Hay, Minna! Kita bertemu lagi di Fict absurd bin gaje ini, hehe :v

Apakah Update kali ini cukup lama? Kalau lama, saya minta maaf. Soalnya, Dunia Nyata saya sangat merepotkan dan waktu untuk mengetik juga terbatas.

Saya minta maaf atas Chapter sebelumnya yang hanya berisi Lemon Yuri. Itu semua hanya sebagai Refresh sebelum saya kembali aktif di Fict ini. Jadi tidak perlu panjang lebar lagi, KITA MULAI CERITANYA!


Title : My Family is Yuri

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Author : Ryuukira Sekai

Genre : Romance, Family

Rating : Mature

Pair : Naruko x FemNaru x Kushina / Sasu x FemNaru / FemNaru x ReverseHarem / FemNaru x ...?

Warning : Incest, Yuri, Typo bertebaran, FemNaruto, Author Newbie, Mainstream, EYD hancur, OOC, AU, Chara dari Anime lain dan banyak lagi.

Summary :

Memiliki wajah cantik tentu adalah sebuah keuntungan untuk semua perempuan. Memiliki Ibu dan Adik yang sama-sama cantik adalah sebuah Keuntungan tambahan, sehingga membuat dirinya bagaikan sebuah permata yang di perebutkan semua orang. Tapi kenapa Ibu dan Adiknya juga ikut-ikutan memperebutkan dirinya, sampai menjadi sebuah perasaan terlarang. Dan inilah kisah kehidupan dari seorang Namikaze Naruto yang sangat merepotkan, setidaknya baginya. {Bad Summary)


...:::STORY START:::...


Chapter 3 : Masalah

Keluarga Namikaze dulunya tidak tinggal di Konoha. Dulu mereka tinggal di Tokyo, Ibukota negara matahari terbit, Jepang. Tapi karena suatu alasan, keluarga Namikaze pindah ke Konoha setahun yang lalu.

Beberapa bulan setelah pindahan ke Konoha, sang kepala keluarga Namikaze, Namikaze Minato, tewas karena kecelakaan.

Malam hari, saat Minato pulang dari kantornya mengendarai mobil, Kecelakaan itu terjadi.

Seorang anak kecil menyebrang jalan dengan tiba-tiba tepat di depan mobil Minato. Mengerem mungkin tidak akan sempat di karenakan jarak yang tinggal sedikit. Minato yang tidak ingin melukai anak kecil itu, membanting stirnya kesamping dan di tambah dengan jalanan yang licin karena hujan membuat mobil Minato menjadi sedikit tidak terkendali.

Mobil Minato menabrak pohon yang berada di pinggir jalan dan membuat Minato mengalami luka ringan di kepala karena benturan dengan stir. Minato masih dapat selamat, tapi tidak akan lama.

Terjadi konslet di sekitar daerah mesin dan ...

'DHUUAARR'

... mobil itu meledak. Minato tidak dapat di selamatkan lagi.

Keesokan harinya, Minato di makamkan. Keluarga beserta kerabat dekat keluarga Namikaze di selimuti oleh duka.

.

.

.

.

.

Selasa, 22 September 2015, 06 : 00 AM, Namikaze Mansion

Naruto dan Kushina tidur dengan tubuh yang saling berhadapan. Wajah mereka terlihat sangat damai dan Natural, menambah unsur kecantikan mereka berdua. Pintu kamar terbuka dan masuk seorang gadis yang merupakan kembaran Naruto. Naruko menghela nafas melihat dua orang di atas ranjang itu masih tertidur. Memangnya sampai jam berapa mereka ber'main'? pikir Naruko.

Naruko berjalan kesisi tempat Naruto tidur. "Nee-chan! Kaa-chan! Ayo bangunlah!" Naruko yang masih menggunakan Piyama tidur mencoba membangunkan kakaknya dengan menggoyangkan bahu Naruto dengan pelan.

Tubuh Naruto dan Kushina yang masih telanjang dan hanya di tutupi selimut putih, sama sekali tidak merasa terusik dengan panggilan Naruko. "Moou~" Naruko menggembungkan pipinya, kesal.

Kekesalan Naruko langsung hilang begitu sebuah ide muncul di kepalanya. Senyum jahil tercipta di wajah cantiknya. "Kucoba saja, ah~. Hihihi.." Naruko berlari kekamarnya meninggalkan Naruto dan Kushina yang masih terlelap dengan tenang.

.

.

Naruto menggeliat tidak nyaman saat merasa ada sesuatu yang masuk kedalam tubuh bawahnya. Naruto merasakan tubuhnya di paksa untuk telentang dan kemudian sebuah beban menindih tubuhnya membuat mata Naruto terbuka sedikit karena merasa terusik.

'Cup'

Mata Naruto terbuka sepenuhnya saat merasakan benda basah yang meraup bibirnya. Kelopak mata yang tertutup adalah hal yang pertama Naruto lihat, kemudian di susul oleh helai rambut Blonde. Tidak perlu berpikir dua kali untuk memastikan siapa pelakunya, sudah pasti dan tidak bukan adalah kembaran Naruto sendiri, Naruko.

Naruko membuka matanya dan mata mereka berdua beradu pandang dengan jarak yang sangat sedikit, bahkan ciuman itu masih belum di lepaskan. Naruko melepaskan ciumannya dan duduk di perut Naruto sambil memandang wajah Naruto yang sangat cantik dan alami, menurutnya.

"Ohayou, Nee-chan!" ucap Naruko sambil tersenyum manis. Naruto yang awalnya merasa sedikit kesal pada Naruko, tapi kini, saat melihat senyum Naruko, kekesalannya menghilang. Naruto balas tersenyum pada Naruko. "Ohayou, Naruko-chan" balas Naruto.

"Bisa kau menyingkir dari tubuhku? Kau berat" ucap Naruto sambil mencoba bangun. Naruko tidak menjawab tapi hanya menjauhkan tubuhnya dan duduk bersimpuh di samping Naruto.

Naruto duduk dan merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Tanpa memperdulikan tubuhnya yang terekspos di depan Naruko. Naruto memandang Naruko. "Jam berapa sekarang?" tanya Naruto dengan wajah yang masih terlihat mengantuk.

"Mungkin sekitar Jam enam lewat sepuluh menit" jawab Naruko. Naruto mengangguk mengerti dan duduk di tepi ranjang. Naruto mencoba untuk berdiri tapi pergelangan tangan kanannya lebih dulu di tangkap oleh Naruko. Naruto memandang Naruko bingung.

"Ada apa?" tanya Naruto. Naruko tersenyum. "Masih ada banyak waktu bukan? bagaimana kalau Morning Sex?" tanya Naruko balik dengan seringaian mesum. "Tidak akan!" balas Naruto datar dan membuang muka.

"Kalau Morning Kiss?" tawar Naruko. "Tetap tidak!" balas Naruko dengan nada yang sama.

Pegangan tangan Naruko pada pergelangan tangan Naruto melemah. Naruto kembali memandang Naruko yang saat ini sedang menunduk. Naruto menghela nafas pasrah. Naruto melepaskan tangan Naruko dari pergelangan tangannya dengan pelan. Naruto berbalik menghadap Naruko lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan Naruko.

Naruko mengangkat dagu Naruko dengan jari tangan kanannya. Saat kepala Naruko sudah terangkat ...

'Cup'

... Naruto langsung meraup bibir Naruko dan membawanya kedalam sebuah ciuman. Naruko yang dari awal memang sudah merencanakan hal ini menyeringai di sela ciumannya. Tangan Naruko di kalungkan dileher Naruto dan menekan kepala Naruto agar ciuman itu semakin dalam.

Naruko memasukkan lidahnya kedalam mulut Naruto. Pertarungan lidah dilakukan dan ciuman itu semakin intens. Naruto mendorong bahu Naruko dan melepaskan ciuman mereka dengan paksa.

"Bukannya hanya Morning Kiss?" tanya Naruto dengan wajah memerah. Naruko tersenyum. "Begitulah Morning Kiss yang seharusnya" jawab Naruko dengan santai. Naruto menghela nafas pasrah, lagi.

"Dasar, kau ini" Naruto tersenyum tipis. Naruko terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya. "Yasudah~. Ayo, kita mandi bersama, kemudian menyiapkan sarapan" ucap Naruto.

"Eh?" Naruko terdiam memandangi Naruto. "Nee-chan, kau sakit ya? Tidak biasanya kau mengajakku mandi bersama" ucap Naruko heran. "Kau tidak mau? Baiklah aku ak–.." "Bukan begitu! Hanya saja..."

Naruto memandang Naruko yang menggantung ucapannya. Naruko menarik tangan Naruto dan kemudian mendekap tubuh Naruto dan menenggelamkan kepalanya di dada Naruto. "Aku merasa senang. Aishiteru, Nee-chan" ucap Naruko di Payudara Naruto.

Naruto merona saat mendengarnya. Naruto mengelus rambut pirang Naruko dengan lembut. "Hyaah~" Naruko dengan jahil menggigit puting Naruto membuat Naruto memekik merdu. Naruko menjauhkan kepalanya sedikit dan memandang wajah Naruto. "Kau mendesah Nee-chan" ucap Naruko menggoda.

"Naruko!" wajah Naruto memerah karena kesal. Naruko beranjak dari ranjang dan berlari menuju pintu. Sebelum keluar, Naruko menoleh kepada Naruto sambil menjulurkan lidahnya, kemudian pergi.

"Mou~. Imouto no Hentai" gumam Naruto kesal, tapi tidak terlihat tanda kalau dia sedang kesal, tapi hanya sebuah senyum tulus di wajahnya. Naruto memungut Piyamanya yang tergeletak di lantai di samping kakinya dan kemudian memakainya. Naruto menoleh kepada Kushina yang masih tertidur tanpa terusik sedikitpun dengan hal tadi.

Wajah damai yang sangat cantik untuk wanita yang sudah berumur sekitar 40 itu sangat tenang. Naruto naik ke atas kasur dan merangkak mendekati Kushina. Naruto menyentuh pipi Kushina dengan telapak tangannya dan memandangi wajah cantik milik ibunya.

"Terima kasih, Kaa-chan. Aku tidak akan pernah ragu lagi dengan hubungan ini ...Apapun yang akan terjadi nanti, Aku akan terus mempertahankannya, sebagaimana Kaa-chan menjaga hubungan ini" ucap Naruto sambil mengeleminasi jarak wajahnya dengan wajah Kushina.

"Karena itu. Tolong, berjanjilah untuk teruslah mencintaiku. ...," sebuah kalimat permohonan yang menyerupai bisikan itu terlontar dengan lembut dari bibir Naruto yang akhirnya bertemu dengan bibir Kushina dalam sebuah ciuman singkat. Naruto mengakhiri ciumannya dan memandang wajah Kushina. "... Dan aku akan berjanji untuk selalu bersama kalian, ...Selamanya"

Naruto turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu dengan tenang. Saat Naruto sudah tidak terlihat lagi dan pintu kamar Kushina juga sudah di tutup. Bibir Kushina bergerak dan mengucapkan dua kata.

"Kaa-chan berjanji" setelah mengucapkan kalimat singkat itu, Kushina membuka matanya dan sebuah senyum tulus mengembang dibibirnya.

.

.

.

.

.

Naruto membuka pintu kamarnya dan melihat Naruko yang sedang duduk di tepi kasur. "Mouu, Nee-chan lama!" Naruto mengerucutkan bibir bawahnya, kesal. Naruto sama sekali tidak menjawab dan berlalu menuju pintu kamar mandi.

"Nee-chan, jangan mengabaikanku" Naruko masih kesal karena Naruto tidak mengubris perkataannya. Naruto menolehkan kepalanya kepada Naruko. "Kau mau ikut mandi atau tidak, Naruko-chan?" tanya Naruto dengan senyum di wajahnya.

Naruto kembali menghadap kedepan dan membuka pintu di depannya lalu berjalan masuk. Naruko yang entah sedang memikirkan apa langsung tersadar dan melihat Naruto yang sudah masuk kedalam kamar mandi. "Eh? Nee-chan tunggu aku" Naruko berdiri dari kasur dan berlari mengejar Naruto.

Pintu kamar mandi ditutup sesaat setelah Naruko masuk kedalamnya.

"Nee-chan~"

"Naruko, kita harus mandi"

"Baiklah. Tapi sebelum itu ..."

"Naruko, hentikan! Kyaa~"

"Hehe, kau menyukainya, Nee-chan"

"Kubilang~... hentikan~ ...Ah~"

"Kalau aku tidak mau?"

"Hyaah~!"

.

.

.

.

.

—Time Skip ... 06 : 37 AM—

Setelah kejadian yang menjurus pada unsur 'Lemon' beberapa menit yang lalu. Naruto dan Naruko akhirnya selesai mandi dan sekarang ini sudah menggunakan seragam KHS lengkap dan rapi.

Naruto dan Naruko baru saja selesai memasak untuk sarapan dan sekarang mereka sedang menata makanannya di meja makan.

"Ohayou, Naruto-chan. Naruko-chan"

Perhatian mereka tertuju pada Kushina yang sudah menggunakan pakaian kantornya. (Author tidak terlalu mengenal Fashion, jadi silahkan Reader berimajinasi)

"Ohayou, Kaa-chan" sahut Duo Naru secara bersamaan sambil tersenyum.

Rambut Kushina masih terlihat sedikit basah, menandakan kalau Kushina baru saja mandi beberapa menit yang lalu. Kushina membalas senyuman mereka berdua dan berjalan mendekat ke arah Naruto.

Kushina memeluk pinggang Naruto dan mendekatkan wajahnya kewajah Naruto, berusaha mencium Naruto. Naruto yang sudah tidak dapat menghindar lagi, hanya dapat menunggu dan pasrah.

Saat jarak bibir mereka tinggal menghitung senti meter, sebuah sendok muncul diantara bibir mereka, menghentikan niat Kushina untuk melumat bibir Naruto sebagai sarapan pembuka.

Sang pelaku yang tidak lain adalah Naruko, menyeringai sambil memandang Kushina. "Mengambil kesempatan itu tidak boleh, Kaa-chan" ucap Naruko. Pelukan Kushina pada pinggang Naruto terlepas dan mata Kushina menatap tajam Naruko.

Naruto dapat merasakan hawa tidak mengenakan dari mereka berdua. "Kaa-chan. Naruko-chan. Sudahlah, ayo kita sarapan" ucap Naruto berusaha menghentikan perang Deathglare mereka berdua. Tapi bukannya di gubris, mereka berdua masih saja saling melempar Deathglare.

'Teng ... Tong'

Suara Bel terdengar dan hal itu sukses membuat mereka yang sedang berperang Deathglare berhenti. Naruto berlari menuju pintu masuk untuk melihat tamu yang datang.

Pintu di buka dan di depan Naruto berdiri seorang laki-laki berambur Blonde dan bermata Biru dan di perkirakan berumur 24 tahun, serta mengenakan setelan formal khas perusahaan. Namanya adalah Cloud, Namikaze Cloud, Adik Namikaze Minato.

"Ohayou, Naru-chan" ucap pria itu dengan senyum menawan. Naruto tanpa aba-aba memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada bindang Cloud sampai hampir membuat Cloud terjatuh jika tidak dengan cepat mengendalikan diri."Ohayou, Cloud-nii. Cloud-nii kemana saja selama ini? Aku merindukan Cloud-nii tau?" tanya Naruto dengan nada kesal.

"Benarkah?" tanya Cloud tidak percaya. "Tentu saja. Ne, apakah Cloud-nii ingin menjemput Kaa-chan?" tanya Naruto lagi. Jika saja Naruto melihat wajah Cloud, pasti Naruto dapat melihat rona tipis di pipi Cloud karena pelukannya. Cloud menangguk. "Begitulah. Apakah Nee-sama sudah siap?" tanya Cloud balik.

"Siapa yang datang, Naruto-chan?" Kushina berjalan menuju Naruto. Kushina berhenti berjalan saat melihat siapa yang sedang di peluk Naruto. "Cloud-kun?" gumam Kushina pelan.

Cloud tersenyum pada Kushina. "Ohayou, Nee-sama" salam Cloud. Kushina tersenyum. "Ohayou, Cloud-kun. Naruto-chan, kenapa kau tidak mengajak Cloud-kun sarapan dengan kita? Aku yakin kalau dia belum makan" ucap Kushina.

"Tidak perlu, Nee-sama. Aku sud–"

'Krruuukk'

Lain di mulut, lain di perut. Mulut mungkin dapat berbohong, tapi perut kalau sudah berkata, pasti selalu jujur :v

Naruto dan Kushina yang mendengar suara perut Cloud terkekeh geli. "Tidak perlu berbohong, Cloud-kun. Ayo kita sarapan bersama" ucap Kushina. "Ayolah, Cloud-nii" Naruto menarik lengan Cloud dan membawanya menuju ruang makan. Cloud tanpa dapat menolak, mengikuti Naruto yang menyeretnya. Kushina yang melihat hal tadi, hanya dapat tersenyum dan kemudian menutup pintu.

Sesampainya di ruang makan, Cloud langsung mendepatkan pelukan dari Naruko, setelah Naruto melepaskannya dengan alasan untuk mengambil seporsi tambahan sarapan dari dapur. Naruko memeluk Cloud dengan erat dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Cloud. Naruko sangat menyanyangi paman atau lebih suka di panggilnya kakak. Cloud urutan ketiga dalam nominasi orang yang Naruko sayangi jika Naruto dan Kushina juga di hitung.

"Ohayou, Ruko-chan" ucap Cloud sambil mengelus kepala pirang Naruko yang berada di dada bidangnya. "Naruko-chan, bukannya kau dan Naruto-chan harus segera sekolah. Kalau terus seperti ini, kalian bisa terlambat nanti" Kushina muncul di belakang Cloud.

"Tapi, Kaa-chan ... aku sudah lama tidak bertemu dengan Nii-chan" Naruko mengembungkan pipinya, ngambek. Cloud terkekeh dan melepaskan pelukan Naruko dengan lembut.

"Sarapan untuk Cloud-nii sudah aku siapkan. Bisa kita mulai sarapannya sekarang" Naruto meletakkan seporsi sarapan untuk Cloud di atas meja dan menoleh kepada Naruko, Cloud dan Kushina.

Kushina, Cloud dan Naruko berjalan menuju meja makan dan mengambil duduk di tempat duduk masing-masing. Kushina dan Cloud duduk berdampingan sedangkan Naruto dan Naruko duduk di seberang mereka berdua.

Mereka mengucapkan 'Itadakimasu' bersamaan dan memulai sarapan mereka.

.

.

Mereka semua selesai sarapan dengan waktu yang hampir bersamaan. Naruto dan Naruko mengambil tas yang mereka letakkan di samping kursi mereka dan berdiri menghampiri Kushina.

Naruto dan Naruko memberikan ciuman pada pipi Kushina, Naruto di pipi kanan dan Naruko di pipi kiri. "Ittekimasu, Kaa-chan" Naruko berucap dengan ceria dan berlari menuju pintu keluar. Kushina dan Cloud tersenyum tulus kecerian Naruko.

Cloud merasakan sepasang tangan yang melingkar di lehernya dari belakang. "Ne, Cloud-nii. Kalau ada waktu, sempatkanlah mampir kesini. Naruko-chan sangat merindukan, Cloud-nii tau?" ucap sang pelaku pemelukan, Naruto. Naruto melepatkkan meletakkan dagunya pada bahu kanan Cloud.

Cloud menghela nafas dan tersenyum tulus tanpa menoleh pada Naruto. "Tentu saja. Kalau kau meminta, untuk apa aku menolak?" ucap Cloud santai. Mendengar jawaban Cloud membuat Naruto tersenyum puas.

'Cup'

Naruto mencium pipi Cloud. "Ittekimasu, Cloud-nii" ucap Naruto seraya melepaskan pelukannya dan berlari keluar mengejar Naruko. Wajah Cloud memerah, atas perlakuan dari gadis yang dicintainya. Yah~, Namikaze Cloud mencintai keponakannya sendiri. Cinta memang sulit di tebak, tidak peduli pada siapa cinta itu akan datang dan kepada siapa cinta itu akan di tujukan, tidak ada yang akan tahu. Termasuk kepada Cloud yang mencintai keponakannya sendiri yang umurnya 7 tahun lebih muda darinya. Lagipula, sekarang Naruto sudah berumur 17 tahun dan itu sudah cukup umur untuk menikah, jadi Cloud tidak akan di anggap Lolicon oleh orang-orang jika suatu saat dia melamar Naruto untuk menikah dengannya. Inginnya~ sih~.

Kushina yang sudah mengetahui isi hati Cloud dari dulu, hanya bisa tersenyum. "Kau bisa membuat semua orang mencintaimu dengan mudah, Naruto-chan. Bahkan, pamanmu sendiri kau buat mencintaimu. Dasar anak nakal" gumam Kushina.

Cloud yang sepertinya mendengar sesuatu di katakan oleh Kushina, memandang Kushina. "Ada apa, Nee-sama?" tanya Cloud yang sudah dapat mengendalikan rona pada wajahnya. Kushina menggeleng pelan. "Bukan apa-apa. Bisa kau bantu aku membersihkan sarapan ini, setelah itu baru kita berangkat?" tanya Kushina sambil berdiri dan mengumpulkan piring bekas sarapan. Cloud mengangguk dan mulai ikut membantu Kushina.

.

.

.

.

.

—Time Skip ... KHS—

Naruto dan Naruko sampai ke KHS menggunakan Ferrari Orange milik Naruto. beberapa menit lagi, sekolah akan di mulai, dan mereka berdua bergegas kekelas setelah memarkirkan mobil di parkiran.

Beruntung, Naruto dan Naruko berhasil datang sebelum guru yang mengajar datang. Dan beberapa menit setelah Naruto dan Naruko duduk di kursi masing-masing. Seorang guru wanita berambut Hitam dan bermata Ruby, Yuuhi Kurenai, guru pelajaran Biologi.

Pelajaran berjalan dengan tenang. Semua murid memperhatikan pelajaran yang di jelaskan guru bermarga Yuuhi itu dengan seksama dan sesekali mencatat materi penting.

.

.

.

.

.

—Time Skip ... Istirahat—

Saat Kurenai keluar kelas, murid-murid mulai satu persatu keluar dari kelas, menyisakan beberapa orang, termasuk Duo Naru. Naruto memandang keluar jendela, lebih tepatnya ke arah langit biru yang cerah sambil memikirkan masalahnya dengan Sasuke sehingga membuatnya melamun dan tidak menyadari kalau 4 perempuan berjalan menuju tempat duduknya.

Seseorang menyentuh pundaknya dan menarik Naruto dari dunia lamunannya. Naruto menoleh kepada orang yang mengejutkannya tadi dan melihat Naruko yang sedang memandang dirinya khawatir.

Di samping Naruko ada 3 teman Naruto dan Naruko. Mereka adalah Yamanaka Ino, Hyuuga Hinata dan Haruno Sakura.

Yamanaka Ino adalah anak tunggal dari keluarga Yamanaka yang memiliki Bisnis Bunga terbesar di jepang.

Hyuuga Hinata adalah salah satu putri dari keluarga Hyuuga Hiashi yang memiliki perusahaan nomor 5 di jepang, Hyuuga Corp.

Sedangkan Haruno Sakura adalah anak tunggal dari keluarga Haruno yang memiliki Bisnis Butik terbesar kedua di jepang.

"Nee-chan, kau tidak apa-apa?" tanya Naruko. Naruto menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa" ucap Naruto.

"Ne, Naru! Ayo kita ke Kantin" ajak Ino. Sakura mengangguk setuju, begitu juga Hinata. "Baiklah" Naruto berdiri dari kursinya. Naruko tersenyum dan berjalan lebih dulu. sedangkan mereka berempat, mengikuti dari belakang.

.

.

—Kantin—

Kantin KHS sangat luas dan dapat menampung seluruh murid yang ada di KHS secara bersamaan. Bahkan sekarang ini masih dapat di bilang sepi walaupun sudah terisi oleh puluhan atau lebih.

Naruko melihat sekeliling kantin untuk menemukan tempat duduk yang menurutnya bagus. Naruko berjalan ke arah tempat yang sudah dia tentukan dan duduk di salah satu kursinya. Beberapa detik berselang, barulah Naruto dan 3 sahabatnya datang.

Naruko yang melihat kakak dan teman-temannya sudah datang, melambaikan tangannya untuk menarik perhatian mereka. Mereka berempat melihatnya dan berjalan menuju tempat duduk yang di pilih Naruko.

Ino duduk di samping Naruko, Sakura dan Hinata duduk berdampingan dan berseberangan dengan Ino dan Naruko. Naruto memandangi mereka berempat. "Kalian ingin pesan apa? Biar aku yang pesankan" tanya Naruto kepada mereka berempat.

"Aku tidak selera makan, aku pesan jus Strawberry saja" ucap Sakura. "Aku Jus Apel" ucap Hinata. "Aku Jus Lemon" ucap Ino. Naruko memandangi mereka bertiga. "Kenapa hanya pesan minuman? Kalian sedang diet?" tanya Naruko.

"Tidak ada apa-apa, Ruko-chan. Aku hanya sedang tidak selera makan" ucap Hinata. "Aku sama dengan Hinata-chan" ucap Sakura. Naruko tidak ingin mempermasalahkannya lagi dan memilih untuk menghadap Naruto.

"Kalau begitu, aku pesan –" "Ramen dan Jus Jeruk. Aku sudah tau" ucap Naruko di potong oleh Naruto dengan santai dan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Naruko menggembungkan pipinya kesal. Naruto, Hinata, Ino dan Sakura yang melihatnya terkekeh mendapati tingkah Naruko yang menurut mereka menggemaskan.

"Makanannya akan segera saya pesankan, mohon kalian semua menunggu dengan tenang" ucap Naruto sambil menirukan gaya Maid di kafe-kafe; membungkuk dan tersenyum manis. Naruto berjalan menuju tempat pemesanan.

Mereka berlima tidak sadar, sudah beberapa orang yang pingsan karena tidak tahan dengan kecantikan dari Bidadari dan tepar dengan hidung berdarah, baik itu laki-laki normal ataupun perempuan Yuri.

Sakura memandangi punggung Naruto dan menghela nafas. "Andaikan saja salah satu dari kami berdua adalah Laki-laki. Sudah kupastikan, aku yang akan menjadi kekasihnya. Sayang kami sama-sama perempuan, Ha~ah" ucap Sakura kecewa. Hinata mengangguk. "Sakura-chan benar. Andaikan hal itu mungkin terjadi. Aku akan meminta Tou-san untuk menjodohkanku dengan Naru-chan" ucap Hinata dengan wajah merona saat menbayangkannya akan terjadi.

Saat mereka berdua memandang ke arah Naruko, mereka melihat tatapan Naruko yang setajam silet di tujukan pada mereka berdua. "Jangan harap aku akan setuju dengan pemikiran kalian. Nee-chan hanya milikku" ucap Naruko dengan penekanan pada kalimat terakhir.

Hilang sudah khayalan indah Sakura dan Hinata saat mendengarnya. "Dasar Siscon" gumam Hinata dan Sakura bersamaan. Ino tidak memperhatikan pembicaraan teman-temannya dan fokus pada punggung Naruto yang semakin menjauh "Naru" hanya sebuah gumaman yang keluar dari mulutnya.

Lain halnya dengan Naruto. Karena kurang hati-hati, Naruto hampir saja terjatuh karena kecerobohannya yang tidak sengaja terpelesat karena lantai yang sedikit basah. Tubuh Naruto oleng kebelakang, tapi sebuah tangan menarik tangannya dari depan dan menahannya dari terjatuh.

Naruto tidak merasakan sakit akibat hampir jatuh, tapi merasakan kalau tubuhnya di tarik kedepan dan menabrak dada bidang seseorang. Naruto membuka matanya dan melihat wajah yang sangat familiar untuknya, tapi yang paling Naruto kenali adalah mata Onyx-nya yang sangat kelam, mata milik Sasuke, Uchiha Sasuke.

Naruto mengerjapkan matanya bingung. Naruto menyadari satu hal setelah beberapa saat. Tubuh mereka hampir menempel, tangan mereka berpegangan dan jarak wajah mereka juga tidak jauh.

Naruko, Sakura, Ino dan Hinata yang melihat hal itu mulai naik darah. Mereka tidak peduli siapa itu Sasuke, yang mereka pedulikan hanyalah Naruto. Sasuke memang laki-laki tertampan dan terkaya di KHS, tapi itu semua tidak ada pengaruhnya dengan mereka berempat. Mereka bahkan berniat untuk menghajar Uchiha bungsu itu, jika tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Naruto dan menjaga jarak dari Naruto.

Di sekeliling tubuh Naruko menguar hawa kematian, dan di otaknya berjalan skenario pembunuh pada Uchiha Pantat Ayam itu. Hinata, Sakura dan Ino juga merasa kesal setengah mati karena mereka juga tidak menjauhkan diri setelah hampir semenit berlalu. Salah satu dari mereka bertiga mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih karena menggenggam terlalu kuat.

Bukan hanya mereka, penghuni kantin juga turut menghaturkan Deathglare dan hawa membunuh secara gratis pada Sasuke. Anak Ayam satu ini benar-benar ingin cari mati di kandang buaya.

Naruto mendorong dada Sasuke dan mengambil jarak. "Apa yang baru saja kau lakukan, Uchiha?" ucap Naruto kesal dengan wajah sedikit merona. Sasuke tersenyum tipis. "Tentu saja, Menyelamatkanmu" hanya itu yang keluar dari mulut Sasuke.

Naruto masih tetap memandangnya dengan wajah kesal. Tapi bukannya takut, Sasuke hanya memberikan senyuman tipis yang entah apa artinya. Sedangkan bagi para murid KHS yang melihat wajah kesal Naruto, mereka semua merona. Bahkan ada yang baru saja bangun dari pingsannya, harus kembali pingsan dengan hidung yang mengeluarkan darah. Bagaimanapun ekspresi Naruto, semuanya memiliki kesan tersendiri. Kalau seperti ini terus, murid-murid hanya akan kehilangan nyawa karena kehabisan darah karena setiap hari melihat Bidadari ciptaan tuhan yang terlalu sempurna ini.

Sasuke berjalan melewati Naruto dengan tenang, tapi saat mereka berpapasan, Sasuke menggumamkan sesuatu yang masih dapat di dengar oleh Naruto. "Kau tidak pernah berubah"

Hanya dengan empat kata itu, Naruto menjadi melamun. Memikirkan apa maksud sebenarnya dari ucapan Sasuke. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya atau ada sesuatu yang tidak ia ingat sama sekali.

Pertanyaan yang berjalan di kepala Naruto adalah; Siapa sebenarnya Uchiha Sasuke dan apa hubungan Uchiha itu dengan dirinya? Seingat Naruto, Uchiha Sasuke adalah putra bungsu dari Keluarga Uchiha yang memiliki perusahaan terbesar kedua di Jepang. Menjadi murid di KHS beberapa minggu setelah Naruto dan Naruko menjadi murid di KHS. Orang yang terobsesi untuk menjadikan Naruto kekasihnya dan beberapa hal lainnya. Tapi dari semua hal yang Naruto tahu, tidak ada satupun yang menjadi penghubung dengan pertanyaan yang berjalan di kepalanya. Ah iya, Naruto ingat. Saat perkenalan, Sasuke bilang kalau dia berasal dari Tokyo. Apa mereka pernah bertemu di sana?

"Naru-chan, kau tidak apa-apa?"

Naruto langsung tersadar dari lamunannya saat merasakan sebuah tepukan di bahunya. Naruto menoleh kepada yang menepuk bahunya. Sahabat Naruto yang memilik rambut sewarna kelopak bunga musim semi memandangnya dengan khawatir.

Naruto mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa. Hanya melamun tadi" jawab Naruto. Sakura masih saja memandang dengan khawatir dan tidak percaya. "Oh iya. Aku lupa memesan, aku duluan" ucap Naruto lalu ingin berlari menuju tempat pemesanan, tapi tangannya sudah lebih dulu di tahan Sakura.

Naruto kembali menoleh kepada Sakura yang sekarang ini sedang tersenyum manis padanya. "Aku akan membantumu" ucap Sakura. Naruto terdiam, tapi kemudian mengangguk sambil tersenyum. Sakura yang melihat persetujuan Naruto, berjalan lebih dulu dengan tangan yang masih berpegangan dengan tangan Naruto. Naruto sendiri hanya bisa pasrah di tarik-tarik, tapi senyumannya tidak kunjung hilang.

Kembali, seseorang kembali pingsan karena kalah dengan pertempuran melawan kemanisan Naruto yang sedang tersenyum.

.

.

Naruto dan Sakura kembali ke meja mereka setelah beberapa menit menunggu. Tentu saja tidak dengan tangan kosong. Sakura membawa sebuah nampan yang berisikan empat gelas jus buah-buahan. Sedangkan Naruto membawa semangku ramen dan segelas jus jeruk untuk Naruko.

"Maaf menunggu lama" ucap Naruto lalu meletakkan nampan yang berisi pesanan Naruko di depan Naruko. Sakura juga meletakkan nampan di tangannya di atas meja kemudian membagikannya kepada mereka sesuai dengan pesanannya, setelah itu Sakura duduk di samping Hinata.

Naruto duduk di samping kiri Naruko. Naruko mengambil sumpit yang di sedikan di nampan bersama dengan ramen cupnya.

Naruto kembali memikirkan hal tadi. Naruko yang baru saja ingin memasukkan ramen kedalam mulutnya, menghentikan niatnya saat melihat kakaknya yang kembali melamun. Ramen yang berada di mulutnya, di jauhkan dan gerakkan menuju mulut Naruto. "Nee-chan?" gumam Naruko khawatir. Naruko sengaja menyentuhkan ujung sumpit itu kesudut bibir Naruto, berpikir kalau kakaknya akan tersadar dari lamunannya.

Naruto masih juga tidak bergeming dan memandang lurus dengan tatapan kosong. Tangan kiri Naruko tidak sengaja menyentuh luar saku Blazernya dan merasakan sebuah tonjolan kecil disana. Naruko memasukkan tangan kirinya kedalam saku dan menyentuh benda yang menonjol tadi. Senyum khawatir Naruko berubah menjadi seringaian saat mendapatkan sebuah ide yang bagus.

Tangan kiri Naruko menekan sebuah tombol pada benda yang ada di sakunya. "Hyaah!" Naruto memekik dengan tiba-tiba dan kedua tangannya dengan cepat menutup daerah selangkangnya dari luar rok.

Naruto merasakan ada yang bergetar di dalam Area Pribadinya. Sakura, Hinata, Ino dan juga Naruko memandangnya dengan bingung. Wajah bingung Naruko hanyalah sebuah tipuan, karena dialah yang membuat Naruto menjadi seperti ini.

Wajah Naruto memerah serta lutut yang di gerakkan tidak karuan. Naruto merasakan kalau celana dalamnya mulai basah. Getaran di dalam sana sama sekali tidak menghilang, tapi malah semakin kuat getarannya.

"Ada apa Naru-chan?" Hinata menjadi khawatir karena wajah Naruto memerah tanpa di ketahui penyebabnya. "Kau kenapa, Naru-chan?" Sakura juga turut khawatir karena Naruto sama sekali tidak menjawab. "Nee-chan, jawablah. Jangan membuat kami khawatir" desak Naruko pura-pura panik.

Naruto berdiri dengan tangan yang masih menutupi daerah kewanitaannya dari luar rok. "Aku permisi dulu" setelah mengucapkan itu, Naruto bergegas pergi menuju kamar mandi, meninggalkan teman-temannya yang khawatir, tapi berbeda dengan Naruko yang terkekeh. "Itulah jadinya jika mengabaikanku, Nee-chan" gumam Naruko dengan seringaian mesum.

Ino berdiri beberapa saat kemudian. "Aku mau ketoilet dulu" ucap Ino lalu pergi ke arah yang sama dengan Naruto tadi. Naruko sama sekali tidak merasa curiga dan fokus pada pesanannya yang kini sedang menungg untuk di makan. Sakura dan Hinata lebih memilih untuk mengobrol.

.

.

—Toilet—

Naruto mencuci tangannya di wastafel setelah membersihkan cairannya tadi. Getaran tadi berhenti, dan Naruto dapat menebak benda apa yang berada di dalam tubuhnya. Saat Naruto memasukkan jarinya kedalam liang Vaginanya dan mencari benda asing yang berada di dalam tubuhnya, jarinya merasakan sebuah benda yang dapat dia tebak sebagai Vibrator. Naruto mencoba untuk mengeluarkan benda itu, tapi jarinya tidak sampai.

Naruto akhirnya menyerah dan membiarkan Vibrator berada di sana untuk sementara. Dia akan meminta Naruko untuk mengeluarkannya sepulang sekolah nanti. Naruto mendengar suara pintu yang di buka lalu di tutup dan di kemudian di kunci. ...Tunggu! Di kunci?

Naruto menatap lurus ke arah cermin di depannya dan melihat di belakang terdapat seseorang berambut Blonde bergaya Ponytail. Naruto ingin berbalik karena mengira kalau yang berada di belakangnya ini memiliki niat jahat atau semacamnya.

Gerakan tubuh Naruto terhenti saat sepasang tangan ramping melingkar di pinggangnya. "Naru~" sebuah kata yang bernada sensual itu di ucapkan tepat di samping telinganya. Naruto mengenal dengan baik suara itu, suara itu milik ... "I-ino-chan?!" gumam Naruto terkejut. "Apa yang kau lakukan? kenapa kau mengunci pintunya? Kenapa kau memelukku seperti ini? Lepaskan Ino-ch – ...Hmfttp!"

Tubuh Naruto di balikkan secara paksa dan bibirnya di bungkam dengan benda yang sama. Mata Naruto membulat, sedangkan Ino menutup kelopak matanya, mencoba untuk menikmati hal yang sedang di lakukannya. Yamanaka Ino mencium seorang Namikaze Naruto tepat di bibir.

Dengan bibir yang masih bertautan, Ino mendorong tubuh Naruto sampai punggung Naruto menabrak wastafel. Ino menyudahi ciumannya dan memandang lekat wajah Naruto yang mulai merona. "Apa .. yang –" "Aku cemburu" ucap Naruto yang terputus-putus di potong Ino dengan cepat dan datar.

Naruto bingung harus berekspresi seperti apa. Dia juga bingung kenapa Ino cemburu. Apakah karena inseden dengan Sasuke tadi, Ino menyukai Sasuke. Atau sesuatu yang tidak di inginkan oleh Naruto; Ino ...

"Jika kau berpikir kenapa aku cemburu. Itu karena aku tidak suka melihatmu bersama dengan Uchiha itu. Aku menyukaimu, Naruto!" inilah yang paling tidak di inginkan Naruto, sebuah perasaan yang tidak bisa dan tidak mungkin ia balas.

Hening terjadi selama beberapa detik.

"I-Ino-chan?" Naruto dalam keadaan bingung untuk sekarang ini.

Ino yang melihat wajah Naruto mengulas sebuah senyum dan mundur beberapa langkah dari Naruto. Ino tersenyum jahil. "Hehe, kenapa kau sangat gugup, aku hanya bercanda" ucap Ino dengan senyum dan mata yang tertutup.

Naruto bukanlah orang yang bodoh dan tidak peka. Naruto dapat melihat dengan jelas kalau ekspresi Ino saat ini adalah palsu. Dia tersenyum, tapi senyumannya terlihat menyedihkan dan mata yang ditutup itu seakan sedang menahan sesuatu yang ingin keluar dari indera pengelihatannya.

Ino membuka matanya dan melihat Naruto yang memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kau kenapa? Apa kau marah karena aku menciummu tadi? Ayolah, aku hanya bercanda. Maafkan aku, Naru" ucap Ino mencoba menghentikan suasana canggung ini.

Naruto berjalan dengan kepala menunduk ke arah Ino. Ino tidak dapat melihat ekspresi Naruto, tapi dia merasa kalau sesuatu akan segera terjadi. "Oh Iya. Ayo kita kembali ke kantin. Mereka pasti akan khawatir jika kita tidak segera kembali" ucap Ino memberi alasan dan kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.

Ino hampir mencapai pintu, tapi Naruto menahan tangannya dari belakang. Ino menoleh kepada Naruto. "Ada apa, Naru? Kita harus segera kembali. Nanti Saku, Hina dan Ruko akan kha –"

'Brugh'

Naruto menarik tangan Ino dengan kuat sehingga tubuh Ino tertarik ke arahnya. Saat dada mereka bertabrakan, Naruto langsung mengunci Ino dengan cara memeluknya erat, Naruto juga meletakkan kepalanya di samping kepala Ino. Ino diam dengan mata bergetar. "Maaf" hanya sebuah kata yang keluar dari mulut Naruto. "Apa maksudmu? Untuk apa kau meminta maaf?" tanya Ino pura-pura tidak mengerti.

"Perasaanmu padaku. Aku benar-benar minta maaf" ucap Naruto. "Tadi sudah kubilang, aku hanya bercanda. Ayolah, jangan terlalu dianggap serius" ucap Ino menyangkal, tapi bibirnya malah bergetar menahan isakan.

"Jangan membohongi dirimu sendiri, Ino! Kau mencintaiku bukan? Jawab aku Ino!" Ino membeku dan terdiam, bingung harus menjawab apa. Ini adalah pertama kalinya Naruto serius di depan Ino. Suffiks –chan pada namanya juga di hilangkan, menandakan kalau Naruto benar-benar sedang serius.

Ino menggunakan tangannya dan mendorong tubuhnya dari tubuh Naruto agar mereka terpisah. Pelukannya terlepas dan Ino mundur sampai punggungnya menabrak pintu kamar mandi. Ino menunduk dan tidak ingin menatap mata Naruto. Naruto awalnya terkejut, tapi kembali mencoba untuk mendesak Ino manjawab pertanyaannya. "Kumohon Ino, jawab pertanyaanku"

"Kalau iya kenapa?" akhirnya Ino berbicara. Tapi suaranya terdengar bergetar bersamaan dengan bahunya yang juga bergetar. Ino mengangkat kepalanya. Naruto melihat pemandangan yang menyedihkan, Air mata Ino yang mengalir di pipinya, bibir yang bergetar menahan isakan. Naruto tidak ingin melihat ini, dia lebih suka melihat senyuman dari pada kesedihan.

"YA! Aku mencintaimu Naruto. Kau puas sekarang? Kau pasti menganggapku gila. Tapi aku bersungguh-sungguh, Naruto"

Naruto tanpa aba-aba berjalan menuju Ino dan memeluk Ino seperti tadi, hanya saja lebih erat. "Aku sungguh-sungguh minta maaf, Ino. Kumohon, berhentilah menangis" bisik Naruto di samping kepala Ino.

"Kau yang membuatku menjadi seperti ini. Kau jahat, Naruto!" ucap Ino dengan keras dan mencoba untuk mendorong tubuh Naruto sekuat tenaga. Dorongan tidak berhasil, Naruto memeluknya dengan sangat erat seperti tidak ingin melepaskannya.

Ino masih tidak menyerah untuk melepaskan pelukan Naruto dan terus mendorong tubuh Naruto sekuat tenaga. "Kumohon, Ino. Berhentilah menangis. Kau boleh menyalakanku untuk semua ini, tapi jangan membuat dirimu sendiri menderita dengan menahannya" Ino masih mencoba untuk mendorong Naruto tapi, dorongan menjadi memelan. "Kumohon, Ino" ucapan bernada lirih di keluarkan Naruto seakan dia juga merasakan hal yang di rasakan Ino. Dorongan Ino memelan dan tangannya menjadi tidak bertenaga.

Isakan masih terdengar tapi sudah mulai kembali normal. "Katakanlah semuanya, jangan pernah menahan bebanmu lagi" Setelah kalimat itu, tangan Ino terangkat dan membalas pelukan Naruto dengan melingkarkan tangannya dipinggang Naruto.

"Dulu aku sendirian dan sulit berteman. Tapi kau datang dengan cahaya hangatmu dan mengulurkan tanganmu padaku. Kau mengenalkanku pada yang lainnya. Kau teman pertamaku disini. Dan semua perlakuanmu padaku membuat perasaan ini tumbuh dan berkembang. Kau sangat sempurna, ramah, cantik, semua orang menyukaimu. Tapi tetap saja, aku ... aku .."

"Aku mengerti. Tapi maafkan aku. Karena tidak sadar dengan perasaanmu, dan aku juga tidak dapat membalasnya. Aku harap kita tetap menjadi sahabat" ucap Naruto menyambung curahan hati Ino yang terhenti.

"Apa aku hanya dapat menjadi sebatas teman untukmu? Apakah aku tidak dapat menjadi lebih dari seorang sahabat untukmu?" ucap Ino kembali dengan pelukan yang di pererat.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa" 'Hatiku hanyalah milik mereka berdua' sambung batin Naruto sambil mengingat wajah Ibu dan Adiknya.

Ino melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Naruto dengan lembut agar bisa melihat wajah Naruto. "Kalau begitu, aku juga harus meminta maaf. Karena ..." Naruto memiringkan kepala bingung karena Ino manggantungkan perkataannya. Ino mendekatkan kepalanya ke kepala Naruto. "... status sahabat itu akan segera ku ubah menjadi sesuatu yang lebih" lanjut Ino dengan senyum manis dan menempelkan bibirnya pada bibir Naruto, hanya menempel.

'Kenapa harus jadi seperti ini?' batin Naruto. Naruto bingung, apakah dia harus bersyukur atau mengutuk kecantikan dan kebaikannya yang menyebabkan semua masalah ini?

.

.

Akankah kisah cinta terlarang Naruto dapat berjalan dengan lancar jika yang memperebutkan dirinya sebanyak ini? Ibu dan Adiknya, sahabatnya, pamannya, dan Uchiha Sasuke (yang entah ada hubungan apa dengan dirinya dulu) atau masih banyak lagi yang akan memperbutkannya? Tidak ada yang akan tau apa yang akan terjadi nanti?

.

.

.

.

.

.

.

.

Cinta itu tidak akan dapat di tentukan. Karena ketika hati sudah memilih, Kita tidak akan dapat melawan perasaan itu.

.

.

.

.

.

.

.

.


~To Be Continued~


Sekali lagi saya minta maaf jika saya terlambat mengupdate Fict ini. Summimasen, Minna-san!

Bagaimana pendapat kalian dengan Chapter ini. Pasti membosankan ya? Hehe, Author tidak bisa membuat Fict dengan baik. Saya juga minta maaf karena hanya ini yang dapat saya ketik selama berhari-hari. Bukannya sok sibuk, tapi hanya sedang malas (*Senyum polos) #DihajarReader

Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada yang mereview, Follow dan Fav fict ini.

Saya juga ucapkan terima kasih secara spesial pada seorang Reader yang bernama Morfheus. Terima kasih, Nii-chan. Masalah saran Nii-chan, akan di masukkan di Chapter depan.

Ayo, siapa lagi yang akan masuk kedalam kompetisi untuk memperebutkan Bidadari cantik kita satu ini? Apakah laki-laki atau perempuan? Siapa yang tahu apa yang ada di pikiran Author nanti, hehe :v

Apa lagi ya? Hmm, mungkin itu saja yang dapat saya katakan sekarang ini. Sampai jumpa di Chapter depan. Saya Ryuukira Sekai pamit undur diri, salam Fanfiction ^_^

.

.

.

.

.

Ryuukira Sekai, Log Out, Hor~ra ^_^