"Maafkan aku," gumam Naruto pelan, setelah sosok Hinata sudah tidak terlihat lagi. "Gomen Hinata. Gomenasai," ucapnya dengan suara parau dan rasa bersalah yang besar.
"Nii-san," panggil Menma pelan yang bersembuyi dari tadi, tidak jauh dari sana. Menma menatap sedih kepada Nii-sannya yang saat ini terlihat sangat frustasi dengan apa yang telah diperbuatnya.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
My Fox Devil
Desclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Friendship, Family
Rated: T
Warning: bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, Hinata-centric, flat, DLL
.
.
Check it Out!
.
.
Menma berlari untuk mencari Hinata. Dia khawatir akan keadaan sang gadis indigo setelah apa yang dilakukan Naruto kepadanya. "Hinata!" panggil Menma keras, supaya gadis itu dapat mendengar dan langsung menyahutinya. "Hinata, ku mohon jawab aku!" ucapnya sekali lagi..
Menma berlari mengelilingi KHS untuk mencari Hinata, tapi sampai sekarang dia tidak menemukannya. Ketika dia melewati taman belakang yang sudah jarang dikunjungi siswa, dia melihat sesosok gadis bersurau panjang yang berdiri membelakanginya di samping pohon rindang yang terletak di sana. Menma dapat melihat bahwa bahu gadis itu bergetar. "Hinata?" panggilnya pelan. Tapi sepertinya sang gadis tidak mendengarnya. Menma berjalan mendekati Hinata. Samar-samar dia dapat mendengar gumaman Hinata.
"Jangan menangis!" ucap Hinata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Siapa yang menyuruhmu menangis, bodoh.," gumam Hinata pada diri sendirinya, lagi.
Menma menyentuh lembut bahu Hinata yang bergetar. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Hinata menggeleng. Tapi tetap bertahan dengan menunduknya yang memudahkan poni tebalnya menutupi wajahnya.
Menma jelas tahu kalau saat ini Hinata tengah berbohong. Dia dapat mendengar suara isakan tertahan dari mulut Hinata. Menma sudah tidak tahan lagi untuk tidak memeluk tubuh rapuh Hinata. Dia mendekap Hinata dengan lembut. Walaupun pada awalnya ada penolakan dari Hinata, tapi karena sikap Menma yang membuat Hinata tenang, akhirnya Hinata hanya bisa pasrah menerima pelukan Menma.
"Aku membencinya," ucap Hinata pelan. "Kenapa Kami-sama mengirimkan iblis itu untukku." Hinata meremas kuat seragam dapan Menma, dia masih tetap menahan tangisnya karena egonya yang tidak ingin seorangpun melihatnya menangis. Menurutnya apabila seseorang melihatnya sedang menangis, itu sama saja dia menunjukkan sisi lemahnya kepada orang itu, dan Hinata membencinya. Dia benci dikasiani.
Menma mengusap kepala Hinata lembut. Sesekali dia juga menciumi puncak kepala Hinata. "Tidak apa-apa," ucap Menma lirih. "Aku ada di sini." Menma menyadari kalau dia tidak bisa melihat Hinata dalam keadaan rapuh seperti ini. Dia berjanji kepada dirinya sendiri akan terus menjadi sosok yang menjadi sandaran Hinata dan akan selalu di dekat Hinata, apapun yang terjadi.
Mata Hinata mulai berkaca-kaca. Tetapi dia langsung mengeleng pelan, mencoba menguatkan dirinya agar tidak menangis.
Menma yang melihat itu semakin mengeratkan pelukannya ke Hinata. "Kau boleh menangis." Menma mengusap lembut helaian rambut panjang Hinata. "Kau membutuhkannya. Menangislah."
Mendengar ucapan Menma, Hinata tidak bisa lagi untuk menahan air matanya. Sekarang, cairan itu terus-menerus keluar dari pelupuk matanya, tanpa henti. Ucapan Menma seperti lampu hijau untuk melepas semua rasa sakit yang ditahannya sejak tadi. "Hiks… Hiks…"
"Maaf," bisik Menma pelan nyaris tak terdengar, karena tak ingin Hinata mendengarnya. Menma sebenarnya juga masih bingung dengan maksud ucapannya. Dia tahu kalau dia harus meminta maaf kepada Hinata. Tapi entah meminta maaf karena apa yang telah diperbuat Nii-sannya kepada Hinata atau karena dia tidak dapat melindungi Hinata dari Nii-sannya.
Tanpa Menma dan Hinata sadari sepasang mata shapirre yang berdiri tidak jauh dari sana melihat dengan jelas apa yang dari tadi mereka lakukan. Naruto memandang mereka dengan tatapan datar, tapi tangan-tangannya menengepal kuat. Tak lama kemudian Naruto pergi meninggalkan mereka dan berjalan dengan wajah dinginnya menuju ke suatu tempat.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Keempat pemuda itu memandang aneh kepada teman pirang mereka yang beberapa detik lalu tiba. Wajah si sulung Namikaze terlihat sangat tidak bersahabat, tidak seperti biasanya.
"Ada apa Dobe?" tanya Sasuke, bahkan Uchiha yang terkenal acuh ini pun tampak penasaran dengan apa yang terjadi pada teman kuningnya.
Naruto tidak menjawab, masih memandang kosong kedepan.
Shikamaru mengernyit heran. 'Apa dia berterngkar lagi dengan Menma?' tanyanya dalam hati. 'Atau mungkin karena si Hyuuga itu?'
"Teme, Gaara aku ingin mengajak kalian duel," ucap Naruto datar.
"Duel?" kali ini Gaara yang membuka suara. "Untuk apa?" tanya Gaara tidak mengerti.
"Aku akan mengabulkan semua permintaan kalian, asal kalian mau duel denganku."Naruto sengaja memilih Sasuke dan Gaara kerena mereka mempunyai keahlian bela diri yang diatas rata-rata. Tapi bukan berarti Kiba dan Shikamaru tidak pandai bela diri. Dia tidak memilih Shikamaru karena Naruto tahu kalau Shikamaru terlalu malas menunjukkan 'aksi'nya kecuali pada saat keadaan genting saja. Sedangkan Kiba, Kiba tidak terlalu suka dengan hal yang berbau kekerasan.
Sasuke menautkan alisnya, sebenarnya dia juga tidak tahu apa diinginkan Naruto. Tapi bukankah ini penawaran yang langka dan sangat mengiurkan, Naruto berjanji akan mengabulkan semua permintannya kan? Dan motor sport Naruto yang baru, mungkin permintaan yang bagus. "Baiklah," ucap Sasuke dengan seringai Uchihanya.
Sedangkan Gaara, "terserah kau saja," ucapnya singkat.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Kiba menatap cemas tiga temannya, khususnya pada teman blondenya yang sudah babak belur. Tadi memang Naruto meminta berduel dengan Gaara dan Sasuke. Tapi kalau melihat kejadian sekarang, ini sangat tidak bisa disebut duel, karena Gaara dan Sasuke bersama-sama melawan Naruto. Dan anehnya lagi, dari tadi sepertinya Naruto sama sekali tidak melawan, bahkan menghindar dari pukulan-pukulan yang dilayangkan Gaara dan Sasuke.
"Hentikan Sasuke, Gaara! Kalian bisa membunuhnya," pinta Kiba sekali lagi, karena sepertinya ucapannya tadi sama sekali tidak didengar oleh kedua kawannya itu.
Gaara menghentikan aksinya dengan nafas terengah-engah. Dia menyeka keringatnya di pelipis. Ternyata memukul Namikaze sulung, cukup menguras tenaganya dan membuat tangannya ngilu.
Sasuke yang melihat Gaara berhenti, juga ikut berhenti. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya yang terasa pegal sambil memandang aneh Naruto yang walaupun mukanya penuh lebam tetapi masih kuat untuk berdiri dan memasang cengiran khasnya.
"Hey, siapa yang menyuruh kalian berhenti?" tanya Naruto. Naruto menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah kental. Entah kenapa pukulan Sasuke dan Gaara sama sekali tidak terasa, walaupun dia yakin wajahnya sekarang mungkin tidak hanya berwarna tan lagi, karena sudah menjadi biru disana-sini. "Ck! Aku tahu kalian tidak sepayah itu. Ayolah, setidaknya buat aku sampai pingsan."
"Kau gila Dobe," ucap Sasuke dengan nada kesal. Membuat Naruto pingsan itu sama saja melawan sepuluh orang. Ini bahkan belum mampu menumbangkan sang Namikaze, tapi Sasuke sudah ingin menyerah saja. "Ada apa denganmu?" tanya Sasuke yang tidak dapat dipungkiri kalau dia khawatir dengan keadaan Naruto.
"Jangan banyak tanya Teme! Ayolah, pukul aku lagi," kata Naruto dengan nada merengek. "Kalau perlu, kau bisa menggunakan balok kayu ataupun yang lainnya."
"Kau benar-benar gila Naruto," ujar Gaara karena sudah tidak tahan lagi dengan tingkah sahabatnya yang satu ini. "Kalau kau ada masalah atau apapun, kau bisa ceritakan kepada kami. Bukan begini caranya."
Naruto tersenyum masam. "Aku tidak butuh yang seperti itu. Kalau kalian memang ingin membantuku, turutilah permintaanku.
"Berhenti bersikap bodoh, Naruto," ucap Shikamaru yang menanggapi dengan wajah malasnya. "Kau sangat merepotkan!"
"Ah Shika! Kau bisa menggantikan Gaara dan Teme yang sepertinya sudah kelelahan," ucap Naruto kepada Shikamaru dengan wajah senang, seperti telah menemukan solusi untuk masalahnya. "Ku rasa kau perlu memanaskan otot-ototmu karena terlalu sering dipakai tidur."
Shikamaru hanya berdecak singkat. Kemudian menyangga kepalanya menggunakan sebelah tangannya dan membuang wajahnya ke samping.
Sedangkan Kiba semakin kesal tingkah dan omongan Naruto yang semakin ngelantur. "Bagaimana kalau aku yang memberimu sedikit pelajaran hah?" ucap Kiba sambil menatap tajam Naruto. Dia sebenarnya tidak ingin menyakiti Naruto dengan keadaannya yang sudah seperti ini, tetapi Kiba sudah kehabisan akal untuk membuat Naruto sadar.
Naruto tersenyum miring. Dia tahu kalau pemuda pencinta anjing itu sedang kesal padanya, maka dari itu Kiba dengan terpaksa harus memukulnya. Dan Naruto tahu kalau sampai Kiba marah, mungkin akan beresiko buruk untuknya, mengingat menyeramkannya pemuda yang tidak suka kekerasan itu apa bila dia sudah sampai menggunakan cara terakhir yaitu kekerasan. "Benarkah kau mau melakukan itu?" tantang Naruto.
Kiba berlari menuju Naruto dengan tangan terkepal kuat, siap meninju perut Naruto dengan sekuat tenaganya.
BUGH!
Tubuh pemuda berkulit tan itu pelan-pelan merosot ke bawah sambil memegangi perutnya dan merintih pelan, setelah menerima pukulan Kiba yang sangat keras. Tapi pemuda ini bukan tan si rambut blonde, melainkan tan berambut hitam.
"Menma?!" teriak Kiba spontan, karena melihat yang dipukulnya bukan si sulung Namikaze, melainkan si bungsu Namikaze.
Shikamaru yang sebentar lagi akan terlelap ─seperti biasanya─ langsung membuka lebar matanya karena mendengar teriakan Kiba yang membawa-bawa nama adik kembar Naruto.
Sedangkan Sasuke dan Gaara yang tidak jauh dari sana, langsung berlari kecil mendekat ke duo Namikaze dan Kiba.
Kiba berjongkok dan menatap khawatir Menma yang masih saja menunduk─menahan sakit dari tadi. "Maafkan aku," ucap Kiba merasa bersalah, bagaimanapun Menma adalah sahabat terdekatnya daripada yang lain, mungkin karena banyak persamaan sifat antara mereka berdua. "Kau baik-baik saja?"
"Jangan bercanda Kiba," sahut Shikamaru yang sedang berjalan ke arah kerumunan teman-temannya sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Mana mungkin ada orang yang baik-baik saja setelah menerima tinjumu itu. Dia pasti kesakitan."
Menma memaksakan kepalanya untuk mendongak menatap sahabat coklatnya yang dia yakini sedang cemas akan keadaannya. "Aku baru tahu kalau kau sehebat itu," ucapnya dengan senyum dipaksakan, tapi sesekali sudut bibirnya bergetar karena menahan ringis kesakitannya..
Naruto memandang tidak percaya pada pemuda yang sangat mirip dengannya dan hanya dibedakan oleh warna rambut saja. Sejak kapan Menma berada di depannya untuk menghalanginya menjadi sasaran empuk tinju Kiba? Bahkan Naruto baru sadar keberadaan Menma setelah mendengar teriakan Kiba. Naruto ikut berjongkok guna memastikan keadaan adik kembarnya itu. "Baka! Apa yang kau lakukan!" tanya Naruto kesal karena tindakan Menma yang malah membuat dirinya sendiri terluka.
Menma tersenyum tipis. "Nii… Uhuk!"
"Menma!" seru Naruto ketika melihat Menma memuntahkan darah kental. "Menyinglah Kiba!" suruhnya pada Kiba yang berjongkok di depan Menma. Sebenarnya Naruto sedikit kesal pada bocah Inuzuka itu karena telah memukul Menma, yang bahkan dia sendiri tidak pernah memukul saudaranya yang satu itu.
"Berikan kunci mobilmu Gaara, aku akan membawanya pulang," pinta Naruto seraya menyerahkan kunci motornya kepada Gaara untuk menukar kendaraanya dengan punya Gaara, karena tidak mungkin membawa Menma menggunakan motornya. Dan mungkin masalah yang akan dihadapinya dengan Kaa-sannya karena membawa Menma dengan keadaan seperti ini akan dipikirkannya nanti.
Naruto segera membopong Menma dipunggungnya dengan dibantu Kiba dan Sasuke. "Aku pergi dulu. Tolong urus izin kami," ucap Naruto seraya pergi menjauh dari keempat temannya. Naruto berjalan cepat agar dia dan Menma cepat sampai di parkiran.
"Nii-san," panggil Menma pelan yang berada dipunggung Naruto.
"Hn."
"Bisakah kau pelankan jalanmu?" pinta Menma, tetapi sepertinya Naruto tidak menghiraukannya. "Kumohon Nii-san." Kali ini dengan nada merengek. Sejujurnya Menma hanya ingin lebih lama lagi berada pada posisi ini.
"Baiklah," jawab Naruto menjawab singkat sambil memelankan jalannya.
"Apa Nii-san mencemaskanku?" tanya Menma dengan senyum bahagianya.
"…"
"Aku tahu kalau Nii-san mencemaskanku. Arigatou." Menma semakin mengeratkan pelukan tangannya di leher sang kakak. "Kau menyakitinya lagi Nii-san. Kau bahkan membuatnya sampai menangis," kata Menma yang Naruto tahu terselip rasa marah di sana.
Naruto memilih tidak menyahuti perkataan Menma dan berjalan dalam diam.
"Kau tahu aku tidak bisa marah padamu. Tapi membuatnya menangis, kau sudah sangat keterlaluan! Kau harus berjanji untuk membalas perbuatanmu padanya suatu saat nanti."
"Bisakah kau diam!" perintah Naruto kepada adiknya yang terus saja mengoceh. "Kenapa kau cerewet sekali hah?!"
.
~[ My Fox Devil ]~
.
"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua?" tanya Ibu dua anak itu dengan histeris karena melihat anak sulungnya yang pulang dengan banyak lebam di wajahnya sedangkan ada bungsunya terkuai tidak sadarkan diri di punggung si sulung. "Naru-chan, Menma-chan kalian ingin membuat Kaa-san mati cepat ya?"
Naruto berjalan menuju kamar Menma tanpa menghiraukan omelan Ibunya. Dia merebahkan tubuh Menma dengan hati-hati supaya Menma tidak terbangun dari tidurnya, karena Naruto yakin Menma kelelahan dan tanpa sadar tertidur dalam perjalanan tadi. "Gomenasai Kaa-san. Tapi sebaiknya Kaa-san mengobatinya lebih dulu, dan setelah itu aku siap mendengar semua omelan Kaa-san." Setelah berucap seperti itu Naruto melangkah menuju pintu kamar Menma.
Kushina menatap anak bungsu dan sulungnya secara bergantian, kemudian mengenyit bingung. "Bukankah lukamu lebih parah Naru-chan. Kaa-san akan mengobati lukamu terlebih dahulu. Lagi pula Menma-chan sedang tidur."
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja," kata Naruto santai sambil berjalan keluar kamar Menma.
Setelah memastikan Naruto pergi sudah cukup jauh, perlahan Menma membuka matanya. "Kaa-san," panggil Menma pelan.
"Hei Menma-chan, kau tidak apa-apa?" tanya Kushina seraya menghampiri Menma yang berbaring di ranjangnya.
"Ssttt." Menma meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, mengisyaratkan Ibunya untuk memelankan suaranya. "Jangan keras-keras Kaa-san, nanti kedengaran Nii-san."
Kushina menjitak kesal kepala Menma karena sudah membuatnya khawatir. "Kau berpura-pura?!"
"B-bukan begitu Kaa-san. Hanya saja… aku ingin Naruto-nii menunjukkan sikap langkanya itu." Menma tersenyum ketika mengingat betapa cemasnya Naruto sampai-sampai Naruto tidak sempat berpikir bagaimana dia tampak sekarat hanya karena satu tonjokan Kiba. "Lagi pula mana mungkin juga aku terluka parah hanya karena satu tinju dari Kiba."
"Jadi Kiba-chan yang melakukan ini padamu?"
"Tidak, tidak seperti itu Kaa-san." Menma mengibas-kibaskan kedua tangannya di depan dada. "Ini hanya kecelakaan kecil."
"Lalu bisa kau jelaskan apa yang terjadi dengan Nii-sanmu?"
"Ano… Nii-san juga mengalami kecelakaan kecil, tapi berulang berkali-kali," jelas Menma sambil tersenyum yang tampak dipaksakan dan mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
"Jelek sekali," gumam Hinata tanpa sadari ketika melihat wajahnya di cermin. Wajahnya tampak kusut dan pucat dengan rambut berantakan dan mata memerah disertai kantung hitam yang cukup tebal. Kalau ada yang berpikir ini terjadi karena ulah Naruto, itu memang benar. Tapi kalau karena kejadian di kelas kosong kemarin, tentu saja jawabannya bukan. Hinata berwajah kusut karena semalaman tidak tidur karena harus mengerjakan tugasnya dan Naruto. Tetapi sampai pukul enam pagi tadi dia hanya mampu menyelesaikan tugas Naruto saja, sedangkan tugasnya sama sekali belum dia sentuh.
Seperti apa keterlaluannya tingkah Naruto terhadapnya kemarin, tapi entah kenapa Hinata masih mau mengerjakan tugas-tugas Naruto yang diserahkannya dua hari yang lalu. Mungkin juga karena Naruto mempunyai kendali penuh terhadap kelangsungan pekerjaan Tou-sannya di Namikaze corp.
Dengan langkah gontai dan kepala yang terus saja menunduk dengan tangan yang memeganginya karena merasakan pusing yang amat sangat, Hinata berjalan menyusuri KHS seorang diri.
"Kau tampak seperti orang mabuk Hyuuga!" ucap seseorang yang bahkan tanpa mendongak, Hinata tahu siapa orang tersebut.
Hinata menurunkan tasnya dari punggungnya kemudian segera membuka dan mengambil buku-buku milik si pemuda pirang di depannya. Tanpa sekalipun memandang Naruto, Hinata menyodorkan buku-buku itu kepadanya.
Naruto mengambil buku-buku yang diberikan Hinata dan tersenyum miring. "Berapa lama kau tidur tadi malam?"
"Bukan urusanmu." Hinata akan segera beranjak pergi dari orang yang sangat tidak ingin ditemuinya sebelum tangan tan menahan lengannya.
"Kau tidak tidur sama sekali?"
Hinata sama sekali tidak berniat menjawabya, karena entah kenapa suara Naruto terdengar sedikit demi sedikit memelan di telinga Hinata. Pandangannya juga mulai memburam. Dan sebelum kesadarannya sepenuhnya menghilang, Hinata dapat mendengar samar-samar Naruto memanggil namanya.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Hinata membuka matanya dengan perlahan. Warna putih yang langsung mendominasi matanya, dia yakin kalau dia sedang berada di UKS. Tapi selain putih ada warna lain… Kuning?! Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir warna menyebalkan itu dari pikirannya. Yah, dia yakin dia sedang berhalusinasi sekarang.
"Kau sudah sadar?" tanya seseorang mengintrupsi serta membawa Hinata ke alam sadar, bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. Namikaze Naruto tengah duduk di samping ranjangnya.
"Ya," jawab Hinata singkat kemudian bangkit dari posisinya yang terbaring, walaupun sebenarnya kepalanya masih terasa pusing, tapi dia tidak ingin lebih lama lagi di dekat bocah Namukaze ini.
"Kau sebaiknya istirahat dulu. Kau masih belum sehat," suruh Naruto dengan tangannya yang menahan Hinata untuk turun dari ranjangnya.
Hinata menepis tangan Naruto kasar. "Apa perdulimu!" ucap Hinata dingin.
"Kenapa kau selalu membuatku kesal hah?!" Kali ini Naruto mengucapkannya dengan nada membentak, tidak seperti tadi. Dengan kasar, Naruto menghempaskan tubuh Hinata ke ranjang UKS.
Hinata memekik pelan.
Sedangkan Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi, dia rasa dia tidak bisa lagi untuk tidak mengatakan hal ini. "Jadilah milikku, Hyuuga!" ucap Naruto dengan suara parau. "Aku akan bersikap lebih baik lagi padamu, asal kau jadi kekasihku!"
.
.
-To be Continue-
.
.
Special Thanks To:
Hime Jasmine, TheBrownEyes'129, Hyuuga Divaa Atarashii, Ayzhar, dany, thiyazzhyugaa, ShinRanXNaruHina, anitaindah777, guest, uzumaki zhufar, dhapan9, Archiles, Manguni, Ookami-Taiyou, hakeriouss, uchiha kagami, Durara, Eigar alinafiah, NaruHina-Lover, hqhqhq, Bunshin Anugrah ET, Beetha, Uzumaki 21, ailla-ansory, 2nd princhass, meong-chan, JiihanFitrina-chan, minyak tanah, bohdongpalacio, alyazala, sinuza.
Cuap-cuap!
Sebenernya Menma suka sama Hinata / cuma ingin melindungi Hinata? Nanti bakal kejawab dengan sendirinya.
Apa Naruto luluh/nyesel lihat Hinata nangis? Dia akan lebih baik lagi ke Hinata? Sebenernya gak nyesel sih, karena memang dia punya alasan sendiri, cuma merasa bersalah. Kalau luluh, mungkin Naruto akan mencoba bersikap lebih baik ke Hinata. Tapi gak tahu juga sih, Naru kan labil.
Naruto bakal jadi pahlawan Hinata buat ngelawan Sasori? Kemungkinannya pasti iya, tapi masih ada Menma juga sih.
Kenapa Sara ada saat menjahili Hinata, padahal ane suka Sara, untung belum ada Shion yang dibuat jahat? Gomenasai, buat fans tokoh yang saya buat jadi tokoh antagonis. Tapi itu sudah tuntutan peran sih, harus ada yang antagonis dan protagonis. Dan soal Shion, sebenarnya sih… #senyum diam-diam
Romancenya mana? Kalau udah gak sabar nunggu romance NaruHina, sementara silahkan memilih alternative romance MenmaHina dulu #digeplak
Apa Hinata gak punya temen lain selain Menma? Dulu punya sih, tapi sekarang yang mau ngakuin Hinata sebagai temannya cuma Menma.
Kenapa saingannya Hinata belum muncul? Saat ini Hinata belum masuk tahap suka ke Naruto, masih benci. Jadi saingannya, gak ngefek juga sama Hinata, mungkin malah Hinata bersyukur karena 'perempuan' itu ngejauhin Naruto dari dia.
Naruto dibuat galau? Pastilah, ada saat-saat balas dendam, buat Naru galau.
Chapnya masih banyak? Belum tahu. Saya bukan tipe author yang langsung bisa nentuin jalan cerita sampai tamat, soalnya saya buat setiap part juga nyicil, dan kadang belum tahu cerita chap depan kayak gimana.
Naruto punya trauma masa lalu sehingga gak pandai ngungkapin perasaannya? Naruto gak punya trauma. Tapi dia punya alasan sendiri.
Endingnya NaruHina? Haduh, udah berapa kali saya jawab kalau PAIR ENDNYA NARUHINA?! Saya tahu kalian semua sayang banget sama pair NaruHina. Walaupun saya lebih cenderung ke Hinata-centric yang berarti suka semua pair Hinata dengan siapapun, tapi khusus untuk fic ini saya sengaja buat pair NaruHina. Hedeh, kayak gak percaya banget sama ucapan saya.
Siapa yang jadi pihak ketiga antara NH? Menma or Sasori? kayaknya dua-duanya sih.
Disini lebih kerasa MenmaHinanya? Entah kenapa kalau saya buat cerita yang punya tokoh utama pria─kedua (Menma), saya lebih cenderung ke pria kedua itu, lebih sayang gimana gitu. Mungkin karena pada akhirnya tokoh pria kedua (Menma) itu pairingnya sama saya #digetok, kan pair tokoh utama cowok pertama (Naruto) sama si tokoh utama cewek (Hinata).
Apa masih ada SasoHina di chap depan? Masih ada.
Gak ada Uchiha bersaudara? Uchihanya di sini Sasuke aja, tapi juga gak terlalu sering muncul, soalnya saya lebih focus ke 3 pemeran utamanya XD
Saya tidak menerima flame? Senernya saya gak mau bahas sih, takut salah ngomong lagi. Tapi kalau saya gak nerima flame, kayaknya gimana banget gitu, merasa tulisan saya udah sempurna. Tapi jujur saya saya sebagai penulis, saya gak ngarepin dapat flame. Gak nerima sama gak ngarepin, beda lho…
Naru berbuat seperti itu agar lebih dekat dengan Hinata? Kurang lebih sih begitu.
Sekian cuap-cuap dari saya, dan sekarang saatnya saya menunggu Review-Review dari kalian. Jadi monggo di Review... XD
