Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Chen EXO as Kim Jongdae (mentioned)

Rate: T

Length: chaptered [10/?]

Summary for chapter 10:

Setelah bicara dengan Chanyeol (walaupun tak membuahkan hasil), Kyungsoo mencoba untuk bicara dengan Sehun terkait dengan masalah Jongin. Tapi Sehun ternyata justru memberikan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Chanyeol kepada Kyungsoo

Previous chapter:

Semoga setelah ini Chanyeol tak bertanya macam-macam lagi. Mungkin itulah doa yang dipanjatkan oleh Kyungsoo di dalam hatinya.

Di sisi lain, Chanyeol kini memperhatikan Kyungsoo dengan seksama. Ia memandangi Kyungsoo dengan serius, tapi tatapannya terlihat sedih.

Hati Chanyeol sakit, dan mungkin itu karena hatinya menyimpan setitik rasa istimewa kepada Kyungsoo.

..

Chapter 10 (The Question)

HAPPY READING!


Aneka ragam makanan sudah tersaji di meja makan, tapi belum ada satu tangan pun yang tergerak untuk menyentuhnya.

Di meja persegi panjang itu biasanya terdapat lima orang yang duduk dengan berisik karena mereka akan mengobrol dan bercanda satu sama lain. Tapi pagi ini meja makan itu hening sekali. Tak ada satupun mulut yang mengeluarkan suara. Pertengkaran yang terjadi tadi malam rupanya masih mempengaruhi semua orang.

Meja persegi panjang di ruang makan itu biasanya diisi oleh lima orang, namun pagi ini hanya ada empat orang yang ada disana.

Kim Jongin. Sosok Jongin lah yang absent dari ruangan itu.

"Ehm..." Kyungsoo bersuara karena tak tahan lagi dengan atmosfer canggung. "Kalian makanlah lebih dulu. Aku akan membangunkan Jongin."

Tanpa menunggu respon dari tiga pria yang ada disana, Kyungsoo segera beranjak keluar dari ruang makan untuk membangunkan sosok Jongin yang masih tidur.

Jongin memang suka tidur, tapi ia tak sekalipun melewatkan sarapan. Perutnya selalu membangunkannya tepat waktu untuk sarapan. Seolah perutnya sudah di-setting secara otomatis layaknya alarm.

Namun pagi ini berbeda. Jongin tak kunjung menampakkan batang hidungnya untuk makan pagi bersama. Hal itu pasti ada kaitannya dengan peristiwa semalam.

Sepeninggal Kyungsoo, tiga pria yang ada di ruang makan memulai acara sarapan mereka.

Semalam mereka melewatkan makan malam, dan pasti pagi ini perut mereka merengek minta diisi.

"Kalian berdua marah dengan siapa? Dengan Jongin, 'kan? Tapi kenapa aku juga didiamkan?" Joonmyeon memulai protesnya begitu piringnya sudah penuh dengan nasi dan lauk.

"Mian, hyung. Aku sedang tidak mood untuk bicara," Chanyeol menimpali seadanya, dan ia langsung melahap makanan hasil karyanya tadi. Peristiwa di dapur tadi membuat mood-nya semakin buruk. Terlepas dari sikap manis Kyungsoo saat mengobati luka di jarinya, Chanyeol masih merasa sakit hati dan kecewa pada Kyungsoo.

Sehun melakukan hal sama —melahap makanan yang dimasak oleh Chanyeol dan Kyungsoo-, sebelum ia membuka mulutnya lagi untuk berbicara sambil makan . "Memangnya hyung tidak marah dengan Jongin? Tadi malam hyung menyusulku ke kamar setelah beberapa menit. Kurasa hyung juga marah padanya."

Joonmyeon memijat pelipisnya pelan. Ini adalah kali pertama mereka berempat terlibat pertengkaran lagi sejak usia mereka memasuki kepala dua. Mereka sudah tak pernah bertengkar sejak mereka dewasa, namun semalam mereka terlibat masalah lagi setelah sekian lama.

"Bohong jika aku tidak marah padanya. Aku sangat marah. Ia seperti tidak menghargai kita," ucap Joonmyeon. "Tapi tak bisakah kita bertiga tetap mengobrol seperti biasa dan tidak menghadirkan atmosfer canggung selama ada Kyungsoo? Ia bisa merasa tidak nyaman."

Mendengar nama Kyungsoo disebut, Chanyeol menghentikan acara makannya. Ia teringat pada peristiwa di dapur tadi. Peristiwa dimana Kyungsoo tak menjawab pertanyaannya, tapi itu membuat dirinya sakit hati.

Tak berselang lama, terlihat Kyungsoo kembali ke meja makan dan duduk di sebelah Chanyeol.

Joonmyeon berusaha mencairkan suasana yang beku dengan mengajak Kyungsoo bicara. "Kami sudah mulai makan, Kyungsoo. Kau juga harus makan, ne?"

Kyungsoo mengangguk, tapi ekspresinya tampak buruk. Ia pasti tak berhasil membangunkan Jongin. Atau barangkali Jongin memang tak mau dibangunkan karena belum ingin bertemu dengan para sahabatnya.

Apapun alasan Jongin, Kyungsoo sedih karena ia tak berhasil mengajak pria itu sarapan. Jongin juga melewatkan makan malam semalam, dan pasti saat ini ia sedang kelaparan.

"Noona harus banyak makan," Sehun berujar dengan riang. Ia juga berusaha mencairkan suasana. "Dan kurasa noona juga harus banyak tersenyum, karena noona terlihat berkali lipat lebih cantik ketika noona tersenyum."

Mau tak mau Kyungsoo mengangkat dua sudut bibirnya setelah mendengar gombalan Sehun. Apalagi pria berkulit putih itu sempat mengedipkan sebelah mata kepadanya, dan itu membuat Kyungsoo merasa geli.

Akhirnya, atmosfer yang beku di ruang makan berhasil dilelehkan secara perlahan. Chanyeol yang tadinya menolak untuk bicara, akhirnya juga bersedia membuka mulutnya untuk bersuara. Ketiga orang itu sepertinya sepakat untuk menjaga perasaan Kyungsoo dan tidak mengedepankan ego mereka masing-masing.


©The Letter


Kyungsoo mematikan kompornya, lalu mulai menata satu demi satu masakannya yang sudah matang ke dalam piring saji dan juga ke dalam kotak bekal.

Ayam goreng tepung yang tampak menggiurkan ia tata di piring saji, sedangkan bulgogi lezat dengan bau menggoda ia masukkan ke dalam kotak bekal.

Wanita hamil itu merogoh saku apron-nya untuk mengambil ponsel, lalu menyalakan ponsel itu untuk melihat jam.

"Sudah hampir pukul 11. Waktu berjalan cepat sekali. Rasanya baru beberapa menit lalu aku selesai sarapan dan mulai memasak lagi," Kyungsoo menggumam lirih.

Dengan segera ia menyempurnakan tatanan masakannya, dan begitu semua selesai, ia lepas apron warna hijau muda yang sempat melekat di tubuhnya.

Kemudian wanita bermata bulat itu mengambil satu nampan ukuran sedang, lalu ia menata piring berisi ayam goreng, juga sebuah mangkuk nasi, dan segelas air putih ke atas nampan itu.

Ia mengangkat nampan itu, lalu ia berjalan keluar dari dapur.

Langkah kaki ringannya ia bawa menuju ruang tengah. Disana ia menemukan seorang pria bertubuh besar tidur meringkuk di sofa panjang.

Kyungsoo tersenyum kecil melihatnya, kemudian ia berjalan mendekati si pria.

Nampan yang dibawa Kyungsoo sekarang bertengger manis di atas meja, lalu wanita itu menggunakan tangannya untuk mengguncang pelan bahu si pria yang tertidur. "Jongin-ah, ireona. Hari sudah siang, dan kau belum makan sejak tadi malam."

Si pria —Jongin- masih setia memejamkan mata. Sejak tadi malam Jongin tidur di sofa itu karena pintu kamarnya benar-benar dikunci dari dalam oleh Chanyeol.

Jongin tidur tanpa bantal maupun selimut. Kyungsoo sebenarnya tadi malam sudah akan mengambilkan bantal dan selimut untuk Jongin, tapi Jongin menolaknya. Ia berkata bahwa ia tak membutuhkan dua benda itu, dan ia tetap akan tidur dengan nyenyak walaupun tanpa bantal dan selimut.

"Jongin-ah..." Kyungsoo mengguncang lagi bahu Jongin, kali ini dengan lebih keras. Saat ini hanya ada Jongin dan Kyungsoo di apartment karena yang lainnya berada di kantor masing-masing.

"Eungh.." Jongin menggeliat dalam tidurnya, dan Kyungsoo tersenyum. Sepertinya pria itu akan segera bangun.

Dan benar saja, secara perlahan Jongin membuka matanya. Untuk beberapa saat ia masih mengedipkan matanya guna mengembalikan kesadarannya, dan begitu matanya sudah jernih kembali, ia mendapati Kyungsoo berdiri di depannya sambil tersenyum.

"Aku akan pergi setelah ini. Aku sudah siapkan makanan untukmu, dan sebaiknya kau segera makan. Kau bisa sakit kalau tidak makan," Kyungsoo sejenak menunjuk pada nampan yang tadi ia bawa, kemudian ia menatap Jongin penuh harap.

Mata Jongin sekarang lumayan bengkak karena semalaman ia menangis. Mata itu sekarang menatap Kyungsoo dengan bingung. "Noona mau pergi kemana?" tanyanya dengan suara khas orang yang baru bangun.

"Aku ingin mengunjungi seorang teman," jawab Kyungsoo.

Jongin mendudukkan tubuhnya, kemudian mengacak rambutnya yang sebenarnya sudah berantakan. "Sendirian?" tanya Jongin lagi.

Kali ini Kyungsoo mengangguk. "Aku akan naik taksi."

"Andwae!" tiba-tiba Jongin memekik, dan itu membuat Kyungsoo kaget. "Aku akan mengantar noona. Aku akan mandi, lalu makan, dan kita berangkat," dengan cepat Jongin berdiri.

Kyungsoo masih blank, sehingga ia diam saja.

"Noona?" kibasan tangan Jongin di depan wajah Kyungsoo membuat wanita cantik itu tersadar dari blank state-nya.

"Eh?" dengan bingung Kyungsoo mengerjapkan matanya. "K—kalau begitu aku akan bersiap, lalu kita akan berangkat jika kau sudah selesai makan."

Dengan demikian, Kyungsoo segera pergi dari hadapan Jongin untuk bersiap. Ia meninggalkan Jongin yang kini terkekeh. Sepertinya Jongin geli melihat kelakuan Kyungsoo tadi. Melihat tingkah lucu Kyungsoo merupakan hiburan tersendiri.


©The Letter


Ini bukan kali pertama Kyungsoo berada satu mobil dengan Jongin. Dulu saat pertama kali mereka berada dalam satu mobil, suasana canggung benar-benar mendominasi. Tapi kali ini agaknya mereka sudah lebih santai satu sama lain.

Walaupun beberapa menit mereka masih saling diam, tapi suasananya tidak kaku seperti dulu.

"Noona..." Jongin memecah suasana yang hening. Membuat Kyungsoo menoleh ke arahnya. "Terimakasih untuk ayam gorengnya tadi. Aku selalu suka ayam goreng masakan noona."

Blush. Pipi tembam Kyungsoo dihiasi rona pink samar. Karena malu, Kyungsoo menundukkan kepalanya, menatapi perutnya yang terus membesar.

"Ti—tidak perlu berterimakasih, Jongin," Kyungsoo membalas ucapan Jongin dengan terbata.

Jongin tersenyum simpul karena tingkah malu-malu Kyungsoo. Ia tak habis pikir kenapa wanita dewasa seperti Kyungsoo masih bisa bertingkah lucu dan membuat orang lain tersenyum.

Di tengah senyumnya, Jongin tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia tidak tahu kemana ia harus melajukan mobilnya. Ia tak tahu tempat yang dituju oleh Kyungsoo.

Sejenak Jongin melirik kotak bekal yang ada di pangkuan Kyungsoo, lalu ia bertanya pada wanita itu. "Ehm...sebenarnya kita mau kemana, noona? Apa noona ingin mengunjungi teman noona dan memberinya makan siang?" tanya Jongin.

Pertanyaan Jongin cukup masuk akal mengingat sebentar lagi jam makan siang akan segera tiba, dan bisa saja Kyungsoo ingin memberikan kotak bekal yang dibawanya untuk seorang teman.

Kepala Kyungsoo terangkat lagi, lalu ia tersenyum sembari menatap lurus ke depan. "Aku akan menjawab pertanyaanmu di depan sana, saat traffic light berubah warna menjadi merah," Kyungsoo menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk pada perempatan jalan, dimana sekarang traffic light-nya masih berwarna kuning.

Mobil Jongin terus berjalan dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya mobil itu sampai di perempatan, dan harus berhenti karena beberapa detik lalu traffic light berubah warna menjadi merah.

"Kenapa harus menunggu sampai mobilku berhenti, noona?" tanya Jongin. Kepalanya ia arahkan pada sang lawan bicara.

"Karena mungkin kau akan terkejut saat mendengar jawabanku," Kyungsoo balas menatap Jongin sambil tersenyum. "Karena jawabanku adalah...aku ingin menemui Sehun untuk mengantarkan makan siang. Jadi, bisakah kau mengantarku ke kantor Sehun?"

Mulut Jongin menganga. Jadi, tempat tujuan Kyungsoo saat ini adalah kantor Sehun? Kyungsoo ingin menemui Sehun, yang notabene sedang marah pada Jongin? Apa yang ingin dilakukan oleh istri mendiang Yifan itu?

Sungguh. Jongin tak mengerti jalan pikiran Kyungsoo.

Kyungsoo benar, Jongin memang terkejut setelah mendengar jawabannya.


©The Letter


Jongin dan Kyungsoo tiba di depan kantor Sehun. Mereka membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk sampai di tempat itu, dan mereka kini masih berada di dalam mobil.

Kyungsoo sedang berkutat dengan seatbelt-nya saat ia memberi satu pertanyaan untuk Jongin. "Kau ingin ikut masuk?"

Jongin diam untuk beberapa menit, sebelum akhirnya memberikan satu jawaban. "Kurasa tidak, noona," pria itu menggaruk belakang lehernya. "Noona tahu? Sehun adalah yang paling labil dari semua sahabatku, dan aku pun yakin bahwa ia yang paling marah padaku untuk sekarang."

Kyungsoo mengangguk, bersamaan dengan sabuk pengamannya yang sukses dilepas. "Ya sudah kalau begitu. Aku akan menemui Sehun sendirian," tukasnya.

"Noona ingin aku menunggu noona disini, atau ingin aku jemput nanti saat noona ingin pulang?" tanya Jongin.

Kyungsoo sejenak berpikir keras. Sebenarnya tidak masalah jika ia meminta jemput pada Jongin, tapi sepertinya itu bukan pilihan terbaik. Ia masih memiliki rencana lain setelah ini —setelah bertemu Sehun-.

Jadilah ia memutuskan untuk menolak tawaran Jongin dengan halus. Jongin pun tak memaksa Kyungsoo karena tadi Kyungsoo berkata bahwa ia akan pulang bersama Sehun.

Asalkan Kyungsoo tak pulang sendirian, itu sudah hal baik menurut Jongin.

Dua orang itu akhirnya berpisah di depan kantor Sehun.

Kyungsoo berjalan memasuki bangunan gedung kantor, sedangkan Jongin kembali melajukan mobilnya untuk pulang.

Beralih ke Kyungsoo lagi. Saat ini wanita berperut sedikit buncit itu sudah tiba di meja receptionist.

Satu petugas receptionist menyapa ramah dirinya, dan Kyungsoo mengungkapkan niat kedatangannya yaitu untuk menemui Sehun.

Karena ini sudah jam makan siang, petugas itu memutuskan untuk menelepon Sehun, dan meminta Sehun untuk menemui Kyungsoo di lobby kantor.

Petugas receptionist meminta Kyungsoo untuk menunggu sebentar. Sehun sedang dalam perjalanan turun dari lantai empat.

Kyungsoo pun tersenyum dan mengucap terimakasih pada sang petugas.

Kyungsoo membunuh waktunya saat menunggu Sehun dengan melihat-lihat isi bangunan gedung itu.

Perusahaan tempat Sehun bekerja adalah sebuah perusahaan konstruksi besar, jadi jangan heran jika bangunan gedungnya pun besar seperti ini.

"Kyungsoo noona?" kepala Kyungsoo tertoleh ke sumber suara, dan ia mendapati Sehun berjalan cepat ke arahnya. "Ya Tuhan! Aku tak menyangka noona berada di kantorku!" imbuh Sehun ketika ia sampai di depan Kyungsoo.

Kyungsoo hanya bisa tersenyum kikuk karena malu. Tadi Sehun bersuara keras, hingga ia menyita perhatian dari orang-orang yang ada disitu.

"Sekarang jam makan siang, 'kan? Aku membawakan bekal untukmu," ucap Kyungsoo seraya mengangkat kotak bekalnya ke depan wajah Sehun.

Senyum Sehun terkembang sangat lebar. "Jadi, noona sengaja datang ke kantorku untuk memberiku bekal makan siang? Aigoo~ aku terharu."

Kyungsoo hanya bisa menggelengkan kepalanya menghadapi bayi besar di depannya. Sungguh berlebihan sikap seorang pria dewasa di depannya itu.

Lihat saja. Sehun sekarang sedang berpura-pura menangis haru.

Setelah puas berakting lebay, Sehun akhirnya menarik pergelangan tangan Kyungsoo dan membawa wanita itu ke suatu tempat.

Ternyata Sehun membawa Kyungsoo ke cafetaria kantornya.

"Kita 'kan tidak membeli makan disini, lebih baik kita tidak duduk disini," Kyungsoo berbisik setelah Sehun mendudukkannya di salah satu kursi, yang letaknya di pojok cafetaria.

Sehun sendiri duduk di seberang Kyungsoo. Mereka duduk dipisahkan oleh meja persegi di tengah mereka.

"Salah satu pegawai di cafetaria ini adalah mantan kekasihku, noona. Jadi kau tenang saja," ucapan Sehun itu membuat mata Kyungsoo membola. "Kenapa sekaget itu? Aku hanya bercanda. Yang benar adalah, semua pegawai cafetaria ini adalah temanku, jadi noona tidak usah khawatir," Sehun menambahkan ucapannya.

Kyungsoo masih belum merespon apa-apa terhadap ucapan Sehun, dan Sehun memutuskan untuk kembali bicara. "Noona cemburu ya mendengar leluconku tadi?"

"Hah?" Kyungsoo tampak kaget mendengar lelucon Sehun. "Tentu saja tidak. Aku hanya kaget saja tadi. Jangan berpikir macam-macam."

Sehun mulai membuka kotak bekal pemberian Kyungsoo sambil tersenyum, tapi ia sebenarnya merasa sedih karena perkataan Kyungsoo barusan.

Sehun akan senang jika saja Kyungsoo tadi menjawab pertanyaannya dengan gugup, malu, tersipu, dan salah tingkah. Tapi nyatanya Kyungsoo tadi menjawab pertanyaannya dengan tenang, dan hal itu seolah menunjukkan bahwa Kyungsoo bicara jujur.

Tapi Sehun berusaha menutupi rasa kecewanya. Ia tidak tahu kenapa ia selalu merasa aneh jika sudah menyangkut Kyungsoo. Ia berubah menjadi pria yang sangat sensitif, dan itu lain dari biasanya.

Apa Sehun jatuh cinta pada Kyungsoo? Setelah satu minggu mereka saling kenal? Oh! Sehun tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia merasa belum yakin.

Tak mau terlalu berpikir keras saat Kyungsoo ada di depannya, Sehun akhirnya fokus pada makanan menggiurkan yang tersaji di depannya. "Wah, noona membuatkan bulgogi untukku!" pekik Sehun senang.

Kyungsoo merasa ikut senang karena melihat Sehun senang. "Habiskan semuanya, ne? Supaya kau bisa bekerja dengan lebih semangat setelah ini."

Sehun menganggukkan kepalanya mantap. Ia merasa sangat bahagia karena Kyungsoo begitu memperhatikannya.

Dengan hati yang berbunga, Sehun mulai menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Ia kunyah beberapa kali daging itu, kemudian menelannya. "Ini enak sekali!" lagi-lagi Sehun memekik. Tapi kemudian ia teringat sesuatu. "Noona tidak makan siang?"

"Aku sudah makan tadi saat memasak itu untukmu," jawab Kyungsoo.

Wajah Sehun tampak tak terima. Ia menyumpit sepotong daging, lalu ia dekatkan daging itu ke depan mulut Kyungsoo. "Wanita hamil harus banyak makan supaya tetap sehat. Sekarang, say Aaa~"

Kyungsoo mengerjap polos saat Sehun memaksa untuk menyuapinya. Tapi ia juga tak tega menolak Sehun. Jadilah ia membuka mulutnya, lalu memakan daging yang disuapkan oleh Sehun.

"Good girl," puji Sehun. Ia kembali mengarahkan pandangannya pada kotak bekal di depannya. "Ngomong-ngomong, tadi noona kesini sendirian?"

"Aku bersama Jongin."

Jawaban singkat Kyungsoo mampu membuat Sehun menghentikan gerakan sumpitnya yang hampir memasukkan sepotong daging ke mulutnya.

Ia turunkan kembali sumpit berserta dagingnya dan meletakkannya di atas piring, kemudian ia menatap Kyungsoo serius. "Noona bersama Jongin?" tanya Sehun.

Tanpa ragu Kyungsoo mengangguk. "Ya. Jongin tadi mengantarku," jawab Kyungsoo. Melihat Sehun tak memberinya respon, Kyungsoo kembali bicara. "Kau sangat marah pada Jongin?"

Sehun membuang muka dari Kyungsoo, kemudian menghela nafas berat. "Begitulah. Kami tidak pernah merahasiakan sesuatu sebelumnya, dan rasanya aku sangat kesal padanya."

"Tapi semua itu bukan salah Jongin," satu kalimat sanggahan Kyungsoo membuat Sehun kembali menatap Kyungsoo. "Jongin memikirkan perasaan kalian. Ia tahu bahwa kalian akan ikut sedih jika kalian tahu permasalahannya."

Seringai Sehun muncul begitu Kyungsoo selesai bicara. "Noona membela Jongin?" tanya Sehun.

Kyungsoo tersentak mendengar pertanyaan Sehun. Pertanyaan itu juga dilontarkan oleh Chanyeol tadi pagi, dan ia cukup kaget karena Sehun menanyakan hal yang sama padanya.

"A—aku tidak membelanya. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku tak ingin kalian bertengkar karena masalah sepele."

Jawaban Kyungsoo membuat Sehun tertawa mengejek. "Masalah sepele? Noona pikir itu masalah sepele? Bagiku itu bukan masalah sepele, noona. Itu masalah kejujuran, dan bagiku kejujuran sangatlah penting."

Terlihat jelas bahwa Sehun sangat marah. Ia sudah menyuarakan alasan kemarahannya, meskipun belum semuanya.

Ia tentu tak akan mengatakan pada Kyungsoo bahwa ia juga marah pada Jongin karena kemarin Jongin asyik berkencan dengan Kyungsoo.

Padahal sudah jelas jika keduanya membantah sebutan kencan itu, tapi bagi Sehun, kebersamaan mereka berdua menyakiti hatinya.

"Noona menyukai Jongin?"

Deg. Kyungsoo kembali terkejut, karena Sehun lagi-lagi memberinya pertanyaan yang sama seperti yang tadi pagi ditanyakan oleh Chanyeol.

Ia merasa bingung. Pandangan matanya pada Sehun menjadi tak fokus, dan ia hanya bisa diam. Ia tak tahu bagaimana perasaannya, tapi ia yakin bahwa ia masih sangat mencintai Yifan, dan ia tak mungkin jatuh cinta pada Jongin dalam waktu yang sangat singkat.

Kyungsoo seharusnya secara tegas menjawab tidak atas pertanyaan Sehun. Tapi rasanya lidahnya kelu untuk berucap, dan ia hanya terus diam.

Sehun tersenyum pilu melihat Kyungsoo yang diam dan kebingungan. Ia sangat mengharapkan jawaban tidak dari Kyungsoo, namun rupanya kata itu tak pernah hadir di bibir Kyungsoo.

Agaknya kini Sehun merasakan apa yang Chanyeol rasakan tadi pagi. Sehun merasa sakit hati...


©The Letter


Kyungsoo memainkan ponselnya di lobby kantor Sehun. Hari sudah beranjak sore, tapi wanita cantik itu masih diam sendirian di tempat itu.

Sudah satu jam Kyungsoo berada di sana sejak acara makan siangnya bersama Sehun selesai. Pria itu tentu harus kembali bekerja, dan harus meninggalkan Kyungsoo sendirian di lobby walaupun dengan berat hati.

Kemarin Sehun sudah diizinkan untuk pulang lebih awal oleh atasannya, dan hari ini tentu Sehun tak akan mendapatkan keringanan yang sama.

Acara makan siang Sehun dan Kyungsoo berakhir dengan kaku. Hal itu disebabkan oleh pertanyaan Sehun yang membuat Kyungsoo terus diam setelahnya. Kyungsoo sama sekali tak menjawab pertanyaan Sehun itu.

Sehun tadi sebenarnya sudah mencoba untuk mengganti tema pembicaraan agar Kyungsoo tidak terus mengunci bibirnya, tapi itu rupanya tak cukup untuk menghancurkan atmosfer tegang yang melingkupi mereka.

Saat ini Kyungsoo duduk di lobby sendirian karena ia sedang menunggu seseorang. Ia sudah menghubungi seseorang itu satu jam yang lalu, tapi batang hidung orang itu tak kunjung nampak.

Kyungsoo memaklumi hal itu, karena orang yang ditunggunya itu harus menempuh perjalanan jauh agar dapat sampai di kantor Sehun.

Salah Kyungsoo juga karena ia minta dijemput oleh orang itu —yang artinya ia berbohong pada Jongin karena ia tidak pulang bersama Sehun-. Tapi orang itu adalah harapan terakhir Kyungsoo, dan terpaksa Kyungsoo melakukannya.

Waktu lima belas menit kembali berlalu, dan saat itulah muncul seorang pria tampan di depan Kyungsoo.

"Maaf, Soo. Kau pasti sudah menunggu lama, ya?"

Kyungsoo berdiri dari duduknya. Ia tersenyum, kemudian menggeleng. "Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah merepotkan Joonmyeon oppa. Maafkan aku, oppa."

Ya. Pria yang selama satu jam lebih dinantikan oleh Kyungsoo adalah Kim Joonmyeon.

"Tidak apa-apa. Lagipula tugasku di kantor memang sudah selesai, jadi aku bisa pulang lebih awal."

Kyungsoo bisa tersenyum lega karena ternyata ia tak terlalu mengganggu waktu sang wakil direktur. "Kalau begitu, bisakah kita pulang sekarang? Aku sudah lelah."

Joonmyeon mengangguk, lalu ia melangkahkan kakinya semakin mendekati Kyungsoo, dan selanjutnya merangkul bahu Kyungsoo. "Baiklah. Kajja kita pulang."

Kyungsoo hanya bisa pasrah ketika ia harus berjalan sembari dirangkul oleh Joonmyeon.

Mungkin Joonmyeon terlihat posesif, namun itu tak masalah bagi Kyungsoo asalkan rangkulannya tidak terlalu erat —tidak seperti rangkulan Sehun beberapa waktu lalu-. Ia tahu bahwa si pria Kim sedang berusaha menjaganya.


©The Letter


Mobil Joonmyeon secara perlahan bergerak menjauhi kantor Sehun. Pria itu pernah beberapa kali mengunjungi Sehun di kantornya, jadi ia merasa tak asing dengan tempat itu.

Jarak dari kantornya ke kantor Sehun sangat jauh, jadi ia tak bisa terlalu sering mengunjungi sahabatnya itu walaupun sebenarnya ia sangat ingin melakukannya.

"Jadi, tadi kau menemani Sehun makan siang?" Joonmyeon membuka pembicaraan.

Tadi di line telepon Kyungsoo sudah bercerita padanya bahwa ia mengantarkan makan siang untuk Sehun. Hal itu agak membuat Joonmyeon merasa iri hati. Ia juga ingin Kyungsoo membawakannya makan siang dan akhirnya mereka makan siang bersama.

"Ya. Aku menemani Sehun makan siang," jawab Kyungsoo.

"Kapan kau akan melakukan hal yang sama untukku? Maksudku, mengantarkan makan siang untukku juga. Begitu.." nada bicara Joonmyeon terdengar sedikit menggoda.

Kyungsoo terkekeh mendengar hal itu. "Oppa ingin aku memasakkan makan siang untuk oppa dan mengantarnya ke kantor oppa?" tanyanya.

"Ya," Joonmyeon mengangguk. "Itu juga kalau kau tidak keberatan."

"Sebenarnya aku tidak keberatan. Hanya saja, oppa mengizinkanku untuk pergi sendirian ke kantor oppa?" kini giliran Kyungsoo yang menggoda Joonmyeon.

Joonmyeon tampak sedikit kaget, tapi berikutnya ia menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Kalau begitu, aku membawa bekal buatanmu saja. Kau memasakkan bekal untukku, dan aku akan membawanya ke kantor. Akan sangat lebih baik jika aku memakan bekal darimu daripada harus membeli di cafetaria."

Kyungsoo tersenyum. Sepertinya Joonmyeon tak kepikiran tentang siapa-yang-mengantar-Kyungsoo-ke-kantor-Sehun.

"Oh ya, Kyungsoo," sepertinya Joonmyeon teringat sesuatu, dan Kyungsoo sedikit was-was. "Apa kau sudah mendengar kabar terbaru tentang Jongdae?"

Ekspresi Kyungsoo yang tadi was-was kini berubah menjadi bingung. "Memang kabar terbaru apa, oppa? Belakangan ini Jongdae oppa jarang menghubungiku."

Sedikit raut keraguan menghiasi wajah Joonmyeon. Ia sepertinya sedang mempertimbangkan hal yang ingin ia katakan pada Kyungsoo.

Ia takut jika Kyungsoo akan merasa sedih setelahnya.

Tapi Kyungsoo harus tahu tentang hal ini. Akhir-akhir ini sepupunya dekat dengan Kyungsoo, dan tampaknya Kyungsoo berhak tahu kabar terbaru tentang sepupunya itu.

"Begini, Kyungsoo," Joonmyeon mengawali ceritanya pada Kyungsoo. "Aku memiliki kabar terbaru tentang sepupuku," Kyungsoo masih diam, belum menanggapi ucapan Joonmyeon. Jadilah Joonmyeon lanjut bicara. "Sebenarnya Jongdae belakangan ini tidak menghubungimu karena...

.

.

.

...ia kembali berhubungan dengan mantan kekasihnya."

..

..

TBC


Author's Note:

Selamat pagi~ aku bawa chapter baru pagi ini^^

duh, maaf ya chapter kemarin Jongin dibikin nangis-nangis. disini karakter Jongin emang menghargai persahabatan bgt. jadi besok menjelang ending pun Jongin bakal mengutamakan persahabatannya, dan itu bikin dia galau. tapi endingnya masih agak lama kok :p

Jongin bakal baikan sama sahabat-sahabatnya walaupun gak bersamaan. jadi Jongin baikannya satu-satu gitu. tapi abis itu sebenarnya ada masalah baru walaupun Jongin udah baikan sama sahabat-sahabatnya. apa masalahnya? tunggu saja di chapter-chapter berikutnya. hehe.

oh iya, cast member EXO yang lain bakalan muncul lho. tapi gak tau di chapter berapa. haha. bercanda. chapter depan muncul satu cast baru. ditunggu yaa :)

okee~ makasih banyak buat para reader setia yang masih bersedia membaca FF ini. cuma dibaca aja udah merupakan penghargaan kok buat aku^^

so, see you tomorrow~

salam sayang, rizdyo12 :*