Hallo, Minna-san! Bagaimana kabarnya? Ada yang nunggu kelanjutan Fict ini? Apa ada yang lumutan karena nungguin? Gomenne, Minna-san! T.T Sebenarnya Fict ini tercipta karena ada ide yang lewat, jadi di buat aja fictnya. Kenapa saya lama Update, itu karena saya belum ada ide buat chapter 2-nya, saya juga tidak menduga bahwa Fict ini akan ada yang suka, jadi sekali lagi Gomenasai!

Oh iya. Kakashi itu seorang guru, sedangkan yang membantu Kushina menjalankan perusahaan itu adalah Namikaze Cloud {Fisiknya seperti Cloud Strife dari Final Fantasy}. Tadinya saya ingin menggunakan OC buatan, tapi setelah dipikir-pikir, akan lebih baik jika menggunakan tokoh dari Anime Lain. Dan juga peran Cloud di Fanfic ini adalah sebagai adik kandung Minato. Terima kasih banyak kepada yang telah mengingatkan saya, Arigato Gozaimashu ^_^.

Saya juga mau mengucapkan Terima kasih kepada Reader yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Fict yang sangat absurd ini. Terutama kepada yang mereview, Fav dan Follow. Arigato, Minna-san ^_^

Sedikit balasan Review dulu sebelum memulai Fict.


yuri-chan : Saya senang kalau anda suka. Sudah lanjut.

yaoi haters : Terima kasih sudah bilang kalau ini bagus. Kenapa manggil saya 'kak'? saya baru berumur 13 tahun. Yakin nih, akan tetap suka apapun hasil akhirnya? Bagaimana kalau saya buat jadi Bad Ending?

Guest : Hehe, itu kesalahan saya. Yang bantu Kushina itu Cloud sedangkan Kakashi guru KHS.

ai no dobe : Update cepat hanya mitos bagi saya. #PLAK

mirei : Thanks, this is chapter 2, Happy Reading. ^_^

dyna : This the Next chapter. Happy Reading ^_^

Leviathan : Maaf, tapi sudah terlanjur, mau bagaimana lagi? kenapa Naruto panik? Saya bingung bagaimana mau menjawabnya.

rey : OK! Happy Reading ^_^


Sedikit tambahan. Menurut pengamatan saya mengenai Reader yang membaca Fict ini, pasti kebanyakan ingin membaca adegan Lemon Yuri Scene-nya bukan? dan saya peringatkan saja lebih dulu, saya masih di bawah umur dan masih POLOS! Jadi, jangan bunuh saya, jika Lemon Scene-nya tidak sesuai harapan!

Sudah selesai balas Review dan beri peringatannya, sekarang kita mulai Fictnya.


Title : My Family is Yuri

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Author : Ryuukira Sekai

Genre : Romance, Family

Rating : M

Pair : Naruko x FemNaru x Kushina / Sasu x FemNaru / FemNaru x ReverseHarem

Warning : Incest, Yuri, Typo bertebaran, FemNaruto, Author Newbie, Mainstream, EYD hancur, OOC, AU, dan banyak lagi.

Summary :

Memiliki wajah cantik tentu adalah sebuah keuntungan untuk semua perempuan. Memiliki Ibu dan Adik yang sama-sama cantik adalah sebuah Keuntungan tambahan, sehingga membuat dirinya bagaikan sebuah permata yang di perebutkan semua orang. Tapi kenapa Ibu dan Adiknya juga ikut-ikutan memperebutkan dirinya, sampai menjadi sebuah perasaan terlarang. Dan inilah kisah kehidupan dari seorang Namikaze Naruto yang sangat merepotkan, setidaknya baginya. {Bad Summary)


...:::STORY START:::...


Chapter 2 : Yuri Sex and Just it


Senin, 21 September 2015, 03 : 43 PM, Mansion Namikaze

"AHH~,.. hen ... Ah~... tikan, ...Ah~ ...Naru~" Naruto hanya bisa mendesah akan perlakuan Naruko. Naruko meremas Payudaranya dengan kencang dari luar seragam. Dengan bibir yang masih di kunci oleh bibir Naruko, Naruto menggerakkan tangannya yang bebas untuk memegang kedua sisi kepala Naruko dan menjauhkannnya dengan paksa. Kali ini Naruko benar-benar keterlaluan dalam menciumnya.

Walaupun ciumannya terlepas, tapi tangan Naruko tidak berhenti dan terus saja meremas Payudara Naruto tanpa membuka seragam Naruko. Wajah Naruko sudah memerah karena di kuasai oleh nafsunya dan terus mencoba untuk memberontak agar dapat mencium Naruto kembali.

Naruto menggunakan sebelah tangannya untuk menahan wajah Naruko yang mencoba menciumnya, sedangkan tangan yang satunya di gunakan untuk menghentikan tangan Naruko yang berada di dadanya. Naruto berhasil mengunci kedua tangan Naruko dan membalik posisi mereka, sehingga sekarang Naruto yang berada di atas dan Naruko di bawah.

"Hentikan, Naruko!" ucap Naruto agak keras, Naruto sedikit lepas kendali dan membentak Naruko. Mata Naruko yang memandang lurus ke arahnya bergetar mendengar Naruto yang membentaknya. "Nee-chan?"

Naruto sadar dengan yang baru saja dia lakukan dan menjauhkan tangannya dari dari wajah dan tangan Naruko. Dengan posisi yang menduduki perut Naruko, Naruto menunduk. "Gomenasai, aku tidak bermaksud membentakmu" ucap Naruto menyesal.

Sebuah sentuhan hangat yang berasal dari telapak tangan terasa di pipi kanannya. Naruto memandang Naruko yang sedang tersenyum tipis ke arahnya. "Tidak apa-apa, Nee-chan. Aku mengerti. Tapi kalau Nee-chan masih ingin meminta maaf, aku ingin Nee-chan melayaniku dan setelah itu aku akan memaafkan Nee-chan" ucap Naruko sambil tersenyum dan menjauhkan tangannya.

Naruto menghela nafas. "Baiklah" ucap Naruto pasrah membuat senyum tipis Naruko mengembang karena senang. Naruto melepaskan seragam lalu Bra Putihnya dan memperlihatkan Payudara yang berukuran cukup besar tanpa sehelai benang pun untuk menutupinya. Naruto membuang seragam dan Bra-nya kesembarang arah sehingga ia sekarang ini menjadi setengah telanjang.

Naruto melakukan hal yang sama pada Naruko yang terbaring di bawahnya dan membuat Payudara Naruko yang ukurannya hampir mirip dengannya terekspos tanpa sehelai benangpun sepertinya.

Naruto menurunkan kepalanya menuju kepala Naruko dan bibir merekapun bersentuhan atau lebih tepatnya sebuah cumbuan. Dada mereka yang sama-sama telanjang saling bertindihan dengan Puting yang saling bergesekan membuat Naruko dan Naruto mendesah di sela-sela cumbuan mereka.

Naruto menggunakan tangan kirinya untuk mengangkat kepala Naruko dan memperdalam cumbuan mereka. Lidah yang saling melilit dan pertarungan untuk menentukan siapa yang mendominasi terus di lakukan di dalam cumbuan liar itu. Tangan Naruko memegang masing-masing pipi Naruto dan juga mencoba memperdalam ciumannya.

Tangan Naruto yang satunya bergerak menuju Rok Naruko dan menyingkap rok itu lalu mengelus-elus belahan Vagina Naruko dari luar celana dalamnya dan sekali-kali menusuk kedalam belahan itu. "Ah~... Ah~ Nee-chan~" tangan Naruko berpindah mencengkram sprei kasur. Naruto menyudahi cumbuan mereka karena kebutuhan oksigen dan menghirup sebanyak yang dia bisa untuk mengisi Paru-parunya.

Naruto menurunkan celana dalam Naruko sebatas paha dengan tangan kanannya sehingga Vagina Naruko yang bersih tanpa bulu tidak tidak lagi di tutupi oleh Celana Dalam. Naruto menggosok-gosok belahan Vagina Naruko dengan jari telunjuk dan tengahnya. Dan sekali-kali menyenggol Klitoris Naruko. "AHH~... Nee-chan ... AHH~" Naruko mendesah akibat rangsangan yang di berikan Naruto. "Nee-chan,... aku akan ... AHHH~" bersamaan dengan lenguhan nikmat Naruko, Naruto merasa kalau jari telunjuk dan tengahnya yang berada di luar Vagina Naruko menjadi basah oleh sebuah cairan yang keluar dari lubang Vagina Naruko. Naruko sudah mendapatkan Klimaksnya yang pertama.

Berkat cairan Klimaks Naruko, lubang Naruko menjadi licin dan Naruto mempersiapkan jarinya untuk menerobos kedalam Lubang Vagina Naruko. Naruto memandang wajah Naruko yang memerah dan dihiasi oleh keringat. Dengan mata yang terpejam, Naruko mencoba mengatur nafasnya yang berantakan.

Naruto mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruko. "Naruko~" Naruto mengucapkan nama Naruko dengan nada erotis di depan wajah Naruko dan memberikan hembusan nafas pada kelopak mata Naruko yang masih terpejam.

Naruko membuka kelopak matanya sehingga Naruto dapat melihat bola mata berwarna Violet yang indah. Matanya itu memandang lurus kepada matanya dengan pandangan yang dapat di mengerti oleh Naruto.

Naruto mendekatkan bibir mereka untuk cumbuan berikutnya.

'Cup'

Bibir mereka saling melumat dengan liar. Naruko mengalungkan tangannya di leher Naruto sehingga Naruto tidak dapat kabur dan tangan kanannya mendorong kepala Naruto untuk semakin memperdalam cumbuan panas itu.

Jari kanan Naruto yang berada di belahan Vagina Naruko mulai mencoba untuk menerobos masuk kedalam Lubang Naruko dengan perlahan. Semakin Naruto memperdalam memasukan jarinya, ciuman Naruko menjadi semakin beringas dan liar. Naruko mencoba menutupi desahan yang ingin keluar dari bibirnya saat jari Naruto mencoba untuk semakin dan semakin dalam masuk kedalam tubuhnya dengan cara ini.

Akhirnya, jari Naruto tertanam sempurna pada lubang Naruko dan membuat Naruko melenguh saat ciumannya di lepaskan. "AHH~" Naruko mendesah dengan wajah penuh kenikmatan.

Desahan Naruko langsung di hentikan Naruto dengan mencium Naruko sekaligus menggerakkan jarinya yang berada di dalam Lubang Naruko dengan tempo sedang. Naruko membalas cumbuan Naruto dengan beringas, mencoba menyalurkan kenikmatan yang di dapatkannya dari Naruto.

Tanpa menghentikan gerakan jarinya di bawah sana, Naruto melepaskan ciumannya dan kepalanya bergerak menuju Leher kiri Naruko. Naruto menjilati leher Naruto sehingga leher Naruko basah oleh Saliva Naruto.

Naruko mengeratkan dekapannya pada leher Naruto. "Nee~chan,... ah~" Naruko mendesah dengan mata yang tertutup. "Ah~ ... ah~ Nee~chan~" Naruko kembali mendesah saat Naruto menghisap lehernya dengan keras dan juga menggigit lehernya sesekali, dapat dipastikan hal itu akan menjadi Kissmark yang membekas. Gerakan tangan Naruto yang berada di bawah tidak berhenti dan tetap melanjutkan kegiatannya, bahkan tempo gerakannya sudah meningkat.

"Lebih~ cepat~, Nee~chan. Ah~" Naruko mendesah sambil berbicara. Naruto yang mendengar permintaan Naruko pun mempercepat tempo gerakannya. Naruto menggerakkan tangan kirinya menuju Payudara kiri Naruko dan memulai kegiatan meremasnya.

"Nee-chan ... aku ... ingin –" gerakan jari Naruto pada Lubang Naruko menjadi semakin cepat dan liar. Sedangkan pada bagian atas, Naruto menggunakan Ibu jari dan Telunjuknya untuk menjepit Puting Pink Naruko yang sedang menegang dengan keras.

Naruko semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya pada leher Naruto. Lubang Naruko mengetat dan menjepit jari Naruto yang berada di dalam sana. "AHH~" Tubuh Naruko mengejang dan cairan Klimaks keluar dari Lubangnya dan membasahi jari tangan Naruto.

Naruto mencabut jarinya dari lubang Naruko dan menjauh dari tubuh Naruko, lalu duduk bersimpuh di samping Naruko. Naruto menjilati jarinya yang basah oleh cairan Naruko dengan gaya yang menggoda.

Naruto mencabut jarinya yang sudah bersih dari Cairan Naruko dari mulutnya. "Ne, Naruko-chan! Apa sudah cukup?" tanya Naruto dengan polos sambil memandang Naruko yang masih memejamkan mata dengan nafas yang terputus-putus, mencoba untuk menikmati masa Pasca-Klimaksnya.

Naruto yang merasa Naruko tidak akan menjawab pertanyaannya membalikkan badannya dan merangkak menuju tepi ranjang. Naruto menjuntaikan kakinya kelantai dengan kepala yang menolah ke arah Naruko. "Aku anggap saja itu sebagai jawaban 'ya'. Baiklah, karena sudah selesai, aku ingin mandi duluan".

Baru saja Naruto ingin berdiri dari ranjang. Sepasang tangan sudah lebih dulu melingkari perutnya dan tangan itu bergerak menuju Payudaranya. "Naruko, bukannya kita sudah selesai?" tanya Naruto heran dan sedikit panik.

Naruko yang sedang duduk sambil mendekap tubuh Naruto menyeringai. Tangan Naruko sudah sampai di Payudara Naruto dan meremasnya dengan keras. "Ah~" Naruto mendesah kecil.

Seringaian Naruko semakin lebar. Naruko menjilati, menghisap dan mengigit bahu dan leher Naruto sambil tangannya melakukan pekerjaannya pada bagian dada Naruto. "Naru~... Ko, hen ... ~tikan~... ah~" Naruto mulai mendesah saat menerima perlakuan Naruko.

"Fufufu, siapa bilang kalau aku sudah puas dengan hal tadi?" mendengar tawa Naruko di telinga kanannya, membuat Naruto merinding.

"Fufufu, sekarang giliranku yang memberikan 'Service', Nee~chan-ku~ tercinta~" tubuh Naruto semakin merinding saat mendengar kalimat bernada Sing A Song itu.

"Chotto matte, Naru –!" belum selesai Naruto berbicara, Naruko sudah membantingnya ketengah ranjang dan menindih tubuhnya. Mata Naruko yang memandang ke arahnya berkilat nafsu. Naruko mengambil posisi seperti Predator yang siap menerkam mangsanya.

Seringaian mesum Naruko semakin bertambah melihat ekspresi Naruto yang melihatnya dengan takut. "Naru...!" apapun yang ingin Naruto katakan, harus kembali di telannya saat bibir basah Naruko membungkam mulutnya. Dengan pergerakan yang terkunci sepenuhnya, Naruto tidak dapat berbuat banyak.

Dan selanjutnya yang terdengar dari dalam kamar Duo Naru hanyalah suara desahan penuh kenikmatan yang di yakini pemiliknya adalah Naruto... atau Naruko?

.

.

.

.

.

TIME SKIP ... 07 : 08 PM

Kushina dengan pakaian kantorannya baru saja pulang dari kantornya dan langsung menuju kamar Naruto dan Naruko. Kushina membuka pintu kamar itu dan melihat ke salah satu kasur.

Disana terdapat dua Malaikat cantiknya sedang tertidur dengan damai dengan saling mendekap dengan tubuh yang ditutupi selimut. Tubuh polos Naruto hanya tertutupi dari kaki sampai bawah Payudara, sedangkan Naruko ... tubuhnya tertutupi sampai bahu dan Kepalanya berada di belahan Payudara Naruto. Sepertinya setelah 'kegiatan' mereka selesai, mereka tertidur karena lelah.

Kushina berjalan menuju kasur itu dan duduk di tepian kasur. Kushina menggerakkan tangan kanannya untuk menggoyang-goyangkan bahu Naruko, berniat membangunkan.

"Ruko-chan, bangun! Ruko-chan!" sambil menggoyangkan bahu Naruko dengan pelan, Kushina berbicara dengan nada ke-ibu-an. Sudut Mata Naruko mengerut karena tidurnya terganggu. "Engghh~" Naruko melenguh khas orang yang baru saja bangun tidur dan semakin merapatkan tubuhnya kepada tubuh Naruto.

"Lima menit lagi, Kaa-chan" tanpa membuka matanya, Naruko semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepala pada Payudara Naruto lebih dalam sehingga orang yang dipeluk yang terusik. "Enghhh~" Naruto membuka matanya, membuat Kushina dapat melihat mata Naruto yang berwarna sama dengan Almarhum suaminya.

"Kaa-chan?" Naruto bergumam saat melihat sosok berambut merah sedang duduk di belakang Naruko. Sepertinya, kesadaran Naruto belum kembali sepenuhnya. Naruto mencoba untuk bangun, tapi saat dia menggerakkan badannya, maka tubuhnya terasa dipeluk semakin erat dan Payudaranya terasa ditekan oleh sesuatu.

Kesadaran Naruto langsung pulih saat melihat kepala bersurai Pirang keemasan yang berada di dadanya. "Naruko, lepaskan aku" Selimut terbuka dan menampakkan tubuh polos Duo Naru saat Naruto menggunakan tangan kanannya untuk mendorong kepala Naruko dari dadanya.

Bukannya menjauh, kini mulut Naruko terbuka dan melahap puting kiri Naruto dan menyusu seperti bayi. "Naruko, hentikan! Ahh~" Naruto mendesah saat Naruko menggigit putingnya.

Kushina memerah melihat pemandangan Vulgar ini, nafasnya juga mulai menjadi tidak teratur. Kushina terangsang karena melihat kegiatan Naruko. Walaupun dia sendiri pernah melakukannya dengan Naruto, tapi tetap saja dia terangsang.

"Kaa-chan, tolong aku~, ahh~" Kushina langsung tersadar dari lamunan mesumnya saat mendengar Naruto memohon padanya. Kushina melihat Naruto yang wajah memerah dan Naruko masih menikmati 'Makan Malam'nya.

Naruko menggigit puting Naruto dengan keras dan membuat Naruto kembali mendesah. "Ah~ ah, henti~kan, Naru~Ko~, ah~" GAWAT! Kalau terus di biarkan, bisa-bisa Kushina melupakan kalau sekarang waktunya untuk makan malam dan malah ikut Naruko untuk 'memakan' Naruto.

Kushina mengangkat tangan kanannya yang terkepal dan ...

'Pletak'

... kepala Naruko mendapatkan jitakan 'Kasih Sayang' dari Kushina. Jitakannya tidak terlalu keras, tapi setidaknya cukup untuk membuat Naruko berhenti dengan 'kegiatannya' dan melepaskan Naruto. "Ittaaii~" Naruko langsung duduk sambil memegangi kepalanya.

Karena Naruko sudah melepaskan pelukannya dan Naruto sekarang dapat bebas dan duduk menghadap Kushina dengan wajah lega. "Arigato, Kaa-chan" ucap Naruto sambil tersenyum manis kepada Kushina.

Naruko memandang Kushina sambil menggembungkan pipinya, kesal karena kesenangannya di ganggu oleh Ibu tercintanya. Kushina hanya tersenyum melihat kelakuan Naruko. "Naruko-chan, bisa kau bantu Kaa-chan menyiapkan makan malam?" tanya Kushina.

Naruko menyeringai dan memandang Naruto dengan tatapan lapar. "Kenapa harus membuat makan malam Kaa-chan? Jika disini juga ada 'Makan Malam' yang siap di santap kapan saja?"

'Pletak!'

Lagi-lagi Naruko kena jitakan 'kasih sayang' oleh Kushina. Kushina menghela nafas dan memandang Naruto. "kalau kau Naruto-chan?" tanya Kushina.

"Baiklah, Kaa-chan. Tunggu sebentar" Naruto turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari. Naruto mengambil sebuah Kemaja Putih polos yang kebesaran dan sebuah celana dalam senada dengan Kemeja. Naruto langsung memakainya beserta celana dalam putih yang baru saja di ambilnya dan kemudian berjalan menuju Kushina.

"Ayo, Kaa-chan!" Naruto menarik tangan Kushina untuk keluar kamar. Sebenarnya ini hanya modus agar bisa pergi dari Naruko.

"Ah! Nee-chan, tunggu aku" Naruko mencoba mengejar Naruto yang sudah di ambang pintu tanpa mengenakan pakaiannya alias telanjang. "Kau mandi dulu sana! Setelah itu baru giliranku untuk mandi dan kau membantu Kaa-chan!" perintah Naruto mutlak.

"Tapi Nee-chan. Kenapa kita tidak mandi ber –" "Aku tidak akan dan tidak akan mau mandi bersamamu"

'BRAK!'

Pintu di banting Naruto dengan keras di depan wajah Naruko. Naruko menghela nafas kecewa dan melakukan perintah Naruto.

.

.

.

.

.

Naruto dan Kushina sedang menata piring dan masakan mereka di atas meja. Jika ada yang bertanya kenapa tidak Maid atau Pelayan saya yang memasakkan untuk mereka? Itu semua keinginan Kushina. Maid dan Pelayan hanya akan bekerja dari Pagi sampai Sore dan setelahnya mereka pulang. Sebenarnya ini hanyalah akal-akalan Kushina, jika saja terjadi hal yang 'iya-iya' saat makan malam dengan Naruto dan Naruko.

Saat Naruto dan Kushina sedang menata Piring dan alat makan yang lain. Naruto tidak sengaja menjatuhkan sendok kelantai. Naruto membungkuk untuk mengambil sendok itu, tapi sebuah tangan sudah lebih dulu mengambilnya. Naruto berdiri menghadap orang yang mengambilkan sendoknya.

Kushina memandang Naruto dan menyerahkan sendok itu kepada Naruto. Naruto langsung mengambilnya dari tangan Kaa-channya dan tersenyum manis pada Kushina. "Arigato, Kaa-chan!"

Wajah Kushina memerah saat melihat senyum manis Naruto dan perhatian Kushina terfokus pada bibir merah muda yang sangat menggoda untuk di cium milik Naruto. Kushina tidak dapat menahan diri dan mendekatkan dirinya dengan Naruto sehingga hampir tidak berjarak.

Kushina memegang dagu Naruto dan mendekatkan bibirnya pada bibir Naruto sambil memejamkan mata. Naruto ingin menghindar tapi entah kenapa ia tidak bisa. Bibir mereka semakin dekat, semakin dekat, dan ...

"Ehem!"

... sebuah deheman mengintrupsi momen ingin berciuman Kushina dan menyelamatkan Naruto. Kushina melepaskan dagu Naruto dan menghadap ke arah suara deheman tadi. Kushina melihat Naruko yang sedang duduk di salah satu kursi sambil menyeringai kepadanya.

"Mencoba mencuri kesempatan ya, Kaa-chan?" tanya Naruko dengan seringaian di wajahnya. Kushina memandang Naruko tajam. "Kau sendiri sudah sering kali mencuri kesempatan saat Kaa-chan tidak ada, kali ini Kaa-chan yang akan mengambil kesempatan di depanmu" ucap Kushina membalas seringaian Naruko dengan seringaian juga.

Naruto dan Naruko bingung apa maksud Kushina tadi. Tapi mereka langsung tahu, saat Kushina memandang Naruto dengan seringaian. "K-kaa-chan?" Naruto gugup dan mencoba untuk mundur, tapi Kushina sudah lebih dulu menangkap tubuhnya dan memeluk tubuh Naruto dengan erat.

Kushina langsung mencumbu Naruto tepat di bibir dan sedikit memberikan tatapan menantang kepada Naruko dari ekor matanya. Naruko terlihat panas dingin melihat tantangan Kushina dan ingin mengeluarkan protes.

"Ah~... Kaa~chan ... hen~tikan~" tangan kanan Kushina menerobos masuk lewat celah Kemeja Naruto yang terbuka dan meremas Payudara kiri Naruto. Naruto memeluk Kushina saat Kushina melepaskan ciumannya dan beralih ke leher kanannya dan memberikan Kissmark baru di sana.

Wajah Naruko benar-benar memerah karena kesal. Naruko berdiri dari kursinya dan menghampiri Naruto. Jika Kushina memeluk Naruto dari depan, maka Naruko memeluk Naruto dari belakang dan menciptakan Kissmark tambahan pada leher kiri Naruto. Sedangkan tangan kiri Naruko sedang menyusupi celana dalam Naruto dan menggesekkan-gesekkan jarinya pada belahan Vagina Naruto yang sudah mulai basah.

"Ah~, kalian ber~dua, berhentilah! Bagaimana dengan makan malam kita? Hmph!" Bibir Naruto kembali di kunci oleh bibir Kushina dan lidah Kushina mengobrak-abrik bagian dalam mulutnya.

"Sekarang kami juga sedang makan malam, Nee-chan. 'Makan malam' kami sudah tersedia di pelukan kami" ucap Naruko mesum dan memasukkan jarinya kedalam Vagina Naruto lalu memulai gerakan In-Out dengan tempo sedang membuat Naruto semakin keras mendesah dalam ciumannya dengan Kushina. Dan di tambah dengan tangan kanan Kushina yang sedang melepaskan kancing kemejanya dan kemejanya akhirnya terbuka, lalu tangan Naruko yang satunya lagi meremas Payudaranya yang satunya.

Bibir Kushina kembali menuju leher Naruto dan kembali memberikan kecupan, gigitan dan lumatan. "Berhenti, Ah~ aku akan ah~" mendengar racauan Naruto membuat Naruko maupun Kushina semakin bersemangat.

Kushina memasukkan jari tangan kanannya bersama dengan jari Naruko kedalam lubang Naruto dan mereka berdua mempercepat tempo gerakan mereka pada lubang Naruto.

Naruto benar-benar di serang habis-habisan, baik dari depan dan belakang bagian atas dan bawahnya juga. "Kaa~chan~, Naru~ko~, aku ... AHH~~" Naruto mengeluarkan cairannya dan seketika tubuh Naruto menjadi lemas tak bertenaga bahkan untuk berdiri.

Naruto akan jatuh kelantai jika saja Kushina dan Naruko tidak sedang memeluknya dari dua sisi. Naruto mengumpulkan semua tenaga miliknya yang tersisa dan mencoba untuk memberontak dan berhasil melepaskan diri ketika Kushina dan Naruko sedang lengah. Naruto memaksakan diri untuk berlari menjauh, menjaga jarak dari dua Predator mesum itu.

Naruto memandang Naruko dan Kushina dengan wajah memerah padam serta tangannya yang digunakan untuk memegang Kemejanya yang terbuka dan berusaha menutupinya. "Moou~, kalian berdua MESUM!" ucap Naruto lalu berlari menuju kamarnya untuk mengganti kemejanya yang basah karena keringat dan celana dalamnya karena Klimaksnya.

'Sekarang mereka semakin parah. Aku harus lebih ekstra hati-hati mulai sekarang' pikir Naruto dalam larinya menuju kamar.

Di meja makan, Kushina dan Naruko sudah duduk di kursi masing-masing dengan seringaian di wajah mereka. "Mengerjai Nee-chan sangat menyenangkan. Kenapa Kaa-chan melepaskan Nee-chan tadi? Padahal kita masih bisa bersenang-senang" tanya Naruko dengan nada kesal.

Kushina terkekeh. "Kau sudah 'bermain' dengan Naruto-chan tadi" ucap Kushina. "Malam ini giliran Kaa-chan ..."

"Tapi, Kaa-cha ..."

" ... tidak boleh membantah!" protesan Naruko langsung di potong oleh Kushina yang menggunakan nada tegas. Naruko cemberut mendengarnya. "Moouu~" Naruko menggembungkan pipinya kesal.

Kushina kembali terkekeh pelan melihat Naruko yang ngambek. "Ne, Naruko-chan! Apa ada sesuatu yang menarik terjadi saat sekolah?" tanya Kushina memulai topik pembicaraan baru.

Naruko menyeringai mendengar pertanyaan Kushina. 'Akan ku kerjai kau, Nee-chan' pikir Naruko jahil. "Ada, Kaa-chan! Tadi saat pulang sekolah ..."

Kita tinggalkan dulu pembicaraan Ibu dan Anak ini dan beralih pada Naruto.

.

.

.

.

.

Naruto sudah selesai mandi dan sedang mengenakan pakaian Piyama miliknya yang berwarna Kuning seperti rambutnya. Kali ini Naruto memakai Pakaian dalamnya dan perpakaian dengan rapi. Dia tidak ingin kejadian seperti beberapa menit yang lalu terjadi lagi.

Setelah semuanya terpasang dengan rapi, Naruto berjalan menuju meja belajar tempat di meletakkan tas miliknya. Naruto mengambil sesuatu dari dalam tas, yaitu Ponsel miliknya.

Naruto menyalakan Ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk. Naruto membuka pesan itu dan membacanya. Pesan itu berasal dari Sasuke dan pesan yang di kirim adalah sebagai berikut :

"Kau sudah memikirkan pilihanmu, Naru? Pikirkan baik-baik apa yang akan kau pilih Naru. Aku yakin kau tidak ingin menyesal bukan?"

Entah hanya Naruto atau apa, Pesan itu seperti memiliki arti lain yang tersembunyi dan tidak Naruto mengerti. Naruto tidak ingin memikirkannya lebih keras dan mematikan Handphonenya dan meletakkannya kembali kedalam tas. Naruto keluar dari kamarnya dan turun menuju Ruang Makan.

.

.

.

.

.

"Ooh, jadi begitu. Naruto-chan sudah berani nakal ya? Akan Kaa-chan hukum dia setelah ini" ucap Kushina saat Naruko mengakhiri ceritanya. Naruko menyeringai jahil.

Naruko melihat Naruto sudah memasuki ruang makan dan menghentikan senyuman jahilnya dan mulai makan. Kushina juga sudah mulai makan dan mengambil sikap seakan tidak terjadi apa-apa.

Naruto duduk di samping Naruko dan memulai makannya setelah mengucapkan 'Itadakimasu'. Acara makan berjalan dengan tenang seakan kejadian yang terjadi beberapa saat lalu tidak pernah terjadi.

.

.

Naruko yang paling awal selesai makan, disusul oleh Kushina dan kemudian Naruto.

'Nyuut~'

Naruko menghadap Naruto dan dengan sembarangan memegang Payudara kanan Naruto dan meremasnya pelan. Alis Naruto tertekuk pertanda kalau dia sudah mulai kesal. "Ya~ah, kenapa Nee-chan pakai Bra sih? Kan akan lebih baik jika tidak menggunakan Bra" ucap Naruko mesum dengan wajah polos. Padahal di dalam hati, Naruko menyeringai.

"Nee-chan boleh aku meminta 'makanan penutup'?" tanya Naruko masih dengan wajah polos. Alis Naruto semakin menekuk saat Naruko mengatakannya dengan nada polos. "Jika Nee-chan diam. Itu artinya 'ya', bagiku. Jadi ... Itadakimasu!"

'Pletak!'

Jitakan keras mendarat di kepala Naruko saat tangannya baru saja mulai melepaskan kancing Piyama Naruto. Yang melakukan jitakan itu adalah Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Naruto.

Naruto bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamarnya untuk beristirahat tanpa mengatakan apa-apa. Naruko mengusap-usap kepalanya dengan wajah meringis kesakitan. Kushina tertawa melihat tingkat laku Putri-putrinya.

"Kau ini, kalau mau melakukan sesuatu dengan Naruto-chan. Jangan membuatnya kesal, atau kau akan mendapatkan jitakan itu" ucap Kushina mengejek. "Aku hanya lupa" ucap Naruko menyangkal perkataan Kushina.

"Naruko-chan! Bisa kau bantu Kaa-chan?" tanya Kushina. Naruko mengerti dengan apa yang ingin Kushina minta darinya jadi dia hanya mengangguk sebagai jawaban.

.

.

.

.

.

Naruko masuk kedalam kamarnya dan melihat Naruto sedang berbaring di kasurnya dengan sebuah Novel di tangannya, entah Novel apa. "Nee-chan!" panggil Naruko. Naruto menghentikan acara membacanya dan menutup buku itu lalu memandang Naruko. Pandangan Naruto seakan berkata 'Ada apa?'.

"Kaa-chan ingin bicara dengan Nee-chan" ucap Naruko. Naruto mengangguk dan meletakkan Novel di tangannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Naruto lalu bangun dari berbaringnya dan berjalan menuju pintu.

'Greb!'

Sebelum memegang gagang pintu, sepasang tangan melingkar di pinggangnya. "Gomenasai, Onee-chan atas yang tadi. Kumohon, jangan abaikan Naruko!" ucap Naruko sedih dan mengeratkan pelukannya.

Naruto menjadi tidak enak dengan Naruko dan menghela nafas. "Kau pikir aku mau memaafkanmu?" perkataan bernada dingin Naruto membuat Naruko terkejut. Naruko merasa sakit di hatinya saat Naruto mengucapkan itu. "Nee-chan?" gumam Naruko pelan meminta kepastian.

"Sudah kubilang, aku tidak mau memaafkanmu ..." Naruto melepaskan tangan Naruko yang melingkar di pinggangnya dengan paksa dan membalikkan badannya menghadap Naruko. Naruto memegang belakang leher Naruto dan langsung memberikan ciuman di bibir Naruko dengan waktu beberapa detik dan kemudian melepaskan ciumannya. Naruko menjadi bingung sendiri.

Naruto menyunggingkan senyum tipis saat melihat ekspresi Naruko. " ... Karena kau tidak memiliki kesalahan sedikitpun padaku, Naruko-chan" ucap Naruto dengan senyuman lembut di wajahnya.

Naruko sadar dengan arti dari perkataan Naruto dan langsung memberikan pelukan erat. "Arigato, Nee-chan!" ucap Naruko dengan senang. Naruto tersenyum saat melihat tingkah adiknya ini. Naruto melepaskan pelukan sepihak itu dan mengusap kepala Naruko dengan sebelah tangannya.

"Sudah sudah, kau bilang kalau Kaa-chan ingin bicara denganku bukan? Kalau begitu, lepaskan aku" ucap Naruto saat melihat kalau Naruko ingin memeluknya lagi. Naruto membuka pintu dan keluar menuju kamar Ibunya.

Naruko ingat dengan permintaan Ibunya tadi. 'Maaf, Nee-chan' batin Naruko menyesal. Naruko berjalan menuju tempat tidurnya dan langsung tiduran sambil menutup matanya.

.

.

.

.

.

'Tok' 'Tok' 'Tok'

Naruto mengetuk pintu kamar Kushina sambil menunggu jawaban dari dalam. "Kaa-chan! Kau di dalam?" ucap Naruto dengan keras berharap Kushina menjawab dan membukakan pintunya.

Setelah menunggu selama beberapa menit, pintu itu akhirnya terbuka dan menampakkan Kushina dengan tubuh yang dililit Handuk Putih polos yang menutupi daerah Pribadinya. Rambut merahnya juga masih basah. Sepertinya Kushina baru saja selesai mandi. "Masuklah, Naruto-chan!"

Naruto masuk saat Kushina menggeser posisinya sedikit sehingga dia bisa masuk melewati Kushina. Naruto berjalan menuju Tempat tidur berukuran King Size yang terdapat di kamar ini dan duduk di tepian Ranjangnya.

Kushina menutup pintu dan memandang Naruto yang sedang menatapnya bingung. "Apa yang ingin Kaa-chan bicarakan denganku?" tanya Naruto polos tanpa menyadari niat Mesum Kushina.

Kushina tersenyum dan berjalan menuju Naruto. Naruto memandang Kushina yang semakin dekat dengannya dengan pandangan menyelidik. Naruto langsung mengetahui niat Kushina saat melihat dari dekat senyuman Kushina yang lebih mirip dengan seringaian Predator pada mangsa.

Naruto ingin berdiri tapi Kushina menahannya dan mendudukkannya kembali ke ranjang dengan paksa. "Kaa-chan?" gumam Naruto mulai merinding. Kushina mendorongnya tubuhnya agar berbaring dan Naruto tanpa melawan berbaring, karena Naruto yakin, tidak ada gunanya untuk melawan Kushina.

"Ne, Naruto-chan? Kau sudah berani berbuat nakal di belakang Kaa-chan. Dan kau tau kan apa akibatnya jika melakukan hal itu, hm?" tanya Kushina dengan nada menggoda dan melepaskan Handuknya sehingga tubuh telanjangnya terekspos sempurna di pengelihatan Naruto.

"Heh? Berbuat nakal?" gumam Naruto dengan tanda tanya di kepalanya saat menyadari ada kata dari ucapan Kushina yang dia tidak mengerti. "Pura-pura tidak tau ya, Naruto-chan? Putri Kaa-chan yang satu ini sudah bisa berbohong rupanya. Apa ya, hukuman yang cocok untukmu?" tanya Kushina menggoda.

Naruto merinding mendengar kata hukuman. Apapun kesalahan yang dia lakukan dan yang menghukumnya adalah Ibu atau Adiknya, maka jenis hukuman itu tidak akan jauh dari kata 'mesum'. Naruto memutar otaknya, guna mencari letak kesalahannya.

Kushina yang melihat putrinya ini tidak menjawab, menyeringai karena berpikir Naruto sudah tidak dapat menyangkal perbuatannya.

'Cup'

Kushina mencium Naruto dengan tiba-tiba dengan posisi menindih Naruto di atas ranjang. Naruto ingin memberontak, jika saja tangannya tidak dipegangi di samping kepalanya sendiri oleh wanita cantik diatas tubuhnya ini.

Kushina menggigit bibir bawah Naruto karena dari tadi, Naruto sama sekali tidak ingin membuka mulutnya. Naruto membuka mulutnya yang terasa perih saat digigit dan Kushina sama sekali tidak akan melewatkan kesempatan ini. Kushina memasukkan lidahnya kedalam mulut Naruto dan mengabsen para Prajurit Putih yang berjejer rapi disana.

Setelah selesai mengabsen gigi Naruto, Kushina melepaskan tautan bibir mereka dan mengangkat tubuhnya agar dapat melihat ekspresi Naruto saat ini.

Di bawahnya, Kushina dapat melihat Naruto yang menutup matanya dan memalingkan wajahnya kesamping. Wajah Naruto memerah dan nafasnya tidak beraturan dengan dada yang naik turun mengikuti alur pernafasan pemilik tubuh.

Kushina tersenyum bangga melihat hasil perbuatannya. Kushina melepaskan tangan Naruto, sedangkan tangannya beralih untuk melepas kancing Piyama Naruto satu persatu. Semua kancing Naruto sudah terlepas dan memperlihatkan Payudara Naruto terbungkus oleh Bra Orange. Karena pengait Bra Naruto berada di depan, jadi Kushina dapat dengan mudah untuk melepaskannya dan kemudian membuang Bra itu sembarangan. Naruto tidak sadar kalau dia sudah separuh telanjang dan masih sibuk dengan pernafasannya yang hampir kembali normal.

Kushina merendahkan tubuhnya ke arah dada Naruto dan menyenggol-nyenggol puting kiri Naruto dengan hidungnya sambil menyesapi aroma tubuh Naruto yang memabukkan. Naruto mendesah kecil dan membuka matanya seraya melihat kepala bersuai merah yang berada di dadanya.

"Kaa-chan?" gumam Naruto pelan. Kushina memandang wajah Naruto yang memerah dengan senyuman dan kembali menatap Payudara Naruto. Kushina membuka mulutnya dan melahap Payudara kiri Naruto sedangkan tangan kirinya meremas dada kanan Naruto.

Naruto menggigit bibir bawahnya dan memalingkan wajahnya yang memerah kesamping. Tangannya di gunakan untuk meremas sprei kasur. "Ahh~... Kaa-chan~" Kushina menghisap sekaligus menggigit puting Naruto keras dan tangan Kushina meremas dada Naruto dengan kasar sehingga membuat Naruto tidak mampu untuk menahan desahan yang sedari tadi dia tahan.

Kushina menjauhkan mulutnya dari dada Naruto seraya merangkak naik menuju leher Naruto. Kushina mendekatkan bibirnya ketelinga kiri Naruto. "Mendesahlah, sayang~. Kaa-chan ingin mendengar desahan indahmu~" bisik Kushina dengan nada menggoda di telinga Naruto, sedangkan kedua tangannya mulai bekerja di dada Naruto; meremasnya, menjepit atau menekan puting Naruto.

Naruto kembali menggigit bibirnya, berusaha meredam desahan yang akan keluar secara berbondong-bondong(?). "Ehmm~" Naruto masih berusaha menahan desahannya saat Kushina menjilati telinganya dengan sensual.

"Kita lihat sampai kapan kau akan bertahan untuk tidak mendesah, sayang~" kini Kushina beralih ke leher Naruto. Memberikan jilatan sekaligus tanda disana. Tangan kanan Kushina bergerak menuju bagian bawah Naruto. menyelinap melewati celana dan celana dalam Naruto sampai tangan itu berhenti di belahan Naruto sudah berair.

Kushina menyeringai karena mendapat hal yang di inginkannya. Kushina memainkan dua jarinya di sekitar belahan itu dengan sangat sensual. Tubuh Naruto sukses menggelinjang seperti cacing kepanasan, tapi masih dapat menahan desahannya. "Hmmnn~ ... hmmn~"

Kushina menghentikan jarinya dan memposisikannya di depan lubang Naruto. "AHH! ... KAA-CHAN!" Naruto melengus keras karena Kushina memasukkan jarinya dengan dan gigi Kushina menggigit lehernya dengan keras.

Kushina menyeringai dan menjauhkan mulutnya dari leher kiri Naruto untuk memandang wajah Naruto lagi. "Kau sudah mendesah sayang~" goda Kushina dengan seringaian. Naruto yang mendengar godaan Kushina memalingkan wajahnya dengan wajah yang sangat memerah.

Kushina menggunakan tangan kirinya untuk memegangi dagu Naruto dan memaksanya untuk menghadap Kushina. Wajah Naruto yang memerah dengan keringat yang membuat wajahnya terlihat berkilau dan mata Naruto yang terlihat berair serta bibir bawah yang digigit, entah kenapa membuat Kushina semakin ingin membuat sesuatu yang lebih dengan Naruto. Naruto terlalu sempurna dan menggoda untuk di lewatkan. Kushina menjilat bibir bawahnya dengan seringaian yang sangat jelas apa maksudnya.

Kushina kembali membawa bibir merah muda Naruto kedalam ciuman panas serta tangannya yang berada di bawah mulai mengerjakan tugasnya dengan gerakan bertempo sedang. "Hmmmfft..." tangan Kushina yang berada di dagu Naruto kembali mengerjakan tugasnya didada kanan Naruto.

Tangan Naruto awalnya digunakan untuk meremas sprei kasur beralih memegangi sisi kepala Kushina dan berusaha menjauhkannya. Tangan kiri Kushina menjauhkan tangan kanan Naruto yang ada dipipinya dan menekannya di sisi samping kepala Naruto. Gerakan tangan Kushina pada bagian bawah Naruto mulai bertambah cepat dan brutal. Kushina menekankan bibirnya lebih agar dapat menyesap lebih dalam isi mulut Naruto yang menjadi candu baginya.

Tangan Naruto yang berada di pipi Kushina terkulai lemas karena serangan berantai Kushina. Lubang Naruto menjadi mengetat dan mengapit jari Kushina, tapi bukannya berhenti, Kushina semakin mempercepat gerakan tangannya.

"Ahh! ... Kaa-chan~ ... Kaa-chan~, ... Aku akan~ ... uhh~, KAA-CHAN!" saat Kushina melepaskan ciumannya, Naruto tidak dapat lagi menahan desahannya dan diakhiri dengan lenguhan panjang penuh rasa kenikmatan; menandai puncak kenikmatan sudah ia raih.

Kushina menghentikan aktivitasnya dan jari Kushina yang berada di lubang Naruto merasakan gelombang deras yang mengalir dari Lubang suci itu. Seketika itu juga, lubang itu menjadi sangat licin dan Kushina mencabut jarinya yang belepotan dengan cairan cinta Naruto, lalu mengarahkannya kewajah Naruto.

Nafas Naruto sangat tidak beraturan sekarang, dadanya yang naik turun dengan cepat, seiring dengan hidung yang menghisap Oksigen dengan rakus. Mata Naruto terlihat memandangnya dengan mata berair-air. "Buka mulutmu dan keluarkan lidahmu sayang~" pinta Kushina yang di turuti oleh Naruto tanpa ada protesan.

Kushina memasukkan jarinya yang belepotan Nektar dari Vagina Naruto kedalam mulutnya, lalu kembali mencabut jari yang sudah bersih dari cairan Naruto. Kushina menurunkan tubuhnya dan mengulum lidah Naruto yang terjulur keluar. Tangan Kushina kembali di masukkan kedalam Celana Naruto untuk kembali mengambil cairan cinta itu.

Selang beberapa detik, Kushina melepaskan kulumannya pada lidah Naruto. Kushina mencabut tangannya dari celana Naruto dan terlihat telapak tangan Kushina yang basah oleh cairan putih bening. Kushina lalu mengusapkan telapak tangannya pada wajah Naruto sampai hampir menyeluruh.

Kushina mengangkat tubuhnya kembali memandang Naruto. Lidah Naruto yang terjulur keluar di penuhi dengan cairan putih lengket miliknya sendiri dan wajah yang belepotan karena cairannya yang di usapkan Kushina tadi. Ugh! Naruto terlalu menggoda, Kushina menjadi sangat bersemangat sekarang ini. Puas dengan hasil kerjanya pada kepala Naruto, Kushina memandang bagian bawah Naruto yang pakaiannya masih lengkap, tapi tepat pada bagian selangkang terlihat basah oleh hal yang sangat Kushina tau hal apa itu.

Kushina memundurkan tubuhnya supaya sejajar dengan selangkang Naruto. "Angkat kakimu sayang~" perintah Kushina. Naruto mengangkat kakinya sehingga Kushina dapat melepaskan celana itu dengan mulus. Terlihatlah Celana dalam Naruto yang berwarna Orange dan dapat dilihat kalau Celana dalam itu sangat kebasahan. Kushina juga melepaskan Celana dalam Naruto sehingga Vagina Naruto tidak lagi di tutupi apa-apa. Kushina menyuruh Naruto untuk membuka kakinya.

Kushina memposisikan dirinya diantara kaki Naruto seraya memandang wajah Naruto yang sudah mulai diselimuti nafsu birahi. "Kyaa!" Naruto terpekik kaget saat pinggulnya di angkat sejajar dengan wajah Kushina secara tiba-tiba. Kushina meniupkan nafasnya di lubang itu dan membuat Naruto menggeliat tidak nyaman.

"Hmm~ Kaa-chan~... kumohon~" mendengar Naruto yang memohon padanya membuat Kushina semakin bersemangat. Kushina mendekatkan wajahnya ke lubang Naruto yang masih basah karena cairannya yang belum kering dari tadi.

Kushina memasukkan lidahnya dan membuat gerakan menusuk-nusuk dengan lidahnya kedalam lubang Naruto. "Ah~ ... Kaa-chan~" Kushina membenamkan wajahnya di belahan Vagina Naruto, menyesapi aroma memabukkan kesukaannya dari pabriknya. Mulut Kushina menyedot lubang Vagina Naruto dengan keras, seakan memaksa untuk memerah semua cairan Naruto yang mungkin masih tersisa di dalam.

"AAAHHH~ ... KAA-CHAN!" Naruto kembali mendapatkan Klimaksnya karena hisapan keras Kushina. Sedang untuk Kushina, dia berhasil mengumpulkan hampir semua cairan Naruto di mulutnya, wajahnya sendiri belepotan oleh cairan Naruto, tapi Kushina sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.

Kushina menurunkan pinggul Naruto dan merangkak kesamping Naruto. Nafas Naruto kembali yang hampir saja kembali normal, harus kembali berantakan lagi karena Klimaksnya. Jika seperti ini terus, bisa-bisa Naruto kena Asma :v

Kushina memegang dagu Naruto dan memaksanya untuk menghadap ke arahnya. Begitu wajah Naruto menghadapnya, Kushina langsung membekap mulut Naruto dengan mulutnya dan berbagi cairan yang di dapatnya dari lubang suci Naruto.

Naruto menelan sebagian cairannya sendiri yang terasa asin sekaligus gurih di indera perasanya. Sebagiannya lagi, Kushina yang menelannya. Kushina mengangkat kepalanya. "Bagaimana rasanya Naruto-chan?" tanya Kushina sambil tersenyum tanpa memperdulikan wajahnya yang masih belepotan cairan Naruto.

Naruto meneguk 'minuman'nya dan memandang Kushina dengan wajah memerah karena nafsu sudah menguasainya. "Kimochii, Kaa-chan" jawab Naruto. Mendengar jawaban Naruto, Kushina lalu melepaskan handuk yang menutupi tubuhnya dan melempar handuk itu sembarangan. Jika dilihat dengan teliti, Vagina Kushina juga sudah basah bahkan sebelum di sentuh Naruto.

"Sekarang kita gantian, Kaa-chan juga ingin di sentuh olehmu Naruto-chan" ucap Kushina lalu merebahkan diri disamping Naruto. Naruto tidak menjawab dan menindih Kushina dengan pandangan berkilat nafsu. Kushina tersenyum, membalas senyuman nafsu yang di berikan Naruto padanya.

Kushina menyentuh pipi kiri Naruto sebentar, lalu semakin naik sampai berada di belakang kepala Naruto. Kushina dengan cepat, menekan kepala Naruto sampai bibir mereka bertemu dengan cumbuan.

Naruto yang memang sudah tidak dapat berpikir jernih lagi, menggerakkan tangannya ke Payudara berukuran besar milik ibu tercintanya. Naruto mengelus-elus permukaan kulit lembut Payudara itu sampai jari tangannya berhenti tepat di puting pink Kushina.

Naruto meremas Payudara itu dengan lembut, tapi itu sudah cukup untuk agar Kushina melepaskan kepalanya. Naruto menghentikan ciumannya dan mengangkat kepalanya, tapi tidak dengan tangannya yang mulai bekerja dengan agak kasar.

"Ahh~ ... jangan~ ... terlalu, aahh~... ker –... KYAAA~!" Naruto tersenyum bangga, karena berhasil membuat Kaa-channya melenguh kenikmatan karena dia mengapit kedua puting Kushina dengan jari telunjuk dan jempolnya.

Naruto menurunkan kepalanya keleher Kushina dan menjilatnya dari bahu sampai telinga Kushina. Naruto berhenti tepat di lubang telinga Kushina. "Sekarang kita lihat berapa lama Kushina-chan dapat menahan Klimaksnya" bisik Naruto dengan nada rendah yang terdengar sangat seksi bagi Kushina dan membuat wajah Kushina memerah saat mendengar Naruto menyebut namanya.

Naruto mulai mengecupi, menjilati dan menggigit leher Kushina, membalas perbuatan Kushina yang telah membubuhkan tanda kepemilikan di lehernya tadi. Tangan kiri Naruto bekerja di Payudara kanan sedangkan tangan kanannya menuju bagian bawah Kushina yang kembali mengeluarkan cairan lengket.

"Hmm~ ...Naru~ ...jangan disa – ...AHH~" badan Kushina bergetar dan Kushina juga melenguh saat Naruto melakukan serangan secara beruntun, leher yang dihisap kuat, Payudaranya yang di cengkram dan lubangnya yang dimasuki 2 jari lentik Naruto tanpa jeda waktu. Cairan Kushina mengalir saat itu juga dengan intensitas yang cukup banyak.

Naruto kembali mencium Kushina tapi kali ini dengan sedikit lembut. Kushina membalas ciuman Naruto dan mengalungkan tangannya di leher Naruto.

"Hmm~ ... Naru~" gumam Kushina dalam ciumannya saat merasa kalau jari tangan Naruto yang ada di dalam tubuhnya mulai bergerak. Naruto menggerakkan jari tangannya di dalam lubang Kushina dengan kecepatan yang mulai bertambah dari sebelumnya, tanpa melepaskan ciumannya.

Ciuman terlepas karena faktor oksigen yang semakin menipis di paru-paru mereka, Naruto mengangkat kepalanya sedikit memandang wajah memerah Kushina yang berada dalam tindihannya. "Nghh~ .. Ahh~" Kushina semakin terhanyut kedalam nafsu ketika Naruto semakin mempercepat gerakannya.

"Naru~ ... Kaa-chan ... ahh~ .. akan –" saat Kushina mengucapkan itu, Naruto mencabut jarinya dari lubang Kushina, menuai kebingungan di wajah Kushina. Tapi kebingungan itu tidak bertahan lama, saat Kushina melihat Naruto melepaskan kalungan tangannya dan merangkak kebagian tubuh bawah Kushina.

Naruto tiarap di depan lubang Kushina lalu meniupkan nafasnya kelubang itu dengan lembut. Kushina menggelinjang tidak nyaman. "Naru~ ... cepat laku –... Ahh~" Naruto tidak perlu di minta untuk melakukan, dia akan senang hati melakukannya jika keadaannya sudah seperti ini. Naruto memajukan wajahnya ke lubang itu sampai akhirnya bibirnya bertemu dengan tempat suci itu. Naruto menghisap tempat itu dengan keras, berharap 'minuman'nya akan segera datang.

Kushina mendesah dan menekan kepala Naruto agar tidak bergerak dari tempatnya. Tubuh Kushina bergetar dan Naruto mengerti hal yang akan terjadi. "AAAHHH~~" bersamaan dengan lenguhan panjang itu, Naruto membuka mulutnya dan membiarkan 'air suci' dari lubang itu memenuhi rongga mulutnya dan berakhir melewati tenggorokannya sampai keperut.

Naruto merangkak dan berbaring menyamping di sisi Kushina. Kushina memiringkan tubuhnya menghadap Naruto dan memegangi dagu Naruto dengan jari telunjuk dan jempolnya lalu menariknya kewajahnya agar mereka dapat berciuman kembali. Naruto sama sekali tidak protes dan membiarkan Kushina melakukan hal yang di inginkannya sepuasnya.

Entah sampai keronde berapakah permainan terlarang ini akan di mainkan, hanya Tuhan, Author, serta kedua pemeran utama kita.

.

.

.

.

.

Naruto berbaring membelakangi Kushina, sedangkan Kushina memeluk pinggangnya dari belakang. Tubuh mereka masih polos tanpa benang dan hanya di tutupi oleh selimut yang menutupi sebatas bawah dada. Permainan tadi berakhir beberapa menit yang lalu setelah mereka berdua merasa lelah dan tidak dapat melanjutkan. Sekarang sudah lewat tengah malam dan mereka masih belum tidur.

Sekarang Naruto sudah mengerti kenapa Kaa-channya menghukumnya. Di dalam hati, Naruto kesal dengan Naruko. Ini semua gara-gara Naruko yang mengerjainya dengan memberikan berita palsu kepada Kaa-chan, walaupun tidak sepenuhnya palsu sih.

Mungkin karena sudah istirahat selama beberapa menit, Kushina kembali menjilati bahu Naruto membuat gadis manis di pelukan Kushina menggeliat karena geli. "Kaa-chan~, hentikan" Naruto membalikkan tubuhnya menghadap Kushina. Iris Violet dan Sapphire bertemu, membuat mereka terdiam.

"Kaa-chan" panggil Naruto memecah keheningan di antara mereka. "Hm?" Kushina berguman bingung melihat Naruto yang terlihat enggan untuk bertatap mata dengannya. "Menurut Kaa-chan, apa hubungan kita ini salah?" tanya Naruto pelan.

Kushina menghela nafas. "Ya. Hubungan ini memang salah, sangat salah ..." Naruto memandang mata Kushina dengan wajah terkejut. Kushina tersenyum. "... Tapi apapun yang terjadi, Kaa-chan tidak akan pernah menyesal karena melalukan hubungan ini" lanjut Kushina.

Mata Naruto bergetar. "T-tapi bagaimana dengan pandangan orang-orang terhadap hubungan kita? ... Hubungan ini tidak akan punya masa depan yang bagus" ucap Naruto lagi. Kushina mengelus pipi Naruto dengan lembut. "Kaa-chan tidak peduli dan tidak akan pernah peduli pendapat orang lain. Karena cukup kau dan Naruko yang ada di sisi Kaa-chan, itu sudah cukup untuk Kaa-chan. Dan jangan pernah bilang kalau hubungan kita tidak memiliki masa depan, itu membuat hati Kaa-chan sakit. Suatu saat, kita pasti akan menemukan jalannya, jalan dimana kita bertiga dapat bahagia" ucap Kushina panjang lebar dengan senyum pahit.

Jawaban Kushina melebihi perkiraan Naruto. Bagi Naruto, jawaban Kushina sudah menghancurkan semua dinding keraguan yang dia simpan selama ini. Mulai sekarang, Naruto berjanji akan mempertahankan semuanya, tak peduli apapun dan bagaimanapun.

Naruto memeluk Kushina erat dan membenamkan kepalanya di dada Kushina, serta bahu bergetar menahan isak tangis. "Arigato, ..hiks" Kushina membalas pelukan Naruto dan mengelus belakang kepala Naruto lembut. Kushina mengecup dahi Naruto. "Tidak perlu berterima kasih untuk itu. Kaa-chan yang harusnya berterima kasih padamu atas malam yang indah ini. Tidurlah, kau harus sekolah besok" ucap Kushina lembut.

Suara isakan Naruto tidak lagi terdengar, di gantikan helaan nafas halus dari gadis manis di pelukan Kushina. Kushina mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping Naruto. "Kaa-chan berjanji, kita semua akan bahagia bersama" gumam Kushina sebelum akhirnya tertidur menyusul Naruto kealam mimpi.

.

.

.

.

.

~To Be Continued~

Lama tidak bertemu, Minna-san! Bagaimana Chapter diatas? Apakah memuaskan atau malah membuat kalian ingin membunuh Author?

Seperti judul Chapter ini; Yuri Sex and just it. Chapter ini hanya berisi Lemon Scene-nya doang. Kalau tidak memuaskan, saya benar-benar minta maaf. Karena seperti yang saya katakan diatas. Saya masih muda dan di bawah umur, pengetahuan saya tentang Yuri juga tidak seberapa. Saya mohon Reader untuk maklum atas hal ini. Saya masih 13 Tahun. Sekali lagi, SAYA MASIH 13 TAHUN! Masih di bawah umur bukan?

Saya juga mau memperingatkan bahwa di Fict ini akan tokoh OC akan banyak sedikit bermunculan karena beberapa hal. Bukan OC buatan, tapi dari Anime lain. Bisa kalian tebak tokoh OC dari Anime apakah yang akan saya ambil nanti? ^_^

Jika banyak yang suka dengan Fict ini, mohon REVIEWnya. Ya~ah kalian tahu, Author tidak di bayar untuk bekerja disini, jadi setidaknya berikan saya semangat dengan cara memberikan Review. Saya mohon! Semakin banyak Review, maka saya akan semakin semangat untuk melanjutkan Fanfic Yuri ini. Jadi Minna, MOHON BANTUANNYA! ^_^

Itu saja yang dapat saya katakan untuk sekarang. Sampai jumpa di Chapter selanjutnya (jika Fict ini lanjut) saya harap kita dapat bertemu lagi nanti.

.

.

.

See You in Chapter 03 : Masalah.

.

.

.

.

.

.

.

Ryuukira Sekai, Log Out, Hor~ra ^_^