"Kita mau kemana? Kau tahu kalau aku harus segera ke rumah sakit untuk menemani ayahku." Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil Naruto. Tapi pemuda bersurau pirang itu sama sekali belum membuka pembicaraan sejak mereka meninggalkan Sasori di koridor tadi.
"Ini tak akan lama. Setelah itu aku akan langsung mengantarmu ke rumah sakit," jawab Naruto. Setelah itu suasana menjadi hening kembali. Tidak ada yang ingin membuka obrolan di antara mereka. Sampai Naruto menghentikan laju mobilnya di depan sebuah gedung sekolah.
Hinata mengikuti Naruto turun dari mobil. Dia dapat melihat kalau Naruto menghampiri anak laki-laki yang mirip dengannya, mempunyai mata shappire dan bersurau pirang. Hinata mengernyit bingung. Bukankah hanya Menma saja adik dari Naruto?
Naruto berjalan mendekati anak itu. Sedangkan Hinata hanya diam mengikutinya, sesekali dia menebak siapa gerangan si anak itu.
"Kukira Ba-chan berbohong ketika mengatakan bahwa yang menjemputku hari ini adalah Onii-chan."
"Kau tidak suka?"
"Bukan begitu." Anak laki-laki itu mengibas-kibaskan tangannya dengan cepat dan langsung memasang wajah panic. "Tentu saja aku senang kalau Onii-chan yang menjemputku," katanya sambil menarik-narik seragam atas Naruto yang sebenarnya cukup sulit digapainya.
Lama kelamaan melihat tingkah anak itu yang menurut Hinata lucu, membuatnya gemas. Hinata berjongkok untuk menyamakannya tingginya dengan si bocah pirang. Hinata langsung saja mencubit pipi gembul anak itu gemas. "Adik kecil siapa namamu?" tanya Hinata ramah. Ah, seandainya dia memiliki adik kecil seperti anak ini, pasti dia akan senang sekali.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
My Fox Devil
Desclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rated: T
Warning: Bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, ide pasaran! Little bit Hinata-centric, flat, DLL
.
.
Check it Out!
.
.
"Namikaze Ryota," jawab Ryota dengan memasang wajah kesal dan mengusap-usap pipinya yang memerah karena ulah Hinata. "Dan Nee-chan ini siapa? Kenapa seenaknya sendiri mencubit-cubit pipiku hah?" tanyanya sewot. Ryota melipat kedua tangannya di dada dan membuang mukanya dari Hinata, memasang gelagat sok jual mahal.
Hinata terkikik pelan sambil menutup mulutnya, agar kikikannya tidak didengar Ryota. Dia tahu, anak ini hanya berpura-pura memasang wajah menyebalkan seperti itu, karena memang si anak kecil tidak pandai beracting. Dalam hati Hinata mengeluh, mungkin sedikit banyak Ryota meniru perilaku buruk dari sesorang yang dipanggilnya Onii-chan beberapa saat lalu. "Hyuuga Hinata. Bagaimana kalau kau memangilku Hinata Nee-chan?" tawar Hinata yang lebih terdengar seperti pintaan.
"Kenapa aku harus memanggilmu seperti itu? Kita bahkan tidak saling kenal." Ryota masih saja memasang wajah menyebalkannya.
Hinata yang mendapatkan perlakuan seperti itu bukannya kesal malah merasa geli. "Dia adikmu?" tanya Hinata kepada Naruto yang berada tidak jauh di sampingnya.
Naruto berdecih pelan. "Mana mungkin aku punya adik seperti dia." Naruto menunjuk Ryota sambil memasang wajah jijiknya. "Kalaupun diberi, aku tidak akan mau menerima adik yang seperti ini."
Sudut bibir Hinata terangkat secara tidak sadar. Hinata tahu kalau Naruto saat ini sedang menggoda Ryota, mencoba membuat bocah kecil itu kesal. Tapi Hinata baru tahu kalau seorang Namikaze Naruto mempunyai sifat seperti ini, dan ini pertama kalinya Hinata melihat sisi lain dari sifat menyebalkan Naruto yang hampir tiap hari ditunjukkan kepadanya.
Ryota langsung mengkerucutkan bibirnya, cemberut ketika mendengar perkataan kakak sepupunya itu. "Onii-chan kenapa jahat sekali?" ucapnya sambil memukul-mukul badan Naruto. "Walaupun aku hanya adik sepupu Onii-chan, tapi tetap saja aku ini adik Onii-chan," rengek Ryota manja.
"Hey, berhentilah merengek! Kau terlihat seperti anak perempuan." Naruto memasang ekspresi mengejeknya.
Hinata hanya diam, seakan menikmati tontonan yang dia saksikan saat ini. Tapi sebenarnya mata amethystnya dari tadi tidak pernah terlepas dari wajah Naruto. Memperhatikan dengan serius setiap ekspresi yang dikeluarkan si sulung Namikaze. Entah kenapa saat ini Hinata terlihat seperti sangat antusias mengetahui seperti apa Naruto sebenarnya. Hinata merasa Naruto mempunyai satu hal yang selama ini dipendamnya sendiri dan tidak pernah ditunjukkan kepada orang lain, terutama kepadanya.
Sedangkan si bocah pirang yang lama kelamaan mulai tidak tahan karena terus diejek mulai mengeluarkan air dari mata shappirenya. "Hiks… hiks… Onii-chan jahat." Ryota mengusap-ucap matanya yang terus mengeluarkan air dengan menggunakan kedua tangannya. "Pokoknya akan ku adukan… hiks… pada Ba-chan dan Kaa-chan."
"Ck! Cengeng sekali. Kau ini perempuan atau laki-laki hah?" Bukannya mencoba menenangkan Ryota, Naruto malah semakin mengoloknya yang menyebabkan tangis Ryota semakin nyaring terdengar.
"A-aku kan masih… hiks… anak kecil. Tidak apa-apa ka-kalau menangis," jawab Ryota dengan suara sesengukkannya. "Onii-chan jelek! Onii-chan jahat! HUA…"
Naruto menutup kedua telinganya rapat-rapat ketika mendengar suara cempreng khas anak kecil dengan volume besar. Sementara itu orang-orang yang tidak jauh dari sana yang juga mendengar tangisan Ryota melirik ke arah mereka dan banyak dari mereka memberikan pandangan tidak suka kepada Naruto dan Hinata karena dianggap penyebab anak kecil lucu itu menangis.
Berbeda dengan Naruto yang bersikap acuh kepada pandangan tidak suka yang di arahkan kepadanya, Hinata yang mulai merasa malu karena terus dipandangi hanya bisa memasang senyum enggan dan membungkuk hormat, sambil sesekali menggumamkan kata maaf.
Hinata segera mendekatkan badannya kepada Ryota, mencoba menenangkannya. Dia membelai sayang surau pirang Ryota. "Hustt… Berhentilah menangis Ryo-chan."
"Jangan panggil aku seperti itu! Aku laki-laki… Hiks.. hiks," amuk Ryota dengan suara yang semakin keras.
Hinata memijit pelipisnya yang mulai berkedut. Dia tidak mengira menenangkan anak kecil sesulit ini. "Hey, bantu aku membujuknya," pintanya kepada Naruto yang kelihatnya masih tenang-tenang saja.
"Hey bocah, berhentilah menangis atau aku tinggal kau di sini sendirian," ancam Naruto serta memberikan deathglarenya kepada Ryota.
"Huah… Kaa-chan… hiks… Kaa-chan."
Hinata yang melihat tingkah Naruto, kontan saja mengernyitkan alisnya. Bukannya tadi dia meminta Naruto membujuk Ryota agar berhenti menangis? Tapi ini? Pemuda jabrik itu semakin membuat tangis Ryota semakin keras, lagipula mana ada anak kecil yang tidak takut apabila diberikan ancaman serta deathglare seperti itu. "Kau sangat tidak membantu Namikaze," sindir Hinata sarkastik.
Hinata langsung mengangkat tubuh kecil Ryota dan mengendongnya. "Apa kau mau ice cream? Atau coklat? Bagaimana kalau permen?" Saking bingungnya Hinata, dia mencoba membujuk Ryota dengan menawarinya berbagai manakanan yang muncul di pikirannya.
Ryota mengeleng, masih saja sesengukan.
Hinata sedikit merasa lega ketika mendapatkan respons dari si kecil piarang itu. "Kau mau apa hm? Nanti Nee-chan kabulkan, asal Ryota berhenti menangis. Bagaimana?"
Ryota menangguk kecil. Kali ini tangisannya sudah tidak sehebat tadi, tapi masih saja terdengar suara isakan kecil darinya.
Hinata tersenyum senang. Kemudian tangannya terangkat untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi Ryota. "Anak pintar," pujinya sambil membelai lembut rambut kuning Ryota. Mungkin kalau Hinata mempunyai adik, dia akan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang seperti saat Hinata memperlakukan Ryota saat ini.
Diam-diam Naruto terseyum ketika memandangi interaksi kedua orang terdekatnya itu. Bagaimana bisa mereka bisa sedekat ini padahal baru beberapa saat lalu bertemu untuk pertama kalinya? Ditambah lagi Ryota juga bukan anak yang cepat untuk akrab dengan orang lain, lihat saja sikap menyebalkannya tadi saat baru saja bertemu Hinata.
"A-aku mau p-pergi ke taman kota," ucap Ryota pelan dengan suara sesengukan dan seraknya, dia takut kalau Naruto akan marah karena mendengar permintaannya.
"Ck! Kenapa kau begitu menyusahkan?!" gerutu Naruto. "Seharusnya aku menyuruh Menma saja yang menjemputmu!"
Ryota langsung memasang wajah cemberut dan sedih. "Hinata-nee, kau sudah janjikan kalau akan mengabulkan permintaanku," bujuk Ryota kepada Hinata, karena sepertinya dia tahu kalau Naruto enggan untuk mengambulkan permintaannya.
Hinata yang melihat ekspresi puppy eyes yang ditunjukkan oleh Ryota, tidak bisa untuk tidak menangguk menyetujui permintaannya.
"Bukankah kau harus segera ke rumah sakit untuk menemani ayahmu?" peringat Naruto. "Kau tidak perlu memanjakan anak cengeng itu Hyuuga."
"Mungkin sedikit terlambat, tidak masalah," jawab Hinata santai.
Sedangkan Ryota terlihat sangat senang, dengan hidung dan mata yang masih sedikit memerah, dia tersenyum senang lalu memeluk leher Hinata. "Arigatou Nee-chan."
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Menurut Naruto yang baru pertama kali bersedia menjemput Ryota, Ryota adalah anak merepotkan. Bagaimana tidak? Setelah dia menangis dan merengek meminta diantar ke taman kota, ternyata permintaan bocah Namikaze itu tidak berhenti sampai itu saja. Dia kembali merengek meminta naik bus umum untuk menuju ke taman kota, padahal jelas-jelas Naruto hari ini sengaja membawa mobil hanya untuk menjemput anak nakal itu.
Hinata dan Ryota memang bisa duduk tenang di salah satu bangku bis, tapi dia sendiri harus berdempet-dempetan dengan para penumpang lain karena hari ini adalah akhir pekan dan menyebabkan bus penuh.
"Ayo cepat Onii-chan," suruh Ryota yang sudah tidak sabar sambil menggandeng tangan Naruto, sedangkan tangannya yang lain menggandeng erat tangan Hinata.
Naruto hanya berdecih kesal sambil mengerutu tidak jelas. Kalau Ryota bukan adik sepupunya, mungkin Naruto lebih memilih menukarkan anak ini dengan sekantung makanan di supermarket terdekat.
Sedangkan Hinata berjalan dengan kepala menunduk, menyembunyikan rona tipis di wajahnya. Bagaimana dia tidak merasa malu kalau beberapa orang yang melihat mereka berbisik mengatakan hal yang menurut Hinata memalukan, seperti "lihatlah mereka seperti keluarga kecil yang bahagia," atau "aku tidak menyangka pasangan muda itu sudah mempunyai anak yang begitu lucu." Hinata mengerutu dalam hati, bagaimana mereka bisa berpikir seperti itu padahal Hinata dan Naruto saat ini masih memakai seragam lengkap KHS.
Tapi sebenarnya kalau dilihat lebih jelas, Ryota ciri fisik Ryota memang sedikit banyak bisa dibilang perpaduan antara Naruto dan Hinata. Ryota mempunyai mata Shappire dan rambut pirang seperti Naruto, tapi kulitnya putih bersih yang jelas sangat berbeda dengan Naruto yang berkulit tan dan lebih mirip seperti warna kulit milik Hinata.
"Berhentilah mendengarkan sesuatu yang menggelikan seperti itu Hyuuga, atau wajahmu akan semakin memerah" ejek Naruto tiba-tiba.
Hinata yang sejak tadi menunduk mulai menangkat kepalanya, menoleh ke arah Naruto yang menatap lurus ke depan tetapi Hinata masih dapat melihat seringai mengejeknya. "Siapa yang memerah heh? Apa kau sedang membual?!" ucapnya kesal. Hinata langsung membuang wajahnya. 'Hilang… hilang…,' ucap Hinata dalam hati, mencoba mengusir warna merah yang semakin pekat bersarang pada kedua pipinya apalagi setelah kepergok oleh Naruto tadi.
Naruto yang melihat itu hanya bisa tersenyum mencemooh melihat tingkah konyol Hinata.
"Hinata-nee ayo temani aku ke ayunan di sana," ajak Ryota sambil menunjuk salah satu ayunan yang masih kosong.
Hinata mengangguk kecil kemudian menarik tangan Ryota untuk segera bergegas, sebelum seseorang menempati satu-satunya ayunan yang masih tersisa itu. Tapi Ryota menarik tangan Hinata, memberi isyarat untuk menghentikan langkah mereka sejenak.
"Onii-chan, aku ingin ice cream," kata Ryota kepada Naruto di belakangnya yang memasang wajah bosan.
"Lalu?"
"Tolong belikan aku dan Hinata-nee ice cream ya?" pinta Ryota sambil memamerkan wajah memelasnya.
Naruto melotot, memandang tajam pada pupil shappire yang jauh lebih kecil dari pada dia. "Kau mencoba menjadikanku bahan lelucon hah?" Dia berkancak pinggang. "Lalu nanti kau akan menyuruhku memanggilmu dengan sebutan Ryota-sama begitu?"
"T-tidak. T-tentu saja tidak," ucap Ryota takut-takut. Ryota segera bersembunyi di balik kaki Hinata ketika merasakan tatapan Naruto semakin tajam menatapnya. "O-onegai Onii-chan…"
Naruto mengangkat tangannya kemudian meremaskannya kuat-kuat, mencoba menyalurkan semua rasa kesalnya. "Aku benar-benar tidak akan mau menjemputmu lagi," ungkapnya sebal. Kemudian berjalan menjauh menuju salah satu kedai ice cream.
Setelah kepergian Naruto, Hinata terkikik dengan suara cukup keras, bahkan dia sampai-sampai harus menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya agar tidak didengar oleh orang lain selain Ryota. "Kau tahu, kau itu anak yang hebat," puji Hinata sambil mengusap-usap puncak kepala Ryota. "Kau satu-satunya orang yang bisa membuat Namikaze Naruto bertingkah seperti itu di depanku."
Berbeda dengan Hinata yang terlihat sangat senang melihat ekspresi kesal Naruto, Ryota justru terlihat murung. "Pasti Onii-chan marah padaku. Bagaimana kalau dia tidak mau lagi menjemputku? Padahal ini saja pertamakalinya dia menjemputku."
"Aku yakin kalau Menma akan bersedia dengan senang hati menjemputmu." Hinata mengajak Ryota menuju ke ayunan dan mendudukkannya di sana. "Lagipula apa menariknya Onii-chanmu itu?"
"Tapi Menma-nii tidak seperti Onii-chan," ucapnya masih dengan nada murung.
Hinata mengernyitkan alisnya, tidak mengerti. Hinata dapat menangkap ada perbedaan ketika Ryota menyebut Naruto dan Menma. Bukan hanya berbeda dari segi panggilannya saja ─Naruto dengan Onii-chan dan Menma dengan Menma-nii─ ketika Ryota memanggil Naruto, dari nada yang dipakai, Hinata dapat merasakan kalau anak itu sangat mengagumi sosok Naruto, berbeda saat Ryota memanggil Menma.
"Kau tidak menyukai Menma?" tebak Hinata.
Ryota menggeleng cepat. "Tentu saja aku menyukai Menma-nii."
"Lalu apa masalahnya? Menma jauh lebih baik dari segi apapun daripada si pirang itu."
"Hinata-nee salah. Aku selalu ingin menjadi seperti Onii-chan. Onii-chan itu keren," puji Ryota dengan mata yang berbinar-binar.
Hinata tertawa mengejek. "Kau yang salah," ucapnya sambil mencubit gemas hidung Ryota. "Si pirang itu orang yang menyebalkan, jahat dan angkuh. Tidak ada keren-kerennya sama sekali."
Kali ini Ryota yang tertawa karena mendengar ucapan Hinata. "Hinata-nee pasti baru mengenal Onii-chan kan?"
Hinata mengangguk sebagai respon dari jawabannya atas pertanyaan Ryota.
"Onii-chan hanya sedang berakting menjadi orang menyebalkan, percayalah," ucap Ryota sambil tersenyum ke Hinata.
Hinata mengkerutkan alisnya bingung. Dia sama sekali tidak mengerti ucapan dari Ryota. Ketika Hinata akan bertanya lebih lanjut, pertanyaan yang lain tiba-tiba muncul di otaknya karena mendengar ucapan tiba-tiba dari Ryota.
"Hinata-nee mirip sekali seperti seseorang."
"Siapa?"
"Aku tidak ingat namanya. Tapi kata Menma-nii, Onii-chan sangat menyayangi Nee-chan itu."
Hinata merenung. Saat ini muncul banyak pertanyaan di otaknya tentang Naruto. Entah kenapa saat ini Hinata merasa kalau Naruto menjadi sosok yang sangat misterius. Semakin lama dia merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Ice creammu."
Hinata tersentak mendengar suara barito yang tiba-tiba ada di dekatnya. Tanpa berbicara apapun, Hinata langsung saja mengambil ice cream yang masih menggantung di tangan Naruto.
"Ada apa?" tanya Naruto sambil menyernyit memandang tingkah aneh Hinata.
"Tidak ada," respon Hinata singkat, kemudian langsung memakan ice creamnya. Dan ketika ice cream itu memasuki mulutnya, Hinata baru sadar akan sesuatu. 'Vanila?'
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Naruto bersyukur kali ini bus yang mereka naiki cukup lenggang, jadi dia tidak harus berdiri lagi seperti tadi. Saat ini, Dia, Hinata dan Ryota duduk dalam satu baris kursi yang berisi tiga orang. Naruto duduk di paling pinggir sedangkan Ryota yang ingin melihat jalan duduk di dekat jendela, dan dengan terpaksa Hinata duduk ditengah, diantara Ryota dan Naruto karena tempat itulah yang tersisa.
Pluk!
Tiba-tiba Naruto merasakan sesuatu yang membebani bahunya. Naruto tersenyum lembut ketika mengetahui sesuatu itu adalah kepala seorang gadis dengan surau indigonya. Perlahan tangan Naruto terangkat menyentuh kepala Hinata. Dengan sangat hati-hati dia membenarkan posisi kepala Hinata agar bisa nyaman tidur di bahunya. Setelah itu pemuda berkulit tan itu mulai membelai lembut rambut panjang Hinata. Tidak ada ekspresi lain selain senyuman yang saat ini bersarang di wajahnya. Naruto sangat mensyukuri saat ini dia bisa merasakan moment yang seperti ini.
Tapi senyuman itu tidak bertahan lama, setelah sulung Namikaze itu kembali mengingat semua perlakuannya kepada Hinata. Dia sama sekali tidak menyesal atas apa yang dilakukannya kepada Hinata karena menurutnya itu adalah jalan yang terbaik yang bisa diambilnya walaupun dengan cara yang salah. Tapi Naruto tidak buta, dia tahu kalau cara yang dipakainya ini sedikit banyak membuat Hinata terluka. Maka dari itulah dia merasa sangat bersalah.
Naruto mengengam tangan Hinata yang berada tepat di sampingnya. "Gomennasai. Maafkan aku," ucapnya lirih. Tidak ada jawaban dari Hinata, karena memang sang gadis indigo itu benar-benar tertidur.
"Bolehkah aku memohon sesuatu padamu?" tanyanya dengan senyum masam. "Kumohon jangan membenciku… Hime," bisiknya pelan seakan enggan untuk membuat sang putri yang saat ini sedang tertidur di bahunya itu terbangun.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Hinata terus saja menatap sekumpulan anak perempuan yang berada salah satu sudut taman sekolah tidak jauh darinya dengan pandangan sendu. Setelah statusnya resmi menjadi 'kekasih' dari Naruto, sekarang Hinata mempunyai jadwal rutin untuk setiap hari menemani Naruto tidur siang dengan meminjamkan pahanya sebagai alas Namikaze sulung itu untuk tidur. Dan sekarang kegiatan baru itu sedang berlangsung. Hinata saat ini tengah duduk di salah satu bangku taman dengan Naruto yang berbaring di sisinya.
Dan berbicara soal sekumpulan siswi tadi, sebenarnya Hinata merasa sangat iri kepada mereka. Mereka bisa leluasa bercengkrama dengan sesama teman dekatnya. Sedangkan dia? Hinata merasa sangat kesepian. Sejak dia pindah ke KHS, dia sama sekali tidak mempunyai teman. Jangankan teman, kenalan saja tidak punya. Walaupun sebenarnya saat ini Hinata sudah mengenal dan mungkin berteman dengan kembar Namikaze dan yang lainnya, tetapi tetap saja, dia akan merasa lebih leluasa kalau berteman dengan sesama perempuan.
Hinata menghela nafas lelah. Sejak kapan dia menjadi tukang pengeluh seperti ini? Dia seharusnya sudah sangat bersyukur dengan keadaannya saat ini dan bukan malah mengeluh. Saking larutnya dalam pikirannya sendiri, bahkan Hinata tidak menyadari kalau Naruto sedari tadi memerhatikannya dan sama sekali tidak tertidur.
~[ My Fox Devil ]~
"Tunggu Menma!" panggil Hinata dengan suara keras, pasalnya dari tadi dia mencoba memanggil Menma tapi Menma tidak kunjung menyahut, bahkan hanya sekedar menolehpun tidak. Setelah jarak mereka sudah cukup dekat, Hinata langsung menarik lengan Menma dan memeganginya. "Aku memanggilmu dari tadi," ucap Hinata sambil mengatur nafasnya yang terengah-enggah karena baru saja berlari mengejar Menma.
"Benarkah? Maaf aku sama sekali tidak mendengarmu, Hinata," ucap Menma meminta maaf. Sebenarnya dia tadi dengan jelas mendengar teriakan Hinata, namun Menma enggan menoleh ataupun hanya sekedar merespon panggilan Hinata. "Ada perlu apa denganku?" tanya Menma langsung pada intinya tanpa berusaha berbasa-basi.
Hinata sebenarnya merasakan sikap berbeda dari Menma, yang tidak seperti biasanya. Tapi Hinata mencoba menghapus pikiran itu karena dia masih melihat senyum dan nada ramah Menma yang diberikannya padanya. "Ano, aku akhir-akhir ini jarang sekali melihatmu."
"Aku sibuk."
Hinata dapat merasakan aura cangung diantara mereka yang sebelumnya belum pernah terjadi. "Oh."
"Apa masih keperluan lagi denganku?"
Hinata menggeleng dengan enggan. Sebenarnya dia masih ingin mengobrol banyak dengan Menma, tapi sepertinya pemuda berkulit tan itu enggan lebih lama lagi bersamanya. "Tidak. Tapi…"
"Baiklah, aku harus segera ke kelas untuk menyelesaikan beberapa tugas. Jaa ne," ucap Menma seraya langsung pergi meninggalkan Hinata.
Hinata mendesah kecewa. Padahal dia tadi dia akan menanyakan apa yang terjadi pada Menma, karena akhir-akhir ini Menma terlihat sangat berbeda. Atau apakah dia melakukan kesalahan, sehingga Menma terkesan menghindarinya.
"Hyuuga Hinata?" panggil seseorang tiba-tiba yang membuat lamunan Hinata buyar.
Hinata menoleh, dan mendapati empat siswi yang berjalan mendekatinya. "Ya. Ada yang bisa ku bantu?" tanya dengan nada bingung, karena tidak biasanya dia berurusan dengan para siswi cantik ini.
"Perkenalkan, aku Haruno Sakura." Siswi berambut bubble gum tersenyum padanya dan menjabat tangannya.
"Yamanaka Ino," ucap seorang siswi berambut pirang dengan gaya rambut pony style.
"Aku Sabaku Temari." Kali ini Siswi berambut pirang yang dikuncir empat menyalami Hinata dan tersenyum ramah.
"Dan aku Tenten." Terakhir gadis bercepol dua yang memperkenalkan dirinya.
Hinata hanya mengangguk-anggukan kepalanya, masih dengan ekspresi mengernyit bingung. Untuk apa para gadis cantik itu tiba-tiba memperkenalkan diri kepadanya?
"Bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman?" tanya gadis bernama Sakura.
"Berteman?" ulang Hinata tidak percaya. Apakah Kami-sama begitu cepat mengabulkan doanya? Tapi kalau iya, kenapa Kami-sama memilihkan teman yang seperti ini untuknya. Bukannya dia tidak mau berteman dengan mereka. Hinata mau, sangat mau. Tapi kalau melihat sekat pemisah diantara dirinya dan mereka, Hinata merasa sangat tidak pantas walaupun itu hanya sekedar berteman dengan mereka. Mereka dari golongan orang kaya, cantik dan popular, sedangkan dia? "Kalian tidak bercanda?"
Ino terkekeh pelan. "Apa kami terlihat seperti sedang bercanda?"
"Tapi…"
"Apa kau tidak mau berteman dengan kami?" tanya Temari dengan memasang raut wajah seakan-akan kecewa. Temari yang lebih tua satu tahun dari mereka bisa merasakan kalau Hinata masih mempermasalahkan status sosial di antara mereka.
"Bukan begitu," jawab Hinata cepat. "T-tapi…" ucapnya sedikit kikuk.
Tenten mendekat ke arah Hinata dan langsung memeluk pundak Hinata. "Oh ayolah, kau tidak perlu memasang wajah yang seperti itu. Tenang saja kami tidak akan mengginggitmu," canda Tenten yang sukses membuat para gadis itu tertawa termasuk Hinata. "Kau ini imut sekali Hinata-chan," puji Tenten sambil mencubit gemas pipi Hinata.
Hinata hanya bisa menunduk dengan wajah memerah karena mendengar ucapan Tenten.
'Dan ku rasa kau juga beruntung,' ucap Sakura dalam hati. 'Kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan tanpa perlu meminta. Awas saja kalau si bodoh itu sampai berani menyakitimu.'
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Hinata tahu akan satu hal baru lagi hari ini. Pemuda-pemuda yang biasanya terlihat menyebalkan itu akan menjadi orang berbeda ketika bersama orang yang mempunyai arti tersendiri bagi mereka. Lihat saja, Shikamaru yang biasanya hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk terlelap, tetapi saat pemuda berambut nanas itu berada di samping Temari, Shikamaru lebih memilih menahan kantuknya daripada tidur. Sedangkan Gaara dan Sasuke jauh terlihat lebih 'hidup' dan sepertinya membuang jauh-jauh kata gumaman dua konsonannya itu ketika bersama Ino dan Sakura.
Sebenarnya Hinata juga baru tahu kalau mereka semua berpasangan. Shikamaru dengan Temari, Sasuke dengan Sakura dan Gaara dengan Ino. Yang terakhir, Hinata sempat berpikir, mungkinkah berstatus Tenten juga adalah kekasih Kiba? Tapi tebakannya salah, karena sepertinya Kiba belum bisa jauh-jauh dari Akamaru. Pantas saja pemuda berambut coklat itu dijuluki pencinta anjing.
"Kau kenapa?" tanya Naruto yang bingung karena sedari tadi Hinata terus saja tersenyum.
"Tidak, hanya saja teman-temanmu terlihat sangat lucu," jawab Hinata dengan kekehan pelan.
Naruto ikut tersenyum. Sedikit banyak dia membenarkan ucapan Hinata. Kemudian dia mengambil botol mineral yang dari tadi disimpannya dan memberikannya kepada Hinata. "Untukmu."
Hinata memandang bergantian Naruto dengan botol itu dengan pandangan aneh.
"Aku tidak menambahkan racun di dalamnya," ucap Naruto sekali lagi dengan nada kesal. "Aku tidak sekriminal yang kau kira, Hyuuga."
Hinata tersenyum masam. Dia sama sekali tidak berpikir kalau minuman itu sudah diberi racun, tapi dia sedang berpikir tidak biasanya Naruto bersikap seperti ini padanya. Tapi jauh di dalam hatinya, Hinata senang atas perubahan sikap Naruto kepadanya.
Perlahan Hinata meraih minuman itu dan meminumnya.
Sedangkan Naruto tersenyum senang. Dia memang tidak menambahkan racun, tapi dia menambahkan sesuatu ke dalam minuman itu. Sejujurnya dia sangat mengkhawatirkan keadaan gadis Hyuuga itu, karena akhir-akhir ini Hinata terlihat pucat. Naruto tidak mau gadis itu jatuh sakit karena kelelahan, maka dari itu dia sengaja menambahkan beberapa vitamin ke dalam minuman yang saat ini sudah diminum Hinata.
Tapi sepertinya sekarang giliran wajah Naruto yang memucat karena melihat seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Shi-shion-chan?"
Gadis berambut pirang pucat itu yang dipanggil Naruto, hanya tersenyum dan langsung mencium pipi Naruto dari samping. "Hallo Naruto-kun."
Sedangkan Hinata tiba-tiba merasakan sakit di hatinya ketika melihat gadis itu tampak begitu mesra dengan pemuda yang saat ini berstatus kekasihnya.
"Hinata-nee mirip sekali seperti seseorang."
"Siapa?"
"Aku tidak ingat namanya. Tapi kata Menma-nii, Onii-chan sangat menyayangi Nee-chan itu."
'Apa hanya karena aku mirip dengannya, Naruto menjadikanku kekasihnya?' Hinata jauh lebih merasakan sesuatu yang menyesakkan, ketika pertanyaan itu muncul dalam benaknya.
.
.
-To be Continue-
.
.
A/N:
Sepertinya chap ini perjuangan banget buat publishnya, karena provider saya niat banget buat nerapin system internet positif, dan itu membuat saya kelimpungan padahal sebenarnya ficnya udah mau dipublish pada hari rabu kemarin. Akhirnya dengan terpaksa harus publish di warnet terdekat. Adakah yang bernasib sama seperti saya dan tahu bagaimana solusinya?
Untuk yang masih jadi silent reader, saya berharap banget kapan-kapan bisa ikut nyumbang review, buat nyenengin saya gitu XD
Special thanks to:
X, LyaHoneyDew, Yui Kazu, Jojo sama, Jasmine DaisynoYuki, Bunshin Anugrah ET, Ubaidillah, andypraze, Karizta-chan, 7th Chocolava, bohdong-palacio, Namikaze Ichza, Aikawa-chan, Guest(1), Chrizzle, asss, HinaHimeLovers8, Ayzhar, TheBrownEyes'129, dha-pan-9, Khula chiiNH lover's, Saus Kacang, Uzumaki Shizuka, DarkYami Kugamawa, Guest(2), 2nd princhass, JihanFitrina-chan, Eigar alinafiah, eliza-halianson, arip-scarlet, Dewa perang, Jinchuriky, Archiless, Durara, phoenix, Beetha, Uzumaki 21, sahwachan.
Cuap-cuap!
Konfliknya pelecehan Sasori ke Hinata? Kenapa reders-san kepikiran sampai situ?
Sifat Naruto yang pemarah & kasar, karena suatu hal? bisa dibilang begitu.
Happy ending? Tentu.
Saran? Saya makasih banget buat yang bersedia kasih masukan, saya anggap itu sebagai perhatian reader-san buat fic ini. Tapi soal realisasinya, saya masih mikir-mikir, gak mungkin juga maksain semua saran buat direalisasikan, dan saya juga punya rencana sendiri buat nuntasin ficnya, jadi maaf kalau nanti sarannya ada yang ke realisasi :)
Pihak ke tiga cewek? Walaupun dibilang udah mainstream ngadain si pihak ke tiga, tapi saya tetep lanjut ngadainnya #ngeyel. Si pihak ketiga ini bukan hanya jadi pemanis cerita aja, tapi ada maksud lain saya ngadainnya. Dan jangan berharap banyak hubungan NH akan berantakan gara-gara si cewek ini
Fluffy itu apa? Fic yang ceritanya biasanya romatis dan manis, kadang juga gak ada konfliknya, setahu saya sih gitu #sotoy
Siapa si anak kecil? Kalau readers-san nebak itu anaknya Naruto sih saya rasa masih wajar, tapi kalo nebaknya Ino atau Naruko sih saya jadi bingung sendiri, soalnya saya udah kasih keterangan anak kecil laki-laki kan(?) #hadeh
Kenapa Menma bilang "Sejak awal dia milik Nii-san?" apa NH dijodohkan? Haduh, makasih banget udah nanyain Menma, saya seneng lho. Soalnya saya ngerasa kalo readers-san selalu skip screen Menmanya, makanya gak ada yang nanyain Menma. NH gak dijodohkan kok.
Masih simpang siur Menma suka ama Hinata? Saya malah seneng kalo masih ada yang belum nemu Menma suka ama Hiata atau enggak. Soalnya jujur saja, saya kesel kalo cerita yang saya buat gampang ketebak.
h/c-nya kurang krenyes-krenyes? Krenyesnya sih insyaalah masih saya simpan.
Minta screen romance NH? Saya selalu nyempilin romance NH walaupun gak pyuur #bahasaapaini? Karena menurut saya sih screen romance pyuurnya NH belum saatnya dimunculin, dan saya gak mau maksain itu karena nanti malah alurnya terkesan aneh.
Endnya masih lama? masih… eh gak tahu ding. Saya gak bisa mastiin.
Ceritanya ngingetin Hana Yori Dango? Apakah itu drama yang mirip BBF? saya baru denger soalnya.
Wordnya dipanjangin? Semampu saya aja dulu ya…
Kapan NH akan jatuh cinta? Udah mulai tuh kayaknya
Adegan first kissnya NH? Ada kok, nanti, tenang saja
.
.
Dan untuk yang terakhir, saya cuma mau nagih Reviewnya aja
