Title: The Letter
Cast for this chapter:
Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Chen EXO as Kim Jongdae (mentioned)
Rate: T
Length: chaptered [8/?]
Summary for chapter 8:
Jongin lama-lama merasa aneh pada sikap tiga sahabatnya. Tapi pikiran Jongin terlalu berkabut untuk bisa menerka apa yang terjadi. Yang bisa ia lakukan hanyalah bertanya-tanya dalam hati: "Apa yang salah dengan mereka?"
Previous chapter:
Jongin benar-benar berakting dengan baik. Berpura-pura tak terjadi apapun dalam hidupnya. Pria itu sungguh memiliki kepribadian yang mengagumkan. Ia tak ingin menjadi beban untuk orang lain, dan kini bisa menunjukkan wajah tersenyum yang begitu tampan di tengah hatinya yang bersedih.
Kyungsoo merasa lega. Setidaknya, usahanya malam ini membuahkan hasil...
'Aku tidak bisa melakukan hal lain untuk menghiburmu, Jongin. Aku hanya bisa memasak makanan kesukaanmu ini khusus untukmu. Dengan harapan, ini bisa sedikit menghiburmu.'
..
Chapter 8 (What's Wrong With Them?)
HAPPY READING!
Sang surya kembali bertahta di langit Kota Seoul. Membawa kembali sang pagi dengan angin sejuk menenangkan kalbu. Angin sejuk yang menjadi pendorong bagi jiwa-jiwa gersang agar kembali bersemangat menghadapi hari baru.
Suasana pagi di apartment Kyungsoo agaknya selalu sama. Ruang tamu selalu dihiasi oleh pemandangan para manusia yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor.
Tapi hari ini ada pemandangan yang sedikit berbeda. Kyungsoo saat ini berdiri dengan canggung, dengan outfit yang berbeda dari biasanya.
Biasanya Kyungsoo selalu berangkat ke kantor dengan memakai blouse yang dipadukan dengan rok polos sepanjang lutut ataupun sedikit diatas lutut. Kadang ia juga memakai blazer yang menambah kesan elegant dan profesional.
Hari ini penampilan Kyungsoo berbeda. Ia memakai gaun cantik berwarna merah muda sepanjang lutut, dengan lengannya yang hanya sebatas siku. Di pundak kanan Kyungsoo tersampir apik tas wanita berbentuk persegi panjang dengan warna coklat tua, sedangkan di lengan kiri Kyungsoo tersampir sebuah cardigan warna putih yang belum dipakai.
Rambut panjang Kyungsoo digerai begitu saja hingga ia terlihat sangat manis dan cantik. Seperti biasa, wanita itu hanya memakai riasan tipis namun tetap membuat wajahnya terlihat cantik bak bidadari.
Penampilan berbeda Kyungsoo itu membuat empat pria yang tinggal seatap dengannya mengernyitkan dahi karena bingung. "Penampilanmu tampak lain, Kyungsoo," itu Chanyeol yang menyuarakan isi pikirannya.
Semburat pink muncul secara perlahan di pipi Kyungsoo, menandakan bahwa sang pemilik pipi kini sedang merona. "Ehm...hari ini aku tidak ke kantor, oppa. Appa —ayah Yifan- sudah menunjuk pengganti posisi Yifan oppa, jadi mulai hari ini aku tidak perlu ke kantor lagi."
Sontak Sehun berdiri dari sofa dan berjalan mendekati Kyungsoo. Ia berhenti tepat di depan Kyungsoo. Membuat Kyungsoo kaget dan sedikit memundurkan badannya. "Apa?" Sehun mengutarakan sebuah kata tanya dengan nada tak percaya. "N-noona tidak perlu ke kantor lagi? Ja—jadi aku tidak akan berangkat ke kantor lagi dengan noona?"
Kyungsoo bisa melihat dengan jelas bahwa di mata Sehun terdapat pancaran kekecewaan. Tapi apa yang ia katakan tadi memang sebuah fakta, dan ia hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah.
Gerak kepala Kyungsoo itu membuat Sehun merasa semakin sedih. Mulai besok ia harus berangkat sendirian ke kantor, dan pasti ia akan kesepian.
Kyungsoo sebenarnya merasa bingung melihat Sehun yang sangat sedih dan agak frustasi. Ia tak tahu kenapa pria itu sangat ingin selalu berangkat bersamanya, padahal mereka bisa selalu bertemu walaupun tidak pergi bersama setiap hari.
"Kalau kau memang tak perlu pergi ke kantor hari ini, lalu kenapa kau berdandan rapi dan cantik seperti ini, Kyungsoo?" tanya Joonmyeon. Menginterupsi rasa frustasi seorang Oh Sehun.
Kyungsoo sempat merona lagi saat ia mendengar kata cantik yang diucapkan oleh Joonmyeon. Secara tidak langsung, Joonmyeon memujinya, 'kan? Wanita manapun juga pasti akan merona jika dipuji.
"Ehm...apa Jongdae oppa tidak mengatakan sesuatu pada Joonmyeon oppa?" tanya Kyungsoo. Joonmyeon sempat terkaget ketika mendengar nama sepupunya disebut, tapi detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya. "Hari ini Jongdae oppa mengajakku jalan-jalan. Sudah dua tahun ia meninggalkan Korea, dan katanya ia ingin mengelilingi Seoul hari ini."
Kali ini bukan hanya Joonmyeon yang kaget, tapi tiga sahabat Joonmyeon lainnya juga ikut kaget.
Jadi, pagi ini Kyungsoo berdandan cantik karena akan pergi kencan?
"Jongdae? Maksudnya Jongdae hyung sepupunya Joonmyeon hyung?" tanya Jongin.
Sahabat-sahabat Joonmyeon tentunya mengenal Kim Jongdae. Beberapa kali mereka sempat bertemu dengan Jongdae sebelum pria itu merantau ke China. Kepribadian Jongdae yang ramah dan menyenangkan membuatnya bisa diterima dengan baik oleh sahabat-sahabat Joonmyeon.
Tiga sahabat Joonmyeon juga tahu bahwa Jongdae lah yang diajukan oleh Joonmyeon sebagai calon pendamping Kyungsoo. Karena mereka sudah mengenal Jongdae, makanya mereka tidak keberatan jika Kyungsoo dijodohkan dengan Jongdae —walaupun sebenarnya beberapa diantara mereka merasa keberatan dengan hal itu. Tapi tentu itu disimpan di hati mereka masing-masing-
Pertanyaan Jongin tadi dijawab oleh Kyungsoo dengan anggukan kepala mungilnya.
Begitu melihat Kyungsoo mengangguk, tatapan mata Sehun, Joonmyeon, dan Chanyeol berubah menjadi tatapan yang tak terdefinisi.
Lain halnya dengan Jongin yang kini kembali cuek dan sibuk dengan ponselnya. Tidak ada yang tahu jika Jongin sekarang sedang mencari lowongan kerja di internet. Untuk saat ini, mencari pekerjaan baru adalah prioritas utama Jongin. Ia ingin sedikit mengabaikan hal lain. Setidaknya untuk sementara waktu.
"J—jadi kau ingin berkencan dengan Jongdae?" kali ini Joonmyeon yang bertanya.
"Kami hanya jalan-jalan saja, oppa. Kami tidak menganggap itu sebagai kencan," jawaban polos Kyungsoo mampu merubah raut wajah Joonmyeon, Sehun, dan Chanyeol.
Keluguan Kyungsoo sanggup menghadirkan senyum di wajah mereka yang tadinya datar. Kepolosan Kyungsoo adalah hal yang akhir-akhir ini menjadi kesukaan mereka. Sifat Kyungsoo yang satu itu sangat bisa membuat mereka tersenyum.
"Kau ingin berjalan-jalan, 'kan? Kalau begitu tunggu sebentar, ne? Aku punya satu hadiah yang bisa menemanimu jalan-jalan," Joonmyeon kembali bicara, dan tanpa menunggu respon dari Kyungsoo, ia langsung berlari menaiki anak tangga. Sepertinya pria pendek itu berlari menuju kamarnya di lantai dua.
Beberapa menit Joonmyeon meninggalkan ruang tamu, dan akhirnya wajah pria itu kembali muncul di ruang tamu.
Pria berkulit putih itu mendorong tubuh Sehun untuk menjauh dari hadapan Kyungsoo, dan kini dirinya berdiri tepat di depan Kyungsoo —menggantikan posisi Sehun tadi-. Sehun tentu saja mendengus kesal. Ia tadi sudah merasa kesal, dan kini semakin kesal karena ulah Joonmyeon.
Joonmyeon tidak menyadari kekesalan sang magnae, dan malah tersenyum lebar sembari menyerahkan sebuah kotak kado warna putih pada Kyungsoo. "Ini untukmu," ucapnya.
Kyungsoo memandang kotak kado dan wajah Joonmyeon secara bergantian, sebelum akhirnya ia meraih kotak kado yang disodorkan oleh Joonmyeon dengan tangan kanannya. "Ini apa, oppa?" tanyanya.
"Buka saja, lalu kau akan tahu isinya," ujar Joonmyeon.
Dengan ragu akhirnya Kyungsoo membuka penutup kotak kadonya. Begitu penutup itu berhasil ia buka, mata bundar Kyungsoo terlihat semakin bundar setelah ia melihat hadiah dari Joonmyeon. "I—ini..." Kyungsoo bersuara dengan tergagap.
Melihat Kyungsoo yang tampak speechless, Joonmyeon tersenyum lembut. "Wedges dan high heels tidak baik untuk wanita hamil, jadi aku memberikan itu untukmu. Sesuai dengan perkataanku tempo hari."
Flat shoes. Isi di dalam kotak kado yang diberikan Joonmyeon adalah sepasang flat shoes cantik berwarna pink dengan sedikit ornamen elegant berwarna putih yang menghiasi bagian depannya.
Saat di bandara tempo hari Joonmyeon memang berkata bahwa ia akan membelikan flat shoes untuk Kyungsoo. Tapi Kyungsoo berpikir bahwa itu tidak serius, dan hanya sebagai cara Joonmyeon untuk menghibur Kyungsoo. Namun rupanya Joonmyeon menepati kata-katanya. Ia benar-benar seorang pria yang memegang janjinya.
"Kebetulan sekali kau memakai gaun warna pink, jadi sepatu ini akan sangat cocok untuk dipakai sekarang," ujar Joonmyeon lagi.
Ia kemudian mengeluarkan sepasang flat shoes pemberiannya dari kotak kado, kemudian ia berlutut di depan Kyungsoo.
Seluruh pasang mata yang melihat adegan itu membesar seketika. Jongin bahkan kini melupakan ponselnya, dan ikut fokus menatap scene Joonmyeon dengan Kyungsoo.
Mata semua orang semakin melebar ketika mereka melihat Joonmyeon mulai melepas wedges yang dipakai oleh Kyungsoo. Lagi-lagi Kyungsoo memakai wedges karena ia benar-benar tidak memiliki alas kaki dengan hak pendek.
Dengan gerakan lembut Joonmyeon melepas sepasang sepatu berhak tinggi itu secara bergantian.
Setelah dua sepatu berhak tebal itu terlepas semua, Joonmyeon mulai memakaikan satu flat shoes di kaki kanan Kyungsoo. Gerakannya saat melakukan hal itu begitu lembut, membuat semua orang yang ada disana terpana dan tak mampu berkata apa-apa.
Setelah selesai dengan satu flat shoes, Joonmyeon beralih ke flat shoes lainnya. Ia meraih kaki kiri Kyungsoo kemudian memakaikan sepatu beralas tipis itu di kaki kirinya.
Kyungsoo tertegun. Ia jadi teringat pada moment dimana Yifan memakaikannya sepatu baru saat di kantor karena heels sepatu lama Kyungsoo tiba-tiba patah saat ia berjalan.
Saat itu mereka berdua baru beberapa minggu resmi berpacaran, dan Yifan selalu melakukan hal manis untuk Kyungsoo selama waktu itu. Yifan saat itu membelikan sepatu baru —yang harganya mahal- untuk Kyungsoo, dan langsung memakaikan sepatu baru itu di kaki Kyungsoo. Saat itu Yifan juga berlutut di hadapan Kyungsoo, sama seperti yang dilakukan oleh Joonmyeon sekarang.
Yifan dan Joonmyeon memiliki kelembutan yang sama. Hal yang baru saja dilakukan oleh Joonmyeon benar-benar membuat Kyungsoo teringat pada Yifan. Hingga tanpa sadar, air mata Kyungsoo menetes. Tapi dengan cepat ia menghapus air mata itu karena tak ingin membuat orang lain merasa khawatir. Biarkan ia sendiri saja yang menyimpan kerinduannya pada Yifan. Tak perlu orang lain tahu tentang hal itu.
"Go—gomawo, oppa," setelah mendengar Kyungsoo mengucap terimakasih, Joonmyeon mengangkat tubuhnya sehingga ia kembali berdiri.
Pria itu tersenyum, kemudian membelai rambut panjang Kyungsoo dengan lembut. Sangat lembut.
Kyungsoo pun membalas senyum Joonmyeon. Dua orang itu saling melempar senyum, tanpa menyadari bahwa kini Sehun dan Chanyeol sedang menatap mereka dengan pandangan penuh luka. Entah apa yang dipikirkan oleh dua pria tampan itu.
Lalu Jongin? Ia kini malah memandang drama di depannya dengan tatapan bingung. Ia tatap satu persatu wajah manusia di ruangan itu, tapi ia tetap tak mengerti pada apa yang sedang terjadi. Agaknya pikirannya terlalu berkabut untuk bisa memahami semuanya.
©The Letter
Chanyeol menyeret kaki panjangnya untuk memasuki apartment yang sudah hampir seminggu ini ditinggalinya. Entah kenapa langkah kakinya terasa begitu berat, seolah saat ini di dua kaki itu sedang diikatkan batu besar yang beratnya puluhan kilogram.
Comeback sebuah boygroup di agensinya turut menguras energinya. Sebagai composer, Chanyeol tentu menjadi pioneer yang menentukan kesuksesan comeback grup itu.
Kualitas lagu yang diciptakan oleh Chanyeol mempengaruhi penerimaan para penikmat musik terhadap lagu tersebut.
Semua itu membuat Chanyeol bekerja lebih keras belakangan ini. Tak heran jika ia baru kembali ke apartment saat hari sudah mulai larut —iya, saat ini hari sudah malam-. Ia bahkan melewatkan acara makan malam di apartment.
Langkah kaki lemas Chanyeol kini sampai di ruang tengah. Ia mengernyit ketika menyadari bahwa lampu di ruang tengah mati, dan satu-satunya cahaya yang ada hanya berasal dari televisi yang menyala.
"Kalian sedang apa?" tanya Chanyeol dengan suara lemah. Tak ada tanda-tanda bahwa sebenarnya Chanyeol merupakan pria ceria. Tenaganya seperti benar-benar sudah habis.
Empat pasang mata yang ada di ruang tengah kini menatap Chanyeol sebentar, sebelum akhirnya mereka kembali menatap layar televisi tanpa menjawab pertanyaan Chanyeol —mereka mengabaikan Chanyeol-.
Oh! Rupanya mereka sedang menonton film. Chanyeol bisa tahu hal itu karena kini ia mendengar lagu tema film Transformers 4 (Age of Extinction) sedang diputar.
Transformers 4? Iya, mereka sedang menonton film yang sebenarnya sudah lama diputar di bioskop itu. Mereka semua tadi saling berdiskusi untuk menentukan film yang ingin mereka tonton, dan sampailah mereka pada satu keputusan bahwa mereka akan menonton film Transformers 4.
Sebenarnya tadi Jongin mengusulkan untuk menonton film Annabelle saja yang notabene sedang booming saat ini. Tapi Joonmyeon dengan tegas menolak usulan itu. Ia berasumsi bahwa film horror bukanlah pilihan yang tepat untuk ditonton oleh seorang wanita hamil. Bisa jadi nanti Kyungsoo terbayang-bayang oleh adegan seram dalam film, dan itu akan mengganggu mentalnya. Hal itu bisa berdampak buruk bagi perkembangan bayi di dalam kandungan Kyungsoo.
Chanyeol kini bisa melihat bahwa Sehun, Kyungsoo, dan Joonmyeon duduk berjajar di atas sofa, sedangkan Jongin duduk di karpet sembari tubuhnya bersandar pada bagian tepi sofa.
Chanyeol tersenyum kecil. Meskipun Jongin itu tergolong paling muda diantara mereka, tapi selama ini Jongin memang lebih sering mengalah. Hal itu terbukti dari dirinya yang rela duduk di bawah, padahal yang lain duduk di atas sofa —sofa yang ada disana memang hanya bisa diduduki oleh tiga orang-.
Akhirnya Chanyeol kembali melangkahkan kakinya mendekati sofa. Ia duduk di bawah, tepatnya di depan tepi sofa yang tidak ditempati oleh Jongin. Tidak mungkin 'kan ia menggusur salah satu dari Joonmyeon atau Sehun untuk turun dari sofa dan duduk di karpet? Dua manusia itu akan langsung mengamuk padanya jika ia melakukan itu.
Jadi, kini urutan duduk mereka berlima adalah Jongin, Sehun, Kyungsoo, Joonmyeon, dan Chanyeol. Tapi Jongin dan Chanyeol duduk di atas karpet, bukan di sofa. Keduanya harus merelakan pantat mereka bertumpu pada karpet yang tidak empuk.
Dengan serius mereka menonton film robot keren itu. Mereka berlima memang tidak sempat menonton di bioskop saat film itu sedang ramai-ramainya diputar di bioskop. Mereka semua terlalu sibuk untuk sekedar meluangkan waktu barang sebentar.
Jadi jangan heran jika sekarang mereka begitu larut mengikuti alur cerita. Chanyeol yang tadi kelelahan saja kini tampak antusias menikmati film di depannya.
Film terus berjalan, dan semua orang masih setia menatap layar televisi sebelum akhirnya Sehun merasakan berat di bahu kirinya. Ia menoleh ke kiri, dan seketika senyumnya terkembang saat mendapati Kyungsoo tertidur dengan bersandar di bahunya.
Sehun kini justru melupakan para autobots yang sedang bertarung di layar kaca. Ia justru asyik menatap wajah damai Kyungsoo. Diam-diam ia mengagumi pahatan Tuhan yang nyaris sempurna itu.
Semakin hari, Sehun sepertinya semakin kagum pada Kyungsoo. Ia sepertinya semakin...menyukai Kyungsoo.
Sepuluh menit berlalu, sebelum akhirnya Joonmyeon menjadi orang kedua yang menyadari bahwa Kyungsoo tertidur. Ia bisa melihat kepala Kyungsoo bersandar di bahu tegap Sehun.
Sama seperti Sehun, Joonmyeon kini terlena melihat pemandangan di depannya. Ia memandang Kyungsoo penuh rasa kagum. Kyungsoo terlihat cantik ketika ia terjaga, tapi Kyungsoo yang tertidur rupanya menghadirkan daya tarik tersendiri di mata Joonmyeon. Daya tarik yang bekerja bagaikan magnet. Menarik mata Joonmyeon untuk selalu memandangi Kyungsoo.
Sehun pun masih memandangi Kyungsoo. Jadi, Sehun dan Joonmyeon kini sama-sama menikmati cantiknya wajah tidur Kyungsoo.
Lima menit berselang, giliran Chanyeol yang menyadari bahwa Kyungsoo tertidur. Ia akhirnya bergabung dengan Sehun dan Joonmyeon untuk memandangi wajah Kyungsoo yang penuh kedamaian —walaupun Chanyeol harus mendongak agar bisa melihat wajah Kyungsoo-.
Chanyeol rela merasakan pegal di lehernya asalkan bisa memandangi wajah damai seorang Do Kyungsoo. Wajah damai yang membuat ketiga sahabat itu ikut merasakan kedamaian.
Sepuluh menit berlalu, dan akhirnya Jongin menyadari bahwa Kyungsoo tertidur. Ia tadi menoleh ke belakang untuk melemaskan otot lehernya yang terasa pegal, dan ia ternyata langsung disuguhi oleh pemandangan seorang Do Kyungsoo yang sedang tertidur.
Jongin seketika juga menyadari bahwa ketiga sahabatnya sedang memandangi Kyungsoo tanpa berkedip —jika itu mungkin-.
Jika film di televisi belum selesai, sepertinya Jongin tak sadar bila Kyungsoo tertidur. Ia baru menyadarinya saat film di TV selesai diputar.
Ia terlalu tidak peka, atau mungkin ia terlalu menikmati kisah para robot di TV.
Saat ini Jongin tidak bergabung dalam kegiatan memandangi-wajah-damai-Kyungsoo. Yang ada, pria berkulit gelap itu kini justru memandangi wajah tiga sahabatnya bergantian. Sepertinya ia merasa bingung karena tiga sahabatnya itu kini justru asyik memandangi Kyungsoo.
'Sebenarnya apa yang salah dengan mereka bertiga?' pertanyaan itu yang terbesit di kepala Jongin.
Agaknya, ia clueless pada tingkah janggal para sahabatnya.
©The Letter
Suara nasi bertemu dengan minyak panas menggema di seluruh penjuru dapur. Nasi dalam wajan panas tersebut kemudian ditambahkan bahan-bahan pelengkap untuk menunjang rasa yang menggoda selera.
Bunyi adukan dari masakan tersebut pun turut menambah riuh suasana dapur pagi ini.
"Oppa..." tiba-tiba muncul satu suara lain yang mengusik kedamaian sosok pria tinggi yang asyik berkarya di dapur.
Pria itu mengalihkan pandangannya dari masakan di depannya, kemudian menoleh ke sumber suara.
Matanya mendapati seorang wanita mungil berpiyama warna coklat muda sedang berdiri di ambang pintu dapur. Dari tampilannya saja kita sudah bisa menebak bahwa wanita itu baru saja bangun tidur.
"Hai, Kyungsoo! Baru saja bangun, hm?" tanya si pria tinggi —Chanyeol-.
Kyungsoo mengangguk, lalu berjalan mendekati Chanyeol. "Oppa sedang masak apa? Maaf aku bangun kesiangan, jadi terlambat untuk memasak," tak biasanya Kyungsoo bangun kesiangan, jadi ia merasa bersalah pada Chanyeol hari ini.
"Aku memasak nasi goreng kimchi," Chanyeol tersenyum bangga. "Dan, tidak masalah kalau kau bangun kesiangan. Seorang wanita hamil memang harus beristirahat dalam waktu yang cukup, 'kan?"
Senyuman kecil terukir di bibir Kyungsoo sebelum ia membalas perkataan Chanyeol. "Tapi tetap saja, memasak adalah kewajibanku, oppa," tukasnya. "Ngomong-ngomong, seingatku semalam aku tertidur saat menonton film, tapi tadi aku terbangun di ranjangku. Ehm...siapa yang membawaku ke kamar, oppa?"
Chanyeol sudah kembali berkutat dengan masakannya. Mengaduk masakan itu supaya matang merata. "Sehun yang menggendongmu ke kamar. Sebenarnya aku ingin menggendongmu ke kamar semalam, tapi Sehun bilang aku belum mandi, dan tubuhku bau. Makanya ia yang akhirnya membawamu ke kamar."
Kyungsoo terkekeh kecil. "Aku harus mengucapkan terimakasih pada Sehun nanti," ucapnya.
Chanyeol tersenyum sembari matanya terus fokus pada nasi goreng di hadapannya. Jika boleh jujur, ia iri pada Sehun karena semalam magnae itu mendapat kesempatan untuk membopong badan Kyungsoo.
Dan pagi ini pasti Kyungsoo akan mengucapkan banyak terimakasih pada Sehun. Lalu bisa jadi Kyungsoo merasa berhutang budi pada Sehun, dan ia akan dekat-dekat terus dengan Sehun. Bukankah sebenarnya pemikiran itu berlebihan? Tapi itulah Chanyeol. Ia selalu berlebihan dalam segala hal.
Ia tak mengerti kenapa ia tak suka ketika atensi Kyungsoo direnggut oleh orang lain. Padahal sebelumnya ia bukan pria posesif, kecuali pada kekasihnya.
Iya, mantan-mantan kekasih Chanyeol dulu pasti bisa merasakan sikap posesif Chanyeol. Wanita-wanita yang pernah mengisi hati Chanyeol dulu pasti merasa sedikit terkekang oleh sikap Chanyeol. Mungkin itu yang membuat hubungan Chanyeol dan para mantannya tak pernah bertahan lama. Paling lama, Chanyeol memadu kasih dengan mantannya hanya selama satu tahun.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa sekarang sikap itu muncul lagi dan ditujukannya pada Kyungsoo, ya? Entahlah. Chanyeol belum mengerti.
Pada awalnya ia hanya merasa biasa-biasa saja pada Kyungsoo. Tapi sejak ia memeluk Kyungsoo di supermarket saat hari pertama ia tinggal di apartment Kyungsoo, perasaannya pada Kyungsoo sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Tapi ia belum berani membuat kesimpulan untuk hal itu.
"Ehm...Kyungsoo," Chanyeol memanggil nama Kyungsoo, dan Kyungsoo menoleh padanya. "Bagaimana kencanmu kemarin? Aku belum sempat bertanya semalam."
Karena tak menghadap pada Kyungsoo, Chanyeol jadi tak menyadari bahwa wanita itu sedang tersipu. "Kami tidak berkencan, oppa," bantahnya. "Tapi acara kami kemarin berjalan lancar. Kami mengelilingi Seoul dengan menggunakan mobil karena Jongdae oppa takut aku akan kelelahan jika kami berjalan kaki."
Chanyeol pergi sebentar dari sisi Kyungsoo untuk mengambil mangkuk saji ukuran jumbo, kemudian kembali lagi ke sisi Kyungsoo dan segera mematikan kompor panas di depannya.
Pria itu secara perlahan memindahkan nasi goring porsi besar itu dari wajan ke dalam mangkuk saji. Dapur apartment Kyungsoo memang sudah biasa digunakan untuk memasak dalam porsi besar sejak empat sahabat Yifan tinggal disana. Sekedar informasi, empat sahabat Yifan itu memiliki nafsu makan yang sangat besar.
"Apa Jongdae adalah orang yang baik di matamu?" tanya Chanyeol tanpa menatap Kyungsoo.
Walaupun Chanyeol tak menatapnya, tapi Kyungsoo menjawab pertanyaan Chanyeol dengan anggukan kepala. "Jongdae oppa sangat baik dan perhatian. Ia memiliki sifat yang mirip dengan Chanyeol oppa, dan itu membuat kami mudah akrab. Rasanya aku seperti bertemu dengan teman lama setiap kali aku bersamanya."
Gerakan tangan Chanyeol berhenti, kemudian ia menatap Kyungsoo. "Teman lama?" tanyanya.
Kembali Kyungsoo menganggukkan kepalanya. "Iya, aku merasa Jongdae oppa seperti seorang teman lama. Kami seperti sudah kenal lama padahal kami baru beberapa hari saling kenal."
Kembali Chanyeol melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti. Ia tak lagi menatap Kyungsoo.
Chanyeol tahu bahwa Kyungsoo merasa nyaman dengan Jongdae, dan ia merasa iri dengan kenyataan itu —padahal ia sendiri sudah sangat akrab dengan Kyungsoo. Sepertinya Chanyeol kurang bersyukur-.
Apalagi Kyungsoo berkata bahwa sifat Jongdae mirip dengan Chanyeol. Hal itu membuat Chanyeol tidak lagi merasa istimewa di mata Kyungsoo karena kini ada sosok lain yang sifatnya mirip dengannya.
Tapi ada yang janggal dengan cerita Kyungsoo tadi. Kenapa Kyungsoo menganggap Jongdae seperti teman lama? Sebenarnya apa maksud dari sebutan itu?
©The Letter
Tiga penghuni apartment Kyungsoo sudah pergi meninggalkan apartment itu sejak lima menit lalu. Mereka tentu saja pergi bekerja di tempat kerja masing-masing.
Kini yang tersisa di apartment mewah itu hanyalah Kyungsoo dan Jongin yang duduk berhadapan di ruang tamu dengan canggung. Entah kenapa, kata canggung selalu saja tepat jika digunakan untuk menggambarkan kondisi mereka berdua. Mungkin karena itu memang merupakan fakta. Masih ada kecanggungan di antara Kyungsoo dan Jongin meskipun sudah tidak separah dulu.
"Ehm...hari ini kau tidak berpura-pura pergi bekerja, Jongin-ah?" tanya Kyungsoo pelan. Ia tentu tak ingin menyinggung perasaan Jongin.
Istilah pura-pura pergi bekerja sebenarnya dicetuskan sendiri oleh Jongin. Tapi tetap saja, Kyungsoo merasa tidak enak ketika harus bertanya seperti itu. Bisa jadi Jongin merasa tersinggung 'kan karena seolah Kyungsoo sedang menyindir Jongin yang terus berbohong pada sahabatnya?
Ya~ walaupun kenyataannya tidak seperti itu. Tidak terbesit sedikitpun di benak Kyungsoo untuk menyindir Jongin.
"Aku akan pergi, tapi sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu dulu pada noona," jawab Jongin.
Sepertinya Jongin tidak sedikitpun merasa tersinggung karena pertanyaan Kyungsoo tadi. Ia berusaha menghadapi semuanya dengan santai, dan pertanyaan Kyungsoo tadi memang sama sekali tidak menyinggungnya.
Kyungsoo mengerutkan dahinya setelah ia mendengar jawaban Jongin. Ia tatap Jongin yang sedang duduk gelisah di atas sofa empuk berwarna cream di ruang tamu itu.
Gelisah? Saat itu Kyungsoo baru menyadari bahwa Jongin sedang gelisah dan tidak tenang. Ada sedikit keraguan terpancar dari ekspresi Jongin. Pria itu tampaknya tidak yakin pada hal yang ingin dikatakannya.
"Apa yang ingin kau katakan padaku, Jongin?" akhirnya Kyungsoo bertanya. Ia tidak mungkin menebak isi pikiran Jongin, jadi ia tak memiliki pilihan lain selain bertanya langsung.
Jongin semakin tidak tenang dalam duduknya. Ia seperti merasa gugup bercampur ragu. Ia takut jika nanti hal yang dikatakannya merupakan sebuah kesalahan, dan itu akan merusak segalanya.
Tapi Jongin sebenarnya sudah menyiapkan mentalnya untuk hal ini sejak semalam, dan ia tak ingin mundur pagi ini. Ia sudah sengaja berbohong pada sahabat-sahabatnya agar mereka pergi duluan, dan tentu ia tak akan membuang kesempatan emas ini. Kesempatan ketika ia hanya berdua saja dengan Kyungsoo.
"N-noona," Jongin membuka suara dengan ragu. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menghindari tatapan mata bulat Kyungsoo. "Se—sebenarnya aku..."
..
..
TBC
Author's Note:
Halo para reader-nim yang terhormat. maaf ya kemarin aku enggak update. kemarin sore aku sakit perut gara-gara kebanyakan minum cola. gara2 udara panas, aku langsung ngambil sebotol cola dari kulkas, terus langsung menegak abis sebotol cola itu. hasilnya, perutku jd sakit bgt dan gak bisa update *jadinya malah curhat nih. hehe*
terimakasih untuk semua support yang kalian berikan. kalian adalah motivasiku untuk terus berkarya. FF ini akan selalu fast update kok. cuma kemarin itu ada masalah perut yang bikin aku enggak update. maaf banget :(
oke, saya harap kalian akan tetap setia meninggalkan review. terimakasih banyaaaaaak :)
salam sayang, rizdyo12 :*
