Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Tao EXO as Huang Zitao (mentioned)

Rate: T

Length: chaptered [5/?]

Summary for chapter 5:

Ternyata Tao bukanlah pilihan yang tepat untuk Kyungsoo. Pemuda itu telah berbuat sesuatu yang sangat mengecewakan. Oleh karena itu, kini empat sahabat memutuskan untuk mencarikan pria lain bagi Kyungsoo. Pria yang lebih baik dari Tao

Previous chapter:

Meskipun Tao sedikit merasa tertekan oleh sikap tiga pria itu —dan sejujurnya ia masih bingung pada arti tatapan Sehun padanya-, tapi berikutnya ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menganggukkan kepalanya mantap. "Tentu aku akan menjaga Kyungsoo, karena aku..." sejenak Tao menggantung ucapannya. "...karena aku menyukai Kyungsoo."

..

Chapter 5 (Another Man)

HAPPY READING!


Pagi yang sedikit dingin melingkupi apartment Kyungsoo. Bukan suhu udara yang dingin. Menurut ramalan cuaca, hari ini akan cerah, dan suhu udara yang terukur pada termometer pun tidak terlalu rendah. Setidaknya cukup hangat bagi orang-orang yang akan beraktivitas hari ini.

Dingin yang dimaksud disini adalah keadaan apartment Kyungsoo. Itu bukan dingin yang disebabkan oleh pendingin ruangan tentunya.

Entah mengapa, suasana apartment itu pagi ini seperti lemari es. Begitu dingin hingga mampu membekukan seluruh penghuninya.

Efek dari event semalam mungkin masih membekas di hati penghuni apartment itu.

Makan malam yang berlangsung tadi malam sebenarnya berjalan lancar. Sangat lancar malah. Masakan hasil kolaborasi Kyungsoo dengan Chanyeol tadi malam enak seperti biasanya. Seharusnya itu meningkatkan nafsu makan Sehun karena seharian kemarin ia tidak makan.

Tapi, kemesraan yang ditunjukkan oleh Kyungsoo dan Tao tadi malam membuat nafsu makan Sehun terbang ke Kutub Selatan.

Tao rupanya tak terpengaruh oleh intimidasi yang dilakukan oleh Sehun dan kawan-kawan. Tampaknya, Tao sudah terlanjur menyukai Kyungsoo hingga ia tak peduli meskipun harus berhadapan dengan empat bodyguard Kyungsoo.

Meskipun demikian, tak seharusnya 'kan Tao pamer kemesraan saat di meja makan? Beberapa kali pria dengan mata panda itu menyuapi Kyungsoo, membersihkan bibir Kyungsoo dari saus, lalu mengusak rambut Kyungsoo.

Semua itu membuat empat sahabat Yifan merasa sebal. Di mata mereka, Tao sangat berlebihan. Meskipun kemarin Tao dengan mantap berkata bahwa ia akan menjaga Kyungsoo, tapi tetap saja tak seharusnya Tao bersikap berlebihan pada Kyungsoo seolah dirinya sudah memiliki Kyungsoo secara resmi. Hal itu membuat empat sahabat Yifan merasa jengah.

Tapi mereka bisa apa jika Kyungsoo ternyata menyukai Tao? Mereka hanya bisa menerimanya, 'kan? Hal itu membuat mereka sebal. Apalagi, intimidasi yang mereka lakukan terhadap Tao sepertinya sama sekali tak mempan.

Bahkan Joonmyeon, Jongin, dan Chanyeol kompak menyalahkan Sehun karena sudah mengajukan Tao sebagai calon pertama untuk Kyungsoo. Tiga orang itu bersikeras akan mencari pria lain untuk Kyungsoo. Entah bagaimana caranya. Mereka bertiga —plus Sehun- tak rela jika Kyungsoo jatuh dalam pelukan Tao, karena mereka menilai Tao bukanlah yang terbaik untuk Kyungsoo.

Padahal sebenarnya Tao bukanlah orang jahat yang perlu dikhawatirkan. Entah bagaimana sebenarnya jalan pikiran empat pria tampan itu. Mereka memiliki penilaian tersendiri pada calon pendamping hidup Kyungsoo.

Saat ini, Kyungsoo plus empat pengawal-nya sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka bersiap untuk pergi ke kantor.

Disana terlihat Chanyeol sedang memakai sepatunya, Jongin sedang merapikan rambutnya, Sehun sedang melipat kemejanya hingga sebatas siku, dan Joonmyeon yang sedang berusaha memakai dasinya.

Kyungsoo menatap berbagai pemandangan di depannya itu dengan senyum simpul. Sebenarnya ia cukup clueless pada sikap dingin empat pria itu, tapi ia memilih untuk tak bertanya macam-macam.

Gerak mata Kyungsoo terhenti pada sosok Joonmyeon yang sepertinya kesulitan memakai dasi.

Sekedar informasi, Joonmyeon memang tak pernah bisa memasang dasinya dengan baik dan benar. Selalu saja dasinya terpasang dengan tidak rapi. Itu terjadi setiap hari padahal ia adalah seorang wakil direktur utama yang diharuskan selalu tampil rapi.

Merasa kasihan melihat Joonmyeon yang frustasi, Kyungsoo akhirnya berjalan mendekati Joonmyeon, kemudian berdiri di depannya —Joonmyeon juga sedang berdiri-.

Tanpa berkata apapun, Kyungsoo mengambil alih dasi warna merah yang menggantung di kerah kemeja hitam Joonmyeon, kemudian mulai membuat simpul dasi yang cantik dan rapi.

Joonmyeon hanya bisa terperangah menatap Kyungsoo. Jarak mereka terbilang dekat. Apalagi tubuh Joonmyeon tidak terlalu tinggi sehingga kepala mereka berdua berada dalam jarak dekat.

Dari jarak itu, Joonmyeon menyadari bahwa wajah Kyungsoo terlihat sangat manis dan cantik. Joonmyeon sejak dulu tahu bahwa Kyungsoo itu cantik. Bahkan saat pertama kali melihat Kyungsoo setahun lalu pun ia berpikiran sama.

Tapi entah kenapa, saat ini semua terlihat dan terasa berbeda. Kyungsoo sangat menawan. Apalagi dengan aroma strawberry manis yang menguar dari tubuh mungilnya. Wanita pencinta buah berwarna merah itu barangkali memakai parfum beraroma strawberry. Apapun itu, yang jelas saat ini Joonmyeon bisa dibilang...terpesona.

Di sisi lain, Kyungsoo merasa bernostalgia karena moment yang sedang terjadi.

Dulu, setiap pagi ia selalu memasang dasi Yifan. Begitu dasi terpasang sempurna di leher jenjang Yifan, mereka akan saling bertatapan mesra, menyalurkan segenap rasa cinta dari pandangan mata mereka. Setelah puas saling tatap, Yifan selanjutnya mencium kening Kyungsoo penuh sayang.

Kenangan itu menghadirkan duri di hati Kyungsoo. Sungguh, ia merindukan sosok Yifan yang selalu lembut padanya.

Karena merasa matanya mulai panas, Kyungsoo segera memundurkan tubuhnya, menjauhi Joonmyeon lagi. Joonmyeon sebenarnya merasa bingung, tapi ia diam saja. Jujur, ia sendiri masih kaget karena tiba-tiba Kyungsoo memasangkan dasinya layaknya —ehem- seorang istri.

"Jadi, hari ini Kyungsoo pergi ke kantor bersama siapa? Jongin atau Sehun?" pertanyaan Chanyeol menginterupsi kebisuan di ruang tamu.

Dengan cepat Sehun berdiri dari sofa yang didudukinya, berjalan mendekati Kyungsoo, kemudian menggenggam tangan Kyungsoo posesif. "Kyungsoo noona berangkat denganku, tentu saja."

Jongin masih anteng di sofa yang didudukinya. Ia hanya memutar bola matanya malas saat mendengar kalimat posesif Sehun. Ia tak seperti Sehun. Ia baik-baik saja meskipun tidak berangkat bersama Kyungsoo.

Sehun sendiri sekarang masih menatap Kyungsoo penuh harap. Tak tanggung-tanggung, ia memasang puppy eyes yang sebenarnya tak cocok berada di wajahnya yang manly.

Kyungsoo jadi salah tingkah ditatap seperti itu. Ia sebenarnya tak tega untuk menolak Sehun, tapi—

"Maaf, Sehun. Hari ini aku berangkat ke kantor bersama Tao."

—pada akhirnya Sehun tereliminasi karena kalah saing dengan Tao. Tak bisa dibayangkan bagaimana kondisi hati Sehun saat ini. Barangkali hati pria itu harus langsung dilarikan ke UGD di rumah sakit terdekat karena langsung sekarat.


©The Letter


Mentari bersinar tak terlalu terik siang ini. Panasnya tak cukup untuk membakar otak dalam tempurung, tak cukup untuk menyulut emosi dan menghadirkan amarah.

Mentari siang ini benar-benar bersahabat bagi setiap orang yang berlalu-lalang dengan tenang di jalanan yang lengang. Sang surya menghantarkan kehangatan yang membuat damai dan tenang.

Tapi rupanya kepala Jongin tetap panas meskipun panas mentari tak membakar otaknya.

Pria berkulit tan itu saat ini sedang mengendarai mobilnya di jalanan yang sepi. Maklum, sekarang ini sudah lewat dari jam makan siang. Saat ini pasti semua orang sudah berada di tempatnya masing-masing. Entah di sekolah, kampus, maupun di kantor.

Hal itu membuat mobil Jongin tetap melaju dengan aman meskipun sebenarnya hatinya tengah kalut. Tak ada yang tahu hal apa yang membuat pria berambut hitam itu galau setengah mati.

Di tengah rasa kalutnya, untung saja Jongin masih tetap waras hingga ia masih menyadari bahwa traffic light kini berubah warna menjadi merah. Nyawa pria itu masih terselamatkan.

Mobil Jongin berhenti tepat di belakang garis zebra cross. Membiarkan para pejalan kaki menyeberang di depannya dengan aman.

Dan saat itu, tiba-tiba ponsel Jongin berdering. Ia meraih ponselnya, lalu menggeser simbol telepon berwarna hijau di layarnya —tanpa melihat caller ID yang tertera di layar-, dan kemudian menempelkan benda putih itu ke telinga kanannya.

"Halo?" sapa Jongin pada seseorang di ujung telepon.

Beberapa detik berlalu tanpa sahutan, sampai akhirnya terdengar suara isakan di ujung telepon, diikuti oleh suara serak seorang gadis yang membuat mata Jongin membulat sempurna. "Jo—Jongin...t-tolong aku, hiks..."


©The Letter


Jongin menatap sosok wanita di depannya dengan pandangan nanar. Di pundak wanita itu bertengger jaket hitam milik Jongin. Beberapa saat lalu Jongin yang meletakkan jaket itu di pundak sang wanita. Jaket itu membalut tubuh wanita yang terlihat rapuh.

Sudah lima menit Jongin sampai di cafe itu, namun tak sepatah katapun keluar dari bibir tebalnya.

Sedari tadi ia hanya menatap blank pada wanita yang menangis di depannya. Jujur, Jongin tak pernah suka berhadapan dengan wanita yang menangis sesenggukan begitu. Pasalnya, ia sama sekali tak tahu apa yang bisa ia lakukan.

Ditambah lagi, saat ini suasana hatinya sendiri juga sedang kalut. Tapi meskipun demikian, Jongin untuk sementara waktu ingin melupakan permasalahannya sendiri, dan ingin fokus pada wanita yang terus menangis di depannya.

Jongin hingga kini memilih untuk diam. Setidaknya sampai perempuan di depannya sedikit lebih tenang.

Beberapa menit terlewati sampai akhirnya suara isakan dari wanita di depan Jongin sudah tak terlalu terdengar lagi.

Jongin hanya bisa menatap iba pada wanita yang kini sedang menghapus jejak air mata di pipinya dengan sehelai sapu tangan.

"Ia...ia tiba-tiba mengirimiku sebuah pesan untuk datang ke cafe ini saat jam makan siang," si wanita mulai membuka mulutnya untuk memberi penjelasan pada Jongin. "Setengah jam aku menunggu disini, dan akhirnya ia datang. Tapi aku justru menyesali kedatangannya karena ternyata ia sedang...mabuk berat."

Si wanita kembali meneteskan sebulir air mata. Hal itu membuat Jongin semakin menatap iba pada sang wanita, tapi ia tetap belum mengeluarkan reaksi dan respon apapun.

"Ia...ia mendekatiku dengan sangat cepat. Aku bahkan tak sempat memproses apa yang terjadi saat ia tiba-tiba menciumku paksa, dan berusaha melepas kemejaku. Untung saat itu beberapa pelayan cafe langsung datang menolongku."

Tanpa sadar Jongin mengepalkan tangan kanannya begitu wanita di depannya mengakhiri ceritanya.

Sungguh pria biadab! Bisa-bisanya pria itu membuat wanita di depan Jongin menangis dan ketakutan seperti ini.

Jongin benar-benar merasa marah. Marah pada pria itu, juga marah pada dirinya sendiri karena ia tak mampu melindungi wanita di depannya.

Dengan gerak pelan —dan ragu- akhirnya Jongin meraih tangan si wanita yang bertengger di atas meja. Jongin menggenggam tangan itu dengan erat, seolah sedang menyalurkan kekuatannya pada si wanita.

"Maaf karena aku tak bisa melindungimu," Jongin berbisik dengan suara penuh penyesalan.

Mata sendunya menatap mata sembab perempuan di depannya dengan intens. Mata Jongin memancarkan ketulusan sekaligus rasa sesal yang mendalam.

Tapi si wanita menggeleng lemah. "K—kau tidak perlu minta maaf, Jongin. Aku...aku sudah sangat berterimakasih karena kau bersedia datang kemari. Maaf karena aku mengganggu pekerjaanmu."

Jongin tersenyum lirih. Ia tadi tidak sedang bekerja saat si wanita menelepon, jadi wanita itu tak mengganggu pekerjaannya sehingga tak perlu meminta maaf.

"Tidak apa-apa. Pekerjaanku bisa menunggu, tapi keadaanmu disini tak bisa dibiarkan menunggu," Jongin menghela nafasnya. Terasa berat dan sarat akan rasa lelah. "Seharusnya aku tak membiarkanmu didekati oleh pria itu. Seharusnya aku bisa menjagamu...Kyungsoo noona."

Si wanita —Kyungsoo- masih mempertahankan tatapan sayunya saat menatap Jongin. Ia merasa bersalah karena kini Jongin terus menerus menyesali keadaan.

Jika tahu akan berakhir seperti ini, seharusnya tadi ia tak menelepon Jongin.

Tapi ngomong-ngomong, ia sendiri tak tahu kenapa tadi ia menghubungi Jongin. Dari sekian banyak contact yang ada di ponselnya, kenapa Jongin yang ia hubungi?

Dan lagi, tadi ia menghubungi Jongin saat tubuhnya sudah berhasil diselamatkan oleh para pelayan cafe. Sesungguhnya, keadaan Kyungsoo sudah aman dan tak perlu menghubungi Jongin.

Tapi kenyataannya lain. Kyungsoo justru menelepon Jongin dan meminta tolong padanya. Ia meminta tolong pada Jongin yang notabene sangat canggung kepadanya. Nasib Kyungsoo hari ini benar-benar buruk, ditambah lagi dengan ia yang melakukan keanehan karena memutuskan untuk menghubungi Jongin.

Ia benar-benar tak tahu alasan kenapa dirinya tadi menghubungi Jongin. Mungkin ia hanya asal pencet saja saat menelepon Jongin? Mungkin.

"Ini salahku, Jongin. Aku sendiri yang mudah percaya pada Tao. Padahal penampilan luarnya saja seperti itu, tapi aku tetap berprasangka baik padanya. Aku seharusnya tidak kaget jika orang seperti Tao suka mabuk-mabukan begitu."

Jongin tak serta merta menimpali ucapan Kyungsoo.

Tao. Ya, pria itu yang baru saja membuat Kyungsoo menangis dan ketakutan. Padahal tadi pagi Tao menjemput Kyungsoo secara baik-baik di apartment, tapi siang ini semuanya sudah berubah. Dengan mudahnya pria bernama Tao itu mengubah keadaan, dari baik menjadi buruk.

Sebenarnya Jongin memang sempat berprasangka buruk tentang Tao semalam. Tapi ia menepis prasangkanya itu karena menurutnya, Tao bisa membahagiakan Kyungsoo. Jongin bisa melihat kesungguhan Tao tadi malam saat ia meminta Tao untuk menjaga Kyungsoo. Tapi mau bagaimana lagi? Tao tadi dikuasai oleh alkohol hingga ia berbuat sangat lancang terhadap Kyungsoo.

Setelah ini mungkin Jongin harus menghajar Sehun karena pria berkulit putih itu telah salah mencarikan calon pendamping untuk Kyungsoo.

"Jangan terlalu dipikirkan, noona. Pria brengsek seperti itu harus segera dilupakan," tukas Jongin.

Helaan nafas berat terdengar dari bibir Kyungsoo. "Tao mungkin bisa dilupakan begitu saja, tapi kejadian yang tadi akan sulit untuk dilupakan. Ia...ia mencium bibirku. Aku merasa seperti mengkhianati Yifan oppa."

Penuturan sedih Kyungsoo membuat Jongin ikut merasa sedih. Sungguh baik hati Kyungsoo hingga ia masih memikirkan sang suami yang sudah berada di alam lain.

Kyungsoo pastilah merupakan istri yang setia. Sayang sekali Yifan harus meninggalkan wanita yang setia seperti itu dalam waktu singkat.

Melihat mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca lagi, Jongin kembali menggenggam tangan Kyungsoo yang tadi sempat ia lepas. "Dengarkan aku, noona," ucapnya lembut. "Bekas bibir pria brengsek itu bisa dihapus. Biarkan aku yang menghapusnya."

Mata Kyungsoo melebar saat telinganya mendengar ucapan Jongin. Memangnya dengan cara seperti apa Jongin akan menghapus bekas bibir Tao di bibirnya?

Melihat Kyungsoo yang kebingungan, Jongin akhirnya memulai aksinya untuk menghapus bekas bibir Tao di bibir Kyungsoo dengan...

.

.

.

...sehelai tisu.

Ya. Dengan lembut Jongin menggerakkan tisu tipis di atas bibir Kyungsoo.

Tentu Kyungsoo hanya diam membeku menerima perlakuan Jongin.

Jika boleh jujur, tadi sebenarnya Kyungsoo sempat memikirkan kemungkinan lain perihal Jongin yang ingin menghapus bekas bibir Tao. Tapi rupanya pemikiran Kyungsoo itu 100% salah. Jongin bukanlah pria yang mengambil kesempatan di balik kesempitan.

Setelah beberapa saat mengusap bibir tebal Kyungsoo dengan tangan yang sedikit bergetar, Jongin akhirnya menarik tangannya dan ia letakkan di atas meja. Tak dapat dipungkiri bahwa Jongin masih canggung pada wanita di hadapannya. Keadaan lah yang membuat Jongin sedikit berani dan menepis rasa canggungnya.

"Aku berjanji akan selalu menjaga noona. Hal seperti tadi tidak akan terjadi lagi. Noona percaya padaku?" tanya Jongin.

Beberapa detik Kyungsoo diam sembari terus menatap mata elang Jongin. Ia mencari keyakinan dan ketulusan dari mata itu.

Dan begitu ia menemukan keduanya, tanpa ragu ia menganggukkan kepalanya. Ia merasa...aman.


©The Letter


Kenapa malam ini tiba-tiba mendung padahal tadi pagi hingga siang langit begitu cerah? Sang Maha Kuasa memang mudah untuk membolak-balik keadaan sang langit.

Dalam suasana mendung itu, ketegangan melingkupi sebuah ruang kamar. Langit di luar tampak tak berbintang. Gelap gulita, menambah aura mencekam di dalam ruangan luas itu.

Ruangan itu adalah basecamp bagi kuartet sahabat. Ya, itu adalah kamar sang hyung tertua dan sang magnae.

Beberapa menit silam, Jongin nyaris melayangkan tinjunya ke wajah Sehun. Ia sudah menceritakan kejadian yang dialami oleh Kyungsoo lewat conference call tadi siang.

Tadi siang saat bercerita di telepon, Jongin masih terlihat tenang dan tidak emosi. Tapi begitu malam ini ia bertemu langsung dengan sahabat-sahabatnya —terutama Sehun-, ia langsung termakan emosi. Ia mengamuk parah, namun untungnya Joonmyeon dan Chanyeol mampu menahan amarah Jongin.

Dan untungnya lagi, Kyungsoo tak sampai mendengar suara berisik dari kamar itu.

Beberapa menit berlalu, namun belum juga ada suara di kamar itu. Hal itu membuat Joonmyeon merasa jengah.

"Kita lupakan saja masalah Tao. Untuk ke depannya, kita harus lebih selektif dalam memilih calon pendamping untuk Kyungsoo," tutur Joonmyeon.

Chanyeol mengangguk, sedangkan Jongin masih setia melayangkan tatapan maut pada Sehun. Seolah ia sedang mengolok Sehun karena pria itu tidak selektif dalam memilih calon pendamping untuk Kyungsoo.

Jongin menyaksikan secara live adegan penuh air mata yang diperankan oleh Kyungsoo tadi siang. Oleh karena itu, ia sepertinya menjadi sosok yang paling mengerti kesakitan dan kekecewaan Kyungsoo meskipun ia tidak dekat dengan Kyungsoo.

Orang awam yang melihat Kyungsoo tadi siang pun akan tahu bahwa wanita itu sangat terluka dan terpukul. Jadi jangan heran jika si canggung Jongin juga bisa mengerti perasaan Kyungsoo.

"Jadi, siapa sekarang yang ingin mengajukan calon baru?" tanya Chanyeol setelah mereka semua hening untuk beberapa saat.

Tiga pria yang ia beri pertanyaan kini tampak berpikir. Mereka semua sedang memutar otak untuk mencoba mencari calon baru untuk Kyungsoo. Kini mereka tak boleh sembarangan untuk mencarikan calon baru bagi Kyungsoo. Hal yang terjadi tadi siang tak boleh sampai terulang lagi. Itu hanya akan membuat Kyungsoo trauma pada pria.

"Kurasa aku memiliki calon baru untuk Kyungsoo," suara Joonmyeon kembali terdengar. "Besok sepupuku pulang dari China. Usianya satu tahun lebih tua dibandingkan Kyungsoo. Kurasa mereka bisa menjadi pasangan yang serasi."

Sehun mendengus samar. Hati kecilnya seperti tak rela jika harus ada pria lain lagi yang dijodohkan dengan Kyungsoo. Tapi ia sendiri tak mengerti kenapa ia merasa seperti itu.

Dan sesungguhnya, bukan hanya Sehun yang merasa begitu. Ternyata, Chanyeol juga merasakan hal yang sama. Tapi Chanyeol lebih bisa menutupi ekspresinya. Ia jauh lebih dewasa dibanding Sehun.

Tak diragukan lagi 'kan jika Chanyeol adalah yang paling dekat dengan Kyungsoo diantara mereka semua? Maka jangan heran jika Chanyeol juga tak rela bila harus kehilangan Kyungsoo.

Tapi tetap saja, mereka harus profesional demi menuntaskan misi mereka terkait dengan permintaan terakhir Yifan.

"Ia bukan pria bajingan seperti Tao, 'kan?" tanya Jongin sarkastis.

"Tao bukan pria bajingan!" Sehun membela sahabatnya meskipun ia sendiri sebenarnya juga kecewa pada Tao. "Ia tadi hanya sedang kalut karena proyek perusahaannya gagal. Maklum 'kan kalau ia menyalurkan rasa kalutnya dengan mengonsumsi alkohol? Ia tadi langsung menemui Kyungsoo noona karena ia membutuhkan Kyungsoo noona sebagai penenang. Tapi ternyata semuanya berakhir buruk. Itu bukan rencananya!"

Jongin mendecih pelan. Sedang kalut katanya? Tadi siang Jongin juga sedang sangat kalut, tapi ia tak sampai meminum alkohol dan mabuk seperti Tao. Jongin tetap bisa berpijak pada akal sehatnya.

Ia tak seperti sahabat-sahabatnya itu yang kerap kali mengonsumsi alkohol jika sedang stress. Yang ada, Jongin justru terbilang anti pada alkohol.

"Sepupuku adalah orang yang baik dan tidak macam-macam. Ia baru saja menyelesaikan studi magisternya di China, dan akhirnya ia bisa kembali ke Korea," terang Joonmyeon.

Chanyeol mengangguk beberapa kali. "Ya sudah. Kapan Kyungsoo akan dikenalkan pada sepupumu itu, hyung?"

Tiba-tiba Joonmyeon tersenyum cerah seperti baru saja mendapat pencerahan. "Besok aku akan mengajak Kyungsoo untuk menjemput sepupuku di airport. Kalian setuju?"

Tiga lawan bicara Joonmyeon hanya bisa mengangguk, karena mereka tahu bahwa rencana Joonmyeon adalah yang paling baik untuk saat ini.


©The Letter


Hari ini adalah hari Minggu. Itu artinya, seluruh rutinitas selama enam hari ke belakang bisa diliburkan untuk hari ini.

Semua penghuni apartment Kyungsoo memang baru mendapat libur di hari Minggu. Saat Sabtu mereka masih bekerja walaupun tidak sampai malam. Mereka hanya bekerja sampai sore hari.

Pagi ini Kyungsoo sudah kembali tersenyum cerah meskipun kemarin ia sempat menangis dan bersedih. Ia beruntung karena ia memiliki kuartet pria yang selalu berusaha menghiburnya.

Sebenarnya Kyungsoo malu jika harus bercerita pada mereka semua. Tapi ia memutuskan untuk bercerita, karena bagaimanapun juga, Tao adalah sahabat Sehun. Sehun berhak tahu kelakuan sahabat karibnya itu.

Selain itu, empat sahabat Yifan itu tahu perihal kedekatan Kyungsoo dengan Tao. Jadi walaupun merasa malu, Kyungsoo tetap memutuskan untuk jujur pada empat sahabat mendiang suaminya.

Untungnya empat pria itu tak memberinya respon negatif. Mereka juga tak kaget, karena sebelum Kyungsoo bercerita, Jongin sudah terlebih dulu melapor pada mereka —tapi tentu mereka tak terbuka pada Kyungsoo tentang hal itu-.

Setelah mendengar cerita Kyungsoo, empat sahabat Yifan kemarin langsung menghibur dan menenangkan Kyungsoo. Dan yang paling penting, mereka semakin mantap berjanji untuk melindungi Kyungsoo.

Kyungsoo juga tidak marah pada Sehun karena pria itu sudah mengenalkannya pada pria pemabuk seperti Tao. Ia yakin bahwa Sehun juga tidak menduga jika keadaannya akan berakhir seperti kemarin. Untungnya Kyungsoo belum jatuh hati pada Tao.

Sehun sendiri juga berulang kali meminta maaf pada Kyungsoo dengan raut penyesalan. Tapi sekali lagi, Kyungsoo sama sekali tidak marah pada Sehun. Ia meminta Sehun dan yang lainnya untuk melupakan semua kejadian buruk itu, dan menjadikan kejadian itu sebagai pelajaran.

"Kyungsoo..." suara lembut Joonmyeon mengudara. Lima orang di apartment itu baru saja selesai sarapan, namun mereka masih betah duduk manis di meja makan. Merasa dipanggil, Kyungsoo menoleh pada Joonmyeon. "Hari ini kau ada acara?" tanya Joonmyeon.

Tanpa ragu Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Tidak. Memangnya kenapa, oppa?"

"Ehm...begini. Hari ini sepupuku kembali dari China. Kau mau menemaniku menjemputnya di airport? Akan sangat membosankan kalau aku hanya sendiri," Joonmyeon sedikit mengerucutkan bibirnya sok imut.

Hal itu membuat tiga sahabatnya memasang ekspresi pura-pura muntah.

"Hentikan ekspresi itu, hyung. Nanti Kyungsoo noona bisa mual seperti beberapa waktu lalu," Sehun menimpali ucapan Joonmyeon dengan sinis.

Segera saja Sehun menerima death glare manis dari hyung tertuanya.

Tingkah konyol dua sahabat itu rupanya mampu membuat Kyungsoo tertawa halus. "Ya Tuhan, kalian lucu sekali," ucapnya sambil menahan tawa. "Aku mau menemani Joonmyeon oppa ke bandara. Apa Chanyeol oppa, Jongin, dan Sehun juga ikut?"

"Se-sepertinya kami tidak bisa ikut," dengan tergagap Chanyeol menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Aku ada janji dengan temanku, Jongin ingin tidur seharian ini, dan Sehun ingin bermain game seharian ini. Jadi, kami tidak bisa ikut."

Keraguan yang tersirat dari suara gugup Chanyeol mau tak mau menghadirkan tatapan curiga di mata bulat Kyungsoo.

Gelagat Chanyeol sungguh aneh. Bagaimana mungkin pria tiang listrik itu sangat hafal jadwal Jongin dan Sehun? Meskipun mereka semua bersahabat dan sangat dekat, namun telalu janggal jika Chanyeol sampai menghafal jadwal pribadi Jongin dan Sehun.

Memangnya Chanyeol itu sekretaris pribadi Jongin dan Sehun? Entahlah. Kyungsoo tak mau ambil pusing mengenai hal itu.

"Kita hanya akan pergi berdua, Kyungsoo. Kau keberatan?" suara Joonmyeon mengganggu analisis Kyungsoo.

Walaupun Kyungsoo merasa curiga, tapi ia tidak ingin menuduh yang tidak-tidak. Ia tak ingin nantinya hubungan mereka menjadi terganggu. Ia yakin bahwa empat sahabat Yifan itu adalah orang baik. Mereka tak mungkin berbuat macam-macam yang akan merugikan Kyungsoo.

Kyungsoo memang belum pernah pergi berdua dengan Joonmyeon. Mereka pun jarang mengobrol ketika berada di apartment. Tapi ia yakin bahwa Joonmyeon adalah sosok yang baik. Pergi bersama mungkin bisa mengakrabkan diri mereka. Jadi, Kyungsoo akhirnya menerima ajakan Joonmyeon untuk pergi...berdua.

..

..

TBC


Author's Note:

Annyeong~ chapter 5 sudah datang. dan maaf karena ternyata disini SuDO-nya baru dikit. SuDo yang banyak ternyata baru di chapter depan. saya salah menghitung :(

disini aku mau curhat. boleh gak? boleh ya? hehe.

jadi gini, aku sebenernya lagi galau banget abis baca review2 yang masuk. review2 yang masuk positif kok, dan aku seneng bacanya :) tapi dari sekian banyak review itu, banyak yang minta FF ini ending dgn ChanSoo, KaiSoo, HunSoo, dll yang membuatku merasa bingung harus gimana :(

jujur, awalnya aku berencana buat bikin FF ini tdk berakhir dgn ChanSoo, KaiSoo, HunSoo, maupun SuDO. tapi setelah aku pikir2, kesannya jadi antiklimaks kalau aku jadi bikin gitu. nah, akhirnya aku berubah pikiran. akhirnya aku bikin FF ini berakhir dengan official couple, karena jujur aja, aku ngrasa kangen sama official couple-nya EXO. lama2 official couple-nya EXO bercerai-berai, dan aku sedih :(

jadi seperti itu, teman-teman. FF ini udah aku tulis sampai end dgn official couple sebagai akhirnya. tapi aku takut kalau nantinya para reader kecewa gara2 aku terkesan mainstream :( tapi jujur aja, aku emang kurang suka sama crack pairing. aku lebih suka yang official. hehe.

jadi aku harus gimana sekarang? apa aku harus mengubah alur ceritanya? salahku juga sih ya bikin FF ini dengan multipairing-nya Kyungsoo, dimana setiap pairing akan punya moment, dan para reader akan menyukai setiap pairing-nya. haha. jadinya serba salah :D

aku butuh masukan yaa~ karena aku nulis ini juga bukan buat diriku sendiri. apalagi FF ini banyak yang ngikutin, jadi aku gak mau egois.

so, tolong beri saya masukan^^

salam sayang, rizdyo12 :*