I CALL YOU 'MY DREAM'
Chapter 3
CAST : EXO's Sehun , EXO's Kai (GS: Kai Female) ,
Cameo : Other member EXO (Baekhyun: Male, Lay: Male, Chanyeol: Male, Suho: Male, Chen: Male, Xiumin: Female, Kyungsoo: Female)
Genre : Romance, Drama
"Maafkan aku, Hun. Tapi kurasa kita tak bisa berteman, aku harus menjauhimu." Aku mencoba melepaskan diri darinya.
"Kenapa, Kai? Katakan jika ada yang mengganggumu." Sehun sedikit berteriak.
Akupun kembali berbalik menghadapnya.
"Tidak ada, Hun. Aku hanya tidak mengerti kenapa orang sepertimu mendekatiku." Kataku seadanya.
"Aku hanya..."
"Sehun!" Teriak seorang gadis.
Sehun menoleh kearahnya, dia Kyungsoo.
"Aku mencarimu kemana-mana tadi, ternyata kau ada disini." Kata Kyungsoo yang kini tiba-tiba menarik tangan Sehun dan menggenggamnya.
"Kyung, bisakah kau bersikap biasa saja?" Kata Sehun.
"Apa maksudmu, Hun? Bukankah kita memang biasa seperti ini?" Kyungsoo terlihat menggenggam Sehun lebih erat.
"Aku permisi pulang, semuanya sampai jumpa besok." Aku membungkuk, dan kemudian meninggalkan mereka berdua.
Ada apa dengan Sehun? Aku masih tidak mengerti kenapa dia begitu ingin berteman denganku? Dan Kyungsoo, kenapa dia begitu dekat dengan Sehun? Kenapa dia menggenggam tangan Sehun dengan mudahnya? Tidak tidak, kenapa aku jadi cemburu seperti ini? Aku harus pulang dan sepertinya aku akan memarahi Baekhyun bodoh setelah ini. Tak kusangka aku memiliki kakak sepupu macam dia.
Selanjutnya ketika aku melangkahkan kakiku menjauhi mereka berdua, aku menoleh kebelakang. Melihat Kyungsoo yang ditinggalkan Sehun dan reaksi Kyungsoo yang langsung menatap marah kearahku. Kurasa aku akan menemui masalah baru setelah ini.
Aku berjalan sendirian menuju rumah, baru ingat bahwa sangat jarang menemukan moment seperti ini. Sore hari, keramaian, juga kesepian yang hadir didiriku. Tanpa sepupu aneh yang selalu menemaniku, dan kini digantikan dengan rangkaian hal yang membuat kepalaku pusing. Sehun, bayangan itu muncul lagi, lagi dan lagi. Membuatku muak dengan semuanya, ini terlalu aneh bagiku, ya sangat-sangat aneh, bagaimana bisa orang seperti dia mendekatiku? Bagaimana bisa orang itu ingin berteman denganku? Terlebih lagi kini Kyungsoo benar-benar terlihat tak menyukaiku. Tapi mau bagaimana lagi? Haruskah aku lari dari semua masalah ini? ah kurasa tidak bisa, aku hanya bisa melanjutkan hari-hariku seperti biasanya, lagipula aku tetap harus percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja.
Kini aku sudah sampai didepan komplek rumahku namun ada yang mengganggu pandanganku karena tepat dirumah Baekhyun ada seorang laki-laki berseragam sama denganku yang terlihat seperti menunggu sesuatu. Akupun berjalan menuju laki-laki itu.
"Permisi, apa anda mencari seseorang?" Tanyaku.
"Ah iya, apakah benar ini rumah Byun Baekhyun sunbaenim?" Tanya laki-laki tinggi itu.
"Iya benar, aku sepupunya dan aku tinggal disamping rumah Baekhyun. Tunggu, kau memanggilnya sunbaenim? Kau berada ditingkat berapa memangnya?" Aku mulai penasaran dengannya.
"Namaku Park Chanyeol, aku anggota tim basket dan berada di tingkat dua, dan kau? Oh kau yang ikut audisi dance waktu itu ya?" Dia berbalik menanyaiku.
"Oh iya, itu aku. Ngomong-ngomong kenapa kau tidak masuk? Ketuk saja pintunya, Baekhyun pasti didalam." Kataku padanya.
"Tidak, tidak… Dia tidak ingin menemuiku, kurasa dia marah padaku. Kai. Itu namamu kan?" Ujar Chanyeol.
"Woa, apakah kau membuat kesalahan fatal? Sebentar, sebentar, kau tahu namaku?" Tanyaku padanya.
"Tentu saja, Sehun sering bercerita tentang kau padaku. Oh iya terimakasih karena kau telah memecahkan Kristal es yang ada dihati Sehun, karena sebelumnya dia tak pernah seperhatian itu dengan gadis lain. Tapi entah kenapa denganmu dia berubah menjadi sangat lembut." Lelaki didepanku ini bercerita.
"Maaf Park Chanyeol, aku tak mengerti apa yang katakan tentang Sehun, aku juga tidak tertarik dengan pembicaraanmu berkaitan dengan Sehun. Tapi kali ini aku akan membantumu untuk menemui Baekhyun." Kataku pada Chanyeol.
"Mwo? Ternyata ada gadis yang ekspresinya hanya datar seperti itu ketika mendengar dirinya diperhatikan oleh Sehun. Setahuku tak ada yang mampu menolak seseorang seperti Sehun. Kau sungguh istimewa, Kai. Dan ngomong-ngomong terimakasih banyak mau membantuku. Jadi, bisa kau panggil Baekhyun sunbaenim?" Kata Chanyeol.
"Dengar ya Park Chanyeol, jika kau ingin kubantu maka diamlah! Dan jangan lagi bercerita dengan Sehun, aku muak dengannya, Kau tahu. Dan satu lagi, kau diam saja disini, aku akan masuk menemui sepupuku yang menyebalkan itu." Kataku sambil memberi peringatan pada Chanyeol.
"Baiklah Kai, baiklah, aku mengerti. Tak kusangka gadis sediam kau bisa menyeramkan juga yah." Ujar lelaki tinggi itu.
"Kau ingin kubantu tidak?" Tanyaku agak geram karena kecerewetannya.
"Iya iya,.. Kumohon bantu aku Kai…" Kemudian ia memasang wajah memelas, sebenarnya apa yang sudah ia lakukan pada sepupu menyebalkanku itu? Aku yakin ia telah membuat kerusuhan dengan preman flower boy macam Baekhyun itu. tapi aku tak terlalu ingin memikirkan masalah Chanyeol dan Baekhyun, yang jelas kali ini aku akan memarahi Baekhyun karena telah meninggalkanku disekolah. Ya hitung-hitung aku bisa membantu Chanyeol yang sudah memberiku beberapa informasi karena ia adalah teman Sehun, eh tunggu, kenapa aku jadi menginginkan informasi tentang Sehun. Aaaaa aku bisa-bisa gila dibuatnya, laki-laki sempurna itu, dia, dia datang tiba-tiba diwaktu yang tidak kuduga, dan kurasa bayangannya tertinggal didalam hatiku namun tak pernah mau diakui. Dia, sama sekali tak ingin kuberi nama. Dia, seseorang yang diam-diam mengajarkanku apa namanya jatuh cinta.
"Baekhyun…" Teriakku ketika masuk kedalam rumah sepupu tercintaku itu.
Jangan tanyakan kemana Ahjumma dan Ahjushi ku, sore hari seperti ini mereka belum pulang kerumah dan seperti biasa hanya akan ada Baekhyun didalam rumah minimalis dua lantai ini. tapi kenapa belum ada respon dari pemilik nama Baekhyun itu? kemana dia?
"Baekhyun!" Akhirnya aku berteriak lebih keras.
"Ya Tuhan, Kai… Teriakanmu jelek sekali." Kata Baekhyun yang ternyata sedang berada dikamarnya dilantai dua.
"Itu karena aku meneriakkan namamu. Turun kau, penghianat!" Teriakku padanya.
"Apa maksudmu penghianat, huh?" Tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Kau meninggalkanku disekolah, kau tidak menungguku pulang, kau jahat!" Aku merajuk.
"Hei lihat sepupuku ini, kau begitu imut jika sedang marah Kai. Woa, apa kau takut diculik? Ah tidak tidak, kau kan pulang dengan pria tampan dan kekar mana mungkin ada yang berani menculikmu. Nah jadi bisa kau ceritakan bagaimana saat kau pulang dengan Sehun tadi." Kata Baekhyun.
"Baek, berhentilah menyebutkan namanya lagi! Sehun itu sudah punya kekasih, aku tak pulang bersamanya!" Kataku pada Baekhyun.
"Apa? sehun sudah punya kekasih? Tidak mungkin, Kai. Paling gadis itu hanya mengaku memacari Sehun, kau tahu kan betapa tampannya Sehun sehingga banyak gadis yang tertarik padanya. Jadi kau jangan berpikiran dia sudah punya kekasih, oke." Kata Baekhyun.
"Aaaaahhh… Aku tidak peduli, Baek! Kau jangan mencoba menjodohkanku dengan Sehun ya, aku sebal pokoknya aku sebaaalll…" Teriakku, lagi.
"Iya Kai, iya… Maafkan aku ya, tapi jika satu saat kau benar-benar jatuh cinta dengan Sehun, kau harus berterimakasih denganku ya! Hahaha…" Baekhyun menertawakanku.
"Aish, Baekhyun! Menyebalkan!" Aku geram.
"Hahaha,,, Kau sangat lucu jika seperti itu, Kai." Kata Baekhyun tak bisa menghentikan tawanya.
"Oh iya ngomong-ngomong tunggu sebentar ya." Kataku tiba-tiba.
"Ada apa emangnya?" Tanya Baekhyun.
"Pokoknya kau diam saja disini, aku bawa sesuatu." Kataku sambil berlari keluar menjemput Chanyeol.
Dan ketika aku kearahnya, dia terlihat sedang menelepon seseorang.
"Iya Hun, sudah ya, gadis yang kau suka sudah datang." Katanya pada seseorang yang dipanggil "Hun" itu.
Mungkinkah dia, Sehun?
"Jadi apa aku bisa masuk?" Tanya Chanyeol.
"Iya masuklah." Kataku sambil masuk kembali kerumah Baekhyun.
Diikuti dengan Chanyeol dibelakangku.
"Baekhyun…" Aku memanggil Baekhyun yang kini sedang duduk santai disofa.
"Iya Kai, dan kau…" Baekhyun terkejut.
"Sunbaenim… Aku…" Chanyeol tergugup.
"Kenapa kau ada disini? Enyah kau!" Baekhyun terdengar sangat marah dan mengusir Chanyeol.
"Baek, aku tidak tahu masalahmu dan Chanyeol. Tapi setidaknya biarkan dia bicara dan meminta maaf jika dia punya salah denganmu." Kataku pada Baekhyun yang terlihat begitu marah.
"Aku tak peduli, Kai. Sekarang pergilah! Pergi kalian semua!" Teriak Baekhyun.
Aku tersentak kaget, tidak biasanya Baekhyun semarah ini. Sebenarnya apa yang diperbuat Chanyeol ini? aku sungguh tak mengerti.
"Ayo kita keluar saja, Kai. Turuti saja apa yang diinginkan sepupumu ini. lagi pula dia juga tidak ingin mendengar permintaan maafku." Kata Chanyeol padaku.
"Tapi Yeol…"
"Sudahlah Kai. Ayo…" Chanyeol menarik tanganku.
Ia membawaku keluar rumah Baekhyun.
"Lain kali saja aku akan meminta maaf pada sepupumu itu." kata Chanyeol.
"Iya, kurasa dia sedang tidak mood kali ini Yeol. Tapi sebenarnya apa masalahmu dengannya?" tanyaku pada Chanyeol.
"Ini sulit, Kai. Nanti saja kujelaskan." Jawabnya.
"Oh iya dimana rumahmu?" tanya Chanyeol.
"Itu tepat disamping rumah Baekhyun. Kenapa memangnya?" tanya ku.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membagi info saja pada Sehun nanti." Jawab Chanyeol.
"Apa?" Aku kaget setengah berteriak.
"Kenapa? Siapa tahu nanti Sehun akan mengunjungi rumahmu kan. Kau harusnya beruntung karena Sehun itu menyukaimu." Kata Chanyeol.
"Ya Tuhan, Park Chanyeol dengar ya! Aku tidak mengerti kenapa kau bilang Sehun itu menyukaiku. Lagipula bagaimana bisa dia menyukaiku? Aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Aku hanya beberapa kali berbicara dengannya. Tapi kenapa tiba-tiba kau bilang kalau dia suka padaku? Permainan macam apa ini?" Aku mengomel padanya.
" Hahaha… aku juga tidak tahu Kai kenapa Sehun menyukaimu. Tapi aku sangat mengetahuinya, dia tidak sedang bermain yang jelas." Ujarnya.
Aku diam, enggan merespon apa yang dikatakan Chanyeol.
"Yasudah kalau begitu, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu besok. Oh ya satu lagi, kurasa kau perlu menstyling rambutmu. Kau akan terlihat lebih cantik kurasa. Yak, sampai jumpa Kai…" Kata Chanyeol sambil berlalu.
"Isshh… Siapa dia berani mengomentari tentangku. Memangnya aku sejelek itu apa yah? Huh…" Gumamku pelan.
"Kai…" Baekhyun memanggilku dari arah pintu rumahnya.
"Ne… Kenapa? Tadi kau mengusirku." Kataku dengan nada ketus.
"aku itu mengusir si kuping gajah itu, bukan kau. Lagipula hoobae kurang ajar seperti dia harus diberi pelajaran. Benar-benar tidak tahu sopan santun." Kata Baekhyun.
"kurasa aku setuju denganmu, Baek. Dia sangat tidak sopan. Masa dia mengomentari rambutku. Katanya kalau aku menstyling lagi rambutku akan terlihat lebih bagus. Huh, memangnya siapa dia berani komentar tentang rambutku." Kataku pada Baekhyun.
"Mwo? Hahahah… dia berkata seperti itu? hahaha… kurasa itu benar Kai. Oh Ya Tuhan, dia benar-benar jujur. Benar, kurasa kau harus styling rambutmu." Kata Baekhyun.
"Kau ini sama saja seperti dia." Kataku.
"Hahaha… Tapi ada benarnya, sudah besok kau pergi dengan Xiumin saja. Kurasa dia pintar urusan fashion." Kata Baekhyun.
"Tapi Baek…" Kataku.
"Apalagi?"
"Ceritakan dulu masalahmu dan Chanyeol itu!"
"Tidak akan!" jawabnya ketus.
"Cih, dasar pelit!" kataku.
"Sudah sana pulang! Dan ingat, jangan berteman dengan orang seperti dia!" kata Baekhyun padaku.
"Hei, tanpa kau menyuruhkupun aku mengerti Baek. Lagipula dia juga temannya Sehun, jadi aku tak mau berteman dengannya." Jawabku.
Akupun keluar dari halaman rumah Baekhyun dan berjalan menuju rumahku. Kejadian hari ini benar-benar rumit, rasanya aku tak ingin mengingatnya lagi.
ESOK HARINYA
Aku merapikan buku dimeja dan menaruhnya kedalam tasku, kelas sudah sepi karena semua teman sekelasku buru-buru meninggalkan ruangan. Ada yang langsung pulang kerumah, ada yang ikut kegiatan klub ada juga yang bermain-main diluar sana. Ya hanya itu yang aku tahu, sementara aku hari ini bersiap mengikuti kegiatan klub. Diluar kelas Xiumin terlihat sedang menungguku, rasanya begitu senang mengetahui dia kini adalah temanku.
"Kai…" Dia terdengar memanggilku dari luar.
"Ne… Tunggu sebentar." Kataku padanya. Selanjutnya aku berlari kearah Xiumin yang sedang berdiri didekat pintu.
"Kau lama Kai, lihat aku sampai beruban." Xiumin mulai bercanda.
"Kyaaa… Mana mana? Aku ingin melihat uban milik Xiumin si gadis cantik itu? hahaha…" Kataku sambil tertawa.
"Uuu… Kai jahat, malah meledekku." Xiumin kemudian mengeluarkan pout nya.
"Hei lihat itu sangat imut, Xi. Hahaha sudah, sudah! kalau begini kita tidak akan sampai ke ruang klub karena bercanda terus." Kataku padanya.
"Biar saja. Lagipula aku jarang sekali bercanda dengan orang, entah kenapa orang lain suka sekali memperlakukanku dengan formal. Aku kan masih muda, harusnya bertingkah biasa saja kan lebih enak. Bukan begitu, Kai?" Katanya padaku.
"Ya, ya mungkin semua orang menganggapmu orang tua jadi seperti itu. hahaha.." Aku menggoda Xiumin.
"Hahaha… Apa yang kau katakan tadi? Haha, baru ada orang yang berani bercanda seperti ini denganku. Aaaa aku sangat suka denganmu, Kai." Kata Xiumin.
"Sudah ya sudah, ayo ke ruang klub nanti kita terlambat." Kataku pada Xiumin sambil menggandeng tangannya menuju ruang klub.
"Yasudah ayo!"
"Oh iya, aku ingin bertanya sesuatu." Kataku.
"Yasudah katakan saja Kai, ada apa memangnya?" Tanya Xiumin.
"Begini, apa menurutmu penampilanku ini norak? Atau mungkin aku harus menstyling rambutku lagi?" tanyaku pada Xiumin.
"Woa, tumben sekali kau perhatian dengan penampilanmu? Em ya maksudku ya memang dari awal kau terlihat sangat cuek dengan penampilan. Kau hanya menata dirimu seadanya. Tapi itu adalah hal pertama yang membuatku mudah mengenali kau, Kai. Tapi jika ditanya apa ada yang perlu diperbaiki, mungkin aku akan menjawab 'banyak'." Kata Xiumin sambil menekankan kata 'banyak' ditelingaku.
"Huwaaaa… Benarkah? Iya memang selama ini aku terlalu cuek dengan penampilanku. Karena kurasa itu tidak terlalu penting dalam keseharianku." Jawabku apa adanya.
"Ya tapi itu kan dulu, Kai. Ingat, sekarang kau adalah member dari klub dance dan kau juga teman dari seorang Xiumin. Oh iya, aku dengar Sehun juga mendekatimu bukan? Ck, kali ini kau harus benar-benar merubah gaya mu itu, Kai." Kata Xiumin.
"Sebentar, kau? Kenapa bisa tahu tentang Sehun?" Tanyaku, kaget.
"Jadi, sebenarnya aku sedang dekat dengan Chen. Kau tahu dia tidak? Dia itu ace nya tim basket sekolah kita, aaaaaa dia sangat keren. Semalam kita berbincang di telepon cukup lama dan tiba-tiba dia bercerita tentang Sehun yang akhir-akhir ini terlihat mendekatimu." Ujarnya.
"Aaaaa… Aku semakin stress rasanya." Kataku sambil mengacak rambut.
"Hei, hei, kenapa tiba-tiba stress begitu? Harusnya kau senang karena Sehun mendekatimu." Kata Xiumin.
"Dengar ya Xi, pertama aku tidak tahu kenapa dia mendekatiku, kedua kami tidak punya history yang baik ketika baru berkenalan karena pada saat itu aku tidak sengaja menabraknya, dan ketiga Kyungsoo menyukai Sehun. Kyungsoo mengetahui bahwa Sehun mendekatiku dan sekarang dia membenciku." Aku menceritakan semuanya pada Xiumin.
"Hah?" Xiumin menganga, kaget.
"Kyungsoo menyukai Sehun? Benarkah? Aku tidak tahu itu. Tapi ini tidak terdengar baik, Kai. Mungkin, akan sedikit sulit jika berurusan dengan Kyungsoo itu." Kata Xiumin lagi.
"Arrgghhh… Kenapa harus seperti ini? Hiks… Hikss…"
"Woo.. Woo.. Kai, jangan menangis. Hei hei, dengarkan aku ya. Yang terpenting sekarang jangan pikirkan Kyungsoo dulu. Kau fokus dengan Sehun saja, cari tahu kenapa ia menyukaimu. Dan satu lagi, bagaimana kalau kita sedikit memperbaiki penampilan?" Kata Xiumin.
"Emmm… Bagaimana ya? Kalau begitu terserah kau sajalah." Jawabku.
"Yak, tapi jangan sedih dan stress lagi ya." Katanya.
"Iya.. Iya.. Tapi aku tidak percaya diri." Kataku.
"Uh apalagi ini? menari dengan baik saja kau bisa, kau tidak takut salah dan percaya pada kemampuanmu. Lalu sekarang kau ingin mengubah penampilanmu malah begitu." Kata Xiumin padaku.
"Aku malu…"
"Kenapa harus malu? Sudah sudah, karena kau telah bertanya tentang penampilanmu padaku jadi sudah sepantasnya aku menjawab dengan benar dan membantumu membenahinya, oke. Jangan pikirkan perkataan orang lain nantinya. Kurasa kau harus benar-benar berubah, sekarang." Jawabnya.
"Kalau aku dibully lagi bagaimana?" Tanyaku.
"Tak ada yang berani membuli gadis cantik, Kai. Percaya padaku." Kata Xiumin, kemudian dia menggandeng tanganku berjalan melewati deretan kelas dan menuju ruang klub. Sesekali ia tersenyum menatapku, memberiku semangat dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja.
16.00
DEPAN GEDUNG OLAHRAGA
Aku dan Xiumin duduk dibangku taman depan gedung olahraga, menunggu Baekhyun yang sedang menemui Chanyeol atau mungkin lebih tepatnya sedang memarahi anggota tim basket sekolah yang terlihat tidak bersalah itu. Aku tidak tahu apa masalah mereka, yang jelas Baekhyun sudah lama tidak bergabung dengan tim basket setelah pengangkatan Sehun menjadi kapten dan pergantian seluruh member tim basket. Yang kutahu Baekhyun tidak mungkin marah tanpa alasan pada seseorang. Dan kini aku hanya duduk terdiam saja sedangkan Xiumin asik dengan ponselnya sendiri. Ternyata dia tidak hanya popular di sekolah tapi disosial mediapun banyak yang menyukainya.
"Kai, apa kau tidak suka menampilkan diri disosial media?" Tanya Xiumin.
"Ah, tidak Xi. Aku tidak pernah bermain seperti itu." Jawabku simple.
"Oh ya, kau tahu, sebenarnya aku berkenalan dengan Chen juga lewat social media lho. Awalnya aku hanya iseng membalas pesannya di twitter, tapi makin lama aku merasa nyaman dengannya karena dia begitu lucu. Atau mungkin aku jatuh cinta padanya ya?"
"Jatuh cinta? Apa mungkin secepat itu?" tanyaku padanya.
"Yak, kau ini. Apa kau tidak mempercayai jatuh cinta pada pandangan pertama? Jujur aku mulai menyukainya ketika kita saling bertemu dan menyapa. Sungguh itu momen paling menegangkan, Kai. Bayangkan saja kau sudah lama chatting dengan seseorang dan begitu akrabnya, tapi kau baru bertemu dengannya beberapa kali. Ya tapi aku beruntung karena Chen begitu gentle karena berani menyapaku."
"Dan menurutku Sehun juga sama, dia berani menghampirimu dan mulai berbicara denganmu bukan? Ada kemungkinan dia suka padamu, Kai. Yang kudengar, Sehun itu memang banyak disukai tapi dia jarang merespon gadis-gadis. Dan kali ini benar-benar luar biasa, dia mulai mendekatimu." Kata Xiumin.
"Xiumin, tolonglah. Jangan bahas Sehun, entah kenapa aku tidak terlalu suka mendengarnya."
"Apa kau cemburu saat Kyungsoo mendekati Sehun?" Tanyanya tiba-tiba.
"Hei, pertanyaan macam apa itu? sudah, sudah." Akupun diam dan memalingkan wajahku dari Xiumin, entah kenapa aku merasa tidak mood membicarakan Sehun. Tapi sayangnya aku masih saja memikirkan dia. Dan yang jelas aku terus bertanya-tanya kenapa Sehun mendekatiku.
"Kai…" Xiumin memanggilku pelan.
"Apalagi? Aku sedang tidak ingin berdiskusi tentang Sehun." Jawabku.
"Tidak, Kai ini bukan tentang Sehun." Kata Xiumin.
"Lalu apalagi? Ibumu sudah menjemputmu? Katanya kau mau menemaniku menstyling rambut?" tanyaku padanya.
"Ish kau ini. aku sudah ijin ibuku, tenang saja. Aku akan menemanimu hari ini. Tapi aku akan bertemu dengan Chen sebentar ya. Boleh kan?"
"Oh kau ingin bertemu dengannya. Bukannya ada latihan?"
"Sudah selesai, Kai. Makanya aku akan menemuinya, sebentar koq, tenang saja." Kata Xiumin.
"Benar ya! Jangan lama-lama! Jika kau bertemu Baekhyun suruh menghadapku cepat! Aku tidak ingin duduk berlama-lama disini sendirian." Kataku.
"Iya iya, kau ini cerewet juga ya. Yasudah aku pergi dulu, kau tunggu disini. Bye bye, Kai." Xiumin melambaikan tangannya padaku, ia pergi menuju gedung olahraga.
Dan kali ini aku sendirian lagi, sesekali menatap langit sore. Awan berkumpul, berjalan, terpecah, hilang dan menenangkan. Aku tersenyum kecil, merasa begitu tenang disaat seperti ini. Lalu sekelebat bayangan datang, Sehun. Entah kenapa aku jadi memikirkan dia, jika Xiumin mempercayai cinta pada pandangan pertamanya maka aku mungkin juga percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu tapi. Tapi kenapa harus dengan seseorang seperti Sehun? Aku tahu, semua gadis mungkin akan menyukai Sehun sama sepertiku. Tapi kenapa aku tidak bisa mengakui bahwa aku menyukainya? Dia terlalu sempurna, sangat sempurna untuk dijadikan kekasih. Dan aku berharap satu saat nanti aku punya kesempatan untuk jujur pada perasaanku sendiri.
"Memikirkanku, noona?" Tanya seseorang, membuyarkan lamunanku.
"eh?" Aku terperanjat kaget, mendapati Sehun sudah berdiri disampingku.
"Kau menunggu Baekhyun sunbaenim? Menunggu Xiumin? Atau menungguku?" tanya Sehun beruntun.
"Tentu saja aku menunggu Baekhyun dan Xiumin." Jawabku.
"Menunggu sepupu dan sahabat sambil melamun dan tersenyum seperti itu? jangan terlalu serius memikirkanku begitu, haha." Kata Sehun.
"Ish, apa kau ini? terlalu percaya diri!" Kataku.
"Kai, aku minta maaf untuk kejadian kemarin. Aku dan Kyungsoo tidak berpacaran, percayalah." Ujarnya sambil duduk disampingku.
"Apa peduliku? Itu bukan urusanku, Hun." Jawabku ketus.
"Mwo? Benarkah? Tapi kenapa kau mengatakan hal itu pada Chanyeol?" Tanya Sehun.
Uh, Chanyeol itu mulut ember bocor ternyata. Pantas saja dia punya masalah dengan Baekhyun, ternyata sifatnya saja seperti itu.
"Em… Itu… Tidak apa-apa, memangnya aku tidak boleh berkata seperti itu pada Chanyeol? Lagipula Chanyeol dulu yang memulai membicarakanmu, jadi aku hanya meresponnya saja." Aku mengelak.
"Tapi Chanyeol bilang kau terdengar marah ketika mengatakan Kyungsoo itu kekasihku. Apakah Chanyeol yang salah ya?" Sehun terdengar menyindirku. Kali ini aku benar-benar percaya bahwa Chanyeol itu benar-benar mulut ember bocor.
"Sudahlah, kau pergi saja sana!" kataku, mengusirnya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, aku akan disini menemanimu."
"Aku takut ada srigala betina yang mencakarmu jika kau disini sendirian." lanjut Sehun.
"Mana ada srigala betina disekolah ini? apa kau suka berkhayal?" Tanyaku menyindirnya.
"Ish, tentu saja aku suka berkhayal. Aku jadi pangeran dan kau jadi putrinya, lalu kita bertemu disebuah pesta dan jatuh cinta. Bagus kan khayalanku?" Sehun mengatakan semua itu dengan nada yang serius dan malah membuatku geli karena khayalannya mirip cerita dongeng masa kecil yang sering kubaca dulu.
Aku tersenyum kecil, ini benar-benar lucu didengar.
"Hei, berhentilah berkhayal pangeran kesorean! Dan jauhi aku, kurasa Kyungsoo menyukaimu jadi aku tidak ingin menyakiti hatinya." Kataku.
"Kau tidak ingin menyakiti hatinya tapi malah membuat hatimu sakit, begitu?" Sehun tiba-tiba berkata seperti itu padaku.
"Apa maksudmu, Hun?" tanyaku.
"Dengarkan aku Kai." Sehun menatapku tajam.
"Jika kau terus bertanya kenapa aku mendekatimu, aku akan menjawab aku tidak tahu. Aku tidak mengerti kenapa aku ingin sekali dekat denganmu. Aku selalu merasa kita pernah bertemu sebelumnya, kita pernah dekat sebelumnya. Meski aku tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi aku benar-benar ingin berteman denganmu." Kata Sehun, begitu serius.
"Leluconmu tidak lucu, Hun. Kau dan aku ini berbeda, lihat betapa sempurnanya dirimu. Jangan jatuhkan dirimu hanya demi ingin berteman denganku. Semua orang akan lebih membenciku jika mereka tahu aku berteman denganmu. Orang sepertimu lebih baik bersikap acuh pada orang yang tersisih sepertiku." Jawabku padanya.
"Aku bahkan tidak peduli, Kai. Semua popularitas yang kudapatkan bukanlah keinginanku, niatku disini bukan untuk mendapat popularitas seperti sekarang ini. Jika diberi pilihan, aku hanya ingin menjadi murid biasa dan bisa menikmati masa SMA-ku lalu aku bisa jatuh cinta dengan gadis manapun yang kusukai tanpa menyakiti orang lain."
Aku diam, tidak tahu harus merespon apa. Kenapa jadi begini? Kenapa tiba-tiba aku dan Sehun terlibat percakapan serius? Oh Tuhan, tolonglah aku, Xiumin, Baekhyun, kumohon cepatlah datang kemari dan selamatkan aku. Aku melihat Sehun masih menatapku lekat, sedangkan aku tertunduk, tidak mengerti apa yang harus kulakukan.
"Kaaaaiii…" Teriak seorang gadis dari kejauhan.
Aku dan Sehun kemudian memandang kearahnya, dia Xiumin. Dan disampingnya, ada Chen. Mereka berjalan bersama, menghampiriku dan Sehun.
"Woaaa, apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian berdiskusi tentang perasaan masing-masing?" Tanya Xiumin, langsung pada intinya.
"Aish, apa maksudmu Xi? Tentu saja tidak." Jawabku.
"Aku hanya menemaninya saja, dia terlihat seperti anak kecil yang ditinggalkan ibunya ditaman tadi, jadi aku kesini." Sehun menimpali.
"Hei hei, jawaban lucu macam apa itu? hahaha… Tumben sekali kau lucu, Hun." Kata Chen.
"Wae? Aku memang lucu bukan? Em,, dan menggemaskan. Benar begitu, Kai?" Sehun kemudian memalingkan wajahnya padaku sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu tapi yang jelas kau terlalu percaya diri." Jawabku.
"Oy sudah, sudah! Kai, kenalkan ini Chen." Xiumin memperkenalkanku pada Chen.
"Iya aku sudah tahu, Xi. Bukankah tadi siang kau menunjukkan fotonya padaku?"
"Eh kau menunjukkan fotoku pada Kai?" Tanya Chen pada Xiumin.
"Hehehe, itu em… Itu foto ava twittermu." Jawab Xiumin terdengar gugup.
"Aku jadi malu." Kata Chen.
"Yasudah, aku ingin pulang." Kata Kai.
"Kai, bukankah kau mengajakku untuk menstyling rambutmu? Kenapa tiba-tiba ingin pulang?" Tanya Xiumin.
"Oh kalian akan pergi bersama ternyata. Aku ikut boleh ya." Kata Sehun tiba-tiba. Matilah aku, kenapa jadi seperti ini?
"Ya, aku setuju, Hun. Lebih baik kita mengawal para putri cantik ini." Chen menimpali.
"Tidaakkk! Kalian tidak usah ikut, ada Baekhyun sunbaenim yang akan menemani kami." Jawabku.
"Baekhyun sunbaenim? Tapi aku tadi melihatnya sudah pulang setelah memaki-maki Chanyeol." Kata Chen.
Oh Tuhan, rasanya aku ingin mengamuk saat ini. kenapa Baekhyun tidak bisa diandalkan disaat seperti ini? apa yang harus kukatakan kali ini?
"Ya sudah kalian ikut saja kalau kalian mau. Tapi jangan salahkan kami jika merepotkan, oke." Kata Xiumin.
Dan kali ini teman baikku juga setuju dengan mereka. Dua lawan satu, pastilah aku kalah.
"Baik, sudah ditentukan. Ayo kita pergi bersama." Kata Sehun yang kini sudah berdiri.
"Ayo tunggu apalagi? Ayoo…" ia menarik tanganku.
Tangan kokoh itu, menggenggam tanganku lagi. Meski sudah beberapa kali terjadi seperti ini, tapi aku selalu saja berdebar jika bersentuhan dengan Sehun. Kemudian aku mengikutinya yang terus menarikku, membiarkan tanganku didenggam olehnya. Melupakan Xiumin dan Chen yang kini ada dibelakangku, dan aku terus menatap punggung didepanku. Sayangnya ketika aku dan Sehun akan melewati gerbang sekolah aku melihat seorang gadis berdiri didepan aula utama. Memandang kami dari kejauhan, dengan tatapan kebencian yang biasa kudapati dari dirinya. Dia memperhatikan kami, menatap kami lekat,dan aku terus melihatnya. Dia, Kyungsoo.
TBC
Maafkan akuuuuuu, huweee update lama dan ceritanya jadi gak jelas begini. Mudah-mudahan masih agak nyambung deh yah. Terimakasih yang udah mau baca dan review. Mudah-mudahan aku mood lanjutin next chapter jadi bisa update cepet. Arigatou nee… kamsahamida… see you again. Lalalala..
