Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Kai EXO as Kim Jongin, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Chen EXO as Kim Jongdae

Rate: T

Length: chaptered [6/?]

Summary for chapter 6:

Joonmyeon memiliki nama kecil yang berarti Penjaga. Bagi Joonmyeon, nama itu terdengar sangat memalukan. Tapi bagi Kyungsoo, nama itu justru sesuai karena menurutnya, Joonmyeon selama ini selalu menjaga sahabat-sahabatnya, juga menjaga dirinya

Previous chapter:

Kyungsoo memang belum pernah pergi berdua dengan Joonmyeon. Mereka pun jarang mengobrol ketika berada di apartment. Tapi ia yakin bahwa Joonmyeon adalah sosok yang baik. Pergi bersama mungkin bisa mengakrabkan diri mereka. Jadi, Kyungsoo akhirnya menerima ajakan Joonmyeon untuk pergi...berdua.

..

Chapter 6 (The Guardian)

HAPPY READING!


Suara ketukan hak sepatu dengan lantai, suara roda koper bergulir disana-sini, juga suara merdu wanita yang menginformasikan kedatangan maupun keberangkatan pesawat merupakan makanan sehari-hari di bandara.

Tempat take off dan landing untuk burung besi raksasa itu sudah seperti pasar atau mungkin justru seperti mall karena suara berisik yang mengisi tempat itu.

Tak hanya itu. Banyaknya toko-toko yang menjual makanan ataupun souvenir juga menambah kesan tempat itu seperti tempat jual-beli.

Joonmyeon dan Kyungsoo pagi ini berada di Bandara Internasional Incheon. Iya, ini masih pagi. Masih pukul sembilan pagi. Keduanya bergegas pergi setelah selesai mengobrol di meja makan.

Dua manusia berbeda gender itu sekarang sudah berdiri di terminal kedatangan sejak beberapa detik lalu.

Menurut informasi yang kemarin diterima oleh Joonmyeon, pesawat yang ditumpangi oleh sepupunya akan mendarat di Korea pukul 09.30 KST. Artinya, Kyungsoo dan Joonmyeon masih harus menunggu setengah jam lagi hingga pesawat yang dimaksud tiba di bandara.

Itupun belum termasuk kemungkinan pesawat delay. Kalau pesawat delay, mereka harus ikhlas berdiri untuk waktu yang lebih lama.

"Kyungsoo..." suara panggilan Joonmyeon menginterupsi kegiatan Kyungsoo yang sedang memelototi papan informasi keberangkatan dan kedatangan pesawat. "Apa tidak masalah untukmu kalau harus berdiri dalam waktu yang lama? Kau tidak lelah?"

Kyungsoo tersenyum simpul. Saat ini sih ia belum lelah karena ia baru berdiri untuk waktu hitungan menit. Tapi entahlah untuk menit demi menit berikutnya, ataupun mungkin menjadi jam demi jam berikutnya —jika pesawat delay-. Apalagi saat ini Kyungsoo memakai wedges setinggi lima centimeter yang akan membuatnya semakin merasa pegal.

Sebenarnya tadi Joonmyeon sudah meminta Kyungsoo untuk memakai flat shoes saja supaya kakinya tidak terasa pegal. Tapi ternyata wanita itu tidak memiliki flat shoes yang bisa ia pakai. Semua alas kaki yang dimilikinya berjenis wedges dan high heels.

Padahal high heels maupun wedges bukanlah pilihan terbaik untuk seorang wanita hamil. Kyungsoo tidak hanya diharuskan untuk menahan berat tubuhnya sendiri, tapi juga harus menopang berat sang calon jabang bayi yang masih bernaung di rahimnya.

Tapi apa boleh buat? Dulu ketika masih bekerja, Kyungsoo memang selalu memakai high heels, dan sesekali diselingi dengan pemakaian wedges. Jadi tak heran jika Kyungsoo memiliki banyak koleksi dua benda itu karena setiap hari ia akan memakainya. Lagipula, harga diri seorang wanita akan bertambah tinggi seiring dengan bertambahnya ketinggian alas kaki, 'kan? Kyungsoo hanyalah wanita biasa yang juga berpikiran sama.

Walaupun kini Kyungsoo sedikit menyesal karena ia sama sekali tak memiliki koleksi sepatu beralas rendah yang akan membuatnya nyaman ketika ia sedang berbadan dua.

Ya~ semoga saja alas kaki setinggi lima centimeter yang dipakai Kyungsoo saat ini tidak membuat kaki wanita itu sakit atau semacamnya. Tentu akan sangat berbahaya 'kan bagi wanita hamil jika memakai sepatu ber-hak seperti itu?

"Aku baik-baik saja, oppa," Kyungsoo menjawab pertanyaan Joonmyeon setelah ia sempat terdiam cukup lama karena mengamati kondisi kakinya.

"Kalau memang kau lelah, aku bisa menggendongmu, Kyungsoo. Jadi bilang saja ya kalau kau sudah lelah?"

Senyum simpul kembali terukir di bibir pink Kyungsoo. "Aku ini berat, oppa. Lagipula, mana bisa oppa menggendongku di tempat seperti ini? Kita bisa menjadi pusat perhatian."

Joonmyeon tiba-tiba tertawa jahil. "Menjadi pusat perhatian bukanlah hal buruk. Lagipula, asalkan denganmu, aku tidak masalah jika semua orang memandang aneh ke arah kita."

Perkataan Joonmyeon barusan mengandung gombalan, dan mau tak mau Kyungsoo jadi malu-malu kucing. Wanita benar-benar kalah kalau sudah digombali oleh pria, dan Kyungsoo bukanlah perkecualian.

Tapi harus Kyungsoo akui, pria yang saat ini ada di sampingnya adalah pria yang baik dan dewasa. Harus diakui juga bahwa Joonmyeon sedikit memiliki karakter Yifan dalam dirinya. Joonmyeon itu dewasa dan mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi.

Jika keadaannya memungkinkan —misalnya saja saat ia sedang bersama tiga sahabatnya-, maka Joonmyeon bisa bertingkah konyol dan lucu. Tapi jika keadaan menuntutnya untuk serius —misalnya seperti saat ia harus berhadapan dengan bibi Wu beberapa hari lalu-, maka sisi dewasa Joonmyeon akan muncul.

Maka tak heran jika Joonmyeon senantiasa menjadi sosok kakak bagi tiga sahabatnya yang lain. Ia adalah sosok yang paling dewasa diantara mereka. Secara tidak disadari, Joonmyeon menggantikan peran Yifan sebagai sosok kakak dan sosok pelindung bagi para sahabatnya.

Selain itu, Joonmyeon juga memiliki jiwa pemimpin, sama seperti Yifan. Sedikit banyak Joonmyeon mengingatkan Kyungsoo pada sosok mendiang suaminya, dan itu membuat Kyungsoo tersenyum miris. Segala sesuatu yang membuatnya mengingat Yifan selalu saja membuatnya ingin menangis.

"Kyungsoo, kau baik-baik saja?" tanya Joonmyeon ketika ia mendapati Kyungsoo diam sembari memandangi kaki mungilnya yang dibalut wedges. "Kau masih memikirkan perkataanku untuk memakai flat shoes saja dibanding wedges? Ah, maafkan aku Kyungsoo. Jangan dipikirkan lagi, ne? Besok aku akan membelikanmu sepasang flat shoes yang cantik."

Oh! Rupanya Joonmyeon salah sangka. Ia justru mengira Kyungsoo sedih gara-gara masalah flat shoes. Sejak kapan Joonmyeon menjadi pria yang tidak sensitif begitu?

Tapi agaknya kebodohan Joonmyeon itu mampu membuat Kyungsoo tertawa keras. Meskipun matanya dipenuhi oleh cairan bening yang siap menetes kapan saja, namun Kyungsoo tetap tertawa.

Joonmyeon tersenyum manis melihat Kyungsoo tertawa. Tawa Kyungsoo terdengar begitu merdu dan indah. Sangat jarang Joonmyeon mendengar suara tawa indah itu.

Tidak. Joonmyeon tidak bodoh. Tadi ia sengaja bercanda untuk membuat Kyungsoo melupakan kesedihannya. Ia tentu tahu bahwa Kyungsoo bersedih karena Yifan, dan bukan karena masalah sepatu.

Karena memang selalu begitu adanya. Jika Kyungsoo tiba-tiba diam dan tampak sedih, maka itu artinya Kyungsoo sedang teringat pada Yifan. Joonmyeon terlalu pandai untuk tidak menghafal kebiasaan Kyungsoo meskipun mereka belum lama saling mengenal dan juga belum terlalu dekat.

Kali ini Joonmyeon bisa membanggakan diri karena berhasil membuat Kyungsoo tertawa.

Cantik sekali wanita itu jika sedang tertawa. Agaknya itu adalah isi pikiran Joonmyeon.

Dalam hati ia berjanji untuk menjaga tawa Kyungsoo. Ia ingin membuat Kyungsoo bahagia, karena kebahagiaan Kyungsoo membuatnya merasa bahagia juga. Belum pernah Joonmyeon merasa seperti ini dalam hidupnya, dan ia tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.

"Suho hyung!"

Twitch! Alis Joonmyeon terangkat sebelah begitu telinganya menangkap suara seseorang sedang meneriakkan nama kecilnya.

Sumpah! Joonmyeon tadi sedang merasa berbunga dan bahagia, tapi kenapa tiba-tiba suara panggilan cempreng itu mengganggunya? Joonmyeon sangat malu jika sekarang ia dipanggil dengan nama itu. Padahal nama itu dulu sangat dibanggakannya, tapi sekarang justru menjadi nama yang memalukan untuknya.

Begitu Joonmyeon menoleh ke arah si pemanggil nama kecilnya, ia mendapati sesosok pria sedang berjalan ke arahnya seraya menyeret sebuah koper ukuran besar.

Pria itu tersenyum lebar, tak menyadari aura hitam menguar dari tubuh Joonmyeon.

"Aku merindukanmu, Suho hyung!" dengan santainya pria itu memeluk erat tubuh Joonmyeon.

Membuat kepala Joonmyeon rasanya semakin mendidih karena ulah sepupunya yang menyebalkan itu.

Ya, pria yang sedang memeluk Joonmyeon itu adalah sepupunya yang baru pulang dari China setelah menuntaskan studinya selama dua tahun.

Tadi Joonmyeon dan Kyungsoo asyik mengobrol sehingga tak mendengar informasi mengenai kedatangan pesawat dari China.

"Lepaskan aku, Kim Jongdae!" Joonmyeon melepaskan pelukan paksa sepupunya yang bernama Jongdae. "Dan jangan pernah memanggilku dengan nama kecilku lagi! Kau mempermalukanku!"

Jongdae langsung memanyunkan bibirnya karena dimarahi oleh sang sepupu. Tapi begitu ia tanpa sengaja melirik pada Kyungsoo, bibirnya yang mengerucut itu langsung berganti menjadi senyuman lebar.

"Ah! Ini pasti Do Kyungsoo!" pekik Jongdae dengan penuh semangat.

Kyungsoo tersenyum canggung. "Ne, Kyungsoo imnida."

"Aigoo~ kau imut sekali. Suho hyung sering bercerita tentangmu!" dengan gemas Jongdae mencubit pipi gemuk Kyungsoo.

Yang dicubit pun hanya bisa tersenyum canggung (lagi). Pria di depannya saat ini benar-benar kelebihan energi. Mungkin lebay-nya melebihi Chanyeol.

"Sudah kubilang untuk tidak memanggilku dengan nama itu, 'kan?" suara Joonmyeon kembali terdengar.

Meskipun ia lagi-lagi kena marah, tapi Jongdae tetap acuh-acuh saja dan justru tersenyum manis pada Kyungsoo. "Kita abaikan saja sepupuku yang berisik itu. Kajja kita cari makan. Tadi aku tidak sempat sarapan," tanpa aba-aba, Jongdae menarik lengan Kyungsoo untuk berjalan.

Mereka meninggalkan Joonmyeon yang speechless di tempat pijakannya.

Berisik katanya? BERISIK? Sepertinya Jongdae tidak memiliki kaca di rumah untuk introspeksi diri.


©The Letter


"Kau tahu, Kyungsoo? Di China aku sempat menjadi vokalis sebuah band! Seharusnya aku bisa menjadi penyanyi terkenal disana!"

Suara cetar Jongdae terus-menerus membahana di dalam sebuah restoran cepat saji, yang letaknya tak jauh dari bandara.

Pria penyandang gelar master Ilmu Komunikasi itu tampaknya ingin membuktikan bahwa ia menguasai bidang komunikasi, sehingga ia tak hentinya mengoceh dengan suara lantang.

Kyungsoo, yang saat ini menjadi pendengar cerita Jongdae, hanya bisa sesekali mengangguk dan tersenyum.

Ia adalah pendengar yang baik, dan sepertinya Jongdae begitu menyukai peran telinga Kyungsoo yang setia mendengar ocehannya.

Di sisi lain, Joonmyeon hanya menatap dua orang itu dengan pandangan tak suka. Baru hari ini ia berhasil sedikit mengakrabkan diri dengan Kyungsoo, tapi serta merta Jongdae sudah mencuri atensi Kyungsoo.

Sebenarnya bukan salah Jongdae juga sih. Toh semua itu memang rencana Joonmyeon dan yang lainnya. Dan bukankah justru bagus jika Jongdae cepat akrab dengan Kyungsoo?

Lagipula, Jongdae itu pria baik-baik. Dari dandanannya yang normal saja hal itu langsung bisa dilihat. Ia tidak seperti Tao yang berdandan layaknya preman dan sangat urakan. Penampilan Jongdae biasa-biasa saja. Tubuhnya yang hanya setinggi Joonmyeon kini terbalut oleh kemeja warna coklat tua yang dipadukan dengan celana jeans hitam. Cukup normal 'kan penampilan itu?

Tapi sungguh, Joonmyeon rasanya sedikit tidak rela saat melihat Kyungsoo begitu nyaman mengobrol dengan Jongdae. Kenapa Kyungsoo bisa langsung nyaman bicara dengan Jongdae? Memangnya apa keunggulan Jongdae dibanding dirinya? Menurut Joonmyeon, dirinya jauh lebih tampan dan lebih baik daripada Jongdae. Tapi sekali lagi, itu menurut Joonmyeon.

"Apa kau bisa menyanyi, Kyungsoo? Bagaimana kalau kita duet?" kembali suara Jongdae menggema dengan nada yang sarat akan antusiasme. Sepertinya Jongdae sendiri merasa senang setelah bisa bertemu dengan Kyungsoo.

Kemarin Joonmyeon memberitahunya bahwa ia akan diperkenalkan dengan seorang wanita yang merupakan janda Wu Yifan —Jongdae juga mengenal Yifan walaupun tidak terlalu akrab-. Karena pada dasarnya Jongdae memang senang bertemu dan berkenalan dengan orang baru, maka Jongdae langsung merasa senang dan sangat bersemangat untuk bertemu dengan Kyungsoo.

"A—ah, suaraku jelek, oppa. Aku hanya akan merusak lagu kalau memaksakan diri bernyanyi," jawab Kyungsoo sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ia tak sadar jika ulahnya itu membuat Jongdae merasa gemas (lagi), dan pria itu tak ragu untuk mencubit pipi Kyungsoo. Bahkan pipi Kyungsoo sampai merah karena cubitan Jongdae.

"Ya! Kau menyakiti Kyungsoo!" suara Joonmyeon menginterupsi moment Jongdae dan Kyungsoo.

Dengan malas Jongdae menatap pada sepupunya. "Kau mengganggu saja, Suho hyung!"

"Tunggu dulu," suara Kyungsoo membuat Joonmyeon urung membalas perkataan Jongdae barusan. "Kenapa Jongdae oppa memanggil Joonmyeon oppa dengan sebutan Suho?"

Sebelum Jongdae menjawab, Joonmyeon sempat melayangkan tatapan mautnya pada Jongdae. Seolah melarang sepupunya yang berwajah kotak itu agar tak bercerita macam-macam pada Kyungsoo.

Tapi sepertinya Dewi Fortuna sedang tak berpihak pada Joonmyeon, karena Jongdae tampak tak terpengaruh oleh tatapan penuh intimidasi yang dilayangkan oleh sang kakak sepupu.

"Suho adalah nama kecil Joonmyeon hyung. Saat kecil, Joonmyeon hyung memaksa semua orang memanggilnya dengan nama Suho, karena ia sok ingin menjadi guardian (penjaga) bagi semua orang," Jongdae menerangkan, dan rasanya Joonmyeon ingin menjahit bibir sepupunya itu agar tak membongkar rahasia masa lalunya.

"Oh ya?" mata Kyungsoo membulat penuh. "Yifan oppa sudah mengenal Joonmyeon oppa sejak kecil, tapi ia tak pernah bercerita padaku tentang nama Suho."

Jongdae terkekeh sebentar sebelum ia sedikit melirik Joonmyeon, dan akhirnya menimpali perkataan Kyungsoo. "Itu karena Suho hyung sudah meminta semua orang untuk memanggilnya dengan nama Joonmyeon lagi saat ia beranjak remaja. Tapi aku tidak menurutinya, dan tetap menyematkan nama Suho untuknya."

Kyungsoo tertawa geli, lalu menatap Joonmyeon yang merasa tak dianggap di tempat itu. "Aigoo~ kau lucu sekali, oppa. Tapi sebenarnya aku menyukai nama Suho itu. Karena bagiku, kau pantas disebut sebagai penjaga. Kau menjaga sahabat-sahabatmu, dan kau juga menjagaku. Gomawo, Suho oppa."

Wajah kusut penuh mendung milik Joonmyeon seketika berubah cerah dengan hiasan pelangi di dua bola matanya. Kyungsoo menyebutnya penjaga? Oh! Rasanya Joonmyeon terbang hingga langit ketujuh!

Mungkin ia akan mulai menyukai nama Suho untuk ke depannya. Hanya mungkin, karena ia tetap saja merasa bahwa nama itu adalah aib yang memalukan. Barangkali nama Suho hanya terdengar bagus ketika Kyungsoo yang mengucapkan, tapi tetap terdengar memalukan ketika diucapkan oleh orang lain.


©The Letter


Minggu malam telah menjelang. Itu artinya, weekend akan segera berlalu, dan weekday akan kembali menjemput.

Bagi sebagian orang, pasti rasanya sangat malas jika harus kembali berjumpa hari Senin.

Para siswa akan malas-malasan berangkat ke sekolah dan bertemu aneka macam pelajaran, dan para pekerja akan malas-malasan berangkat ke kantor dan bertemu dengan setumpuk tugas yang melelahkan.

Banyak orang yang memilih untuk tidur awal ketika Minggu malam, supaya mereka bisa mengumpulkan energi guna menyambut hari Senin yang terasa berat.

Tapi Kyungsoo tidak termasuk dalam orang-orang yang memilih untuk tidur lebih awal ketika Minggu malam.

Saat ini bahkan sebutan Minggu malam sudah hampir tak layak untuk digunakan karena sekarang sudah hampir tengah malam, dan artinya Senin pagi sebentar lagi akan menjelang.

Tapi Kyungsoo bahkan belum memejamkan matanya sama sekali. Ia masih asyik duduk bersandar pada kepala ranjangnya, dan tangannya berkutat dengan ponsel hitamnya.

Bibir Kyungsoo sesekali terangkat untuk membentuk senyuman, seolah ia merasa bahagia karena hal yang tengah ia lakukan.

Sebenarnya apa yang sedang Kyungsoo lakukan? Barangkali pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling layak diajukan.

Dan jawaban dari pertanyaan itu adalah: Kyungsoo sedang berbalas pesan dengan Jongdae.

Iya. Kim Jongdae, pria yang baru tadi pagi dikenalnya.

Kyungsoo tak tahu kenapa ia bisa mudah akrab dengan sepupu Joonmyeon itu. Rasanya Kyungsoo seperti bertemu dengan teman lama karena terlalu nyaman mengobrol dengan Jongdae.

Meskipun hanya berkomunikasi lewat pesan singkat, namun mereka berdua seperti mengobrol secara langsung, dan sepertinya Kyungsoo sangat menikmati hal itu.

Ia tak mengerti kenapa Jongdae begitu asyik diajak mengobrol. Selalu saja ada bahan obrolan bagi mereka berdua, dan itu membuat keduanya jadi lupa waktu.

Obrolan-obrolan mereka sebenarnya juga hanya ringan. Mereka saling menanyakan hobby, makanan favorite, tempat hang out favorite, dan obrolan-obrolan umum lainnya yang bertujuan untuk saling mengenal lebih dalam.

Tapi saat berbalas pesan yang berisi tentang hal-hal di atas itu, Jongdae begitu pintar membawa suasana. Pesan-pesan dari Jongdae bukanlah pesan biasa yang membosankan. Jongdae selalu menyisipkan hal-hal lucu yang bisa menghangatkan suasana. Emoticon lucu juga diselipkan oleh Jongdae, dan hal itu sanggup untuk membuat Kyungsoo tertawa sendiri.

Bagi Kyungsoo —yang notabene tak memiliki banyak teman dekat- kehadiran Jongdae seperti membawa angin segar dalam hidupnya. Jongdae mungkin layak masuk dalam daftar teman dalam kehidupan Kyungsoo. Kepribadian Jongdae yang lebih gila daripada Chanyeol rupanya membuat Kyungsoo merasa senang dan nyaman.

Acara berkirim pesan Jongdae dan Kyungsoo berakhir ketika Jongdae menyadarkan Kyungsoo bahwa hari ini hari sudah sangat larut, dan Kyungsoo harus beristirahat. Tidak baik jika wanita hamil masih terjaga ketika tengah malam seperti ini, 'kan?

Kyungsoo meletakkan ponselnya di meja nakas setelah membaca pesan terakhir Jongdae yang isinya: Selamat beristirahat, Kyungsoo. Jaga si mungil dengan baik, ya. Jangan lupa memimpikanku saat kau tidur^^

Pesan yang cukup manis. Apalagi Jongdae menyebut si mungil dalam pesannya itu. Si mungil yang dimaksudkan oleh Jongdae adalah bayi yang saat ini bernaung di rahim Kyungsoo.

Hati Kyungsoo rasanya menghangat karena ia tahu Jongdae peduli pada bayinya.

Jujur, Kyungsoo sebenarnya cukup minder jika harus berkenalan dengan pria saat ia sedang hamil begini. Bukan berarti Kyungsoo merasa malu karena tengah hamil. Bukan sama sekali. Kyungsoo hanya takut jika para pria mengasihaninya dan tidak menghargai calon bayinya. Untungnya Jongdae tidak seperti itu —Tao kemarin sebenarnya juga tidak seperti itu-.

Di saat Kyungsoo sedang merasa bahagia seperti ini, tiba-tiba saja perutnya terasa lapar. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia mengisi perutnya dengan berbagai jenis makanan saat makan malam, tapi kenapa tengah malam begini ia malah kelaparan? Wanita hamil memang memiliki nafsu makan yang besar. Berat badan Kyungsoo pasti akan naik drastis karena kehamilannya ini.

"Kau lapar lagi, sayang?" Kyungsoo bertanya pada bayi yang masih berada dalam kandungannya. Ia mengelus sayang perutnya yang semakin besar itu. "Uh, kenapa aku tiba-tiba ingin makan ayam goreng, ya? Tengah malam begini?" kembali Kyungsoo menggumam sendirian.

Kyungsoo sebenarnya cukup heran dengan keinginannya itu. Pasalnya, Kyungsoo tak begitu menyukai menu ayam goreng. Ia sesungguhnya lebih menyukai menu-menu lain yang lebih bergizi dan sehat.

Barangkali Kyungsoo sedang ngidam sampai-sampai ia menginginkan menu makanan yang bukan merupakan kesukaannya itu.

Setelah menghela nafas sejenak, Kyungsoo memutuskan untuk bangkit dari ranjang nyamannya. Bagaimanapun juga, ia ingin makan ayam goreng, jadi ia harus memasak sendiri untuk bisa memenuhi keinginannya itu.

Memangnya siapa lagi yang bisa ia minta untuk memasak? Para maid? Mereka sudah tidur nyenyak saat ini. Kyungsoo tak mungkin tega membangunkan mereka.

Kyungsoo harus mandiri. Lagipula, ia juga sudah tak memiliki suami yang bisa memanjakannya dan menuruti keinginannya. Ia harus membiasakan diri dengan hal itu.

Dulu ia memiliki Yifan yang selalu menuruti keinginannya saat masa-masa awal kehamilannya. Saat usia kehamilan Kyungsoo belum genap sebulan, Yifan bahkan sempat susah payah mencarikan Kyungsoo buah durian lantaran istrinya itu sedang ngidam berat.

Tapi hanya sampai kandungan Kyungsoo usia satu bulan Yifan bisa selalu menuruti keinginan Kyungsoo. Setelah itu kondisi Yifan memburuk, dan mau tak mau Kyungsoo sejak saat itu berusaha untuk memenuhi keinginannya sendiri.

Tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan, Kyungsoo akhirnya beranjak keluar kamar.

Wanita hamil itu menuruni anak tangga untuk menuju dapur. Suasana rumah cukup gelap karena hanya ada beberapa lampu yang masih menyala.

Begitu Kyungsoo menapakkan kakinya di lantai satu, ia segera berbelok ke arah kanan untuk menuju dapur.

Saat ia sudah berada dekat dapur, ia menghentikan langkah kakinya karena ia merasa ada sesuatu yang janggal disana.

'Lampu dapur menyala? Apa ada orang di dalam sana?' tanya Kyungsoo dalam hati.

Ia menyipitkan matanya, dan memasang kewaspadaan yang tinggi karena ia takut jika ada pencuri yang masuk ke dalam apartment-nya. Walaupun sebenarnya kemungkinan itu sangatlah kecil, karena keamanan di apartment mewah itu sangatlah ketat. Tapi tidak ada yang tak mungkin, 'kan?

Setelah beberapa menit diam dalam posisinya, akhirnya Kyungsoo mengambil keputusan untuk bergerak.

Dengan pelan wanita cantik itu melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia tetap waspada dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. Jika memang akan terjadi hal yang buruk, ia akan langsung berteriak. Di apartment itu 'kan sekarang ada empat pria perkasa yang siap melindungi Kyungsoo. Jadi Kyungsoo tak perlu merasa takut.

Saat sudah berada di ambang pintu dapur yang terbuka, Kyungsoo melihat seorang pria terduduk lesu di lantai dapur. Ia tak bisa mengenali siapa pria itu karena pria itu menundukkan kepalanya. Rambut halus pria itu menutupi seluruh wajahnya karena ia berada dalam posisi menunduk.

Masih dengan gerakan pelan, Kyungsoo semakin bergerak mendekati sang pria misterius agar ia bisa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Rambut hitam berantakan, postur tubuh sempurna, dan kulit kecoklatan.

Kalau tidak salah, pria pemilik ciri-ciri seperti itu adalah...

"Kim Jongin?" nama itu mengalun dengan indahnya dari bibir sexy Kyungsoo.

Pria yang duduk lemas di lantai langsung mengangkat kepalanya untuk menatap Kyungsoo yang berdiri di depannya.

Benar. Pria itu adalah Kim Jongin. Kyungsoo akhirnya bisa menghembuskan nafas lega karena ternyata sosok misterius yang berada di dapurnya bukanlah pencuri.

"N—noona?" Jongin tampak kaget sekali begitu ia mendapati Kyungsoo ada di dapur. "Ke-kenapa noona ada disini? Ini sudah tengah malam, noona."

"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?" Kyungsoo kini ikut mendudukkan diri di lantai, tepat di samping Jongin. Ikut bersandar pada kabinet besar yang ada di dapur. "Kenapa kau duduk di lantai dapur tengah malam seperti ini?"

"Hey, kenapa noona ikut duduk di lantai? Ini dingin, noona. Nanti noona bisa sakit."

"Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab saja pertanyaanku."

Jongin menelan ludahnya gugup. Kyungsoo mendesaknya, dan ia tak bisa berkutik lagi. "Tadi sebenarnya aku kemari untuk mengambil minum. Aku sendiri lupa kenapa aku justru berakhir dengan duduk di lantai seperti ini."

Kyungsoo memutar bola matanya. Merasa tak puas dengan jawaban pria yang setahun lebih muda darinya itu. "Kau pikir kau bisa menipuku, huh?"

Kembali Jongin menelan ludahnya gugup. Kyungsoo saat ini sedang menatapnya tajam, seolah sedang berusaha menguliti Jongin hidup-hidup.

Lama-lama Jongin merasa gerah ditatap seperti itu terus-menerus. "Baiklah, aku akan bercerita pada noona. Tapi bisakah noona berjanji untuk merahasiakan ceritaku ini dari orang lain?" tanya Jongin.

Sejenak Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan ragu. Jongin saat ini terlihat sangat serius dan tidak main-main. Membuat Kyungsoo merasa penasaran pada cerita Jongin.

Sebenarnya Kyungsoo tak boleh seenaknya berjanji untuk menyimpan rahasia seperti yang Jongin minta. Bagaimana jika ternyata cerita Jongin merupakan hal krusial yang sebenarnya harus diketahui oleh orang lain? Tak seharusnya Kyungsoo ikut merahasiakan hal yang seperti itu, 'kan?

Tapi sepertinya Kyungsoo tak ingin mendebatkan hal itu untuk sekarang. Sepertinya mood Jongin sedang tidak baik.

Pada akhirnya, wanita bermarga Do itu menganggukkan kepalanya. "Aku janji akan menyimpan rahasiamu sebaik mungkin," ujarnya.

Sebisa mungkin Kyungsoo menghadirkan tatapan mata meyakinkan agar Jongin mau percaya padanya.

Dan itu berhasil. Seulas senyum lega terukir di bibir Jongin, menandakan bahwa ia percaya pada Kyungsoo. "Baiklah, aku akan memulai ceritaku," Jongin mengalihkan pandangannya ke arah depan. Tidak lagi menatap Kyungsoo. "Aku tidak bermaksud mengingatkan noona pada insiden di cafe yang terjadi kemarin, tapi ceritaku bermula di hari yang sama ketika insiden itu terjadi."

Kyungsoo belum menanggapi cerita Jongin karena pria itu tampaknya baru menyuarakan prologue-nya saja. Tentu masih ada kelanjutan dari awalan cerita yang hanya pendek itu.

"Saat noona meneleponku waktu itu, sebenarnya aku tidak sedang bekerja. Saat itu aku sedang berada dalam perjalanan untuk pulang karena aku...

.

.

.

...dipecat."

..

..

TBC


Author's Note:

Hai Hai. setelah membaca banyak review yang masuk, akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan ini FF official couple. karena kebanyakan reader menginginkan KaiSoo bersatu, jadi couple itulah yang akan saya persatukan. dan sepertinya official2 couple yang lain juga akan muncul untuk ke depannya^^

ada reader yg berkomentar yg intinya gini: "kalau ada Jongin dan Kyungsoo di satu FF tapi mereka gak dipersatukan tu rasanya gak enak". dan aku setuju sama komentar itu. aku rasanya jg kurang nyaman kalau memisahkan mereka padahal mereka sama-sama ada di FF ini.

maaf ya aku bikin FF official couple lagi untuk yang ke sekian kalinya. lain kali saya akan membuat yang crack couple, tapi saya pastikan bahwa tidak ada Jongin sama Kyungsoo di dalamnya. karena sebagai KaiSoo shipper, saya tidak rela memasangkan mereka dengan orang lain. hehe.

daan...Chen muncul di chapter ini! jadi sepupunya Joonmyeon itu baru pulang dari China, tapi bukan berarti orang China. dia orang Korea yang kuliah di China, jadi aku pake cast Kim Jongdae :)

oh iya, ada yang tanya ID Line aku. aku gak pake line soalnya temen2ku di dunia nyata gak banyak yang pake line. aku cuma pake BBM :(

yaap~ segitu saja cuap-cuapnya. KaiSoo bakal mulai banyak muncul karena kedekatan mereka adalah awal dari konflik. tapi dont worry, moment couple lain akan tetap ada^^

thanks for your attention, guys~

salam sayang, rizdyo12 :*