Hinata menghela nafas berat ketika dia sudah berada di depan salah satu teman sekelasnya itu. Dia melirik sebentar ke arah Namikaze Naruto yang terlihat sangat santai, dengan posisi duduk, menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya dan memejamkan matanya. Berbeda dengan dirinya yang merasa sangat frustasi karena harus menjawab "tawaran" yang diberikan pemuda itu kepadanya tempo hari. Hinata menghela nafas sekali lagi, entah sudah yang berapa kalinya ia menghela nafas pagi ini. 'Kenapa berat sekali?' runtuknya dalam hati. Hinata memang sudah memikirkan keputusannya ini semalaman penuh, tapi tetap saja mengutarakannya adalah sesuatu yang sulit untuk Hinata.

"Sampai kapan kau akan berdiri di situ dan diam saja hah?" keluh Naruto malas. "Kalau memang tidak ada urusan denganku, kau bisa pergi. Kau mengganggu tidur siangku!"

Hinata merengut kesal mendengar ucapan Naruto. Dia mengacak-acak frustasi rambut panjangnya yang sudah tertata rapi. "Baiklah," ucap Hinata pada akhirnya dengan nada berat. "Aku akan mengambil tawaranmu. Aku bersedia menjadi em…" Hinata ragu untuk meneruskan ucapannya.

Hinata menepuk-nepuk wajahnya. "Oh Kami-sama," keluhnya pelan. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kekasihmu. Aku akan menjadi kekasihmu, Namikaze," katanya lemas.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

My Fox Devil

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Rated: T

Warning: Bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, ide pasaran! Little bit Hinata-centric, flat, DLL

.

.

.

Hinata tahu kalau ia harus membalas kebaikan Naruto yang telah membiayai operasi Ayahnya. Dan hanya dengan melakukan hal inilah dia dapat membalasnya, karena tidak mungkin dia dapat membayar semua hutangnya kepada Namikaze sulung dalam waktu dekat.

Naruto tersenyum tipis ketika dia mendengar jawaban dari gadis bersurau indigo itu. Dia sudah menduga kalau Hinata akan menerima tawarannya, walaupun itu hanya sebatas balas budi saja. "Oh," jawab Naruto dengan intonasi datarnya, masih dengan posisi yang sama sekali tidak berubah dari posisi awalnya

Hinata berdecih kesal mendengar respon dari Naruto. Hinata berniat untuk sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Lagipula tidak ada untungnya untuk terus berada di dekat pemuda berkulit tan itu.

"Tidak ada yang menyuruhmu untuk pergi," ujar Naruto ketika Hinata baru saja membalikkan tubuhnya.

Dengan malas, Hinata kembali membalikkan tubuhnya menghadap Naruto, sambil mendengus kesal. "Bukannya tadi kau yang…"

"Tidak," potong Naruto cepat sebelum Hinata menyelesaikan kalimatnya.

"Baiklah," kata Hinata menyerah, dia berpikir tidak ada gunanya terus berdebat dengan Naruto. "Apa maumu sekarang?"

Naruto tersenyum menyerigai, dan Hinata bersumpah dia sangat membenci ekspresi Naruto yang satu itu. "Duduklah di sini." Naruto menepuk-nepuk bangku panjang tepat disampingnya yang sebenarnya masih muat di duduki oleh dua orang.

Hinata melangkahkan kakinya mendekati Naruto dengan setengah hati. Kemudian duduk perlahan di sampingnya. "Lalu sekarang apa lagi?" sedetik setelah Hinata bertanya, dia dapat melihat kepala dengan helaian rambut kuning sudah berada di pangkuannya. Hinata berdecak kesal dan memutar kedua matanya bosan, "lagi?" tanyanya entah pada siapa.

"Bangunkan aku sepuluh menit lagi," ucap Naruto sambil menguap pelan. Entah kenapa dia merasa tidur di pangkuan Hinata adalah tempat terbaik untuknya. Tak lama kemudian terdengar irama teratur darinya yang menandakan dia sudah tidur.

Hinata meringis geli ketika mengetahui sang Namikaze tertidur dengan begitu cepatnya. Tanpa sadar mata Hinata sama sekali tidak beralih ketika memandangi wajah damai dari Naruto yang sedang tertidur. Hinata mengakui kalau Namikaze blonde ini memang mempunyai wajah yang menawan, mungkin karena itulah Naruto mempunyai banyak penggemar yang memujanya. Ditambah lagi dengan keadaan yang seperti ini, wajah Naruto tampak seperti malaikat yang sangat rupawan. Perlahan tangannnya terangkat untuk menyentuh helaian surai halus milik Naruto. Hinata menyisir lembut rambut Naruto. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat, tersenyum lembut ke arah Naruto. 'Apa yang sudah kau buat padaku Namikaze?' tanya Hinata dalam hati.

Semua perilaku Naruto kepadanya dan sikapnya saat ini pada Naruto, sangat membuatnya bingung. Hinata tahu kalau sikapnya saat ini memang tidak bisa dibenarkan, tapi Hinata tidak bisa menahan sikap 'manis'nya kepada Naruto.

Hinata menghentikan aktivitas menyisir rambut Naruto kemudian menghela nafas lelah. Setelah itu dia menengok ke arah jam ditangannya peninggalan almarhum Kaa-sannya. Ini sudah lebih dari sepuluh menit, pikirnya. Hinata segera menggoyang-goyangkan pelan bahu Naruto untuk membangunkannya. "Bangunlah," ucap Hinata. Tapi sepertinya sang pemuda bermata shappire itu masih enggan untuk membuka matanya.

"Hey, Namikaze, cepat bangun!" Hinata sedikit menundukkan tubuhnya ke arah wajah Naruto kemudian menggoyang-goyangkan bahu Naruto lebih kencang.

Mata sebiru laut itu tiba-tiba terbuka, dan langsung bersibobok dengan amethyst milik Hinata. Untuk beberapa saat keduanya tertegun tak bisa berpaling dari mata indah sang rival. Mungkin kalau ada orang yang melihat sepasang remaja berbeda gender ini akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih yang hendak berciuman, karena posisi wajah Hinata dan Naruto hanya berpaut beberapa centi. Aktivitas saling memandang itu akhirnya selesai ketika Hinata mengangkat kepalanya dan langsung membuang mukanya dari Naruto.

Hinata dapat merasakan bahwa jantungnya berdetak sangat cepat setelah kejadian tadi. Hinata menarik nafas panjang, mencoba menetralkan debaran di dadanya yang menggila.

"Sudah sepuluh menit ya?" gumam Naruto kemudian bangkit dari posisi tidurnya. Dia bersikap biasa, seperti tidak terjadi apa-apa beberapa detik lalu. Naruto melirik kearah Hinata, kemudian tersenyum samar. "Kau baik-baik saja Hyuuga?" tanyanya.

"Ya," jawab Hinata tanpa menolehkan wajahnya, masih dengan posisi membelakangi Naruto.

Naruto mengangguk sekilas, walaupun tidak dapat dilihat oleh Hinata. Kemudian ia berdiri dan merenggangkan otot-ototnya. "Sekarang ayo!"

"Hm?" Hinata menoleh dan mengumam bingung.

"Kau akan tahu nanti," jawab Naruto singkat. Kemudian dengan sigap dia mengambil tangan Hinata lembut dan mengenggamnya erat, membawa Hinata untuk mengikutinya.

Baru saja selesai menetralkan detak jantungnya, Hinata disuguhi lagi syok terapi ketika Naruto tiba-tiba mengenggam tangannya. Dengan kondisi mereka yang sekarang berjalan saling beriringan, mata Hinata tidak bisa lepas memandang tangan mereka yang saling bertautan. Bahkan dia sampai tidak menyadari berpuluh pasang mata yang menatapnnya tidak suka kerena berani berdekatan dengan pangeran Namikaze.

Para gadis mendesah kecewa ketika melihat pemandangan tidak mengenakkan di depan mereka. mereka mungkin tidak akan selesu ini ketika melihat seorang gadis yang mengenggam tangan Naruto, tapi ini, Narutolah yang mengenggam tangan gadis itu. Tak sedikit juga yang menatap tajam dengan melemparkan pandangan benci kepada Hinata karena sebenarnya mereka sangat mengharapkan bisa berada di posisi Hinata saat ini.

~[ My Fox Devil ]~

Sekumpulan remaja pria itu memandang aneh kepada temannya yang baru saja datang dengan menggandeng seorang gadis yang tak lagi asing bagi mereka. Menurut mereka, Si sulung dari kembar Namikaze yang berperilaku sangat manis seperti itu kepada seorang gadis adalah pemandangan yang sangat langka bagi mereka.

"Apa ada yang kami lewatkan?" tanya Sasuke sambil menaikkan alisnya.

"Mungkin," jawab Naruto singkat kemudian langsung duduk di bangkunya dan menuntun Hinata duduk di sampingnya.

"Apa yang terjadi?" Kiba ikut-ikutan bertanya, karena jawaban Naruto sama sekali tidak membuat mereka puas.

"Kau bisa menanyakannya padanya." Naruto menunjuk Hinata menggunakan dagunya dengan menggerakkannya.

Hinata meruntuk dalam hati. Naruto memang selalu bisa menyiksanya walaupun dengan tindakan-tindakan kecilnya. Karena sebenarnya Hinata sama sekali belum siap mempublikasikan hubungannya dengan Naruto yang baru saja resmi beberapa menit lalu.

"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi Hinata?" tanya Kiba dengan nada ramah.

Hinata mengigit bibir bawahnya. Dia melirik ke arah Menma, mencoba memberi isyarat Menma supaya Menma dapat membantunya. Tapi yang Hinata lihat sekarang adalah Menma yang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, seolah-olah ikut mendukung Kiba, menyuruh Hinata menjawab pertanyaan dari mereka.

"Kami sudah…" Hinata masih sangat ragu untuk mengatakannya. Entah kenapa ini seperti dia sedang mengakui sebuah dosa besar yang telah dilakukannya.

"Ck! Cepatlah!" keluh Shikamaru sedikit kesal, karena dia sampai menahan rasa kantuknya hanya karena ingin mendengar ucapan Hinata.

Diam-diam Naruto tersenyum senang melihat Hinata yang merasa tertekan.

"Kami berpacaran," cicit Hinata pelan hampir seperti sebuah bisikkan, tapi cukup bisa didengar oleh orang-orang di sekitarnya.

"APA?!" Kiba berseru pertama kali dengan kerasnya.

Sasuke memasang ekspresi tidak percaya dengan apa yang didengarnya, walaupun sebenarnya dia sudah menduga cepat atau lambat ini akan terjadi.

"Begitukah?!" Gaara ikut bergumam.

"Merepotkan."

Sedangkan Naruto yang dari tadi terus menatap ke arah adik kembarnya dapat melihat ekspesi samar Menma yang berubah menjadi sulit diartikan setelah mendengar ucapan Hinata.

Setelah mengucapkan itu, Hinata menoleh menatap Menma yang berada tidak jauh di sampingnya. Hinata dapat melihat satu-satunya pemuda yang mau menganggapnya sebagai teman itu tersenyum ke arahnya. Tapi Hinata dapat melihat kali ini senyum Menma terkesan aneh, berbeda dengan biasanya.

"Benarkah? Selamat! Aku senang mendengarnya," ucap Menma kepada Hinata.

Hinata hanya mengernyit menyadari adanya sikap aneh dari Menma.

Menma melirik ke arah jam di tangannya. "Ah, sepertinya sekarang aku harus pergi sekarang." Menma bangkit dari tubuhnya dan mulai berjalan.

Para pemuda yang ada di sana hanya diam saja karena sudah hafal dengan kebiasaan Menma yang memang tidak akan betah terlalu lama berkumpul dengan mereka. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Hinata. Padahal dia merasa senang kalau Menma berada di sini, karena Hinata berpikir dia akan lebih memilih mengobrol dengan Menma daripada harus menghadapi sekumpulan pemuda keren yang aneh yang berada di sana. Tapi mengapa ketika Hinata baru tiba, Menma mendadak ingin pergi? Kalau boleh memilih Hinata lebih suka ikut pergi bersama Menma, tapi kelihatannya Menma yang tidak mengizinkannya untuk melakukan hal itu.

"Hey! Kau tidak ingin ikut denganku?" panggil Menma yang sudah berjarak cukup jauh dari mereka sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.

Hinata tersenyum tipis. Dia senang kalau pemikirannya salah, dia mengira kalau Menma memanggilnya dan mungkin ingin mengajaknya ikut dengannya.

"Ayolah Kiba, aku membutuhkanmu."

Seketika ada rasa kecewa yang dirasakan Hinata ketika mengetahui bahwa Kibalah yang ternyata dipanggil Menma, bukan dirinya.

Menma mengangkat buku yang dipegangnya tinggi-tinggi dan menggerak-gerakkannya, seolah buku itu adalah sebuah tulang yang digemari oleh anjing. "Hey boy, kemarilah."

Kiba yang mengerti maksud dari Menma langsung menyalak senang. "Wooft." Kiba langsung berlari mendekati Menma dan seolah menjilatinya.

Menma terkekeh. "Good job boy," ucapnya sambil mengacak-acak rambut coklat Kiba.

Hinata seolah melupakan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya dan ikut tertawa melihat pamandangan di depannya.

Sedangkan yang lainnya, banyak yang mendengus geli melihat tingkah konyol kedua temannya.

"Dasar kembar konyol," ucap Gaara ringan, yang sangat dibenarkan oleh Shikamaru dan Sasuke.

Hinata melirik sekilas ke arah Gaara. Mungkin sedikit banyak yang diucapkan Gaara ada benarnya. Kalau ada yang tidak mengenal Kiba dan Menma mungkin mereka juga akan berpendapat mereka adalah saudara kembar yang sangat akrab. Apalagi dari segi fisik mereka cukup mempunyai banyak persamaan. Dari kulit tan, rambut jabrik dan warna rambut yang sama-sama gelap. Sepertinya Menma memang lebih cocok menjadi kembaran Kiba daripada Naruto.

Ketika pandangan Hinata tidak sengaja mengarah kepada Naruto, dia dapat melihat pandangan dingin pemuda pirang yang mengarah pada punggung Menma dan Kiba. Hinata dapat merasakan padangan tidak suka yang diberikan pada Namikaze sulung itu pada si Namikaze bungsu.

Hinata semakin menautkan alisnya, tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi antara si kembar ini. Dia selama ini memang tidak terlalu memperhatikan interaksi antara kembar Namikaze. Tapi dapat dia lihat, Menma sangat menyayangi kakaknya─Naruto. Mungkin dia tidak harus terburu-buru menyimpulkan kalau kedua pemuda itu mempunyai hubungan baik hanya karena Menma terlihat sangat meyayangi kakaknya.

.

~[ My Fox Devil ]~

.

"Kau menyukainya?" tanya Kiba kepada Menma yang berada di sampingnya. Mereka sekarang sedang berada di taman belakang sekolah yang jarang dikunjungi oleh siswa-siswi KHS. Menma sedang membaca bukunya yang entah apa judulnya, sedangkan Kiba asik membelai lembut bulu anjing kesayangnya─Akamaru. Kiba memang sering diam-diam menyelundupkan anjing ke sayangannya itu ke sekolah. Walaupun dia tahu ini tindakan illegal tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa jauh-jauh dari Akamaru.

"Kau tidak bisa berbohong dariku, Menma. Ekspesimu ketika mendengar pengakuannya, tidak bisa kau sembunyikan dengan baik." Kiba menangkat anjing kecilnya ke atas, sambil melirik Menma yang tidak kunjung menyahut.

"Ini terlalu cepat untukku." Menma menutup bukunya dan memandang lurus ke depan. "Aku tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. Tapi aku tidak menyangka Nii-san akan bertindak secepat ini."

"Kalau kau menyukainya kenapa kau tidak menyatakan lebih awal kepadanya? Kau bisa mendapatkannya sebelum Naruto, dan mungkin… ah tidak, aku yakin dia akan lebih memilihmu daripada Naruto."

Menma tersenyum kecut mendengar ucapan sahabatnya itu. "Ini bukan soal perasaanku, ataupun siapa yang akan dipilih dia, Kiba. Ini jauh lebih dalam. Dia memang dari awal milik Nii-san. Mungkin dia tidak menyadarinya, tapi suatu saat nanti dia akan sadar. Dan perasaanku tidak akan berarti lagi."

Kiba hanya terdiam mendengarkan ucapan Menma. Mungkin saat ini yang hanya bisa dia lakukan hanyalah menjadi pendengar yang baik untuk Menma dan tetap di sisi Menma.

Menma yang sedari tadi memandang lurus ke depan, menoleh ke arah Kiba kemudian tersenyum, lalu Menma mengarahkan pandangannya ke Akamaru. "Hey Akamaru. Sepertinya aku membawakan sesuatu kesukaanmu," ucapnya sambil merogoh kantung celananya. Menma mengeluarkan sosis dan langsung memberikanya kepada Akamaru.

Akamaru tentu saja senang, dia segera memakan sosis yang berada di telapak tangan Menma yang sudah potong beberapa bagian.

Sedangkan Kiba hanya menatap Menma dengan pandangan kagum. Sahabatnya yang satu ini memang ahli memakai topeng, menyembunyikan perasaannya sendiri kepada semua orang termasuk kepadanya.

.

~[ My Fox Devil ]~

.

Hinata melihat sekeliling koridor sekolah yang sudah tampak sepi. Ketika bel berbunyi tadi, dia langsung berlari ke kamar mandi dan meninggalkan tasnya yang masih berada di kelas. 'Apa aku selama itu?' tanyanya dalam hati. Padahal menurutnya dia hanya sebentar, tapi kenapa setelah keluar dari kamar mandi hanya satu atau dua siswa yang dilihatnya.

Buk!

Ketika Hinata tengah mengedarkan padangannya ke segala sudut koridor, tidak sengaja dia menabrak seseorang. Dan Hinata hampir saja limbung karena kehilangan keseimbangannya kalau saja orang tersebut tidak segera memegangi kedua lengannya. Hinata mendongak, ingin tahu siapa orang yang masih saja memeganginya walaupun saat ini dia sudah bisa menjaga keseimbanganya. "Ah, Akasuna-san," ucap Hinata dengan sedikit terkejut. Hinata sempat berpikir kalau dia tidak harus berhadapan dengan pemuda bersurau merah itu lagi, tapi ternyata takdir berkata lain.

Akasuna Sasori tersenyum menyerigai menatap Hinata yang lebih pendek darinya, dan seketika Hinata dapat merasakan firasat buruk yang membayanginya. "Hyuuga."

"Gomen ne Akasuna-san. Aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu. Dan terimakasih karena sudah menolongku agar tidak terjatuh. Sekarang bisakah kau melepaskanku?"

Sasori sama sekali tidak menghiraukan ucapan Hinata dan malah mengeratkan pegangannya kepada kedua bahu Hinata. "Aku mendengar kalau kau menjalin hubungan dengan Namikaze Naruto. Apa itu benar?" tanyanya sambil menatap tajam Hinata.

Hinata sedikit terkejut ketika mendengar Sasori sudah mengetahui hubungannya saat ini dengan Naruto. Padahal dia mengira kalau yang mengetahui hal itu hanya teman-teman Naruto saja. Dan Hinata sama sekali tidak tahu kalau berita ini akan menyebar begitu cepat. "Akasuna-san─"

"Kupikir kau akan lebih memilih Namikaze berambut gelap daripada si pirang itu."

Hinata semakin mengernyit bingung ketika mendengar arah pembicaraan pemuda di depannya. Tapi belum selesai dengan perasaan bingungnya, Hinata merasakan kalau tubuhnya didorong oleh Sasori sehingga saat ini dia terpojok di salah satu sudut dan tidak bisa pergi kemana-mana lagi. "Apa yang kau lakukan?!" pekik Hinata yang mulai panic.

Sasori tersenyum miring dan semakin mengeratkan pegangannya. "Aku tidak suka mendengarnya. Aku tidak suka kalau sesuatu yang sudah lama ku incar direbut orang begitu saja."

"Apa maksudmu?! Lepaskan aku." Hinata sudah tidak bisa lagi berpura-pura menjaga sopan santun di depan Sasori, dia mulai berotak ketika Sasori mulai mendekatkan wajahnya.

Seringai Sasori semakin melebar. Kali ini dia tidak akan mengulangi peristiwa di bar. Dia sudah mengamati Hinata cukup lama dari jauh. Sasori tahu kalau gadis Hyuuga ini mempunyai kemampuan bela diri yang tidak bisa diremehkan. Oleh karena itu dia harus berhati-hati dan harus mengeluarkan kekuatan ekstra hanya untuk mengunci pergerakan Hinata.

Hinata semakin panic. 'Sial' umpatnya dalam hati. Seharusnya dia lebih ekstra berhati-hati kalau berdekatan dengan pemuda merah ini. Dia bukan gadis bodoh yang tidak mengetahui apa yang akan dilakukan Sasori kepadanya. Hinata sangat yakin kalau Sasori akan menciumnya secara paksa. Dan dia sangat tidak mau kalau harus menyerahkan ciuman pertamanya kepada pemuda brengsek seperti Sasori.

Jarak antara Hinata dan Sasori tidak lebih dari lima centi. Saat ini bahkan Hinata dapat merasakan hembusan nafas Sasori. Hinata memejamkan matanya karena merasakan jarak mereka semakin dekat.

Sedangkan Sasori tersenyum menang ketika melihat Hinata yang sekarang sudah berhenti memberontak dan hanya bisa pasrah. Hanya tinggal satu centi lagi, Sasori akan bisa melumat bibir ranum milik Hinata. Sedikit lagi, pikirnya.

Bukk!

"Argh!" teriak Sasori sambil memegangi daerah selangkangannya. "Brengsek! Apa yang kau lakukan?" jerit Sasori karena merasakan nyeri pada aset masa depannya yang beberapa detik lalu sukses ditendang Hinata menggunakan lututnya.

Hinata membuka matanya sambil mengatur nafasnya yang tidak teratur karena kejadian yang mungkin saja akan menjadi mimpi buruk seumur hidupnya kalau saja dia tidak bertindak sigap. "Aku hanya mencoba menyadarkanmu," ucapnya dengan nada santai.

Sasori semakin geram. Wajahnya memerah padam entah karena marah atau menahan rasa sakit. "KAU─"

"Hyuuga," panggil seseorang di belakang Sasori dengan tiba-tiba yang seketika memotong ucapan Sasori. Seseorang itu tersenyum ke arah mereka, lebih jelasnya ke Hinata. "Aku mencarimu kemana-mana."

Sasori mendengus sebal. Rupanya sang pahlawan kesiangan datang di waktu yang tidak tepat. Sasori melepaskan pegangan tangannya di daerah selangkangan dan mulai berdiri dengan tegap sambil menatap sinis ke seseorang yang tidak jauh darinya. Dia mencoba menyembunyikan rasa ngilu yang sebenarnya masih sangat dia rasakan dengan wajah coolnya.

Sementara Hinata bernafas lega, setidaknya sekarang dia punya alasan untuk pergi dari si bocah merah menyeramkan itu. Hinata melangkahkan kakinya mendekati pemuda berkulit tan itu.

Sedangkan Naruto yang sebenarnya sudah cukup lama berada di sana dan menyaksikan aksi kurang ajar Sasori kepada 'gadisnya' sejujurnya sudah sangat murka kepada pemuda Akasuna itu. Naruto tadi sebenarnya ingin segera memukul Sasori dan langsung menjauhkannya dari Hinata. Tapi ketika melihat perlawanan yang Hinata berikan kepada Sasori ketika Sasori hendak menciumnya, Naruto hanya bisa tersenyum bangga kepada Hinata. Dari dulu Naruto memang tidak pernah meragukan Hinata sebagai gadis yang tangguh, dan sangat kuat dari segi apapun itu.

Naruto menarik pelan tangan Hinata, supaya gadis bermata amethyst itu lebih dekat dengannya. Kemudian dia menepuk-nepuk pelan puncak kepala Hinata, tapi anehnya Naruto melakukan itu dengan ekspresi biasa. Sama sekali tidak tersenyum seperti saat dia memanggilnya beberapa saat lalu.

Walaupun begitu Hinata sempat tertegun karena mendapat perlakuan seperti itu dari Naruto. Hinata dapat merasakan semburat merah tipis yang entah sejak kapan sudah menjalar di kedua pipi chubynya, ditambah lagi debaran jantung yang seakan-akan ingin melompat keluar dari dalam tubuhnya. Saat ini Hinata baru menyadarinya. Menyadari kalau semua perkataan Namikaze pirang itu tidak sekedar bualannya saja. Sejak mereka meresmikan hubungan mereka beberapa saat lalu, memang sikap Naruto sangat berubah drastis padanya. Naruto yang sekarang lebih bersikap baik, lebih lembut dan semua perlakuan baru Naruto kepadanya cukup membuat Hinata merasa terganggu dengan perasaan aneh yang tiba-tiba datang sebagai respon dari perlakuan Naruto kepadanya.

"Apa aku menganggu acaramu dengan senpai merah itu?" tanya Naruto sambil melirik sekilas ke Sasori yang sepertinya masih memasang wajah kesal. "Tapi sepertinya kita harus segera pergi." Naruto menarik Hinata untuk berjalan menjauh dari sana. Dan tanpa Hinata tahu, Naruto saat ini tengah meleparkan senyum hinaannya kepada Sasori.

Sasori berdecih, lalu mengumpat ketika melihat sang Namikaze sulung seolah tengah mengoloknya. "Brengsek kau bocah sialan," ucapnya yang pasti tidak dapat didengar lagi baik oleh Naruto maupun Hinata karena jarak mereka yang sudah cukup jauh. "Kita lihat saja siapa yang akan menangis pada akhirnya."

.

~[ My Fox Devil ]~

.

"Kita mau kemana? Kau tahu kalau aku harus segera ke rumah sakit untuk menemani ayahku." Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil Naruto. Tapi pemuda bersurau pirang itu sama sekali belum membuka pembicaraan sejak mereka meninggalkan Sasori di koridor tadi.

"Ini tak akan lama. Setelah itu aku akan langsung mengantarmu ke rumah sakit," jawab Naruto. Setelah itu suasana menjadi hening kembali. Tidak ada yang ingin membuka obrolan di antara mereka. Sampai Naruto menghentikan laju mobilnya di depan sebuah gedung sekolah.

Hinata mengikuti Naruto turun dari mobil. Dia dapat melihat kalau Naruto menghampiri anak laki-laki yang mirip dengannya, mempunyai mata shappire dan bersurau pirang. Hinata mengernyit bingung. Bukankah hanya Menma saja adik dari Naruto?

.

.

-To be Continue-

.

.

A/N:

Gomen ne lama updatenya. Entah kenapa saya semakin minder buat nerusin fic ini, karena saya akui kalau fic saya ini idenya pasaran, banyak banget diobral di pasar. Apa lagi sekarang banyak fic-fic dengan alur dan cerita yang W.O.W, dan itu membuat saya semakin mengkeret.

Dan ini udah chap 7, sedangkan tokoh pihak ke tiga cewek yang kemungkinan besar saya munculin, belum muncul-muncul juga sampai sekarang (kemungkinan baru muncul di chap depan). Ditambah lagi konfliknya juga belum nonggol. Entah berapa part lagi ini endnya, kayaknya sih masih panjang. Gimana ini? Semoga saja readernya gak pada kabur karena saking lamanya nungguin END.

Yang terakhir saya ucapkan terimakasih buat yang masih setia baca, review, fav, follow, fic ini #tebar cium jauh

Special Thanks To:

TheBrownEyes'129, hanafid, ayudiadinda-dewi, Karizta-chan, sin hye jung, Hyuuga Diva Atarashii, Bunshin Anugrah ET, Yui Kazu, Uzumaki Shizuka, HanaHimeLovers8, Namikaze TrueBlue PraZumaki, 7th ChocoLava, hanazonorin444, Kyu Gu Neuf, ranggagian67, tika-chandra-92, Guest(1), ShinRanXNaruHina, uchiha kagami, mikuru12, Amu B, Mirai-23, Yuho Yasumi, Durara, Mr. Acoustic, JihanFitrina-chan, Eigar alinafiah, Guest(2), Archiless, Beetha, phoenix, NaruHina-Lover, dha-pan-9, Ayzhar, 2nd princhass, Khula chiiNH lover's, utsukushi hana-chan, sahwachan, arip-scarlet, Hime Jasmine, meong chan, bohdong-palacio, Uzumaki 21

Cuap-cuap!

Jangan buat Naruto kasar sama Hinata ya? Mungkin part ini dan kedepannya kadar "kasar"nya udah banyak berkurang

Kalau orang ketiga kayaknya udah membosankan menurutku, cari yang yang baru aja? #mikir

Chapnya kependekan? Dua chap kemarin saya udah update 2500k+ (ceritanya aja, gak pakek cuap-cuap, dll) lo, kenapa masih kurang aja? Dan part ini 3000k+, semoga gak ada yang minta tambah.

Hinata bakal nerima Naruto karena balas budi atau suka? Kayaknya udah terjawab di chap ini

Typonya chap kemarin nambahin polusi mata? Emang iya sih, hehehe #nyengir. Soalnya chap kemarin langsung saya update gak sempet ngedit, keburu kuliah #eleh-alesan, tapi udah saya perbaiki kok. Dan untung saja gak ada yang review tentang typo pake caps lock jebol.

Menma cemburu gak ngelihat mereka pacaran? #lirikMenma

Konfliknya jangan terlalu hard ya? Sayangnya saya udah nemu konflik yang cocok dan em… lumayan hard sih, soalnya genre hurt/comfortnya harus dapet dikonfliknya. Lagi pula saya suka fic yang bikin nyesek krenyes-krenyes gimana gitu, daripada yang banyak flufnya, dan saya coba bikin yang seperti itu, entah selama ini ficnya udah nyesek krenyes-krenyes apa belum.

Hinata suka Menma? apakah ada deskripsi saya yang nunjukin Hinata suka Menma?

Kapan NH pacaran? Tuh udah

Sifat Hinata bakal kayak gini atau bakal balik ke sifat pemalu? Sifat asli Hinata di fic ini emang udah gitu dari sononya, beda sama di canon. Jadi gak ada Hinata yang malu-malu dan pengugup. Kalaupun mungkin nanti ada adegan malu-malu atau gugup, itu sih karena sifat spontanitas aja.

Tambahin pihak ke tiga cewek, jangan cowok melulu, biar adil? Sebenarnya alasan saya masih mikir –mikir bukan karena saya Hinata-centic atau bermaksud gak adil. Tapi perlu enggaknya si tokoh cewek itu dalam hubungan NH. Dan oke, saya bakal ngadain si tokoh cewek itu, biar gak dikecam lagi sama fans fanatic si blonde-kun XD

Saya boleh nebak jalan ceritanya? boleh, tapi saya gak nyediain hadiah karena sepertinya tebakannya banyak yang bener #gakmodal

Chap-chap ini fluffy? Saya sengaja kasih sedikit unsur fluffy, tapi inget lo ini belum konflik jadi… tahu sendiri lah maksud saya #senyumnista