Title: The Letter
Cast for this chapter:
Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Chen EXO as Kim Jongdae (mentioned)
Rate: T
Length: chaptered [7/?]
Summary for chapter 7:
Pemecatan Jongin membuat Kyungsoo sangat merasa bersalah. Walaupun Jongin sama sekali tak menyalahkan Kyungsoo, namun Kyungsoo tetap berpikir bahwa dirinya yang menyebabkan Jongin dipecat
Previous chapter:
Kyungsoo belum menanggapi cerita Jongin karena pria itu tampaknya baru menyuarakan prologue-nya saja. Tentu masih ada kelanjutan dari awalan cerita yang hanya pendek itu.
"Saat noona meneleponku waktu itu, sebenarnya aku tidak sedang bekerja. Saat itu aku sedang berada dalam perjalanan untuk pulang karena aku...dipecat."
..
Chapter 7 (Jongin's Dismissal)
HAPPY READING!
Kyungsoo mendapatkan kejutan yang tak menyenangkan begitu kalimat Jongin sampai pada tanda titik. Kalimat itu bagaikan mengandung bom yang baru saja meledak, dan membuat jantung Kyungsoo nyaris copot.
Dipecat? Jongin dipecat?! Rasanya Kyungsoo sungguh tak ingin percaya pada apa yang ia dengar.
"A—apa? Tapi kenapa kau bisa dipecat, Jongin?" tanya Kyungsoo. Barangkali ia salah dengar, dan informasi yang membuatnya terkejut tadi bukan merupakan kebenaran. Bisa saja 'kan seperti itu?
Senyuman miris hadir di bibir Jongin setelah pria itu sempat menghela nafas berat. "Atasanku menyebutku sebagai pekerja yang tidak profesional. Aku sering terlambat masuk kantor, sering pulang lebih awal dari waktu yang ditentukan, dan sederetan pelanggaran lain yang masuk dalam blacklist atasanku itu."
Penjelasan Jongin secara telak menusuk hati Kyungsoo. Jadi, informasi yang tadi ia dengar merupakan kebenaran, dan Jongin benar-benar dipecat.
Jongin tempo hari kalut saat menemui Kyungsoo di cafe karena ia baru saja dipecat. Tapi saat itu ia berusaha melupakan kesedihannya dan membantu Kyungsoo untuk bangkit.
"Semua itu pasti karena aku," ucapan lirih Kyungsoo membuat Jongin refleks menolehkan kepalanya untuk menatap Kyungsoo lagi. "Kau terlambat masuk kantor karena jarak apartment ini dan kantormu sangat jauh. Apalagi kau pernah terlambat hingga beberapa jam saat aku tak enak badan beberapa waktu lalu. Dan untuk masalah kau yang sering pulang lebih awal, itu juga karena diriku, 'kan? Kau dan yang lainnya berkomitmen untuk menjagaku sampai-sampai kalian rela membolos kerja."
Kyungsoo menundukkan kepalanya setelah ia selesai bicara panjang lebar. Rasa sesal menggerogoti batinnya. Ia yang sudah menyebabkan Jongin dipecat.
Sebenarnya Kyungsoo sudah mulai merasa tidak enak sejak Jongin bersedia menemaninya untuk berangkat siang beberapa hari yang lalu. Saat itu Jongin berkata bahwa tempat kerjanya tak terlalu mengikat pegawainya untuk berangkat pagi, tapi sebenarnya Kyungsoo tak percaya pada hal itu.
Tapi semua sudah terlanjur basah. Nasi sudah menjadi bubur. Peraturan sudah dilanggar, dan itu berbuah pada sebuah pemecatan secara tidak hormat.
Jongin kehilangan pekerjaan yang selama dua tahun ini menghidupinya dengan layak. Butuh perjuangan keras bagi Jongin hingga akhirnya ia bisa memperoleh pekerjaan itu, dan kini ia kehilangan semuanya.
"Jangan menyalahkan diri noona seperti itu. Atasanku memang terlalu freak. Ia mengekang seluruh artis serta pegawainya seolah kami semua adalah binatang peliharaan. Kami tidak diperlakukan dengan layak, dan seharusnya pemecatanku ini adalah hal yang patut disyukuri. Aku kini terbebas dari kandang macan yang selama dua tahun ini mengurungku."
Kyungsoo belum mau mengangkat kepalanya meskipun Jongin sudah menghiburnya.
Patut disyukuri katanya? Memangnya ada orang yang bersyukur setelah dipecat? Meskipun Jongin berkata seperti itu, tapi pasti Jongin merasa sedih dan kecewa. Kyungsoo meyakini hal itu.
Apalagi Kyungsoo paham bahwa saat ini mencari pekerjaan bukanlah hal mudah. Koreografer berbakat seperti Jongin tentu jumlahnya tak sedikit di jagad hiburan Korea Selatan. Kyungsoo takut Jongin tak bisa menemukan pekerjaan baru setelah ini.
"Noona...kumohon jangan seperti ini. Jika noona seperti ini, aku jadi merasa bersalah."
Perkataan tambahan dari Jongin mampu untuk mengangkat kepala Kyungsoo.
Tapi seketika Jongin terperangah karena kini ia bisa melihat lelehan air mata di pipi putih Kyungsoo.
Jadi, sedari tadi Kyungsoo menangis? Kyungsoo terus menunduk karena ia meneteskan air matanya?
Ini adalah kali kedua Jongin melihat Kyungsoo menangis secara live. Parahnya, kali ini Jongin yang membuat air mata berharga milik Kyungsoo membasahi pipinya.
Karena tak kuasa melihat seorang wanita meneteskan air mata, Jongin akhirnya memeluk Kyungsoo. Ia menempelkan kepala Kyungsoo di dadanya. Memberi ruang bagi Kyungsoo untuk meluapkan emosi yang menyesakkan dadanya.
"Noona boleh menangis sekarang, tapi setelah itu noona harus kembali tersenyum. Dan, setelah itu noona jangan lagi menyalahkan diri noona sendiri."
Kyungsoo tertegun. Matanya yang sedari tadi mengalirkan liquid bening kini justru membulat sempurna.
Ia kaget karena tiba-tiba Jongin memeluknya.
Ini bukan kali pertama Kyungsoo dipeluk oleh seorang pria, tapi kali ini pelukan yang didapatkan Kyungsoo terasa berbeda.
Pelukan Jongin bukanlah pelukan erat, bukan pelukan posesif, dan justru terkesan sebagai pelukan ragu-ragu yang dipenuhi oleh keluguan. Pelukan Jongin tidak membuat tubuh mereka berdua saling menempel, tapi hanya kepala Kyungsoo saja yang menempel di dada Jongin. Pelukan itu benar-benar...berbeda.
Meskipun demikian, pelukan Jongin terasa tulus. Dan meskipun Kyungsoo merasa asing pada sensasi pelukan yang sedang ia rasakan, tapi ia tetap merasa aman dan terlindungi berkat pelukan sederhana itu.
Tepukan-tepukan lembut di punggungnya juga membuat Kyungsoo merasa lebih nyaman dan tenang. Sungguh Kyungsoo tak pernah merasakan sensasi sebuah pelukan yang seperti ini. Pelukan polos, tapi membuatnya merasa tenang. Pelukan Yifan dulu sangat berbeda dengan pelukan yang kini sedang ia dapatkan.
Yifan dulu selalu memeluknya dengan erat seolah takut kehilangan Kyungsoo. Kyungsoo menyukai pelukan posesif Yifan, tapi ia tak berdusta bahwa ia kini juga menyukai pelukan lugu dari seorang Kim Jongin.
Beberapa menit telah berlalu, dan Jongin merasa sudah cukup lama ia memberi waktu bagi Kyungsoo untuk menangis.
Akhirnya, pria berbibir tebal nan sexy itu melepas pelukannya, lalu tangannya ia gerakkan untuk menghapus jejak air mata Kyungsoo. "Aku tidak suka melihat wanita menangis, apalagi jika wanita itu menangis karena diriku. Jadi, kumohon noona jangan pernah menangis lagi. Aku merasa bersalah jika membuat noona menangis."
"Maaf..." ucap Kyungsoo lirih. Sekiranya hanya kata itu yang ada di benak Kyungsoo. Ia terus merasa bersalah dan ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan.
"Jangan meminta maaf," Jongin membalas ucapan Kyungsoo dengan suara yang tak kalah lirih dan terkesan lembut. "Kita lupakan saja masalah yang tadi, ne? Dan kumohon jangan ceritakan perihal pemecatanku pada tiga sahabatku. Mereka akan merasa khawatir jika tahu hal itu."
"Ta-tapi, Jongin—"
"Tidak ada tapi. Kalau noona bercerita pada mereka, maka aku akan marah pada noona. Noona tidak mau 'kan kalau aku marah pada noona?" refleks Kyungsoo menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Jongin. "Good girl! Nah, kita lupakan masalah yang tadi. Jadi, sebenarnya apa yang ingin noona lakukan di dapur saat sudah lewat tengah malam seperti ini?"
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya —kebiasaannya saat ia sedang gugup-, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jongin. "Se—sebenarnya tadi aku tiba-tiba merasa lapar dan ingin makan ayam goreng. Aku tadi ingin memasak ayam goreng sebenarnya."
Jongin tersenyum kecil saat ia melihat tingkah lucu Kyungsoo. "Jadi noona sedang ngidam ayam goreng, ya? Bagaimana kalau aku saja yang memasak? Bercerita panjang lebar membuatku lapar," canda Jongin.
"Memangnya kau bisa memasak?" tanya Kyungsoo.
"Fried chicken is my favorite. Cooking fried chicken is my speciality. Trust me!" Jongin meyakinkan, dan Kyungsoo hanya bisa tersenyum melihat keyakinan Jongin. "Noona tunggu disini saja, ne? Aku akan memasak. Tapi sebelumnya, noona harus pindah tempat duduk," Jongin kembali bicara sembari melepas sweater abu-abu yang dikenakannya. Ia lalu meletakkan sweater itu di lantai tepat sebelah Kyungsoo duduk. "Duduklah disini dulu supaya tidak terlalu dingin," imbuh Jongin seraya menunjuk pada sweater-nya.
Kyungsoo rasanya kehilangan kata-kata. Ia begitu terpaku saat Jongin tiba-tiba melepas sweater-nya, kemudian menggelar benda hangat itu di lantai sebagai alas duduk untuk Kyungsoo.
Perlakuan Jongin sangat manis, dan itu menghangatkan hati Kyungsoo hingga ke bagian terdalam.
Demi Kyungsoo, Jongin rela menanggalkan sweater-nya dan kini hanya mengenakan kaos sleeveless berwarna hitam.
Oops! Kyungsoo baru menyadari bahwa kini Jongin terlihat sangat sexy! Lihatlah otot lengannya yang sangat sempurna. Lalu lihat juga abs indahnya yang tercetak di kaos ketatnya.
"Noona baik-baik saja?" pertanyaan Jongin menyadarkan Kyungsoo dari lamunan konyolnya. Dengan ragu wanita itu mengangguk. "Syukurlah kalau noona baik-baik saja. Jadi, bisakah noona berpindah tempat duduk supaya noona tidak sakit nantinya?"
Kembali Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun. Ia hanya bisa menuruti perintah Jongin dengan cara sedikit menggerakkan badannya dan akhirnya ia duduk di atas sweater hangat Jongin.
Rasa dingin yang tadi meresap lewat tubuh bagian bawahnya kini lenyap. Tergantikan oleh rasa hangat yang berasal dari benda tebal yang menjadi alas duduknya.
Akhirnya Jongin bisa tersenyum puas. Paling tidak, Kyungsoo sedikit aman dari resiko masuk angin.
Dan akhirnya, Jongin pun mulai memasak makanan kesukaannya. Bisa dibilang, menu ayam goreng adalah satu-satunya menu yang bisa dimasak oleh Jongin. Pemuda itu bukanlah pemuda yang pandai memasak seperti Chanyeol. Jadi jangan heran jika ia hanya bisa memasak menu yang tergolong mudah itu.
Akhirnya, tengah malam yang awalnya terasa dingin itu berubah menjadi hangat karena Jongin dan Kyungsoo dapat mencipta kehangatan versi mereka sendiri.
Mereka melewati tengah malam hingga dini hari dengan memakan ayam goreng buatan Jongin sambil mengobrol hangat.
Mereka kini mulai bisa menciptakan suasana yang hangat meskipun diantara mereka sempat ada rasa kaku dan canggung.
Rasa kaku dan canggung itu sebenarnya tetap ada. Hanya saja, intensitasnya mulai berkurang sedikit demi sedikit. Mungkin lama-lama mereka akan akrab seiring dengan berjalannya waktu.
©The Letter
Senin pagi ini, seluruh penghuni apartment Kyungsoo berkumpul di ruang tamu guna bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ruang tamu memang selalu menjadi tempat mereka untuk bersiap-siap.
Setiap individu saat ini sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri.
"Aku berhasil menciptakan sebuah lagu luar biasa yang akan menjadi lagu hits di Korea saat akhir tahun nanti. Gajiku akan dinaikkan," Chanyeol yang tadinya diam sembari mengikat tali sepatunya, tiba-tiba saja berbicara.
Sehun menjadi orang pertama yang menanggapi perkataan Chanyeol. "Aku juga akan naik gaji karena proyekku kemarin berjalan sukses."
"Proyek yang mana? Proyek saat kau basah kuyup karena kehujanan itu? Saat kau sampai tidak makan seharian penuh?" tanya Chanyeol dengan nada mengejek.
Yang diejek hanya bisa mencibir. "Yang penting gajiku akan dinaikkan setelah ini."
Merasa jengah dengan pertengkaran dua pria tiang listrik, Joonmyeon akhirnya buka suara. "Memangnya gaji kaliah naik berapa persen, huh? Begitu saja sudah saling menyombongkan diri!"
"Aku tak peduli berapa nominalnya. Yang penting gajiku naik. Kami bukan dirimu, hyung. Jabatanmu di perusahaan sangat tinggi, gajimu pun sangat besar. Jadi jangan menghina kami," Chanyeol menimpali ucapan Joonmyeon.
Tiga sahabat itu masih terus mengoceh perihal gaji. Mereka masih terus meributkan nominal gaji yang selama ini mereka terima.
Ketiganya sampai tak sadar bahwa di ruangan itu ada dua manusia yang hanya bisa diam sembari menatap mereka bertiga.
Dua manusia dengan mata mereka yang sedikit bengkak itu hanya bisa menatap nanar pemandangan di depan mereka.
Dua manusia itu adalah Jongin dan Kyungsoo. Mereka baru tidur sekitar pukul tiga pagi, jadi mata mereka sampai bengkak begitu.
Di tengah suara berisik akibat tiga sahabat terus berdebat, Kyungsoo menyempatkan diri untuk melirik Jongin yang duduk jauh darinya.
Pandangan Jongin terlihat kosong. Ia pasti merasa sedih karena tiga sahabatnya membicarakan tentang gaji disaat dirinya baru saja dipecat. Rasanya semua jadi begitu buruk bagi Jongin. Walaupun ia tampak tenang, tapi pancaran matanya menunjukkan kesedihan. Kyungsoo merasa iba karenanya.
Tapi tiga sahabatnya itu juga tidak bisa disalahkan, karena mereka tak tahu kondisi terkini Jongin. Dan Jongin pun tak ingin tiga sahabatnya itu tahu. Ia lebih memilih untuk berpura-pura baik-baik saja. Ia akan berpura-pura berangkat bekerja hari in seperti biasa, agar tiga sahabatnya tidak curiga.
"Kita bisa menghabiskan waktu seharian penuh jika terus-menerus mendebatkan hal yang tidak penting," ujar Sehun. Ia sepertinya lelah pada perdebatan tanpa ujung antara dirinya, Joonmyeon, dan Chanyeol.
"Si magnae benar. Lebih baik kita hentikan dan segera berangkat ke kantor," timpal Joonmyeon, yang langsung diangguki oleh Sehun dan Chanyeol. "Hari ini Kyungsoo ingin berangkat dengan siapa?" pertanyaan Joonmyeon tertuju pada Kyungsoo.
"Aku—"
"Kyungsoo noona berangkat denganku tentu saja!" dengan posesif, Sehun melingkarkan tangannya pada bahu sempit Kyungsoo. Sehun sepertinya tidak ingin kehilangan kesempatan lagi untuk berangkat bersama Kyungsoo. Sabtu kemarin ia kalah saing dengan Tao, dan kali ini ia tak mau kalah saing dengan siapapun.
Kyungsoo sebenarnya kaget. Ia sama sekali tak menyangka Sehun akan bersikap sangat posesif dan agresif padanya. Entah sejak kapan Sehun berubah menjadi pria clingy seperti itu.
Lihat saja cara Sehun merangkul pundak Kyungsoo. Sangat erat dan posesif. Membuat Kyungsoo merasa tak nyaman karena skin ship mereka itu. Kalau hanya sekedar pegangan tangan, Kyungsoo masih merasa nyaman-nyaman saja. Tapi jika ia dirangkul dengan sangat erat begitu, agaknya ia merasa sedikit kurang nyaman.
"Y—ya sudah, aku berangkat dengan Sehun," seperti biasa, Kyungsoo hanya bisa pasrah meskipun sebenarnya ia memiliki harapan lainnya. Rasanya tak tega juga jika harus menolak Sehun untuk kedua kalinya.
Di saat Sehun melakukan selebrasi karena ajakannya diterima oleh Kyungsoo, saat ini Kyungsoo justru menyempatkan diri untuk melirik Jongin. Namun pria yang dilirik oleh Kyungsoo itu justru tersenyum ke arah Sehun.
Sepertinya Jongin merasa terhibur saat melihat sikap manja dan ekstra posesif yang ditunjukkan oleh Sehun. Agaknya Jongin merasa beruntung karena memiliki seorang sahabat yang menghiburnya, meskipun itu secara tidak sengaja.
Tadinya Kyungsoo mengkhawatirkan Jongin. Ia khawatir jika Jongin merasa tertekan karena di saat sahabat-sahabatnya membicarakan gaji, ia justru tak akan menerima gaji lagi setelah dipecat.
Tapi Kyungsoo sedikit bisa tersenyum lega karena sepertinya Jongin baik-baik saja.
©The Letter
Aspal mulus di jalanan Kota Seoul seolah menjadi sirkuit bagi mobil yang dikendarai oleh Sehun.
Sebenarnya pria berkulit putih itu tidak sedang berkendara dengan kecepatan tinggi. Hanya saja, dulu saat masih berusia lima tahun Sehun pernah memiliki cita-cita untuk menjadi pembalap Formula 1.
Meskipun cita-cita itu hanya untuk sesaat dan tergantikan begitu saja oleh cita-cita yang lain, namun barangkali saat ini Sehun sedang mengkhayal dirinya mengendarai jet darat bermerk Ferrari maupun BMW.
"Sehun..." khayalan Sehun terpaksa harus diakhiri oleh panggilan seorang wanita di sebelahnya. Ya, Sehun sedang berkendara bersama Kyungsoo untuk menuju ke kantor mereka. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Kyungsoo kembali bersuara setelah panggilannya tadi dibalas dengan senyum singkat oleh Sehun.
"Kau baru saja bertanya, noona," dengan jahilnya Sehun terkekeh. "Tapi sepertinya noona sedang serius. Jadi, noona ingin bertanya apa, hm?"
Sejujurnya Kyungsoo merasa agak ragu untuk bertanya. Ia takut Sehun akan berpikir macam-macam tentangnya jika ia nekat bertanya.
Tapi mau bagaimana lagi? Kyungsoo merasa penasaran saat ini. Lagipula, wanita hamil memang tidak boleh memendam sesuatu di hatinya sendiri, karena itu akan menjadi beban dan tekanan untuknya.
Jadi, Kyungsoo memutuskan untuk lanjut bertanya. "Apa yang kau ketahui tentang SM Entertainment?"
Dari samping, Kyungsoo bisa melihat Sehun mengerutkan dahinya. Mungkin pria Oh itu bingung karena tiba-tiba Kyungsoo bertanya tentang agensi artis.
"SM Entertainment adalah agensi artis terkemuka di Korea. Mereka banyak melahirkan artis-artis bertalenta selama ini. Noona ingin menjadi artis disana?" tanya Sehun.
"Hah?" Kyungsoo terkejut mendengar pertanyaan Sehun. "Ti—tidak. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi seorang idol. Aku sebenarnya hanya ingin bertanya mengenai pekerjaan Jongin disana. Apakah...Jongin senang bekerja disana?"
Ah! Sekarang Sehun mengerti. Rupanya Kyungsoo tak ingin menjadi seorang artis, namun ia hanya ingin bertanya tentang Jongin.
"Sejak kecil, Jongin bercita-cita menjadi seorang dancer. Saat kami masih remaja, kami mengusulkan pada Jongin untuk ikut audisi menjadi trainee di beberapa agensi artis, tapi Jongin menolak usulan kami," Sehun mengambil jeda untuk mengambil nafas panjang. "Jongin tidak ingin menjadi artis. Ia ingin menjadi dancer bukan karena ia ingin terkenal, tapi hanya ingin menyalurkan hobby saja. Daripada menjadi terkenal, ia lebih suka membagi ilmu dance yang ia miliki pada orang lain. Dan disinilah ia sekarang, menjadi seorang koreografer."
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya sambil meremas tangan kirinya yang ada di atas pangkuannya.
Ia ingin sekali berkata pada Sehun bahwa kini Jongin sudah tidak menjadi koreografer lagi. Jongin sudah dipecat.
Tapi Kyungsoo tak bisa melakukan hal itu. Ia sudah berjanji pada Jongin untuk menyimpan rahasia perihal pemecatannya.
"Meskipun Jongin bahagia selama ia menjadi koreografer, tapi sebenarnya ia menjalani kehidupannya dengan berat pada awalnya," Sehun kembali bersuara, dan Kyungsoo mendengar baik-baik perkataan Sehun. "Atasannya memperlakukan pegawai dan artisnya dengan semena-mena. Saat awal bekerja, Jongin bahkan bekerja dari pagi sampai pagi lagi. Selain itu, gajinya pun hanya rendah. Tapi berikutnya SM Entertainment mendapat teguran dari asosiasi pekerja, jadi Jongin juga mendapat keringanan dan kenaikan gaji. Tapi tetap saja, menurutku sampai saat ini agensi itu tetap melakukan perbudakan."
Kyungsoo masih diam. Ia mengingat perkataan Jongin tadi malam. Inti perkataan Jongin sama dengan perkataan Sehun.
Kyungsoo sekarang jadi bisa menyimpulkan bahwa mungkin pemecatan Jongin tak sepenuhnya berdampak buruk. Bisa jadi, pemecatan itu justru membebaskan Jongin dari perbudakan. Tapi semua tetap terasa buruk karena Jongin sekarang menjadi pengangguran. Sungguh penuh dilema.
"Ngomong-ngomong..." Sehun bicara lagi karena ia merasa Kyungsoo tak berniat menanggapi ceritanya tadi. "Kenapa noona bertanya tentang pekerjaan Jongin? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Kepala Kyungsoo yang tadi tertunduk kini refleks tertoleh menghadap Sehun. Ia menatap Sehun dengan tatapan kosong. Ia bingung harus menjawab apa pada pertanyaan Sehun tadi.
Setelah lama berpikir, Kyungsoo akhirnya menjawab pertanyaan Sehun dengan sebuah kebohongan. "Tidak ada hal yang terjadi. Aku hanya ingin tahu saja. Kau tahu sendiri 'kan kalau aku dan Jongin tidak terlalu akrab? Makanya lebih baik aku bertanya tentang semua itu padamu."
Senyum bahagia merekah di bibir tipis Sehun. Ada sisi hatinya yang merasa berbunga karena Kyungsoo percaya padanya sehingga ia menanyakan tentang Jongin kepadanya.
Bisa saja 'kan Kyungsoo bertanya pada Chanyeol ataupun Joonmyeon? Tapi nyatanya Kyungsoo memilih Sehun sebagai tempatnya bertanya. Apalagi Kyungsoo itu sangat dekat dengan Chanyeol. Saat sedang berada di apartment, Kyungsoo paling sering mengobrol dengan Chanyeol —hal itu sering membuat Sehun kesal-. Tapi rupanya untuk masalah Jongin, Kyungsoo lebih percaya pada Sehun.
Mendapat kepercayaan dari Kyungsoo adalah sebuah nilai plus untuk Sehun. Akhirnya wanita itu mau membuka dirinya pada Sehun.
"Kalau noona merasa penasaran tentang Jongin maupun yang lainnya, noona bisa bertanya padaku. Aku akan jadi informan handal untuk noona," Sehun terkekeh. "Tapi...apa noona tidak merasa penasaran padaku, huh? Apa aku tidak terlihat misterius di mata noona?"
Giliran Kyungsoo kini yang terkekeh. "Di mataku, kau seperti buku yang terbuka, Sehun-ah. Sangat jelas untuk aku baca," Sehun menggerutu mendengar jawaban Kyungsoo yang terdengar seperti mengejeknya. "Tapi justru itu yang membuatku merasa nyaman dan mudah akrab denganmu. Kau sangat terbuka dan apa adanya. Tidak penuh dengan kepura-puraan," imbuhan kalimat Kyungsoo cukup untuk menghapus wajah kusut Sehun. Kini pria itu tersenyum sangat lebar.
Dua manusia berbeda usia itu terus mengobrol dengan seru.
Topik pembicaraan mereka sudah berganti. Mereka kini lebih banyak membicarakan tentang Sehun, karena Kyungsoo juga ingin lebih mengenal Sehun. Kyungsoo ingin dekat dengan empat sahabat Yifan tanpa kecuali. Baginya, kini mereka berempat bukan hanya menjadi temannya, tapi juga menjadi keluarganya. Menjadi saudaranya.
Saking asyiknya mengobrol, mereka jadi tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di depan kantor Kyungsoo. Terpaksa mereka menyudahi obrolan seru mereka. Terpaksa juga Sehun berpisah dengan wanita yang belakangan ini mengganggu pikiran dan hatinya.
©The Letter
Rembulan yang berbentuk sabit bertahta di langit Kota Seoul.
Hanya segaris rembulan, namun mampu menghadirkan seberkas sinar yang menyaingi terangnya lampu-lampu kota.
Jam makan malam telah tiba, dan rutinitas makan malam di apartment Kyungsoo berjalan seperti biasanya. Lima manusia itu menempati meja makan dengan formasi yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
Kyungsoo duduk bersama Chanyeol di salah satu sisi panjang meja makan —dua orang itu memang selalu duduk bersebelahan sejak awal-, sedangkan Jongin, Joonmyeon, dan Sehun menempati sisi panjang yang lain dari meja makan itu.
Malam ini Kyungsoo yang memasak menu makan malam sendirian, tanpa Chanyeol yang biasanya berkolaborasi dengannya. Tadi Chanyeol pulang sedikit terlambat jadi tidak sempat membantu Kyungsoo di dapur.
Tapi masakan Kyungsoo kali ini rupanya membuat empat pria yang ada disana merasa bingung dan aneh.
Biasanya Kyungsoo selalu memasak menu makanan dengan jumlah lebih dari satu, tapi malam ini menu yang tersaji di meja makan hanyalah satu saja.
Dan semua terasa semakin aneh karena satu-satunya makanan yang tersaji di meja itu adalah...
"Ayam goreng?"
...Ya. Ayam goreng adalah satu-satunya menu yang dimasak oleh Kyungsoo.
Empat sahabat merasa sangat kaget sampai mereka secara kompak bertanya dalam waktu bersamaan.
Satu-satunya wanita di ruang makan itu hanya bisa tersenyum canggung. "Akhir-akhir ini aku sangat suka makan ayam goreng. Jadi maaf karena malam ini aku hanya memasak ayam goreng," Kyungsoo sedikit menundukkan kepalanya karena merasa menyesal.
Ia setengah berkata jujur. Pasalnya, semalam ia juga sangat ingin makan ayam goreng.
Tapi sebenarnya bukan hanya itu alasan Kyungsoo memasak menu ayam bertepung itu. Ia memiliki alasan yang lain.
"Kau sedang ngidam, Kyungsoo?" tanya Joonmyeon. Malu-malu Kyungsoo menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kau tidak perlu minta maaf, Kyungsoo. Lagipula, kami ini omnivora, pemakan segala," lanjut Joonmyeon.
Kyungsoo tersenyum lega mendengar guyonan Joonmyeon. Empat pria yang ada disana juga tersenyum. Jika ayam goreng memang menu yang sedang diinginkan oleh Kyungsoo, maka mereka harus menerimanya dengan senang hati. Keinginan seorang wanita hamil biasanya merupakan keinginan sang jabang bayi dalam kandungan, kan?
Karena sudah terlalu lama membiarkan ayam goreng menunggu bosan di atas meja makan, Joonmyeon akhirnya memimpin doa sebelum makan malam, selanjutnya mereka mulai menikmati hidangan yang tersaji.
Dari lima manusia yang menempati meja makan, terlihat Jongin yang paling bersemangat mengambil nasi dan juga ayam goreng. Tak tanggung-tanggung, piring Jongin kini menyerupai gunung karena ia terlalu banyak mengambil makanan. Menu ayam goreng benar-benar menu kesukaan Jongin hingga pria itu sangat bernafsu menghabiskan semuanya.
Diam-diam Kyungsoo memperhatikan Jongin, dan ia tersenyum simpul. Senyum Kyungsoo makin lebar saat ia melihat Jongin makan dengan sangat lahap seolah ia sudah tidak makan selama satu tahun.
Jongin benar-benar berakting dengan baik. Berpura-pura tak terjadi apapun dalam hidupnya. Pria itu sungguh memiliki kepribadian yang mengagumkan. Ia tak ingin menjadi beban untuk orang lain, dan kini bisa menunjukkan wajah tersenyum yang begitu tampan di tengah hatinya yang bersedih.
Kyungsoo merasa lega. Setidaknya, usahanya malam ini membuahkan hasil...
'Aku tidak bisa melakukan hal lain untuk menghiburmu, Jongin. Aku hanya bisa memasak makanan kesukaanmu ini khusus untukmu. Dengan harapan, ini bisa sedikit menghiburmu.'
..
..
TBC
Author's Note:
Annyeong semuanya~ saya kembali dengan chapter 7^^
di chapter kemarin ada yg berkomentar kalau kyknya chapternya terasa lebih pendek dari biasanya, pdhl jumlah word-nya sama lho. mungkin cuma perasaan aja. hehe.
terus chapter kemarin kyknya jg kurang memuaskan. aku sendiri gak dpt feel ke SuDO ataupun ChenSoo jadi maaf kalau kurang bagus menggambarkan moment mereka.
oh iya, aku disini mau curhat lagi. aku tadi pagi dpt komentar yg sangat pedas buat FF ini. ini bukan kali pertama aku dpt komentar negatif, tapi komentar yg aku baca tadi pagi adalah komentar yg paling 'istimewa' buat aku.
komentar itu datang dari seorang reviewer terhormat di FFN yang menggunakan username Kyungsoo holic. aku bukannya mau mengadu sama para reader yg lain, tapi aku pengen sharing aja ttg isi komentarnya yang istimewa itu. berikut adalah inti dari komentar beliau:
1. haha.. aku tertawa saat membaca pairnya. tidak tidak.. saya tidak membaca FF nya. hanya membaca review,dan note.
dan bolehkah saya bertanya? anda Kyungsoo bias? anda tau Kyungsoo bagaimana? kalo iya anda tahu Kyungsoo mengapa anda membuat Fic macam seperti ini?
Bahkan saya yang stand Kyungsoo dari awal Exo debut pun tak pernah bisa membaca fic sampai pair Kyungsoo sebanyak itu. cih!
2. Kyungsoo.. dia tidak terlalu dekat dengan yg lainnya selain dengan Kai,Baekhyun,Chanyeol dan sedikit Sehun. Exo M? haha bahkan Kyungsoo tidak dekat. KrisSoo? bahkan kris terkadang lupa dengan nama Kyungsoo. Kris hanya dekat dengan Lay,Luhan,Tao,Chanyeol dan Baekhyun sebagai info. saya merasa aneh kenapa sampai ada KrisSoo,HanSoo bahkan TaoSoo? hahaha..
3. apa anda iri dengan Pair everyone x baekhyun? aah wajar karena Baekhyun is a whore! iya! dia pelacur, dan si penyuka sesama jenis yg menutupi identitas nya dengan bersama dengan wanita iblis itu.
4. kyungsoo bukan Baekhyun yg digilir melayani semua member Exo! kyungsoo begitu murni dan anda mengotorinya walau hanya dalam sebuah Fiksi.
5. saya mencintai Kyungsoo. dia bias saya dan saya begitu merasa terhina karena anda salah satu author yg membuat Kyungsoo saya seperti seorang pelacur layaknya seorang Byun Bitch Baekhyun! sebaiknya anda berhenti membuat Kyungsoo seperti ini!
Bagaimana menurut kalian tentang review yang sangat menakjubkan itu? luar biasa, bukan?
hehe. di FF ku yang sebelum ini (Mr. Normal) aku sudah menegaskan bahwa kisah fiksi bukanlah kisah nyata. kisah fiksi adalah hasil imajinasi para fans yang tidak ada hubungannya dengan realita. aku tidak akan mengklarifikasi perihal itu lagi karena aku udah capek. reader yang dewasa pasti ngerti banget tentang itu, dan aku seneng karena mayoritas reader disini adalah reader yang dewasa :)
soal multipairing-nya Kyungsoo sama everyone di EXO, itu hasil imajinasiku. yang namanya imajinasi itu tidak terbatas kan? semua orang bebas berimajinasi.
terus kenapa disini jadi bawa-bawa Baekhyun dan sampai menyebutnya dengan kasar? salah satu hal yg membuatku merasa marah adalah karena komentar itu bisa menyulut fanwar. sungguh, aku gak pengen hasil tulisanku menyulut perdebatan dan keributan antar fans. aku mungkin tidak mencintai seluruh member EXO, tapi aku menghormati semuanya, dan aku tidak suka jika ada orang yang mudahnya menyebut orang lain dengan sebutan 'bitch'. itu sangat kasar, dan bener-bener bikin aku pengen nangis.
aku awalnya gak suka BaekYeon. aku sempet marah saat mereka dikonfirmasi. tapi aku yakin kalau itu adalah pilihan yang terbaik. aku tidak pernah menghujat mereka dengan ekstra kasar seperti itu. disini aku pengen minta maaf untuk seluruh Baekhyun stan dan juga Taeyeon stan, karena FF yang aku tulis ini menghadirkan sebuah hujatan kasar untuk Baekhyun dan Taeyeon. sungguh. aku tidak mengharapkan hal itu terjadi. aku sangat minta maaf.
aku mungkin seorang fujoshi. aku suka couple-couple yaoi. tapi aku juga realistis. aku bisa apa kalau mereka ternyata straight dan bukannya gay? aku cuma bisa nerima kan? fans ChanBaek aja berbesar hati menerima BaekYeon, jadi aku juga menerima mensupport mereka, asalkan itu baik untuk mereka.
disini aku juga pengen minta maaf ke semua Kyungsoo stan yang gak terima Kyungsoo aku pasangin sama banyak orang. tapi sungguh. Kyungsoo enggak 'digilir' disini. dia kan cuma menjalin hubungan pertemanan sama orang-orang itu. tapi maaf kalau ada Kyungsoo stan yang tidak berkenan.
aku memang tidak menjadi Kyungsoo stan dari awal dia debut. aku gak tau banyak tentang dia. tapi alangkah lebih baik kalau ada Kyungsoo stan yang bersedia mengguruiku secara lebih sopan dan bersahabat. aku menerima segala masukan kok asalkan itu baik.
perlu diingat, ini adalah fan fiction. kisah fiksi buatan fans. kenapa fans membuat kisah fiksi? itu karena fans memiliki imajinasi. fans yang dari awal mengenal exo pun tidak tahu kebenaran tentang exo yang sesungguhnya. mungkin banyak fakta tentang mereka yang beredar, banyak foto-foto mereka yang tersebar. tapi apakah itu real dan benar-benar mencerminkan kepribadian mereka? fans tidak ada yang tahu. itulah kenapa fans berimajinasi dan menulis kisah fiksi. karena fans tidak tahu kebenaran yang hakiki tentang para idol.
sungguh, aku menghargai orang-orang yang juga menghargaiku. penghargaan itu tidak hanya dalam bentuk pujian, tapi juga dalam bentuk kritik dan masukan yang membangun. aku tidak masalah mendapat kritik pedas asal itu disampaikan berdasarkan etika yang baik.
aku terlalu tua untuk mempermasalahkan komentar-komentar semacam itu, tapi aku membahas itu sebagai pelajaran untuk kita semua. kita hidup dalam lingkungan yang penuh tata krama dan sopan santun. tak bisakah kita menerapkan itu dalam dunia kisah fiksi juga?
untuk semua fans EXO, maaf jika kalian tidak berkenan dengan tulisan-tulisanku selama ini. jujur, menjadi seorang penulis tidaklah mudah. itulah kenapa aku sendiri selalu menghargai author-author lain. berimajinasi itu tidak mudah, apalagi jika harus menuangkannya dalam bentuk tulisan.
semoga kita semua bisa belajar dari hal yang telah terjadi dan kita menjadi fans yang lebih dewasa.
salam sayang, rizdyo12 :*
