MINE
Dai Omikuji
Genre: Romance - Fluff
Pairing: Aomine x Kagami
A/N: Nothing but fluff wkwkwkw
Kagami menghela nafas panjang. Di sebelahnya, Kuroko mendengarkan setiap perkataan partnernya. Jemarinya memainkan bola basket sebagai sasaran kebosanan. Dia memutar bola basket itu pada telunjuk jari, untuk beberapa saat berputar kemudian terjatuh dari porosnya. Kagami mengawasi bola basket yang menggelinding ke tengah lapangan.
"Kau mendengarkanku, 'kan?" Kagami bergumam, mulutnya mengerucut. Kuroko mengangguk.
"Sebenarnya, apa yang ingin kau lakukan? Aku yakin Aomine sudah memberikan pernyataannya padamu." Kuroko menyender pada dinding gedung lapangan basket. Mereka tengah menunggu para senior dan pelatih mereka karena perbedaan jam pelajaran. Kesempatan ini diambil Kagami untuk menceritakan perbuatan Aomine kemarin malam.
"Tapi... aku bahkan tidak tahu apa dia serius atau tidak padaku. Maksudku... itu terlalu... Dia tidak pernah berbuat seperti itu sebelumnya, bahkan kita saling bermusuhan..." Kagami mengatupkan mulutnya, menutup mata. Semburat warna kemerahan menghiasi pipinya.
Mata biru Kuroko bergulir pada Kagami, raut wajah cahayanya tampak bingung campur malu-malu.
"Kagami-kun-"
"Oh, kalian sudah tiba lebih dulu! Semangat sekali!" Riku berseru dari pintu masuk diikuti beberapa senior. "Baguslah, kalian semangat. Untuk anak kelas satu, akan kutambahkan menu latihannya hari ini!" Riko nyengir lebar.
"Geh!" Kagami berjengit. Kuroko dan beberapa anak kelas satu berdiri kaku.
"Aku yakin bila kau berbicara dengan Aomine, semuanya akan lancar. Yang kutahu, Aomine tidak pernah bercanda mengenai hal seperti ini. Kenapa kau tidak coba untuk menanyakannya langsung?"
Kagami menatap bola basket yang baru saja memantul pada aspal. Dia berdiri di hadapan lapangan basket tempat mereka berlatih kemarin. Bolanya berguling menjauh, seseorang menangkap bola itu, memungutnya dan mendongak menatap Kagami.
"Yo." Aomine menyapa dengan suara rendah.
Kagami diam mematung. "Aomine..."
"Kupikir mungkin jam segini kau akan ke Maji Burger..."Aomine berkata, ibu jarinya menunjuk arah Maji Burger di belakangnya. Dia melempar bola basket itu ke arah Kagami yang spontan menangkapnya. Remaja berambut merah itu dengan canggung menenteng bolanya, gelisah terpatri pada wajahnya.
Aomine menatap tajam.
"Bila kau tidak suka, katakan dengan tegas. Aku tidak ingin jawaban separuh hati." Aomine berkata. Dia mengantongkan tangannya ke dalam saku celana, menunggu dengan sabar. Kagami menatap lawannya, wajahnya bersemu merah.
"Maaf ini... terlalu tiba-tiba..."Kagami meraba tengkuknya.
Aomine berjalan pelan, matanya tidak lepas dari Kagami. "Katakan padaku sampai kapan aku harus menunggu." Dia bergumam, meraih pergelangan tangan Kagami. "Apa dengan kemenangan score one-on-one aku bisa memilikimu?"
Mata Kagami membelalak kaget. "Yang benar saja... Aku bahkan belum pasti dengan perasaanku sendiri..." Kagami menarik tangannya, mundur selangkah. Melihat bibir Aomine menyungging tipis, dia tertegun.
"Belum pasti bukan berarti sama sekali tidak ada kemungkinan, bukan?" Aomine nyengir seperti anak kecil.
"K-kau-"
Remaja berambut biru itu mengangkat bahu, menarik tangan Kagami dengannya. "Jadi kau ingin aku untuk meminangmu? Katakan saja... Ini bukan hal yang sulit, mengetahui bahwa kau sendiri tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Wajahmu dan perilaku tubuhmu itu lebih jujur, Kagami." Aomine melempar senyum licik.
"Tunggu, kau mau bawa aku kemana?" Dia menyeret kakinya ketika Aomine mulai berjalan cepat.
"Bila kau tidak tahu, hari ini ada pertandingan basket, team Kaijo mengadakan pertandingan persahabatan dengan sekolah lain. Aku diminta datang oleh Kise, tapi anggota teamku sudah memiliki kegiatan sendiri. Satsuki menyuruhku datang sebagai pengunjung karena dia ditugaskan untuk mengawasi jalannya pertandingan oleh ketua manager. Seperti biasa, menganalisa kekuatan Kise yang semakin berkembang."
Kagami berkutat melepaskan diri. "Itu namanya 'spy'! Kau tahu? Pengintai?"
"Aku mungkin bodoh matematika, tapi setidaknya aku tahu apa artinya itu, Bakagami!"
"Baguslah jika kau tahu..." Kagami terkekeh mencemooh.
Aomine berhenti mendadak, membuat Kagami terjungkal dan menabrak punggungnya.
"Jangan berhenti tiba-tiba!" Dia mengusap hidungnya yang terbentur. Dirinya sontak kaget ketika Aomine melingkarkan lengannya di sekeliling bahunya. Berdiri kaku, Kagami tidak mendorong remaja itu menjauh."A-Aomine?"
"Hanya karena ini reaksimu seperti itu, huh?" Aomine menepuk puncak kepala Kagami, mengusak rambutnya.
"Kau sengaja, hah?" Kagami memberenggut.
"Benar sekali..." Dia melepaskan Kagami, berjalan dengan menggandeng tangannya. Aomine memasukkan tangannya dan tangan Kagami yang digandengnya ke dalam saku jaketnya. Sekali lagi mata mereka bertemu.
"Tanganmu dingin..." Aomine bergumam.
Kagami menunduk. "Bibirmu... kasar... tidak terawat." Kagami protes.
"Hah? Apa katamu? Kenapa tiba-tiba-" Lawannya meringis, spontan menyentuh bibirnya sendiri. Dia menjilat bibirnya dengan lidah, membuatnya basah.
Kagami memalingkan muka. "Jika ingin menciumku, rawat dulu bibirmu itu." Remaja itu menyeringai.
Aomine berdecih. "Jangan protes yang tidak perlu!" Dia menarik kerah Kagami, mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya yang basah.
Kagami membelalak, dengan cepat mendorong dada Aomine menjauh. "Uuum..!" Kagami merintih, merasakan gesekan kasar pada kedua bibirnya. Kagami melonjak saat dia merasakan jilatan pada belahan bibirnya. Dia spontan mengerang, mulutnya terbuka, mengundang masuk. Aomine mendesak masuk, tangannya menangkup wajah Kagami. Lidahnya menjelajah setiap sudut liang hangat Kagami. Lidah mereka bertemu, Kagami mengerang pelan. Tangan Kagami menarik baju Aomine, meremas sekuatnya. Dia berusaha untuk menarik nafas di sela pergumulan mereka. Aomine menarik diri, melepaskan pertautan lidah mereka.
"Haah-" Kagami menghisap oksigen. Aomine menekan dahinya pada remaja yang lebih pendek 2 cm darinya.
"Kagami..." Aomine tersenyum ketika Kagami menatap marah.
"Aomine, sadarkah kau kita di tempat umum?!" Kagami menutup wajahnya yang merah padam.
"Tentu saja... kau milikku, aku ingin semua orang tahu."
"Kau gila! Aku bahkan belum-"
"Mungkin belum, tapi kau akan menjadi milikku. Kagami..." Aomine menghembuskan nafas hangatnya pada telinga Kagami. Lawannya bergidik, menjauh beberapa langkah.
"Aomine!" Kagami menutupi telinganya.
Aomine bersiul melihat wajah merah Kagami mencapai telinga. Dia menyeringai ketika macam di hadapannya mengerang. Terkekeh, Aomine mengusak rambut Kagami.
"Tenanglah, bibirku tidak lagi kering, bukan?"
Kagami buru-buru mengusap bibirnya. Dia balik badan, hendak meninggalkan Aomine.
"Hei, mau kemana kau?"
"Pergi saja nonton pertandingan sendiri. Aku mau mendinginkan kepalaku dengan bermain basket!" Kagami melambai. Tertawa, Aomine mengikuti langkahnya.
"Jangan ikuti aku, Ahomine!"
"Ayo main one-on-one." Aomine melingkarkan lengannya pada pundak Kagami.
TBC
