas.

"Gomenne Kaa-san," ucap Naruto tanpa menatap Ibu dua anak itu.

"Sudahlah. Lebih baik kita rawat tanganmu lebih dulu." Kushina mendudukkan Naruto di ranjang Menma dan kemudian menyuruh Menma mengambilkan obat untuk tangan Naruto.


Ada yang berbeda dengan penampilan gadis Hyuuga yang satu ini, biasanya dia membiarkan rambut panjangnya tergerai indah. Tapi hari ini dia sengaja mengepang dan menggelung tinggi rambut indigonya, serta menambahkan topi berbahan rajutan yang dibuatnya sendiri untuk menutupi rambutnya dan menjadi pemanis tampilannya. Dia belajar dari pengalamannya kemarin, tidak ingin lagi rambutnya ditarik-tarik oleh sang iblis Namikaze, senpai-senpai berambut merah dan siapapun itu.

Hinata tersenyum sambil membenarkan letak topinya "Dengan begini rambutku akan aman," gumamnya.

"Hinata?" panggil seseorang dari belakang.

Hinata menoleh kebelakang, dan tersenyum mendapati siapa yang baru saja memanggilnya. "Menma."

"Kupikir kau bukan Hinata, penampilanmu berbeda sekali," ucap Menma sambil mengkerutkan alisnya dan memperhatikan penampilan Hinata dari bawah sampai atas.

"Apa terlihat aneh?" tanya Hinata ragu.

"Tidak." Menma menggeleng sambil tersenyum simpul. "Kau terlihat em… lebih cantik," jawabnya jujur.

"Benarkah? Terima kasih," kata Hinata senang. "Kau tidak bersama teman-temanmu?"

Menma dan Hinata berjalan berdampingan menuju ke kelas mereka. Walaupun mereka tidak satu kelas, tapi kelas mereka bersebelahan. Berpasang-pasang mata siswi KHS memandang iri kepada Hinata. Mereka ingin sekali menggantikan posisi Hinata dan berjalan di samping prince Namikaze.

Menma menggeleng. Matanya masih saja menatap lurus ke depan. "Ini terlalu pagi untuk mereka datang. Apa kau datang pagi-pagi untuk menghindari Naruto-nii?"

"A… Kupikir begitu. Iblis Namikaze itu selalu merusak pagi indahku yang tenang."

"Naruto-nii bukan orang seperti itu. Dia baik." Menma menanggapi Hinata santai. Menurut Menma, kejadian kemarin di kamarnya sudah membuktikan kalau Naruto masih Nii-sannya yang baik, terlepas apa yang telah dilakukannya pada Hinata.

Hinata mengalihkan pandangannya ke Menma. "Baik?!" Nada Hinata berubah menjadi kesal. "Ck! Bukankah kau sudah melihat kelakuan iblisnya kemarin? Dia itu selalu bertindak seenaknya, menyuruhku ini itu, menyebutku dengan peliharaannya, bahkan dia selalu menarik rambutku untuk menyuruhku mengikutinya dan segudang perilaku menyebalkan lainnya yang dia lakukan padaku. Dasar kuning aneh," gerutu Hinata.

Menma hanya tersenyum tipis mendengarkan gerutuan Hinata. "Apa kau membenci Naruto-nii?"

"Ya!" Hinata berucap mantap, tanpa keraguan sedikitpun. "Tentu saja!"

Menma menaikan salah satu ujung bibirnya. "Sebaiknya kau jangan terlalu membencinya, suatu saat nanti kau akan menyukai Nii-sanku."

Hinata mengerutkan alisnya mendengar ucapan Menma. "Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi."


Bruk!

"Akh." Hinata meringis sakit ketika tulang punggungnya dengan keras berbenturan dengan dinding kelas.

Tadi sewaktu dia akan memasuki kelas ─setelah berpisah dari Menma─ tiba-tiba Naruto menghadangnya dan menyeretnya ke sini, ke kelas kosong yang sudah tidak digunakan lagi.

Naruto menatap Hinata dengan tatapan tajam dan menusuk. Tangan-tangan kekarnya mencengkram kuat bahu Hinata yang menyebabkan Hinata meringis kesakitan. "Hyuuga!" desisnya marah.

"A-apa yang kau lakukan?" Hinata berkata dengan nafas tersenggal-senggal. "Lepaskan aku!" kedua tangan Hinata mencoba memegangi tangan Naruto, untuk melepaskan tangan Naruto yang tengah mencengkram bahunya. Hinata sudah mengerahkan segala kemampuannya, tapi tetap saja tangan Naruto tidak bergerak sedikitpun dari posisi semulanya, seakan Naruto benar-benar mempunyai kekuatan seorang iblis. "K-kau membuatku sesak!"

Naruto memamerkan senyum iblisnya. "Apa yang kau lakukan tadi bersama Menma hah?" Nada bicara Naruto terdengar sangat tajam.

"Aku tidak melakukan apapun dengan Menma, Namikaze!" ucap Hinata kesal. Dia membalas tatapan tajam Naruto yang mengarah kepadanya.

Naruto berdecih. Kemudian satu tangannya dia angkat untuk melepaskan topi yang dipakai Hinata dengan kasar serta melepaskan gelungan dan ikatan rambut Hinata, hal itu menjadikan rambut Hinata kembali tergerai seperti biasa. "Kau mencoba berdandan untuk menggoda adikku heh?" sindir Naruto sinis. "Dasar jalang!"

PLAK!

Satu tamparan keras diberikan Hinata kepada pemuda berambut pirang di depannya. Nafas Hinata tersengal-sengal ketika selesai menumpahkan amarahnya. "Jaga bicaramu, Namikaze brengsek!" umpat Hinata marah. Seumur hidupnya baru kali ini seseorang menyebutnya dengan sebutan sekotor itu. Hinata tahu, dia bukanlah gadis baik yang selalu bersikap ramah dan melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Walaupun begitu, dia juga bukanlah gadis murahan. Dia memang tidak punya apapun sekarang, bahkan dia hanya punya Menma yang mau menjadi temannya, tapi dia masih punya harga diri. Dan sebutan jalang, adalah sebutan terburuk yang bahkan tidak mau dipikirkannya mengenai dirinya.

Naruto tersenyum tipis. Kemudian mengusap kasar sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah akibat tamparan Hinata. "Kalau bukan jalang, aku harus menyebutmu apalagi heh?"

"Kau brengsek Namikaze!" Hinata menatap Naruto dengan kilatan mata penuh amarah. "Kau tidak tahu apapun tentang aku. Jadi jangan sekalipun berbicara sesuatu tentangku dengan mulut kotormu itu!" Hinata mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia memang selama ini terlihat kuat dalam menghadapi sang Namikaze, tetapi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia sakit! Hatinya sebenarnya sangat sakit! Dia ingin sekali menyerah karena sudah sangat lelah menghadapi iblis Namikaze dan semua orang yang membuatnya muak.

'Jangan menangis! Jangan menangis! Kau tidak boleh memperlihatkan sosok lemahmu di depannya,' ucap Hinata dalam hati mencoba menguatkan dirinya.

"Aku membencimu," ucap Hinata pelan dan terdengar sangat miris. Hinata tidak lagi mengumpat dan berteriak kepada Naruto, dia benar-benar sudah lelah. "Aku sangat membencimu, sampai-sampai dadaku seakan ingin meledak." Hinata memejamkan matanya, tak ingin air mata yang bisa kapan saja tumpah itu keluar.

Perlahan-lahan kengkangan Naruto mengendur. Dia membeku mendengar ucapan Hinata. Walaupun ucapan Hinata tidak lantang dan tajam seperti biasanya, justru kali ini terdengar pelan, tapi Naruto bisa merasakan rasa sakit yang selama ini dipendam Hinata. Tak urung, hati Naruto merasa sesak mendengarnya.

"Aku sama sekali tidak tahu apa yang membuatmu berlaku sampai seperti ini kepadaku. Tapi yang aku tahu, kau ingin membuatku seakan-akan lebih memilih mati daripada terus menerus menghadapimu," ucap Hinata dengan suara serak.

Tes!

Satu tetes air mata keluar dari pelupuk mata Hinata, kali ini Hinata benar-benar tidak bisa mencegah air matanya tumpah keluar. Satu tetes yang mewakili semua perasaan Hinata. Dan satu tetes yang membuat Naruto membatu karena baru kali ini dia melihat Hinata menangis di hadapannya setelah sekian banyak perbuatan buruknya, baru kali ini dia melihat Hinata menangis.

Tanpa disadari Naruto, dia berjalan mundur menjauh dari Hinata dan membuat jarak yang cukup jauh diantara mereka. Dimata Naruto, saat ini Hinata seperti gelas kaca yang sangat rapuh, dan bisa kapan saja pecah apabila dia salah menyentuhnya.

Menyadari kalau sudah ada jarak antara dirinya dan Naruto, Hinata segera memanfaatkan situasi ini untuk pergi menjauh. Dia berlari sekencang mungkin tanpa sekalipun menengok ke arah Naruto yang masih terdiam.

"Maafkan aku," gumam Naruto pelan, setelah sosok Hinata sudah tidak terlihat lagi. "Gomen Hinata. Gomenasai," ucapnya dengan suara parau dan rasa bersalah yang besar.

"Nii-san," panggil Menma pelan yang bersembuyi dari tadi, tidak jauh dari sana. Menma menatap sedih kepada Nii-sannya yang saat ini terlihat sangat frustasi dengan apa yang telah diperbuatnya.

.

.

-To be Continue-

.

.


.Haduh, setelah baca review ternyata banyak yang ngomelin saya gara-gara terlalu kejam sama Hime. Padahal menurut saya kejamnya masih batas wajar, lagipula di sini Hinata bener-bener jadi sosok StongHina banget kan? Walaupun Narutonya kejam, tapi dia masih sanggup ngadepin. Beda lagi kalau saya disini buat Hinatanya jadi sosok lemah yang bisanya nangis dan gak berani ngelawan Naruto. Menurut saya sih masih kejaman fic genre angst (yang jarang sekali saya baca, karena takut sakit hati) yang akhirnya bakal ada yang mati ─padahal tuh cerita udah bagus-bagusnya─ dari pada fic ini, hehehe…

Tenang saja, Saya ini Hinata-lovers, jadi gak mungkin buat fic yang terlalu kejam buat my Hime dan Gimana buat chapter ini? Udah kerasa gak sih Hurtnya?

.Setelah tiga chapter kemarin, ternyata ada yang belum ngeh, siapa itu Menma. Saya gak nyalahin sih, soalnya Menma emang Cuma muncul di Naruto Movie Road to Ninja, jadi wajar banyak yang belum tahu. Yang belum tahu wajahnya Menma bisa lihat di google, takutnya yang belum tahu siapa Menma, nyangkanya Menma itu Sugetsu, Juugo, Kakuzu atau yang lain, hadeh kan gak lucu…

.Buat yang udah ngerasa ficnya makin kesini makin membosankan/nge-flat dsb, saya saranin buat berhenti baca aja, oke?

.Dan buat yang udah review panjang-panjang, arigatou gozaimatsu reviewnya, saya paling seneng baca review yang panjang-panjang walaupun gak dibalas satu persatu, tapi saya selalu sempatin jawab pertanyaan yang diajukan di pojok cuap-cuap. Finally, big thanks to:

Ayzhar, TheBrownEyes'129, Hyuuga Divaa Atarashii, Bunshin Anugerah ET, Saus Kacang, dany, Rimadhani Hime, minyak tanah, Beetha, NaruHina-Lover, uzumaki zhufar, Amu B, Me Yuki Hina, meong chan, uchiha kagami, Eigar alinafiah, hqhqhq, dhapan9, Guest, anitaindah777, manguni, aila-ansory, Mr. Acoustic, JihanFitrina-chan


Cuap-cuap!

Sepertinya Naruto cemburu karena Menma baik pada Hinata ya? Kemungkinan, Naruto cemburu soalnya Hinata bisa akrab banget sama Menma, padahal Hinata kan miliknya, tipe-tipe cowok posesif

Apa benar kelakuan Naruto, adalah cara Naruto untuk menarik perhatian Hinata? Mungkin :)

Menma itu yang pinter main suling itu bukan sih? Setau saya bukan, Menma itu pinternya mainin hati saya #plak!, yang pinter main suling sih kalau gak salah Tayuya.

Ada alasan gak kenapa Naruto kayak gitu ke Hinata? Pasti ada!

Nanti bakal ada cewek ke tiga gak? belum kepikiran.

Sebenarnya Naru ama Hina gimana? beri petunjuk napa?! Statusnya saat ini masih Majikan-Peliharaan (menurut Naruto).

Di sini kok banyak MenmaHina? Saya akui, memang iya. Habisnya itu tuntutan naskah! :p

Kapan romance NaruHina muncul? Mungkin bentar lagi, entah berapa chapter lagi #plak!


Maaf, kalau Chap ini saya kebanyakan ngomong... seperti biasa, saya tunggu REVIEWnya..