MINE
Dai Omikuji
Genre: Romance –Fluff
Pairing: Aomine x Kagami
Aomine menyeret Kagami ke luar dari lapangan basket ketika dia kian memenangkan pertandingan one-on-one mereka. Protes Kagami di redam saat Aomine mengajaknya untuk beristirahat sejenak di tepi sungai. Matahari sudah mulai terbenam saat Aomine membelikan Kagami kalengan jus jeruk. Ide untuk berjalan melewati kuil yang tengah mengadakan festival pembukaan musim dingin membuat keduanya bersemangat. Aomine menarik Kagami untuk berlomba menembak target. Kagami mentertawakan Aomine ketika incarannya meleset. Keduanya berkeliling mengisi perut dan mengincar makanan manis.
Pasangan itu berjalan ke luar kuil, berdampingan menyusuri jembatan. Tangan mereka saling terkait satu dengan lainnya. Keduanya tidak berkata-kata. Salah satunya terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, yang satunya ragu-ragu untuk mengangkat percakapan.
Mata remaja berambut merah itu bergulir pada lawannya. Jemari Aomine yang menggenggam tangannya erat menghangatkan tangannya yang dingin. Kagami kembali melihat jalan di depannya ketika mata Aomine menatapnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Aomine mengajak Kagami berhenti sejenak di tengah jembatan, menikmati pemandangan yang disuguhkan di taman sekitar sungai.
"Tidak pernah terpikir aku akan melakukan hal lain selain basket… Terutama bila itu berhubungan denganmu." Kagami tersenyum, menikmati angin sepoi yang meniup lembut wajah dan rambutnya. Aomine memandang Kagami.
"Tidak pernah sekali pun memikirkan hal lain selain basket?" Aomine mengernyit. "Apa kau juga tidak tertarik dengan idola cewek seperti Horikita Mai?"
Kagami mendengus, dia tertaawa. "Aku bahkan tidak tahu banyak tentang artis selain yang berhubungan dengan basket. Siapa pun itu yang kau gemari… apa kau tidak menyesal kau mengejarku? Aku tidak tahu bahwa ciuman kemarin itu adalah yang pertama atau bukan tapi itu yang pertama bagiku. Dan kau baru saja merenggutnya lagi hari ini." Kagami meluruskan tubuhnya, menatap lekat Aomine.
Aomine berdecih. Dia menegakkan badannya dan menarik tangan Kagami. "Aku sudah katakan bukan? Sinarmu semakin terang. Kau sudah membuatku melihat dirimu begitu bersinar di atas bayangan Tetsu." Aomine mengelus pipi Kagami.
Kagami menunduk dari pandangan lekat Aomine. Mata biru itu seperti melihat langsung pada jiwanya yang terdalam. Aomine menarik tangan Kagami dan menaruhnya tepat pada jantungnya. Kagami terkesiap, kemudian terdiam ketika merasakah detak jantung Aomine.
"Detak ini semakin cepat hanya saat aku bersamamu, Kagami. Aku serius dengan perasaan ini. Bukan hanya kau saja yang terkesima." Remaja berambut biru itu menangkup pipi Kagami.
"Aomine…" Kagami berbisik.
"Aku ingin kau menjawabku hari ini juga." Aomine berkata jujur.
Kagami terkekeh, mengalihkan pandangan sebelum Aomine membuatnya melihat dirinya kembali. Kagami terdiam. "Baiklah. Aku… ini saatnya jujur dan Aku… terkesima bukan hanya pada permainanmu saja. Aku terkesima pada Aomine Daiki. Kau yang membuatku semakin menyukai basket dan mengetahui apa artinya Zone. Kau juga yang mengajarkanku akan lawan yang hebat. Kau yang membuat hatiku tertanam padamu." Kagami berbisik kemudian menunduk malu.
Aomine terkekeh saat melihat gelagat remaja di hadapannya. Wajahnya sendiri memanas. Aomine menarik Kagami ke dalam pelukannya, mengusap rambutnya. "Kagami… kau milikku. Aku tidak pernah terkesima akan seseorang yang menjadi lawanku sebelumnya. Akhirnya aku bertemu dengan lawan tangguh dan juga yang sanggup merebut hatiku." Aomine mengecup telinga Kagami yang memerah.
"Aomine…" Kagami mendongak. Sekali lagi, bibirnya bertemu dengan Aomine. Dia menutup mata, mencium balik lawan yang sudah menjadi kekasihnya. Kagami melingkarkan lengannya di sekeliling tengkuk Aomine, tersenyum di tengah ciuman yang mulai memanas. Tautan bibir mereka tidak cukup untuk meredam emosi yang sudah meluap.
"Aomine…" Kagami bergumam di tengah ciuman ketika Aomine menarik diri. Aomine mempertemukan bibir mereka sekali lagi, mengecup pelan bibir Kagami dan mengulanginya.
"Kagami, kau menggemaskan." Aomine berbisik, jemarinya memainkan cuping telinga Kagami. Lidahnya menjilat bibir bawah Kagami, mendapati erangan yang diinginkannya. Keduanya menarik diri, berusaha untuk menarik oksigen sebanyak mungkin. Aomine menjilat lelehan air liur di sisi mulut Kagami, tersenyum ketika Kagami mendelik padanya.
"Kau itu semakin bersikap seperti itu semakin menggemaskan." Aomine berbisik. Kagami menghela nafas. Dia menekan dahinya pada dada Aomine, menyembunyikan wajahnya yang merahnya hampir setara dengan rambutnya.
"Jadi kau benar-benar milikku sekarang, huh?"
Kagami membalasnya dengan memeluk erat Aomine. Senyum Aomine merekah, hatinya melambung tinggi.
"Kagami, aku mencintaimu." Dia mendekap erat Kagami.
End
Terima kasih, kRieZt yang udah membantuku untuk perbaikan beberapa bagian kalimat
