Naruto melangkah mendekati sekumpulan orang yang terlihat sangat senang akan kedatangannya. Sesekali mata birunya melirik cemas ke arah mobilnya yang masih terdapat Hinata di sana. Mungkin kalau Hinata tidak ikut bersamanya saat ini, Naruto tidak perlu merasa secemas ini. Dia tahu kalau Hinata bukan gadis lemah. Gadis Hyuuga itu cukup jago bela diri. Tapi mengingat di sini ada Akasuna merah itu, opsi mengajak Hinata untuk menghadapi mereka adalah ide buruk. Naruto tidak buta untuk mengetahui Sasori sedang mengincar Hinata. Entah bagaimana bisa begitu, itu tidak penting bagi Naruto. Yang terpenting baginya adalah menjauhkan Hinata dengan iblis merah itu.
Sebenarnya mungkin bisa saja dia lari dengan langsung memutar mobilnya. Tapi itu juga tidak menjamin dia dan Hinata akan lepas dari sekumpulan anak laki-laki yang sering disebut Akatsuki. Toh, mereka sudah melihat mobilnya, mereka mungkin tidak akan diam begitu saja dan akan langsung mengejar mobil Naruto. Dan kalau sampai tertangkap, Sasori pasti akan tahu kalau Hinata bersamanya. Jadi pilihan terbaik adalah menghadapi mereka dan menyembunyikan Hinata di dalam mobil. Beruntung kaca mobilnya satu arah, hanya dapat dilihat dari dalam saja, setidaknya Hinata akan aman.
"Sendirian eh?" ucap pemuda penuh tindik dengan seringainya, menyambut kedatangan Naruto. Pain memandang tajam ke arah Naruto sebelum arah pandangannya menuju ke arah mobil merah yang cukup jauh terparkir dari tempat mereka. "Kemana teman-temanmu? Si Uchiha, Panda merah, tukang tidur, bocah anjing dan... e... adikmu yang lembek." Serigai Pain makin melebar ketika melihat ekspresi marah dari Naruto.
Naruto mengepalkan tangannya. Dia sangat tidak suka mendengar Pain menghina Menma. Menma memang berbeda darinya. Namikaze berambut gelap itu tidak suka berkelahi, tapi meskipun begitu Menma bukan orang lembek seperti yang dikatakan Pain. "Tidak perlu mereka untuk menghabisimu bukan? Aku saja sudah cukup."
Pain memasang ekspresi terkejut yang sangat kentara sekali dibuat-buat. "Kupikir kau cukup pintar untuk mengetahui kalau kau kalah jumlah."
"Dan bukankah akan lebih menyenangkan kalau kau menghabisiku dengan tanganmu sendiri daripada membiarkan mereka ikut dalam permainan kita? Tapi kalau kau masih belum mampu, aku tidak keberatan menghadapi kalian semua." Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh pemuda yang ada di depannya untuk meneliti mereka satu persatu. Dia tidak bodoh, untuk menyadari dengan jumlah musuh sebanyak itu pasti pada akhirnya dia akan kalah. Maka dari itu sebisa mungkin dia akan memancing Pain untuk menghadapinya seorang diri.
"Kau benar, akan sangat mengasikkan kalau tanganku ini yang akan menghajarmu sampai mati." Pain mengangkat sebelah tangannya yang terkepal. "Tapi aku tidak menjamin kalau mereka tidak akan bermain-main dengan mayatmu."
"Ya... Ya... Ya... Bicaralah sesukamu." Naruto menguap bosan. "Lebih baik cari tempat aman. Tidak akan menyenangkan kalau tiba-tiba ada polisi menangkap kita." Naruto mendahului mereka berjalan ke sebuah gang gelap, seakan secara tidak langsung menyuruh mereka untuk mengikutinya. Naruto bahakan tidak sedikitpun mengubris protes dari mereka. Yang terpenting saat ini dia harus menjauhkan mereka dari jarak pandang mobilnya, dengan begitu Hinata dapat pergi tanpa ketahuan. Ditambah lagi sepertinya Sasori mulai curiga. Pria berambut merah itu terus menerus menatap ke arah mobilnya.
Kali ini Naruto hanya bisa berharap kalau penyakit keras kepala Hinata tidak akan kambuh di saat-saat seperti ini. Naruto tidak mau kalau tiba-tiba Hinata datang menyusulnya dan mengacaukan semua rencanya. Lebih baik mati di sini sendiri daripada harus melihat sesuatu yang buruk menimpa gadisnya.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
My Fox Devil
Desclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rated: T
Warning: Bad Naru x Strong Hina, OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, ide pasaran! Little bit Hinata-centric, flat, DLL
.
.
Hinata mengetuk-ketukkan jari tangannya dengan gelisah. Sudah terhitung lebih tiga puluh menit sejak Naruto meninggalkannya sendiri di sini. Dan lagi apa katanya? Menyuruhnya pergi dari sini? Yang benar saja! Jalan di sini sangatlah sepi, tidak ada mobil sekalipun, apalagi alat transportasi. Lalu menyuruhnya pergi dengan menggunakan mobil ini? Bisa-bisa dalam jarak satu meter dia akan mati karena tidak bisa mengendalikan mobil ini dengan benar.
Tapi sejujurnya alasan-alasan itu hanya hanya dibuat untuk menguatkannya agar tidak pergi dan menyusul Naruto. Entah kenapa dia sangat khawatir akan keadaan pemuda pirang itu. Walaupun dia dan Naruto tidak pernah akur tapi menunggunya dengan ketidakpastian seperti ini semakin membuat perasaannya resah. Ditambah lagi pemuda-pemuda tadi, termasuk Sasori kelihatan sangat tidak bersahabat dengan Naruto.
"Sial!" runtuknya pelan. Hinata bangkit dari duduknya. Saat ini dia merasa kesal teramat sangat karena tidak bisa menahan diri untuk tidak menyusul Naruto. Walaupun pada akhirnya nanti terjadi sesuatu pada pemuda pirang itu, seharusnya Hinata akan merasa senang karena dengan begitu dia bisa terlepas dari Naruto. Tapi dia tidak bisa, dia tidak bisa mengabaikan keberadaan Naruto begitu saja.
Hinata berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong sempit tempat terakhir dilihatnya Naruto dan gerombolan itu menghilang. Ketika samar-samar didengarnya suara bergedebuk dan orang-orang yang sedang bertengkar, Hinata semakin mempercepat langkahnya.
Diujung jalan, Hinata dapat melihat Naruto yang sedang berhadapan dengan orang itu. Penampilannya berantakan dan wajahnya berubah menjadi biru di beberapa bagian. Kondisi Naruto tidak berbeda jauh dari kondisi pemuda berambut orange dengan banyak tindik di wajahnya. Tapi anehnya, selain Naruto dan pemuda itu, mereka yang lainnya tampak baik-baik saja.
Dan ketika mata Hinata tengah mengamati Naruto yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya, matanya tanpa sengaja bersirobok dengan mata sewarna coklat susu milik Sasori. Sasori yang menatapnya langsung tersenyum menyerigai. "Rupanya kau membawakan hadiah untukku, Namikaze," ucapnya senang.
Sedangkan Naruto mengernyit tidak paham. "Apa mak..." pertanyaan Naruto terhenti ketika kepalanya menoleh ke arah pandangan Sasori. "Kau!" katanya marah sekaligus terkejut. Di sana terlihat sosok yang sama sekali tidak diharapkannya berada di sini. "Bukankah sudah kusuruh kau untuk pergi?!"
"Tidak perlu terburu-buru, Hyuuga. Kau bisa bersenang-senang bersama kami lebih dulu." Sasori memberikan pandangan kemenangannya pada Naruto. Perlahan Sasori berjalan maju mendekati Hinata yang masih diam di tempatnya.
Tapi sebelum jaraknya semakin dekat dengan Hinata, Naruto dengan sigap menghadangnya. "Urusan kalian hanya denganku, kau tidak perlu melibatkan dia!" hardik Naruto tajam. Matanya memicing menatap Sasori geram.
Seperti yang sudah ditakutkannya sebelumnya, gadis berambut panjang itu tetap keras kepala untuk datang. Dan sekarang Naruto harus berpikir ekstra agar dirinya, terutama Hinata dapat pergi dari sini dengan selamat.
Seakan tidak mendengarkan peringatan Naruto, Sasori tetap nekat mendekati Hinata. Dengan dorongan cukup keras, dia berhasil menyingkirkan Naruto dari jalannya. "Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk meladenimu, Namikaze. Berurusan dengan Hyuuga jauh lebih menarik bagiku."
Naruto menggeram marah. Ia hendak menahan Sasori sekali lagi tapi tubuhnya mendadak tidak bisa digerakkan. "Lepaskan brengsek!" Naruto mencoba menarik kedua tangannya yang sedang dipegangi oleh Kisame dan Kakuzu, tapi sekuat apapun dia mencoba melepaskannya, tetap saja tidak lepas. "Kau! Idiot! Cepat lari!" teriaknya pada Hinata.
"Tapi..." Hinata hendak membantahnya, dia tidak mungkin meninggalkan Naruto sendirian dalam situasi berbahaya seperti ini, tapi tatapan Naruto yang tajam dan nyalang mau tak mau membuatnya enggan.
Dengan terpaksa dia melangkah mundur dengan perlahan. Hinata berlari secepat mungkin meninggalkan mereka. Walaupun sejujurnya keinginannya untuk tetap tinggal jauh lebih besar daripada keinginannya untuk lari. Tapi Hinata berpikir kali ini dia tidak boleh egois, mungkin pikiran Naruto berbeda dengan keinginannya.
Sasori tersenyum samar melihat kepergian Hinata. "Kali ini tidak akan kulepaskan lagi," gumamnya pelan. "Deidara, Hidan ikut aku! Dan Pain, bisakah kau memastikan si Namikaze untuk tidak menyusul kami?" tanya pada Pain sebelum dirinya bersama kedua temannya pergi menyusul Hinata.
Pain tersenyum tipis seraya mengangguk. "Tidak perlu memikirkan si kuning bodoh ini. Bersenang-senanglah!"
"Akasuna! Berhenti!" Naruto berteriak sekeras mungkin mencoba menghentikan Sasori yang mulai menjauh pergi, tapi nyatanya tidak ada yang berubah, pemilik rambut merah itu tidak juga menghentikan langkahnya untuk mengejar Hinata. "Sasori! Berhenti brengsek!"
Tawa renyah lambat laun mulai terdengar oleh Naruto. "Tidak perlu seperti itu Namikaze! Biarkan gadis itu bersenang-senang dengan Sasori." Pain menyerigai senang. "Dan simpan tenagamu untuk menghadapi kami semua. Kami tidak akan dengan mudah membiarkanmu menyusul mereka."
Naruto memperhatikan mereka dengan seksama. Masih sisa empat orang yang harus dia hadapi terlebih dulu. Pain, Kisame, Kakuzu dan Zetsu. Bagaimana dia harus menghadapi mereka semua sementara bisa saja saat ini Sasori sudah berbuat buruk pada Hinata?
.
~[My Fox Devil]~
.
Dengan nafas terengah-engah, Hinata terus saja berlari. Tak jauh darinya, dia dapat melihat tiga orang yang sedari tadi tidak henti mengikutinya.
Dari awal dia dan Sasori bertemu, Hinata sudah langsung memasukkan Sasrori pada daftar orang-orang berbahaya yang harus dijauhinya. Tapi setelah mengetahui Naruto dan Sosori juga sepertinya terlibat konflik yang dia tidak tahu sendiri itu apa, mungkin sekarang Sasori dua kali lipat lebih berbahaya dari perkiraan sebelumnya.
Dan ketika Hinata sampai pada ujung jalan, sekarang dia tahu kalau tidak ada cara lain selain menghadapi mereka. Dia tidak bisa lari lagi, lebih tepatnya tidak ada jalan yang bisa digunakan untuk lari.
Hinata menatap ke belakang, mereka sudah sangat dekat. Bohong kalau dia tidak merasa takut saat ini. Mungkin kalau hanya ada Sasori saja, walau berat dia yakin bisa menghadapi pemuda berambut merah itu seorang diri. Tapi setelah melihat sorot mata ketakutan Naruto ketika melihatnya datang tiba-tiba di tengah area penuh dengan laki-laki, Hinata tahu kalau dia tidak akan baik-baik saja.
"Aku tidak tahu kalau kau suka sekali main kejar-kejaran Hyuuga." Sasori menyerigai ketika mengetahui gadis itu sudah tidak bisa menghindar lagi.
"Kau benar Sasori, gadis ini lumayan juga," timpal Hidan sembari memasang ekspresi aneh yang mampu membuat Hinata merasa mual.
Hinata menarik nafas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan kencang. Dia tidak boleh terlihat takut kali ini apalagi menyerah dengan mudah pada mereka. Entah apa yang akan terjadi padanya, yang pasti Hinata akan berusaha dengan keras melawan mereka.
Hinata bersiap memasang kuda-kuda untuk menghadapi ketiga pemuda di depannya. Ia sama sekali tidak memperdulikan tawa Sasori yang seakan mengejek.
"Apa yang kau lakukan? Ah, ayolah bersikaplah lebih manis kali ini, kami berjanji akan bermain lembut padamu."
Hinata bergeming mendengar ucapan dari pemuda berambut merah itu.
Deidara yang sedari tadi sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Hinata mulai berkata, "jangan bodoh manis, kau tidak akan berhasil menggunakan cara itu. Kau hanya perlu menjadi gadis penurut dan biarkan kami bersenang-senang. Aku jamin kau akan puas."
Dan geraman marah dari Hinata samar-samar mulai terdengar. Mereka benar-benar brengsek, pikirnya. Hinata tidak bisa menahan amarahnya ketika mendengar rentetan kata yang seolah secara tidak langsung menyamakannya dengan para gadis rendahan yang gemar menjual tubuhnya di luar sana. Hinata memang miskin, tapi ia masih punya harga diri untuk tidak melakukan hal laknat seperti itu.
Entah apa yang dipikirkannya, sedikit demi sedikit Hinata menurunkan status siaganya ketika Sasori mulai berjalan mendekat. Gadis cantik itu tidak lagi memasang kuda-kudanya. Dia hanya berdiri tegak, seakan menanti datangnya sang pemuda Akasuna.
Sasori tersenyum miring. "Bagus, tetap seperti itu." Wajahnya berubah melunak. Pemuda itu semakin mempercepat langkahnya, seperti tidak sabar menikmati hadiah yang sudah lama ditunggunya.
Hinata memejamkan matanya seraya menarik nafas panjang entah sudah yang berapa kalinya. Ketika di dengarnya suara langkah Sasori yang kian mendekat, sang gadis Hyuuga itu hanya bisa mengigit bibirnya dengan gelisah.
Melihat Hinata dengan mata terpejam, Sasori semakin bersemangat. Mungkin kali ini gadis itu tidak bisa menolak ciuman panas yang akan didapatkannya darinya dan hanya bisa pasrah.
Sasori semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Tangannya dengan lembut mulai menyentuh kedua pipi sang gadis, berniat mengarahkan Hinata pada posisi yang tepat. Dia menyeringai senang ketika tidak ada respon yang berarti dari Hinata. "Sekuat apapun kau mencoba lari, seperti inilah akhirnya," gumamnya merasa menang.
Ketika matanya terfokus pada bibir mungil Hinata, pemuda berkulit putih itu sama sekali tidak menyadari Hinata yang telah membuka matanya.
"Jangan terlalu percaya diri, senpai!" desis Hinata pelan. Dengan satu hentakan Hinata dapat dengan mudah mendorong Sasori menggunakan kedua tangannya. Dan sepersekian detik berikutnya tangannya yang sudah terkepal erat berhasil mendarat dengan keras di wajah Sasori. Menggunakan kelemahan lawan adalah cara yang paling efisien di saat terdesak seperti ini.
Sasori langsung bergegas mundur ketika menyadari serangan Hinata yang sangat tiba-tiba. Dia bahkan belum siap untuk menerima pukulan itu, apalagi menghindar. Sasori bisa merasakan hidungnya yang terasa amat nyeri. Dan ketika mengetahui cairan merah keluar dari lubang hidungnya, dia tidak menyangka efek pukulan Hinata sampai seperti itu. "Kau cari mati hah, gadis gila!" Kilatan marah terpancar jelas di matanya.
Hinata tersenyum miring, sedikit terkesan akan hasil dari pekerjaanya. Dia senang melihat wajah senpainya yang terlihat begitu konyol. "Kau harus ingat, aku sama sekali berbeda dengan gadis yang sering kau temui."
Sasoro berdecak kesal. "Kalian berdua sampai kapan akanbterus diam hah! Bantu aku mengurus gadis sialan ini!" Dan kali ini Sasori sudah tidak bisa menahan dirinya lebih dari ini. Tidak perduli Hinata adalah seorang perempuan, bahkan jika harus menggunakan cara terekstrim sekalipun, Sasori tidak akan pernah merasa enggan lagi untuk melakukannya. "Tidak ada tuan baik hati lagi di sini."
.
~[My Fox Devil]~
.
Mereka gila. Saat inilah kalimat itu yang kuat melekat dalam pikiran Naruto. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau tubuhnya sudah merasa sangat lelah. Pertarungan awalnya, berduel dengan Pain sudah cukup untuk mengurangi energinya. Dan sekarang dia masih harus berkutat dengan empat pemuda yang menurutnya mempunyai masalah kejiwaan.
"Pain, tidak bisakah kau melepaskanku hanya untuk kali ini saja." Sejujurnya Naruto sama sekali tidak bisa berkonsentrasi untuk melanjutkan pertarungan ini, sementara sedari tadi pikirannya melalang buana mencemaskan keadaan Hinata. Secepat mungkin dia harus menyusul gadis itu. Dia sangat tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. "Kita masih punya banyak waktu untuk melanjutkan permainan konyol ini. Aku berjanji akan dengan senang hati meladenimu, tapi saat ini bukan waktu yang tepat." Naruto masih berusaha untuk bernegosiasi. Tak memerdulikan rupanya yang jauh lebih kacau daripada beberapa saat lalu. Karena Pain dan teman-temannya dapat dengan mudah mengenai Naruto yang sering sekali lengah karena mengkhawatirkan kondisi Hinata.
"Dan kau pikir, kami bisa melewatkan acara bersenang-senang denganmu hari ini?" kata Pain yang merasa permintaan Naruto sangat tidak masuk akal untuk mereka kabulkan.
"Kalian bisa bersenang-senang denganku." Sebuah suara tiba-tiba mengintrupsi percakapan sengit mereka.
Naruto mengernyitkan dahi. Dia merasa sangat mengenal suara ini. Tapi rasanya sangat tidak mungkin pemilik suara ini tiba-tiba menunjukkan batang hidungnya di sini.
Mereka semua langsung menoleh ke arah sudut lorong yang terlihat lebih gelap dari tempat mereka karena sinar matahari terhalang oleh beberapa bangunan yang menjulang tinggi. Para pemuda itu dapat mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat. Dan ketika sosok yang sukses membuat mereka penasaran akhirnya muncul, raut wajah terkejut mereka tidak dapat dengan rapi disembunyikan.
"Dia... Kenapa bisa ada di sini?" gumam Naruto tidak percaya. Bukannnya Naruto tidak senang ketika mengetahui seseorang datang untuk membantunya, tapi mungkin dia tidak akan sebingung ini ketika sosok yang datang adalah, Sasuke, Gaara, Shikamaru ataupun Kiba.
Seseorang yang kini menjadi pusat perhatian dari kelima pemuda itu, berjalan mendekati mereka dengan santai. Dengan senyum canggung dia menggambil posisi tepat di samping pemuda pirang yang sedari tadi masih mencerna kejadian yang menurutnya sedikit tidak masuk akal. "Maaf kalau aku datang terlambat, Nii-san."
Dengan jarak sedekat ini, mau tak mau Naruto harus mengakui bahwa sosok di sampingnya benar-benar adalah Namikaze Menma, sang adik kembar. "Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" tanyanya penasaran.
Sekali lagi pemuda berambut gelap itu tersenyum canggung. "Insting anak kembar, mungkin," jawabnya sedikit asal.
Naruto memasang ekspresi sedikit tidak suka mendengar jawaban Menma yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal. Tapi untuk kali ini, dia tidak akan terlalu mempermasalahkan hal itu, karena ada hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan daripada ucapan Menma.
"Aku tidak pernah menyangka akan menghadapi duo kembar Namikaze. Ditambah lagi, melihat Namikaze yang satunya tiba-tiba datang, membuatku merasa mendapat jackpot."
"Tapi sayang sekali kau tidak akan menghadapi duo kembar, kau hanya akan menghadapi Namikaze yang satunya," timpal Menma cepat.
Naruto lansung menoleh ke arah Menma. "Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.
"Bukankah kau punya seseorang untuk diselamatkan? Kau harus pergi bukan?"
Sekarang Naruto mulai kembali berpikir, bagaimana cara Menma berada di sini? Dan bagaimana dia tahu kalau Hinata bersamanya. "Ya, kau benar. Tapi aku juga tidak akan meninggalkanmu di sini sendirian. Kita bisa menghadapinya bersama dengan cepat, dan setelah itu kita dapat menyusulnya."
Menma tersenyum maklum, merasa terkesan mengetahui kakaknya masih memikirkannya. "Itu memang akan lebih cepat, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku hanya tidak ingin kau menyesali beberapa menit yang kau tunda untuk menyelamatkannya."
Naruto mengerjap tidak percaya. Semua ucapan Menma benar. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Menma di sini sendirian bersama para musuhnya. Dan untuk pertama kalinya dia harus merasa bingung untuk memilih antara Hinata dan Menma. "Kalau begitu kau yang pergi," suruhnya tegas.
"Tolong jangan meremehkanku, Nii-san. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Menma berucap yakin. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Pain dan para temannya. Menma memang tidak pernah sekalipun berurusan dengan mereka, tapi ia yakin musuh dari teman-temannya ini tidak bisa dianggap remeh.
"Baiklah," ucap Naruto menyerah pada akhirnya. Sapphire birunya menatap Menma sekali lagi, memastikan bahwa adiknya ini akan baik-baik saja seperti yang dia katakan. Sedangkan Menma hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Terkadang Naruto sama sekali tidak mengerti apa jalan pikiran saudaranya itu. Bahkan boleh dibilang, dia sama sekali tidak mengerti Menma, bagaimana sifatnya sebenarnya, bagaimana perasaannya,Naruto sama sekali tidak paham. Dan pemuda itu yakin, bukan hanya dirinya saja yang merasa begitu, Okaa-sannya bahkan Kibapun tidak pernah benar-benar mengerti Menma. Sebenarnya dia dan Menma tidak jauh berbeda, mereka sama-sama bukan tipe orang terbuka.
Naruto segera berlari sebelum Pain atau teman-temannya kembali menghadangnya. Tujuannya kali hanya satu, secepat mungkin menyelamatkan Hinata dari ketiga pemuda brengsek itu. Untuk sementara, Naruto hanya bisa berdo'a dalam hati agar dia tidak terlambat dan Menma akan baik-baik saja.
.
~[My Fox Devil]~
.
Keringat membanjiri wajah cantik Hinata. Nafanya terdengar terenggah-enggah. Gadis berambut panjang itu mulai merasa kelehan. Memang sejauh ini mereka bertiga belum ada yang benar-benar mengenainya walaupun mereka tidak segan-segan lagi untuk menyerangnya. Meskipun begitu, tenaga Hinata sudah banyak terkuras hanya untuk menangkis dan menghindar. Dia juga sempat beberapa kali melayangkan serangan, tapi tidak ada satupun yang berhasil mengenai sasaran.
Putri tunggal Hyuuga Hiashi itu semakin lama semakin cemas. Mungkin saat ini dirinya terhitung masih baik-baik saja, tapi entah apa yang terjadi beberapa menit berikutnya, memikirkan itu saja membuatnya takut. Lihat saja penampilannya yang jauh dari kata rapi. Rambutnya yang awalnya digelung tinggi kini tampak berantakan, ditambah lagi pakaiannya yang terlihat lusuh, dampak dari kegiatannya actionnya. Egoiskah kalau saat ini dia berharap Naruto akan menolongnya?
"Kau tahu Sasori, baru kali ini aku berusaha keras untuk dapat mencicipi seorang gadis." Hidan menggerutu kesal. Mereka bertiga berjarak tidak jauh dari posisi Hinata. Ketiga pemuda tersebut tengah beristirahat sejenak, memberi jeda untuk mengumpulkan kembali energinya. "Kenapa kita tidak memesan saja seperti biasanya."
Sasori, Hidan dan Deidara adalah seorang maniak dalam urusan perempuan dibandingkan teman-teman mereka lainnya. "Dia juga tidak begitu cantik, jadi lebih baik kita lepaskan saja." Deidara berucap malas, biasanya dia hanya menunggu seorang gadis yang sudah dipesannya tanpa perlu bersusah payah seperti ini. "Aku bisa menawarkanmu puluhan gadis yang lebih cantik darinya," tawarnya pada Sasori. Awalnya dia dan Hidan mengikuti Sasori karena dikiranya gadis yang mereka kejar adalah gadis lemah yang sama sekali tidak bisa melawan, tapi ternyata perkiraa mereka salah.
"Diamlah! Kita bertiga dan dia sendirian. Dan akan sangat memalukan kalau kita tidak bisa menangangi seorang perempuan." Sasori tidak perduli seberapa banyak dan seberapa cantik gadis yang ditawarkan oleh Deidara, yang diinginkannya saat ini hanya Hyuuga Hinata yang sedari dulu sudah membuatnya penasaran.
Sasori segera memberi kode kepada Hidan dan Deidara untuk menyerang Hinata. Mereka bertiga secara bersamaan menyerang Hinata. Dan ketika gadis itu lengah, Hidan yang tiba-tiba membawa sebalok kayu, langsung saja memukulkannya kepada kedua betis Hinata.
BUGH!
Tidak sampai hitungan detik, Hinata langsung limbung. Kakinya yang terkena hantaman keras tidak bisa lagi digerakkan. Gadis itu merasa nyeri teramat sangat, karena itulah dia tidak bisa menahan rintihan kesakitan yang tanpa dikomando langsung keluar dari mulutnya. "Kalian gila!" geramnya marah. Hinata tahu seperti apapun sumpah serapah yang dikeluarkannya, tidak akan menjadikan ketiga orang itu untuk benar-benar mendengarkannya.
"Kerja bagus," kata Sasori merasa puas akan kerja temannya yang berambut perak. Secepat mungkin dia mendekati Hinata yang masih terduduk sambil merintih pelan. Dengan memggunakan satu tangannya, Sasori mencengkram erat kedua pipi Hinata, memaksa gadis itu mau tak mau mendongak menatapnya. "Gadis malang. Sakitkah?" tanyanya mencemooh.
Hanya terdengar geraman marah dari Hinata. Sesakit apapun luka yang didapatnya Hinata tidak akan menunjukkan ketakutannya menghadapi sekumpulan pemuda yang menurutnya brengsek.
"Bagaimana, sekarang sudah mau menciumku?"
Hinata hanya berdecih sembari membuang mukanya dari Sasori. "Dalam mimpimu," jawabnya pelan.
Dan tanpa aba-aba terlebih dahulu tamparan keras amat terasa di pipi kanan Hinata. Kepalanya melenggos ke kiri dengan cepat. Tamparan itu langsung berdampak langsung ke kepalanya yang terasa pening. Dia terlalu sibuk dengan rasa sakitnya sekarang. Dan entah apa yang terjadi, Hinata semakin lama semakin tidak bisa mendengar suara di sekitarnya. Yang terakhir dapat di dengarnya adalah suara Sasori yang berdesis mengejek. "Jangan terlalu berharap Namikaze akan datang menyelamatkanmu. Karena kau hanya jadi bayangan Shion saja di matanya."
Sasori bangkit, memandang kagum akan hasil kerjanya yang cukup membuatnya puas. "Sedikit lagi," ucapnya dengan nada yang terkesan dingin, tapi tidak dapat dipungkiri ada nada bahagia terselip di sana. Sekarang yang harus dilakukannya hanya membawa Hinata pergi
dari sini sebelum Naruto berhasil menemukan mereka.
Sementara Hinata mulai merasakan pandangannya yang memburam, tubuhnya perlahan mulai melemah. Ia dapat merasakan kepalanya yang seakan melayang di udara. Sudah berakhir, pikirnya. Dan mungkin saat ini dia harus benar-benar menyerah.
.
.
~To be Continue~
.
.
A/N:
Dan setelah beberapa bulan ficnya saya anggurin akhirnya bisa update lagi. Di sini udah mulai terlihat bagaimana perasaan Naruto sebenarnya.
Pendek? Ok, tolong jangan protes, ini udah saya usahain banget.
Adegan brantemnya kurang? Saya emang gak suka genre action, jadi gak bisa nulisnya.
Kemana Itachi dan Obito? Emang sengaja gak dimasukkin, nanti jadi absurd kalo si Teme temenan sama Dobe sedangkan si kakak musuhan sama mereka.
Dan untuk yang lagi jadi trending Naruto chap 700 dan the last, saya cuma mau ngucapin AKHIRRRNYAA SEMUANYA TERBAYAR. Setelah selama ini jadi Hinata-centric yang lebih sering makan hati, kisah Hinata happy end juga, bahkan lebih dari yang saya harapkan. ^_^
Spesial thanks to:
indranurgiri26, intan. , Hinatalevendercitrus14, Guest, Noe JhoLavender, Reven, Durara, FressyaSH-HFYJ, Guest, A.k.a Rizky Namikaze, Guest, annisa-chan, june25, Kyoanggita, TanteiFath, Nizam Collins, , widiakudou, Akiyama Yui, Momechi Rukika, Jasmine DaisynoYuki, mitsuka sakurai, Eigar alinafiah, Yui Kazu, Name Fitri chan, anita, hanafid, Dragon Hiperaktif, CherryKuchiki2, Gilang363, Guest, Dark naruto, mifta cinya, Achilez, Enrique, Hyuuga Divaa Arashii, DefenderAXE, shinobi hunter 003, Guest, KandaNHL-desu, yuichi, phoenix, shin jun, utsukushi hana-chan, Beetha, Vian, Ayzhar, JihanFitrina-chan, Dark Namikaze Ryu, shiro19uzumaki, Nana Miyumi.
Cuap-cuap!
Kenapa Naru bersikap cuek ke Menma? Pasang muka sok misterius
Apakah setelah berurusan sma sasori bakln end ? Belum kayaknya
Pingin scene naruhina lebih diperpanjang trus ada romancenya gak konflik trus-trusan? Hehe
Penjelasan yang belum jelas? Tunggu sampe dijelasin, tapi bukan sekarang
Menma tahu yah alasan naruto ngejadiin hinata pacar? Tahu
Shion sama Menma aja? Jangan dong. Kalo bisa adegan NaruShion'a jangan banyak-banyak? Udah tuntutan sekenario sih.
Penasaran ama flashback nya narumenhina? Flashback yang mana?
Kapan naruhina full romantis ? Kapan-kapan, belum ada timing yang pas
Kenapa gak dicoba memmahina? Jangan, nanti kalo keterusan, saya bisa dikeroyok NHL karena PHP
Sasori itu suka sama Hinata ya? Lebih ke tertarik. Ato mantannya? Bukan.
Sebenarnya kedatangan Shion ada maksud tertentu ga'sih, senpai? Tentu.
Menma suka sama Hinata? Uhuk, #lirik Menma
.
.
Maaf buat reviewer yang gak kesebut namanya dan pertanyaannya belum kejawab
.
.
See You
.
.
Jangan Lupa Review!
