Tittle : MY BAD BOY
Cast : Jung Yunho (28), Kim Jaejoong (19), Park Yoochun (27), Kim Junsu (18), Shim Changmin (16), Cho Kyuhyun (16), And other cast
Genre : Romance/Family/NC21/MPREG
Marga disesuaikan dengan kebutuhan cerita.
Sebelumnyaaaa~
"aku pulang…" ucap seseorang dari balik pintu utama.
Jaejoong dan Changmin yang sedang duduk di karpet ruang tamu rumah Changmin langsung menengok kearah suara.
"hyuuuunngggg….." pekik Changmin.
Sedangkan Jaejoong hanya membelalakan matanya melihat orang dihadapannya sekarang. Sementara orang yang menjadi objek pandangan Jaejoong hanya melihat dengan datar.
"kenapa?" tanya orang itu bingung melihat ekspresi Jaejoong.
Chapter 2
"kenapa?"
"ini hyung, kan besok kau memberi kita test. Kami mau belajar" ungkap Changmin pada kakaknya yang ternyata gurunya sendiri.
"tapi kau tidak akan menyogokku untuk memberikan bocoran kan?" Yunho yang bicara dingin melirik Changmin dan juga Jaejoong bergantian.
"bagaimana mungkin aku menyogokmu? Aku pantang melakukannya"
"kapan kita mulai?"
"sekarang lah, hyung"
"baiklah aku akan membersihkan badanku sebentar" ucap Yunho lalu pergi meninggalkan kedua bocah tersebut.
Changmin kembali duduk dan menatap Jaejoong yang sudah sibuk mencoret-coret kertas dengan wajah gugup serta tegang.
"ya, kau kenapa, hyung?"
"kenapa kau tidak bilang dia adalah hyungmu!" ucap Jaejoong sengit dengan nada berbisik.
"kau sendiri kenapa tidak tanya?" jawab Changmin enteng.
"setidaknya kau mengatakannya padaku"
"kau ini mengeluh saja bisanya, jika mau belajar ya belajar. Hal seperti ini saja diperdebatkan"
"habis lah akuuuu" rengek Jaejoong dan menempelkan keningnya pada meja.
"ekhem, sudah sampai mana kalian mempelajari materi?" Yunho yang datang langsung saja duduk di salah satu sofa dekat keduanya.
"kami baru sampai ke logaritma, hyung"
"kau boleh memanggilku hyung di depan temanmu saat di rumah, tapi tidak di sekolah, kau harus memanggilku seosangnim" cerocos Yunho dengan pedenya.
"apa itu wajib?"
"ya"
Jaejoong sama sekali tidak menyahut. Dirinya masih saja sibuk dengan kertas dan pinsil yang dia pegang sejak tadi.
"apa yang kau tulis? Memangnya kau sudah mengerti materinya huh?"
"be belum seosangnim" ucap Jaejoong pelan.
"dia itu susah mengerti, hyung. Kau ajari saja dia, aku pusing mau makan dulu"
GLEK
Jaejoong menelan ludah dalam-dalam dilihatnya seosangnim yang dia takuti.
"apa kau lihat-lihat?" ucap Yunho dingin.
"ani seosangnim" bagaikan uji nyali di rumah Changmin. Jaejoong mengutuk kelakuannya sendiri sudah datang kerumah temannya.
Setahunya kakak Changmin itu kuliah di Amerika. Dia tidak pernah melihat kakaknya, dan Changmin juga tidak pernah cerita kalau kakaknya sudah pulang. Ditambah lagi Changmin tidak mengatakan bahwa Jung seosangnim adalah hyungnya. Jika dia tahu itu, tidak mungkin dia akan datang kerumah ini untuk belajar.
"kenapa diam? Tanyakan apa yang tidak kau mengerti" bukannya menjawab Jaejoong malah mengetuk-ngetuk pinsilnya pada kertas "hey, kau ini aku tanya"
"aku tidak begitu mengerti logaritma, seosangnim" ucap Jaejoong menunduk.
"tanya kalau tidak mengerti, bukannya diam. Bagaimana test besok jika kau tidak mengerti" ucap Yunho yang langsung duduk dihadapan Jaejoong "berikan pinsilnya"
Jaejoong langsung menaruh pinsil yang dipegangnya kehadapan Yunho.
"jadi ini seperti ini….."
Dengan sabar Yunho mengajarkan Jaejoong yang bisa dibilang sulit untuk menangkap materi yang diajarkan. Sesekali dia memarahi Jaejoong yang salah menyelesaikan walau hanya satu soal yang menurut Yunho mudah.
"ini mudah sekali, masa kau salah menjawabnya" ucap Yunho meraa gereget dengan kelakuan Jaejoong.
"salah apanya? Aku sudah mengikuti cara yang kau ajari tadi, seosangnim"
PUK!
Yunho yang mendengar nada protes dari Jaejoong langsung mendaratkan buku yang di gulungnya ke kepala Jaejoong.
"sudah di beri tahu salah masih saja protes" Yunho langsung meletakan kertas hasil jawaban Jaejoong "sejak kapan 7 di kali 8 hasilnya 86?!" (86? ambigu -,-)
"aish seosangnim, itu angka 5, bukan 8. Hah masa seperti ini saja tidak bisa membedakan" ucap Jaejoong mengkoreksi. (kejadian nadal waktu SMP nih -,-)
"tulisanmu itu seperti ceker ayam kau tahu" ucap Yunho meledek "kurasa cukup sampai disini. Awas saja jika kau mendapat nilai buruk seperti pelajaran lainnya"
"ye, seosangnim. Kalau begitu aku permisi pulang dulu" ucap Jaejoong sambil merapikan buku-bukunya "sampaikan saja salamku pada Changmin, permisi" cepat-cepat Jaejoong keluar dari rumah Changmin dan juga gurunya dengan sedikit berlari.
"hah anak itu benar-benar"
"hyung, mana dia?" tanya Changmin yang muncul dengan membawa sepotong daging yang ditusuk dengan garpu.
"dia baru saja pulang"
"yah padahal aku baru saja mau mengajaknya makan"
"kau mau mengajaknya makan tapi kau sudah makan duluan, bagaimana kau ini"
"hehehe, makan dua kali hyung"
"makan saja yang kau pikirkan, meski kau pintar, tapi pelajari lagi materi untuk besok" ucap Yunho sambil berjalan menuju dapur.
"hhhnngg, dia cantik ya, hyung? Tapi sayangnya kelakuannya seperti itu"
"siapa yang kau maksud?" tanya Yunho menghentikan langkahnya.
"siapa lagi kalau bukan Jaejoong, tapi bagiku masih lebih cantik Kyunie hehehe dan juga Kyunnie lebih anggun, tidak seperti dia" racau Changmin lalu memakan dagingnya.
"kau ini bicara apa, dia bukan type ku" Yunho langsung meninggalkan Changmin begitu saja.
"tapi benar kan dia itu cantik, hyung? Dia saja pernah di godai oleh Park seosangnim yang beberapa waktu lalu ke kantin bersamamu"
"Park Yoochun maksudnya?"
"iya dia, hah semua namja atau yeoja cantik yang dia lihat juga dia godai, tapi sayang Jaejoong menolaknya mentah-mentah hahahaha"
Yunho tidak menanggapi ucapan panjang lebar yang di lontarkan Changmin. Dia justru sibuk mengambil makanan di meja makan.
"kau tidak asik" ucap Changmin yang langsung memasang wajah datar kemudian meninggalkan Yunho.
.
.
.
Sementara Jaejoong berjalan dengan cepat menuju rumahnya. Tidak henti mulutnya terus bergumam dengan nada kesal dan wajah yang memerah.
"tidak cukupkah aku dibuat kesal disekolah?! kalau saja aku tahu bakal begini aku tidak akan datang" Jaejoong langsung memasuki rumahnya "menyebalkan!"
"hey pulang-pulang sudah teriak-teriak seperti itu kenapa hm?" tanya umma Kim menghampiri putranya.
"tidak apa-apa, aku mau belajar dulu umma" Jaejoong malah langsung lari kelantai dua kamarnya.
"tumben sekali kau belajar?" selidik umma Kim.
Mendengar pertanyaan menyelidik ummnya Jaejoong langsung menghentikan langkahnya ditengah anak tangga dan berbalik.
"pertanyaan macam apa itu? Umma seharusnya bangga dengan perubahanku" sungut Jaejoong dengan wajah kesal.
"umma kan hanya ingin tahu"
"hah sudah lah umma" Jaejoong langsung melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam kamar.
.
.
.
Dalam kamar Jaejoong lagsung berkutat dengan buku-bukunya di lantai. Dia kembali mempelajari materi yang baru diberikan. Coretan banyak terlihat di beberapa kertas yang sepertinya itu adalah kertas untuk menghitung. Dan juga terdapat kotoran penghapus berserakan di sekitarnya.
"ini susah sekaliiiii…" Jaejoong langsung merebahkan tubuhnya di lantai dan memejamkan matanya. "tapi tunggu" Jaejoong kembali membuka matanya "komik Changmin!" serunya dengan pelan.
Kemudain dia langsung menuju tempat penyimpanan barang sesat milik Changmin. Jaejoong mengambil salah satu komik tersebut dan duduk di kasurnya. Perlahan tapi pasti Jaejoong membuka lembar demi lembaran komik milik Changmin. Tatapannya tajam dan terlihat fokus pada objek gambar. Jidatnya sedikit berkerut. Keringat mulai terlihat dikeningnya. Bibir cherrynya mulai mengatup dan rahangnya mulai mengeras. Tapi dibawah sana, adik kecilnya mulai meronta.
"ssshhhhh…" terdengar desisan saat jari lentik itu memegang celana tepat pada bagian selangkangan yang sedikit menonjol. "aiiissshhh! Apa yang kau lakukan Kim Jaejoong!" Jaejoong mengumpat sendiri kemudian berlari menuju kamar mandi. Dan yang pasti menuntaskan hasratnya sendiri -,-
.
.
.
"kerjakan dengan benar, teliti dan di larang menengok kanan kiri" Yunho sudah berdiri memegang kayu di depan kelas setelah memberi soal test.
Dapat di lihat kelas mulai tenang dan semua mulai mengerjakan soal test masing-masing. Jaejoong dan juga Changmin sama-sama menyibukan diri dengan kertas soal dan pinsil. Dan waktu beberapa menit keadaan kelas masih tenang dan tidak ada keributan sama sekali.
"Changmin-ah, aku lupa bagian ini, lihat sedikit" ucap Jaejoong dengan suara yang sangat pelan.
"jangan ganggu aku, nanti seosangnim marah" ucap Changmin yang ikut berbisik.
"cuma sedikit aku ti-"
BRAK!
"Kim Jaejoong, bisa kau diam dan tidak mengganggu temanmu?" ucap Yunho setelah menggebrak meja dengan tangan kosong "pindah kedepan" lanjutnya.
"ta tapi seosang-"
"cepat pindah"
Dengan berat hati dan wajah murung Jaejoong membawa kertas dan peralatan tulisnya menuju meja depan yang kebetulan di tinggal sakit oleh pemiliknya.
"jika terdengar lagi suara, aku akan mengambil kertas ujian kalian, dan aku anggap kalian sudah mengerjakannya walaupun belum selesai" ucap Yunho dingin sedikit melirik kearah Jaejoong.
Sementara Jaejoong yang merasa ketakutan hanya kembali mengerjakan soal 'semampunya'.
.
.
.
"hyungmu menyebalkan sekali" ucap Jaejoong kesal begitu mendaratkan bokongnya di kursi kantin bersama Changmin.
"namanya juga guru, kalau tidak galak, bukan Jung Yunho namanya"
"tapi dia itu menyebalkan, aku kan cuma bicara seperti itu saja tidak boleh dan disuruh pindah kedepan pula, aku tahu kau pasti akan jawab bukan Jung Yunho namanya, jadi sudah jangan pedulikan aku, aku hanya curhat" ucap Jaejoong kesal degan wajah yang suram.
Setelahnya Jaejoong hanya mengaduk-aduk minuman pesanannya dan Changmin sibuk dengan kekasih setianya (makanan).
.
.
.
Dalam ruangan guru Yunho terlihat tampak stres, dia duduk bersandar pada kursinya dan memijat keningnya. Dilihatnya sekali lagi kertas yang banyak coretan dan terpambang jelas angka 4 diatasnya. Yunho kembali mengusap wajahnya, sebenarnya bukan masalah besar jika melihat nilai 4 pada hasil test tadi. Hanya saja nama Kim Jaejoong lah pemilik kertas jawaban bernilai 4 tersebut. Sesusah itu kah Jaejoong menerima materi?
"kau tidak makan Yun?" tanya seseorang berjidat lebar di meja belakangnya.
"ani, aku nanti saja" ucap Yunho malas.
"kau ada masalah? Ataukah anak itu membuat masalah lagi?" tanya Yoochun penasaran.
"tidak, tidak juga. Hanya saja, sesusah itu kah dia menerima materi? Coba kau lihat ini" Yunho menyerahkan kertas test milik Jaejoong "padahal kemarin aku yang mengajarinya"
"ya, apa hubunganmu dengannya?" Yoochun langsung mengambil kertas tersebut dan menatap Yunho dengan penuh tanda tanya. Dan langsung menyeret kursinya kesamping Yunho.
"hubungan apa? Aku hanya mengajarinya, kebetulan dia kerumahku untuk belajar bersama Changmin"
"oh begitu, ku pikir kau ada sesuatu dengannya, ingat ya dia itu masih jadi incaranku"
"lihat umurmu, lihat juga raut majahmu, kasian jika dia bersamamu, malah terlihat seperti ayah dan anak, kau sudah tua sedangkan dia masih muda dan cantik" tanpa sadar Yunho mengucapkan kata 'cantik'. seketika mulutnya langsung terkatup.
"ya! aku tidak setua itu!" Yoochun yang sudah jelas mendengarnya, malah tidak menyadari apa yang baru saja Yunho ucapkan "sudah lah lebih baik kau istirahat dulu, ayo kita ke kantin" ajak Yoochun yang langsung saja menyeret Yunho.
"ya! pelan-pelan!"
.
.
.
"Changmin-ah... lihat siapa itu yang datang, cepat sedikit makanmu dan ayo kita pergi dari sini" ucap Jaejoong yang sedikit terlihat panik.
"apa lagi sih? Kau tidaklihat aku sedang apa?" ucap Changmin kesal.
"itu hyungmu dan Park seosangnim ayo cepat"
"Kim Jaejoong" seru Yunho.
"ye seosangnim?" Jaejoong menyahut saja saat namanya di panggil.
Yunho dan Yoochun langsung saja duduk di hadapan Jaejoong dan Changmin.
"hay Jaejoongie" sapa Yoochun sambil mengerlingkan matanya.
"ya Yoochun-ah kau harus jaga sikapmu, ini tempat umum" tegur Yunho.
Jaejoong yang mendapat sapaan menyebalkan dari Yoochun hanya bisa memutar matanya bosan.
"dan kau, akan aku beri les wajib untukmu seminggu sekali"
"kenapa seosangnim?" tanya Jaejoong bingung.
"nilai hasil test mu sangat mengecewakan, aku tidak mau jika di dalam kelasku ada yang mendapat nilai jelek sepertimu"
"tapi aku sudah mengerja-"
"datang setiap selasa malam di rumahku, dan kau akan belajar bersama Changmin mengerti?" ucap Yunho memotong ucapan Jaejoong kemudian bangkit dari duduknya "ayo cepat kita cari meja lain" kemudian Yunho langsung pergi begitu saja dan duduk di meja yang lumayan jauh dari Jaejoong dan Changmin.
"aku pergi dulu ya Jaejoongie" Yoochun kembali mengerlingkan matanya dan menebar senyum andalannya. Setelah itu dia berjalan menuju meja yang Yunho duduki.
"aku benar-benar tidak suka dengan guru berjidat lebar itu, rasanya ingin aku colok matanya, terlebih hyungmu, menyebalkan sekali" ucap Jaejoong terang-terangan pada Changmin.
"hng hng hng" Changmin hanya menyahut seadanya.
.
.
.
Hari-hari berjalan seperti biasa, tidak ada yang berubah bagi Jaejoong. Setiap hari bertmu dengan 2 orang guru yang menurutnya meyebalkan itu. Setiap selesai waktu belajar Jaejoong langsung merapikan tasnya dan keluar kelas lebih dulu.
"hyung! Tunggu aku" teriak Changmin dari belakang.
Jaejoong hanya berjalan tidak memperdulikan teriakan Changmin.
"ya hyung, kau ingatkan kalau nanti malam kau harus belajar dirumahku?"
"ya aku ingat, kau tidak perlu mengatakanya, aku belum pikun" ucap Jaejoong dengan nada tidak bersahabat.
"bagus lah kalau kau ingat, kupikir kau memang pikun, aku akan pulang dengan Yunho hyung dan jangan lupa datang dengan membawa makanan ya hahaha"
"yaaa!" teriak Jaejoong pada Changmin yang langsung kabur setelah mencubit pipinya "kau pikir tidak sakit apa!" Jaejoong masih teriak sampai Changmin menghilang ditikungan.
"sssttt jangan berisik dekat perpustakaan" ucap seseorang dari dalam pintu perpustakaan.
"diam kau dasar mata ikan!" balas Jaejoong pada lawan bicaranya yang menggunakan kacamata tebal. Kemudian dia berjalan menjauhi perpustakaan.
"dasar orang aneh, dia yang berisik malah balik marah" ucap orang itu kemudian kembali masuk kedalam perpustakaan.
.
.
.
Malam sudah tiba, Changmin dan Yunho sama-sama sedang duduk di ruang tamu untuk menunggu Jaejoong. Jam menunjukan sudah hampir jam 7 Jaejoong masih juga belum muncul.
"apa anak itu tidak punya jam? Jam segini belum datang kita akan memulainya jam berapa?"
"kau sendiri kenapa tidak mengadakan pelajaran tambahan bagi semua kelas?"
"anak itu berbeda dengan yang lainnya, aku melihatnya susah untuk menangkap pelajaran jika dalam keadaan ramai"
"tapi kan itu terkesan tidak adil bagi yang lainnya, atau jangan-jangan kau ada maksud ya"
"jangan berpikir yang macam-macam" TAK! Yunho langsung menyentil kening Changmin.
"ya! sakit, hyung" Changmin langsung memegangi keningnya.
"Yunho-ah, jangan ganggu adikmu itu. Kau sudah dewasa, ajarkan dia yang benar" ucap sang umma melerai.
"rasakan kau weeee" ucap Changmin meledek sambil memeletkan lidahnya pada Yunho.
TOK TOK TOK
"ah itu dia" Changmin langsung bangun dari duduknya dan berlari kepintu utama "Jaejoong hyung kau ter-"
"selamat malam, kami mengantarakan barang pesanan untuk Nyonya Jung" ucapan Changmin terhenti ketika melihat siapa yang datang.
"ah apa cangkir cantiku sudah datang?" umma Jung langsung berjalan cepat menuju pintu.
"haish aku pikir dia datang" Changmin langsung meninggalkan pintu dan duduk kembali disamping Yunho yang sudah sibuk dengan buku yang dipegangnya.
"mungkin dia tidak datang, biaran saja" ucap Yunho dengan cueknya.
.
.
.
Jaejoong masih sibuk mendorong sepedanya. Tidak mengayuhnya, melainkan Jaejoong yang menuntun sepedanya. Hal ini disebabkan oleh ban bagian depan sepedanya yang kempes terkena paku. Di tambah lagi sudah malam tidak ada bengkel sepeda yang buka.
"bagaikan kutukan selalu saja seperti ini, pasti saja setiap kali hal yang berhubungan dengannya aku yang menanggung sial" racau Jaejoong sambil memasuki halaman rumah Changmin. Jaejoong sedikit menyeka keringat di keningnya dengan baju (jorok amat ye -,-). Jaejoong meletakan sepedanya begitu saja dan langsung mengetuk pintu bercat putih tersebut.
TOK TOK TOK
"kau buka pintu itu" ucap Yunho menyuruh Changmin dengan tidak sopan.
"shireo, nanti bukan dia" ucap Changmin malas dan duduk bersandar.
"Changmin-aaahhhh" teriak Jaejoong dari luar.
"itu dia, cepat buka pintunya" ucap Yunho lagi.
Dengan malas Changmin bangun dari duduknya dan membukakan pintu. Setelah pintu terbuka terlihat Jaejoong dengan wajah yang suram dan keringat di tubuhnya.
"ya, hyung. Kau lari kesini?" tanya Changmin yang menahan tawa.
"aku mendorong sepedaku, bannya bocor" ucap Jaejoong datar dan masuk begitu saja.
Yunho hanya sedikit melirik dari balik buku yang dibacanya "kau tidak lihat jam berapa ini?" ucap Yunho dingin.
"ini semua karenamu seosangnim. Kau tidak lihat aku berkeringat? Coba saja jika kau tidak menyuruhku datang, tidak akan seperti ini" ucap Jaejoong tak kalah dingin. Emosi Jaejoong sedang labil, kondisi yang lelah membuat moodnya naik turun, terkadang dia merasa takut dengan Yunho, tetapi terkadang jika di buat kesal dan apes Jaejoong akan merasa jengkel dan tidak lihat-lihat siapa yang jadi lawan bicaranya.
"jadi kau tidak suka jika aku menyuruhmu kesini?" tanya Yunho yang langsung menurunkan bukunya.
"ya jujur saja tidak" ucap Jaejoong ketus seperti seorang yeoja yang sedang marah.
"kalau begitu kau bisa pulang, pelajaran tambahan mala mini diatalkan"
"mwo! Apa kau bilang! Kau pikir aku tidak lelah brjalan kesini?!" ucap Jaejoong yang mulai jengkel.
"kau blang kau tidak suka, jadi kita bisa membatalkannya" ucap Yunho enteng.
"tidak bisa begitu! Setidaknya kau hargai aku yang sudah jauh-jauh datang!"
"jika kau tidak ingin aku membatalkannya, berhenti bicara kasar dan cepat bereskan barangmu di meja kita akan memulainya"
Jaejoong wajahnya masih merah padam akibat debatnya dengan guru menjengkelkan hanya bisa diam di tempat.
"sudah lah, hyung. Ayo cepat ini sudah malam" ucap Changmin yang kemudian menuntun Jaejoong menuju meja yang berada di kerpet ruang tamu.
.
.
.
Selama Yunho menjelaskan materi, Jaejoong lebih diam dan tidak banyak biacara, wajahnya yang masih terlihat kesal membuat Changmin tidak berani mengajak Jaejoong berbicara sama sekali.
"kau kerjakan ini, jika salah seperti tadi akau akan menambah 2 soal lagi" ucap Yunho sambil menyerahkan sebuat kertas. Jaejoong langsung saja merebut dengan kasar kertas tersebut sambil menatap geram Yunho.
"hyuuung" bisik Changmin pada Yunho.
"kau kerjakan saja soalmu" ucap Yunho dingin pada Changmin.
Yunho memperhatikan Changmin dan Juga Jaejoong secara bergantian. Sesekali Yunho membaca buku yang dia pegang sejak tadi.
"hyung aku sudah selesai" ucap Changmin menyerahkan kertas pada Yunho.
Yunho langsung menerimanya kemudian memeriksa dengan seksama hasil jawaban milik Changmin.
"aku juga sudah" ucap Jaejoong yang hanya bergumam sedikit dan menyerahkan kertasnya pada Yunho. Yunhopun menerima kertas tersebut dan memeriksa hasil jawaban Jaejoong setelah milik Changmin.
Cukup lama Jaejoong dan Changmin menunggu hasil penilaian Yunho. Jaejoong dan Changmin masih sama-sama diam. Changmin yang sibuk dengan mencoret-coret kertas. Sedangkan Jaejoong sibuk dengan memainkan hanphonenya.
"hasilnya benar, dan kali ini kau Jaejoong, kau benar menjawabnya"
"baguslah kalau begitu"
"kalau begitu aku akan mengakhiri pelajaran tambahan malam ini"
Mendegar itu langsung saja Jaejoong membereskan barang bawaannya dan bangkit dari duduknya.
"kalau begitu aku pulang dulu, terimakasih sudah mengajarkanku"
"kau mau pulang jalan kaki hyung? Ban sepedamu kan bocor" tanya Changmin.
"biar saja aku akan membawanya ke bengkel sepeda besok" ucap Jaejoong malas.
"akan aku antar kau pulang. Tidak baik jika kau harus pulang malam seperti ini" ucap Yunho yang ikut dalam berbincangan.
"tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, permisi" ucap Jaejoong yang langsung saja menuju pintu utama.
Changmin dan Yunho langsung mengikuti Jaejoong yang berjalan keluar.
"kau yakin hyung mau pulang sendiri?" tanya Changmin ragu.
"ya, aku bukan anak kecil" tangkas Jaejoong yang sudah mengambil sepedanya.
"sudahlah, aku akan ku antar pulang, tidak ada penolakan, aku akan mengambil kunci motorku dulu" ucap Yunho meninggalkan keduanya.
"tidak usah" ucap Jaejoong yang masih kesal.
Jengah dengan kelakuan Jaejoong. Yunho yang sudah keluar membawa kunci, langsung menghampirinya dan menarik tangannya.
"ya! apa-apaan ini! Lepaskan aku!"
"aku tidak mau sampai disalahkan oleh pihak sekolah atau kedua orang tuamu jadi janagn membantah" ucap Yunho yang masih menarik Jaejoong menuju langsung naik ke motornya dan mengenakan helm. "cepat naik"
Bukannya menjawab pertanyaan Yunho, Jaejoong malah diam menatap Yunho dengan ekspresi yang sulit di artikan. Akankah Jaejoong mau menuruti perkataan Yunho?
_TBC_
