Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Tao EXO as Huang Zitao

Rate: T

Length: chaptered [4/?]

Summary for chapter 4:

Jongin akhirnya mendapat kesempatan untuk mengobrol dengan Kyungsoo saat mereka hanya berdua di apartment. Tapi rupanya kecanggungan Jongin membuat atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi kaku

Previous chapter:

Sehun saat ini juga bisa melihat bahwa Tao memiliki ketertarikan pada Kyungsoo. Hal itu terpancar jelas dari mata panda sang sahabat.

Tanpa sadar Sehun memalingkan kepalanya dari pemandangan di depannya. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak memiliki kepribadian menyenangkan seperti Chanyeol dan Tao, sehingga dirinya tak mampu membuat Kyungsoo tertawa.

Dalam hati, Sehun merasakan kesakitan yang ia sendiri tak tahu penyebabnya...

..

Chapter 4 (Jongin's Awkwardness)

HAPPY READING!


Mendung di pagi hari menggantung di langit Kota Seoul. Entah mengapa pagi-pagi begini mendung sudah menghiasi langit kota besar itu.

Namun untungnya di dalam apartment Kyungsoo suasananya tetap cerah seperti biasa. Seluruh penghuni apartment mewah itu kini sedang makan pagi bersama seperti biasanya.

Kyungsoo baru menyuapkan satu sendok nasi beserta lauknya ke dalam mulut, tapi seketika itu juga perutnya langsung terasa mual, dan rasanya ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.

Karena tak tahan lagi, ia akhirnya meletakkan sendoknya kembali ke atas piring, lalu berlari menjauh dari meja makan untuk menuju kamar mandi.

Empat pria yang masih menetap di meja makan hanya menatap kepergian Kyungsoo dengan dahi yang berkerut. Mereka tak mengerti kenapa tiba-tiba Kyungsoo berlari ke kamar mandi.

Setelah beberapa menit, Kyungsoo akhirnya kembali ke ruang makan, namun wajahnya terlihat sangat pucat.

"Gwaenchana, Soo-ya?" tanya Chanyeol dengan nada yang sarat akan rasa khawatir.

Kyungsoo menatap Chanyeol dengan tatapan lemah. "Aku baik-baik saja, oppa. Sepertinya hanya morning sick biasa. Padahal aku sudah tidak pernah mual-mual lagi sejak dua minggu lalu, tapi entah mengapa pagi ini aku mual lagi. Maaf karena mengganggu acara makan kalian," tutur Kyungsoo. Kini ia kembali duduk di kursinya, bersebelahan dengan Chanyeol seperti biasa.

"Lebih baik kau istirahat saja, Kyungsoo-ya. Tidak usah ke kantor hari ini," saran Joonmyeon.

Tapi Kyungsoo sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Anniya, oppa. Beberapa hari lagi akan ditetapkan direktur pemasaran yang baru, dan hari ini aku akan sangat sibuk untuk mengerjakan ini dan itu."

"Tapi kondisimu sedang lemah begitu, Soo. Wajahmu juga sangat pucat," Chanyeol menimpali.

Kyungsoo menghela nafas sembari mengelus perutnya. "Sepertinya bayi ini hanya ingin beristirahat sebentar. Aku hanya butuh tidur sebentar, dan aku akan ke kantor beberapa jam lagi. Kalian pergi duluan saja."

"Uh, aku sebenarnya ingin menemanimu dan berangkat bersamamu, noona," suara Sehun terdengar begitu Kyungsoo selesai bicara. "Tapi sayangnya hari ini aku ada proyek di pinggiran kota, dan sekarang aku sudah harus berangkat ke kantor."

Kyungsoo tersenyum lembut pada Sehun. "Tidak apa-apa, Sehun-ah. Kau bisa pergi duluan. Aku akan naik taksi nanti."

"Iya. Lebih baik kalian pergi duluan. Biar aku yang nanti berangkat bersama Kyungsoo noona."

Empat pasang mata di ruang makan itu sontak menatap Jongin yang baru saja selesai bicara. Perkataan Jongin itu mengejutkan mereka semua.

"A—apa? Kau...akan berangkat bersama Kyungsoo? Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah kau—"

"Tidak apa-apa," dengan cepat Jongin memotong ucapan Joonmyeon. "Aku bisa datang ke kantor nanti siang. Santai saja."

Joonmyeon, Chanyeol, dan Sehun menatap Jongin ragu. Pasalnya, Jongin sendiri terlihat ragu pada ucapannya. Jongin merupakan pekerja di sebuah perusahaan yang terkenal sangat kejam dan tidak mengenal toleransi. Keputusan Jongin barusan jelas membuat sahabat-sahabatnya merasa cemas. Apalagi Jongin juga terlihat tidak yakin pada ucapannya.

Joonmyeon, Chanyeol, dan Sehun sangat mengenal Jongin, dan pergerakan mikro Jongin sekalipun dapat diterjemahkan maknanya oleh mereka.

"Ya sudah kalau memang begitu. Maaf karena kami memang harus pergi pagi ini," Joonmyeon akhirnya memutuskan walaupun ia masih sedikit ragu. Tapi selanjutnya ia menatap Jongin serius. "Kau jaga Kyungsoo baik-baik. Kalau ada apa-apa, antarkan Kyungsoo ke dokter."

Jongin mengangguk. Setelah melihat pria tampan itu mengangguk, ketiga sahabatnya langsung berpamitan, dan mereka keluar dari apartment bersama-sama. Acara makan pagi mereka batal. Nanti mereka harus mencari makan saat di kantor supaya mereka tak harus bekerja dengan perut kosong.

Setelah ketiga sahabat pergi, kini yang tersisa hanyalah Jongin dan Kyungsoo yang duduk berhadapan dengan canggung di ruang makan.

"Ehm...sebenarnya kau tidak perlu menemaniku seperti ini, Jongin-ah. Bagaimana dengan pekerjaanmu?"

Jongin menggaruk tengkuknya canggung. "Tidak apa-apa, noona. Tempat kerjaku tidak terlalu mengikat pegawainya untuk berangkat pagi," lagi-lagi ada keraguan yang tersirat dari ucapan Jongin itu.

Kyungsoo sendiri kini hanya bisa tersenyum kaku pada Jongin. "Terimakasih karena kau mau menemaniku, Jongin-ah," ucapnya. "Sekarang aku ingin ke kamar dulu. Kurasa aku benar-benar perlu tidur sebentar."

Kyungsoo sebenarnya tak tahan dengan atmosfer awkward yang melingkupi ruang makan. Itu adalah kali pertama dirinya mengobrol dengan Jongin, dan semuanya terasa canggung. Jongin si canggung membuat atmosfer disitu ikut menjadi canggung.

Sepertinya dua manusia itu tak akan dengan mudahnya saling mengakrabkan diri. Mereka berdua sama-sama tak pandai bergaul dengan orang baru.

Setelah melihat Jongin menganggukkan kepalanya, Kyungsoo dengan pelan berdiri, kemudian berjalan menjauhi meja makan.

Tapi baru beberapa langkah berjalan, Kyungsoo sudah berhenti lagi dan tangan kanannya memijat pelipisnya yang mungkin terasa pening.

Melihat hal itu, Jongin sontak berdiri dan berlari mendekati Kyungsoo. "Apa noona merasa pusing?"

Kyungsoo mendesis menahan rasa sakit di kepalanya. "I-iya, rasanya begitu pusing," jawabnya dengan suara lirih.

Jongin sedikit panik. Pasalnya, ia belum pernah berhadapan dengan wanita hamil yang sedang kesakitan. Dulu saat kakak perempuannya hamil, ia sudah tinggal di apartment-nya sendiri jadinya ia tak menghadapi kakaknya itu secara langsung.

Sungguh salah jika percaya pada Jongin untuk menjaga Kyungsoo. Pemuda itu hanya akan panik sendiri seperti sekarang ini.

"Se-sebaiknya noona beristirahat di kamar dulu saja," Jongin yang masih panik memberi usulan. Tapi selanjutnya ia menyadari sesuatu. "Ehm...noona tidak kuat berjalan, ya? A—apa boleh aku menggendong noona sampai ke kamar?"

Di tengah rasa sakitnya, Kyungsoo masih bisa tersenyum geli. Pemuda di depannya itu sangat polos meskipun tampangnya sangar.

Jongin benar-benar seperti anak kecil. Mungkin itu karena ia merupakan anak bungsu di keluarganya sehingga ia memiliki sifat yang kekanakan —walaupun tingkat kekanakannya berbeda dengan Sehun. Sehun jauh lebih kekanakan-.

Kyungsoo akhirnya mengangguk pelan. Setelah melihat Kyungsoo mengangguk, Jongin berjalan semakin mendekati Kyungsoo. Tapi disitu Jongin kembali merasa bingung.

Masalahnya, Jongin tak tahu bagaimana cara menggendong seorang wanita.

Bukannya Jongin tak pernah berpacaran sebelumnya. Hanya saja, ia tak pernah menggendong kekasihnya saat ia masih punya pacar. Lagipula, hubungan Jongin dengan mantan-mantannya tak pernah bertahan lama. Mungkin hanya hitungan bulan sebelum akhirnya ia yang mengakhiri hubungan mereka.

Dan lagi, Jongin sudah menjadi jomblo selama tiga tahun. Barangkali ia lupa bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita dengan baik.

"Letakkan tangan kirimu di punggungku, dan letakkan tangan kananmu di lekukan lututku. Lalu angkat tubuhku," ucapan Kyungsoo menginterupsi ruwet-nya pikiran Jongin. Kyungsoo sepertinya bisa membaca isi pikiran Jongin.

Jongin mengedip polos beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk ragu.

Tapi sebelum ia lanjut bergerak, ia sempat melihat rok Kyungsoo yang panjangnya tujuh centimeter di atas lutut, dan ia langsung menyadari sesuatu.

Dengan segera Jongin melepas jaket kainnya yang berwarna biru tua, selanjutnya ia memasangkan jaket itu di area depan rok yang dikenakan Kyungsoo, dan mengikat dua lengan jaket itu di bagian belakang tubuh Kyungsoo.

Ia menutupi bagian terbuka di paha Kyungsoo dengan jaket besarnya, dan itu membuat Kyungsoo tertegun. Belum pernah ia diperlakukan seperti itu oleh seorang pria. Yifan saja tak pernah memperlakukannya seperti itu.

Tanpa sadar Kyungsoo memandangi Jongin yang sedang tersenyum tulus sambil membenahi jaketnya yang menutupi rok Kyungsoo. Jongin bersikap gentle. Ia pasti memikirkan kemungkinan rok Kyungsoo tersingkap saat ia menggendong Kyungsoo nanti. Sikap Jongin itu...berbeda.

Setelah merasa semuanya siap, dengan ragu Jongin meletakkan tangan kirinya di punggung Kyungsoo, dan juga meletakkan tangan kanannya di lekukan lutut Kyungsoo, lalu mengangkat tubuh Kyungsoo —sesuai arahan Kyungsoo tadi-.

Refleks, Kyungsoo mengalungkan dua tangannya di leher Jongin. Tapi ia menolak untuk menatap Jongin, dan lebih memilih untuk menatap ke arah lain —asal bukan ke arah wajah Jongin-.

Jongin tak terlalu memperhatikan pergerakan Kyungsoo, dan ia malah langsung berjalan menuju anak tangga, dan menaiki satu persatu anak tangga dengan pelan.

Tak ada yang membuka suara saat mereka berdua dalam perjalanan menuju lantai atas. Bibir mereka terkunci rapat, diam seribu bahasa.

Setelah berjalan beberapa menit, langkah kaki Jongin akhirnya sampai di kamar Kyungsoo. Ia berjalan mendekati ranjang Kyungsoo, kemudian secara pelan membaringkan tubuh Kyungsoo di atas ranjang itu.

Setelah tubuh Kyungsoo terbaring sempurna, Jongin melepas high heels Kyungsoo dan meletakkannya di samping ranjang.

Setelah itu, Jongin menarik selimut tebal di ranjang itu, kemudian menutupkan selimut itu ke tubuh Kyungsoo hingga sebatas dada.

"Sebaiknya noona mencoba tidur. Aku akan menunggu di luar sampai noona bangun, dan setelah itu kita berangkat ke kantor bersama," tutur Jongin.

Kyungsoo hanya bisa mengangguk lemah sembari tersenyum. "Gomawo, Jongin-ah."

Jongin sejenak membalas senyuman Kyungsoo, kemudian beranjak keluar dari kamar itu. Meninggalkan Kyungsoo yang mulai memejamkan mata dengan senyuman yang tak luntur dari bibir pucatnya. Ia merasa beruntung karena dikelilingi oleh pria-pria berhati baik yang sangat perhatian padanya.


©The Letter


Detik waktu senantiasa berputar. Menyeret jarum pendek dan jarum panjang dalam lingkaran waktu untuk turut berputar. Berjumpa dengan angka-angka, dan akhirnya mengganti menit hingga jam dalam kehidupan di dunia.

Tanpa terasa, waktu satu jam telah berlalu dengan sangat cepat. Mengajak serta Jongin terseret dalam lubang waktu yang berlarian.

Pria dengan rahang tegas itu saat ini duduk diam sambil menonton televisi di ruang tengah.

Acara berita pagi kesukaannya sudah berakhir sejak beberapa menit silam, dan kini ia dengan bosan mengganti-ganti channel sembari terus menatap layar datar ukuran 46 inch di depannya.

Akhirnya ia menghentikan gerakan jarinya di tombol remote saat layar TV di depannya menampilkan sebuah music video dari sebuah boyband papan atas Korea, SHINee.

SHINee bernaung di agensi tempatnya bekerja, yaitu SM Entertainment.

Sebenarnya Jongin tidak bertanggung jawab untuk koreografi mereka. SHINee ditangani oleh seorang koreografer senior di SM Entertainment. Tapi belakangan ini, Jongin mulai diberi kepercayaan untuk turut mencipta gerakan-gerakan spektakuler, misalnya seperti yang ditampilkan oleh boygroup itu di MV yang sedang disaksikan Jongin.

Tapi bukan berarti Jongin bertanggung jawab penuh atas seluruh koreografi SHINee di MV itu, karena nyatanya Jongin hanya sedikit berperan disana. Ia hanya mencipta beberapa gerakan untuk lagu terbaru SHINee itu.

Saat sedang menikmati MV SHINee sembari sedikit menggerakkan tubuhnya sesuai irama —sepertinya ia tidak sadar jika sedari tadi ia menari di atas sofa-, tiba-tiba Jongin mematung saat ia mendengar suara tawa lirih dari arah belakangnya.

Jongin seketika menoleh, dan ia terkejut saat mendapati Kyungsoo berdiri di belakangnya sambil tertawa lirih.

"Seharusnya kau menari sambil berdiri, Jongin. Tidak sambil duduk seperti itu," tutur Kyungsoo. Tawanya kini berganti menjadi senyuman manis. Lucu sekali melihat Jongin —yang biasanya sangat kaku– tiba-tiba menari di atas sofa dengan lincah. Kyungsoo tahu bahwa Jongin adalah seorang koreografer, tapi ia sama sekali belum pernah melihat Jongin menari.

Ucapan Kyungsoo tadi rupanya membuat Jongin salah tingkah karena malu. "N—noona sudah bangun? Apa masih merasa mual dan pusing?" akhirnya Jongin mengalihkan pembicaraan.

Kyungsoo menggeleng dan berjalan mendekati Jongin. Ia berhenti tepat di samping sofa yang ditempati Jongin. "Aku sudah merasa baikan," jawabnya. "Ehm...jaketmu ini aku cuci dulu saja ya? Tadi aku menggunakannya untuk tidur, jadi sekarang jaketmu jadi kotor," imbuh Kyungsoo sembari tangannya menggerak-gerakkan jaket Jongin yang dibawanya.

Tapi Jongin justru langsung meraih jaketnya dari tangan Kyungsoo, lalu memakainya. "Tidak perlu, noona. Hanya dipakai untuk tidur tidak akan membuat jaket ini kotor," Jongin berucap sembari terkekeh kecil. Ia menepuk-nepuk lengan jaketnya sebentar, lalu kembali menatap Kyungsoo. "Jadi, hari ini noona akan pergi ke kantor atau tidak?"

"Tentu," Kyungsoo mengangguk tanpa ragu. "Aku memiliki banyak pekerjaan hari ini. Tapi...benarkah tidak apa-apa jika aku tidak mencuci jaketmu itu?"

Jongin tersenyum kecil sebelum akhirnya ia berdiri dan menghadap Kyungsoo. "Tidak apa-apa, noona. Kenapa noona berlebihan sekali, hm?" Jongin sedikit menggoda Kyungsoo. "Ya sudah, lebih baik kita berangkat sekarang. Noona tidak ingin aku dipecat, 'kan?"

Seketika mata Kyungsoo membulat dan ia tanpa sadar menggelengkan kepalanya lucu. "Aku tidak ingin kau dipecat. Kajja kita berangkat," entah sadar atau tidak, Kyungsoo menarik lengan Jongin dan bergegas keluar apartment.

Jongin hanya bisa pasrah ditarik seperti itu. Ini bukan kali pertama ia bersentuhan dengan kulit seorang wanita, dan rasanya pun biasa saja.


©The Letter


Selama perjalanan menuju kantornya, Kyungsoo hanya bisa diam di dalam mobil Jongin.

Di luar mobil saat ini sedang hujan deras, dan itu membuat Jongin tak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Padahal sebetulnya Kyungsoo sangat ingin cepat sampai kantornya karena ia tak tahan dengan suasana awkward di dalam mobil.

Kyungsoo sedikit tak mengerti. Hari ini ia dan Jongin sudah cukup banyak mengobrol, tapi tetap saja kekakuan senantiasa mendominasi atmosfer di sekitar mereka.

"Sebaiknya noona jangan memaksakan diri untuk bekerja jika noona merasa lemah dan sakit," ucapan Jongin membuat Kyungsoo menoleh ke arah kiri, langsung berhadapan dengan Jongin yang sedang menyetir.

"Aku baik-baik saja," balas Kyungsoo. "Anak Yifan oppa tidak boleh manja. Ia harus kuat agar ibunya juga menjadi kuat. Aku selama ini sanggup bertahan karena bayi dalam kandunganku ini. Aku yakin bayi ini sangatlah kuat."

Jongin diam sejenak mencerna ucapan Kyungsoo. "Noona sangat mencintai Yifan hyung, ya?"

Kyungsoo tersenyum pilu mendengar pertanyaan Jongin. "Yifan oppa berhasil mengubah hidupku menjadi lebih berwarna. Adakah kata lain yang bisa menggantikan kata sangat mencintainya? Karena menurutku, perasaanku padanya lebih dari itu."

Jongin diam. Matanya menatap lurus jalan raya di depannya yang masih diguyur hujan.

Pikirannya sedikit berkelana. Ia sudah pernah beberapa kali berpacaran, dan sudah beberapa kali merasakan yang namanya jatuh cinta.

Tapi sungguh. Ia baru kali ini mendengar perkataan seseorang dengan rasa cinta yang begitu besar. Dalam hati ia merasa kagum pada perasaan cinta Kyungsoo kepada Yifan. Jika Yifan masih ada, mungkin Jongin akan menjadi shipper nomor satu pasangan itu. Jongin berpikir bahwa Yifan dan Kyungsoo sangat serasi. Sayang, maut sudah memisahkan pasangan serasi itu.

Jongin sendiri sepertinya belum pernah mencintai seorang gadis dengan rasa yang sebesar itu. Mungkin Jongin perlu belajar banyak tentang cinta setelah ini.

Setelah cukup lama terdiam dalam atmosfer yang kembali canggung, Jongin akhirnya memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan. "Noona nanti ingin aku jemput?"

"Tidak perlu, Jongin," Kyungsoo menjawab dengan sopan. "Nanti sore aku akan dijemput oleh... Tao. Kau mengenalnya? Ia adalah sahabat Sehun."

Jongin mengerutkan dahinya. Nama Tao terdengar tidak asing di telinganya. Mungkin benar bahwa pria bernama Tao itu adalah sahabat Sehun. Sepertinya Sehun dulu pernah bercerita tentang Tao, walaupun kini Jongin sama sekali tak ingat isi cerita Sehun di masa lalu itu.

Meskipun sedikit ragu untuk membiarkan Kyungsoo dijemput oleh orang yang tak ia kenal dengan baik, namun pada akhirnya Jongin mengizinkan Kyungsoo.

Jongin dan yang lainnya memang ditugaskan untuk menjaga Kyungsoo, tapi bukan berarti mereka bisa membatasi kebebasan Kyungsoo.

Lagipula, Jongin tahu bahwa Tao adalah bagian dari rencana mereka untuk menemukan seorang pendamping hidup baru bagi Kyungsoo. Walaupun sebenarnya ia juga baru saja menyadari bahwa Tao-lah kandidat yang diajukan Sehun. Kemarin Sehun tidak mengatakan nama kandidat yang diajukannya sebagai pendamping hidup Kyungsoo.


©The Letter


Kembali malam menjelang. Suasana di apartment Kyungsoo cukup ramai saat ini.

Di ruang tengah terlihat tiga orang pria sedang asyik menyaksikan tayangan di TV layar datar yang ada di depan mereka.

Tiga orang itu adalah Joonmyeon, Chanyeol, dan Jongin. Ketiganya pulang dari kantor saat jam masih menunjuk pada angka enam, dan itu artinya mereka pulang lebih awal —biasanya mereka baru kembali ke apartment belasan menit sebelum jam makan malam. Tapi dalam waktu belasan menit itu, Chanyeol biasanya masih sempat membantu Kyungsoo menyiapkan makan malam di dapur-.

Di hari-hari sebelumnya, Sehun selalu menjadi pria pertama yang ada di apartment. Ia selalu tiba di apartment bersama Kyungsoo sebelum jam menunjukkan pukul enam petang —kecuali kemarin karena ia dan Kyungsoo makan malam di luar-.

Tapi agaknya hari ini sedikit berbeda. Si pria Oh justru belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.

Belasan menit berlalu. Tiga pemuda tampan itu masih setia menyaksikan sebuah variety show lucu yang sesekali membuat mereka terbahak.

Tapi mereka seketika hening saat melihat sosok Sehun memasuki ruang tengah. Pria itu baru saja pulang, dan wajahnya tampak tak berbentuk. Sepertinya ia terlalu lelah.

Tanpa berkata apa-apa, Sehun langsung mendudukkan dirinya di karpet yang ada di ruangan itu. Menyebabkan tiga pria yang duduk di sofa menatapnya bingung.

"Kau kenapa?" tanya Chanyeol.

Mata sayu Sehun balas menatap Chanyeol. "Aku lelah sekali, hyung. Seharian ini bekerja outdoor, kehujanan, dan aku sama sekali tidak makan seharian ini."

Tiga sahabat Sehun sontak mengamati penampilan Sehun dari atas ke bawah.

Benar. Sehun sepertinya benar-benar kehujanan. Hal itu terbukti dari kemeja hitam dan celana kain hitamnya yang sampai saat ini masih terlihat basah.

"Sebaiknya kau cepat mandi dan ganti baju. Kau bisa masuk angin," saran Jongin. Ia merasa cukup iba pada pria yang beberapa bulan lebih muda darinya itu.

Tapi Sehun tak bergerak dari posisi duduknya. Ia kini justru mengamati sekitar, kemudian mengajukan pertanyaan. "Dimana Kyungsoo noona?"

"Ia dijemput oleh sahabatmu di kantor, dan mungkin sekarang mereka sedang kencan atau semacamnya," jawab Jongin santai.

Kepala Sehun yang tadi berkelana ke kanan dan ke kiri untuk mencari Kyungsoo, sekarang tertoleh penuh ke arah Jongin. "Apa kau bilang? Berkencan?"

"Kenapa kau bereaksi seperti itu? Bukankah ini memang rencana kita?" Joonmyeon justru balik bertanya pada Sehun.

Sehun terdiam. Benar apa yang dikatakan sahabat tertuanya itu. Semua yang terjadi sekarang memang rencana mereka.

Mereka mencarikan calon yang tepat untuk Kyungsoo, membiarkan Kyungsoo berkencan, dan akhirnya Kyungsoo akan kembali memiliki pendamping hidup.

Tapi, kenapa Sehun rasanya tidak rela, ya? Apa itu karena ia kemarin sempat menjadi obat nyamuk saat pertemuan pertama Kyungsoo dan Tao?

"Hey, Hun," Chanyeol memanggil sang magnae. Dengan malas Sehun menatap si pemanggil. "Sahabatmu yang bernama Tao itu, kau yakin ia orang baik?"

"Aku sudah mengenalnya lebih dari empat tahun. Mungkin penampilannya memang seperti preman. Tapi percayalah, hatinya seperti Hello Kity," jawab Sehun malas-malasan.

Ia rupanya masih merasa malas jika harus membahas perihal Tao. Padahal Tao adalah sahabatnya semasa kuliah, tapi kenapa tiba-tiba Sehun merasa sebal pada pria asal China itu?

Di saat empat orang sahabat itu masih larut dalam pikiran masing-masing, mereka dikejutkan oleh suara heels sepatu yang berketukan dengan lantai marmer.

Mereka menoleh ke sumber suara, dan mata mereka melebar mendapati Kyungsoo sedang berjalan memasuki ruang tengah bersama seorang pria yang tak lain adalah...Tao.

"Hai semuanya," Kyungsoo menyapa empat pria itu ramah seperti biasanya.

Sedangkan para pria yang disapa kini hanya tersenyum canggung.

Empat pasang mata pria itu beralih menatap Tao. Mereka semua —kecuali Sehun- menatap penampilan Tao intens.

Benar kata Sehun. Penampilan Tao tak ubahnya seperti preman. Mereka jadi meragukan keyakinan Sehun bahwa pria itu berhati Hello Kity. Yang ada, pria seperti Tao biasanya adalah seorang bad boy, dan tentu itu tak baik untuk Kyungsoo.

"Apa kalian sudah makan malam?" tanya Kyungsoo. Pertanyaan yang mampu mengalihkan mata tiga sahabat Yifan yang sedari tadi memelototi penampilan Tao —Sehun hanya sekilas menatap Tao dan tidak ikut menatap dengan intens karena ia sudah mengenal baik sosok Tao-.

Kuartet sahabat kini menatap Kyungsoo. "K-kami belum makan malam," itu Joonmyeon yang menjawab.

Mendengar jawaban Joonmyeon, Kyungsoo tiba-tiba tersenyum cerah. "Kalau begitu, aku akan memasak untuk makan malam. Kalian tidak keberatan 'kan kalau kita makan malam bersama Tao?" tanya Kyungsoo lagi. Kali ini dengan nada yang sarat akan harapan.

Ia tentu tak enak pada Tao jika empat sahabat Yifan itu menolak kehadirannya. Tadi ia yang mengajak Tao untuk mampir ke apartment-nya, dan tentu ia merasa tak enak hati jika Tao tidak diajak makan malam sekalian.

Trio sahabat sebenarnya ingin menolak karena mereka meragukan kepribadian asli seorang Huang Zitao. Sehun sebenarnya juga ingin menolak. Mood-nya yang tadi sudah buruk, kini semakin buruk setelah matanya menangkap wajah Tao. Ia sendiri tak mengerti kenapa ia jadi seperti tokoh antagonis terhadap sahabatnya sendiri.

"Kami tidak keberatan," akhirnya Chanyeol yang membuka suara. Bagaimanapun juga, jawaban itulah yang diharapkan oleh Kyungsoo. Chanyeol lalu berdiri, kemudian berjalan mendekati Kyungsoo. "Kajja kita memasak bersama."

Kyungsoo tentu tersenyum lebar mendengar jawaban serta ajakan dari Chanyeol. Dengan cepat ia mengangguk, kemudian berbalik menatap Tao dan meminta pria itu untuk menunggu di ruang tengah bersama yang lainnya.

Selanjutnya, wanita mungil itu berjalan menuju dapur bersama Chanyeol.

Sepeninggal Kyungsoo, Tao dengan canggung menatap trio yang tersisa di ruang tengah. Ia merasakan aura negatif menguar dari tubuh tiga pria itu.

Tapi apa boleh buat? Ia terpaksa bergabung dengan trio itu, meskipun akhirnya ia harus menerima kenyataan buruk karena ia terus diinterogasi oleh mereka.

"Jadi, kau tadi mengajak Kyungsoo kemana?" itu pertanyaan interogasi pertama yang disuarakan oleh Joonmyeon.

Tao menggaruk kepalanya canggung. Bahkan ia tak dipersilahkan untuk duduk, dan ia hingga kini masih berdiri dengan kikuk di sebelah sofa. "Err...aku hanya mengajak Kyungsoo mampir ke kantorku. Tempat kami bekerja ternyata berdekatan, dan aku hanya ingin mengajak Kyungsoo berkeliling sebentar."

Tao tak mendapat respon apapun setelahnya. Ia lalu sedikit melirik Sehun yang hingga kini masih duduk di atas karpet, tapi Sehun justru tak menatap Tao sama sekali. Dalam hati, Tao merasa bingung melihat kelakuan aneh sahabatnya itu.

"Tao-ssi..." suara panggilan dari Jongin terlantun, dan Tao beralih menatap Jongin. "Kau tahu 'kan kalau Kyungsoo noona sedang hamil? Kami berharap kau bisa menjaganya dan tidak pernah menyakitinya."

Tao sejenak diam. Ia beralih menatap Joonmyeon, dan ternyata pria itu mengangguk, seolah menyetujui perkataan Jongin. Tatapan Jongin dan Joonmyeon sekiranya menyiratkan makna yang sama. Dua orang itu hanya ingin melindungi Kyungsoo. Mereka tidak merasa cemburu atau semacamnya.

Tapi saat Tao mengalihkan lagi pandangannya untuk menatap Sehun —yang kini juga sedang menatap dirinya-, ia menemukan tatapan Sehun berbeda dari tatapan Jongin dan Joonmyeon tadi. Mata Sehun seolah menyiratkan hal lain. Tatapan mata Sehun terlihat tajam seolah ingin mengintimidasi.

Meskipun Tao sedikit merasa tertekan oleh sikap tiga pria itu —dan sejujurnya ia masih bingung pada arti tatapan Sehun padanya-, tapi berikutnya ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menganggukkan kepalanya mantap. "Tentu aku akan menjaga Kyungsoo, karena aku..." sejenak Tao menggantung ucapannya. "...karena aku menyukai Kyungsoo."

..

..

TBC


Author's Note:

Yey~ sudah sampai chapter 4! dan KaiSoo disini sudah muncul. gimana moment canggung mereka? hehe.

KaiSoo masih bakal punya moment lagi buat ke depannya, jadi ditunggu aja. ChanSoo sama HunSoo juga bakal muncul lagi. dan buat SuDO/KyungMyeon, kayaknya mereka muncul di chapter depan. so, ditunggu aja ya^^

oh iya. aku sengaja gak nyantumin tulisan TaoSoo dari awal, karena couple itu emang cuma slight aja. lagian itu jadi couple kejutan. hehe. masih ada lagi couple kejutan buat ke depannya. jadi, ditunggu saja :)

terus...ada yang request supaya FF ini berakhir dgn ChenSoo. maaf aku gak bisa mengabulkan request itu, karena Chen gak masuk dlm list main cast, dan emang gak ada rencana buat bikin ending dgn ChenSoo sebagai main pair. aku suka ChenSoo kok, mereka lucu. tapi maaf sekali, aku gak pake ChenSoo jadi ending couple disini :(

dan ada yg tanya apakah disini hanya Kyungsoo yg GS. jawabannya adalah...rahasia. hehe. ditunggu aja chapter2 selanjutnya :p

okee~ aku seneng liat review2 yg masuk. tetap konsisten kasih review ya biar aku tetep fast update. thank you so much :)

salam sayang, rizdyo12 :*