Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl)

Rate: T

Length: chaptered [9/?]

Summary for chapter 9:

Tak selamanya rahasia dapat tersimpan rapat. Hanya perlu menunggu waktu hingga sebuah rahasia terbongkar. Begitu pula dengan hal yang dirahasiakan oleh Jongin dari ketiga sahabatnya. Rahasia itu akhirnya terbongkar

Previous chapter:

Tapi Jongin sebenarnya sudah menyiapkan mentalnya untuk hal ini sejak semalam, dan ia tak ingin mundur pagi ini. Ia sudah sengaja berbohong pada sahabat-sahabatnya agar mereka pergi duluan, dan tentu ia tak akan membuang kesempatan emas ini. Kesempatan ketika ia hanya berdua saja dengan Kyungsoo.

"N-noona," Jongin membuka suara dengan ragu. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menghindari tatapan mata bulat Kyungsoo. "Se—sebenarnya aku..."

..

Chapter 9 (The Secret)

HAPPY READING!


Jongin dan Kyungsoo sedang berjalan di lorong panjang sebuah rumah sakit dengan canggung. Lagi-lagi kata canggung digunakan untuk menggambarkan kondisi mereka. Entah sampai kapan kata itu pantas disematkan untuk mereka.

Mereka berjalan dalam jarak dekat sehingga sesekali tangan mereka saling menyentuh. Tapi itu tak membuat salah satu diantara mereka berinisiatif untuk mengaitkan dua tangan mereka itu. Mereka membiarkan sebelah tangan mereka saling bersentuhan tanpa saling menggenggam.

Setelah Jongin membuat sebuah pengakuan pada Kyungsoo sekitar empat puluh lima menit lalu saat mereka masih berada di apartment, Kyungsoo memutuskan untuk meminta Jongin menemaninya ke dokter kandungan.

Hari ini merupakan jadwal pemeriksaan rutin yang harus dilakukan oleh Kyungsoo. Kyungsoo merasa bahwa Jongin pantas menemaninya untuk periksa kandungan —hal yang biasanya dilakukan oleh seorang suami-. Sedikit banyak pengakuan Jongin tadi mempengaruhi keputusan Kyungsoo untuk meminta pria bermarga Kim itu agar bersedia menemaninya.

Ah~ Kyungsoo jadi merona sendiri tiap kali ia teringat pada pengakuan Jongin tadi.

Setelah beberapa menit berjalan, langkah kaki Kyungsoo dan Jongin akhirnya tiba di sebuah ruangan yang akan menjadi tempat bagi Kyungsoo untuk memeriksa kandungannya.

Tadi seorang perawat meminta Kyungsoo untuk langsung ke ruangan dokter saja. Maklum, dokter yang akan memeriksa Kyungsoo adalah dokter kandungan yang memiliki relasi dekat dengan keluarga Wu, jadi Kyungsoo mendapat perlakuan special. Ia tak perlu mendaftar, apalagi mengantri.

"Ehm...noona," Jongin memanggil Kyungsoo saat mereka baru akan memasuki ruangan dokter. Kyungsoo mendongak menatap pria yang lebih tinggi. "Aku ikut masuk, atau menunggu disini saja?"

Senyuman manis Kyungsoo terpampang indah. "Kau ikut masuk saja. Biasanya aku selalu ditemani oleh Yifan oppa setiap kali periksa. Sekarang aku ingin ditemani olehmu. Kajja."

Sebenarnya Kyungsoo selalu ditemani oleh Yifan untuk pergi ke dokter hanya sampai kandungannya berusia satu bulan saja —setelah itu kondisi Yifan memburuk-. Tapi barangkali Kyungsoo merindukan moment itu, dan hari ini ia ingin ditemani oleh Jongin.

Karena Jongin diam saja, akhirnya Kyungsoo menyeret Jongin untuk memasuki ruang dokter tanpa menunggu respon dari pria tampan itu.

Jongin hanya bisa pasrah ketika tangannya ditarik paksa oleh wanita yang setahun lebih tua darinya. Walaupun sebenarnya ia merasa tidak berhak untuk menemani Kyungsoo masuk ke dalam, tapi ia tak punya pilihan lain karena Kyungsoo tampaknya mengharapkan Jongin untuk menemaninya.

Begitu Kyungsoo dan Jongin berada di dalam ruang dokter, mereka disambut oleh seorang dokter yang tersenyum ramah. Terlihat sekali bahwa dokter itu sudah hafal pada Kyungsoo.

Sebelumnya dokter itu sempat memandang kaget pada tautan tangan Kyungsoo dan Jongin, tapi selanjutnya sang dokter paruh baya hanya bisa tersenyum.

Dokter tersebut mempersilahkan Kyungsoo untuk berbaring di ranjang periksa dengan gorden yang menutupinya, sedangkan Jongin duduk diam di depan meja dokter.

Ia menunggu dengan sabar sampai pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter selesai sekitar sepuluh menit kemudian.

Dokter muncul dari balik gorden warna biru laut, diikuti oleh Kyungsoo yang juga muncul dari balik gorden itu.

Sang dokter kemudian duduk di hadapan Jongin, sedangkan Kyungsoo duduk di samping Jongin.

"Kandungan Nona Do sudah memasuki usia 4,5 bulan, dan janin di dalam rahimnya berkembang dengan baik. Untuk masalah morning sick, wajar jika hal itu sering datang dan pergi. Itu tergantung pada keinginan si bayi dalam kandungan," sang dokter menjelaskan.

Kyungsoo mengangguk paham. Tadi ia memang sempat mengeluhkan perihal morning sick-nya yang tiba-tiba terjadi lagi padahal sudah sempat menghilang. Ini adalah kehamilan pertama Kyungsoo, jadi wajar jika ia merasa khawatir pada morning sick-nya yang datang dan pergi.

"Saya akan memberi resep vitamin lagi untuk Nona Do, karena vitamin itu terbukti cocok untuk Nona Do," sang dokter menulis beberapa baris kalimat di selembar kertas, kemudian menyerahkan kertas itu pada Kyungsoo.

"Terimakasih, dokter," ucap Kyungsoo sopan.

Sang dokter tersenyum. "Saya lega karena sekarang kondisi mental Nona Do sudah lebih baik dibanding minggu lalu," ucap sang dokter. "Apakah pria di samping Nona Do ini yang membantu Nona Do untuk bangkit kembali?"

Mata Jongin dan Kyungsoo melebar setelah mendengar godaan yang dilontarkan oleh dokter di depan mereka.

Rona merah samar mulai merayap di pipi Kyungsoo seiring wanita itu merasa pipinya memanas.

"A—ah, Jongin ini adalah salah satu sahabat baik Yifan oppa. Ia sudah seperti sahabat untuk saya," ucap Kyungsoo.

Jongin mengangguk membenarkan ucapan sang noona. Walaupun tak dapat dipungkiri jika ia tadi sempat merasa kaget akibat godaan dari sang dokter kandungan.

"Oh begitu rupanya. Maaf ya, tadi saya hanya bercanda. Kalian berdua tampak serasi sekali, apalagi tadi kalian memasuki ruangan ini dengan bergandengan tangan."

Blush. Kali ini Kyungsoo dan Jongin sama-sama merona. Memangnya siapa yang tidak merona jika digoda seperti itu? Siapapun juga pasti akan malu jika digoda begitu, dan itu juga berlaku bagi Jongin maupun Kyungsoo.

Lagipula, Kyungsoo dan Jongin tadi sama-sama tidak sadar jika mereka bergandengan tangan saat pertama bertemu dengan dokter. Sungguh! Mereka merasa sangat malu!

"D—dokter bisa saja," Kyungsoo membalas perkataan dokternya. "Kalau begitu, kami berdua permisi dulu. Terimakasih banyak untuk hari ini."

Setelah berpamitan sembari membungkukkan badan, Kyungsoo dan Jongin bergegas meninggalkan ruangan dokter. Mereka tak ingin lama-lama digoda oleh dokter itu.

"Maaf, Jongin. Paman Shim kadang suka seperti itu. Melontarkan godaan yang tidak jelas," Kyungsoo meminta maaf pada Jongin ketika dirinya dan Jongin berjalan beriringan menjauhi ruang dokter yang dipanggil Kyungsoo dengan sebutan Paman Shim.

"Tidak apa-apa, noona. Dokter itu lucu dan menyenangkan," balas Jongin.

Kyungsoo menghela nafas lega. Tadi ia merasa tidak enak jika ternyata perkataan sang dokter menyinggung hati Jongin, tapi untungnya pemuda itu tak merasa tersinggung.

Jongin itu pemuda single, bisa saja 'kan Jongin merasa tidak nyaman ketika dirinya dipasangkan dengan seorang janda kembang? Meskipun Kyungsoo itu cantik, tapi dirinya merasa tidak percaya diri jika harus berdekatan dengan pria-pria bujang seperti Jongin.

"Terimakasih banyak karena sudah bersedia menemaniku, Jongin," ucap Kyungsoo lagi.

Jongin menganggukkan kepalanya sekali sebelum membalas perkataan Kyungsoo. "Sama-sama, noona. Aku senang menemani noona hari ini. Kukira noona akan marah setelah perkataanku tadi pagi, tapi ternyata tidak. Aku lega."

"Memangnya kenapa aku harus marah, Jongin? Kau hanya mengatakan suatu kebenaran. Aku tidak perlu marah," Kyungsoo terkekeh geli. Pria di sampingnya itu kadang polos sekali.

Mana mungkin Kyungsoo marah hanya karena Jongin mengatakan...

"S—sebenarnya aku mengira bahwa beberapa hari lalu noona sengaja memasak menu makan malam ayam goreng karena diriku. Aku merasa bahwa masakan itu special untukku. Maaf jika aku terlalu percaya diri."

Itulah yang dikatakan oleh Jongin pagi tadi.

Tentu Kyungsoo tak marah. Ia malah tersenyum senang mendengar perkataan Jongin itu, dan ia mengaku pada Jongin bahwa ia memang memasak menu itu special untuk Jongin.

Jongin merasa terkejut karena Kyungsoo membenarkan hipotesisnya. Kyungsoo mengakui bahwa ia memang memasak khusus untuk Jongin. Jongin pikir ia hanya terlalu berdelusi dan terlalu percaya diri, makanya ia tadi sempat ragu untuk bicara pada Kyungsoo. Ia takut jika dugaannya tidak benar, dan hubungannya dengan Kyungsoo justru akan renggang karena hal itu.

Tapi setelah selesai dengan keterkejutannya, selanjutnya Jongin tak henti-hentinya mengucap terimakasih pada Kyungsoo. Jongin merasa senang karena Kyungsoo perhatian padanya. Lagipula, masakan ayam goreng Kyungsoo sangat enak, dan itu membuat Jongin seperti menemukan semangatnya kembali.

Di sisi lain, Kyungsoo merasa bahwa Jongin begitu lucu, dan tanpa sadar ia merasa sangat bahagia berkat keberadaan Jongin. Padahal Jongin tidak melakukan apapun, tapi tetap saja, berada di dekat Jongin membuat Kyungsoo merasa bahagia.

Hal itulah yang membuat Kyungsoo memutuskan untuk meminta Jongin menemaninya ke rumah sakit. Ia berpikir bahwa Jongin akan membuatnya merasa nyaman ketika ia menjalani pemeriksaan. Dan ternyata benar, ia merasa nyaman saat menjalani pemeriksaan kandungan bersama Jongin.

Jongin bukanlah Yifan yang cerewet pada Kyungsoo setiap kali kondisinya diperiksa oleh dokter. Jongin tetap tenang dan kalem, tanpa banyak berbicara. Tapi justru itu yang membuat Kyungsoo menikmati kebersamaannya dengan Jongin.

Dan mulai saat ini sepertinya kata canggung sudah tidak pantas lagi disematkan untuk menggambarkan kondisi mereka, karena kini mereka mulai merasa nyaman satu sama lain.


©The Letter


Sehun berjalan tergesa menyusuri koridor di gedung apartment.

Siang ini ia terpaksa kembali ke apartment karena ada beberapa berkas miliknya yang tertinggal. Berkas itu sangat penting, dan bisa-bisa ia dipecat jika tidak mengambil berkas itu dan membawanya kembali ke kantor.

Ia merutuki sifat pelupanya, yang membuat dirinya harus kembali ke apartment padahal jarak apartment Kyungsoo dengan tempat kerjanya sangat jauh. Rasanya sangat lelah karena harus bolak-balik menempuh jarak yang sangat jauh.

Begitu sampai di depan pintu apartment Kyungsoo, pemuda itu dengan gesit memasukkan digit demi digit sandi guna bisa membuka pintu. Ia dan tiga sahabatnya memang mengetahui password tempat tinggal Kyungsoo. Kyungsoo sendiri yang memberitahu mereka, karena mereka juga merupakan penghuni apartment.

Setelah kunci pintu apartment terbuka, Sehun segera membuka pintu di depannya, dan melangkahkan kaki jenjangnya memasuki tempat tinggalnya selama seminggu ini.

Langkah kaki Sehun terus tergerak, sampai akhirnya ia sampai di ruang tengah.

Di ruangan itulah langkah kakinya terhenti tanpa komando.

Pasalnya, saat ini matanya mendapati dua sosok manusia sedang menonton televisi sembari tertawa bahagia. Variety show lucu yang sedang ditayangkan oleh satu stasiun TV membuat dua manusia itu tertawa senang. Pemandangan itu terlihat mesra di mata Sehun.

Tangan Sehun terkepal erat sambil matanya terus menatap dua manusia yang hingga kini belum menyadari kehadirannya. Mereka seperti berada dalam dunia mereka sendiri hingga tak tahu bahwa ada sosok lain di ruangan itu.

Setelah beberapa saat diam, Sehun akhirnya bersuara dengan sinis pada dua orang di hadapannya. "Bahagia sekali ya bisa berkencan saat semua orang sedang bekerja?"

Sontak dua manusia yang diberi pertanyaan oleh Sehun menolehkan kepalanya ke samping, dan mereka terkejut saat mendapati Sehun berdiri beberapa meter dari mereka.


©The Letter


Jam berbentuk persegi yang menggantung di salah satu sisi dinding ruang tengah memberikan informasi bahwa saat ini di Seoul masih pukul 6 petang.

Sama sekali belum terlalu larut untuk berkumpul, karena memang mereka sengaja mempercepat jam pulang kerja masing-masing.

Mereka yang dimaksud disini adalah Joonmyeon dan Chanyeol.

Tadi siang Sehun mengatakan bahwa ada hal urgent yang harus dibicarakan, dan ia memaksa dua hyung-nya itu untuk pulang lebih awal.

Sehun sendiri juga sudah pulang bahkan sebelum pukul enam petang. Tadi siang ia kembali lagi ke kantor, tapi pikirannya tidak bisa tenang sehingga ia meminta izin untuk pulang lebih awal. Untung saja atasan Sehun adalah orang yang bisa memberi toleransi, dan Sehun tidak perlu cemas akan resiko pemecatan.

Dan disinilah mereka —Joonmyeon, Chanyeol, dan Sehun- sekarang. Sedang berkumpul di ruang tengah, seolah menghakimi dua manusia yang duduk diam di sofa.

Mereka bertiga duduk di lantai yang terbalut oleh karpet, dan harus mendongakkan kepala mereka agar bisa menatap dua sosok yang akan dihakimi. Dua sosok itu tak lain adalah Kyungsoo dan Jongin.

"Jujur, aku tidak tahu hal urgent apa yang kau maksud. Dan jujur, aku juga tidak tahu kenapa kita bertiga duduk di karpet sedangkan Kyungsoo dan Jongin duduk di sofa. Bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi, Sehun-ah?" tanya Joonmyeon pada Sehun.

Ada nada jengah dalam ucapan Joonmyeon tadi. Pasalnya, ia tadi sudah akan mendudukkan bokong sexy-nya di sofa —tepatnya di sebelah Kyungsoo-, tapi dengan seenaknya Sehun menariknya turun agar Joonmyeon duduk di karpet.

Sehun sampai sekarang masih menampilkan wajah super suntuk. Ia seperti tidak memiliki semangat hidup. "Tanyakan saja pada mereka berdua, hyung. Mereka pasti lebih bisa memberi penjelasan," tutur Sehun. Matanya melirik sinis pada Kyungsoo dan Jongin. Yang dilirik hanya bisa menunduk takut.

"Berhenti bermain-main, Oh Sehun! Jelaskan sebenarnya ada apa?" Chanyeol mulai kehilangan kesabaran.

Siapa yang akan tetap bersabar jika Sehun terus saja bermain-main dan tidak segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Sehun dengan seenaknya meminta Chanyeol dan Joonmyeon untuk membolos kerja, dan sekarang Sehun justru seperti mengajak mereka untuk bermain tebak-tebakan.

Sehun memutar bola matanya malas. Sangat jarang ia melihat Chanyeol marah, tapi ia benar-benar sedang tidak mood untuk melihat kemarahan hyung-nya itu. "Hari ini ternyata Jongin tidak bekerja, hyung. Ia—"

"Jadi hal urgent yang ingin kau sampaikan hanya tentang Jongin yang membolos kerja?" tanya Chanyeol. Wajahnya begitu kesal. Jika hanya tentang bolos-membolos, Sehun tak perlu menyebutnya dengan kata urgent, 'kan?

Kembali Sehun memutar bola matanya karena Chanyeol memotong perkataannya. "Aku belum selesai bicara, hyung!" Sehun berdecak malas. "Jongin membolos kerja untuk berkencan dengan Kyungsoo noona!"

Seluruh pasang mata yang ada di ruangan itu membola. Dalam mata Joonmyeon dan Chanyeol seperti terpancar rasa sedih sekaligus kecewa. Kata kencan yang disebutkan oleh Sehun seperti memberi duri di hati mereka.

Mata Jongin dan Kyungsoo juga membola karena mereka merasa bahwa hal yang dikatakan oleh Sehun tidaklah benar. Tadi mereka hanya menonton TV bersama setelah mereka pulang dari rumah sakit. Jongin tadi malas untuk berpura-pura pergi bekerja sehingga ia memutuskan untuk menetap di apartment Kyungsoo dan menemani Kyungsoo.

Jongin dan Kyungsoo sama-sama tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Mereka tak menduga jika Sehun akan tiba-tiba pulang ke apartment dan berpikir yang tidak-tidak tentang mereka.

"A—apa kau bilang? Jo-Jongin dan Kyungsoo berkencan?" nada bertanya Joonmyeon sarat akan rasa tidak percaya. Sebisa mungkin ia menekan rasa sakit di dadanya, dan berusaha melempar satu pertanyaan yang menuntut sebuah konfirmasi ataupun klarifikasi.

"Tidak seperti itu, oppa!" Kyungsoo membalas pertanyaan Joonmyeon dengan tegas. "Kami tidak berkencan hari ini, dan Jongin tidak membolos!"

"Kalau Jongin memang tidak membolos, lalu kenapa ia tidak bekerja hari ini, dan malah asyik berduaan dengan noona, huh?" Sehun tampaknya sangat kesal sampai-sampai ia bertanya dengan dingin. Biasanya ia selalu bertanya dengan lembut pada Kyungsoo, tapi hari ini ia terlalu emosi sehingga nada bertanyanya sangat tidak bersahabat.

Pria termuda itu merasa sangat marah pada Jongin. Ia marah pada Jongin untuk berbagai alasan.

Mendengar pertanyaan Sehun, Jongin dan Kyungsoo membeku.

Sepertinya Kyungsoo tadi sedikit salah bicara, dan itu membuat Sehun menanyakan pertanyaan yang akan membongkar rahasia Jongin.

Tapi semua sudah terlanjur. Tiga pasang mata sedang menatap Jongin dan Kyungsoo dengan tatapan penasaran. Tiga pasang telinga pun menunggu sebuah jawaban dari Jongin maupun Kyungsoo.

Awalnya Jongin merasa ragu untuk mengaku. Ia tidak ingin sahabat-sahabatnya itu khawatir padanya. Tapi akhirnya Jongin memilih untuk mengaku karena kini sahabat-sahabatnya itu tampak marah, dan mereka pasti akan bertambah marah jika Jongin berdusta.

"Sebenarnya aku..." Jongin memulai. Membuat Kyungsoo memandangnya dengan pandangan iba. Kyungsoo khawatir jika Jongin merasa sedih dan tertekan. "...Aku dipecat beberapa hari yang lalu."

Tak ada yang bersuara setelah Jongin membuat pengakuan. Tiga sahabat Jongin sibuk melebarkan mata mereka karena terkejut, sedangkan Kyungsoo sibuk menundukkan kepalanya karena ia merasa tidak enak hati.

"Aku minta maaf karena aku tidak bercerita pada kalian. Aku hanya tak ingin kalian merasa khawatir," Jongin kembali bersuara.

Tapi tatapan ketiga sahabatnya masih nanar dan blank.

Tiba-tiba Sehun teringat pada pertanyaan-pertanyaan Kyungsoo kemarin saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor. Iya, pertanyaan Kyungsoo tentang Jongin, khususnya seputar pekerjaan Jongin.

Senyum miris tersaji di bibir Sehun. Ia baru saja menyadari sesuatu. "Jadi, kau tidak bercerita pada kami, tapi bercerita pada Kyungsoo noona? Kyungsoo noona sekarang lebih penting untukmu, huh?" tanya Sehun. Masih dengan nada dingin yang sama seperti sebelum-sebelumnya.

Kini Jongin yang terkejut. Matanya yang sayu menatap mata tajam Sehun. Dari pancaran mata Sehun, ia bisa melihat rasa marah sekaligus rasa kecewa.

"Ti-tidak seperti itu, Sehun. Ini tid—"

"Cukup!" Sehun menyela ucapan Jongin sambil ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri. "Persahabatan memang selalu kalah oleh cinta!"

Setelah mengatakan itu, Sehun berjalan cepat menuju lantai dua tanpa menunggu balasan ucapan dari Jongin. Berikutnya yang terdengar adalah suara pintu yang dibanting, dan itu membuktikan bahwa si magnae sedang dikuasai emosi.

"Aku kecewa padamu. Motto persahabatan kita sepertinya tidak berarti lagi di matamu, Jongin," Chanyeol berdiri. Ia mengikuti langkah Sehun meninggalkan ruangan itu dan beranjak menuju kamar.

Samar-samar mereka mendengar suara pintu yang dikunci. Sepertinya malam ini Jongin tidak bisa tidur di kamar karena Chanyeol mengunci rapat pintu kamarnya.

Selanjutnya, suara helaan nafas Joonmyeon terdengar, diikuti oleh berdirinya sosok pendek pria itu. "Seharusnya kau terbuka pada kami, Jongin."

Joonmyeon pun pergi meninggalkan ruang tengah. Bisa diprediksi bahwa pria itu berjalan menuju kamarnya dan Sehun. Tiga sahabat Jongin rupanya benar-benar marah pada Jongin hingga ketiganya meninggalkan Jongin begitu saja. Apakah tidak ada maaf bagi Jongin dari ketiga sahabatnya itu?

Jongin mengusap gusar wajahnya dengan tangan kirinya. Terlihat sekali bahwa pria itu frustasi. Mata Jongin bahkan berkaca-kaca, dan cairan bening mulai menetes dari mata indah itu.

Kyungsoo yang melihat Jongin menangis pun mulai panik. "J—jangan menangis, Jongin. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"

Wajah Kyungsoo terlihat panik. Dengan sedikit ragu ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Jongin —tadi mereka duduk tidak terlalu dekat-.

Dengan pelan Kyungsoo mengusap bahu Jongin untuk menenangkan pemuda itu.

"I—ini semua salahku, noona," suara parau Jongin menggelitik indera pendengaran Kyungsoo. "Tak seharusnya aku menyimpan rahasia dari mereka. Ini salahku, noona. Salahku."

Miris rasanya melihat Jongin tampak rapuh seperti itu. Salah satu kelemahan seorang Kim Jongin adalah hal yang berkaitan dengan sahabat-sahabatnya. Ia begitu sensitif jika sudah menyangkut persahabatan.

Hati Jongin terasa sakit saat mendengar perkataan tiga sahabatnya. Mereka bertiga seolah menyudutkan Jongin. Jongin seolah tak menghargai persahabatan mereka, padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi.

Padahal Jongin sangat memikirkan persahabatan mereka. Jongin merahasiakan semuanya juga karena ia tak ingin membuat para sahabatnya khawatir. Tapi rupanya niatan baik Jongin itu diterjemahkan lain oleh tiga sahabatnya.

Hati Kyungsoo perih melihat sisi lain Jongin. Jongin yang biasanya ia lihat selalu terlihat kuat dan sedikit cuek, tapi Jongin yang ada di sampingnya kini tampak hancur dan memprihatinkan. Kondisi Jongin saat ini lebih buruk dari kondisi Jongin tempo hari saat merenung di lantai dapur. Hal itu membuat Kyungsoo merasa ingin ikut menangis.

Namun Kyungsoo memutuskan untuk menahan air matanya. Ia kini justru memilih untuk merengkuh tubuh besar Jongin. Meletakkan kepala Jongin agar bersandar di bahu sempitnya.

Ia tak tahu kenapa ia memutuskan untuk memeluk Jongin, tapi rasanya tindakannya itu benar karena kini Jongin terlihat lebih tenang.

Jongin masih menangis, tapi sudah tidak separah tadi.

Kyungsoo pun merasa sedikit tenang. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Jongin supaya Jongin merasa lebih baik.

Baru kali ini Kyungsoo menenangkan seorang pria menangis. Yifan pernah menangis, tapi tak sampai menyedihkan seperti Jongin. Jadi ini adalah pengalaman baru bagi Kyungsoo.

Ia tak perlu banyak bicara untuk menenangkan Jongin. Sebuah pelukan hangat saja mampu membuat Jongin merasa lebih tenang.


©The Letter


Pagi ini Kyungsoo dan Chanyeol terlihat memasak bersama di dapur. Memasak bersama memang menjadi rutinitas mereka. Walaupun di apartment terdapat maid, tapi mereka sangat suka memasak sendiri menu makanan mereka.

Jika biasanya dapur selalu ramai saat dua orang itu bersama, maka pagi ini suasana dapur terlihat sepi.

Ada aura tidak nyaman yang menguar tanpa bisa dicegah, dan itu agaknya disebabkan oleh hal yang terjadi tadi malam.

Karena merasa terlalu aneh dengan kondisi sepi, Kyungsoo akhirnya membuka suara. "Aku minta maaf, oppa."

Chanyeol selama beberapa detik menghentikan gerakan tangannya saat memotong daging ayam, tapi selanjutnya ia melanjutkan gerakannya itu. "Untuk apa kau meminta maaf?"

Kalimat tanya Chanyeol mengejutkan Kyungsoo. Baru kali ini Chanyeol berbicara padanya dengan nada dingin.

"Aku minta maaf karena sudah merahasiakan sesuatu dari kalian. Tidak seharusnya aku seperti itu," ucap Kyungsoo.

Dengan malas Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah Kyungsoo. "Rahasia ya? Rahasia tentang pemecatan Jongin, atau tentang dirimu yang berkencan dengan Jongin?"

Tubuh Kyungsoo sedikit tersentak ke belakang akibat terlalu kaget. Ia tak menyangka jika Chanyeol akan melontarkan pertanyaan itu.

Semalam ia dan Jongin sudah membantah anggapan kencan itu, tapi kenapa sekarang Chanyeol bertanya tentang hal itu lagi?

"A—aku dan Jongin tidak berkencan, oppa. Kami hanya sama-sama berada di apartment, dan kami tak melakukan apapun," Kyungsoo menyanggah meskipun dengan sedikit rasa takut. Ia takut karena kini Chanyeol bersikap dingin padanya.

Chanyeol tak mau ambil pusing melihat sanggahan Kyungsoo. Ia kembali melanjutkan kegiatannya, kali ini mulai memotong sayuran segar.

Membahas tentang Jongin dan Kyungsoo membuat dadanya sesak. Ia sendiri tak tahu kenapa bisa seperti itu.

"Jongin tidak bersalah, oppa. Jongin dipecat karena aku, dan ia sangat ingin menjaga kebahagiaan kalian makanya ia tidak jujur pada kalian. Kumohon, maafkanlah Jongin."

TAK. Suara benturan antara pisau dan talenan menggema di dapur itu.

Baru saja Chanyeol menjatuhkan pisau yang ia pegang setelah pisau itu tak sengaja memotong ujung jari telunjuknya.

Kyungsoo panik melihat jari Chanyeol berdarah. Ia ingin meraih jari Chanyeol untuk memeriksa lukanya, tetapi Chanyeol menjauhkan jarinya itu dari jangkauan Kyungsoo.

"Kau membela Jongin? Kau meminta maaf untuk Jongin?" tanya Chanyeol dengan suara lirih yang sarat akan rasa sakit.

Mata bulat Kyungsoo menatap lurus pada dua mata bulat Chanyeol yang menatapnya nanar. "A—aku tidak membelanya. Aku hanya berkata yang sebenarnya."

Senyuman miris Chanyeol terkembang lemah. "Kau menyukai Jongin?"

Volume mata bulat Kyungsoo bertambah. Terlalu kaget mendengar pertanyaan Chanyeol, dan ia hanya diam. Beberapa kali bibirnya membuka dan menutup layaknya ikan, tapi tak ada satupun suara yang keluar dari bibir ranum itu.

Diamnya Kyungsoo membuat Chanyeol semakin tersenyum miris. Sakit di jarinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit di hatinya.

Tanpa berkata apa-apa —dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Chanyeol-, Kyungsoo tiba-tiba meraih jari tangan Chanyeol yang sakit, lalu ia mengambil kotak P3K dan mengobati luka Chanyeol itu.

Jika boleh jujur, Kyungsoo sama sekali tidak tahu harus menjawab apa pada pertanyaan Chanyeol tadi. Ia kini berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan cara mengobati luka Chanyeol. Semoga setelah ini Chanyeol tak bertanya macam-macam lagi. Mungkin itulah doa yang dipanjatkan oleh Kyungsoo di dalam hatinya.

Di sisi lain, Chanyeol kini memperhatikan Kyungsoo dengan seksama. Ia memandangi Kyungsoo dengan serius, tapi tatapannya terlihat sedih.

Hati Chanyeol sakit, dan mungkin itu karena hatinya menyimpan setitik rasa istimewa kepada Kyungsoo.

..

..

TBC


Author's Note:

Apa kemarin ada yang nungguin aku update? maaf ya kemarin aku lupa bilang kalau mulai kemarin aku update tiap pagi. soalnya kalau sore aku sering ada acara jadinya kadang terlalu capek kalau mau buka laptop :( maaf banget kemarin aku lupa bilang. hehe.

dan juga maaf karena kemarin saya membuat para reader penasaran karena TBC-nya menggantung banget. itu emang sengaja :D

oh iya, ini udah masuk tahap konflik. jadi konfliknya itu tentang rahasia pemecatan Jongin, tp ketambahan juga sama rasa cemburu Joonmyeon, Chanyeol, sama Sehun gara2 mereka mikir kalau ada 'sesuatu' diantara Kyungsoo sama Jongin.

yaap~ jadi aku update lagi besok pagi ya? nanti sore aku ada kerjaan soalnya. dan untuk ke depannya aku update-nya juga tiap pagi.

terimakasih untuk teman-teman semuanya~

salam sayang, rizdyo12 :*