Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, Bibi Wu (OC), D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl)

Rate: T

Length: chaptered [1/?]

Summary for chapter 1:

Setelah mendapatkan sepucuk surat yang berisi permintaan terakhir Yifan, selanjutnya Joonmyeon, Chanyeol, Jongin, dan Sehun harus mengambil keputusan. Apakah mereka akan mengabulkan permintaan Yifan?

..

Chapter 1 (For Yifan)

HAPPY READING!


Tuk tuk tuk

Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan. Tak ada satupun orang di dunia ini yang punya hobi menunggu. Jika pun ada, orang itu pasti masuk dalam kategori aneh.

Orang-orang pada umumnya sangat benci menunggu. Apalagi jika kau adalah seorang wakil direktur di sebuah perusahaan ternama yang memiliki setumpuk pekerjaan penting dan super sibuk. Daripada harus menunggu tanpa kejelasan, tentu sang wakil direktur sebenarnya lebih memilih untuk bekerja dengan tenang di kantornya —walaupun sebenarnya itu lebih melelahkan-.

Tapi apa yang bisa dilakukan oleh sang wakil direktur saat ini? Ia diharuskan untuk menunggu, dan ia hanya bisa mengetukkan jarinya ke atas meja yang berada di cafe untuk mengusir rasa sebal sekaligus rasa bosan yang melandanya.

Sesekali pemuda berkulit putih itu melirik pada jam tangannya. Tapi jam tangan analog itu seolah menertawakannya melalui jarum detik yang terus berputar. Seolah menertawakan seorang Kim Joonmyeon yang merasa tersiksa karena terlalu lama menunggu.

Satu jam. Iya, sudah satu jam si pria Kim menunggu di dalam cafe itu. Jika alasannya menunggu bukanlah hal yang sangat penting, ia pasti lebih memilih untuk segera pergi dari cafe itu. Sungguh. Setumpuk berkas yang ada di meja kerjanya lebih disukainya daripada harus menunggu.

Tapi kali ini alasannya menunggu adalah hal yang ekstra penting. Jadi ia lebih memilih untuk menghabiskan tiga cangkir kopi guna mengusir rasa kesalnya.

Setelah cangkir kopi terakhirnya ludes tak bersisa, barulah ia melihat seorang pemuda tampan berlari terburu ke arahnya.

"Mi-mianhae, hyung. Aku terlambat," si pemuda bernafas dengan terengah, kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang berseberangan dengan Joonmyeon.

Joonmyeon menatap jengah pada pemuda di depannya. "Apa sekarang SM Entertainment berpindah lokasi ke Korea Utara?"

Lawan bicara Joonmyeon nyengir polos. Ia sendiri yang mengusulkan cafe itu sebagai tempat pertemuan mereka, tapi ia juga yang terlambat datang. "Sulit sekali meminta izin pada atasanku, hyung. Hyung sih enak karena memiliki jabatan tinggi, jadi bisa seenaknya pergi dari kantor kapan saja."

"Kau itu alasan saja!" seorang Kim Joonmyeon rupanya tak mudah percaya meskipun lawan bicaranya memberi alasan kuat. "Padahal jarak tempat kerjamu dari cafe ini hanya tiga ratus meter saja, tapi kau terlambat. Aku sendiri harus menempuh jarak tiga puluh kilometer untuk sampai ke tempat ini, Kim Jongin!"

Lagi-lagi Jongin nyengir polos. "Tapi bukan hanya aku saja yang terlambat 'kan, hyung? Jadi jangan marah-marah terus padaku."

Mendengar pembelaan Jongin, Joonmyeon hanya bisa menghela nafas. Pasalnya, hal yang dikatakan oleh pria yang lebih muda darinya itu merupakan fakta. Ia bukan satu-satunya yang datang terlambat. Masih ada dua orang lagi yang terlambat.

Dan dua orang itu kini sedang balap lari menuju ke meja yang ditempati oleh Joonmyeon dan Jongin.

"Maaf kami terlambat," si pria yang bersuara bass segera meminta maaf sembari mendudukkan dirinya di samping Joonmyeon.

"Iya, hyung. Tadi jalanan sangat macet," pria lainnya yang juga baru saja datang kini mengambil tempat di sebelah Jongin.

Joonmyeon yang sudah kesal kini menatap tajam dua pria tinggi yang tadi datang terlambat. "Dasar duo tiang listrik tukang terlambat! Kalian dari dulu tak pernah berubah. Selalu saja terlambat!"

Setelah suara amukan Joonmyeon menggema di cafe itu, tiba-tiba saja terdengar suara isakan samar disana.

Joonmyeon dan dua pria yang tadi dimarahinya —Chanyeol dan Sehun- segera menoleh ke pusat suara. Dan mereka mengerutkan kening saat mendapati Jongin menangis sesenggukan.

"Ya! Jongin-ah! Kenapa kau menangis? Aku tidak memarahimu. Aku memarahi dua tiang listrik berjalan in—"

"Hiks hiks.." kalimat Joonmyeon terpotong oleh suara isakan Jongin yang bertambah keras.

Joonmyeon pun kini menjadi panik. Ia lupa bahwa Jongin adalah pria sensitif, dan barangkali ada perkataannya yang menyinggung hati Jongin. "Jo-Jongin-ah, sebenarnya kau kenapa?"

Jongin menatap Joonmyeon dengan matanya yang basah dan merah. "H-hyung...kata-katamu tadi membuatku sedih. Hiks..."

Joonmyeon masih belum juga mengerti. Ia sejenak menatap Chanyeol dan Sehun, tapi dua pemuda itu hanya menggelengkan kepala mereka. Akhirnya Joonmyeon kembali menatap Jongin. "Kata-kataku yang mana, Jongin-ah?"

"Ta-tadi hyung menyebut Chanyeol hyung dan Sehun sebagai duo tiang listrik. Itu adalah sebutan baru, hyung. Biasanya hyung menggunakan kata 'trio tiang listrik', tapi sekarang hyung tidak bisa menggunakannya lagi. Huwaaa~"

Jongin menangis semakin keras, tapi kini Joonmyeon tak panik lagi. Ia kini paham pada maksud Jongin, dan kini ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia juga merasa sedih. Sangat sedih.

Chanyeol dan Sehun juga menundukkan kepala mereka. Bahkan Chanyeol terlihat mengusap matanya. Barangkali menghapus air matanya yang hampir menetes.

"Sekarang ia sudah pergi, hyung. Hiks...tak akan ada sebutan trio tiang listrik lagi," Jongin masih menangis meraung-raung. Wajahnya merah sempurna dan basah oleh air mata.

Pria tampan itu rupanya tak peduli lagi pada image-nya. Ia tak peduli jika sekarang seluruh pengunjung cafe sedang menatapnya bingung. Tentu saja para pengunjung cafe bingung. Mereka kini bagaikan sedang disuguhi drama melankolis yang menguras air mata.

Joonmyeon, Chanyeol, dan Sehun juga tak mempedulikan keadaan sekitar. Mereka kini menangis meskipun tak sampai terisak seperti Jongin. Mereka hanya menangis dalam diam.

Empat sahabat itu tak peduli pada tatapan para pengunjung cafe. Yang mereka pedulikan hanyalah hati mereka yang terkoyak. Yang mereka pedulikan hanyalah...kini mereka telah kehilangan sosok seorang sahabat.

Seorang sahabat yang berarti bagi mereka, seorang sahabat yang telah lama bersama mereka, dan seorang sahabat yang sangat mereka sayangi.

Diantara mereka berempat, Jongin memang yang paling sensitif dan cengeng, utamanya jika sudah menyangkut persahabatan. Tak heran jika kini ia menangis heboh. Sungguh kekanakan dan tak sesuai dengan tampilan luarnya sebagai pria manly.

Empat sahabat itu sudah beberapa menit membanjiri lantai cafe dengan air mata.

Merasa sudah terlalu lama menangis, Joonmyeon akhirnya menghapus air matanya dan mendongak menatap tiga sahabatnya. "Aku tak sempat melihatnya untuk kali terakhir. Aku juga tak menghadiri pemakamannya. Sahabat macam apa aku ini?" setetes air mata Joonmyeon kembali jatuh.

Pertanyaan Joonmyeon rupanya membuat Jongin semakin menangis keras. "Hiks...aku juga, hyung. Kemarin lusa aku berada di Jepang karena salah seorang artis di agensiku konser disana. Bibi Wu tak bisa menghubungiku saat itu."

"Aku juga sama," Sehun si muka datar menimpali. "Aku sedang sibuk mengerjakan desain bangunan sebuah mall baru sampai-sampai aku mematikan ponselku selama beberapa hari."

Chanyeol mengusap air matanya, kemudian mendongak menatap Sehun. "Tak jauh berbeda denganku. Aku terlalu fokus menciptakan lagu untuk debut single Sandara noona sampai-sampai aku tak ingin diganggu dan mematikan ponselku selama tiga hari."

Joonmyeon mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya ia bercerita bahwa kemarin lusa ia ada meeting penting dari pagi sampai malam. Ponselnya dibawa oleh sekretarisnya.

Saat Bibi Wu menelepon untuk memberi kabar, sekretarisnya lah yang menjawab telepon itu. Sayangnya, sang sekretaris lupa untuk menyampaikan informasi penting yang ia dapatkan dari Bibi Wu kepada Joonmyeon.

Kemarin sekretarisnya itu langsung dipecat secara tidak hormat oleh Joonmyeon.

Empat sahabat itu sama-sama menyesal.

Kemarin lusa sahabat mereka meninggal dunia, tapi mereka tak tahu. Mereka sama-sama tak tahu karena kesibukan pekerjaan mereka. Kesannya mereka jadi lebih mementingkan pekerjaan daripada persahabatan.

Padahal tidak seperti itu. Bagi mereka, persahabatan adalah segalanya.

Tapi waktu tak bisa diputar kembali. Dua hari lalu Wu Yifan dipanggil oleh sang Maha Kuasa.

Pagi hari pria Wu itu menghembuskan nafas terakhirnya, kemudian sore harinya langsung diadakan upacara pemakaman.

Andai kemarin lusa mereka tak sibuk dengan pekerjaan mereka, pastilah mereka bisa melihat jasad sang sahabat untuk kali terakhir.

Tapi sekali lagi, waktu tak bisa diputar. Hari sudah berganti, dan kemarin pagi mereka baru tahu bahwa sang sahabat telah pergi.

Sepucuk surat yang ditulis langsung oleh sang sahabat yang memberi mereka kabar. Seolah sang sahabat memang ingin mengabarkan secara langsung perihal kepergian-nya kepada mereka berempat. Seolah sang sahabat memang ingin berpamitan secara langsung, bukan lewat mulut orang lain.

Entah sebenarnya kapan surat itu dikirim. Yang pasti, surat itu langsung membawa kesedihan yang mendalam di hati empat sahabat. Surat itu pula yang membuat empat sahabat itu merencanakan pertemuan mereka hari ini. Mereka merasa perlu untuk berkumpul.

Sebelum berkumpul, mereka sudah lebih dulu menghubungi Bibi Wu —ibu Yifan- lewat conference call dan meminta maaf. Tapi Bibi Wu tak merasa harus memberi maaf karena baginya, mereka tak bersalah.

Bibi Wu justru menceritakan penyebab kematian Yifan. Dan cerita itu sangat membuat empat sahabat merasa shock.

"Yifan mengidap kanker otak. Satu tahun lalu penyakitnya masih ada di stadium tiga, tapi rupanya sel kankernya berkembang sangat cepat. Dalam hitungan bulan saja kanker yang diderita Yifan sudah berada di stadium empat. Saat itu dokter berkata pada Yifan bahwa umurnya mungkin hanya tersisa tiga bulan lagi. Dan ternyata itu benar. Tiga bulan setelahnya, Yifan meninggal."

Empat sahabat merasa sangat sedih sekaligus marah pada Yifan. Mereka sangat sedih karena Yifan kini telah tiada, dan mereka marah karena Yifan tak bercerita pada mereka.

Satu tahun lalu mereka bertemu dengan Yifan, tapi Yifan tak berkata apapun. Semuanya tampak baik-baik saja. Yifan memang tampak sedikit lebih kurus dan pucat, tapi saat itu ia beralibi bahwa ia hanya kelelahan karena persiapan pernikahan. Hal itu masuk akal, dan empat sahabat Yifan langsung percaya.

Walaupun saat itu Yifan juga beberapa kali sempat mimisan, tapi para sahabatnya menganggap hal itu wajar karena sejak kecil, Yifan memang sering mimisan apabila terlalu lelah.

Tapi rupanya Yifan tak hanya menyimpan rahasia itu dari mereka. Rupanya Yifan menyimpan rahasia tentang penyakitnya itu dari semua orang. Sang ibu juga tak tahu menahu. Beliau baru tahu tiga bulan lalu, yaitu saat kondisi Yifan memburuk.

Demikian pula dengan istri Yifan. Belahan jiwa Yifan itu juga baru tahu perihal penyakit suaminya sejak tiga bulan lalu. Bibi Wu berkata bahwa istri Yifan sebenarnya sudah curiga dengan gelagat aneh Yifan, tapi Yifan selalu bisa meyakinkan sang istri bahwa dirinya baik-baik saja. Wu Yifan benar-benar berhasil membodohi semua orang.

Tiga bulan lalu sebenarnya Bibi Wu ingin mengabari empat sahabat Yifan, tapi Yifan melarangnya. Yifan tahu bahwa sahabat-sahabatnya sangat sibuk, dan ia tak ingin mengganggu mereka. Yifan juga meyakinkan sang ibu bahwa dirinya akan sembuh, meskipun takdir akhirnya berkata lain.

Joonmyeon, Jongin, Chanyeol, dan Sehun rasanya sangat terpukul. Mereka seperti tak percaya bahwa sahabat mereka kini tak ada di sisi mereka lagi.

Bayangan-bayangan tentang Yifan menyeruak.

Yifan dengan mata tajamnya, namun selalu memancarkan kasih sayang yang besar...

Yifan yang selalu sembunyi-sembunyi ketika menangis karena ia selalu menjaga image-nya...

Yifan yang akan mengamuk jika ada orang yang menyebut giginya tonggos...

Yifan yang kadang memperlakukan sahabat-sahabatnya seperti anaknya, dan kadang bertingkah layaknya seorang ayah yang sangat protective pada buah hatinya...

Dan sederetan bayangan tentang Yifan lainnya. Mereka mengenal Yifan untuk waktu yang sangat lama, jadi pasti ada banyak kenangan yang terselip dalam benak mereka. Semua itu membuat hati terkoyak.

"Tentang surat dari Yifan hyung..." Chanyeol membuka pembicaraan setelah lama hening. Chanyeol sangat dekat dengan Yifan. Mereka bagaikan tiang kembar yang selalu menempel. Tak heran jika kini si happy virus berubah menjadi seorang sad virus karena ia terlalu kehilangan sosok Yifan. "Apa yang akan kita lakukan terkait dengan surat itu?" Chanyeol melanjutkan kalimatnya dengan pertanyaan.

"Jawabanku sudah pasti, hyung. Aku akan memenuhi permintaan Yifan hyung. Itu semua adalah permintaan terakhirnya," Jongin menjawab dengan mantap.

"Kau yakin? Yifan hyung mengharuskan kita untuk tinggal di apartment-nya selama tiga bulan. Lalu bagaimana dengan pekerjaan kita? Jarak kantor kita dengan apartment Yifan hyung sangat jauh. Bukankah kita akan kesulitan untuk bekerja?" tanya Sehun.

Pandangan mata Jongin pada Sehun memancarkan kilat marah. "Kau masih memikirkan pekerjaan? Kau lupa pada apa yang sudah menyebabkan kita tak berada di sisi Yifan hyung untuk terakhir kalinya? Kau lupa pada apa yang menyebabkan kita melewatkan upacara pemakamannya? Kau lupa, hah?"

Melihat Jongin yang mulai tersulut emosi, Joonmyeon akhirnya angkat bicara. "Tenang dulu, Jongin," ujarnya. Selanjutnya ia beralih menatap Sehun. "Kurasa Jongin benar. Sekarang bukan saatnya kita memikirkan pekerjaan. Permintaan terakhir Yifan hyung adalah segalanya. Bukankah kita selalu berjanji untuk mengutamakan persahabatan di atas segalanya?"

Kepala Sehun kini tertunduk dalam. Ia mengingat semuanya. Ia ingat saat mereka berlima duduk berkumpul membentuk lingkaran di padang rumput hijau, lalu menyatukan tangan mereka di tengah, dan mereka akan berteriak... "Persahabatan di atas segalanya!"

Itu adalah motto mereka sejak kecil. Mungkin mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, tapi mereka tak pernah melupakan motto itu.

Sehun juga ingat saat dimana Yifan selalu menjaganya. Sehun kadang menganggap Yifan sebagai sosok ayahnya. Maklum, ayah Sehun sudah tiada sejak usianya sepuluh tahun.

Yifan pernah berjanji pada Sehun untuk selalu menjaganya. Selama ini janji itu selalu ia tepati.

Yifan selalu melindungi Sehun. Dulu Sehun pernah menjadi korban bully, dan Yifan rela babak belur untuk melindungi Sehun. Yifan rela berkorban demi Sehun, karena Yifan sangat menyayangi Sehun. Baginya, kebahagiaan dan keselamatan Sehun adalah segalanya.

"Jangan sungkan untuk menghubungiku ketika kau membutuhkanku. Kau adalah dongsaeng kesayanganku, dan aku akan melakukan segalanya untukmu. Mengerti?"

Kalimat itu selalu Yifan ucapkan pada Sehun, bahkan ketika mereka semua sudah sama-sama dewasa dan bisa hidup mandiri.

Yifan bukannya pilih kasih, tapi ia sadar betul bahwa Sehun adalah sahabatnya yang paling membutuhkan sosok pelindung. Sehun adalah yang termuda, sudah tidak memiliki ayah, dan tentu hal itu membuat Yifan sangat menyayangi Sehun dan bertekad untuk terus menjaga Sehun.

Kini Sehun kembali menitikkan air matanya. Dalam hati ia merasa berdosa karena masih memikirkan masalah pekerjaan di saat darurat seperti ini.

Yifan saja dulu tak pernah memikirkan perihal pekerjaan demi kebahagiaan Sehun.

Tiga tahun lalu misalnya. Yifan rela membatalkan meeting penting di perusahaan ayahnya karena saat itu Sehun membutuhkan dirinya. Saat itu Sehun dikhianati oleh kekasihnya, dan Yifan langsung meluncur ke apartment Sehun yang jaraknya dua puluh lima kilometer dari kantornya untuk menghibur Sehun.

"Aku tak masalah untuk menempuh jarak yang jauh," suara bass Chanyeol menginterupsi keheningan.

Joonmyeon menoleh pada Chanyeol dengan cepat. "Aku juga. Tak masalah untuk menempuh jarak yang sangat jauh asalkan bisa menunaikan wasiat Yifan hyung. Lagipula, aku bisa mengambil cuti jika keadaannya sangat-sangat mendesak."

"Aku bahkan rela mengundurkan diri dari SM Entertainment jika itu memang harus dilakukan," pernyataan Jongin membuat tiga pasang mata menatap kaget padanya. "Kenapa kalian menatapku seperti itu? SM Entertainment selalu mengekangku. Aku tak akan bisa mengambil cuti, jadi lebih baik aku keluar dari agensi kejam itu jika aku dipersulit oleh pekerjaanku saat kita sedang menjalankan wasiat Yifan hyung."

"Kau yakin pada keputusanmu itu, Jongin?" tanya Joonmyeon.

Tanpa ragu Jongin mengangguk. "Tentu saja, hyung. Jika sudah menyangkut persahabatan, aku tak akan memikirkan apapun yang lainnya."

Joonmyeon dan Chanyeol tersenyum pada Jongin. Ada rasa bangga terselip dalam senyum mereka. Mungkin Jongin kadang bertingkah childish dan menyebalkan, tapi sebenarnya Jongin juga memiliki sisi dewasa yang membuat orang lain merasa salut padanya.

Jongin begitu sayang sekaligus hormat pada Yifan. Berita yang ia peroleh kemarin membuatnya sangat kaget dan sedih. Dan kini ketika ia diharuskan untuk mengambil keputusan, ia tanpa ragu mengorbankan segalanya demi memenuhi permintaan Yifan.

Joonmyeon, Jongin, dan Chanyeol sudah mengambil keputusan, dan kini mereka sedang menatap Sehun. Seolah menantikan keputusan yang akan diambil oleh si pria bermarga Oh.

Dari mereka berempat, Sehun memang yang paling terlihat ragu. Sehun memang paling labil dan sering kesulitan jika dihadapkan pada sebuah pilihan berat. Tapi kali ini semoga Sehun berani mengambil keputusan yang paling bijak.

"Aku..." Sehun mulai membuka suara. "Aku akan melakukan apapun agar bisa mewujudkan permintaan terakhir Yifan hyung. Jika nantinya aku akan sering terlambat ke kantor karena jarak yang terlalu jauh, lalu aku dipecat, maka aku akan mencari pekerjaan lain. Pasti masih banyak perusahaan yang bersedia menampung arsitek berbakat sepertiku, 'kan?"

Empat sahabat itu pun tertawa keras setelahnya. Tawa itu seperti menyembunyikan air mata mereka. Tentu tak mudah bagi mereka untuk tertawa setelah mereka kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidup mereka.

Mereka mungkin sekarang bisa tertawa, tapi hati mereka rasanya ingin menangis. Tapi setidaknya, sekarang mereka sudah mengambil keputusan terbaik untuk Yifan. Untuk sang sahabat terbaik.


©The Letter


Empat pemuda tampan terlihat menyeret koper mereka di lorong sebuah apartment mewah. Mereka melangkah mantap tanpa keraguan sedikit pun.

Tak terasa mereka sudah berada di depan sebuah pintu di lantai delapan. Itu adalah apartment yang akan mereka tempati selama tiga bulan ke depan.

Joonmyeon, Jongin, Chanyeol, dan Sehun menghela nafas bersamaan. Empat sahabat itu benar-benar kompak.

Tak berselang lama, Joonmyeon mengulurkan tangannya untuk menekan bel di samping pintu.

Daun pintu berkilau warna coklat itu akhirnya terbuka dari dalam. Menampilkan sosok wanita paruh baya yang sangat dikenal oleh keempat sahabat.

"Kalian sudah datang," wanita paruh baya itu memekik senang. Wajahnya terlihat memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.

Empat sahabat hanya bisa tersenyum kecil, kemudian mereka digiring oleh si wanita paruh baya untuk memasuki apartment mewah itu. Koper yang mereka bawa tentu mengikuti langkah mereka.

Lima orang itu selanjutnya duduk bersama di ruang tamu.

"Jujur, aku tidak tahu isi surat putraku yang dikirim untuk kalian. Kalian hanya memberitahuku bahwa putraku meminta kalian untuk menjaga istrinya, dan aku bahagia saat mendengar keputusan kalian. Aku bahagia karena kalian mengabulkan permintaan terakhir putraku."

Joonmyeon, Jongin, Chanyeol, dan Sehun tersenyum lirih.

Wanita di depan mereka saat ini adalah Bibi Wu. Sosok yang sudah mereka anggap seperti ibu kandung mereka.

Mereka sangat mengenal sosok Bibi Wu. Jadi meskipun kini Bibi Wu terus menampilkan wajah tersenyum, mereka tahu bahwa sebenarnya ada gurat duka tersembunyi di wajah keriput itu.

Menurutmu, siapa yang tidak bersedih jika dirinya baru saja ditinggal oleh sang putra tunggal?

Empat sahabat sangat tahu bahwa Bibi Wu sangat menyayangi Yifan. Jadi mereka bisa membayangkan rasa sedih wanita itu karena mereka juga merasakan kesedihan yang sama.

"Sebenarnya kami baru tadi siang memutuskan untuk mengabulkan permintaan Yifan hyung, bibi," Jongin menimpali setelah beberapa saat. "Yifan hyung selalu baik pada kami, jadi tak ada alasan bagi kami untuk tidak mengabulkan permintaan itu."

Senyum di wajah Bibi Wu semakin terkembang lebar. "Kalian sungguh baik. Bibi hanya bisa mengucap terimakasih," balas Bibi Wu. "Karena kalian sudah ada disini, berarti besok bibi bisa kembali ke rumah. Ayah Yifan masih shock karena kehilangan pewaris tunggalnya, jadi bibi harus menemaninya."

Empat sahabat mengangguk. Benar. Paman Wu pasti shock berat. Ditambah lagi, sang istri tak berada di sampingnya saat ini.

Sekedar informasi, Yifan memang belum mengambil alih perusahaan milik ayahnya. Rencananya Yifan baru akan mewarisi seluruh aset perusahaan saat usianya 30 tahun. Itu artinya, seharusnya tahun depan Yifan akan resmi memiliki perusahaan keluarga Wu. Tapi takdir berkata lain. Tuhan sangat menyayangi Yifan, sehingga Yifan lebih dulu dipanggil ke sisi Sang Pencipta.

Fakta itu tentu membuat ayah Yifan shock. Kehilangan sang putra tunggal tentu membuat seluruh rencana emasnya berantakan.

Bukan salah Bibi Wu juga jika beliau memutuskan untuk menemani sang menantu lebih dulu. Sosok menantunya itu pasti lebih membutuhkan teman untuk saat ini, jadi Bibi Wu memutuskan untuk menemaninya sementara waktu.

Tapi untungnya empat sahabat Yifan sekarang sudah ada disini. Jadi esok hari Bibi Wu bisa berkemas untuk pulang ke rumah.

Suasana hening di ruang tamu tiba-tiba terpecah karena adanya suara langkah kaki manusia yang menuruni anak tangga.

Sontak lima pasang mata di ruang tamu menatap ke sumber suara. Mereka mendapati sosok seorang wanita cantik dengan gaun warna peach selutut dengan hiasan bunga-bunga di bagian bawah, sedang berjalan pelan menuruni tangga.

Wanita berambut hitam panjang itu menghentikan langkahnya di pertengahan tangga, lalu menatap kaget pada empat pria yang ada di ruang tamu.

"Sayang, kenapa berhenti disitu? Kemarilah," Bibi Wu memanggil si wanita muda untuk mendekat. Tangannya ia gerakkan untuk memberi isyarat non verbal pada wanita itu.

Si wanita muda akhirnya kembali berjalan, lalu berhenti lagi ketika sudah sampai di ruang tamu. Wanita itu berdiri dengan canggung disana. Siapa yang tidak canggung jika sedang berdiri di hadapan empat pria super tampan?

"Kalian sudah pernah bertemu dengan menantuku, 'kan?" tanya Bibi Wu pada empat sahabat. Empat sahabat itu mengangguk kecil. "Tapi bibi ingin memperkenalkan dirinya lagi pada kalian," kembali Bibi Wu mengambil jeda. "Jadi, ini adalah istri Yifan yang harus kalian jaga. Ia adalah...Do Kyungsoo."

..

..

TBC


Author's note:

This is the first chapter :)

terimakasih banyak untuk seluruh review yang masuk. juga untuk pembaca yang sudah mem-favorite dan juga mem-follow FF ini^^

maaf kalau yang kemarin ada typo. sering ngeblank kalau lagi ngetik. hehe.

terus, aku perlu mengklarifikasi bahwa aku gak benci sama Kyungsoo. sama sekali enggak benci sama dia. aku sayang Kyungsoo. cuma aku lagi agak labil aja sama exo dan member-membernya sejak Luhan out. maaf yaa... :(

banyak yang tanya tentang Kris. maaf ya dia aku bikin meninggal. tapi dia bakal sering banget disebut di FF ini, dan mungkin bakal ada flashback2 yang memunculkan Kris. jadi maaf buat fans-nya Kris. yang jelas, Kris gak bakal dilupain gitu aja kok^^

FF ini mungkin bakal kental sama unsur friendship-nya. jadi bakal ada banyak moment dimana suho, kai, sehun, sama chanyeol kumpul2 terus rada menggila. hehe. terus bisa dipastikan bahwa FF ini bakal mengandung moment2 kaisoo, hunsoo, chansoo, dan sudo. diusahakan moment-nya merata, walaupun pasti endingnya kyungsoo cuma sama satu pria :) terus ada slight moment kyungsoo sama beberapa pria juga. jadi, ditunggu aja yaa^^

so, mind to review again?

salam sayang, rizdyo12 :*