"Shion-chan kenapa kau ada di sini?" tanya Naruto yang belum terlepas dari keterkejutannya ketika melihat Shion yang berada di depannya saat ini. Entahlah, dia harus senang atau malah merasa tidak suka ketika melihat Shion kembali. Naruto tidak pernah membayangkan ini akan terjadi, terlebih dia benar-benar merasa bingung sekarang karena dia pikir Shion tidak akan mungkin kembali dalam hidupnya lagi.
"Kau tidak suka melihat aku kembali, Naruto-kun?" tanya Shion dengan nada merajuk, tapi tetap saja pelukannya di leher Naruto tidak dilepaskannya malah dipererat. "Ku pikir kau merindukanku, Naruto-kun."
Naruto tersenyum singkat. "Tentu saja aku merindukanmu. Tapi kau tahu kan, ini sungguh mengejutkanku."
Raut wajah seorang gadis yang sejak awal duduk di sana dan hanya menjadi patung hidup diantara mereka berdua mendadak berubah tidak suka mendengar Naruto merindukan gadis yang tengah menggelayut manja kepadanya saat ini. Entah kenapa ada perasaan tidak senang ketika dia melihat kedekatan kedua orang yang berbeda gender itu. Apalagi sekarang Hinata benar-benar merasa kalau mereka sama sekali tidak menganggap kehadirannya, dan sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Mungkin di sinilah dia yang menjadi orang ketiga diantara mereka karena Hinata lebih memilih tetap tinggal menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya tiba-tiba menjadi gelisah, ketimbang pergi meninggalkan mereka.
"Apa arti mimpi burukku semalam karena aku akan melihatmu kembali?" ucap seorang gadis pirang bergaya rambut pony tail yang berjalan menuju meja mereka, diikuti beberapa orang dibelakangnya.
"Ah ternyata kau, Yamanaka." Shion tersenyum sinis kepada rival lamanya. "Aku juga tidak menyangka kau terlihat lebih buruk daripada sebelumnya."
Ino menggeram marah mendengar penuturan Shion. Tangannya sudah mengepal kuat-kuat, rasanya dia ingin sekali untuk segera menarik rambut pirang yang hampir serupa dengannya itu.
"Tenanglah, pig," bisik Sakura yang berada tepat disebelahnya, mencoba mencegah Ino untuk tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Sakura hanya tidak mau kedua gadis itu kembali berkelahi seperti dulu, padahal ini pertama kalinya mereka bertemu setelah sekian lama.
Ino dan Shion memang tidak pernah akur dari dulu. Ada saja alasan untuk mereka membenci satu sama lain. Sakura memang tidak begitu tahu alasan Shion tidak suka kepada Ino. Tapi sebagai sahabat Ino, Sakura sangat tahu kenapa sahabat pirangnya itu begitu membenci Shion. Ino sangat tidak suka dengan sikap angkuh yang dimiliki Shion, ditambah semenjak kehadiran Shion, Ino mempunyai pesaing baru yang menggeser posisinya sebagai miss barbie. Dan karena itulah Ino adalah orang yang paling tidak setuju ketika tahu kalau Naruto menjalin hubungan istimewa dengan Shion.
"Kapan kau tiba?" tanya Kiba yang mencoba menghilangkan atmosfer yang sempat memanas.
Shion tersenyum singkat, kemudian melepaskan pelukannya dari leher Naruto dan duduk di sampingnya. "Kemarin." Pandangan Shion saat ini beralih kedepan, tepatnya kepada seorang gadis yang bisa dibilang hampir mirip dengannya. "Kau siapa?" tanyanya dengan alis mengernyit, pasalnya ini pertama kalinya dia melihat gadis di depannya itu.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
My Fox Devil
Desclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rated: T
Warning: Bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, ide pasaran! Little bit Hinata-centric, flat, DLL
.
.
Tidak ada jawaban dari Hinata, karena dari tadi Hinata sibuk dengan pikirannya sendiri, sibuk memahami dirinya saat ini, sibuk mempelajari perasaannya yang medadak berubah aneh semenjak melihat kedekatan Naruto dan Shion.
Mendengar pertanyaan Shion, Naruto tersentak, dia baru sadar telah melupakan keberadaan Hinata yang sejak awal bersamanya. Tapi setelah melihat keadaan Hinata, Naruto merasa heran. Dan bukan Naruto saja yang terheran melihat Hinata seperti itu, para remaja yang ada di sana juga terheran melihat temannya yang satu itu, karena Hinata tidak kunjung sadar kalau sebenarnya semua mata mengarahkan padangannya kepadanya.
"Hinata." Temari mencoba memanggil Hinata, tapi karena tidak juga mendengar jawaban dari Hinata, gadis berkuncir empat itu sedikit menggoyangkan bahu kecil Hinata. "Hei Hinata, kau mendengarku."
"A-ah, iya?" tanya Hinata sedikit tersentak. Hinata bahkan terlihat seperti seseorang yang baru saja dibangunkan dari tidurnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Tenten yang sepertinya masih mencemaskan keadaan teman barunya itu.
"Ya, aku baik-baik saja." Hinata tersenyum kepada teman-temannya, untuk memberikan kesan bahwa dia memang baik-baik saja. Tapi sebenarnya Hinata merasa malu karena bisa-bisanya dia melamun di saat seperti ini, apalagi yang dia lamunkan hanya hal-hal bodoh yang seharusnya sama sekali tidak perlu dia pikirkan.
"Jadi, kau ini siapa?" ulang Shion sekali lagi.
"Dia Hyuuga Hinata, kekasih baru Naruto," sahut Ino. Ino memberikan senyuman kemenangannya, karena dia berhasil membalas perkataan Shion tadi. Ino mengira kalau Shion akan memasang ekspresi terkejut ketika mengetahui siapa Hinata, tapi ternyata dugaannya salah karena Shion malah tertawa pelan.
"Benarkah?" tanyanya dengan nada yang terdengar dibuat-buat. "Kau ternyata tidak benar-benar melupakanku ya, Naruto-kun." Shion meletakkan kepalanya di atas bahu Naruto dengan kedua tangannya yang dijadikan tumpuan, tak lupa Shion juga menggerling nakal. "Lihatlah, kau bahkan mencari kekasih baru yang mungkin orang mengira dia adalah saudara kembarku," katanya dengan santai.
DEG!
Mata Hinata dengan spontan terbelalak. Dia tidak suka mendengar kalimat itu. Apalagi ketika Hinata seakan tersadar bahwa itulah kenyataannya. Pemikiran yang sempat terlintas dipikirannya tadi adalah benar, sekeras apapun dia mencoba menampiknya.
Tanpa ada yang tahu, tangan porselen itu perlahan terangkat menyentuh bagian dadanya yang terasa nyeri. Hinata dapat merasakan debaran jantungnya yang tiba-tiba menggila dan ini sama sekali bukan karena perasaan yang menyenangkan, justru menyesakkan.
Hinata sedikit menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan ekspersinya dari orang-orang di sana. Apa ini yang namanya cemburu? Tidak! Itu tidak mungkin bukan?! Ini terlalu cepat untuk menyipulkan dia merasa cemburu kepada pemuda Namikaze itu. Hubungan mereka hanya sebatas kekasih bohongan saja bukan? Dan lagi ini semua hanya karena unsur keterpaksaan Hinata saja untuk menerima kesepakatan konyol itu. Lalu bagaimana dia bisa menyimpulkan bahwa dia merasa cemburu?
Hinata yakin, dia hanya merasa kecewa saja karena merasa hanya menjadi bayangan Shion di mata Naruto. Tapi kenapa kecewa, sesakit ini?
"Kau terlalu percaya diri Shion, Hinata jauh lebih baik darimu!" amuk Ino yang tidak terima karena ucapan Shion pasti membuat Hinata tersinggung. Keempat gadis terkecuali Shion yang berada di sana, mengarahkan padangannya ke arah Hinata yang masih tertunduk.
"Ya, Ino benar. Hinata jauk lebih baik darimu Shion." Tenten menyentuh pundak Hinata dengan menggunakan kedua tangannya. "Benarkan Naruto?"
Naruto yang dari tadi diam-diam terus memperhatikan Hinata, mulai mengalihkan padangannya ketika mendengar pertanyaan Tenten. Tapi pemuda berambut pirang itu hanya tersenyum, tanpa sedikitpun membuka mulutnya untuk menjawab, seakan sengaja memberi jawaban ambigu melalui senyumannya.
"Aku ke toilet sebentar," pamit Naruto kemudian langsung saja beranjak pergi dari sana. Para pemuda lainnya yang sebenarnya juga berada di sana walaupun tidak mengeluarkan suara sedikitpun karena tidak mau ikut campur, juga beranjak mengikuti Naruto─meninggalkan para gadisnya di sana.
Setelah kepergian Naruto dan para anak laki-laki lainnya, wajah Shion yang semula berwajah bak malaikat tiba-tiba berubah drastis. Ino dan lainnya sama sekali tidak terkejut dengan perubahan Shion, karena memang mereka tahu bagaimana sifat asli Shion. Shion hanya akan bersikap manis di depan Naruto saja, sedangkan di belakang Naruto, Shion mengeluarkan sifat aslinya. Berbeda dengan Hinata yang sempat mengernyit heran ketika melihat perubahan drastis Shion.
Shion tersenyum sinis dan mulai melemparkan padangan tajam kepada Hinata. "Ck! Hyuuga ya?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Kulihat hubunganmu dengan Naruto-kun sama sekali tidak serius."
"Apa maksudmu Shion?!" tanya Temari yang terlihat bertambah geram.
"Apakah yang ku ucapkan salah? Kau bahkan tidak protes ketika aku bersikap seperti itu kepada Naruto-kun. Ah, apa kalian memang hanya berpura-pura berpacaran?" sindir Shion dengan nada sarkastik, tanpa memperdulikan sedikitpun protes Temari.
Temari dan lainnya memberikan tatapan tajam kepada Shion karena gadis yang satu itu terus saja mengucapkan kalimat-kalimat untuk mengintimidasi Hinata.
Sedangkan Hinata hanya terseyum singkat, mencoba menyembunyikan perasaan gugup dan cemasnya karena apa yang dikatakan Shion memang benar. Hinata tidak mau kalau teman-temannya mengetahui tentang perjanjian konyol antara dirinya dan Naruto, karena tidak ada yang tahu tentang perjanjian itu kecuali Naruto dan dirinya sendiri. "Lalu, apa urusanmu Shion-san," ucapnya pada akhirnya setelah sekian lama absen untuk menjawab pertanyaan Shion yang sebenarnya sudah dilayangkan sejak tadi.
Shion tertawa, kemudian mendengus pelan. "Aku sudah kembali sekarang. Dan kau tahu apa artinya kan? Naruto-kun tidak memerlukanmu lagi, Hyuuga. Dia akan kembali lagi kepadaku," katanya dengan penuh percaya diri.
Hinata terdiam sejenak, tapi kemudian dia memasang ekspresi mencemooh sambil melirik sekilas ke arah Shion. "Ku sarankan kau untuk berdo'a kepada Kami-sama agar keinginanmu itu terwujud Shion-san."
"Sudahlah Hinata, kau tidak perlu mendengarkan omong kosongnya. Lebih baik kita pergi sekarang," ucap Sakura menengahi. Sakura segera menarik tangan Hinata dan Ino untuk menjauh dari Shion, sedangkan Tenten dan Temari mengikuti ketiga temannya dari belakang.
Diam-diam Hinata mengigit bibir bawahnya dengan gelisah. Hinata dapat merasakan kecemasan yang amat sangat. Dia tahu mungkin cepat atau lambat sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya dia miliki akan hilang direbut oleh Shion dan itu cukup membuatnya merasa takut.
Sedangkan di sudut lainnya, terlihat pemuda pirang yang mengacak-acak rambutnya frustasi. "Kenapa Shion-chan bisa kembali?" tanyanya pada diri sendiri karena tidak ada orang lagi selain dirinya di sana. "Argh! Apa yang harus ku lakukan?!" Yang jelas saat ini Naruto tengah kebingungan sendiri. Kedatangan Shion secara mendadak membuat semua rencana yang disusunnya, mau tidak mau akan menjadi berantakan.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Hinata berdiri sendirian di halte bus dekat sekolahnya. Tadi Naruto sempat mengatakan tidak bisa mengantarnya pulang dan dapat dipastikan itu semua gara-gara Shion. Hinata tidak punya hak untuk protes ataupun melarang Naruto untuk berdekatan dengan Shion. Lagipula akan terdengar lucu kalau tiba-tiba dia melarang Naruto ini dan itu tanpa alasan yang jelas, memangnya siapa dia berani-berani mengatur Namikaze sulung itu.
Tin! Tin!
Hinata menoleh dan alisnya seketika mengernyit ketika mendapati sebuah mobil yang terparkir di depannya. Dia menoleh ke kanan ke kiri, karena mungkin saja seseorang di dalam mobil itu tengah menyuruh orang lain yang kebetulan juga menunggu di halte itu. Tapi setelah dicari, ternyata hanya ada dia saja di sana.
Perlahan kaca mobil pun turun, menampakkan sosok pemuda yang dikenalnya. Hinata tersenyum tipis.
"Yo, Hinata," sapa pemuda bersurai coklat itu riang sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Hai, Kiba-san," balas Hinata ramah.
"Kau pulang sendirian?" tanya Kiba yang dibalas anggukan oleh Hinata. "Bagaimana kalau ku antar pulang. Tenang saja, aku tidak akan menarik argo," tawarnya setengah bercanda.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Aku tidak mau merepotkan," tolak Hinata sopan walaupun sebenarnya dia sedang terburu-buru karena pasti ayahnya saat ini sedang menunggunya di rumah. Walaupun ini hari ke dua semenjak ayahnya pulang dari rumah sakit, tapi tetap saja kondisi ayahnya belum cukup pulih untuk bisa bergerak bebas.
"Ayolah! Mana mungkin aku meninggalkan temanku yang menunggu bus sendirian sedangkan aku punya banyak kursi kosong untuk bisa mengantarkan. Nanti bisa-bisa aku dikira orang yang pelit."
Hinata segera menggeleng cepat. "Tentu saja Kiba-san bukan orang seperti itu."
"Lalu tunggu apa lagi, cepat masuk," ucapnya setengah memerintah.
Kali ini Hinata tidak bisa menolak lagi, dia lebih memilih mengalah dalam perdebatannya dengan Kiba. "Arigatou."
Kiba hanya membalasnya dengan sebuah senyuman senang. Setidaknya temannya si kuning itu tidak akan mengomel karena permintaannya untuk mengantar Hinata telah terpenuhi.
Mobil yang dikendarai Kiba melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area sekolah. Sesaat hanya suasana hening di dalam mobil itu, sampai Hinata membuka suaranya. "Ano Kiba-san, aku boleh tanya sesuatu?"
Kiba melirik Hinata menggunakan ekor matanya. "Tentu, kau tidak perlu sungkan denganku. Dan ku minta kau memanggilku Kiba saja, oke?"
Hinata mengangguk sebagai jawaban iya, tak lupa dia memberikan senyuman tipis. "Apa kau merasa ada yang aneh dengan Menma akhir-akhir ini?"
Kiba sedikit mengangkat alisnya ke atas mendengar pertanyaan Hinata. "Ku kira kau akan bertanya tentang Shion. Atau mungkin hubungan Shion dengan Naruto, yah semacam itulah. Apa yang membuatmu lebih tertarik menanyakan Menma daripada dua opsi yang ku katakan tadi?"
Hinata tersenyum masam dengan memandang lurus ke depan. Hinata tidak bodoh untuk menyimpulkan siapa itu Shion. Tanpa ada yang memberitahupun, dia sudah bisa menebak kalau Shion adalah mantan kekasih Naruto. Dan soal kisah masa lalu mereka, entah kenapa Hinata tidak ingin tahu, atau mungkin tidak mau tahu sama sekali. Yah, mungkin ini juga caranya agar tidak terus menerus memikirkan tentang kisah cinta si gadis blonde itu dengan sang Namikaze pirang. "Aku hanya merasa Menma akhir-akhir ini menjauhiku, bahkan beberapa hari ini dia sama sekali tidak terlihat berkumpul bersama kalian."
"Kau tahu, Naruto tidak akan senang mendengar kau bertanya hal seperti ini. Bagaimanapun dia kekasihmu, dan kau malah lebih mencemaskan saudara kembarnya."
"…" Hinata hanya diam tanpa berniat menanggapi omongan Kiba.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kalian. Menma sama sekali tidak bercerita apapun padaku. Dan soal dia tidak terlihat berkumpul bersama kami, itu hal yang wajar. Kami tahu sifat Menma seperti apa. Dia lebih senang menyendiri."
"Begitu ya," ucap Hinata pelan tetapi dapat terasa nada kekecewaan di sana karena jawaban Kiba sama sekali tidak membuatnya puas.
"Gomen kalau aku tidak bisa banyak membantumu."
"Tidak apa-apa," balas Hinata singkat. "Ano Kiba, em… apa hubungan Naruto dan Menma tidak begitu baik?" tanya Hinata lagi, yang sebenarnya sudah merasa penasaran akan kejanggalan hubungan Naruto dan Menma.
"Ya begitulah. Kau bisa lihat kalau mereka tidak begitu akur."
"Apa Naruto tidak menyukai Menma? Membencinya mungkin?" tanya Hinata yang saat ini menghadapkan badannya ke arah Kiba dengan wajah serius. Tatapan Naruto yang diarahkan pada Menma, tempo hari cukup membuatnya penasaran. Tatapan Naruto tidak seperti tatapan yang biasa diberikan oleh sang kakak kepada adiknya seperti pada umumnya.
Kiba terkekeh pelan. "Benci?" ulangnya lagi. "Aku bahkan sangat menyayangi Akamaru, yang hanya seekor anjing peliharaanku. Dan apa katamu? Naruto membenci Menma, bukankah itu terdengar lucu?"
Hinata hanya mengernyit bingung, karena kurang paham maksud perkataan Kiba.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Hinata melirik ke kiri dan kanan. Matanya menyapu ke segala arah.
"Kau sedang apa? Mencari seseorang?" tanya Naruto tengah yang duduk di depannya.
"Ya. Aku mencari Menma. Apa kau melihatnya?" tanya Hinata tanpa sedikitpun menoleh ke arah Naruto karena masih sibuk mencari Menma.
Tanpa Hinata sadari raut wajah Naruto tiba-tiba berubah tidak suka. "Dia tidak masuk," jawabnya dengan nada dingin.
Hinata langsung menoleh. Sedikit terheran ketika merasakan nada bicara Naruto yang berubah dingin. "Kenapa?" Tapi sepertinya rasa penasarannya jauh lebih besar daripada memikirkan sifat Naruto yang mendadak berubah.
Naruto membuang muka. Rasa kesal tiba-tiba menghinggapinya ketika mengetahui Hinata masih menaruh perhatian lebih kepada Menma. Naruto memilih diam, seakan tidak rela memberikan informasi apapun mengenai Menma kepada Hinata.
"Hei," seru Hinata sedikit kesal karena merasa diabaikan. "Kenapa Menma tidak masuk?" ulangnya sekali lagi.
Naruto mendengus kesal. Dengan setengah hati dia mau tidak mau menjawab pertanyaan Hinata. "Kaa-san bilang dia sakit," jawabnya singkat.
Hinata mengerutkan alisnya tidak suka mendengar jawaban Naruto. "Apa?"
"Kau tidak dengar? Kaa-san bilang dia sakit!" kata Naruto dengan suara sedikit keras.
"Bukan itu! Kau tidak benar-benar memastikan keadaannya dan hanya tahu dari Kaa-sanmu?" tanya Hinata sedikit geram. "Bagaimana kau bisa bersikap seperti itu kepada adikmu sendiri hah? Kau sama sekali tidak mengkhawatirkannya?"
Naruto menoleh. Sedikit tersentak mendengar bentakan Hinata. "Apa urusanmu?!" balasnya sengit.
Hinata tersenyum sinis. "Ck! Aku tidak menyangka kau benar-benar tidak punya hati, bahkan kepada saudara kembarmu sendiri," kata Hinata tidak percaya. Sebagai seseorang anak tunggal Hinata merasakan bagaimana kesepiannya ketika tidak mempunya saudara sama sekali. Dan menurutnya Naruto adalah orang terbodoh karena bersikap sangat acuh kepada Menma. Bukankah itu hal yang aneh? Bahkan Hinata dapat melihat kedekatan Naruto yang dengan Ryota yang tersirat, padahal Ryota hanya berstatus sepupunya saja. Tapi kenapa Naruto tidak bisa bersikap sama kepada Menma.
"Apa kau sangat menyukai Menma, sampai-sampai kau begitu membelanya hah?"
"Aku…"
"Lupakan! Aku tidak mau membahas hal ini lagi," potong Naruto cepat, seakan tidak mau Hinata melontarkan jawabannya. Lagipula Naruto juga tidak mau membuat hubungannya dengan Hinata yang saat ini sudah membaik, menjadi dingin seperti yang sebelumnya.
Hinata menarik nafas panjang, mencoba mengontrol emosinya yang sempat meledak. Hinata benar-benar merasa kesal pada pemuda di hadapannya. Dia berniat segera pergi dari sana, tapi suara handphone Naruto yang tiba-tiba terdengar seakan menyuruhnya untuk tetap tinggal.
Naruto segera mengangkat telephone yang pada layarnya tertera nomer rumahnya. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Naruto mengerutkan alisnya ketika mendengar suara di seberang telephone tampak panik. "Ada apa?" tanyanya.
Sedangkan Hinata tampak mengamati Naruto yang tiba-tiba memasang wajah serius.
"Baiklah, aku akan segera pulang," jawab Naruto sebelum menutup sambungan telephone.
"Ada masalah?" tanya Hinata penasaran. Pasalnya sayup-sayup dia mendengar nama Menma di sebut-sebut.
Naruto menghiraukan pertanyaan Hinata dan langsung melenggang pergi.
"Hei tunggu!" teriak Hinata yang berlari menyusul Naruto. "Ada apa? Apa yang terjadi dengan Menma?"
Naruto hanya diam. Langkahnya tergesa-gesa menuju mobilya yang diparkir paling ujung.
Hinata dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa seijin Naruto, tiba-tiba Hinata masuk ke dalam mobil Naruto dan langsung duduk di kursi penumpang yang berada di samping kursi supir.
"Apa yang kau lakukan? Cepat turun dari mobilku!" suruh Naruto galak.
"Bisakah aku ikut denganmu?"
"Tidak!"
"Ku mohon, aku juga mencemaskannya," pinta Hinata sunguh-sungguh.
Dalam lubuk hati Naruto, Naruto merasa risih dengan sikap Hinata yang tampak sekali perduli kepada Menma. Tetapi dia tidak punya waktu lagi untuk berdebat dengan Hinata. Dia harus segera sampai di rumah.
Sedangkan Hinata hanya menatap keadaan sekolah yang ramai dengan para siswa dan siswi yang tampak berlalu lalang. Bagaimanapun ini pertama kalinya dia membolos. Mungkin kalau bukan karena Naruto, satpam sekolah tidak akan mengizinkan mereka keluar dari sekolah sedangkan waktu pulang masih tersisa beberapa jam lagi.
.
.
-To be Continue-
.
.
Gomen kelamaan update #bungkuk-bungkuk
Makasih juga untuk yang sudah mendukung fic ini, waktu pertama kali buat fic ini, saya gak menyangka responnya bisa seperti ini karena bagaimanapun saya masih newbie.
Special thanks to:
Mar-juki-5437, wd, yuriski-suryani, aiichan UchiKaze, Ayhar, Cha Eun Sang, Neko-chan, Durara, Cholies-devilstreetz, Raihakyuzen, Wirna, Akiyama Yui, goGatsu no kaze, silent reader, Namikaze-Emon, TheBrownEyes'129, Karizta-chan, Restyviolet, sang-fajar-39566, Bunshin Anugrah ET, Uzumaki 21, Eigar alinafiah, luna-san, Raihanah aja cin, 7th Chocolava, HinaHimeLovers8, Yui Kazu, mifta-cinya, utsukushi hana-chan, dan, Beetha, shiro19uzumaki, Namikaze Trueblue, Hyuuga Divaa Atarashii, hana, AnnisaIP, Putchy-chan, Jasmine DaisynoYuki, Guest(1), Manguni, sahwachan, Kurenai yuhiu, Misa, Chukuma unlogin, Guest(2), Guest (3), arip-scarlet, Rin asakaze, Uzumaki Shizuka, reyvanrifqi, JihanFitrina-chan, Guest(4)
Cuap-cuap!
Sopas back we need help please? What does it mean? I don't understand
Menma gak punya couple? Saya belum mikirin/belum dapet couple buat Menma sampai saat ini, tapi tenang, masih ada saya kok buat cadangan couple Menma #plaaak
Kenapa Shion? Saya sengaja milih Shion karena kemiripan fisiknya dengan Hinata.
Gimana sifat aslinya Menma? sifat aslinya gak beda jauh dengan apa yang sudah saya deskripsikan secara tidak langsung kok
Orang tua Ryota? Anggap saya itu Mr. dan Mrs. Namikaze, karena jujur saja saya belum baca silsilah keluarga Namikaze XD
Tragedi? Saya gak tahu apa nanti plot yang saya buat itu bisa disebut tragedi apa enggak
NH belum first kiss-an? Maksud saya kemarin itu, first kissnya bagi Hinata
Naruto yang nyuruh Sakura dkk buat temenan sama Hinata? Kalau lebih teliti bacanya sih pasti udah tahu kalau emang Naruto yang nyuruh mereka
Adegan MenmaHina? Mungkin nanti, tapi mungkin gak terlalu nunjukin adegan romancenya antara mereka lagi, gak kayak dulu
Kenapa couple Kiba dengan Akamaru? Soalnya itu couple tuan-majikan ter-so sweet menurut saya. Lagipula gak nemuin couple lain yang pas buat Kiba selain Akamaru
Sakura dkk tulus temenan sama Hinata? Tenang saja, tulus kok.
Jadi Naruto udah putus sama Shion terus karena Hinata mirip Shion jadi dia bales dendamnya ke Hinata? Kebaikan Naru hanya acting saja? Gomen, saya no coment, hehehe X)
Keluarin Sasori? chap depan dia muncul
Plot gaje? Eh? Benerankah? Saya kira cuma authornya aja yang gaje.
H/C nya jgn terlalu hard? Saya sih rencananya buat hard, tapi entah nanti hasilnya jadi hard apa enggak.
.
.
Dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa review
