Sebastian x Fem Ciel
Rated T
I don't own kuroshitsuji
Happy reading
.
.
Aku menangis seharian dikamar. Beruntung hari ini bibi pulang malam. Karena yang kubutuhkan saat ini adalah sendiri.
Kubenamkan wajahku pada lututku. "S-sebastian..." gumamku disela isakan.
Aku hanya berharap, dengan memanggil namanya ia akan datang. Tapi mungkinkah itu akan terjadi mengingat apa yang tadi kukatakan padanya?
Aku bodoh. Bodoh. Bodoh.
Aku tidak bisa berbohong mengenai perasaanku padanya. Munafik, memang. Seharusnya aku tidak mengatakannya. Aku tidak peduli jika perasaanku tidak terbalaskan, aku tidak peduli jika ia mencintai orang lain. Bukankah seharusnya aku bahagia jika Sebastian bahagia?
'Kenapa aku begitu egois...'
Keheningan didalam kamar terinterupsi oleh dering ponselku.
Dadaku terasa semakin sakit, saat kulihat nomor yang muncul adalah nomor uSebastian. Aku menatap layar ponselku dengan tatapan kosong.
'Apa ia khawatir padaku?'
Aku tersenyum pahit saat kugeser layar touch screen pada ponselku.
"Ciel? Apa kau baik-baik saja?" Hanya mendengar suaranya saja membuatku senang. Tapi disaat yang sama, rasa sesak ini semakin menyeruak.
"Ciel? Kau disana?" kudengar suaranya terdengar panik saat tidak ada jawaban dariku.
Aku menelan ludah.
Aku tidak ingin ia mendengarku menangis.
"Hei Sebastian, aku disini" jawabku beberapa saat kemudian.
"Syukurlah, kau membuatku khawatir" katanya. Rasanya aku senang, terutama saat ia bilang bahwa ia khawatir. Menurutku itu sudah cukup. "Tidak masalah kan, jika aku menelponmu" katanya dengan nada ragu.
"Maksudmu?" aku tidak bisa berbohong jika aku tersenyum saat ini.
"Tadi kau bilang tidak ingin bertemu denganku. Tapi itu tidak berarti aku tidak boleh bicara denganmu melalui telepon kan?"
Rasa bersalah menyelimutiku.
"Aku minta maaf tentang itu..." tanpa kusadari air mataku kembali meleleh.
"Kau tidak perlu meminta maaf" katanya lembut.
"Tapi tadi aku sudah membentakmu... aku minta maaf" kataku berusaha menahan isakanku.
"Tidak usah kau pikirkan yang tadi. Baiklah, aku harus menyelesaikan skripsi ku dengan Hannah, sampai jumpa" Setelah itu dapat kudengar suara nada sambung yang terputus.
Aku tersenyum miris, "Mungkin aku memang harus melepaskannya..." kataku dengan air mata yang mengalir deras. "Sebastian, aku mencintainu..." gumamku sebelum akhirnya aku menutup mataku.
.
.
Aku memasang senyum palsuku, melihat Hannah dan Sebastian yang begitu mesra. Ini sudah hampir sebulan semenjak kejadian aku yang hampir tertabrak. Dan minggu lalu, Hannah dan Sebastian resmi jadian. Setelah mencoba melepakannya, aku merasa sudah terbiasa dengan sesak di dadaku. Aku memang melepaskan Sebastian, tapi aku tetap mencintainya. Karena itulah aku lebih bahagia dia bahagia bersama orang lain. Biarkan aku saja yang merasakan sakit ini.
"Hei Ciel, hari ini kau hanya diam. Apa kau sakit?" tanya Hannah menatapku heran.
Aku hanya tersenyum, "Aku tidak sakit" jawabku. Jika kalian ingin tau, sebenarnya hatiku menangis. Tapi menangis berhari-hari sama sekali tidak berguna. Yang ada, justru dadaku semakin terasa sakit.
"Jika ada masalah kau bisa ceritakan pada kami" Sebastian angkat bicara.
"Aku tidak ada masalah kok" aku tertawa, tapi tawaku segera berhenti melihat tatapan aneh dari Hannah dan Sebastian.
"Lalu kenapa kau menangis?" tanya mereka hampir bersamaan. kekhawatiran tersirat pada wajah mereka berdua.
Glek
Aku menelan ludahku. Otak ku berusaha mencari alasan yang tepat.
"Tadi malam aku menonton drama. Melihat kalian, membuatku teringat dengan cerita drama itu" jawabku asal. 'Uh! Aku bahkan tidak suka film drama!'
"Heh, benarkah?" tanya Sebastian menatapku dengan tatapan menyelidik. 'Sial! aku lupa Sebastian tau bahwa aku tidak suka film drama!' batinku. "Bukankah kau tidak suka film drama, Ciel?" tanya Sebastian curiga.
"Itu..." aku sempat panik, lalu kutarik nafas dalam-dalam. "Memang aku tidak suka film drama, tapi bibi Ann yang memaksaku untuk menonton bersamanya" kataku asal.
"Oh" sepertinya itu berhasil.
Sunyi.
"Aku pulang dulu" kataku bangkit berdiri.
"Eh? Kenapa buru-buru?" tanya Hannah terkejut.
"Aku ingin bertemu seseorang" jawabku bohong. Hah~ Aku memang sering berbohong pada mereka akhir-akhir ini. Alasannya hanya satu,...
Aku cemburu melihat mereka berdua.
Walaupun aku ingin melepaskan Sebastian, tapi tetap saja. Aku masih mencintainya, sangat malah. Aku juga tidak bisa membohongi perasasnku bahwa aku cemburu.
Berkali-kali aku berusaha melupakan Sebastian, tapi hasilnya nihil. Aku justru semakin rindu dengannya. Semenjak Hannah dan Sebastian jadian, Sebastian jarang menelpon maupun mengajak ketemuan. Kalau ketemuan pun, ia pasti mengajak Hannah juga.
Tanpa sadar, saat ini kakiku telah melangkah meninggalkan cafe tempat Sebastian dan Hannah tadi. Dan saat ini aku tidak yakin aku dimana.
"Awas!" Sebuah bola basket mendarat tepat pada kepalaku. Dapat kurasakan kepalaku sedikit pusing setelah terkena lemparan bola badket tersebut. "Hei, kau tidak apa-apa?" tanya seorang anak laki-laki berambut pirang. Ia menjulurkan tangannya, membantuku untuk berdiri.
"Aku tidak apa-apa" kataku sambil membersihkan bajuku dari debu-debu yang menempel.
"Hei! Kau mimisan!" seru anak laki-laki itu panik. Aku meraba hidungku, dan dapat kulihat cairan merah kental itu menempel pada jariku. "Sini biar aku bantu membersihkannya" kata anak laki-laki itu merogoh sapu tangan berwarna biru muda nya. Dengan hati-hati anak yang lebih tinggi dariku beberapa senti itu mengusap darahku dengan sapu tangannya.
"Maaf, aku membuatmu mimisan" kata anak laki-laki itu setelah membersihkan noda darah pada hidungku."Sekarang kau hanya perlu mendongak" katanya lagi.
"Terimakasih" gumamku.
Sekilas dapat kuliat senyum ceria anak itu. "Namamu siapa?" tanya anak itu ramah.
"Ciel. Ciel Phantomhive" jawabku masih dengan posisi mendongak.
"Halo Ciel, perenalkan aku Alois Trancy" ia tersenyum lebar padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis. "Senang bertemu denganmu, Ciel" katanya lagi.
"Baiklah, apa sekarang kau sudah tak apa?" ia bertanya padaku.
"Sudah lebih baik, terimakasih" aku tersenyum tipis.
"Maaf jika aku bertanya, kau habis menangis?" tanya Alois menatap mataku yang sembab karena menangis tadi.
"itu..."
"Jika kau tidak mau menjawab juga tak apa" Alois tersenyum.
.
.
"Ciel~" sebuah ketukan pintu membuatku tersadar dari lamunanku.
"Ada apa Bibi?" tanyaku membuka pintu kamarku.
"Sebastian datang..." dapat kulihat wajah Bibi yang berseri-seri. Aku menaikan sebelah alisku, "Kenapa dia kesini?" tanyaku. "Dia datang bersama gadis cantik. Sepertinya dia pacar Sebastian,kudengar namanya Hannah" bibiku tampak senang. Bisa dibilang ia telah menganggap Sebastian seperti keluarga sendiri.
"Lalu?" tanyaku malas
"Kau masih bertanya? tentu saja cepat keluar dari kamarmu dan temui mereka" omel bibi Ann panjang lebar, membuatku jengah karenanya.
"Baikkah" kataku lalu berjalan keluar dari kamar.
Saat aku menuruni tangga menuju ruang tamu, dapat kulihat Sebastian dan Hannah sedang bermain piano bersama. Aku berhenti melangkah menuruni tangga, memandang kearah mereka berdua. Semakin lama aku melihat mereka berdua, dadaku terasa semakin sakit.
Aku memandang wajah Sebastian yang begitu bahagia saat bersama Hannah, begitupula sebaliknya. Aku hanya akan menjadi pengganggu.
Lagu yang dimainkan Sebastian itu...
Lagu yang ia buat untuk ibunya.
Aku masih ingat bagaimana ia bermain piano bersamaku saat itu, tapi sekarang... diriku yang duduk disebelahnya, bermain bersamanya, telah tergantikan oleh Hannah. Hannah yang jauh lebih sempurna dariku.
"Wah kalian memang benar-benar cocok!" kataku dengan nada ceria. Aku berjalan mendekat kearah mereka, lalu memasang senyum palsuku. Dapat kulihat Hannah tersenyum. Mungkin karena mendengar pujianku. Sementara Sebastian?
"Kau menangis?" tanyanya mengernyit.
Ia bangkit berdiri, lalu menunjuk mataku yang sedikit bengkak karena beberapa menit yang lalu aku menangis dalam diam. "Matamu bengkak" katanya.
"Aku tidak menangis kok..." aku berusaha beralasan.
"Sudahlah Ciel, jika kau ada masalah kau dapat bercerita pada kami" Hannah tersenyum lembut. Senyuman hangat Hannah membuat hatiku semakin sakit. Disatu sisi, aku tidak bisa berbohong jika aku membencinya. Tapi disisi lain, Hannah selalu baik padaku. Aku juga menganggap Hannah adalah sahabatku. Mana mungkin aku membiarkan mereka sedih hanya untuk ke egoisan ku?
"Aku tidak ada masalah kok" kataku.
.
.
"Hei Ciel" panggil Sebastian memecah lamunanku.
"eh, apa?" aku sedikit terkejut.
Ia menatapku dalam. Aku berusaha menghindari kedua orb ruby nya.
Hari ini adalah pertemuanku dengan Sebastian saja. Rasanya sudah lama aku dan Sebastian tidak ketemuan berdua saja. Terakhir kali, mungkin sehari sebelum Sebastian dan Hannah jadian. Saat itu Sebastian meminta pendapatku bagaimana harus menyatakan perasaannya pada Hannah.
"Kau tau, kau tidak bisa berbohong padaku Ciel" aku mengernyit mendengar perkataannya. "Apa maksudmu?" tanyaku.
"Aku tau, kau sering menangis. Itu terlihat dari matamu yang bengkak 2 hari yang lalu. Tapi saat ditanya, kau hanya menjawab 'tidak apa-apa'. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan?" tanya Sebastian menatap tepat kedalam orb ku.
'Yang kusembunyikan adalah perasaanku padamu'
"Bukan apa-apa" jawabku.
"Ciel, kita sudah kenal sejak kecil. Apa kau masih merahasiakan sesuatu dariku?"
'Tentu saja, sesatu itu adalah kenyataan bahwa aku mencintaimu'
"Haruskah kau tau?" tanyaku sinis.
"Apakah kau tidak percaya padaku?" tatapan Sebastian seakan ingin membuatku menangis. Apakah ia harus tau bahwa aku mencintainya?
"Hei, kau menangis?" ia mengusap jejak air mataku.
"M-maaf Sebastian... a-aku selalu merepotkanmu..." gumamku disela isakan.
Ia menempelkan wajahku pada dadanya. Samar samar dapat kudengar suara detak jantungnya. Seandainya aku bisa seperti ini bersamanya...
"Kau tidak merepotkan kok" tangannya mengusap helaian rambut kelabuku.
'Seandainya kau tau Sebastian, bahwa aku mencintaimu...'
"Jangan menangis" ia membelai kepalaku. "Kau seperti bukan Ciel yang aku kenal" lanjutnya menyelipkan jari-jari panjangnya disela rambutku. Dapat kurasakan jantungku berdebar kencang saat ia memeluk ku seperti ini.
'Ah, apa ia sadar saat ini jantungku berdebar karenanya?'
"Akhir-akhir ini kau membuatku khawatir" bisiknya didekat telingaku. Aku merasa geli saat nafas Sebastian menyapu leherku.
"..." aku hanya diam. Merasakan kehangatan tubuh Sebastian.
"Aku merasa, bahwa kau tidak senang saat melihatku bersama dengan Hannah. Apa itu benar?" ia melepas pelukannya, lalu menatapku dalam-dalam.
Rasa bimbang menerpaku. Apa aku harus jujur padanya jika aku tidak suka melihat mereka bersama karena aku mencintai Sebastian? Atau aku harus berbohong lagi?
Tapi jika aku jujur, aku hanya akan membuat mereka berdua sedih. Aku tidak bisa egois seperti itu...
"Kau tau? Awalnya aku tidak yakin dengan Hannah..." aku tersenyum miris. Sementara Sebastian hanya diam, menungguku berbicara. "Tapi, setelah aku mengenalnya..." aku berusaha menahan air mataku. "Kurasa kalian sangat cocok. Aku bahagia jika kalian berdua bahagia" kataku dengan nada berpura-pura ceria.
"Begitukah?" Sebastian tersenyum. Mungkin ia senang karena aku mendukung hubungan mereka.
'Maaf Sebastian... aku terpaksa harus berbohong... aku hanya ingin melihat kalian bahagia'
.
.
Saat aku melihatmu, kau memandang ketempat lain
Aku hanya bisa melihatmu dari sini
Melihatmu tersenyum bahagia bersamanya
Dadaku terasa sesak saat melihatmu dengannya
Tapi aku sadar, aku tak pantas untukmu
Aku tidak bisa memaksakan kehendak ku
Tapi aku berharap...
Sekali saja, tolong lihatlah aku
Aku yang berdiri disini menunggumu
Aku yang selalu mencintaimu...
Aku mencintaimu, Sebastian...
Aku tersenyum miris terhadap apa yang baru saja kutulis.
Hari ini aku sendiri dirumah karena memang bibi Ann sedang ada tugas diluar kota untuk beerapa bulan saja, sementara aku libur kelulusan.
Untuk menghindari rasa bosan dirumah, aku menulis sebuah surat. Yah, hitung hitung hanya mengisi waktu luang.
Keheningan pagi di kediaman bibiku harus terinterupsi suara bel pintu yang berbunyi.
Aku segera bangkit berdiri dari sofa, lalu membukakan pintu.
Saat membuka pintu dapat kulihat gadis berkulit agak tan dengan rambut keperakan tersenyum padaku. Ah, tumben sekali Hannah datang berkunjung.
"Pagi Ciel" sapanya.
"Ah, Hannah? Silahkan masuk" kataku mempersilahkan.
"Aku akan mengambil minuman" kataku beranjak menuju dapur.
Beberapa menit kemudian, aku menuju ke ruang tamu untuk memberikan morning tea padanya.
Kedua mataku membulat saat aku mendapati Hannah sedang membaca tulisanku yang tadi. Tanpa sengaja, aku menjatuhkan nampanku sangking terkejutnya. Suara pecahan cangkir teh ku membuat Hannah menoleh cepat kearahku.
Ia beranjak dari sofa tempat ia duduk. "Kau tak apa?" tanya Hannah sedikit cemas. Ia berusaha membantuku membersihkan pecahan cangkir, tapi aku menepisnya.
"Biar aku saja" kataku dengan suara parau.
Ia hanya diam, menatapku yang beranjak ke dapur untuk membuang pecahan cangkir teh dan membuatkannya yang baru.
Beberapa saat kemudian, aku kembali dengan teh yang baru kubuat.
"Maaf tentang yang tadi" kataku berusaha tersenyum walaupun senyumku terlihat aneh.
Ia hanya diam. Kedua matanya menatapku seakan ia meminta penjelasan padaku.
"Ciel..." panggilnya membuatku gugup. Tanganku bergetar, sementara jantungku berdebar kencang. "Apa benar kau yang menulis ini?" tanya Hannah dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya. Aku menelan ludah.
"..." Aku hanya bisa diam. Aku tidak sanggup menatap matanya. Itu malah membuatku terlihat bahwa aku berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ciel, kumohon jawab aku" ia menatapku dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan lagi. "Apa ini yang kau sembunyikan dari kami?" rasa bersalahmenyelimutiku. Hal yang paling kutakutkan terjadi.
Air mataku meleleh tanpa kusadari. Wajah Hannah terasa buram karena air mata yang mendesak keluar.
"Ciel..." Hannah mengusap jejak air mataku tapi segera kutepis. Aku tidak butuh ia mengasihaniku seperti ini.
"Kau tidak perlu minta maaf atau apapun" aku tersenyum miris. "Aku sudah merelakan kalian berdua.." rasanya tenggorokan ku begitu kering sehingga membuatku agak serak saat mengatakannya tadi.
"Tapi, apa Sebastian mengetahui ini?" tanyanya sementara aku menggeleng pelan.
"Ia tidak tau..." gumamku menunduk. Aku tidak kuat lagi menatap kedua mata Hannah. "Tapi kumohon... tolong jangan bilang padanya... bahwa aku mencintainya... kumohon Hannah..." isakan mulai menyeruak.
"Kenapa kau tidak bilang padanya saja?" tanya Hannah lembut sambil mengusap jejak air mataku.
"Tidak... tidak mungkin aku bilang begitu... ia akan membenciku..." aku menangis di pundak Hannah. "Aku tidak ingin ia sedih karena aku..."
"Ciel, jika begitu kau hanya akan menyakiti dirimu saja" Katanya memandangku iba. "Lagipula..." sebelum Hannah melanjutkan kata-katanya, aku dan Hannah menoleh kearah pintu yang terbuka. Betapa terkejutnya aku saat mengetahui siapa yang datang...
"Sebastian" panggilku dan Hannah bersamaan memandang pria raven itu.
.
.
Tbc
Waah selesai juga.
Gimana? makin dramatis ya?
oke, keep reading aja ya dan tunggu chpt selanjutnya.
See you next chapter~
RnR
