Airigato telah mereview cerita yang acak-acakan ini, dan kurang menarik.
.
Disclamer
Naruto dan High School DxD bukan punya saya.
Naruto & High School DxD: Dark Bring Master
Raiting: M
Genere: Adventure, Fantasy, Romance, Supernatural
Pairing: Naruto x Harem
Warning: Abal, Gaje, OOC, OC, Typo
.
[Opening Chapter 10: DaisyXDaisy - Towa no Kizuna]
.
Chapter 10
.
KRINGGG!
Bel tanda pulang sekolah berakhir, seluruh murid Akademi Kuoh, berlari keluar ruangan, terkecuali Naruto yang sepertinya ketiduran untuk kesikian kalinya didalam kelas.
"Naruto-kun" Rias menggoyakan tubuh tunangannya yang sepertinya sangat terlelap, terbukti karena Rias telah mencoba berkali-kali, tapi Naruto tetap tidur. "Akeno bantu aku, kau juga tunangan Naruto-kun" Rias menatap sebal Akeno yang berdiri didelan pintu, dan menatapnya dengan senyum palsu.
"Seperti kau butuh bantuan" Akeno berjalan kearah Rias yang masih mencoba membanggunkan Naruto, tapi ia berheni, melihat Naruto terbangun dengan wajah polos.
"Kema-"
"Sudah pulang 1 jam yang lalu" potong Rias cepat, dan tentu membuat Naruto membulatkan matanya, dengan sempurna.
"Ah tidak aku terlambat lagi, Arigato Rias telah membangunkan ku" Naruto berlari meninggalkan kelas yang masih ada Rias, dan Akeno yang berekspresi bingung.
"Kau mengerti ia terlambat kenapa Akeno?" tanya Rias pada Quennya yang sepertinya juga tidak mengerti apa yang dimaksud tunangan mereka.
"Entalah, mungkin saja rapat, dengan Peragenya, atau para Maou" jawab Akeno asal.
.
Sasuke, dan Lee memandang datar kumpulan gadis OSIS Akedemi Kuoh, yang menatap tajam mereka. Entah karena alasan apa, setelah bell pulang sekolah berbunyi mereka harus ikut dengan kumpulan gadis kacamata, yang menurut mereka berdua aneh.
"Cih kenapa aku harus sekolah, seharusnya aku seperti Itachi bekerja, atau Kimimaro yang berburu Iblis liar, mungkin Haku juga tak apa, asal aku tak sekolah" batin Sasuke sebal, akan keputusan Itachi, yang menyekolahkannya.
"Aku tanya siapa kalian?" tanya Sona memandang dua murid didepannya dengan tajam, yang tentu sama sekali tidak berpengaruh bagi dua cowok berwajah datar.
"Cih, siapa kalian berani-beraninya menanyakan hal itu pada kami?" tanya (balik) Lee yang masih memandang datar, kumpulan gadis berkacamata dihadapannya.
"Aku adalah O-"
"Kau adalah Iblis murni, keturunan Sitri, salah satu dari 72 pilar clan Iblis terkuat didunia bawah, bukan begitu Sona Sitri, adik dari salah satu Maou bergelar Levation" potong Sasuke tenang.
"Siapa kau?" Tsubaki mengacungkan sebuah katana dileher Sasuke, tapi sama sekali tidak berpengaruh padanya, toh dia Dragon Slayer, luka seberat apapun pasti akan pulih dengan cepat.
"Pertanya yang sanga lucu wakil OSIS" bukan Sasuke yang berucap melaikan pemuda berwajah datar yang ada disebelahnya. "Kau telah menanyakan itu berkali-kali pada kami, tapi kau masih belum bisa menyimpulkannya, sungguh lucu" Lee membenarkan letak topi hitamnya, yang tadi sempat tergeser.
"Apa maksud mu hah?" bukan Tsubaki, atau Sona yang menegur, melainkan Saji, dengan menyodorkan Sacred Gearnya dihadapan Lee.
"Jangan kau kira aku takut dengan benda main itu" ucap Lee datar, yang menyandarkan tubuhnya di sofa ruang OSIS.
"APA KAU BILANG HAH!" dengan emosi memuncak Saji memukul kepala Lee yang sama sekali tidak menghindar. Shok, bukan hanua Saji, melaikan seluruh anggota OSIS, mereka begitu shok pukulan Saji hanya menembus tubuh Lee yang bagaikan hantu api.
"Apa hanya itu serangan mu, untuk membuat ku geli saja itu tidak cukup" ejek Lee yang menyeringai penuh kemenangan.
"Lee tenangkan diri mu, kita ada di ruang OSIS, jangan kau hancurkan tempat ini, kasian mereka" ejek Sasuke, yang tentu membuat emosi anggota OSIS semakin memuncak, apa lagi Tsubaki, yang kini benar-bemar emosi pada pemuda emo yang sebentar lagi akan mati bagi Tsubaki. "Eh kau tidak jadi menusuk leher ku dengan pedang butut mu itu" ejek Sasuke, yang tentu membuat Tsubaki semakin kesal padanya.
"Sialan kau"
TAR!
Tidak hanya Tsubaki, Sona yang merupakan orang tenang, yang seakan tidak peduli dengan kejadian didepannya kini tampak shok. Sasuke yang seharusnya mati ditusuk pedang milik Tsubaki, dihadang oleh sebuah petir hitam yang entah dari manam
"Sudah ku bilang, kalian tidak akan melawan kami, menyentuh kami saja itu hal yang mustahil untuk kalian" Lee berdiri dari duduk, dan berjalan melewati Saji, dengan menembusnya, yang Lee berubah menjadi kobaran api.
"Lee kau terlalu berlebihan, mereka bukan tidak bisa menyentuh kita, tapi mereka terlalu bodoh untuk melawan orang sekelas kita" Tsubaki membulatkan matanya tidak percaya, bukannya Sasuke tadi ada dihadapannya, tapi sejak kapan ia sudah berada disebalah kawannya.
"Hahaha, mungkin kau benar sobat" Lee tertawa mengejek, yang tentu membuat suasana di ruang OSIS menjadi lebih panas dari sebelumnya.
"Kalau begitu, berarti kalian sudah siap untuk bertatung melawan kami?" ucap Sona, menatap tajam Sasuke yang berjalan kearahnya dengan sebuah senyum.
"Aku akan meladeni mu Hime" bisik Sasuke tepat ditelinga Sona.
.
Rias, Akeno, dan Grayfia kini berada disebuah restauran yang ramai, mungkin lebih tepatnya sangat ramai, karena restauran tempat mereka berada adalah salah satu restauran ternama dijepang.
"Sayang sekali Naruto-kun tidak bisa ikut" Rias mengehela nafas pelan, padahal ia ingin Naruto ikut, tapi Naruto tidak bisa katanya ada urusan yang harus ia selesaikan, itulah yang dikatakan Naruto pada tunangannya yang berambut merah.
"Ya padahal jika Naruto-kun ikut aku yakin akan seru" ucap Akeno, yang seperti biasa tersrnyum palsu, tapi tetap disadari oleh 2 tunangan Naruto.
"Sudah lebih baik kita memesan" Grayfia mengangkat tangan kanannya. "Pelayan" panggil Grayfia, tidak lama seorang pelayan datang dan mencatat pesanan mereka.
"Pesanan akan datang 15 menit lagi nona-nona" pelayan itu pergi, tapi tetap membuat 3 tunangan Naruto sebal, ya karena Oppai besar mereka selalu dipandang oleh si pelayan.
"Kenapa setiap coeok sama saja" dengan wajah sebal, ya dia memang sebal, setiap cowok pasti akan memperhatikan Oppainya, kecuali Naruto tentunya.
"Nona-noa ini pe- Rias, Akeno, Grayfia, apa yang kalian lakukan disini?" Naruto menatap tidak percaya, kenapa ia harus bertemu degqn 3 tunangannta disini, bisa-bisa pelayan lainnya iri padanya kalau 3 gdis cantik, sexy, dan ber Oppai besar, adalah tunanganya.
"Ara~ ternyata Naruto-kun bekerja di Restauran ini ya?" tanya Akeno dengan nada sensual seperti biasanya.
"Neh Naruto-kun bukannya kau tidak boleh mengacuhkan ketiga tunangan mu ini" ucap Rias dengan nada menggoda.
"Hey hey kalian bisa diam tidak sih, kalau kalian terlalu keras nanti ketahuan" bisik Naruto. "Sebaiknya kalian pura-pura tidak mengenali ku, nanti setelah pulang aku akan menemui kalian di Ruang Club, dan memperkenalkan perage ku" ucap Naruto yang langsung pergi meninggalkan Rias, Akeno, dan Grayfia yang menatap punggungnya dengan senyum.
"Selamat bekerja Anata"
BRAK!
Dengan tidak elithya Naruto jatuh didepan pintu Restauran.
.
Sasuke dan Lee menatap datat Sona dan Tsubaki yang ada dihadapan mereka, dengan mengeluarkan tekanan sihir tingkat tinggi, tapi sayang tidak berepangaruh, bagi 2 orang yang mampu mengimbangi kekuatan dewa.
"Apa hanya ini tekanan sihir yang dimiliki oleh seorang iblis yang berasal dari clan Sistri, benar-benar mengecewakan" ejek Lee yang menatap datar Sona dan Tsubaki.
"Lebih baik kalian periksa diri kalian, jika kalian memang benar mempunyai tekanan sihir yang tinggi coba buktikan" balas Tsubaki menatap datar sosok Lee.
"Kalian bercanda kami harus melakukan itu? tapi jika kalian yang meminta akan tunjukan perbedaan kekuatan kita" balas Lee memejamkan matanya.
DUUUAARRR!
Sebuah tekanan sihir yang sangat besar, keluar dari dalam tubuh Lee dan juga Sasuke, yang tentu membuat ledakan, walaupun kecil.
"Tekanan sihir macam apa ini?" batin Sona menatap tidak percaya sosok Sasuke yang mengeluarkan aura hitam pekat, dam Lee yang mengeluarkan aura merah api dari tubuh mereka masing-masing.
"Apa masih mau mencoba, Kaicho-chan?" tanya Sasuke yang tentu dengan nada mengejek, dan sebuah seringai penuh kemenangan.
"Aku tidak akan mundur" ucap Sona penuh keyakinan. Sasuke menyeringai sadis, begitu juga Lee, mereka tidak menyangka orang yang levelnya jauh dibawah mereka berani menantang mereka, yang kemungkinan menang, 30%.
"Aku tidak menyangka padahal kemungkinan menang kalian kurang dari 30% tapi kalian masih menantang kami, kalian benar-benar menarik" Sasuke melangkah maju satu langkah, diikuti dengan munculnya lingkaran sihir berwarna hitam disamping kanannya.
Secara ajaib sebuah pedang, yang lebih dikenal dengan Kusanagi Tsurugi muncul dari lingkaran sihir hitam disebelah Sasuk. Sona terkejut, bukan hanya Sona tapi anggota OSIS semuanya terkejut, mereka memang tidak tahu pedang apa yang muncul dari lingkaran sihir Sasuke, tapi aura Iblisnya begitu kuat, bahkan lebih kuat dari dari aura Iblis milik Tsubaki, yang merupakan ratunya.
Tangan kanan Sasuke bergerak, dan mencabut pedang Kusanaginya, yang sepertinya tersegel dalam linglaran sihirnya.
"Aku menantang mu berduel pedang wakil ketua OSIS Tsubaki" ucap Sasuke yang menunjuk Tsubaki menggunakan ujung pedang Kusanaginya.
Tsubaki tersenyum sesaat, lalu berjalan maju kedepan Sona. "Aku terima tantangan mu tuan muda Uchiha" balas Tsubaki, yang juga mejunjuk Sasuke dengan ujung pedang Katananya.
WUSH!WUSH!
Dengan kecepatan gila dan diluar akal manusia Sasuke dan Tsubaki melesat kearah lawan mereka masing-masing dengan kecepan seperti angin.
TRANK!TRANK!TRANK!
Mata Lee terus bergerak melihat pergerakan Sasuke dan Tsubaki tapi tetap saja ia tidak akan bisa melihat gerakan Sasuke dan Tsubaki yang seperti angin. Bukan hanya Lee tapi anggota OSIS juga merasakan hal yang sama, tidak dapat melihat pergerakan mereka.
Suara dua benturan logam terus terdengar, disaat Sasuke, dan Tsubaki mengadu pedang mereka. Dalam waktu 5 detik mereka sudah mendengar 8 benturan suara dua logam yang saling beradu, dan ini sudah setinggah menit berlalu semenjak Sasuke dan Tsubaki bertarung, dan berarti mereka telah mendengar 24 suara benturan dua logam yang saling beradu.
TAP!TAP!
Sasuke dan Tsubaki mendarat dengan sempurna di tempat mereka pijak peetama untuk saling melesat satu sama lain. Dapat diluhat nafas memburu dari Tsubaki yang menandakan kalau ia kelelahan, taoi berbeda dengan Sasuke, Sasuke tidak menunjukan kelelahan sama sekali. Semua orang yang menyaksikan minus Lee, terlalu bodoh, tidak menyadari kalau Sasuke menggunakan sihir percepatan.
"Hosh hosh, kau memang hosh hebat" ucap Tsubaki dengan nafas memburu akibat kelelahan karena mengimbangi kecepatan Sasuke yang seperti angin, tidak bahkan lebih, kecepatan Sasuke lebih mengarah seperti petir, yang berpindah, dari satu tempat ketempat lainnya.
"Kau juga hebat Tsubaki-san" Sasuke menyarungkan kembali pedang Kusanaginya, ketempatnya yang ia gemgam. "Sudah lama tidak ada yang bisa mengimbangi kecepatan ku, kecuali Kaicho" ucap Sasuke dengan senyum tipis.
"Kaicho?" beo Sona dan Tsubaki, yang mendapat balasan anggukan dari Sasuke. "Ehm, kalau begitu kalian Iblis Rengkarnasi?" tanya Sona, dan dijawab anggukan kecil oleh sang tuan muda Uchiha. "Siapa Kaicho kalian?" tanya Sona dengan membetulkan letak kacamatanya.
"Naruto, Naruto Namikaze"
.
Naruto tengah berjalan di jalan kota yang mulai sepi, karena hari sudah menunjukan pukul 7 malam, yang menandakan aktifitas pekerja sudah berhenti beberapa menit atau jam yang lalu.
Sepanjang perjalanan yang Naruto lihat hanya sepasang muda mudi yang saling berduan, dan melakukan adegan yang seharusnya tidak dikeluarkan ditempat umum, berciuman, itulah yang Naruto lihat sepanjang perjalanan.
Naruto menghentikan langkahnya tiba-tiba ketika sebuah hembusan angin yang cukup kencang menerpa wajah tampannya. Naruto menghela nafas pelan, yang menandakan kalau Ia tidak takut dengan hembusan angin yang cukup kencang barusan, ya karena Naruto tahu, aura siapa yang ia raeakan ketika hembusan angin kencang barusan.
"Sedang apa kau disana...Ophis?" tanya Naruto tenang, pada sosok gadis kecil berambut hitam panjang, dan menggunakan sebuah T-strit putih, yang dibalut sebuah jaket hitam, dengan pinggitan bulu tebal, dan rok pendek diatas lutut dengan warna hitam.
"Tentu saja menunggu mu Naruto" jawab gadis yang dipanggil Ophis oleh Naruto. Naruto tersenyum tipis dan berjalan ketempat dimana Ophis duduk didekat aebuah pohon yang cukup besar.
"Sudah berapa lama kau menunggu ku?" tanya Naruto yang merebahkan dirinya disebelah Ophis, yang sedang mengunyah sebuah permen karet dimulut kecilnya.
"Mungkin 15 menit" jawab Ophis datar yang terus mengunyah permen karetnya. Naruto tersenyum tipis, dan mengusap kepala Ophis penuh dengan kasih sayang.
"Maaf, kau harus menunggu selama itu, hanya untuk diriku Ophis" ucap Naruto lembut, diikuti mencium kening Ophis dengan lembut dan penuh kasih sayang, dan tentu saja sang Ouroboros Dragon tidak menolak sama sekali.
"Kau seenak mu saja mencium kening ku" ucap Ophis datar. Naruto menjauhkan bibirnya dari kening Ophis, dan menatap Ophis lembut, penuh kasih sayang.
"Bukan kau tidak menoloak" balas Naruto lembut. "Oh ya bagaimana kabar Vali dan yang lainnya Ophis?" tanya Naruto yang ekspresi berubah drastis.
"Ada yang aneh dengannya" batin Ophis. "Tidak, mereka tidak apa-apa" jawab Ophis datar.
"Syulurlah kalau begitu"
"Memang ada apa Naruto kau menanyakan mereka?" Skakmat, tentu saja pertanyaan Ophis barusan membuat Naruto skakmat.
"Gawat" pikir Naruto. "Tidak, Tidak , bukan apa kok" jawab Naruto gugup dengan keringat mengucur didahinya yang tertutup poni pirangnya.
"Bicara mu mencurigakan" balas Ophis menatap Naruto. "Tak apa kalau kau masih belum mau cerita" tambah Ophis yang mengalihkan pandangannya. Naruto menghela nafas lega, ternyata Ophis cukup perhatian padanya.
"Arigato Ophis"
"Ya, kau tahu? aku melakukan itu semua karena aku tidak suka memaksa untuk cerita suatu masalah, walaupun di kelompok ku ada yang berhianat sekalipun, aku yakin kau telah menyusun strategi untuk mengalahlannya" balas Ophis datar. Ophis berdiri dari tempat duduknya, dan muncul sebuah lingkaran sihir dibawah kaki Ophis.
"Naruto aku pergi dulu, kalau kau butuh bantuan hubungi aku? ingat jangan memaksakan diri" ucap Ophis yang dibalas anggukan oleh Naruto, dan setelah itu Ophis pergi dengan linglaran sihirnya.
"Maaf Ophis, aku masih belum bisa cerita pada mu"
.
Di Ruang Penelitian Ilmu Gaib, Perage Rias, Perage Sona, dan Akatsuki kini berkumpul satu sama lain dengan Perage yang lengkap, tanpa ada yang kurang satu pun.
"Sona aku minta maaf atas kelakunan Perage ku" Naruto menunduk minta maaf pada Perage Sona, yang menatap sebal dua pangeran berwajah temnok, yang duduk bersama anggota Akatsuki.
"Kaicho kau tidak perlu minta maaf padanya" ucap Sasuke datar, dengan menyilangkan kedua tangannya didepan dada, serta memejamkan kedua mata onyxnya.
"Sasuke, yang sopan lah sedikit" Itachi membentak sang adik yang kelakukannya benar-benar tidak sopan bagi Itachi.
"Benar apa yang dikatakan Itachi-kun, Sssuke-kun, sopan lah sedikit" Haku membela Itachi yang menurutnya benar, dengan membentak sang adik yanh tidak sopan.
"Cih" Sasuke mendicih sebal, Ia paling tidak suka disalahkan, walaupun itu kesalahannya, tetap Ia tidak mau disalahkan.
Sona tersenyum lembut pada Naruto yang menunduk minta maaf padanya. "Anda tidak pantas menunduk pada Saya, Naruto-sama" ucap Sona hormat pada sang tangan kanan Maou Lucifer.
Naruto mentegakan tubuhnya kembali, dan menatap Sona dehgan senyum lembut. "Bisa panggil aku seperti biasanya, aku tidak suka keformalitasan Sona" ucap Naruto tenang.
"Baiklah Naruto-san" ucap Sona tersenyum lembut. Berbeda dengan Sona, Tsubaki menatap Sasuke dengan rona merah tipis dipipinya. Entah karena Sasuke tampan, keren, atau kuat, tapi sepertinya sang bungsu Uchiha telah mencuri hati dari wakil ketua OSIS.
"Kau kenapa?" Tsubaki terlonjak kaget, rona merah tipis kini terlihat terlihat jelas dipipinya, ya bagaimana tidak, orang yang Ia lamukan dan membuat pipinya memerah kini menegurnya.
"Ti-tidak, tidak apa" Tsubaki memalingkan wajahnya yang memerah karena Sasuke menatapnya, tatapan yang berbeda dari saat dia di ruang OSIS, tatapan datar yang tadi kini berganti menjadi tatapan kawatir.
"Hah Terserah" Sasuke memejamkan matanya, tidak mau menatap lama wajah Tsubaki. Ucapan yang Ia betikan memang terkesan datar, seaakan membenci wakil OSIS yang bertarung tadi, tapi berbeda dengan hatinya. "Kenapa dadaku ini" batin Sasuke.
Naruto tersenyum melihat kelakukan Knightnya yang memiliki darah naga, ternyata mempunyai sikap lembut, walaupun Sasuke berucap dengan datar, tapi tatapan mata yang diberikan Sasuke berbeda dengan ucapannya yang datar. "Ternyata kau bisa jatuh cinta juga, anak naga" batin Naruto.
"Oh ya Naruto-kun, katanya kau akan memperkenalkan Perage mu" Rias yang dari tadi hanya diam mulai mengeluarkan suaranya yang lembut, pada tunangannya.
Naruto mengalihkan pandangannya ke Rias, dan tersenyum tipis. "Baiklah" Naruto mengalihkan pandangannya pada Itachi. "Itachi kau mulai duluan" petintah Naruto.
Itachi mengangguk patuh pada Kingnya. "Perkenalkan nama ku Itachi Uchiha, aku adalah Bishop Naruto, sekaligus Onii-san dari Sasuke Uchiha" Sona, Tsubaki, beserta anggota OSIS yang lainnya membelakan matanya. Orang yang tadi pulang sekolah mengacau di ruang OSIS ternyata adik dari Itachi Uchiha, kelompok Rias memang tidak tahu siapa Itachi, tapi Sona dan yang lainnya tahu.
"K-kau Itachi Uchiha?" Tsubaki bertanya pada Onii-san dari orang yang telah merebut hatinya, dan tentu saja dibalas anggukan oleh Itachi.
"Ano, Itachi-san memang siapa, sampai kalaian mengenalnya?" tanya Rias yang tidak tahu sama sekali tentang Itachi Uchiha, Onii-san dari Sasuke Uchiha.
"Itachi Uchiha adalah seorang Magic Master" kelompok Rias membulatkan matanya, terutama Issei, Ia memang merasa familiar dengan nama Itachi Uchiha, tapi Ia lupa siapa Itachi Uchiha.
"Bisa kita lanjutkan" Naruto memotong pembicaran mereka, Ia tidak mau terlalu lama berada disini, bisa-bisa kepeejakaannya hilang kalau dia sampai tidur disini, itulah yang Ia pikirkan. Rias dan Sona mengangguk, walaupun Naruto telah memotong pembicaraan mereka, tapi mereka tahu Naruto tidak akan mau memakan waktu lama disini.
"Aku Sasuke Uchiha, Knight dari Kaicho, kalian jangan bertanya, kalian sudah tahu siapa aku" Sasuke memperkenalkan dirinya dengan datar, dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada, dan tentu saja membuat Kingnya geleng-geleng kepala.
"Nama ku Portgas D. Lee, Rook dari Kaicho, kalian sudah tahu siapa aku, jadi aku tidak akan menjawab pertanyaan kalian" Naruto kembali geleng-geleng kepala, tadi Knightnya sekarang Rooknya, kenapa Ia mempunya Perage yang berwajah tembok seperti mereka, entah hanya Tuhan yang tahu.
"Nama ku Haku Yuki" Haku memperkenalkan dirinya dengan sopan seperti layaknya seorang wanita. Naruto tersenyum ternyata ditimnya masih ada orang yang bener.
"Nama ku Kimimaro Kaguya" Naruto hampir saja menjodotkan kepalanya ketembok, Ia lupa kalau Kimimaro juga berwajah tembok, sama seperti Sasuke dan Lee.
.
Tiga orang memakai jubah hitam dengan tudungnya yang menutupi wajah mereka yang berjalan di sekitar Kuoh yang dapat mereka rasakan kalau ada sebuah ruangan yang memiliki aura Iblis cukup tinggi.
"Aura siapa ini"
.
.
.
BERSAMBUNG
.
Bagaimana Chapter ini apa mengesankan?
.
Mohon Revuew
.
