"Kenapa kau selalu membuatku kesal hah?!" Kali ini Naruto mengucapkannya dengan nada membentak, tidak seperti tadi. Dengan kasar, Naruto menghempaskan tubuh Hinata ke ranjang UKS.
Hinata memekik pelan.
Sedangkan Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi, dia rasa dia tidak bisa lagi untuk tidak mengatakan hal ini. "Jadilah milikku, Hyuuga!" ucap Naruto dengan suara parau. "Aku akan bersikap lebih baik lagi padamu, asal kau jadi kekasihku!"
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
My Fox Devil
Desclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rated: T
Warning: Bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, ide pasaran! Little bit Hinata-centric, flat, DLL
.
.
Check it Out!
.
.
Hinata mendongak, melihat Naruto yang tengah menatapnya dengan tatapan yang baru pertama kali Hinata lihat. "Berhenti membual Namikaze!" Hinata berdiri, melangkah mendekati sang Namikaze bungsu. "Apa ini cara barumu untuk mempermainkanku lagi?! Menjadi kekasihmu? Mungkin itu adalah mimpi terburukku!"
"Apa artinya kau menolak penawaranku?"
"Kurasa kau sudah cukup pintar untuk menyimpulkan perkataanku tadi." Hinata melihat Naruto yang tiba-tiba terdiam. Dia dapat melihat wajah tan Naruto yang penuh luka dan meninggalkan bekas berwarna biru. 'Apa mungkin ini yang membuat si brengsek itu bersikap aneh hari ini padaku? Mungkin karena kepalanya ikut terpukul sesuatu,' batin Hinata.
"Kenapa?"
Hinata mengernyit. "Kenapa? Bukankah seharusnya yang bertanya seperti itu adalah aku! Apa kau belum puas dengan semua sikapmu padaku?" Hinata menatap Naruto dengan tatapan penuh kebencian. "Apa tujuanmu menjadikanku kekasihmu adalah untuk membuatku lebih menderita dari apa yang telah kau lakukan sekarang?! Namikaze, kau benar-…"
Ucapan Hinata spontan berhenti ketika pemuda berambut blonde di depannya tiba-tiba memeluknya dan mendekap Hinata dengan erat.
"Hey!" teriak Hinata karena mendapat perlakuan yang cukup membuatnya kaget dari Namikaze Naruto. "Apa yang kau lakukan Namikaze?! Lepaskan aku!" ucapnya dengan tubuh yang memberontak, mengoyang-goyangkan tubuhnya untuk terlepas dari kungkungan Naruto.
Naruto yang mendapat perlakuan seperti itu, bukannya melepaskan Hinata tapi malah memperat pelukannya. Menenggelamkan kepalanya di bahu perempuan berambut panjang yang tengah dipeluknya sambil menghirup aroma lavender yang menguar dari tubuhnya.
DEG!
Sesaat Hinata membelalakkan matanya, ketika jantungnya tiba-tiba berdetak kencang untuk merespon perlakuan Naruto. 'Ada apa ini?' Hinata tidak mengerti ketika dia tidak dapat menolak perlakuan Naruto yang satu ini. Entah kenapa Hinata merasa pelukan Naruto seperti menyuruhnya untuk tetap tinggal dan tidak pergi dari sisinya. Dari semua pelukan yang pernah didapatnya, inilah pelukan yang terasa sangat membingungkan bagi Hinata. Pelukan ini terasa seperti Naruto tengah menumpahkan semua perasaannya pada Hinata, dan Hinata tidak tahu persis perasaan apa itu. Tapi yang Hinata tahu pelukan ini terasa, em… benar?!
Dekapan Naruto semakin merengang, tapi anehnya Naruto sama sekali tidak beranjak dari posisinya. Sedangkan Hinata merasakan beban tubuh Naruto yang semakin berat. "H-hey Namikaze," panggil Hinata karena sepertinya sudah tidak sanggup lagi menahan berat tubuh Naruto. "Bisakah kau menjauh."
"…" Naruto sama sekali tidak menyahut. Badannya juga tak kunjung bergerak.
"Namikaze, hey?!" Hinata mengerakkan kepalanya ke samping untuk melihat kepala Naruto yang tengah menyender di bahu kanannya. Hinata semakin bingung melihat mata Naruto yang terpejam. "Namikaze! Jangan bercanda, ada apa denganmu?!" teriak Hinata setengah panic.
Karena tidak juga mendapatkan respon dari Naruto, Hinata segera menopang tubuh Naruto menggunakan ke dua tanganya dan dengan perlahan membawa Naruto ke ranjang yang beberapa saat lalu sempat ditempatinya. Hinata menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Naruto. "Panas sekali. Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya?" gumamnya. Hinata segera beranjak guna mencari sesuatu untuk mengkompres Naruto. Entah apa yang membuatnya tidak tega membiarkan Naruto dalam keadaan seperti ini, terlepas semua perlakuan buruk Naruto kepadanya.
Hinata menatap penuh arti kepada Naruto yang masih tampak terpejam, entah tidur ataupun pingsan, Hinata tidak tahu. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Hinata tanpa sadar. Hinata tahu kalau dia sangat membenci pemuda yang tengah terbaring di depannya. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri kalau ada perasaan aneh yang tiba-tiba datang. Perasaan yang masih belum bisa ia definisikan sampai sekarang. Perasaan yang baru pertama kali dirasakannya, tapi anehnya Hinata sama sekali tidak berusaha menyingkirkan perasaan yang menurutnya sangat mengganggu itu.
Secara tidak sadar, tangan Hinata terangkat untuk menyentuh helaian kuning itu, sebelum dering telephone menginterupsinya. Hinata tersenyum kecil melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya. Tou-sannya menelephone. Dan Hinata baru sadar kalau hari ini adalah ahir minggu, mungkin Tou-sannya akan memberitahukan kalau nanti malam dia akan pulang. "Moshi-moshi Tou-san," ucap Hinata senang.
Orang di seberang telephone menyahut, tapi Hinata yakin ini bukan suara Tou-sannya. "Halo Nona? Apakah kau putri dari pemilik ponsel ini?"
"Y-ya," jawab Hinata sedikit ragu. "Tuan siapa? Di mana Tou-san saya?"
"Ano, Nona Tou-san anda sekarang berada di rumah sakit." Sedetik setelah mendengar kabar itu Hinata merasakan firasat buruk tentang Tou-sannya. "Tou-san anda menjadi korban tabrak lari karena menyelamatkan seorang gadis kecil. Bisakah Nona segera ke sini, keadaannya sekarang kritis."
Hinata merasakan jantungnya berdetak dengan cepat, dan seluruh tubuhnya bergetar. "Kumohon jangan lagi Kami-sama," gumam Hinata yang terdengar seperti bisikkan. Dia takut hal buruk terjadi pada Tou-sannya, bagaimanapun hanya Tou-sannya satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
Dengan kaki yang masih bergetar, Hinata berdiri. Sesaat dia menoleh ke arah Naruto yang kedua matanya masih terpejam. Setelah itu dia melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada keadaan Tou-sannya.
Setelah langkah Hinata tidak terdengar lagi, Naruto membuka matanya perlahan yang masih terasa berat. Sebenarnya dari tadi, Naruto dalam keadaan sadar. Tidak tidur ataupun pingsan sama sekali. Tapi karena dia merasakan merasakan kepalanya yang sangat pusing ditambah lagi suhu tubuhnya yang meningkat, akhirnya Naruto memilih menenggelamkan kedua mata shappirenya di dalam kelopak matanya yang terasa berat dan tubuhnya juga mendadak lemas. Mungkin ini efek dari perkelahianya kemarin dengan Sasuke dan Gaara.
Naruto mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Tapi semakin ia memaksakan untuk bangkit, kepalanya makin terasa pusing, dan akhirnya Naruto memilih kembali pada posisi tidurnya tadi. "Sial," runtuk Naruto kesal karena saat genting seperti ini, kondisinya malah tidak mendukung untuk menyusul Hinata.
Naruto merogoh sakunya, mengeluarkan handphonenya dan kemudian menghubungi seseorang. "Shikamaru, bisakakah kau ke UKS secepatnya? Aku butuh bantuannmu."
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Hinata dari tadi terus melangkah kakinya mondar-mandir di depan ruang UGD sambil mengigit jarinya. Sesekali dia bergumam, memanjatkan doa untuk Tou-sannya yang saat ini tengah ditangani dokter. "Kumohon Kami-sama, semoga dia akan baik-baik saja."
Hinata segera menoleh ketika mendengar pintu berdecit. Dengan wajah yang penuh kekhawatiran, Hinata menghampiri seorang dokter perempuan berjas putih dengan rambut blondenya. "Bagaimana keadaan Tou-san saya Dokter?" tanya Hinata was-was.
Dokter yang diketahui bernama Tsunade dari name tagnya itu menyeka keringat yang membasahi pelipisnya. Kemudian menghela nafas lelah. "Maaf, tapi sepertinya Hyuuga-san harus segera dioperasi Nona. Organ dalamnya mengalami kerusakan karena benturan keras yang dialaminya," ucap Tsunade berhati-hati.
Pundak Hinata melemas. "Operasi?" tanya Hinata yang dibalas anggukan pelan Tsunade. "Berapa biaya yang dibutuhkan?"
"Sekitar lima puluh juta ryo Nona."
"Sebanyak itukah?" Kali ini Hinata merasakan kedua kakinya melemas, sehingga dia tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya dan jatuh terduduk di kursi tunggu. Hinata tahu kalau dia tidak mendapatkan uang itu segera, berarti ayahnya juga akan lebih lama lagi menderita dan bisa saja tidak tertolong. Tapi…. Uang sebanyak itu, dari mana ia harus mendapatkannya dalam waktu singkat.
"Sekali lagi, maaf Nona. Tapi tuan Hiashi harus segera ditangani."
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Dengan langkah gontai, Naruto melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit. Sesekali dia berhenti untuk mengatur nafasnya yang terasa berat karena suhu nafasnya yang meningkat mengikuti suhu tubuhnya. "Brengsek!" umpatnya pelan, dia benci merasa seperti kakek tua yang lemah. Dan dia menyesal karena tidak menuruti Kaa-sannya ketika menawarkan untuk mengobatinya kemarin. Beruntung Shikamaru yang jenius itu tadi segera datang menolongnya, memberikan obat yang cukup ampuh untuk sedikit meredakan pusingnya walaupun sebenarnya kondisinya masih cukup parah untuk menyusul Hinata.
"Naruto," panggil seseorang yang lansung menghampiri Naruto. "Kau sakit? Tidak biasanya kau kemari untuk berobat," ucap wanita itu sambil menyentuh kening sang cucu yang terlihat pucat.
Naruto mendongak, menatap neneknya yang walaupun sudah berumur masih terlihat cantik. "Tidak," jawabnya singkat. "Aku ingin menemui seseorang."
Tsunade mengernyit bingung. Kemudian mengamati cucu laki-lakinya yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Melihat itu Tsunade teringat dengan gadis seumuran Naruto yang juga menggunakan seragam sekolah yang sama dengan Naruto. "Kau mencari seorang gadis Hyuuga?"
"Dimana dia sekarang?" tanya Naruto tanpa menjawab pertanyaan Tsunade.
Tsunade mendengus kesal. Cucunya yang satu ini sama sekali berbeda dengan adik kembarnya yang ramah dan sopan. "Mungkin dia masih di depan ruang UGD. Dia kebingungan karena biaya operasi ayahnya."
Naruto yang akan segera melangkah meninggalkan Tsunade terhenti karena mendengar perkataan Ba-sannya itu. Naruto menggerakkan badannya menghadap Tsunade. "Bisakah Ba-san membantuku? Tolong segera tangani Hiashi-san. Untuk urusan biayanya, aku akan menanggungnya."
Tsunade menautkan kedua alisnya. Baru kali ini dia mendengar Naruto meminta tolong kepadanya. "Hey?! Sepertinya kau benar-benar sakit Naruto. Setelah ini kau harus segera diobati," Tsunade sedikit berteriak kepada cucunya yang berjalan menjauhinya tanpa sedikitpun merespon teriakan Tsunade.
~[ My Fox Devil ]~
Samar-samar Naruto dapat mendengar suara isakan kecil dari mulut Hinata. Tak jauh darinya terlihat Hinata yang duduk di salah satu kursi dengan kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya.
Perlahan Naruto berjalan mendekati Hinata kemudian duduk di sampingnya, sedangkan Hinata sama sekali tidak menyadari keberadaan Naruto. Sesaat Naruto meringis, entah karena merasakan pusing dikepalanya ataupun karena kondisi badannya yang kesakitan karena nyeri akibat pukulan Gaara dan Sasuke baru berefek sekarang. Tapi sepertinya itu hanya sebentar karena Naruto segera merengkuh pundak Hinata. Merengkuh perlahan Hinata yang tubuhnya bergetar karena menangis. Naruto mengelus lembut untaian surau indigo panjang sang gadis.
Hinata yang merasakan tiba-tiba ada seseorang memeluknya, hanya bisa diam, karena sesungguhnya saat ini dia sedang sangat membutuhkan sandaran. Hinata sebenarnya sudah tahu kalau yang sedang memeluknya saat ini adalah sang Namikaze. Aroma citrus, dada bidang dan hawa panas yang menguar dari tubuh Naruto karena kondisinya yang memang tidak baik sudah memberi bukti kepada Hinata. Hinata tidak tahu, entah mengapa saat ini dia sama sekali tidak merasa takut terlihat lemah di hadapan orang lain, meskipun orang itu adalah Namikaze Naruto.
Selama beberapa saat mereka bertahan dalam posisi itu. Hening. Tidak ada dari kedua orang itu yang mengucapkan sepatah katapun. Naruto sama sekali tidak mengatakan apapun, tidak sekedar meminta Hinata untuk lebih tenang, mengucapkan rasa prihatinnya, atau mengatakan apapun yang memotivasi Hinata untuk lebih kuat. Tapi Hinata dapat merasakan sejuta kata-kata yang dibutuhkan hanya dengan merasakan setiap sentuhan Naruto yang memberikan rasa aman kepadanya.
Hinata melepaskan pelukannya ketika dirasanya suhu tubuh Naruto semakin meningkat. Hinata menatap khawatir pada Naruto yang masih duduk di sampingnya sambil memejamkan matanya. "Kau baik-baik saja?"
Naruto hanya diam, sama sekali tidak memberikan respon apapun pada Hinata.
"Namikaze?" panggil Hinata takut-takut sambil menyetuh pelan bahu Naruto. Tapi Hinata langsung menarik tangannya kembali ketika tubuh tiba-tiba bergerak dan dalam sekejap kepala Naruto sudah berada di pangkuannya. "H-hey Namikaze apa yang…"
"Diamlah," ucap Naruto singkat dengan suara seraknya dan mata yang masih terpejam.
Seperti permintaan telak, secara ajaib Hinata menuruti perkataan Naruto untuk diam. Sesaat kemudian Hinata menengok ke arah koridor rumah sakit ketika dia mendengar suara beberapa derap langkah mendekatinya.
Tanpa menoleh sedikitpun ke Hinata, suster-suster berbaju putih itupun memasuki ruang UGD yang hanya terisi Hyuuga Hiashi. Hinata mengenyit bingung. Dia sangat ingin melihat apa yang sedang suster-suster itu lakukan pada ayahnya. Tapi karena posisi Naruto yang berada dipangkuannya ditambah lagi, tiba-tiba Naruto meraih salah satu tangannya mengenggamnya erat.
"Hyuuga-chan," panggil Tsunade yang sukses membuat Hinata mengalihkan pandangannya dari Naruto.
"Dokter," jawab Hinata sambil menundukkan sedikit kepalanya, memberi hormat. "Apa yang terjadi?" tanya Hinata dengan panic ketika dia melihat beberapa suster memindahkan ayahnya ke ruangan tepat di depan ruang UGD.
Tsunade tersenyum. "Kami akan segera mempersiapkan operasi untuk Hiashi-san."
"O-operasi?" tanya Hinata memastikan. "Tapi saya sama sekali belum bisa mendapatkan biayanya Dokter."
"Tidak perlu khawatir Hyuuga-chan. Semuanya sudah teratasi. Ada seseorang yang mungkin sedikit…" Tsunade menghentikan ucapannya sejenak sambil mengangkat tangannya kemudian membuat gerakan memutar di samping pelipisnya dengan menggunakan jari telunjuknya. "Kau tahu kan maksudku? Dialah yang telah membantumu."
Mata Hinata berkaca-kaca mendengarnya. Dia merasa terharu sekaligus bahagia mengetahui ada seseorang yang berhati malaikat yang telah membantunya menyelamatkan nyawa ayahnya. "Kalau saya boleh tahu, siapa orang itu Dokter?"
Senyum Tsunade semakin melebar. "Dia," ucapnya sambil menunjuk Naruto dengan menggunakan gerakan kepalanya.
Secara reflek Hinata melihat ke arah Naruto yang sepertinya tertidur di pangkuannya, terbukti dengan terdengarnya dengkuran halus. Hinata menatap Naruto dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana orang yang sering mempermalukannya dan berbuat berbagai perbuatan kejam kepadanya adalah malaikat yang bersedia menolong Ayahnya. "Ti-tidak mungkin Tsunade-san," ucapnya mengelak. Hinata menyadari kalau hari ini memang Naruto tidak seperti iblis Namikaze yang selama ini dikenalnya, tapi tetap saja, hal ini masih berada di luar logika Hinata.
"Dia cucu sulungku Hyuuga-chan," ungkap Tsunade. "Walaupun terkadang sifatnya yang tidak mudah ditebak tapi sebenarnya dia anak yang baik."
Hinata masih saja memandangi wajah tan yang masih menyembunyikan mata blue sapphirenya, sepertinya Naruto tidak terusik sama sekali dengan pembicaraan dua wanita berbeda usia di dekatnya.
"Sepertinya aku harus segera melakukan operasinya," pamit Tsunade. "Bisakah kau menjaganya Hyuuga-chan, kurasa dia memang benar-benar sakit," pinta Tsunade sambil memandang cucu kesayangannya.
"Hai'. Domo arigatou Tsunade-san."
Sepeninggal Tsunade suasana kembali hening. Hinata asyik dengan pikirannya sendiri tentang Namikaze Naruto. Hinata tahu kalau hari ini Naruto banyak menolongnya. Dimulai dari saat dia pingsan, lalu walaupun Naruto sedang sakit seperti ini entah karena apa Naruto datang ke rumah sakit kemudian dia bersedia menjadi sandaran Hinata, dan terakhir yang membuat Hinata tercengang, Naruto diam-diam melunasi biaya operasi ayahnya. Hinata tidak habis pikir, padahal orang berkulit tan ini jugalah yang pernah menumpahkan ramen di atas kepalanya, seenaknya menarik rambutnya dan menyebutnya sebagai peliharaan pribadinya, tak jarang juga dia mengatainya dengan sebutan-sebutan kasar seperti Hyuuga sialan, brengsek, bahkan jalang. Hinata sama sekali tidak dapat menebak isi dari kepala Naruto dan tujuan Naruto melakukan semua ini kepadanya.
Hinata melirik kedua tangan mereka yang masih bertautan. Hangat. Itulah rasa yang sama sekali tidak bisa ditampiknya.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu ruang operasi terbuka, menampakkan perempuan cantik yang terlihat lelah. Tsunade berjalan mendekati Hinata, karena dia tahu kalau Hinata tidak mungkin beranjak dari posisinya. "Operasinya berhasil Hyuuga-chan," ucap Tsunade sambil tersenyum. "Sepertinya Kami-sama mendengarkan doamu."
Hinata tersenyum lega. Bahunya yang tadi sempat menegang karena menunggu kabar tentang keadaan ayahnya saat ini mulai melemas. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu." Satu tetes air mata meluncur dari mata indah Hinata. Tapi hal itu bertolak belakang dengan wajahnya yang terlihat sangat bahagia, seperti sebuah beban berat berhasil terangkat dari tubuhnya.
Tsunade yang melihat itu juga ikut senang. Kemudian dia beranjak manatap Naruto. "Naruto! Bangun! Sampai kapan kau terus di sini hah?!" omel Tsunade sambil mengerak-gerakkan tubuh Naruto, berusaha agar membuat Naruto terbangun. "Kau harus pulang, Kaa-sanmu pasti mencemaskanmu."
Naruto terbangun. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia merasa jauh lebih baik daripada kondisinya tadi. Setelah nyawanya benar-benar sudah terkumpul, dia menatap Tsunade dengan tatapan malasnya. "Ada apa?"
"Ayo pulang, Khusina sudah menunggumu. Kau akan pulang bersamaku." Setelah itu Tsunade menatap Hinata. "Aku pergi dulu Hyuuga-chan. Kau bisa menemani ayahmu setelah dia dipindahkan ke ruang rawat inap."
Hinata hanya diam. Tidak terlalu mendengarkan ucapan Tsunade karena terlalu focus memperhatikan sulung kembar Namikaze.
Sedangkan Naruto hanya mengacak acak rambutnya dengan malas. Kemudian dia berdiri dan berniat untuk mengikuti Neneknya. Tapi langkahnya terhenti ketika dia mendengar seseorang memanggilnya.
"Tunggu Namikaze," ucap Hinata sedikit berteriak. "A-arigatou. Domo arigatou," katanya sambil membungkukkan sedikit badannya.
Naruto hanya diam. Sama sekali tidak berniat menjawab Hinata dengan posisinya yang masih membelakangi Hinata. Setelah dikiranya Hinata tidak akan mengucapkan sesuatu lagi, Naruto kembali meneruskan langkahnya. Tapi hanya berselang dua langkah, gadis Hyuuga itu kembali berucap.
"Apa yang dapat aku lakukan untuk membalasnya?" tanya pada Naruto. "Aku tidak bisa hanya mengucapkan terimakasih padamu tanpa melakukan apa-apa."
Sudut bibir Naruto terangkat. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk membalasnya Hyuuga." Kemudian setelah itu Naruto benar-benar pergi meninggalkan Hinata yang masih diam di tempatnya.
"Jadilah milikku, Hyuuga!" ucap Naruto dengan suara parau. "Aku akan bersikap lebih baik lagi padamu, asal kau jadi kekasihku!"
Hinata teringat ucapan Naruto sesaat dirinya sadar dari pingsannya. "Apa yang harus aku lakukan Kami-sama?"
.
.
-To be Continue-
.
.
Special Thanks To:
Khula chiiNH lover's, Hime Jasmine, Amaray Hyume, michinaru-nurarihyon, Guest(1), Bunshin Anugrah ET, TheBrownEyes'129, NaruHina-Lover, Guest(2), Durara, Reader, Me Yuki Hina, utsukushi hana-chan, Saus Kacang, dha-pan9, Eigar alinafiah, dony-dsahaja, chiaki arishima, Ayzhar, AnnisaIP, anita-indah777, Hyuuga Divaa Atarashii, Guest(3), Archiles, putchy-chan, meong chan, Belindattebayo1, karizta-chan, Beetha, 2nd princhass, andypraze, Jihanfitrina-chan, uzumaki zhufar.
Cuap-cuap!
Perjalanan cinta segitiganya masih panjang? Masih lumayan panjang ceritanya
Bakal happy ending? Tentu, kan bukan fic genre angst
Beneran bakal ada pihak ke tiga? Masih mikir, perlu apa enggak pihak ke tiganya karena sepertinya ceritanya 8anyak yang mlenceng dari prediksi saya.
Apa Hinata gak merhatiin wajah Naru yang lebam? Chap kemarin Hinata emang ogah banget bertatap muka sama Naru, sebisa mungkin gak kontak mata/wajah, jadi Hinata belum tahu dengan pemandangan wajah Naruto yang tampannya agak berkurang XD
Fic mirip/sama kayak cerita fic lain, cerita Drama Korea, dll? Kalau saya mau bilang beda, kayaknya juga nggak ngaruh juga, kalau dipikiran para readers-san bilang mirip/sama. Tapi saya gak akan ngelarang buat menyampaikan pendapat masing-masing. Dan saya meminta maaf mungkin ada yang gak berkenan dengan fic ini.
Menma suka sama Hinata? Saya gak mau kasih tahu dulu, nanti takut secretnya kebongkar :p
Ceritanya monoton? Kalo gak di sekolah, rumah, club? Settingnya tempatnya emang monoton, tapi ceritanya monoton kah? Lagi pula kalau saya nyeting tempat diluar angkasa nanti malah kesannya ngibul :p
Chap kemarin pendek? Padahal kemarin paling panjang diantara chap-chap sebelumnya
Sifat Naruto yang bad boy bakal terus gini setelah punya Hinata? Sifat Naru yang bad boy sih masih bakal terus ada, tapi mungkin jarang saya tunjukinnya. Dan dalam kasus chap kemarin, emang dibutuhin screen yang nunjukin bad boy yang lagi galau XD
