Disclaimer: KnB belong to Fujimaki Tadoshi, Gara Gara Tiket Gratis belong to Akina Ame.

Warning: OOC, AU, YAOI, boy x boy, gaje, judul maupun story nan mainstream, alur cepat, fluff, kata kata keluar dari kamus besar bahasa indonesia, or lainlain(?)

Rating: M

Pairing: AoKi

Note: hallo reader yang telah lama sekali tak jumpa! Aduh maapin daku yang lama banget updatenyaaaaa! ;-; Yaudah! SUTAAARRTOO!

.

.

PLEASE GET OUT OF HERE IF YOU DIDNT ENJOYED THE STORY LINE OR ELSE! DONT SAY IF I DONT WARN YOU!

.

.

Barulah beberapa saat berlalu setelah bebera pemanasan yang dilakukan Aomine kepada tubuh Kise. Guna membiasakannya agar Aomine bisa terus melanjutkan aktivitasnya tanpa ada sedikitpun penolakkan dari Kise.

Kise yang hanya bisa menerima semuannya dan juga hanya bisa mendesah tertahan pun sangat pasrah dan mengalungkan kedua tangannya dileher Aomine agar mendapatkan yang lebih dari ciuman tersebut.

"Aominecchi—ngh!" Suaranya kembali tertahan dengan segala macam suara aneh yang dengan mudah keluar dari mulutnya yang tanpa pertahanan tersebut. Walaupun ada kalanya saat Kise mulai memaksakan suaranya keluar untuk memanggil nama yang menyebabkan semua hal ini. Aominecchi. Begitulah caranya memanggil tersebut. Aomine yang mengalami penurunan tingkat kesabarannya pun mulai mengeluarkan kedua jarinya tanpa menemukan sebuah tempat yang dapat membuat Kise terbang ke langit ke tujuh tersebut.

"Kise—Gomen." Aomine yang saat itu diburu nafsu pun langsung membebaskan bendanya telah mengalami kesesakkan beberapa saat tadi. Bendanya sudah lama tegang jadi tidak ada yang bisa membuat Aomine menunggu lagi. Dapat dilihat dengan caranya memasukkannya. Sekali dorong setengah miliknya sudah berada didalam Kise.

"Aaa—k—h!" Kise yang mendapatkan serangan mendadak pun reflek menarik lehernya untuk mendongak dan berusaha mengalirkan segala macam segala macam rasa sakitnya pada seprai yang hanya bisa digenggamnya kuat kuat. Hingga seprai tersebut menjadi sedi—uh. Sangat berantakan.

Aomine yang telah mengerti dengan keadaan Kise. Ia pun lebih memilih untuk membiasakan Kise dengan benda asing yang baru saja memaksa masuk tersebut. "Kise, tenanglah." Aomine pun mencoba menenangkan Kise. Mencium pelupuk matanya yang mulai mengeluarkan butiran-butiran kecil air yang lalu menjilatnya penuh perasaan.

"Aominecchi... Aku baik-baik saja ssu... Kau boleh melanjutkannya ssu..." Kata-kata Kise yang terengah dan penuh dengan pelunya.

Aomine yang pada awalnya sedikit merasa ragu pun mulai bergerak perlahan membuat beberapa sensasi hangat pada orang yang berada dibawahnya yang tak lain adalah Kise itu.

Bisa dibilang intensitas pergerakkannya masihlah sangat lambat. Walaupun begitu tak bisa dipungkiri lagi kalau Kise yang sebelumnya merasakan kesakitan yang luar biasa pun berganti dengan kenikmatan yang belum seberapa. Suara rintihan pun juga sedikit demi sedikit berubah menjadi suara desahan yang juga dibarengi dengan gerakkan dari dorongan Aomine yang mulai dipercepatnya. Kise yang sudah sangat mengetahui jika dirinya hanyalah bisa pasrah dengan apa yang tengah dialaminya sekarang pun mulai melingkarkan kedua tangannya pada leher Aomine.

"Kise.." Panggilan dengan suara pelan, decitan suara kasur dan beberapa suara nafas yang terengah berebut oksigen pun terus-menerus terdengar dari dalam sebuah kamar. Tak salah lagi itu adalah perbuatan kedua orang yang sedari tadi terus berbagi nafas satu sama lain tak bisa dihindari merekapun berbagi peluh yang sama sama menempel diberbagai bagian tubuh mereka tak bisa dihindari pula saat mereka berciuman saliva mereka saling mengalir keluar dan entah saliva milik siapa itu.

"Aominecchi—ahh—n!" Desahan lain kembali lolos dari mulut Kise yang tampaknya telah termakan oleh buaian nafsu. Hal itu dapat terlihat dari wajahnya porselennya yang sudah berubah warna disekitar tulang pipinya hingga ke bagian telinganya menjadi warna merah ke-pink-an. Jangan lupakan juga bibirnya yang telah memerah dan sedikit membengkak karena ulah Aomine. Sampai pelupuk mayanya pula telah memerah. Kelihatannya memang sudah benar-benar jauh dari kata rapih. Lebih tepat jika dikatakan, sangat berantakan.

Tangan Aomine tentu saja tak akan bisa diam saja. Sedari tadi pun memang begitu, tak bisa diam. Tangannya mulai menjalar dari bagian dada milik Kise pada kedua tonjolan kemerahan itu terus menjalar kebawah melai perut rata Kise dan berhenti pada milik Kise untuk kembali memanjakannya dan membuatnya mengeluarkan cairan kenikmatannya sekali lagi.

Juga jangan lupakan yang satu ini. Lidah Aomine. Salah satu bagian tubuh dari Aomine yang juga tak bisa diam. Jangan lupa dengan gigi-gigi putihnya yang juga menggerayangi leher porselen milik Kise itu. Gigi-gigi putihnya tersebut merubah bagian leher Kise yang porselen menjadi seperti seorang yang sedang mengidap penyakit cacar. Pft— beda kok. Hanya saja lihat itu. Leher milik Kise tak bisa menghindar dari gigitan Aomine yang tentu saja meninggalkan bekas. Lagi, bukan hanya satu atau dua tanda disana. Namun, juga berada disetiap inchi kulit lehernya dan beberapa dibagian dada atau perutnya juga ada pula.

Satu lagi bagian tubuh Aomine. Juga jangan lupakan bagian yang satu ini. Bagian yang satu ini seharusnya jadi pemeran utama. Yah, tentu saja bagian tersebut sama sekali tak bisa beristirahat sedikitpun. Bukan paksaan memang. Tetapi, karena sudah menjadi nafsu maka pergerakkan yang tanpa henti itupun semakin menuntut. Bagian tubuh ini memanglah sangat lamban diawal pergerakkannya. Namun sekarang saatnya unyuk mempercepat pergerakkannya tersebut.

Karena sepertinya Kise telah menikmati apa yang Aomine lakukan sekarang ini. Padahal diawal tadi Kise terlihat—menderita?

Tapi lihat sekarang, dia sudah mulai menikmati setiap inchi dari salah satu bagian dari tubuh Aomine itu, miliknya.

"Kise—" Akhirnya ruangan yang sebelumnya hanya penuh lennguhan pun dipatahkan oleh suara Aomine yang memanggil nama Kise.

"Aomine—cchi..." Kise pun ikut-ikut memanggil nama Aomine namun sedikit terpotong dengan lenguhannya sendiri. Tangannya pun menyusul melingkar pada leher Aomine. Seperti menariknya lebih dekat.

Tentu saja kedekatan jarak wajah mereka dihapuskan dengan ciuman oleh Aomine. Kali ini pun ciuman itu sangatlah menuntut diantara bibir mereka. Saling adu lidah dan diikuti dengan suara decakkan pun tak dapat terelakkan.

Ciuman itu pun belumlah berakhir namun sepertinya Kise mengiinginkan sesuatu yang lebih. Kakinya pun ikut melingkar pada pinggang Aomine yang mengisyaratkan kalau Kise sudah tak tahan. Seiring dengan habisnya oksigen dikedua belah pihak akhirnya ciuman tersebut pun berakhir dan dilanjutkan dengan permainan dibawah sana yang semakin cepat dan liar.

Merasa jika klimaksnya sudah dekat Kise pun mendesah lebih keras lagi. "Anghnn—n Aomin—cchi... aku mau—" belum sempat dirinya menyelesaikan perkataannya itupun terpotong dengan lenguhan yang panjang dan dilanjutkan dengan cairan klimaksnya yang keluar dan membasahi dirinya dan juga terciprat sedikit pada Aomine.

Dilanjutkan dengan pergerakkan Aomine yang semakin cepat karna dirinya juga sudah dekat dengan klimaksnya. Semakin cepat, dan cepat. Lalu, berhenti. Dibarengi dengan pergerakkannya berhenti cairan klimaksnya sudah memenuhi bagian dalam milik Kise. Dan sepertinya selesailah permainan mereka.

.

.

.

Sepertinya sekarang langut telah kembali mengoranyekan wilayah mereka yang sangat luas tersebut.

Padahal sudah sore, kenapa kedua orang ini tidak bangun juga ya, mencurigakan. Pft— tampaknya mereka kelelahan karna aktivitas mereka tadi pagi. Oh, iya yang itu.

Sepertinya salah satunya sudah bengun sedari tadi, deh.

'Ti-tidak, ssu! Tidak mungkin! Ti-tidak mungkin ssu!" yah, Kise yang mulai menyadarkan dirinya kalau yang tadi pagi itu hanyalah hayalannya saja. Hah, dasar.

Aomine kenapa bangunmu lama sekali, "Nggh—Kise?" Panggilnya yang setengah sadar.

Kise yang tidak menyadari panggilan tersebut pun tetap mengatakan pada dirinya sendiri kalau yang terjadi itu adalah hal yang tidak mungkin.

"Kise, oi." Panggil Aomine sekali lagi. Kali ini sembari setengah bangun dari tempat tidurnya yang hanya untuk sekedar melihat muka Kise, yang sedang gemetaran?

"Kise! ...oh, jangan jangan kau sedang membayangkan apa yang terjadi tadi pagi ya?" Tanyanya jahil dan tak lupa dengan seringaian yang muncul pada wajahnya.

"Uwaa— Aominecchi kau mengagetkan saja ssu!" Melihat seringaian dari Aomine pun membuatnya mengetahui kalau dirinya sedang dalam—bahaya.

CUP—

Lagi-lagi ciuman singkat dari Aomine pun dilayangkan pada bibir Kise. "Kalau kau memang begitu mengiinginkannya, ayo kita teruskan yang tadi pagi."

Kise pun kembali merasakan apa yang dirasakannya pada tadi pagi dan terus berlanjut yang entah hingga kapan.

Poor Kise.

.

.

.

.

.

—END

A/N: HAI LAGI minna-saaaannnnnnnn :"D maaf banget karna ini chap end yang sangatlah lamaaaaaaaa maaf bangeeeeetttttt :"D karna dari kapan tau gapunya mood buat nuliiisssss jadi gini deeeehhhhhh :'D

Tolong tinggalkan jejak yaaaaaa :"D SANKYUUUUU!

Oiya, kalo yang punya ide atau apapun bakal aku terima lewat PM YAAAA!

See you bext time, reader(s)

Sign, Akina Ame.