The Night Without The Moon 2
Baik atau buruk silahkan komen yaaa!
Hampir seminggu lebih telah berlalu sejak bulan mati yang dilaluinya bersama Sasuke. Naruto kembali pada kesehariannya, menjadi suami dan ayah dari dua orang anak. Tidak sepatah kata pun yang terucap tentang malam itu.
Naruto melihat salju yang turun lewat jendela kaca kantornya. Entah mengapa dia jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Sasuke. Naruto telah mengenal Sasuke semenjak Naruto berumur empat tahun. Naruto ingat hari pertama mereka bertemu, dia menangis kencang karena bertengkar dengan Sasuke. Naruto lupa kenapa dia menangis.
Sejak hari itu tidak ada hari yang mereka lewati tanpa bertengkar. Namun entah kapan rasa rindu selalu mengusik jika mereka tidak bertemu sehari saja, membuat Kasan mereka kewalahan jika salah satu dari mereka sakit dan tidak masuk sekolah. Mereka pasti uring-uringan dan dalam kasus Naruto dia akan menangis kencang meminta bertemu Sasuke. membuat ibundanya harus membawanya mengunjungi Sasuke walaupun jika mereka bertemu mereka akan kembali bertengkar. Sikap keduanya ini juga yang akhirnya membuat kedua keluarga mereka berteman akrab.
Pertemanan mereka berlanjut hingga keduanya selalu masuk kesekolah yang sama hingga SMA. Naruto tahu, SMA yang Naruto masuki bukanlah pilihan pertama Sasuke, dia hanya mengikuti pilihan Naruto dikarenakan nilai Naruto tidak memenuhi persyaratan untuk masuk di SMA yang diinginkan Sasuke. Tentu saja Sasuke tidak mengaku. Tapi Naruto tahu.
Naruto juga mengingat betapa bodohnya dia waktu itu. Seharusnya dia sadar arti tatapan yang selalu Sasuke berikan padanya, arti perhatian di sela sindiran yang hanya ditujukan padanya, dan arti senyum getir yang diberikan Sasuke padanya saat dia memberitahu tentang pacar pertamanya. Seharusnya dia tahu.
Dan mungkin karena kutukan pangilan Sasuke padanya atau karena dia benar-benar idiot, dia juga mengesampingkan perasaan aneh yang mulai tumbuh di hatinya. Rasa tidak suka saat melihat gadis-gadis mendekati Sasuke, rasa berdebar setiap melihat senyum langka Sasuke dan rasa terluka saat Naruto sadar dia telah menorehkan luka dihati Sasuke.
Saat kuliah mungkin adalah saat paling kacau yang pernah dialaminya. Semua dimulai dari penyangkalan akan apa yang dirasakannya, cemburu yang memburu setiap salah satu dari mereka mengandeng pacar masing-masing, serta rasa frustasi yang muncul dari hal yang tak terucapkan dari mereka.
Terlalu lama bersama, membuat Naruto takut untuk mengungkapkan perasaan. Yang paling Naruto takutkan adalah mereka tidak akan dapat lagi bersama saat kata itu terucap. Mereka sama-sama ragu untuk melangkah, Naruto begitu takut hubungan yang terbangun selama bertahun-tahun hancur tak berbekas. Karena bayangan kehilangan Sasuke sungguh tidak tertahankan olehnya.
Pada masa kuliah mereka sering sekali bertengkar. Bukan bertengkar yang biasanya mereka lakukan saat remaja. Tapi pertengkaran serius yang membuat mereka menjauh dan enggan bertemu. Dan dalam kekacauan itulah mereka bertemu Sakura dan Hinata. Dua wanita yang entah bagaimana terjerat dalam hubungan rumit antara Naruto dan Sasuke.
Puncak pertengkaran mereka mungkin saat Naruto berkata dia akan menikahi Hinata sebulan setelah kelulusan Naruto dan Sasuke dari Universitas.
Naruto ingat setiap detail kejadian saat itu. Dia ingat setiap hantaman tinju yang Sasuke berikan padanya. Setiap tendangan yang diterimanya. Dan setiap raungan yang Sasuke gaungkan.
Sasuke bahkan tidak mengatakan apapun, dan Naruto tidak memiliki tenaga bahkan hanya untuk menghindar. Namun yang paling menyakitkan melebihi semua lebam dan luka yang diterimanya adalah rasa sakit yang terpancar dari tatapan Sasuke. Naruto melihat sekilas air mata Sasuke sebelum dia meninggalkannya terbaring sendiri dan itu menghancurkan Naruto. Itu adalah tangisan pertama Sasuke yang pernah Naruto lihat.
Kenangan menyakitkan itu membuat Naruto tersadar dari lamunannya. Bahkah setelah 12 tahun berlalu kenangan itu masih menyisakan pedih dihatinya.
Naruto menatap langit yang mulai menggelap, mengingatkannya untuk kembali pulang telah berulang kali mengingatkannya untuk pulang cepat. Dia telah mengundang keluarga Sasuke untuk makan malam bersama.
Naruto mengenakan mantel abu-abunya dan mengambil tas kerja serta kunci mobilnya. Ada rasa enggan bertengger dihatinya. Dia tidak tahu harus memasang wajah seperti apa saat berjumpa Sasuke nanti.
Sasuke mgendarai mobilnya melewati jalanan padat di Konoha. Bersamanya ada istri dan putri mereka. Mereka akan ke kerumah Naruto untuk makan malam. Sasuke telah mencoba untuk menolak, namun Sakura dan Sarada terus menerus membujuknya untuk ikut pergi. Mereka beralasan telah bertahun-tahun keluarga mereka tidak berkumpul bersama. Mendengar itu Sasuke hanya dapat tertawa kecut dalam hati.
Mobilnya memasuki gerbang menuju rumah besar bergaya western berdinding putih. Itu adalah kediaman Naruto, tempat yang hampir seperti rumah kedua bagi sasuke ketika masa kanak-kanak dan remajanya. Dia telah menjelajah setiap lorong dan sudut dari rumah ini. Bagian dari petualangannya dengan sahabat masa lalunya. Dirumah ini juga pertama kali Sasuke mencuri ciuman pertama Naruto dalam tidur sang sahabat.
Mereka disambut hangat oleh Hinata yang terlihat sangat menawan dengan gaun warna hijau muda miliknya. Mereka juga di sambut kedua putra-putri Naruto, putrinya dan Baruto bersekolah di tempat yang sama jadi mereka telah saling mengenal.
Sasuke mngedarkan pandangannya ke sekitar rumah, dia belum melihat sang tuan rumah.
"Naruto masih dalam perjalanan pulang dari kantor, sebentar lagi dia kan datang. Sebaiknya kita ke ruang tamu dulu sambil menunggu Naruto" Hinata seperti menjawab pertanyaan dalam hati Sasuke.
Sasuke hanya duduk terdiam dengan segelas minuman ditangannya. Mendengarkan Sakura dan Hinata mengobrolkan tentang kerinduan mereka yang telah lama tidak bertemu.
Ingatan Sasuke melayang ke perpisahan terakhirnya dengan Naruto. Sekali lagi hatinya terluka. Entah sudah berapa banyak luka yang tertoreh dihatinya, mungkin jika dia dapat melihat bentuk hatinya pasti sudah tak berbentuk.
Sasuke telah berusaha menghilangkan perasaannya pada Naruto. Entah berapa ribu kali dia berusaha mencuci bersih Naruto dari hatinya. Namun itu sia-sia, Naruto telah menjadi permanen disana.
143 malam. Itu jumlah malam yang dihabiskannya dengan Naruto selama 12 tahun ini. Sasuke ingat semuanya dan tanpa Sasuke sadari dia menghitungnya. Hanya pada malam bulan mati dia akan mencintai Naruto sesuka hati. Menumpahkan segala rindu yang menumpuk setiap hari.
Dia ingat persis kapan semua ini bermula. Bagaimana dia bisa lupa, itu adalah malam pesta bujang Naruto.
Terbersit harapan saat itu Naruto akan memilihnya, namun tidak, pagi datang dan dia milihatnya di altar, dengan Sasuke mendampinginya memerankan sahabat terbaik yang pernah ada. Saat itu Sasuke berdoa pada Tuhan Naruto akan menarik tangannya dan membawanya pergi, konyol memang tapi itu tulus dari hati Sasuke.
Sejak malam tanpa bulan di pesta lajang Naruto,entah bagaimana mereka selalu kembali bertemu di tempat dan diwaktu yang sama tanpa janji. Seperti hanya pada saat itu semesta akan memalingkan wajah dan mengabaikan dosa yang mereka perbuat.
Suara pintu dibuka, dan tampa menolehpun dia tahu Naruto telah datang.
"Aku pulang" sapa Naruto
"Touusaaan" Himawari putri kedua Naruto berhambur menyambutnya.
"Kau sudah pulang anata" Hinata berdiri dan menyambut Naruto. Memberinya kecupan singkat saat menyambutnya. Luka kembali tertoreh saat Sasuke melihat adegan itu. Sesering apapun Sasuke melihatnya sakitnya masih sama.
"Coba lihat, Sasuke dan keluarganya telah datang, kau pasti rindu sekali denganya kan? telah bertahun-tahun kalian tidak pernah bertemu"
"Hai Sakuke"
"Hallo Naruto"
Mereka tersenyum formal, mirip senyum yang mereka berikan pada kolega mereka.
Mereka bersikap layaknya teman yang telah lama tidak bertemu. Menayakan kabar masing-masing, bercerita tentang pekerjaan, keluarga, dan cerita-cerita tentang kenangan-kenangan mereka berempat dahulu.
Naruto dan Sasuke lebih banyak terdiam lebih banyak mendengarkan kedua istri mereka bercerita dengan semangatnya hingga Baruto protes karena merasa lapar.
Dimeja makan obrolan kembali berlanjut hingga hidangan penutup telah dihidangkan. Sasuke duduk di sebelah Naruto tanpa sengaja jari kanan kelingking Sasuke menempel pada Jari kelingking Naruto.
Mereka sama-sama sadar sentuhan seringan bulu itu. Tidak ada dari mereka yang mengerakkan tangannya, membiarkan koneksi kecil itu selama mungkin. Mereka merasa benar-benar menyedihkan.
"Kenapa kalian diam sekali malam ini?" Sakura bertanya karena dulu biasanya suaminya paling banyak berbicara jika bersama Naruto.
"Benar, dulu biasanya kalian lewatkan dengan berdebat setiap hari. Bahkan dulu di universitas kalian terkenal sebagai pasangan yang tidak terpisahkan dari fakultas ekonomi" Hinata tersenyum mengingat masa lalu mereka.
"Tapi mungkin yang paling terkenal dari mereka adalah sifat sering gonta-ganti pacar mereka, benarkan?" Sakura menimpali dengan senyum jahil.
"Kami sudah dewasa Sakura" Naruto menanggapinya dengan senyuman.
"Tapi Sakura aku heran, dulu kau paling anti dengan Sasuke karena kau menganggapnya tanpa ekspresi dan playboy. aku penasaran apa yang mengubah pikiranmu hingga kau menikah dengannya" Hinata bertanya pada Sakura yang menanggapinya dengan tertawa.
"kau benar, hingga tahun ketiga kita berkuliah aku benar-benar tidak suka dengan Sasuke. tapi satu kejadian mengubah segalanya, tapi aku tidak akan memberitahumu itu hanya rahasia yang menjadi milikku" jawaban Sakura membuat Hinata tergelak.
Jujur saja Sasuke dan Naruto hampir tidak mengikuti obrolan yang dilakukan istri mereka. Semua indra mereka sedang mereka fokuskan pada ujung kelingking mereka seperti dua orang yang menjaga seutas benang laba-laba agar tidak terputus.
Malam berlalu dengan tawa malam itu di rumah Naruto. Hadiah-hadiah telah saling ditukarkan, dan akhirnya ucapan selamat tinggalpun terucap.
Sasuke kembali pulang bersama keluarganya. Sarada langsung melesat ke tempat tidurnya, menandakan rasa kantuk yang telah melanda.
"Sakura" Sasuke memanggil istrinya yang sedang melangkah ditangga menuju kamar mereka.
"Hmm"
"Maaf" tiba-tiba Sasuke mengucapkan permintaan maaf yang diiringi senyum getir.
"Untuk?" Sakura heran, karena seingatnya Sasuke tidak melakukan apapun yang memerlukan permintaan maaf.
"Cepat istirahatlah, kau ada operasi besok pagi di rumah sakit kan? " Sasuke mengalihkan pembicaraan dengan mengigatkan tentang jadwal operasi yang harus dilakukan Sakura.
"Kau benar, selamat malam Sasuke" Sakura mengindahkan rasa herannya. menginggalkan sang suami yang dia tahu pasti langsung menuju keruang kerjanya. Sasuke memang gila kerja.
Sasuke memasuki ruang kerjanya. menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di sofa. Dirogohnya benda kecil di saku celana. Menatap USB berwarna metalik dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sasuke telah membuat suatu keputusan. Dia tahu apa yang akan dilakukannya akan membawa luka pada orang-orang yang disayanginya. Tapi mungkin inilah yang harus dilakukannya sejak dulu. Dia harus mengetahui akhir kisahnya, satu hal yang dia yakin setelah esok hari tidak akan ada lagi yang terasa sama.
bersambung...
Rencananya cerita ini mau dibuat 2 Chapter tapi ternyata kepanjanggan jadi cerita ini di potong sampai disini. Chapter depan merupakan ending, semoga readers suka sama cerita ini.
Peluk cium buat semua yang baca #rentangkantangan
