Kilat Menembus Mendung
Chapter 2: Something Wrong
Cast: Naruto, Sasuke, Shikamaru, Kiba, Choji, Kakashi, Yamato, Anko, Sakura, Ino, Lee, etc.
"Wah... rupanya dia sudah pulang ya."
Lee tampak berada di depan kelas IX. Yang ia lihat di kelas itu hanyalah anak-anak yang sedang piket.
"Hhah... mungkin besok aja ku temui Kiba.."
Lee pun bergegas pergi
.
.
.
Lima pria terlihat di tempat parkir. Yang satu terlihat cuek dan bersandar di tiang parkir. Yang satu lagi terlihat menguap dan malas. Yang satu lagi terlihat mengorek-ngorek hidungnya, lalu... melihat hasilnya. Yang satu lagi terlihat menginjak-injak sesuatu dengan giat dan penuh emosi. Dan yang satu lagi terlihat fokus dengan apa yang dilakukan si penginjak.
"Sudahlah, Kiba. Ayolah."
.
.
.
"Apa aku harus ke rumahnya untuk minta maaf? Rasanya terlalu lama untuk menunggu besok."
Lee terus berjalan hingga sampai ke tempat parkir. Ia melihat lima orang di sana.
"Hei, itu... itu kan Kiba! Apa yang ia dan teman-temannya lakukan di sana?"
Semakin dekat dan semakin dekat Lee berjalan, akhirnya ia melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat.
Sepedanya hancur di depan Geng Naruto!
.
.
.
"..."
.
.
.
Kiba akhirnya menyadari kedatangan Lee. Begitu juga teman-temannya.
"Hhah... akhirnya kau datang juga."
Lee tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Apa.. apa yang terjadi d-dengan sepedaku?!"
Kiba menjawab dengan sinis.
"Aku baru saja memberinya pelajaran."
Lee terkejut.
"Hhah..?"
Anggota Geng Naruto hanya diam melihat Lee. Sementara Choji melihatnya kasihan.
"Kau menghancurkan-nya?!"
Lee menatap Kiba. Kiba tak bergeming. Namun itu tampak sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Lee.
"Tepatnya atas apa yang ia perbuat kepadaku."
Lee terhenyak mendengarnya.
"Apa maksudmu k-kejadian tadi pagi?!"
"Ketidaksopanan yang melampaui batas."
Raut muka Lee yang masih shock perlahan berubah sedih.
...
"Kali ini apa?! Bahkan siswa sebaik Lee?"
"Yaa... tampaknya mereka pun bermasalah dengan Lee-kun."
"Masalah apa? Apa mungkin Lee tidak mau membuatkan PR mereka?"
Kakashi melenguh malas.
"Ayo kesana, Yamato."
...
"Kali ini, Lee-san?"
"Ya ampun, ada masalah apa dia dengan Lee, Sakura?"
Sakura terlihat mulai geram.
"Damn, Naruto! Kenapa kau masih membuat masalah?!"
...
"Mungkin kau belum tahu kami, ya? Kami ini yang paling disegani di sekolah ini!"
Lee masih memandang sepedanya sedih.
"T-tapi... aku baru memiliki sepeda itu sejak..."
Kalimat Lee membuat Kiba semakin mengejamkan pandangannya.
"Tiga hari yang lalu."
.
.
.
"Lee!"
Suara dari luar rumah mengagetkan Lee. Ia segera menyahut sambil berjalan ke luar.
"Iya! Ada apa Tou..."
Lee tidak menyelesaikan kalimatnya. Seseorang yang memanggilnya tersenyum padanya.
"Ini... ini..."
"Hadiah untukmu, Lee! Selamat atas prestasimu!"
Mata Lee semakin berbinar dan mulutnya semakin membuka membentuk pola A.
"Maaf jika Tou-san hanya bisa memberimu..."
Kalimatnya terhenti saat Lee dengan semangat berlari menuju sepedanya, menaikinya dan membawanya berkeliling. Mata Tou-san Lee bekaca-kaca melihat itu.
"Arigatou, Tou-san!"p
.
.
.
"Begitu ya? Namun itu bukan urusanku. Kuharap kau dapat pelajaran yang berhar-"
"Kenapa tidak kau selesaikan denganku saja?! Kenapa harus sepedaku?! Itu.. itu adalah hadiah terbaik yang pernah kumiliki, kau tahu!?"
Naruto terkejut mendengar kata-kata Lee.
"Hadiah... terbaik?"
Dan Kiba, ia justru semakin geram mendengarnya.
"Selesaikan denganmu, hah?! Jadi kau mau aku menyelesaikannya denganmu?! Hah?!"
Kiba berjalan mendekati Lee.
"Hey, Kiba! Sudahlah!"
Kiba tak peduli dengan suara rekannya. Ia semakin mendekati Lee yang sudah cukup 'siaga' dengan kedatangannya, dan..
"Hentikan, Kiba!"
Sebuah suara berat terdengar dari sisi mereka, yang ternyata mampu membuat Kiba menghentikan langkahnya.
"Kakashi-sensei?!"
"Nanda kore, Kiba?!"
Kiba tidak menjawab pertanyaan Yamato, dan justru memandang kesal kepada kedua orang yang baru datang itu. Kemudian ia bergegas pergi, diikuti oleh Choji yang tak tahu harus berbuat apa. Shikamaru juga menyusul.
Sementara Naruto hanya memandang rekan-rekannya berlalu.
"Ada masalah apa, Naruto?!"
Naruto sedikit terhenyak saat ditanya.
"Ee.. tidak ada apa-apa, Kakashi-sensei. Hanya masalah sepele saja, hehehe.."
Kakashi terus memandang Naruto dengan penuh selidik, membuat Naruto salah tingkah.
"E-e? Haah... baiklah. It's Kiba. Dia balas dendam."
"Balas dendam? Apa maksudmu?" tanya Yamato.
"Ya... tadi pagi Lee menyenggolnya dengan sepeda sampai ia terjatuh. Makanya sekarang dia marah dan... membalasnya.. you know, it's Kiba."
Kakashi dan Yamato pun menoleh ke arah Lee yang masih menatap sepedanya yang telah hancur, nanar. Lee pun segera beranjak dari tempat itu.
"Hah.. kasihan sekali Lee-kun, menjadi sasaran amukan Kiba."
Yamato melihat sepeda Lee, seketika wajahnya langsung konyol.
"Ee...?! Bagaimana Kiba melakukannya?! Kenapa bisa hancur hingga sedemikian rupa?!"
"Bagaimana dia melakukannya? Hmm.. kan aku dah bilang, Yamato-sensei... it's Kiba, you know? Cara dia melakukannya tidak bisa didefinisikan!"
"Kenapa kalian masih membuat masalah, Naruto?! Kau tidak ingat dengan janjimu yang kemarin?"
Pertanyaan Yamato membuat Naruto sedikit terhenyak.
"Ee..?! Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku, Yamato-sensei! Kiba yang punya masalah!" Kemudian wajah Naruto memasam.
"Tetap saja! Kau ini kan ketua geng-mu! Seharusnya kau bisa menghentikan Kiba, dan juga menasehatinya!" wajah Yamato mulai konyol.
"Ketua geng? Geng apa, sensei?! Kami bahkan tidak punya geng! Dan kenapa sensei mengatakan aku sebagai ketuanya?" Naruto justru lebih berwajah konyol, dan kali ini ia menunjuk Yamato. " Dan menasehati Kiba? Orang macam Kiba dinasehatin ntar aku digigit lagi sama dia!"
Yamato dan Naruto sibuk beradu pendapat, sementara Kakashi menjadi malas dibuatnya.
"Hhah... mereka lebih mirip seperti teman sebaya daripada seorang guru dan murid." batin Kakashi.
"Stop!" teriak Kakashi memecah perdebatan mereka.
"Naruto.. bisakah kau lebih hormat dengan gurumu?!"
"Hm.. gomen, sensei."
"Dan Yamato.. kau ini seorang guru!"
Suara Kakashi semakin mengecil.
"Bisakah kau terlihat lebih berwibawa di depan muridmu?"
Semakin kecil lagi, hampir berbisik, bahkan sampai Naruto pun tidak dengar.
"Gomen, senpai." jawab Yamato sedikit menyesal.
"Ha? Apa? Apa?" tanya Naruto ingin tahu.
"Ah.. nggak ada, nggak ada. Jangan kepo deh." balas Yamato.
"Hei..!" Wajah Naruto meng-konyol lagi.
"Sudahlah, Naruto. Kau tidak ingat Tou-sanmu?
Naruto terkejut mendengarnya.
"Kau tidak ingin Tou-sanmu mengetahui ini, kan? Sebagaimana ia mengetahui perkelahianmu dengan Sai kemarin?" lanjut Yamato.
Naruto terlihat sedikit risau.
...
"Naruto.. Tou-san harap ini untuk terakhir kalinya kau membuat masalah. Tou-san tak tahu lagi harus mengatakan apa. Tou-san akan memberimu satu kesempatan lagi. Tapi jika kali ini kau membuat masalah lagi..."
"..."
"Tou-san terpaksa harus mengambil tindakan tegas."
...
Kata-kata Tou-sannya masih membayang di kepala Naruto.
"Kalau Tou-san tau aku buat masalah lagi, tamatlah riwayatku!" batinnya.
"Yamato-sensei.. Kakashi-Sensei.. tolong jangan mengadu ya..?"
Yamato melirik Naruto dengan tangan terlipat di dada.
"Hhah.. sebenarnya aku tidak mengadukanmu. Satu-satunya yang mengadukanmu kemarin adalah Kepala Sekolah kita, Danzo-sama. Jadi jika kau tidak ingin Tou-sanmu mengetahui ini, jangan sampai Danzo-sama tahu akan hal ini, mengerti?"
"Hmmmh.. iya deh.. gimana caranya, sensei?"
"Lee-kun tidak membawa sepedanya yang sudah hancur ini pulang. Tampaknya ia tidak menginginkannya lagi. Jika sampai Danzo-sama melihat sepeda ini, dia pasti akan curiga dan bertanya-tanya. Jadi sebaiknya kau memindahkan sepeda ini ke tempat lain, yang penting keluar dari sekolah ini." jelas Kakashi.
"Maksud sensei, dibuang?"
"Yaa.. kedengarannya memang kasar. Namun harus kuakui, itu benar."
"Lakukan dengan bersih Naruto!"
Kakashi dan Yamato beranjak pergi.
"E.. sensei! Tunggu! Bantuin napa?!"
Jawaban nihil.
"Hah.. gimana ngebuangnya, nih?" batin Naruto.
"NARUTO...!"
Seseorang memanggil Naruto, dan itu membuatnya terkejut.
"Sakura-chan?!"
*PEENG!*
Bunyi knock terdengar di sana. Tepatnya sebuah tinjuan, mendarat di kepala jabrik.
"Aauw...! Sakura-chan, nanda?! "
"Kenapa kau membuat masalah lagi, Naruto?!"
"Buat masalah?!"
"Kau sudah lupa dengan janjimu tidak akan buat masalah lagi, ha?!"
"Sakura.. apa kau tidak terlalu keras?"
"Ee.. dia benar, Sakura-chan!"
"Diam kau, Naruto! Ino, dia emang pantas diginiin, don't worry about this!"
"Sakura-chan.. aku-"
"DIAM!"
"Ok."
Suasana malah jadi hening. Ketiga orang di TKP pun mati gaya.
"Baiklah, jelaskan semua ini!" lanjut Sakura.
"Huh.. Sakura-chan, kau salah sangka... ini bukan masalahku... ini Kiba yang punya masalah! Apa kau tidak melihat apa yang Kiba lakukan tadi?"
"Aku nggak peduli! Kiba itu anggota siapa coba?"
"Anggota?"
"Kelompok siapa?! Geng siapa?!"
"Geng? Geng apaan, sih? Kami bukan geng!"
"Kalian itu geng, tau nggak?! Dan satu sekolah tau itu!"
Naruto hening.
"Seharusnya kau bisa memperingatkan atau menasehati Kiba, Naruto!"
"Eeee...?! Kenapa kau jadi seperti Yamato-sensei?!"
"Sudahlah! Aku mau pulang! Ayo, Ino!"
Lalu pandangan Sakura terkunci ke arah seorang pria yang sedari tadi hanya bersandar di tiang parkir.
"Sasuke-kun? Sejak kapan dia di situ?" pikir Sakura.
Dan Sasuke terlihat mulai beranjak pergi.
"Ya ampun, Sakura! Kenapa kau tidak menyadari kehadirannya? Kenapa kau justru ngamuk-ngamuk nggak jelas gitu?" batin Sakura. Pipinya mulai memerah karena malu.
"Sakura-chan, tunggu! Tadi aku menelponmu untuk mengajakmu pergi melihat teater!"
"Ah, pergi saja sendiri! Aku sudah malas denganmu!" balas Sakura sambil beranjak pergi.
"Sasuke-kun! Tunggu...!" teriak Sakura.
"Sakura-chan! Tidak...!" balas Naruto.
Sakura tak bergeming menuju Sasuke, sementara Ino menoleh melihat Naruto iba.
"Ah, sial! Gara-gara si anjing itu aku jadi berantakan begini!" amuk Naruto dalam hati.
Lalu ia menoleh ke arah sepeda hancur Lee.
"Bahkan hasil amukannya pun harus aku yang mengurusnya! Kenapa?!"
Naruto menjadi agak depresi, hingga seorang lelaki paruh baya yang merupakan penjaga dan juga petugas kebersihan lewat.
"Ee.. Pak, Pak, Pak!" panggil Naruto.
"Iya?" jawabnya.
"Bapak penjaga sekolah, kan?"
"Iya, ada apa?"
"Bisa tolong bersihin ini nggak, Pak?" ujar Naruto sambil menunjuk sepeda hancur. "Tolong ya Pak.."
"Ntar saya bayar deh, kalau perlu!" lanjutnya.
"Oh.. nggak usah, Nak Naruto. Ini emang udah tugas saya."
"Eh? Bapak kok tau nama saya?"
"Semua yang ada di sekolah ini tahu."
"Bahkan penjaga sekolah pun tahu?"
Naruto membatin diiringi dengan sebelah alis matanya yang naik.
"Ya udah deh, Pak! Bersihin aja semuanya, buang aja ke tempat sampah, ya Pak!"
Naruto merogoh sakunya dan memasukkan sesuatu ke dalam saku baju Si Bapak.
"Ni buat beli rokok, Pak. Makasih ya Pak!" lanjut Naruto sembari menjauh.
Si Bapak mengambil sesuatu yang dimasukkan Naruto ke dalam sakunya. Uang. Dan akan berlebih banyak bila dibelikan rokok.
"Bapak nggak merokok, Nak."
"Ternyata dalam hati seorang Naruto pun masih ada kebaikan." batin si bapak.
"Tapi terima kasih ya, nak." lanjutnya sambil tersenyum.
.
.
.
Langit siang tampak biru bersih, menunjukkan kecerahan pada hari itu. Namun nampaknya tidak baginya. Ia berjalan dengan lemas dan wajah yang tidak bersemangat. Ia masih mengingat kejadian di sekolah tadi siang, kejadian yang menghancurkan mood-nya pada hari itu, atau mungkin hingga hari-hari berikutnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Tou-sannya jika mengetahui hal ini.
"Bagaimana mungkin aku bisa pulang seperti ini? Tou-sanku bekerja siang malam untuk menghidupi keluarga. Ia membelikanku sepeda, yang sekarang sudah tak berbentuk lagi. Maafkan aku, Tou-san.."
Ia semakin sedih jika memikirkan hal itu dalam batinnya.
Terus dan terus berjalan, tak terasa ia sudah sampai di rumah. Ia berjalan memasuki halaman. Seketika ia terkejut melihat seseorang yang sedang membersihkan alat yang akan ia gunakan untuk pergi bekerja. Tou-sannya. Langkahnya langsung terhenti.
Merasa ada seseorang di sekitar, Tou-sannya kemudian menoleh dan menyaksikan anaknya yang menatapnya lirih. Itu membuatnya heran.
Si anak langsung berlari menuju Tou-sannya dan memeluknya. Ia tak mampu menahan air matanya lagi.
"Ma-maafkan aku, Tou-san. S-sepedanya.."
Sang Tou-san membalas pelukannya. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia mengerti apa yang terjadi, maupun apa yang dirasakan oleh anaknya.
"Tak apa, Lee. It's OK."
Ia mengusap puncak kepala anaknya.
"Dah, dah. Jangan nangis lagi. Lelaki tidak menangis, Lee."
Tanpa mereka sadari, sesorang di sana ikut menyaksikan dan merasakan suasana sedih itu.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 2.40 pm. Seorang pria terlihat sedang sibuk dengan laptopnya, sementara di depannya televisi dalam kondisi hidup.
"Oi, Yamato. Kapan kau buat pekerjaanmu itu?"
Seorang pria yang terlihat tengah bersiap-siap dengan pakaian rapinya tiba-tiba mengejutkan Yamato dan membuatnya hilang konsentrasi.
"Ah.. !"
Dalam headset Yamato terdengar suara, "Game over.".
"Sial! Rekor baruku gagal!" batin Yamato.
"Ei, Yamato, kau kenapa?"
Yamato menanggalkan headsetnya.
"Ada apa, senpai..?" katanya dengan wajah sedikit kesal dan nada malas.
"Kubilang, kapan kau mengerjakan pekerjaan sekolahmu itu?"
"Ya ampun, Kakashi senpai.. aku sedang mengerjakannya sekarang." balas Yamato sambil kembali fokus pada laptopnya.
"Tadi kau kenapa? Kok tiba-tiba teriak gitu?"
Yamato kembali sibuk dengan laptopnya, namun kali ini ia tidak memasang headset-nya.
"Kau lagi main game, ya?"
Yamato terhenyak mendengarnya.
"Main game? Apa maksudmu!? Tentu saja aku sedang membuat pekerjaanku!" balas Yamato.
"Dasar kritis!" batin Yamato.
Kakashi mendengus pelan mendengar jawaban Yamato. Saat ia menoleh ke arah lain, pandangannya langsung terhenti pada sebuah cermin yang menghadap tepat ke layar laptop Yamato.
Pandangannya langsung berubah malas.
"Aku memaklumi jika kau tidak ingin menemaniku karena ada pekerjaan sekolah untuk diselesaikan, tapi tidak jika maksudmu adalah bermain game."
Yamato terkejut.
"Bagaiman dia tau?" batinnya.
"Bagaimana kau tahu? Ee.. maksudku apa maksudmu?"
"Hah.. sudahlah. Aku tahu itu. Kau butuh teknik yang lebih tinggi untuk membohongiku."
"Baiklah, senpai, aku mengaku.. sekarang aku akan mengerjakan tugasku, okay?"
Beberapa saat kemudian..
"Yamato, kau akan ikut denganku."
"Apa lagi, senpai?!"
"Kau sama sekali tidak mengerjakan tugasmu! I know it!"
"Bagaimana dia bisa tau?!" batin Yamato lagi.
"Ya.. ya! Sekarang aku akan mengerjakannya!"
"Tidak.. tiada alasan lagi bagimu."
Tiba-tiba handphone Kakashi berbunyi.
"Hallo?"
"Hallo, Kakashi-san?"
"Iya, Anko-san, ada apa?"
"Ee.. begini, Kakashi-san, sebelumnya aku minta maaf.."
"Kenapa?"
"Mengenai teater itu, ternyata aku salah informasi. Tidak ada teater siang ini."
"Tidak ada teater siang ini?"
Wajah Yamato berubah sumringah dan Kakashi melihatnya.
"Ya, teaternya ternyata diadakan di malam hari. Malam ini jam 8 malam."
"Oh.. jadi teaternya diadakan malam ini?"
Kakashi melirik Yamato yang sudah berwajah kusut lagi.
"Ya, bagaimana menurutmu? Apa kau bisa?"
"Yeah, I'm free this night."
"Bagaimana dengan Yamato-san? Apa dia ikut?"
"Ya, kelihatannya begitu."
"Ow, baiklah. Sampai jumpa nanti malam."
"Ok."
"Baiklah, Yamato. Kau dengar, kan? Acaranya ternyata diadakan di malam hari. Jadi, kau tidak punya alasan untuk menolak. Sekarang kau bisa mengerjakan pekerjaanmu dan nanti malam kita bisa pergi!"
"Ah.. terserahmu." batin Yamato dengan pandangan masam.
"Kau pikir aku tak punya ide lain apa?" batinnya lagi, kali ini pandangannya licik.
.
.
.
"Tidak ada teman! Hah... kenapa harus begini? Sekarang aku harus melihat teater sendirian."
Seorang pemuda jabrik terlihat menyusuri jalanan. Tepatnya di trotoar pinggir jalan, cukup banyak orang yang berlalu-lalang di sana malam itu. Ia masih mengeluhkan kejadian tadi siang di sekolah.
"Kalau bukan karena si maniak anjing itu.. aku pasti sudah bersama Sakura-chan sekarang! Hah... dasar!"
Tiba-tiba suara musik rock berbunyi, yang tak lain dan tak bukan adalah suara ponselnya. Ia segera merogoh saku untuk mengambilnya.
"Hah..?! Kiba?! Ngapain dia nelpon?! Baru aja diumpat-umpatin!"
"Napa?!"
"Woi, Naruto! Gimana tadi? Apa yang terjadi di sekolah setelah aku pergi?"
"Sialan kau! Gara-gara ulahmu aku nggak jadi kencan sama Sakura-chan! Dan hampir aja aku dapat masalah lagi!"
"Kakashi-sensei sama Yamato-sensei gimana? Mereka 'nggak ngapa-ngapain' kan?"
"Nggak, but thanks to you, you almost set me in trouble, baka!"
"Kau ngomong apaan, sih? Bahasa inggris atau Jepang? Aah.. sudahlah! Ei, gimana sama bocah itu? Dia nggak berbuat yang macam-macam kan?"
"Bocah yang kau hancurkan sepedanya? Dia langsung pulang. Dan kau tampaknya telah menghancurkan harinya."
"Menghancurakan harinya?"
"Ya! Dan tadi itu.. sungguh menyedihkan, kau tahu! Dia tampak 'hancur' seperti orang kehilangan asa. Aku melihat sendiri di rumahnya!"
"Hah.. aku tak peduli masalah itu! Yang jelas semuanya 'aman' kan?"
"Dasar kau ni emang nggak punya hati, ya? Aku aja begini-begini masih kasihan liat dia."
"Kan dia yang mulai cari masalah duluan, kenapa aku harus kasihan sama 'musuhku'? Lagian udahlah, aku punya hal yang lebih penting mau kubicarakan."
"Apa lagi, njing?"
"SIALAN KAU MANGGIL AKU SEPERTI ITU!"
Suara teriakan bernuansa konyol yang terjadi di seberang sana terdengar dari dalam ponsel Naruto, yang sanking kerasnya membuat Naruto menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Kau mau bicara apa, Kib? Aku lagi mau ke teater ni!"
"Kib? Apaan tu 'Kib'? Ah sudahlah! Besok kan kita cepat pulang? Jam 10 besok kawani aku ke wisuda kakakku, ya?"
"Napa mesti ku kawani? Mama kau nggak ikut emangnya?"
"Bukan! Malas aja aku ntar nggak ada kawan bicara! Pokoknya kawani aja deh, ngerti kau?!"
"Bawa aja pacarmu tu!"
"Pacar? Siapa?"
"Akamaru, lah! Siapa lagi?"
"KURANG AJAR KAU! POKOKNYA KAWANI AKU BESOK! NGERTI, JABRIK?!"
"Ah.. terserahmu lah, njing. Kau aja jabrik, nggak nyadar?"
"AH..!"
Tut.. tut.. tut..
"Dimatiin? ya udah. Dari tadi kek!"
Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju teater.
.
.
.
7.50. Itulah yang terlihat saat wanita ini melihat jam tangannya. Melihat ke ujung jalan adalah hal yang ia lakukan sedari tadi. Ia berdiri di depan rumahnya, kelihatannya menunggu seseorang. Selang beberapa saat, orang yang ditunggunya pun muncul, yang tak lain dan tak bukan adalah...
"Kakashi-san!"
"Ow, hai, Anko-san, sudah lama?"
"Belum, kok! Hmm.. Yamato-san mana? Dia nggak jadi ikut?"
...
"Oi Yamato.. bangun! Udah maghrib!"
"Ha.. apa? Apa? Udah Maghrib? Ya ampun!"
"Kenapa?"
"Aku sama sekali belum mengerjakan pekerjaanku! Gimana nih?"
...
"Wajahnya risau, tapi ekspresinya riang." batin Kakashi.
"Ee.. ya, dia.. masih belum selesai dengan pekerjaannya." lanjut Kakashi malas saat mengingatnya.
"Oh.. baguslah kalau begitu!"
"Hmm?"
"Iya... maksudku baguslah kalau dia memang mengerjakan pekerjaannya."
"Oh.. c-mon then."
Anko tersenyum dan mereka pun berjalan bersama.
Sementara itu, di rumah Yamato...
"YESS! RENCANAKU BERHASIL!"
.
.
.
"Teaternya akan segera dimulai!"
Suara cukup riuh menderu ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Sesuatu yang sedari tadi dinantikan akhirnya datang. Namun pemuda jabrik yang tak lain adalah Naruto ini terlihat tidak se-excited mereka. Ia kembali meneguk soda yang tadi ia beli di jalan. Semangatnya untuk menonton acara ini tampaknya telah sirna.
Merasa cukup dengan tegukannya, ia kembali meletakkan sodanya di atas meja tempat ia duduk, tepatnya sebuah stand yang sedang tidak ditempati. Ia meluaskan pandangannya ke sekitar, lalu terhenyak ketika melihat sesuatu.
"Wow.. itu kan Kakashi-sensei sama Anko-sensei! Mereka datang juga, ya, dan tampaknya hanya berdua saja. Ternyata gosip yang beredar itu benar, mereka berdua..."
Naruto terkikih saat menanggapi kata hatinya. Namun perlahan senyumnya memudar, lalu menghilang.
"Sementara aku hanya sendiri." batinnya lagi.
Di tengah kediamannya, dua orang dewasa lewat di samping Naruto.
"Itu dia orangnya."
"Benarkah? Apa kau yakin?"
"Lumayan."
Suara mereka terdengar cukup jelas oleh Naruto, hingga percakapan mereka pun menarik perhatiannya. Ia menoleh tipis untuk mendengar lebih jelas.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?"
"Tentu saja menghabisinya."
Alis Naruto menajam.
"Tapi dia memakai masker, apakah sudah pasti dia orangnya?"
Naruto terkejut mendengarnya.
Ia melihat ke arah kerumunan, dan hanya Kakashi lah yang memakai masker.
"Memakai masker?!" batinnya.
"Kita harus pastikan dulu dia adalah orangnya atau tidak."
"Bagaimana?"
"Kita harus membuatnya pingsan. Aku punya cairan toksin yang bisa menghilangkan kesadaran."
"Kapan kita melakukannya? Sekarang?"
"Jangan! Tunggu sampai dia ke toilet, sebentar lagi. Ketika ia bergerak, kita ikutin dia, terus kita babat."
Dua orang itu segera beranjak ke belakang.
"Toksin? Mereka mau meracuni Kakashi-sensei?!"
To be continued...
Omake! With Shikamaru and Choji
"Hei, Choji, kudengar akhir-akhir ini kunci motor orang sering hilang ya."
"Ya, Shikamaru. Kau sudah investigasi penyebabnya?"
"Investigasi?"
"Ya. Kau 'kan selalu menginvestigasi hal-hal yang ingin kau ketahui."
"Hmm.. kau benar. Mungkin perlu investigasi lebih lanjut terkait masalah ini."
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Lah.. tadi kan kau yang beri usul, kok nanya lagi, sih?"
"Ya.. aku hanya tahu bahwa kau suka menginvestigasi, tapi aku nggak tahu untuk apa. Begitu."
"Ya... terutama untuk mengobati rasa ingin tahu. Kita juga bisa mengambil pelajaran dari investigasi, dan menggunakannya di masyarakat untuk kelangsungan hidup yang lebih baik."
"Wah... kata-katamu tinggi, Shikamaru. Tapi aku nggak ngerti."
"Hah.. maksudku, contohnya: Kita menginvestigasi penyebab sering hilangnya kunci motor. Jadi kita bisa menghindarinya kalau kita sudah tahu penyebabnya."
"Oh, gitu."
"Kira-kira begitu."
"Menurutmu karena apa kunci motor sering hilang?"
"Hmm. Kalau karena dicuri, nggak mungkin. Sebab sejauh ini, aku belum dengar kabar ada motor yang hilang."
"Ya, perkiraanmu cukup logis. Emang belum ada sih motor yang hilang."
"Mungkin karena tercecer."
"Tercecer? Kalau tercecer kok banyak amat?"
"Ya.. bisa aja kan? Orang-orang sering meletakkan kunci motornya di saku baju, padahal memiliki banyak aktivitas."
"Eh..? Aku juga meletakkan kunci motorku di saku!"
Kemudian Choji meraba-raba sakunya.
"Hah?! Kunci motorku kok nggak ada ya?! Jangan-jangan..."
"Ah! Kau yang benar aja, Choji! Baru aja dibilangin!"
Raut panik Choji kemudian berubah jadi cengir yang mengesalkan.
"Hahaha... santai, Shikamaru! Slow man, slow! Kunci motorku nggak hilang. Aku sudah meletakkannya di tempat yang aman! Hahaha.."
"Hhahh.. dasar gem.."
Shikamaru langsung teringat kata yang 'tabu' untuk diucapkan kepada Choji, sehingga ia pun menahan kata-katanya.
"Huh.. hampir aja kelepas, untung aja dia lagi ketawa." batin Shikamaru.
"Ha? Kau bilang sesuatu?" tanya Choji.
"Nggak. Jadi dimana kau letakkan kunci motormu?"
"Ada deh.. pokoknya aman.. dan nggak bakal ada yang bisa menemukannya."
Shikamaru menaikkan alis matanya.
"Selain aku!" lanjut Choji.
"Ok. Kau memang selalu memiliki spesialisasi."
"Haha.. arigatou!"
Di kelas.
"Ya ampun, Choji... Kenapa bisa tinggal? Kau tau itu kan sangat penting bagi kita..?!"
"Sorry, Shikamaru! Tadi malam aku main game sampai larut. Tadi pagi aja aku kasak-kusuk."
"Jadi gimana nih? Hari ini kan hari terakhir ngumpulin."
"Jemput aja, yuk!"
"Jemput aja sendiri!"
"Hei.. ayolah Shikamaru.. temenin donk.. kamu yang ngomong sama ibu itu."
"Ya ampun.. Bu Mei Terumi emang lembut.. tapi kalau udah marah ngeri!"
"Ya.. itu makanya kau yang ngomong ya, Shika! Kau kan pandai ngomong!"
"Hahh.. kau ini. Ayolah coba dulu."
Mereka pun maju ke depan.
"Buk?"
"Iya. Ada apa?"
"Hmm... mengenai tugas kelompok kami, buk.."
"Kalian sudah kumpulkan?"
"Belum, buk."
"Kalian nggak buat tugasnya?!"
"B-buat kok, buk.. cuma ketinggalan, buk."
"Kenapa bisa tinggal?!"
"Maaf buk, lupa.."
"Lupa-lupa ajalah kamu terus. Untung aja hidung kamu itu nempel, kalau nggak bisa-bisa kamu lupa juga membawanya."
Choji pun menunduk dan menggosok hidungnya.
"Jadi kalian mau gimana?"
"Kami mau jemput tugasnya, buk."
"Nggak bisa. Ibuk mau menerangkan materi baru sama kalian. Kalau kalian tidak mengikuti secara penuh, nanti kalian tidak mengerti."
"Terus, nilai tugas kami gimana dong buk?"
"Ya nggak ada. Ibu kasih nol aja."
"Yah.. jangan dong buk."
"Emang kalian masih peduli nilai? Setahu ibuk, kalian tergabung dengan 'anak-anak bandel' itu, kan?"
"Ya masih dong buk. Trus ibuk kok bilang kami anak-anak bandel sih? Kami ini anak baik-baik buk. Cuma orang aja yang nakal ama kami, makanya kami kasih mati dia."
"Kalian ini buang-buang waktu saja. Duduk di tempat kalian. Ibu akan segera mulai pelajarannya."
Shikamaru dan Choji galau. Tiba-tiba Choji meletakkan tangannya di pundak Shikamaru.
"Shikamaru.."
Shikamaru pun menoleh.
"Inilah saatnya kau tunjukkan kejeniusanmu."
Sekitar 3 menit kemudian..
"Ayolah, Choji! Jalanlah lebih cepat! Kita tidak punya banyak waktu!"
"Ah.. Shikamaru! Kau kan pandai mengolah logika. Kenapa kau hanya minta 15 menit saja?"
"Udah kucoba, tapi Buk Mei cuma kasih segitu aja. Itu aja udah sukur, tau nggak. Sebelumnya mana ada yang dikasih izin begini. Lagian kalau diestimasi, waktu segitu cukup, kok.. jika kita memang hanya menjemput tugas dan langsung kembali ke kelas."
"Kalau kelewat 15 menit, gimana?"
"Nggak dikasih nilai, apapun alasannya."
"Tapi masih boleh masuk?"
"Ntah. Udah, jangan banyak omong. Kunci motormu itu sebenarnya dimana? Jangan bilang tertinggal di kelas."
"Ya nggak donk. Aku menaruhnya di dalam.."
Seketika kata-kata Choji terhenti. Begitu juga dengan langkahnya.
"Di dalam apa? Kenapa kau berhenti?"
"Ya ampun.. Shika! Gawat, gawat!" Choji panik.
"Hei, kau ini kenapa sih? Mana kunci motormu?!"
"Shika, kau bawa motor, kan?! Pakai motormu aja yuk!"
"Kenapa? Kunci motorku di dalam tas, dan tasku ya di kelas. Kalau kita kembali menjemputnya, kita bisa kehabisan waktu dan kelewat 15 menit! Kelas kita kan di lantai 4! Emang kunci motormu kemana?! Kau bilang di tempat yang aman."
"Emang, tapi aku baru sadar bahwa itu salah letak!"
"Emangnya dimana?"
"Di bagasi motorku!"
...
NB: 'Nanda' artinya: 'Ada apa?'
Review please ^_^
That would really help me to grow more :)
