Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Bibi Wu (OC)

Rate: T

Length: chaptered [2/?]

Summary for chapter 2:

Joonmyeon, Chanyeol, Jongin, dan Sehun akhirnya bertemu dengan istri Yifan yang bernama Do Kyungsoo. Setelah pertemuan itu, rupanya Kyungsoo paling bisa dekat dan akrab dengan Chanyeol

Previous chapter:

"Kalian sudah pernah bertemu dengan menantuku, 'kan?" tanya Bibi Wu pada empat sahabat. Empat sahabat itu mengangguk kecil. "Tapi bibi ingin memperkenalkan dirinya lagi pada kalian," kembali Bibi Wu mengambil jeda. "Jadi, ini adalah istri Yifan yang harus kalian jaga. Ia adalah...Do Kyungsoo."

..

Chapter 2 (With Chanyeol)

HAPPY READING!


Setelah kembali diperkenalkan oleh Bibi Wu, Kyungsoo tersenyum lembut pada empat sahabat mendiang suaminya. "Senang bertemu dengan kalian lagi," ucapnya sembari sedikit menundukkan kepalanya tanda hormat.

Lagi. Iya, ini adalah kali kedua Kyungsoo bertemu dengan empat pria yang merupakan kawan karib mendiang suaminya. Baru dua kali bertemu membuat mereka masih bersikap formal satu sama lain untuk menjaga norma kesopanan.

"Kami juga senang bertemu denganmu, Kyungsoo-ssi," Sehun yang membalas ucapan Kyungsoo.

"Kumohon jangan bersikap terlalu formal padaku. Tanggalkan embel-embel -ssi di belakang namaku," ujar Kyungsoo. Ia ingin akrab dengan empat sahabat Yifan. Bersikap formal tentu akan menghalangi keinginan sang wanita berambut hitam panjang pemilik mata bundar.

Sehun tersenyum, kemudian kembali menimpali perkataan Kyungsoo. "Kalau begitu, apa lebih baik jika aku memanggilmu dengan sebutan noona?"

Kembali Kyungsoo tersenyum. "Ya. Kurasa itu lebih baik," ucap Kyungsoo lagi. "Oh iya. Di apartment ini hanya ada tiga kamar. Yang satu adalah kamarku dan Yifan oppa yang sekarang aku tempati bersama eomma, dan yang dua bisa kalian tempati. Maid sudah membersihkan dua kamar itu karena eomma berkata bahwa kalian akan tinggal disini."

"Aku sekamar dengan Jongin!" Chanyeol menimpali dengan heboh. Jongin yang namanya disebut hanya menatap malas pada sahabatnya itu. "Kenapa? Kalau kita sekamar, aku bisa menjadi spy yang menyelidiki salah satu pekerja di SM Entertainment. Itu bisa menguntungkan YG Entertainment."

Mendengar pernyataan absurd Chanyeol, Jongin langsung melotot tajam pada sahabatnya itu.

"Sudahlah, lebih baik kita ke kamar. Terserah saja kalian mau berbagi kamar dengan siapa. Aku tak masalah harus sekamar dengan siapa," Joonmyeon menengahi karena ia tahu bahwa pertengkaran Chanyeol vs Jongin tidak pernah menjadi hal baik.

Dua orang itu sebenarnya tak betul-betul bertengkar. Hanya saja, faktor tempat kerja mereka kadang membuat mereka beradu argumen. Bukan rahasia lagi 'kan kalau SM Entertainment dan YG Entertainment selama ini bersaing memperebutkan status sebagai agensi artis terbaik Korea?

"Kalian bisa langsung ke kamar dan istirahat. Aku harus ke supermarket dulu untuk belanja bahan makan malam," tutur Kyungsoo.

Bibi Wu terkejut mendengar penuturan Kyungsoo. "Kau yakin ingin pergi keluar, Soo? Kau bisa meminta maid untuk berbelanja. Tidak perlu pergi keluar jika kau memang belum siap."

Kyungsoo tersenyum. Sejak kemarin lusa Kyungsoo memang sama sekali tak pernah mau keluar dari apartment-nya.

Jangankan berjalan jauh untuk berbelanja, berjalan satu langkah dari pintu apartment saja Kyungsoo tak pernah melakukannya.

Sejak Yifan pergi, Kyungsoo memang lebih suka berada di dalam rumah, terlebih berada di dalam kamarnya. Kyungsoo berusaha tegar. Ia tidak serta merta mengunci bibirnya rapat karena kesedihan, ia tak terus-terusan menangis karena tak rela melepas Yifan pergi, dan ia pun tidak sampai puasa dengan alasan ia sedang berduka.

Kyungsoo tak sampai bertindak seperti itu. Ia masih bisa berpikir rasional. Ia masih memikirkan buah cintanya dengan Yifan yang sampai saat ini masih bernaung di dalam perutnya. Hanya saja, orang awam yang tak mengenal Kyungsoo dengan baik pun pasti tahu bahwa sebenarnya ia hanya berpura-pura tegar. Kehilangan suami yang sangat dicintainya tentu merupakan hal terberat, terlebih ia sedang hamil sekarang.

Kehilangan tentunya adalah hal yang paling buruk bagi setiap manusia. Apalagi Kyungsoo memiliki harapan agar sang suami dapat bertahan.

Tiga bulan lamanya Kyungsoo merawat Yifan yang kondisinya kian buruk kala itu. Selama tiga bulan, Kyungsoo tak hentinya berdoa agar Yifan diberi kesembuhan. Tapi Tuhan berkehendak lain. Ia mengambil Yifan dari Kyungsoo, dan itu membuat Kyungsoo sempat shock dan sedikit kehilangan semangat hidup.

Tapi agaknya hari ini berbeda. Kyungsoo tampak lebih segar dibanding sebelumnya. Sejak bibi Wu berkata padanya bahwa empat sahabat Yifan akan tinggal bersamanya, Kyungsoo tampak bahagia. Kenapa? Itu karena bibi Wu bercerita bahwa itu adalah salah satu keinginan terakhir Yifan. Sebagai istri yang baik, Kyungsoo ingin mewujudkan seluruh keinginan Yifan. Jadilah ia berusaha menyambut sahabat-sahabat Yifan dengan hangat meskipun hatinya masih berduka.

Karena kedatangan empat sahabat Yifan, hari ini Kyungsoo sepertinya ingin keluar dari cangkang tempatnya bersembunyi. Agaknya waktu dua hari sudah cukup bagi Kyungsoo untuk meratapi kepergian Yifan. Sebisa mungkin ia harus cepat move on —walaupun sebenarnya move on bukanlah hal yang mudah-.

Demi keluarganya, demi teman-temannya, demi Yifan, dan demi...bayi yang ada di dalam kandungannya, Kyungsoo harus tetap tegar.

Benih cinta dari Yifan itu merupakan alasan terbesar bagi Kyungsoo untuk cepat move on. Bayi itu adalah warisan terindah yang ditinggalkan oleh Yifan.

Meskipun sekarang perut Kyungsoo belum terlalu buncit dan besar, tapi ia yakin bahwa di dalam sana ada kehidupan yang harus ia jaga. Yifan pasti menginginkan hal itu.

"Bagaimana kalau aku menemani Kyungsoo berbelanja?" tawar Chanyeol.

Kyungsoo sejenak mengerutkan dahi untuk berpikir, tapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk. "Aku senang jika memang oppa bersedia menemaniku."

Oppa. Kyungsoo tahu usia empat sahabat mendiang suaminya. Oleh karena itu, panggilan oppa melantun dengan merdunya dari bibir pink wanita itu.

Kyungsoo tahu bahwa Chanyeol berusia satu tahun lebih tua darinya, Joonmyeon berusia dua tahun lebih tua darinya, dan Jongin-Sehun berusia satu tahun lebih muda darinya.

Sejak dulu Kyungsoo memang selalu menganggap sahabat-sahabat Yifan seperti sahabatnya sendiri. Meskipun sebelum ini mereka hanya sekali bertemu, namun Yifan sangat sering bercerita pada Kyungsoo tentang mereka, dan itu membuat Kyungsoo rasanya seperti mengenal mereka dengan baik.

"Ah, baguslah kalau begitu. Kita berangkat sekarang, ne?" tanya Chanyeol pada Kyungsoo. Setelah melihat Kyungsoo mengangguk, pria tampan itu beralih menatap Jongin. "Bawakan koperku ke kamar kita, Jongin. Aku tetap ingin satu kamar denganmu."

Jongin mencibir Chanyeol. Meskipun Chanyeol lebih tua dari Jongin, tapi tetap saja Chanyeol tak bisa seenaknya memerintah begitu, 'kan?

Tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol. Kadang ia bisa bertingkah seenaknya.

Setelah urusan di apartment sudah beres, Chanyeol segera menarik lengan Kyungsoo untuk keluar dari apartment.

Kyungsoo yang kaget pun hanya bisa menurut. Ia harus membiasakan diri pada sikap aneh Chanyeol —yang sepertinya lupa bahwa wanita yang ia tarik dengan paksa saat ini sedang mengandung-.

Empat orang yang masih berada di dalam apartment Yifan hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat melihat tingkah Chanyeol.


The Letter


Kyungsoo dan Chanyeol sudah sampai di sebuah supermarket.

Letak supermarket itu tak terlampau jauh dari apartment Yifan. Chanyeol mungkin hanya harus menyetir selama sepuluh menit untuk sampai di tempat belanja itu.

"Maaf karena oppa justru harus menemaniku, dan tidak bisa langsung beristirahat," ujar Kyungsoo. Ia dan Chanyeol berjalan berdampingan menuju tempat sekumpulan troli yang bisa mereka gunakan untuk berbelanja.

Begitu mereka sampai di tempat itu dan meraih sebuah troli, tiba-tiba Kyungsoo berhenti bergerak dan membulatkan matanya.

Hal itu membuat Chanyeol bingung. Ia merasa gemas sekaligus heran melihat gelagat aneh Kyungsoo. "Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol.

Mata bulat Kyungsoo kini mengerjap polos ke arah Chanyeol. "Ehm..." suara dengungan Kyungsoo terdengar. "Aku lupa tidak membawa dompet, oppa. Tadi kita langsung pergi dan aku benar-benar lupa. Aku tidak bisa berbelanja karena tidak membawa uang."

Melihat Kyungsoo yang tampak sedih dan putus asa, Chanyeol justru tersenyum simpul.

Pemandangan di depannya saat ini sungguh menggemaskan. Bagaimana bisa seorang ibu hamil yang usianya sudah dewasa bertingkah imut begitu? Rasanya Chanyeol ingin mencubit pipi gemuk Kyungsoo.

"Jangan khawatir. Kita bisa memakai uangku dulu," ujar Chanyeol. Mata Kyungsoo seketika berbinar cerah. "Aigoo, Kyungsoo. Jangan memasang ekspresi seperti itu, atau kau ingin aku cium?"

Blush. Kyungsoo merona. Bagaimana bisa pria yang baru ditemuinya dua kali itu menggodanya secara frontal?

"Ja-jangan bercanda, oppa. Kajja kita masuk. Aku pinjam uang oppa dulu, ya?" tanya Kyungsoo.

Ia lagi-lagi tak sadar bahwa ekspresinya membuat Chanyeol gemas. Lelaki tinggi itu mengangguk kemudian mencubit kecil hidung mancung Kyungsoo, sebelum akhirnya berjalan mendahului Kyungsoo.

Chanyeol meninggalkan Kyungsoo yang sempat mematung beberapa detik, sebelum akhirnya ia berjalan menyusul Chanyeol.

"Oppa menyebalkan!" Kyungsoo menggerutu ketika ia sudah berhasil menyusul Chanyeol.

Dua manusia itu berjalan beriringan, dengan Chanyeol yang mendorong troli di depannya. "Berapa usiamu, hm? Bagaimana bisa wanita dewasa sepertimu bertingkah imut begitu?" Chanyeol tertawa keras, dan itu membuat Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sebal.

Jujur, Chanyeol sebenarnya tak percaya bila dirinya bisa secepat ini akrab dengan Kyungsoo.

Pasalnya, dulu Yifan sering bercerita padanya —dan pada tiga sahabatnya yang lain- bahwa Kyungsoo itu pendiam dan tidak mudah bergaul. Tapi nyatanya apa? Si happy virus Chanyeol dengan mudahnya akrab dengan Kyungsoo. Barangkali sifat periang Chanyeol membawa keberuntungan saat ini.

"Jadi, kau ingin belanja apa, Soo?" Chanyeol bahkan memanggil Kyungsoo dengan nama panggilan yang terdengar akrab.

Dan sepertinya Kyungsoo tak keberatan karena ia langsung tersenyum manis. "Aku ingin belanja bahan makanan untuk satu minggu, oppa. Biasanya aku memang tidak belanja bulanan, tapi belanja mingguan. Tak apa 'kan kalau aku meminjam uang oppa dulu?"

Kini giliran Chanyeol yang tersenyum. "Tidak usah meminjam, Soo. Aku dan yang lainnya akan menumpang di apartment-mu selama tiga bulan, jadi kami harus membayar uang sewa, 'kan?"

Sebelum menjawab pertanyaan Chanyeol, Kyungsoo menghentikan langkahnya untuk melihat-lihat daging sapi segar yang sudah dikemas apik dalam kemasan. Chanyeol pun jadi ikut berhenti berjalan.

"Kalian tidak perlu membayar, oppa. Kalian tinggal di apartment kami juga karena permintaan terakhir Yifan oppa, 'kan?" Kyungsoo balas bertanya sembari memasukkan beberapa kemasan daging segar kualitas terbaik ke dalam trolinya.

"Ngomong-ngomong tentang hal itu, sebelum kami bercerita pada bibi Wu, apa kau sudah tahu bahwa itu adalah permintaan Yifan hyung pada kami?"

Kyungsoo lanjut berjalan, dan Chanyeol mengekor di belakangnya. "Aku tidak tahu, oppa. Ia menyuruhku untuk mengirimkan surat itu pada kalian, tapi aku sama sekali tak tahu isinya. Bisakah oppa memberi tahuku tentang semua isi surat itu?"

Ah! Rupanya Kyungsoo yang sudah mengirimkan surat itu pada empat sahabat Yifan.

Begitu selesai bertanya, Kyungsoo menghentikan langkahnya dan menatap Chanyeol serius.

Mau tak mau Chanyeol juga menghentikan langkahnya. Ia berpikir tentang isi surat Yifan, kemudian memutuskan untuk bercerita. "Ia memiliki beberapa keinginan yang harus kami wujudkan," Chanyeol memulai. "Yang pertama, ia ingin kami tak bersedih dan tak menangis setelah ia pergi. Yang kedua, ia ingin kami menjagamu selama tiga bulan. Dan..." Chanyeol menggantung ucapannya saat ia teringat sesuatu.

Ya, sesuatu. Sesuatu perihal permintaan ketiga Yifan yang tidak boleh diketahui oleh Kyungsoo. Hampir saja Chanyeol mengungkapkan hal yang semestinya menjadi rahasia. Mulut besar Chanyeol memang harus dijahit supaya tidak seenaknya bicara.

"Dan apa, oppa?" tanya Kyungsoo dengan nada penasaran.

Chanyeol mengerjap bingung. Ia hampir keceplosan, dan kini ia membuat Kyungsoo penasaran. "Ehm...dan kami tentu saja ingin mewujudkan dua keinginan Yifan hyung itu. Ya. Tentu saja," akhirnya Chanyeol menemukan satu jawaban yang ia harapkan mampu memupus rasa penasaran Kyungsoo.

Saat ini Kyungsoo menatap Chanyeol ragu. Ada sisi hatinya yang merasa kurang yakin pada jawaban Chanyeol, tapi akhirnya ia tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih karena sudah menjadi sahabat yang baik untuk Yifan oppa."

Kini Chanyeol yang mengangguk. "Ayo kita lanjut berbelanja."

Akhirnya dua manusia itu kembali berjalan, dan berhenti lagi di bagian sayuran. Kyungsoo mengamati wortel segar di depannya.

"Oh iya, Soo..." suara Chanyeol terdengar lagi, dan Kyungsoo hanya bergumam menanggapinya. "Dalam suratnya, Yifan hyung bilang pada kami bahwa kau sedang hamil. Apa kondisi kehamilanmu baik-baik saja?"

Kyungsoo menghela nafas, lalu memasukkan beberapa kemasan wortel segar ke dalam troli. "Saat usia kehamilanku baru satu bulan, aku mendengar kabar tentang penyakit mematikan Yifan oppa. Saat itu tentu aku shock berat, tapi bayi ini sangat kuat hingga ia mampu bertahan," Kyungsoo mengusap perutnya yang masih belum terlalu besar dengan ekspresi wajah sendu.

Chanyeol masih diam. Ia tahu bahwa cerita Kyungsoo belum berakhir.

"Saat usia kandunganku empat bulan, kembali aku dihadapkan pada sebuah realita berat. Bayiku harus berpisah dengan ayah kandungnya, bahkan sebelum mereka sempat berjumpa di dunia. Aku sempat shock berat saat itu. Bayi ini juga sepertinya merasakan hal yang sama karena saat ayahnya meninggal, perutku rasanya sangat sakit."

Chanyeol menatap Kyungsoo dengan tatapan sedih. Ia bisa melihat air mata menggenang di pelupuk mata bulat Kyungsoo, dan rasanya hatinya menjadi perih.

Ia ingin melindungi Kyungsoo. Terlepas dari permintaan terakhir Yifan untuk menjaga Kyungsoo, Chanyeol saat ini ingin menjaga Kyungsoo karena hatinya sendiri berkata demikian. Mungkin dengan menjadi sahabat dekat Kyungsoo, Chanyeol bisa menjaga Kyungsoo dengan baik.

Tak kuasa melihat Kyungsoo yang rapuh, Chanyeol akhirnya memeluk Kyungsoo. Ia kini percaya bahwa Yifan benar. Kyungsoo terlihat tegar di luar, tapi sangat rapuh di dalam.

"Aku dan yang lainnya akan selalu menemanimu, Kyungsoo. Dan meskipun Yifan hyung hanya meminta kami untuk menjagamu selama tiga bulan, tapi aku bertekad untuk menjagamu selamanya."

Kyungsoo tertegun mendengar uraian kalimat Chanyeol. Nada bicara Chanyeol terdengar sangat tulus, dan hal itu membuat hatinya menghangat.

Secara perlahan Kyungsoo mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Chanyeol. Tiba-tiba saja ia merindukan pelukan Yifan, dan air matanya semakin mengalir...

"Jika kau bersedih, maka aku akan memelukmu seperti ini, sayang. Bukankah pelukan ini terasa hangat dan menenangkan? Aku akan selalu berada di sampingmu dan membuatmu tenang."

Itu adalah kata-kata Yifan pada suatu ketika, kira-kira dua bulan setelah mereka menikah. Saat itu Kyungsoo bersedih karena ia merindukan orang tuanya, dan Yifan memeluknya dengan penuh kasih sayang.

Kyungsoo selalu merasa nyaman dalam pelukan Yifan. Dan pelukan Chanyeol membuatnya teringat pada pelukan Yifan.


The Letter


Jam makan malam sebentar lagi akan tiba, namun dua manusia di dapur apartment Keluarga Wu masih berkutat dengan masakan mereka.

"Aku tidak menyangka oppa pandai memasak," Kyungsoo perlahan meletakkan piring saji di atas meja.

Sosok tinggi di sampingnya tersenyum manis. Tangannya sibuk menuang masakan yang sudah matang ke piring saji yang tadi diletakkan oleh Kyungsoo. Menu makan malam kali ini rupanya didominasi oleh olahan daging sapi yang terlihat sangat menggiurkan.

"Aku tinggal sendirian di apartment-ku, dan aku sedikit demi sedikit belajar memasak," ujar si pria tinggi. "Tapi skill memasakku masih di bawahmu, Kyungsoo. Kau lebih pintar memasak daripada aku. Kau berpotensi menjadi chef berbakat."

Kali ini Kyungsoo yang tersenyum. Tangannya sibuk menghias makanan di depannya supaya lebih terlihat cantik. "Kau berlebihan, Chanyeol oppa."

Chanyeol terkekeh, kemudian tangannya mencomot sepotong daging sapi dari atas piring yang sedang dihias oleh Kyungsoo. Menghadirkan satu tatapan tajam di mata Kyungsoo.

Dua manusia itu asyik bercanda. Sejak mereka berdua berbelanja di supermarket sore tadi, mereka memang menjadi sangat dekat.

Mereka memutuskan untuk memasak bersama sembari mengobrol ringan. Membicarakan hal-hal ringan, namun membuat mereka menjadi tahu karakter satu sama lain.

Kyungsoo tahu bahwa Chanyeol adalah pria yang ceria, tak bisa diam, dan menyenangkan. Suara berat pria itu tak hentinya melontarkan lelucon yang membuat Kyungsoo tertawa.

Dan Chanyeol tahu bahwa Kyungsoo adalah wanita yang baik hati, mandiri, dan dewasa. Tapi di balik sisi dewasanya, Kyungsoo juga memiliki sisi lucu dan manis. Mungkin hal itu yang membuatnya berhasil menjerat hati seorang pria dingin macam Wu Yifan.

Meskipun Kyungsoo selalu tersenyum seolah ia baik-baik saja, namun Chanyeol tahu bahwa sesungguhnya Kyungsoo belum bisa move on dari mendiang suaminya. Hal itu membuat Chanyeol bertekad untuk membantu Kyungsoo move on, entah bagaimana caranya.

"Ehem," suara deheman seorang pria membuat tawa Chanyeol dan Kyungsoo terhenti. Mereka menoleh ke sumber suara, dan mendapati seorang Oh Sehun sedang menatap datar pada mereka berdua. "Aku sudah sangat lapar, noona~"

Rengekan manja si magnae membuat Kyungsoo tersenyum simpul. Meskipun ia belum terlalu mengenal Sehun, tapi ia bisa menebak bahwa Sehun adalah pria yang sedikit manja —walaupun wajahnya sering terlihat datar-.

"Tunggu saja di meja makan. Makanan sebentar lagi siap," tukas Kyungsoo. "Oh iya. Jangan lupa panggil Joonmyeon oppa dan juga Jongin. Nanti aku akan memanggil eomma."

Sehun mengangguk, kemudian segera beranjak meninggalkan dapur. Dalam hati ia sempat bertanya-tanya saat melihat keakraban Kyungsoo dan Chanyeol.

Ia tak menyangka jika dua orang itu akan cepat sekali akrab. Bagaimanapun juga, ia ikut senang jika noona dan hyung-nya itu senang.


The Letter


Meja makan persegi panjang di apartment Kyungsoo kini dipenuhi oleh enam manusia.

Seorang wanita yang usianya paling tua kini menempati sisi pendek meja itu. Tiga orang pria menempati satu sisi panjang meja itu, dan sepasang pria dan wanita berada di sisi panjang yang lain.

"Wah...makan malam kali ini menunya special sekali, Soo-ya. Eomma rasanya sudah lama tidak merasakan masakanmu," Bibi Wu membuka suara seraya matanya berbinar menatapi satu demi satu makanan yang berjajar rapi di meja panjang itu.

Sejak Yifan meninggal, Kyungsoo tak sekalipun menapakkan kakinya ke dapur. Padahal wanita berkulit putih itu sangat gemar memasak, tapi kepergian sang suami membuatnya enggan meracik bumbu yang bisa menghasilkan makanan enak.

Namun hari ini Kyungsoo sepertinya sudah bangkit. Hal itu terbukti dari sederetan menu yang tersaji di meja makan.

"Ini bukan masakanku sendiri, eomma. Chanyeol oppa juga ikut memasak," kata Kyungsoo.

Bibi Wu tersenyum simpul, lalu memimpin doa untuk memulai acara makan malam. Begitu mereka semua selesai berdoa, mereka mulai mengisi piring kosong mereka dengan nasi dan lauk yang sudah tersaji.

"Wah! Ini enak!" suara pekikan Jongin terdengar. Rupanya pria tan itu sudah langsung memasukkan lauk yang ia ambil ke dalam mulutnya.

"Benarkah? Itu aku yang memasak," Chanyeol menimpali penuh semangat.

Dengan sebal Jongin menatap Chanyeol. "Tidak mungkin. Ini bukan masakanmu, Park," selanjutnya Jongin mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo. "Ini masakan noona, 'kan?"

Kyungsoo hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jongin. Ia belum mengenal Jongin lebih dekat, jadinya ia merasa canggung pada Jongin.

Setelah pujian yang dilontarkan oleh Jongin, tak ada lagi yang bersuara. Enam orang itu menikmati makan malam mereka dengan tenang.

Beberapa menit berlalu, dan menu di meja makan semuanya sudah habis tak bersisa.

Kyungsoo tersenyum puas karena makanan yang ia masak bersama Chanyeol dapat diterima dengan baik oleh sahabat-sahabat Yifan.

Tak berselang lama, Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Bibi Wu. "Eomma, besok aku ingin ke kantor. Ada beberapa urusan pekerjaan Yifan oppa yang harus aku tangani."

Sebelum berstatus sebagai istri Yifan, Kyungsoo adalah sekretaris pribadi Yifan di perusahaan.

Yifan sendiri menjabat sebagai Chief Marketing Officer atau direktur pemasaran di kantor sang ayah. Ayah Yifan memang memberi tantangan untuk Yifan agar Yifan bekerja dari level bawah sebelum ia menempati posisi tertinggi di perusahaan yaitu sebagai CEO. Tahun ini Yifan sudah menjadi salah satu direktur di perusahaan, dan tahun depan seharusnya Yifan akan naik jabatan.

Kembali pada Kyungsoo. Sejak menikah dengan Yifan, Kyungsoo tak lagi bekerja di kantor. Hanya saja, kepergian Yifan agaknya membuat Kyungsoo sedikit banyak harus mengurus tugas-tugas Yifan setidaknya sampai ada orang yang menggantikan posisi Yifan.

"Kau yakin akan mengurus pekerjaan Yifan?" tanya Bibi Wu.

"Hanya untuk sementara, eomma. Yifan oppa berpesan padaku untuk mengambil alih pekerjaannya untuk sementara waktu. Setidaknya sampai ada direktur yang baru, yang bisa menggantikan posisi Yifan oppa," jawab Kyungsoo.

Bibi Wu menghela nafas. "Sebenarnya kau bisa mengisi posisi Yifan itu, Kyungsoo. Kau bisa menempati posisi sebagai direktur pemasaran setelah kau melahirkan. Eomma dan appa mempertimbangkan dirimu untuk menjadi pewaris perusahaan kita."

Mata Kyungsoo membulat, sedangkan empat sahabat Yifan saat ini memilih diam.

Bagaimanapun juga, topik yang saat ini sedang dibahas adalah masalah keluarga Wu yang sebenarnya merupakan privacy.

"Tidak, eomma," akhirnya Kyungsoo bersuara setelah lama terdiam. "Yifan oppa memintaku untuk tidak bekerja, dan hanya fokus mengasuh anak kami. Aku hanya akan sementara saja mengurus pekerjaan Yifan oppa."

Bibi Wu tersenyum simpul mendengar penolakan sang menantu. Ia tahu betul bahwa menantunya itu sangat patuh pada perintah suaminya.

Padahal menjadi pewaris tunggal sebuah perusahaan besar adalah keuntungan luar biasa bagi wanita seperti Kyungsoo. Apalagi Kyungsoo berasal dari keluarga kelas menengah yang tentu membutuhkan banyak uang.

Tapi rupanya Kyungsoo lebih memilih untuk menuruti permintaan mendiang suaminya. Sungguh istri yang berbakti.

"Ya sudah kalau itu memang keputusanmu," Bibi Wu akhirnya mengalah. "Tapi kau tidak boleh berangkat ke kantor sendirian. Eomma akan mengirim salah satu sopir keluarga Wu kemari agar bisa mengantarmu ke kantor."

"Aku bisa naik taksi, eomma."

"Tidak, Soo..."

"Ehem," suara deheman Joonmyeon merenggut atensi Bibi Wu dan Kyungsoo yang sedikit berselisih paham. "Maaf kalau saya terkesan ikut campur, tapi Kyungsoo bisa berangkat bersama salah satu dari kami, bibi."

Bibi Wu tampak mempertimbangkan usulan Joonmyeon, kemudian ia tersenyum simpul. "Itu ide yang bagus," ujarnya. Selanjutnya wanita paruh baya itu menatap menantunya. "Kau setuju 'kan, Soo? Sahabat-sahabat Yifan akan menjagamu."

Seluruh pasang mata kini menatap Kyungsoo penuh harap. Mau tak mau Kyungsoo jadi salah tingkah karena tatapan itu. "A-ah...b-baiklah kalau begitu," akhirnya Kyungsoo memutuskan. "Bisakah aku...berangkat bersama Chanyeol oppa?"

Semua pasang mata yang ada di ruang makan saat ini tampak terkejut mendengar pertanyaan Kyungsoo.

Pasalnya, mereka tak menduga jika Kyungsoo akan secara khusus meminta untuk berangkat bersama Chanyeol. Hubungan mereka memang sudah dekat, tapi semua orang belum terlalu mengetahui hal itu.

"Aku sebenarnya mau-mau saja berangkat denganmu, Soo," Chanyeol menimpali. "Tapi sayangnya, arah perusahaan Yifan hyung dan tempatku bekerja bisa dibilang berlawanan, dan jaraknya sangat jauh. Sepertinya aku tidak bisa berangkat bersamamu. Mianhae," imbuhnya penuh penyesalan.

Raut sesal yang sama muncul di wajah Kyungsoo.

Melihat hal itu, Joonmyeon angkat bicara. "Kyungsoo bisa berangkat dengan Jongin maupun Sehun. Arah tempat mereka bekerja sama dengan arah ke perusahaan Yifan hyung."

"Benarkah?" tanya Kyungsoo.

Joonmyeon mengangguk. "Benar. Jadi, kau bisa memilih untuk berangkat ke perusahaan Yifan hyung dengan siapa. Untuk besok, kau ingin berangkat dengan Jongin atau Sehun?"

Kyungsoo mengedipkan matanya bingung, lalu menatap bergantian pada Jongin dan Sehun yang duduk di hadapannya.

Kim Jongin. Yifan pernah bercerita padanya bahwa Jongin itu tidak mudah akrab dengan orang asing. Ia terlalu pemalu, dan kadang suka jaga image —Kyungsoo tidak tahu saja jika tadi siang Jongin menangis meraung di cafe tanpa mempedulikan image-nya-.

Oh Sehun. Yifan pernah bercerita padanya bahwa di balik poker face seorang Oh Sehun, terdapat jiwa kekanakan yang luar bisa. Sehun itu manja, dan sangat menggemaskan. Bisa dibilang, Sehun adalah adik kesayangan Yifan.

Sepertinya Kyungsoo sudah tahu ia ingin pergi ke perusahaan dengan siapa.

"Kalau begitu, aku ingin pergi bersama...

.

.

.

Sehun."

..

..

TBC


Author's note:

saya memberikan moment Chansoo di chapter ini :D tapi sesuai dengan kata-kataku di chapter sebelumnya, di FF ini akan ada banyak couple. chansoo cuma satu diantara couple2 yang lain. bisa dipastikan kalau di chapter selanjutnya akan ada moment couple lain. jadi, para shipper couple lain jangan berkecil hati dulu ya :)

ada yang tanya: "ini bakal official pairing atau crack pairing?"

aku gak usah jawab pertanyaan itu sekarang ya? pertanyaan itu akan terjawab seiring berjalannya waktu. hehe. yang jelas, untuk ke depannya bakal muncul member exo yang lain sebagai cast.

yak~ terimakasih banyak yg udah ngasih review, terus jg yang udah pencet pilihan follow dan juga favorite. FF ini bakal selalu fast update seperti biasanya. mungkin jam-jam segini aku bakal update :)

salam sayang, rizdyo12 :*