I CALL YOU 'MY DREAM' (Chapter 2)

CAST : EXO's Sehun , EXO's Kai (GS: Kai Female) ,

Cameo : Other member EXO (Baekhyun: Male, Lay: Male, Chanyeol: Male, Suho: Male, Chen: Male, Xiumin: Female, Kyungsoo: Female)


Audisi dimulai, peserta pertama adalah Kyungsoo gadis cantik sekaligus sekretaris osis yang begitu terkenal disekolah. Ia mulai bergerak seksi, kurasa dia memilih sexy dance untuk audisi ini. Tak dipungkiri gerakannya begitu bagus dan teriakan dukungan untuknya terdengar begitu jelas. Kyungsoo, sempurna.

Lalu bagaimana denganku? Apa aku bisa? Apa aku tak akan dibully lagi? Apa aku bisa punya teman setelah mengikuti klub ini. Dan apakah aku bisa dekat dengan Sehun setelah menjadi anggota klub yang terknal? Tuhan, apakah semuanya bisa kulakukan? Aku hampir saja membenci takdir yang kau pilihkan untukku, tentang kadaan fisikku, tentang cobaan yang kudapatkan dimasa remajaku ini. Sungguh aku benci keadaan ini, iri dengan apa yang dimiliki orang lain, bahkan ingin menjadi seperti orang lain. Kutahu seharusnya aku tak seperti ini. Bantu aku, kumohon Tuhan.


Peserta ke 6 sudah selesai tampil, kulihat audisi semakin panas meskipun ada beberapa penampilan yang buruk namun kurasa tak begitu memalukan. Kini Xiumin sudah berdiri dipanggung, gadis paling populer diangkatan ku itu memulai tariannya. Aku terkejut ketika lagu 'Call Me Baby' diputar, aku hafal gerakannya ya tentu saja, aku pernah mengcover tarian dari boygrup bernama EXO itu. Jika saja boleh naik keatas panggung mungkin aku akan menari bersama Xiumin, gerakannya bagus dan halus tapi kurasa detailnya kurang. Entah kenapa aku tiba-tiba berkomentar seperti itu. Semua mata tertuju pada Xiumin, namun tidak denganku, kini mataku menelusuri aula, melihat orang-orang yang serius menatap gadis cantik nan populer itu. Tapi mataku terhenti ketika dikejauhan melihat seorang laki-laki tinggi, berkulit seputih susu itu tersenyum dan fokus melihat Xiumin. Pikiranku menerawang jauh, seorang laki-laki tampan seperti Sehun sangat cocok disandingkan dengan gadis cantik dan populer seperti Xiumin. Dan gadis buruk seperti aku hanya akan jadi penonton yang berdiri dibarisan paling belakang, bertepuk tangan dan menangis karena iri dengan cerita mereka. Oh tidak, ada apa denganku? Kenapa aku peduli dengan Sehun? Tidak, tidak! AKu tidak boleh menyukai orang seperti dia, dia begitu sempurna, mana mungkin dia tertarik dengan orang yang terkucilkan seperti aku? Fokus! Fokus! Aku harus fokus! Aku harus lolos!

"Baek... Kau serius sekali." Kataku.

"Hei Kai, apa kau tak melihatnya? Xiumin begitu memukau." Kata Baekhyun.

"Selanjutnya giliran kau, bersiaplah Kai. Jangan buat aku malu!" Lanjutnya.

"Baik, jika aku lolos, teraktir aku makan sepuasnya, oke?!" Kataku.

"Dasar otak makanan! Maju dulu, baru aku akan menraktirmu. Hahaha..." Kata Baekhyun sambil tertawa memandangku.

"Aku gugup, tapi aku harus yakin, bukan?"

"Ya, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan." Baekhyun tersenyum.

Aku melangkah kebagian tepi panggung, lagu yang diputar akan segera selesai, aku mengambil nafas panjang, berusaha menghilangkan rasa gugup yang kini hampir menguasai diriku. Setengah menit kemudian, musik berhenti, diganti dengan riuh tepuk tangan yang ditujukan oleh gadis mengagumkan yang ada diatas panggung itu. Aku tersenyum pahit, jujur bahwa aku begitu iri, dia begitu populer, imut, kulitnya yang seputih salju dengan rona pink dipipinya membuat dia cantik tiada tanding. Seandainya aku bisa seperti dia, apakah aku tak akan dibully ? Apakah aku tak akan dikucilkan oleh teman-temanku? Sial! Lagi-lagi aku tak fokus, aku harus konsentrasi, terdengar MC memanggil namaku, dilanjut dengan langkah kakiku yang menaiki panggung, bertukar tempat dengan Xiumin dan kami berpapasan lalu aku menemukan senyum indahnya seperti menyapaku dan menganggap aku ada. Syukurlah ada gadis sebaik dia yang masih mau memberiku senyuman. Aku terus berjalan menuju tengah panggung, namun sayang aku tak menemukan wajah berseri dari penonton yang ada didepanku.

"Lihat, itu si hitam Kai." Teriak seseorang disana.

"Menarilah gadis menyedihkan! Hahahaha..." Ejek seseorang disana.

Aku memejamkan mata, mengambil nafas panjang, dan menghilangkan semua ketakutan yang ada didalam diriku. Kali ini saja, kali ini saja Tuhan, biarkan aku menunjukkan aku adalah seseorang yang berguna. Suara musik yang kupilih mulai mengalun, 'Baby Don't Cry' lagu yang menunjukkan perasaanku, lagu yang membuat tubuhku seperti bergerak sendiri, sambil beberapa kali menutup mata, aku mulai menari, entah seperti apa, entah bagaimana jadinya, aku melakukan itu seperti biasanya, didalam kamar, terkadang sambil menangis karena lelah dengan kenyataan yang harus kuhadapi, dan terkadang menahan amarah yang ada dihati karena takdir yang selalu kubenci. Aku bergerak lagi, lagi dan lagi, aku melupakan semuanya, apakah gerakanku bagus? Ah tidak, lupakan tentang gerakan yang indah itu, aku kini hanya memikirkan bagaimana aku meluapkan perasaanku lewat gerak tariku. Terus menerus sampai musik berhenti dan nafasku yang mulai tersengal. Aku selesai.

HENING...

HENING...

Tak ada tepuk tangan,

Masih hening...

"Ya, bisa beri tepuk tangan untuk Kai?" Kata Lay yang kini berdiri sambil memegang mic.

Baru setelah itu aku mendengar ruang aula utama seperti hidup, meski aku lupa dengan apa yang kulakukan tadi, tapi aku tak peduli, aku hanya berharap setelah ini aku akan benar-benar hidup.

"Kau tadi benar-benar luar biasa, Kai." Kata Baekhyun.

"Apa aku bisa lolos?" Tanyaku.

"Tentu saja." Jawabnya singkat.

"Ayo pulang, sudah sore kenapa kau sangat suka duduk di tribun gedung olahraga, hah?"

"Aku menyukai tempat ini, Baek. Aku bisa melihat orang dari atas, mereka berlari, tertawa bahkan bersaing hanya demi mendapat sesuatu yang mereka inginkan, yaitu kebahagiaan, bukan begitu Baek?" Aku meliriknya yang hanya diam memandang kedepan dengan tatap kosong.

"Kau terlalu memperhatikan orang lain sampai kau lupa memperhatikan dirimu." Kata Baekhyun.

"Kau juga seperti itu." Kataku padanya.

"Kau meluangkan banyak waktumu hanya untuk menemaniku, kau tidak bergabung dengan teman-temanmu dan klub basketmu." Lanjutku.

"Kau tahu bukan aku sudah pensiun dari klub basket, semua sudah diambil alih oleh generasi nya Sehun. Lagipula posisiku juga tidak penting. Aku punya banyak teman dikelas, apa kau mau kukenalkan dengan temanku, hah?" Tanya Baekhyun.

"Jangan ngelantur Baek, yasudah ayo pulang."

Aku dan Baekhyun menuruni tribun menuju pintu keluar, namun ketika aku ingin keluar terdengan decit sepatu sport dibelakangku.

"Senior Baek, Kai..." Teriak orang itu.

Sial, suara itu. Aku dan Baekhyun menengok kebelakang.

"Hei Hun, ada apa?" Tanya Baekhyun kepada Sehun.

"Tidak, aku hanya ingin memberi selamat kepada Kai. Tadi itu sangat bagus, Kai. Besok pengumuman audisinya kan?" Kata Sehun.

"Ya, Hun. Terimakasih." Jawabku singkat.

"Kuharap kita bisa berteman baik, Kai. Kau nampaknya kurang berminat berteman dengan orang lain selain dengan Senior imut ini." Kata Sehun.

"Begitukah, Hun? Sudah ya, aku akan pulang. Permisi."Kataku berusaha mengacuhkan Sehun.

"Baiklah, hati-hati ya. Pastikan senior ini mengantarmu sampai kerumah, Kai." Kata Sehun.

"Ya, itu pasti." Jawabku.

"Kau tak pulang, Hun? Diluar sana banyak penculikan, aku takut laki-laki setampan dan sepopuler kau dibawa oleh penjahat. Hahaha..." Kata Baekhyun mencoba mencairkan suasana yang canggung oleh percakapanku dan Sehun.

"Kau ini suka sekali melawak, Sen. Sudahlah, pulang dan jaga adikmu itu. Aku akan melanjutkan latihanku." Kata Sehun sambil menepuk pundak Baekhyun pelan.

Aku dan Baekhyun meninggalkan tempat itu dan berjalan pulang. Pikiranku berlarian kesana kemari, kenapa Sehun seakan begitu perhatian denganku? Kenapa dia melakukan itu? Atau dia melakukan hal itu dengan semua gadis? Dan kenapa ia tiba-tiba ingin berteman denganku? Dengan orang yang selalu dikucilkan disekolah? Apa ini tidak salah? Oh tidak, kenapa aku lagi-lagi memikirkannya? Tidak boleh, tidak boleh, aku harus fokus dengan diriku untuk pengumuman besok. Semoga besok aku kuat menjalani apa yang dipilihkan Tuhan untukku.

"Dia begitu baik, bukan?" Tanya Baekhyun sambil melirikku yang masih diam.

"Ya, dia baik." Jawabku.

"Kau menyukainya?"

"Tidak."

"Bohong jika tidak menyukai laki-laki sesempurna Sehun. Jika aku perempuan, mungkin aku sudah mendekatinya. Hahaha..." Kata Baekhyun.

"Oh atau jangan-jangan kau ada kelainan, hah? Makanya kau tak selera dengan laki-laki seperti Sehun? Ahahaha... Lucu sekali." Godanya.

"Diamlah Baek! Kau sangat cerewet seperti perempuan. Apa karena kau selalu bermain denganku sedari kecil makanya kau mirip perempuan?"

"Cih, aku memang cerewet ya tapi aku tak seperti perempuan. Kau tak tahu aku sangat populer dikalangan siswi angkatanku. " Jawabnya.

"Dasar terlalu percaya diri." Kataku padanya.

"Masih baik aku percaya diri, jadi aku bisa mudah menjalani hidupku dengan nyaman. Bukan begitu adikku sayang?" Katanya sambil tersenyum.

"Ya, kau benar Baek. Seandainya aku bisa percaya pada diriku sendiri. Aku terlalu takut Baek." Kataku

"Kalau begitu jangan lagi takut. Kau akan kehilangan semua yang kau inginkan jika kau takut. Semua harus diubah dari sekarang, Kai. Berubahlah, dan kau akan mendapatkan impianmu juga cintamu." Baekhyun mulai mengeluarkan kata-kata bijaknya.

Aku hanya terdiam, memandang langit senja yang sama tiap aku berjalan menuju rumah. Warna itu masih sama seperti biasanya, itupun sama hal nya denganku yang belum berubah dari hari kehari. Aku sadar aku tak pernah mencoba apapun, apapun itu. Sampai pada akhirnya aku mengerti, aku harus berubah demi mendapatkan apa yang benar-benar kuinginkan. Ya, impian dan cinta.

Esok harinya dijam istirahat aku langsung berjalan menuju papan pengumuman didekat aula utama. Sayangnya aku kurang cepat, sudah banyak orang yang memenuhi tempat itu, melihat pengumuman siapa yang namanya tertulis dan berhasil menjadi anggota klub dance. Namun aku hanya diam dan melihat pemandangan itu, aku tak bisa ikut berdesakan dengan mereka, aku takut mereka malah akan menghinaku dan malah membuatku kesakitan ditengah kerumunan itu.

"Kau Kai, kan?" Kata seseorang dibelakangku. Ketika aku menoleh, aku menemukan seseorang yang sulit kupercaya.

"Xi... Xiumin?" Tanyaku heran.

"Ah, ternyata aku benar. Kau Kai, bukan? Yang tampil setelahku itu, kan?" Tanya nya lagi.

"I... Iya... " Jawabku gugup.

"Selamat ya." Kata Xiumin sambil menyodorkan tangannya seperti orang ingin berjabat tangan.

"Hah? Apa? Selamat untuk apa?" Tanyaku, bingung.

"Woa, apa kau belum melihat papan pengumuman? Nama kita berdua tertulis disana. Tadi aku melihatnya dan melihat namamu ada disana juga. Kau tahu, aku sangat senang bisa satu klub dengan orang berbakat sepertimu." Kata Xiumin.

"A... Aku? Lolos? Sungguh?" Tanyaku lagi.

"Oh Ya Tuhan, kau begitu lucu dan imut. Kenapa kita tak berteman sedari dulu, hah? Ah tidak tidak, aku bahkan baru tahu ada seorang siswi sepertimu, Kai. Apa kau murid pindahan?" Tanyanya.

Sudah jelas Xiumin tak akan pernah mengenal gadis terkucilkan sepertiku, sedangkan dia adalah orang yang populer dan sudah pasti temannya juga orang yang populer. Tapi tak kusangka dia begitu cepat akrab dengan orang yang baru dikenalnya.

"Tidak, aku bukan murid pindahan." Jawabku.

"Kalau begitu mari kita berteman. Oh iya jangan lupa nanti sepulang sekolah berkumpul diruang klub yah." Katanya padaku.

"Ruang klub? Dimana itu?" Tanyaku.

"Disamping ruang musik, itu loh ruang bekas tim paduan suara. Oh bagaimana kalau kita kesana bersama-sama? Kau dikelas apa? Nanti biar sepulang sekolah aku ke kelasmu." -Xiumin

"Aku ada dikelas 2B. Kau sangat baik, Xiumin, terimakasih." Ktaku padanya.

"Sama-sama. yasudah aku pergi dulu yak. Bye bye Kai..." Kata Xiumin sambil melambaikan tangannya padaku.

Akupun ikut melambaikan tanganku padanya, dia sungguh baik padaku. Kuharap setelah ini aku benar-benar bisa berteman baik dengannya. Beberapa menit aku tetap berdiri didekat papan pengumuman, aku ingin melihat sendiri benarkah namaku tertulis disana? Aku hampir tidak percaya. Setelah papan pengumuman sudah mulai sepi dari murid-murid yang ingin melihat hasil audisi, akhirnya aku memberanikan diri melihat papan pengumuman itu. Mencari namaku, ada 15 orang yang terpilih dan aku adalah salah satu diantaranya. Oh Tuhan, benarkah ini? Aku lolos? Terimakasih Tuhan... Aku benar-benar senang kali ini, apakah Baekhyun tahu kalau aku lolos? Ah kenapa disaat seperti ini dia tak ada disampingku? Mungkin dia sedang sibuk dengan tugasnya.

"Hai, Kai." Kata seseorang yang suaranya sangat kukenal.

Sehun, itu sehun. Kenapa dia ada disini? Kenapa dia menyapaku hampir setiap hari? Aku tidak suka ini. Ini menyebalkan.

"Oh, Hai." Jawabku.

"Selamat ya, kau lolos." Katanya sambil memberiku senyuman manisnya.

Aku hampir beku karenanya, Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya, lidahku serasa kelu, satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah bersikap acuh tak acuh. Kuharap tak ada perasaan lebih untuk Sehun, karena aku tahu setiap perempuan pasti akan menyukai laki-laki sempurna seperti Sehun. Tak terkecuali aku.

"Bagaimana kalau kita pulang sekolah bersama hari ini?" Tanya Sehun padaku.

"Aku harus kumpul di klub dance dan tak tahu jam berapa aku akan pulang," Jawabku.

"Kalau begitu aku akan menunggumu. Lagi pula aku juga akan latihan, seminggu lagi akan ada pertandingan antar sekolah." Kata Sehun.

"Tapi aku akan pulang dengan Baekhyun."

"Kalau begitu kita pulang bertiga." -Sehun

"Tapii..."

"Kau selalu menghindariku, apa ada yang salah? Aku hanya ingin berteman denganmu." Katanya.

"Maaf, Sehun. Aku harus ke kelas." Kataku sambil beranjak dari posisiku sekarang.

"Tunggu!" Katanya sambil menarik tanganku, mencegah ku pergi.

Tangan kokoh itu, kulit halus berwarna seputih susu itu, menyentuh tanganku, memberikan sesuatu seperti kejutan listrik kedalam jantungku, entah apa ini, aku tidak tahu. Oh Tuhan, apakah aku benar-benar sudah terpesona dengan laki-laki sempurna ini? Meski aku tahu, aku tak pernah bisa memilikinya karena aku tak cantik dan populer, Tuhan apa yang harus kulakukan?

"Ada apa lagi?" Tanyaku sambil menggerakkan tanganku agar ia berhenti menggenggamnya.

"Jangan acuh padaku, aku hanya ingin kita berteman." Katanya lagi.

"Berhentilah berkata seperti itu Sehun, aku akan lebih dimusuhi disekolah ini jika tahu kalau kau ingin menjadi temanku." Jawabku.

"Kenapa mereka memusuhimu? Mereka tak berhak melakukan itu. Dan mereka tak berhak mengatur aku harus berteman dengan siapa." -Sehun

"Aku harus kekelas, menjauhlah Hun." Kataku sambil berjalan meninggalkannya.

Aku buru-buru menuju kelasku, pelajaran akan segera dimulai, aku tak boleh terlambat atau aku akan dihukum sekaligus dibully dikelas. Aku benci hal itu, meski setiap hari aku sudah biasa merasakannya tapi tetap saja aku tidak suka hal itu. Apa yang salah dari diriku? Karena aku tak cantik dan populer? Karena kulitku tak seputih teman-teman perempuanku? Aku benci jika mengingatnya, tapi aku harus tabah, aku harus kuat, aku harus berubah demi hari yang lebih baik.

"Hei, kau!" Seorang gadis seperti memanggilku ketika aku melintasi kelas 2A. Akupun cepat menoleh.

"Kau yang bernama Kai?" Tanya dia, gadis cantik bernama Kyungsoo yang juga sama terkenalnya dengan Xiumin.

"Iya, ada apa Kyung?" Tanyaku.

"Woaaa... Aku tak menyangka bahwa aku begitu populer bahkan dikalangan alien sepertimu." Katanya menyindirku.

"Alien? Apa maksudmu?" Tanyaku.

"Iya kau itu alien, ada dikalangan minoriti yang hanya mementingkan belajar dan belajar bahkan kau melupakan penampilanmu yang , wow sangat-sangat kuno itu. Kau tahu, kau begitu merusak pemandangan, Kai. Tapi aku terkejut dengan penampilanmu kemarin, hei apa kau punya dua kepribadian?" Kyungsoo mengatakan semua hal yang ia suka.

"Apa kau sedang memujiku, Kyung? Terimakasih atas pujianmu, tapi aku sudah hampir terlambat masuk kekelas." Kataku.

"Cih, percaya diri sekali kau. Kau bahkan tak lebih baik dariku, jadi jangan coba-coba mendekati Sehun!" Kata Kyungsoo, mengancamku.

"Sehun? Apa dia kekasihmu?" Tanyaku.

"Kenapa memangnya? Kau harus tahu ya, Sehun itu tak suka dengan gadis jelek sepertimu, ditambah lagi kau itu hitam, Kai! Oh apa kau berdarah campuran, hah?" -Kyungsoo

"Aku mengerti, Kyung. Aku akan menuruti perkataanmu, jadi biarkan aku pergi, Oke. Bye bye..." Kataku langsung pergi meninggalkan Kyungsoo yang kini masih berdiri didepan kelas 2A.

Aku tak mengerti kenapa dia bisa berkata seperti itu, kurasa dia bukan pacar Sehun. Jika memang iya, mungkin aku sudah mengetahui berita itu lewat mulut-mulut penggosip dikelasku. Tapi masa bodohlah dengan itu semua, sekarang aku harus setengah berlari menuju kelasku.

"Hei hitam, darimana saja kau? Guru menitipkan lembar soal itu, kita harus segera menyalin soal itu. Tulis dipapan tulis!" Kata seseorang dikelasku.

"Kenapa harus aku? Yang bertugas hari ini bukan aku." Jawabku.

"Woaaa... Aku mendengar kalimat pemberontakan, kau sudah mulai berani ya. Lihat, baru diterima di klub dance saja sudah sesombong itu. Kau bahkan belum punya teman, Kai. Kau pikir kau hebat, hah?" Kata seorang teman perempuan yang duduk dibelakang bangku ku.

"Ah aku tahu, kita buang saja tas dan bukunya keluar, bukankah kita tak membutuhkan orang seperti dia?" Kata seorang dipojok kelas.

"Jangan...! Baik-baik, aku akan menulisnya." Kataku pada teman-teman dikelas.

Seperti biasa, tak ada yang membelaku, mereka hanya menatapku dan kemudian acuh kembali. Rasanya begitu hampa jika seperti ini, jika boleh aku akan meninggalkan kelas ini sekarang tapi apalah daya aku tak mampu melakukan apapun.

Bel berakhirnya pelajaran berbunyi, semua murid dikelas berbondong-bondong meninggalkan kelas. Begitu pula aku, tapi kali ini ada yang berbeda, didepan pintu kelasku berdisi seorang gadis cantik yang nampak menungguku. Dia melambaikan tangannya padaku, meski ada yang terus menyapanya tapi entah kenapa dia seperti tetap fokus padaku. Akupun tersenyum, setelah memasukkan semua buku kedalam tasku, aku segera menemuinya.

"Xiumin, maaf aku lama." Kataku padanya.

"Tidak apa, Kai. Ayo kita segera ke ruang klub." Kata Xiumin.

"Oh iya, bagaimana kalau kita kekelas Kyungsoo juga. Aku akan mengenalkannya padamu." Lanjutnya.

"K..K.. Kyungsoo?" Aku kaget mendengar Xiumin menyebut nama Kyungsoo.

"Iya, kau pasti belum mengenalnya, bukan?" Tanya Xiumin.

"Aku hanya sekedar tahu orangnya saja, bukankah dia juga salah satu gadis populer disekolah ini? Siapa yang tidak mengenal dia." Jawabku.

"Benarkah? Aku bahkan tidak tahu kalau Kyungsoo sepopuler itu, ah mungkin aku sudah dikalahkan olehnya yah." Kata Xiumin padaku.

"Tidak Xi, bagiku kau lebih populer dan menarik daripada dia."

"Ahahaha... Sungguh? Lucu sekali ada yang mengatakan hal ini padaku. Jadi kita akan berteman terus, kan?" Tanya Xiumin.

"Hmmm... Apa tidak apa-apa?" Aku balik bertanya.

"Aku tak cantik dan populer sepertimu, kau sangat baik, aku takut jika orang-orang malah menyebutku hanya ingin ikut populer bersama mu." Lanjutku.

"Hei apa yang kau katakan? Numpang populer, tidak Kai! Kurasa kau yang akan tenar dengan sendirinya karena bakat dan kemampuanmu itu." Jawab Xiumin.

Aku kemudian terdiam dan menatap kearahnya, tak tahu harus berkata apa. Aku merasa sangat tak berguna, terus saja bersembunyi tak berani menampakkan diriku sendiri. Bahkan ketika aku sudah memiliki teman seperti Xiumin, aku tetap tak bisa percaya diri.

"Hei Kai, itu Kyungsoo. Kyungie!" Xiumin memanggil Kyungsoo.

Gadis yang memiliki nama itupun menoleh kearahku dan Xiumin, memasang tatapan mata mematikannya. Kurasa tatapan itu untukku.

"Hei Kyungie, kenapa kau menatapku seperti itu? Itu sangat menakutkan, jangan jadi gadis yang galak ya, nanti fans mu berkurang." Kata Xiumin pada Kyungsoo.

"Woa, jangan terlalu percaya diri Xi, aku tak sedang menatapmu." Jawab Kyungsoo, ketus.

"Jadi kau menatapku, begitu?" Tanyaku tiba-tiba.

"Syukurlah kau menyadarinya." Kata Kyungsoo.

"Hei hei, jadi kalian sudah saling mengenal ya?" Xiumin menatapku dan Kyungsoo.

"Xi, tidak mungkin aku mengenal alien macam dia. Kurasa dia saja yang mengenalku, kau tahu kan seberapa terkenalnya aku disekolah ini." Ya, kali ini Kyungsoo mengeluarkan kata-kata yang terdengar begitu menyebalkan ditelingaku.

"Iya kau benar Kyung, tak mungkin kau mengenalku yah." Akhirnya aku mengiyakan apa yang dikatakan Kyungsoo, daripada nanti dia berceloteh terus.

"Nah kau dengar sendiri kan Xi? Oh ya, kau tidak akan mengajakku keruang klub bersama dengan si gadis choco ini kan?" Tanya Kyungsoo tiba-tiba.

"Kyung, kau memanggilnya apa? Gadis choco? Em itu terdengar imut, oh iya kita kan teman jadi tidak apa-apa kan kalau ke ruang klub bersama seperti ini? Ayolah Kyung, jangan menyombongkan diri terus." Kata Xiumin.

"Imut? Ih, itu terdengar menjijikan bagiku. Oh ya dan satu lagi Xi, aku tak akan pernah menganggapnya teman jadi jangan memaksaku untuk bersama dengannya ya! Aku tak mau popularitasku turun hanya karena berteman dengan alien. Kalau kau mau bersamanya silahkan saja! Aku tidak peduli." Kyungsoo kemudian pergi meninggalkan kami berdua.

Aku hanya diam melihat Kyungsoo seperti itu, ya kurasa dia memang tidak menyukaiku. Dia membenciku. Atau mungkin karena aku dekat dengan Sehun kemarin? Ah kenapa aku sudah punya musuh disaat aku belum memiliki banyak teman? Apa aku harus berhenti sampai disini saja? Atau lanjut? Oh Tuhan aku begitu takut rasanya.

"Kai, kau kenapa?" Xiumin tiba-tiba mengagetkanku yang sedang melamun.

"Kau baik-baik saja? Maafkan Kyungsoo yah, dia memang gadis yang sadis." Lanjutnya.

"Tak apa Xi, aku tahu kalau aku memang tak pantas menjadi teman kalian."

"Kenapa? Ayolah Kai, jangan dengarkan dia, dia memang begitu, dulu waktu aku baru pertama berteman dengannya juga seperti itu. Dia itu orang yang tak mau punya saingan, dia juga sulit berteman, tapi semua berubah setelah dia begitu terkenal disekolah ini. Dengan mudahnya banyak orang yang mendekati dia. Tapi tetap saja dia sering sendirian dan hanya aku yang terkadang menemaninya." Xiumin bercerita padaku.

"Benarkah? Aku tidak menyangka kalau Kyungsoo seperti itu."

"Dan sekarang kau sudah tahu, bukan? Jadi jangan pikirkan dia lagi, kau tahu aku sedang sangat bahagia karena mendapat teman seimut kau jadi jangan kacaukan mood ku, oke." Katanya yang kini menggenggam tanganku.

"Ayo kita keruang klub, dan jangan lupa terus tersenyum ya. Kau sangat imut jika senyum, Kai." Tambahnya sambil memberiku senyum penyemangat.

Aku tak mengerti, apakah benar Kyungsoo seperti itu? Apakah sebenarnya dia sepertiku? Padahal kurasa hidupnya begitu sempurna, tapi tak apalah, aku hanya perlu mendengarkan apa yang dikatakan Xiumin. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja.

DI RUANG KLUB

"Ya, bisakah kita mulai sekarang?"

"Perkenalkan, Zhang Yixing, atau biasa dipanggil Lay. Aku adalah ketua klub ini. Mulai hari ini, mari kita memulai banyak hal baru." Kata Lay sunbaenim memperkenalkan dirinya.

"Dan agenda hari ini adalah perkenalan member grup. Aku hanya ingin melihat kalian perkenalan didepan semua member dan memperlihatkan sedikit kemampuan kalian. Bisa dimengerti?" Tambah Lay sunbaenim.

Oh tidak! Perkenalan? Unjuk kemampuan? Baru hari pertama tapi sudah seperti ini, Tuhan kenapa aku begitu gugup untuk ini? Aku merasakan ruangan ini sudah tak memiliki AC ketika aku mengetahui apa yang harus kulakukan hari ini. Tidak tidak, aku harus tenang harus tenang,semua akan baik-baik saja, lagipula ini hanya perkenalan dan menunjukkan sedikit gerakan kan?

"Kau kenapa, Kai? Kau sakit? Kenapa wajahmu pucat dan berkeringat?" Tanya Xiumin.

"Tidak apa-apa Xi, aku hanya sedikit gugup." Jawabku.

"Oh ya Tuhan, kenapa kau langsung gugup seperti ini, Kai. Tenanglah." Xiumin mulai panik.

"Emm... Aku akan berusaha, Xi. Tenang saja, jangan panik." Jawabku.

"Hei hei, bagaimana aku tidak panik kau begitu pucat Kai. Sini sini aku lap keringatmu juga."

"Ya, bagaimana kalau kita mulai perkenalan dari ya, Xiumin-sshi." Kata Lay Sunbaenim membuat aku dan Xiumin kaget.

"Aaa aku?" Xiumin mulai telmi.

"Iya, bisakah perkenalannya dimulai darimu?" Tanya Lay Sunbaenim.

"Ya, sunbaenim." Jawab Xiumin yang kini mulai berdiri dan melangkah ketengah ruangan menghadap member dance lainnya.

"Perkenalkan, aku Xiumin dari tingkat dua." Ucapnya dengan nada begitu tenang padahal aku tahu bahwa dia begitu cemas dengan keadaanku.

"Ne, lihat Xiumin begitu cantik bukan? Aku sungguh beruntung bisa satu klub bersama dia." Kata seseorang yang duduk dibelakangku dengan suara lirih yang masih bisa kudengar.

"Kau tahu, jika kita berteman dengannya mungkin saja kita bisa ikut terkenal. Xiumin itu kan ulzzang sekolah kita. Liat wajahnya sangat cantik." Sambung seseorang disebelahnya.

"Hei hei, tapi kurasa akan sulit berteman dengannya. Xiumin sangat dekat dengan anak itu bukan?"

"Woaa, anak hitam itu hah? Kudengar dia dikucilkan dikelasnya, padahal semester lalu dia masuk peringkat lima puluh teratas disekolah kita. Ah siapa ya namanya, aku lupa."

"Kai, iya namanya Kai. Aku tidak tahu kenapa Xiumin sangat dekat dengan orang kuno itu." Mereka saling berbisik membicarakanku dan Xiumin.

Sebegitu buruk kah aku dimana mereka? Kenapa harus aku lagi yang tidak disukai? Aku hanya ingin berteman, aku ingin punya teman, kenapa mereka malah memperlakukanku seperti ini? Aku harus bertahan, harus! Aku akan membuat Baekhyun semakin khawatir padaku jika aku tak memiliki teman. Aku juga akan membuat Xiumin kecewa padaku jika aku tiba-tiba meninggalkannya hanya karena dibully oleh member klub dance. Aku harus kuat, aku sudah melewati masa yang lebih menyakitkan daripada ini. Aku harus terus berjalan jika ingin mewujudkan semua mimpiku dan membuat orang terdekatku tidak khawatir lagi dengan keadaanku.

Kemudian didepan kini terlihat Xiumin sedang menampilkan tariannya. Dan sama seperti aku pertama kali melihat penampilannya, dia selalu mengagumkan. Ketika sudah banyak member yang memperkenalkan diri kini yang tersisa hanya aku dan Kyungsoo. sesekali aku menatap kearahnya yang duduk didekat seorang sunbaenim yang tak kuketahui siapa namanya. Lagi-lagi dia menatapku dengan pandangan mengerikannya. Sebenarnya apa yang membuat dia tidak menyukaiku? Sehun? Apakah karena Sehun? Seharusnya dia tak perlu takut, karena dia lebih cantik dariku. Seharusnya Sehun lebih tertarik dengan Kyungsoo, tapi kenapa Kyungsoo malah menyuruhku menjauhi Sehun? Kyung, aku menyadari bahwa aku bukanlah rivalmu. Seharusnya kita berteman, tapi kenapa kau terlihat begitu membenciku?

"Kau masih gugup?" Tanya Xiumin.

"Ah, sudah lumayan reda." Jawabku.

"Kai, percayalah kau itu bisa. Bahkan aku yakin kau akan melebihiku, ayo kita terus belajar bersama." Dan kemudian dia tersenyum padaku, membuat aku yakin semua akan baik-baik saja.

"Baik, bisakah Kai selanjutnya?" Tanya Lay Sunbaenim.

Aku hanya mengangguk dan kemudian berdiri menuju tengah ruang klub.

"Perkenalkan, aku Kim Kai dari tingkat dua."

"Woa ternyata dia punya marga korea, kukira dia tidak sama dengan kita." Celetuk seseorang dibelakang sana.

"Mungkin dia punya darah campuran, lihat saja rambutnya saja coklat bergelombang dan kulitnya coklat seperti itu." Balas seseorang disampingnya.

"Apa kau berpikir dia mengecat rambutnya menjadi coklat?"

"Tidak mungkin dia berani mengecat rambutnya, dia orang yang kuno dan tertutup. Mana mungkin di atau fashion dan urusan cat rambut."

"Yak, bisakah kalian tenang?" Lay Sunbaenim membuat ruang klub menjadi hening kembali.

"Jadi apa yang akan kau tampilkan kali ini, Kai?" Tanya Lay Sunbaenim.

"Aku..."

"Aku akan..."

Sial, aku mulai gugup lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu akan menampilkan apa.

"Kai, buatlah kami percaya bahwa kau punya skill." kata Lay Sunbaenim.

"Sebenarnya aku tidak tahu harus apa." Jawabku.

"Hahahahahahahahahahahahahaha..." Ruang klub penuh dengan tawa yang ramai kini.

Aku ditertawakan?

"Cukup, cukup! Berhenti!" Lay Sunbaenim memperingatkan agar mereka berhenti tertawa.

"Apa kau tak punya persediaan tarian dikepalamu itu, Kai?" Tanya Lay sunbaenim, sepertinya dia sudah merasa tak nyaman dengan sikapku.

"Aku... Aku akan..." Sial, berbicarapun aku gugup.

"Ah sunbaenim, kurasa Kai bisa mencover dance yang pernah kubawakan waktu audisi." Xiumin mengeluarkan suaranya.

"Benarkah? Apa kau punya lagunya?" Tanya Lay Sunbaenim pada Xiumin.

"Aku akan memutar lagunya, oh atau mungkin aku akan ikut menari." Kata Xiumin.

"Kau siap, Kai?" Tanya Xiumin.

One, Two, Three...

Lagu Call Me Baby diputar, diawali dengan gerakan Xiumin yang mempesona dan kemudian dia lama kelamaan musik itu membuatku ingin menari.

Bichnaneun geotdeuleun manha
Geu ane jinjjareul bwabwa
Call me baby Call me baby
Call me baby Call me baby
You know my name girl
Neol hyanghae keojyeogan maeuma
Neo malgon geu muneul dada
You know I'm here girl
Call me baby Call me baby
Myeoch beonirado Call me girl

Lagu itu terus diputar sampai akhirnya aku begitu menikmati gerakan demi gerakan yang sudah kuhafal sejak lama. Aku tidak tahu bagaimana Xiumin tahu bahwa aku mengusai gerakan lagu ini, yang jelas setelah ini aku harus berterimakasih padanya. Seketika ruang klub yang tadinya membuatku gugup kini berubah menjadi tempat yang menyenangkan ketika semua orang didalamnya tersenyum dan menikmati penampilanku, meskipun disebelah sana ada seorang gadis yang tak menampakkan rasa senangnya terhadapku, ya dia masih tetap begitu, Kyungsoo.

Aku melihat kearah jam tanganku, 17.30 sudah sangat sore. Meski terkadang aku pulang pada waktu seperti ini tapi rasanya hari ini berbeda, ada warna baru dalam hidupku. Ada senyuman dari banyak orang yang ditujukan padaku, ada orang baru yang membuatku nyaman dan kurasa ini tidak buruk.

"Kai, maaf aku tidak bisa pulang bersamamu. Ibuku menjemputku lagi hari ini." Kata Xiumin.

"Tidak apa-apa, lagi pula aku juga akan pulang bersama Baekhyun sunbaenim. Terimakasih atas tadi ya" Jawabku.

"Sudah, tidak apa-apa. Aku tahu kau menguasai dance lagu itu. Ketika aku tampil aku tak sengaja melihatmu reflek memperagakan beberapa gerakan, jadi kurasa kau memang tahu gerakan dilagu itu. Oh iya bukankah kau selalu bersamanya? Dia kekasihmu ya?" Xiumin bertanya dan terdengar begitu penasaran.

"Bukan, bukan. Dia itu kakak sepupuku, dia selalu menjagaku disini dan setiap pulang sekolah dia rela menungguku untuk pulang bersama." Aku menjelaskan semuanya pada Xiumin.

"Yaaaahh, kukira dia itu pacarmu. Yasudah aku pulang dulu ya, kau hati-hati pulang bersama sunbaenim itu. Sampai bertemu besok ya." Katanya sambil menebar senyumnya padaku.

Kini aku melihat gadis cantik itu pulang menaiki mobil berwarna hitam dan kemudian pergi menjauh dariku. Seketika aku mengingat dimana sepupuku yang menyebalkan itu. Apakah dia melupakanku?

"Kai..." teriak seseorang dikejauhan

"Ya, Baek kemana saja kau?" Aku menoleh kesumber suara itu.

Oh tidak, dia bukan Baekhyun. Sehun. Ya, dia Sehun.

"Kau menunggu Baekhyun sunbaenim?" Tanyanya tiba-tiba.

"Iya." Jawabku singkat.

"Dia sudah pulang tadi, dan dia menitipkanmu padaku. Kurasa kita bisa pulang bersama." Katanya.

DEG... Oh Tuhan, apalagi ini? Bagaimana bisa Baekhyun bodoh itu menitipkanku pada malaikat tampan seperti Sehun? Tidak tidak, aku tidak boleh pulang bersamanya. Aku tidak ingin salah tingkah didepan manusia sempurna ini.

"Oh kalau begitu aku akan pulang sendiri, sampai jumpa, Hun." Kataku, mulai melangkah pergi.

"Tunggu, Kai..." Lagi, kurasa ini kali keduanya ia menarik tanganku.

"Kau tahu, aku selalu dingin kepada tiap perempuan. Tapi tidak dengamu, jadi bisakah kau tak bersikap dingin padaku?" Katanya sambil menatapku membuatku tak bisa lepas dari wajah tampan miliknya.

"Maafkan aku, Hun. Tapi kurasa kita tak bisa berteman, aku harus menjauhimu." Aku mencoba melepaskan diri darinya.

"Kenapa, Kai? Katakan jika ada yang mengganggumu." Sehun sedikit berteriak.

Akupun kembali berbalik menghadapnya.

"Tidak ada, Hun. Aku hanya tidak mengerti kenapa orang sepertimu mendekatiku." Kataku seadanya.

"Aku hanya..."

"Sehun!" Teriak seorang gadis.

Sehun menoleh kearahnya, dia Kyungsoo.

"Aku mencarimu kemana-mana tadi, ternyata kau ada disini." Kata Kyungsoo yang kini tiba-tiba menarik tangan Sehun dan menggenggamnya.

"Kyung, bisakah kau bersikap biasa saja?" Kata Sehun.

"Apa maksudmu, Hun? Bukankah kita memang biasa seperti ini?" Kyungsoo terlihat menggenggam Sehun lebih erat.

"Aku permisi pulang, semuanya sampai jumpa besok." Aku membungkuk, dan kemudian meninggalkan mereka berdua.

Ada apa dengan Sehun? Aku masih tidak mengerti kenapa dia begitu ingin berteman denganku? Dan Kyungsoo, kenapa dia begitu dekat dengan Sehun? Kenapa dia menggenggam tangan Sehun dengan mudahnya? Tidak tidak, kenapa aku jadi cemburu seperti ini? Aku harus pulang dan sepertinya aku akan memarahi Baekhyun bodoh setelah ini. Tak kusangka aku memiliki kakak sepupu macam dia.

Selanjutnya ketika aku melangkahkan kakiku menjauhi mereka berdua, aku menoleh kebelakang. Melihat Kyungsoo yang ditinggalkan Sehun dan reaksi Kyungsoo yang langsung menatap marah kearahku. Kurasa aku akan menemui masalah baru setelah ini.

**TBC**

Terimakasih yang udah mau baca cerita gaje dari aku. Terimakasih yang udah Review. Maafkan kegaje-an ku ya, Sehun belum muncul banyak. Mudah-mudahan di next chapter Sehun bisa muncul banyak ya. Jadi momen Sekai yang bikin jedor jedor bisa keluar.

Sangkyu semuaaaaaa...