Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned and flashback), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Tao EXO as Huang Zitao

Rate: T

Length: chaptered [3/?]

Summary for chapter 3:

Sehun akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bisa mengenal Kyungsoo lebih dekat. Tapi Sehun ternyata memiliki rencana terkait dengan permintaan Yifan yang tertuang dalam suratnya. Bagaimana rencana itu akan berjalan?

Previous chapter:

Oh Sehun. Yifan pernah bercerita padanya bahwa di balik poker face seorang Oh Sehun, terdapat jiwa kekanakan yang luar bisa. Sehun itu manja, dan sangat menggemaskan. Bisa dibilang, Sehun adalah adik kesayangan Yifan.

Sepertinya Kyungsoo sudah tahu ia ingin pergi ke perusahaan dengan siapa.

"Kalau begitu, aku ingin pergi bersama...Sehun."

..

Chapter 3 (Sehun's Plan)

HAPPY READING!


Di pagi hari yang cukup cerah ini, jalanan Kota Seoul sudah dipenuhi banyak kendaraan. Aneka macam kendaraan terlihat berlalu lalang di atas aspal yang mulus.

Meskipun belum masuk dalam kategori macet, namun banyaknya kendaraan itu cukup membuat mobil Sehun hanya bisa melaju dalam kecepatan sedang.

Hal itu sebenarnya tidak masalah karena ia memang tak sedang dikejar waktu, dan ia sama sekali tak perlu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Lagipula, di sampingnya kini tengah duduk manis seorang wanita hamil yang harus ia jaga.

Ya. Sehun kini sedang mengendarai mobilnya bersama Kyungsoo. Hal itu membuat Sehun harus ekstra hati-hati, karena di mobilnya itu tak hanya ada satu nyawa, melainkan ada tiga nyawa. Sehun harus ekstra waspada.

Tadi seluruh penghuni apartment Kyungsoo berangkat bersamaan. Chanyeol dan Jongin melaju dengan mobil masing-masing menuju dua agensi tempat mereka bekerja —yang arahnya berlawanan-.

Joonmyeon juga sama. Ia melaju dengan mobil mewahnya menuju kantornya, tapi ia tak sendirian. Ia bersama bibi Wu karena kebetulan arah rumah keluarga Wu sama dengan arah kantor Joonmyeon.

Bibi Wu benar-benar meninggalkan apartment Kyungsoo karena sekarang Kyungsoo sudah memiliki empat malaikat pelindung yang akan menjaganya. Saat berpamitan tadi, bibi Wu menegaskan pada Kyungsoo bahwa dirinya akan sesekali mampir untuk mengunjungi Kyungsoo. Bibi Wu juga meminta Kyungsoo agar tidak sungkan untuk menghubunginya apabila terjadi sesuatu.

Kyungsoo beruntung karena memiliki ibu mertua yang begitu perhatian dan sayang padanya. Walaupun kini status Kyungsoo sebagai menantu sudah tidak kuat lagi pasca meninggalnya Yifan, tapi rupanya keluarga Wu tetap memperlakukan dirinya dengan baik.

Baiklah. Kita tinggalkan cerita tentang bibi Wu tadi. Kini kita kembali lagi pada Oh Sehun yang saat ini sedang fokus menyetir.

Sedari tadi Kyungsoo di sampingnya hanya diam seraya terus memandang keluar jendela. Sepertinya pemandangan di luar jendela lebih menarik dibanding wajah Sehun. Benarkah demikian? Entahlah. Hanya Kyungsoo yang tahu jawabannya.

Suasana awkward itu rupanya membuat Sehun jengah. "Noona tidak suka pergi bersamaku, ya?"

"Uh?" Kyungsoo menoleh pada Sehun dengan ekspresi kaget dan ia tampak bingung. Setelah beberapa detik menatap Sehun sambil berpikir, akhirnya ia paham apa maksud ucapan Sehun. "Tidak begitu, Sehun-ah. Aku suka pergi bersamamu karena kau adalah sahabat Yifan oppa. Sahabat Yifan oppa juga merupakan sahabatku."

Sehun tersenyum lirih tanpa menatap balik Kyungsoo. Ia diterima oleh Kyungsoo hanya karena ia merupakan sahabat Yifan. "Tapi aku yakin noona akan lebih senang jika bisa pergi bersama Chanyeol hyung. Kalian cepat sekali akrab," ujar Sehun.

Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari Sehun, dan menundukkan kepalanya. Memandangi rok coklat tua berbahan kain yang kini dipakainya. "Tidak seperti itu," ucap Kyungsoo lirih. "Hanya saja, Chanyeol oppa sangat menyenangkan dan membuatku nyaman. Tapi bukan berarti aku tak senang ketika bersamamu dan yang lainnya. Mungkin aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk bisa akrab dengan kalian."

Kembali Sehun tersenyum. "Aku mengerti, noona. Tapi aku ingin membuat noona nyaman ketika bersamaku. Meskipun dari luar aku terlihat dingin, tapi sebenarnya aku ini pribadi yang hangat, noona."

Kyungsoo akhirnya mendongakkan kepalanya dan kembali menatap Sehun. Ia mendapati pemuda di sampingnya sedang terkekeh geli sembari terus memandang ke depan. Sepertinya Sehun menertawakan sikap narsis-nya sendiri.

Mungkin Sehun benar. Mungkin Sehun memang pribadi yang hangat.

Kyungsoo bertekad untuk lebih membuka diri dan percaya pada Sehun. Lagipula, Sehun sendiri bertekad untuk membuatnya merasa nyaman.

Tak berselang lama setelah pembicaraan mereka berakhir, mobil Sehun berhenti di depan sebuah bangunan pencakar langit. Itu adalah perusahaan milik keluarga Wu. Tandanya, Kyungsoo sudah tiba di tempat yang menjadi destinasinya.

Dengan segera wanita bertubuh mungil itu melepas seatbelt-nya, kemudian menatap Sehun. "Gomawo sudah mengantarku dengan selamat," ucapnya.

Tawa renyah terdengar dari mulut Sehun. "Tidak perlu canggung begitu, noona," balasnya. "Oh iya, nanti noona pulang jam berapa?"

"Eomma berpesan padaku untuk tidak pulang lebih dari jam lima sore. Nanti aku bisa naik taksi. Kau tenang saja," jawab Kyungsoo.

Dengan cepat Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku akan mengantar noona pulang. Jadi noona tidak boleh naik taksi."

"Apa aku tidak merepotkanmu?" tanya Kyungsoo. Kembali Sehun menggeleng, dan Kyungsoo hanya bisa menghela nafas pasrah. "Baiklah kalau begitu. Nanti sore aku akan menunggumu."

Kyungsoo sepertinya harus membiasakan diri dikelilingi oleh manusia-manusia over protective. Kemarin ibu mertuanya yang posesif, dan sekarang Sehun pun demikian.

"Sampai jumpa nanti sore, noona," ujar Sehun seraya mengusak rambut hitam Kyungsoo.

Kyungsoo sempat membeku menerima perlakuan Sehun itu.

Tak ada orang yang mengusak rambutnya seperti itu selain Yifan, dan usakan Sehun barusan membuatnya merasa aneh.

Ia jadi merindukan Yifan. Ia merindukan segala perlakuan manis dan lembut mendiang suaminya itu. Ia jadi teringat pada kencan pertama mereka. Saat itu adalah kali pertama Yifan mengusak rambutnya dengan romantis...

Flashback

Kencan pertama. Semua orang berharap agar bisa memiliki sebuah kencan pertama yang sempurna. Tak terkecuali seorang Do Kyungsoo.

Hari ini adalah kali pertama dirinya berkencan dengan sang kekasih baru yang bernama Wu Yifan. Baru tiga hari mereka memadu kasih, dan baru hari ini mereka sempat berkencan.

Kyungsoo menginginkan sebuah kencan pertama yang sempurna. Tak heran jika kini gadis manis itu berdandan maksimal.

Tapi dandanan Kyungsoo justru membuat Yifan gemas. Pasalnya, kekasihnya itu tidak pernah memakai make-up tebal, tapi sekarang gadis itu memakai make-up yang cukup tebal. Membuat Yifan sedikit mengejek gadisnya ketika keduanya berjalan bersama sembari bergandengan tangan di taman kota.

"Apa kau memakai lipstick di kedua pipimu, sayang? Kenapa pipimu sangat merah begitu?" goda Yifan.

Kyungsoo merengut, lalu menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya —sebelumnya ia melepas genggaman tangan Yifan lebih dulu-. "Uh! Ini blush on, oppa. Bukan lipstick!"

Yifan tertawa keras. Suara tawa yang sangat jarang dipamerkannya, jika ia tidak sedang bersama Kyungsoo atau tidak sedang bersama sahabat-sahabatnya.

Sebenarnya Yifan tahu bahwa warna merah yang melekat di pipi Kyungsoo itu berasal dari blush on. Tapi sungguh, Kyungsoo memakai blush on terlalu tebal sehingga pipinya menjadi sangat merah sekarang.

Yifan lama-lama gemas karena Kyungsoo terus menutupi wajahnya dengan tangan. Dengan lembut ia akhirnya menarik dua tangan Kyungsoo agar terlepas dari wajahnya. "Jangan ditutupi seperti itu, sayang. Nanti warna merahnya jadi terhapus," ejekan Yifan itu membuahkan sebuah pukulan 'sayang' dari Kyungsoo di lengannya. "Haha, aku hanya bercanda. Kau tetap cantik meskipun pipimu berubah warna menjadi biru. Kau tenang saja. Arra?"

Kyungsoo menatap Yifan dengan mata bulatnya yang polos. Kalimat Yifan terdengar sangat tulus, dan itu seolah menjadi mantra di telinganya. Karena hal itu, Kyungsoo pun akhirnya mengangguk. Ia percaya bahwa Yifan berkata jujur padanya.

Yifan kini tersenyum sangat manis karena melihat tingkah polos sang kekasih. Dengan pelan ia mengangkat tangan kanannya, lalu menjatuhkan tangan itu ke atas kepala Kyungsoo. Ia kemudian mengusak rambut Kyungsoo yang sudah ditata rapi. "Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu."

Jika bukan karena kalimat Yifan yang sangat manis, Kyungsoo pasti sudah memaki Yifan karena prianya itu sudah menghancurkan tatanan rambutnya.

Kalimat manis Yifan membuat Kyungsoo tak bisa marah. Yang ada, gadis mungil itu justru kini tersenyum bahagia.

Flashback End

Kyungsoo tersenyum sedih begitu memori itu menyergap benaknya. Memori itu sangat manis, tapi jadinya terasa pahit ketika sekarang hanya bisa diingat, tanpa bisa diulangi kembali.

Karena tak ingin Sehun melihat raut sedihnya, Kyungsoo kemudian hanya bisa tersenyum lemah pada Sehun, lalu segera beranjak keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju kantornya.

Sehun masih belum bergeming dari posisinya. Ia menatap punggung sempit Kyungsoo yang semakin menjauh.

Wanita cantik itu hari ini mengenakan kemeja putih yang cukup ketat hingga lekukan di perutnya tadi terlihat cukup jelas. Itu adalah kemeja lama Kyungsoo sebelum ia hamil. Ia belum sempat membeli kemeja kerja yang baru.

Perut buncit Kyungsoo yang di dalamnya bernaung buah cintanya dengan Yifan tadi terlihat jelas.

Sehun harus ingat, Kyungsoo adalah calon ibu yang harus ia jaga dengan sepenuh hati. Sebisa mungkin Sehun harus bisa membuat Kyungsoo merasa nyaman. Apakah Sehun harus bertingkah konyol seperti Chanyeol agar Kyungsoo bisa merasa nyaman ketika bersamanya? Mungkin itu perlu dicoba.


©The Letter


Hari ini begitu cepat berlalu. Satu hari yang melelahkan sudah terlewati, dan kini malam hari menyapa seluruh penghuni kota.

Jam makan malam sudah berlalu. Makan malam di apartment Kyungsoo berlangsung dengan baik seperti malam sebelumnya.

Kyungsoo dan Chanyeol kembali memasak bersama, dan hal itu membuat keduanya menjadi semakin dekat.

Setelah selesai makan malam, empat sahabat memutuskan untuk berkumpul di kamar Joonmyeon dan Sehun. Sepertinya mereka sepakat untuk menjadikan kamar itu sebagai basecamp mereka.

"Aku iri pada Chanyeol hyung," si magnae mulai membuka suara, dan hal itu membuat Chanyeol mengangkat sebelah alisnya bingung. "Chanyeol hyung mudah sekali akrab dengan Kyungsoo noona. Sedangkan aku? Aku sangat sulit untuk bisa akrab dengannya."

Jongin yang sedang berbaring di ranjang sembari memainkan ponselnya kini menatap malas pada Sehun yang duduk di lantai. "Tadi pagi kau berangkat bersamanya, tentu saat itu kau mengobrol dengannya, 'kan? Sedangkan aku? Aku belum pernah mengobrol dengannya."

Iya. Jongin sama sekali belum pernah berbalas kata dengan Kyungsoo. Ingat waktu Jongin memuji masakan Kyungsoo kemarin malam? Saat itu Kyungsoo tak membalas ucapan Jongin. Bahkan sekedar berkata terimakasih pun tidak. Kyungsoo hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa pada Jongin. Kasihan sekali nasib pria tampan itu.

"Aku juga belum pernah mengobrol dengannya," Joonmyeon menimpali, tapi ucapannya itu langsung membuahkan tatapan tajam dari Jongin yang berbaring di sampingnya. "Oh baiklah, aku sempat mengobrol dengannya tadi saat di meja makan. Puas kau, Kim Jongin?"

Ya~ setidaknya tadi di meja makan Joonmyeon sempat SEDIKIT mengobrol dengan Kyungsoo. Nasib Joonmyeon bisa dibilang SEDIKIT lebih baik daripada Jongin. Walaupun sebenarnya ia juga masih kaku dan canggung dengan Kyungsoo. Wanita itu sangat sulit untuk didekati dan diajak berteman.

"Sudahlah..." Chanyeol menengahi hyung dan dongsaeng-nya yang terlibat adu mulut kecil. "Kita baru dua malam berada di apartment ini, dan kalian memiliki banyak waktu untuk bisa dekat dengan Kyungsoo. Kita semua meyakini bahwa kita bisa menjaga Kyungsoo jika kita bisa dekat dengannya, 'kan? Makanya jangan menyerah begitu saja."

Tiga kepala di ruangan itu mengangguk bersamaan. Chanyeol benar. Mereka semua memang sudah sepakat untuk berusaha berteman dekat dengan Kyungsoo supaya mereka bisa menjaga Kyungsoo dengan lebih mudah, dan supaya Kyungsoo juga merasa nyaman dijaga oleh mereka.

Mereka tentu tak mau jika harus menjaga Kyungsoo layaknya bodyguard yang selalu tampil kaku pada sang majikan. Mereka ingin menjaga Kyungsoo secara friendly dan lembut, dan itu bisa membuat Kyungsoo nyaman.

"Kita bahas hal lain saja. Hal yang tadi hanya membuat kita ribut," usul Joonmyeon.

Sehun mengangguk setuju. "Benar! Lebih baik kita membahas tentang calon suami baru Kyungsoo noona!"

Plak! Jongin tiba-tiba menepuk kepala Sehun dengan kekuatan penuh. "Kecilkan suaramu, bodoh!" Jongin mendesis. "Kamar Kyungsoo noona berada tepat di sebelah kamar ini, dan suara kerasmu bisa didengar olehnya!"

Sehun —sebagai korban tepukan- hanya bisa mendengus sembari mengusap kepalanya. Jongin itu hanya beberapa bulan lebih tua darinya, tapi bertingkah seolah ia jauh lebih tua dibanding Sehun. Kadang Sehun merasa sebal pada sahabatnya yang satu itu.

Joonmyeon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua magnae-nya. "Jadi, siapa yang sudah memiliki calon untuk Kyungsoo?"

Dengan cepat Sehun mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Aku punya satu calon! Ia adalah sahabatku saat kuliah, dan ia masih single. Lagipula, ia seumuran dengan Kyungsoo noona. Kurasa mereka akan cocok."

"Temanmu saat masih kuliah? Kau yakin ia adalah orang baik?" tanya Chanyeol.

"Pertanyaan Chanyeol hyung benar. Yifan hyung di surga akan menangis histeris jika calon suami Kyungsoo noona bukan pria baik-baik," Jongin menimpali.

Sehun tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk mantap. "Aku yakin ia adalah orang yang baik. Aku sudah lama mengenalnya. Besok aku akan mengenalkannya pada Kyungsoo noona. Bagaimana?"

Kali ini Joonmyeon yang tampak berpikir. "Kurasa itu bukan ide yang buruk. Tapi kita harus ingat satu hal. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Kyungsoo, dan kita tak boleh memaksanya. Mengerti?"

Chanyeol, Jongin, dan Sehun kompak menganggukkan kepala mereka sebagai tanda bahwa mereka telah mengerti.


©The Letter


Rutinitas pagi ini sekiranya sama dengan kemarin. Lima manusia yang tinggal di bawah satu atap apartment sudah pergi menuju tempat kerja mereka masing-masing.

Sama seperti kemarin, hari ini Sehun dan Kyungsoo kembali berangkat bersama.

Kyungsoo sudah merasa cukup nyaman dengan Sehun —walaupun sebenarnya ia tetap paling merasa nyaman dengan Chanyeol- sehingga hari ini ia kembali memilih Sehun sebagai sopir pribadinya.

Ia rupanya masih belum bisa mengakrabkan diri dengan Jongin. Karakter Kyungsoo yang sulit bergaul memang cukup mempersulit Jongin yang pada hakekatnya juga sulit bergaul. Dua manusia itu sama-sama masih kaku jika harus berhadapan satu sama lain.

"Hey, noona..." Sehun memanggil Kyungsoo yang asyik berkutat dengan kertas-kertas di pangkuannya. Hari ini ia ada jadwal presentasi untuk pertama kalinya semenjak ia mengambil alih pekerjaan Yifan. "Apa nanti sore noona ada acara?" tanya Sehun.

Kyungsoo menatap Sehun dengan dahi yang berkerut. "Tidak ada acara. Setelah dari kantor, aku akan langsung pulang denganmu seperti kemarin. Waeyo?"

"Bagaimana kalau nanti kita tidak langsung pulang?" tanya Sehun lagi. Kyungsoo tak lantas menjawab karena ia masih belum mengerti arah pembicaraan Sehun. "Bagaimana kalau nanti kita makan malam di luar? Aku ada janji dengan sahabat lamaku, dan kurasa noona bisa bergabung dengan kami."

Kerutan di dahi Kyungsoo bertambah banyak. Membuktikan bahwa wanita muda itu semakin keras berpikir. "Tapi bagaimana dengan yang lain? Maksudku, Joonmyeon oppa, Chanyeol oppa, dan juga Jongin harus dibuatkan makan malam di apartment, 'kan?"

"Noona lupa ya kalau Chanyeol hyung pandai memasak? Ia pasti bisa meng-handle perut-perut lapar di apartment," tukas Sehun.

Sejenak Kyungsoo berpikir. Pulang kerja nanti ia memang harus pulang dengan Sehun. Itu artinya, ia memang harus mengikuti Sehun kemanapun pria itu pergi.

Lagipula tak ada salahnya 'kan jika hanya sekedar makan malam? Anggap saja untuk refreshing setelah seharian bekerja.

"Kau menang, Sehun-ah," keputusan akhirnya diambil oleh Kyungsoo. "Hari ini kita makan malam di luar."

Akhirnya Sehun meneriakkan kata yes berkali-kali di dalam mobil. Hal itu membuat Kyungsoo tersenyum simpul. Sehun benar-benar memiliki sisi childish, seperti cerita Yifan selama ini.

Baiklah~ sejauh ini rencana Sehun berjalan lancar. Dan ia kini berharap semoga acara mereka malam nanti juga berjalan lancar.


©The Letter


Berbagai macam tempat makan selalu penuh saat menjelang jam makan malam seperti ini.

Banyak orang yang ingin mengisi perut keroncongan mereka dengan berbagai jenis makanan. Baik itu makanan mahal, maupun makanan murah sekalipun.

Sehun dan Kyungsoo juga sama. Dua orang itu kini sedang berjalan berdampingan di dalam sebuah restaurant makanan tradisional Korea. Mereka baru saja pulang dari kantor, tapi kali ini tidak benar-benar pulang. Mereka kini justru sedang berada di sebuah restaurant.

Ingat perkataan Sehun tadi pagi? Ya. Mereka ingin makan malam bersama sahabat lama Sehun —yang hingga kini belum diketahui identitasnya oleh Kyungsoo-.

Setelah beberapa waktu berjalan, dua manusia itu akhirnya berhenti, dan kemudian Sehun menatap sekitar. Mencari sosok sahabatnya.

Begitu menemukan sosok yang dicarinya, Sehun segera menyeret Kyungsoo untuk mendekati sang sahabat. Padahal saat itu sedang ada pelayan yang berjalan mendekati mereka. Mungkin pelayan itu ingin menawarkan bantuan untuk mencarikan mereka meja.

"Hey, what's up, man!" Kyungsoo sempat berjengit kaget saat mendengar sapaan Sehun pada sahabat lamanya.

Apa-apaan pria muka datar itu? Kyungsoo tak percaya Sehun memiliki gaya bak anak gaul seperti itu.

Sosok pria yang disapa oleh Sehun mengangkat kepalanya, kemudian tersenyum begitu melihat Sehun.

Pria itu berdiri, lalu memeluk Sehun erat. "Yo, Hun-ie! Lama tak berjumpa denganmu!"

Dan Kyungsoo hanya bisa mengerjap bingung melihat pemandangan di depannya. Dan...siapa itu Hun-ie? Apakah itu nama imut Sehun? Astaga! Kyungsoo tak percaya Sehun memiliki nama panggilan seimut itu.

Setelah beberapa saat berpelukan, Sehun akhirnya melepas paksa pelukan sahabatnya, lalu melirik Kyungsoo yang tampak bingung di sampingnya. "Ini Kyungsoo noona. Istri mendiang Yifan hyung," Sehun memperkenalkan Kyungsoo pada sahabatnya. "Dan noona, yang ada di depanmu sekarang adalah sahabatku yang lain, namanya Huang Zitao. Panggil saja Tao."

Dua orang yang diperkenalkan oleh Sehun tersenyum canggung, kemudian saling berjabat tangan. "Aku turut berduka cita atas meninggalnya suamimu, Kyungsoo-ssi."

Karena Sehun bersahabat dekat dengan Tao, maka Sehun sebelumnya sudah bercerita pada Tao perihal meninggalnya Yifan. Jadi sekarang Tao bisa berkata begitu pada Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk ragu dengan binar matanya yang meredup. Entah kenapa, hatinya selalu terasa sakit jika ada orang yang berkata turut berduka cita. Rasanya kesedihan Kyungsoo kembali tergali dari kuburan dalamnya.

Tapi Kyungsoo tak ingin larut dalam lubang dukanya. Bagaimanapun, ia sudah bertekad untuk bangkit dan menjalani hidup baru tanpa Yifan. Apalagi malam ini ia memiliki acara makan malam dengan Sehun dan sahabatnya. Ia tak ingin membuat mereka kecewa.

Tak ingin terlalu lama berdiri, Tao akhirnya mengajak Sehun dan Kyungsoo untuk duduk. Sehun dan Kyungsoo duduk bersebelahan, sedangkan Tao duduk berseberangan dengan mereka —tepatnya Tao duduk di depan Kyungsoo-.

Ia kemudian menyerahkan buku menu yang sedari tadi bertengger diam di mejanya pada Kyungsoo dan Sehun, dan membiarkan dua orang itu memilih menu mereka.

Kyungsoo dengan cepat menentukan menu pilihannya karena dirinya memang tidak pernah pilih-pilih makanan. Tapi karena ia terlalu cepat memilih, ia kini harus menunggu Tao dan Sehun menentukan pilihan mereka.

Saat menunggu, Kyungsoo tanpa sadar menatap Tao lama. Ia mengamati penampilan Tao.

Wajah Tao cukup sangar, apalagi dengan lingkaran hitam yang mengelilingi dua matanya. Kulit Tao juga sedikit gelap, mungkin sama dengan warna kulit Jongin.

Saat ini Tao memakai t-shirt hitam yang dibalut oleh jaket kulit yang juga berwarna hitam. Tadi saat mereka masih berdiri, ia sempat melihat celana hitam yang dipakai Tao. Celana itu robek-robek di bagian lututnya.

Selain memakai pakaian yang serba hitam, Tao juga memakai sepasang anting berbentuk bulat yang juga berwarna hitam di dua telinganya.

Selama ini Kyungsoo jarang berhadapan langsung dengan pria dengan penampilan seperti Tao, tapi ia merasa tidak pantas jika menilai pribadi seseorang dari penampilan luarnya. Jadi, ia memilih untuk berprasangka baik pada Tao.

Merasa dipandang lama oleh Kyungsoo, Tao tiba-tiba mengangkat kepalanya dan langsung beradu tatap dengan Kyungsoo. "Ada yang salah denganku?" tanya Tao.

Kyungsoo langsung salah tingkah, dan Sehun akhirnya melirik Kyungsoo.

Tapi Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya, dan hal itu membuat Sehun dan Tao tersenyum lembut. Calon ibu muda itu benar-benar menggemaskan.

Tiga orang itu akhirnya memesan makanan juga minuman setelah seorang pelayan menghampiri menghampiri meja mereka.

Saat menunggu makanan, Tao dan Kyungsoo larut dalam obrolan mereka sendiri. Meninggalkan Sehun yang duduk diam bagaikan obat nyamuk.

"Kukira wanita hamil selalu bertubuh tambun, tapi ternyata aku salah. Kau tidak gemuk, dan kau juga tampak cantik, Kyungsoo-ssi. Perutmu yang sedikit besar itu justru membuatmu terlihat amat menggemaskan," Tao mulai mengeluarkan rayuan gombalnya.

Dan rayuan itu rupanya cukup mempan karena kini Kyungsoo sedikit merona. "A-ah, kau terlalu memuji," Kyungsoo tersenyum canggung. "Ehm...dan bisakah kau memanggilku dengan Kyungsoo saja? Aku tidak nyaman dengan embel-embel –ssi."

Tao tersenyum lalu mengangguk. "Ehm...kalau begitu, bagaimana kalau aku memanggilmu dengan embel-embel chagiya saja? Kau suka?"

Mata Kyungsoo seketika melotot. Ia baru saja mengenal Tao, tapi pemuda itu sudah melontarkan pertanyaan yang sangat berani. Meskipun ia tahu bahwa Tao hanya bercanda —karena setelah bertanya demikian, Tao langsung tertawa keras-, tapi tetap saja Kyungsoo merasa kaget.

Sehun tadi juga sempat melebarkan matanya. Ia mengenal betul sosok Tao yang kini duduk di depan Kyungsoo. Tao itu bukanlah playboy. Hanya saja, Tao sangat gemar melemparkan godaan-godaan pada wanita, sehingga orang-orang sering mengira bahwa ia playboy. Menggoda wanita mungkin sudah merupakan hobby bagi Tao. Sehun sendiri tak mengerti kenapa sahabatnya memiliki kelainan seperti itu.

Kyungsoo dan Tao akhirnya melanjutkan obrolan mereka setelah Tao mengklarifikasi bahwa tadi ia hanya bercanda. Hal yang mereka obrolkan masih berupa tema umum untuk saling mengenal satu sama lain.

Meskipun Kyungsoo masih tampak canggung dan malu-malu, namun ia tetap menikmati obrolannya dengan Tao.

Tao itu agak mirip dengan Chanyeol. Banyak bicara dan juga lucu. Belum lagi gombalan yang terlontar dari bibir Tao, yang mampu membuat Kyungsoo tersipu. Walaupun muka Tao sangat garang, tapi rupanya hati Tao dipenuhi oleh kupu-kupu yang sangat imut.

Beberapa menit terlewati oleh Sehun dengan menghadapi pemandangan di depannya yang entah mengapa membuat dadanya sesak.

Kyungsoo terlihat tertawa renyah tiap kali Tao melempar candaan...Kyungsoo terlihat merona tiap kali Tao memujinya...

Hal itu belum pernah Sehun lihat, dan ia merasa iri karena Tao —yang notabene baru saja mengenal Kyungsoo- dapat langsung menghadirkan tawa di bibir Kyungsoo dan juga rona merah di pipinya.

Sehun saat ini juga bisa melihat bahwa Tao memiliki ketertarikan pada Kyungsoo. Hal itu terpancar jelas dari mata panda sang sahabat.

Tanpa sadar Sehun memalingkan kepalanya dari pemandangan di depannya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak memiliki kepribadian menyenangkan seperti Chanyeol dan Tao, sehingga dirinya tak mampu membuat Kyungsoo tertawa.

Dalam hati, Sehun merasakan kesakitan yang ia sendiri tak tahu penyebabnya...

..

..

TBC


Author's Note:

Halo semuanya~ ada HunSoo di chapter ini. tapi disini juga ada TaoSoo yang nyempil. Tao disini enggak aku bikin GS ya. Soalnya gak ada Kris yang bisa jadi couple-nya:D

Chapter depan saya akan membawa KaiSoo! mana suaranya KaiSoo shipper? hahaha.

Setiap chapter aku kasih minimal 3000 kata seperti biasanya, soalnya kalau sampai lebih dari 4000 kata kyknya kebanyakan. jadi maaf ya kalau ini kurang panjang :(

Yap~ thank you so much for your support. mind to review again?

Salam sayang, rizdyo12 :*