Disclaimer: KnB belong to Fujimaki Tadoshi, Gara Gara Tiket Gratis belong to Akina Ame.

Warning: OOC, AU, YAOI, boy x boy, gaje, judul maupun story nan mainstream, alur cepat, fluff, kata kata keluar dari kamus besar bahasa indonesia, or lainlain(?)

Rating: M

Pairing: AoKi

Note: hallo reader yang telah lama sekali tak jumpa! Aduh maapin daku yang lama banget updatenyaaaaa! ;-; Yaudah! SUTAAARRTOO!

.

.

PLEASE GET OUT OF HERE IF YOU DIDNT ENJOYED THE STOTY LINE OR ELSE! DONT SAY IF I DONT WANRN YOU!

.

.

"Lu-lupakan saja ssu!" Ujar Kise agak gelagapan.

Hal yang tak diduga dari Aomine adalah dia menggenggam kedua telapak tangan milik Kise dan mengangkatnya didepan mukanya. "Aku mencintaimu, Kise." Perkataan Aomine berakhir dengan kecupan diatas punggung tangan Kise.

Kise yang memang awalnya telahlah gemetar karena perasaan gugup melandanya malah semakin membeku ditempat. Seperti patung bahkan lidahnya sekarang berasa kelu. "...Ukh.." Jantungnya yang berdetak itu semakin cepat memompa saja. Seperti ingin keluar dari tempatnya.

Aomine yang telah selesai dengan pernyataan perasaannya pun mulai merasa sedikit canggung. Terlihat dari gerak geriknya yang mengusapkan telapak tangannya dibagian belakang lehernya. Menunggu respon perkataan dari Kise. "Yah, kau tak perlu memikirkannya berlebihan, Kise! Jadi yang tadi itu... anggap saja angin berlalu! Hahaha!" Tawa yang sedikit dipaksakan itu pun keluar.

Kise yang tentu saja menyadari kalau dirinya lah yang menyebabkan hal ini terjadi pada mereka berdua. Kecanggungan ini. Tapi, hari dimana hal seperti ini akan terjadi tidaklah pernah diperkirakan oleh Kise sendiri. "Dasar, Ahominecchi! Kalau begitu cepat habiskan makanannya ssu!" Teriak Kise atau mungkin lebih tebat disebut setengah berteriak.

"Ha? Tch, Baiklah baiklah!" Angguk Aomine dan terus menerus mengunyah semua makanan yang ada dipiringnya hingga abis. Terlebih lagi yang tanpa disadari Aomine sekarang adalah Kise sedanglah memikirkan 'angin berlalu' tersebut.

Akhirnya mereka berdua pun larut dalam pikiran mereka masing-masing sampai waktu untuk mengucapkan 'Selamat malam' pun datang.

"Oyasumi, Kise."

"Oyasumi mou, Aominecchi."

Kata-kata yang terucap sebelum tubuh mereka mendarat di futon masing-masing.

.

.

Cahaya matahari kembali naik menggantikan tempat cahaya bulan. Cahaya itu yang juga menelusup masuk dari sela-sela jendela yang tidaK tertutupi oleh kain gorden. Cahaya yang cukup menusuk langsung membuka paksa manik seseorang yang sedang terlelap dengan pulas sebelumnya. Sampai cahaya yang menusuk itupun membuka kelopak mata itu yang meperlihatkan dua manik yang berwarna kuning madu tersebut. Tangannya pun berusaha menutupi kembali maniknya tetapi sudah terlanjur bangun mau diapakan lagi. Itulah akhir pikirannya. "Hah, Ohayou Aominecchi." Sapanya sebagai salam dipagi hari. Tapi karna tak mendapatkan respon suara dari yang bersangkutan membuatnya beranggapan kalau Aomine masih terlelap pulas diatas futonnya. Kise yang beranggapan begitu pun mulai mengendap-endap menuju pintu kamar Aomine. Setelah menggapa gagang pintunya dengan sangat hati-hati Kise pun perlahan membukanya tanpa menimbulkan sedikitpun bunyi. Tetapi Kise merasakan ada yang aneh. Kise semakin penasaran saja, dan benar saja dugaannya sebelumnya. Kalau Aomine itu masih ngorok. Kise yang mempunyai ide mengerjai Aomine pun dengan sigap mengambil beberapa spidol warna warni. Lalu dimulailah karyanya yang sangat berharga ini. "Rasakanlah, Aominecchi.." Gumam Kise pelan sambil terus melanjutkan lukisannya diwajah kelam Aomine. Setelah beberapa saat berlalu dan Kise menyadari kalau Aomine sedang menggumamkan sesuatu. Merasa kepo alias ingin tau Kise pun mendekatkan telinganya kearah asal suara, mulut Aomine. Samar samar terdengar gumaman Aomine seperti, "Ki..se.." Orang yang bersangkutan dan merasa terpanggil pun menunjukkan satu jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri. "Aku ssu?" Gumamnya tak mengerti apa yang sedang di dengkurkan Aomine. Kise yang semakin penasaran dengan apa yang sedang didengkurkan oleh Aomine. Jelas saja dia jadi penasaran karna namanya disebut sebut disana.

Baru saja dirinya mendekat beberapa centi. Tetapi, tiba-tiba saja lengan hitam Aomine melingkar pada tubuhnya dan juga menariknya kedalam dekapan hangatnya. Mungkin Kise akan berawal menjadi guling dan berakhir menjadi tempat iler Aomine atau mungkin saja itu, ehem. Lalu, Aomine yang sempat terdiam setelah menarik Kise pun mulai bersuara kembali. "Kise!" Kalau saja Kise tak tutup telinga mungkin saja dia sudah punya masalah dengan pendengarannya sekarang. Karna, pikir Kise si item itu udah selesai teriak Kise yang juga sudah kehabisan akal dan kesabarannya pun membalas teriakkan itu dengan volume suara yang tak kalah tinggi. "Apaan sih ssu? AHOMINECCHI!" Bahkan sepertinya kelewat keras. Aomine yang emang dasarnya udah bolot pun hanya merespon dengan lenguhannya. "Nghh— Apaan sih—" Aomine benar benar deh. Gatau apa yah, kalau doinya lagi kepeluk sekarang, ups.

"Lepaskan aku ssu!" Protes Kise, lagi. Sembari memberontak sekuat tenaga dari dekapan si dekil satu ini. Tapi, nihil. Tenaganya masih kurang ternyata.

Tunggu, kenapa Aomine hanya diam saja? Sudah mati dia? Hush—! Dia Cuma lagi bingung. Sepertinya suara yang satu itu bukanlah lagi dari alam mimpinya melainkan—asli? Aomine yang mulai ingin tahu pun membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit. Memperlihatkan sosok yang baru saja dimimpikannya tadi. Masih buram. Kedip sekali. Dua kali. "Kise—?! A—pa yang sedang kau lakukan disini, hah?!" Tanya Aomine agak gelagapan.

"Seharusnya aku yang bertanya ssu!" Balas Kise dengan mengedepankan otot. Habis emosi. "Ahominecchi sih. Kau mimpi apaan sih, ssu?" Celetuk Kise kemudian setelah berhasil meredam kekesalannya yang sebentar tadi.

Aomine yang ketangkep basah pun cari-cari alasan. "Ah—tidak! Lagipula, ini bukan urusanmu Kise! Chotto—Aho?! Kau tuh yang bodoh!"

Kise yang gak terima kalau disebut yang tadi itu bukan urusannya pun protes, "Bukan urusan ku bagai mana ssu?! Jelas jelas tadi wajahmu itu sangat mesum dan memanggil manggilkan namaku ssu! AHOminecchi dasar! Ngaku ssu! Kau mimipi apa?" Itulah protesan Kise yang menuntut.

"Duh, kau itu kelewat cerewet Kise!" Aomine yang gatau harus ngomong apa lagi. Karna mimpinya yang terlalu—Lupakan!

CUP—

Aomine malah mencium Kise untuk membungkam mulutnya yang menimbulkan suara cempreng nan berisik tersebut. Ciuman itu sama sekali menuntut hanya saling bertautan satu sama lain saja.

Kise pun terbelalak. Tetapi akhirnya dia menutup matanya juga menikmati setiap inchi bibir Aomine yang kini menempel dibibirnya.

Aomine yang merasakan keanehan dari yang bersangkutan. Tak adanya perlawanan. Karena merasakan tak adanya perlawanan dari Kise. Aomine pun mulai melumat bibir Kise perlahan. Seketika ciuman yang diawal sangat lembut pun berubah menjadi suatu kebutuhan yang menuntut. Lumatan kecil pun berubah menjadi lumatan yang lebih intens dan kuat. Membuat Kise yang hampir kehabisan napasnya pun membuka mulutnya. Kesempatan ini pun tentu tak disia siakan oleh Aomine untu menelusupkan lidahnya kedalam rongga mulut Kise. Menjelajahi serta mengabsen setiap gigi gigi putih dan juga tak lupa dengan gusinya. Semuanya dia sapu bersih dengan lidahnya.

Beberapa waktu telah berlalu. Oksigen adalah kendala utama yang dibutuhkan oleh masing masing pemilik kepala biru tua dan kepala kuning tersebut.

"Hah—Ao—minecchi!" Kise yang baru saja ingin mengatur nafasnya agar kembali normal terpaksa untuk tidak melakukannya. Karena, ulah Aomine yang langsung berpindah pada leher jenjang Kise dan memberikan beberapa tanda merah dibagian tersebut. Tangannya pun tak bisa diam dan bergerak untuk menyingkap kaos putih milik Kise. Memperlihatkan perut rata. Merabanya perlahan yang membuat Kise sedikit membelalakkan matanya dan merasakan sensasi yang berdesir.

"Henti—kan! Aomine—cchi!" Protes Kise yang tersendat dengan nafasnya dan juga desahan kecilnya sendiri. Aomine yang masih memiliki kedua telinganya punya hanya mengabaikan protesan tersebut. Malahan dirinya meneruskan kegiatannya hingga ke bagian kepemilikkan Kise. Menggenggamnya, mendapati celana Kise sedikit basah membuatnya menyeringai sembari menatap Kise.

"Ho— kau sudah mengeras ya Kise. Sepertinya mulutmu tak jujur ya." Lontar Aomine mengejek Kise sembari menelusupkan tangannya kedalam celana Kise dan membuat gerakkan teratur dari atas lalu ke bawah, dan terus berlanjut.

"Ahhn—nggh—Aominecchi!" Kise sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Aomine padanya. Benar memang. Walaupun, mulutnya berkata kalau ingin in dihentikan tetapi berbeda dengan respon tubuhnya yang seperti menginginkan lebih lagi.

Aomine pun lebih mengikuti respon dari tubuh Kise tentunya. Terus melanjutkan aktivitas tangannya dibawah sana yang sibuk memuaskan benda milik Kise yang sepertinya sudah mengeluarkan cairan pre-cum.

"Aominecchi—ahh!" Berbarengan dengan teriakan panjang Kise dan juga saat itulah Kise mengeluarkan cairannya yang membasahi tangan Aomine dan sedikit pada bagian perut Kise.

"Cepat ya, Kise." Ujar Aomine yang kembali menggoda Kise.

Kise yang yang baru saja menggeluarkan cairannya tersebut sedanglah mengatur nafasnya sebelum kembali menjawab perkataan dari Aomine. "Hah—sudahlah ssu! Jangan menggoda ku, terus Ahominecchi!" Lontar Kise yang masih tersenggal.

"Oh, jadi kau ingin menghentikannya ya? Sayang sekali..." Ujar Aomine yang kembali membalas perkataan Kise sambil terus menggodanya.

"Ja—jangan ssu! La—lanjutkan, Aominecchi..." Jawab Kise yang bersemu merah diwajah sembari mengalihkan arah pandangannya dari Aomine. Tak kuat untuk menatapnya.

"Baiklah." Angguk Aomine. Seperskian detik setelahnya satu jari pun memaksa masuk kedalam lubang sempit dibawah sana yang membuat pemiliknya pun merintih kesakitan.

"Ah—ittai ssu! Aominecchi—ah!" Kise yang merintih kesakitan terus memanggil nama Aomine atau sekedar berteriak dan juga meremasseprai untuk lempiaskan kesakitannya dibawah sana.

"Ukh—Kau, terlalu sempit Kise. Relax saja.." Ucap Aomine yang berkomentar tentang apa yang sedang dilakukannya sekarang. Setelah dikira cukup waktu Aomine pun menambahkan kedua jarinya dan bergerak seirama keluar lalu kedalam mencari cari dimana titik kelemahannya itu.

"Ahnghh—Aominecchi... rasanya aneh ssu.." Ujar Kise yang mulai terbiasa dengan kedua jari Aomine. Mungkin sudah merasakan kenikmatannya,

Aomine yang masih mencari cari dimana titik kelemahan Kise tersebut pun mulai memperdalam laju tangannya dan, "Ahhng—Ahh—n!" Dapat. Aomine pun terus mengarahkan jarinya ke tempat tersebut hingga membuat Kise mendesah nikmat. Merasa sudah cukup Aomine pun mengeluarkan kedua jarinya dari dalam sana.

Kise yang hanya bisa mengatur nafasnya agar kembali normal dan hanya menatap Aomine dengan tatapan sayu. Aomine yang sudah tidak punya banyak kesabaran pun mengarahkan miliknya untuk memasuki lubang Kise perlahan. Kise yang tanpa diberikan istirahat sedikitpun oleh Aomine mendesah karena perbuatan Aomine. Aomine yang sudah memasukkan setengah miliknya pun kembali meraup bibi ranum Kise membungkam semua desahan Kise. Bukan, ciuman lembut seperti diawal tadi. Sekarang yang ada hanyalah ciuman menuntut dari kedua belah pihak. Aomine yang sekarang sedang melumat habis-habisan bibir Kise dan juga sembari menggerakkan miliknya didalam lubangnya pun semakin menggila. Kise yang hanya bisa menerima semuannya dan juga hanya bisa mendesah tertahan pun sangat pasrah dan mengalungkan kedua tangannya dileher Aomine agar mendapatkan yang lebih dari ciuman tersebut.

"Aominecchi—ngh!"

.

.

.

.

.

TBC

A/N: Nah, HAHAHAHAHAHAHAHA maapin yak!

Yang pertama karena telat update :^) yah, itu karena tugas menggunung yang harus dilakuakan... ini aja diketik bersamaan dengan ngerjain tugas jadi misalnya kalau ada yang error aka typo maklum yaaaa!

Oh, trus chapter depan gatau rilis kapan huehehehehehhe abisnya mau ukk -,- yaudahlah daku angkat kaki saja! Lagian Cuma dibaca doang gaada yang review D: eh, juga ngucapin makasih nih buat yang udah review, fav, follow! Arigatougozaimasu! :^) aku terhura~

Review DONG! :D

—Akina Ame.