Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Lay EXO as Zhang Yixing (Girl), Chen EXO as Kim Jongdae (mentioned), Xiumin EXO as Kim Minseok (Girl/mentioned)

Rate: T

Length: chaptered [11/?]

Summary for chapter 11:

Chanyeol adalah orang pertama yang memutuskan untuk memaafkan Jongin. Meskipun demikian, ia memiliki satu permintaan untuk Jongin. Joonmyeon pun juga sama. Ia pada akhirnya memaafkan Jongin, tapi dengan satu permintaan

Previous chapter:

Ia takut jika Kyungsoo akan merasa sedih setelahnya.

Tapi Kyungsoo harus tahu tentang hal ini. Akhir-akhir ini sepupunya dekat dengan Kyungsoo, dan tampaknya Kyungsoo berhak tahu kabar terbaru tentang sepupunya itu.

"Begini, Kyungsoo," Joonmyeon mengawali ceritanya pada Kyungsoo. "Aku memiliki kabar terbaru tentang sepupuku," Kyungsoo masih diam, belum menanggapi ucapan Joonmyeon. Jadilah Joonmyeon lanjut bicara. "Sebenarnya Jongdae belakangan ini tidak menghubungimu karena...ia kembali berhubungan dengan mantan kekasihnya."

..

Chapter 11 (Request)

HAPPY READING!


Kyungsoo sedikit terkejut hingga matanya sedikit melebar untuk beberapa saat.

Selama ia dekat dengan Jongdae, pria itu tak pernah membicarakan perihal wanita, dan kini tiba-tiba saja Joonmyeon mengatakan bahwa pria itu kembali menjalin hubungan dengan sang mantan.

Siapa yang tidak kaget jika seperti itu?

Kyungsoo selalu menilai Jongdae sebagai pria yang baik, dan ia pun menilai Jongdae sebagai teman yang baik.

Tapi kini Kyungsoo merasa bahwa ia hanya dijadikan hiburan saja bagi Jongdae. Setelah Jongdae tidak membutuhkannya, ia dibuang begitu saja tanpa berkata apapun.

Iya. Jongdae sama sekali tak menghubungi Kyungsoo belakangan ini, seolah ia membuang Kyungsoo usai kembali berhubungan dengan mantan kekasihnya. Sedikit banyak Kyungsoo merasa kecewa.

Kyungsoo tidak kecewa karena Jongdae kembali memiliki kekasih. Jika Jongdae jujur, ia justru akan ikut senang. Ia hanya kecewa karena Jongdae membuangnya begitu saja.

"Aku mengatakan itu semua padamu karena aku merasa kalian cukup dekat. Kupikir Jongdae tertarik padamu, Kyungsoo."

Kyungsoo tersenyum samar. Untung Kyungsoo bukanlah tipe wanita yang suka berharap pada lelaki yang mendekatinya. Jadi ia tak menjadi korban dari pria pemberi harapan palsu.

"Aku baik-baik saja, oppa. Jujur, aku sedikit kecewa. Tapi rasa kecewaku itu bukan karena Jongdae oppa kembali berpacaran. Sama sekali bukan karena itu. Aku hanya kecewa karena Jongdae oppa tidak bicara apapun padaku tentang semua itu, padahal kukira kami berdua adalah teman."

Penjelasan panjang Kyungsoo membuat Joonmyeon terperangah. Dari penjelasan itu Joonmyeon bisa tahu bahwa Kyungsoo hanya menganggap Jongdae sebagai teman. Padahal ia pikir Kyungsoo memiliki perasaan lebih pada Jongdae.

Sesungguhnya Joonmyeon kesal pada sepupunya itu. Sepupunya itu sempat berkata padanya bahwa ia tertarik pada Kyungsoo. Tapi nyatanya apa? Nyatanya kemarin Jongdae justru kembali berpacaran dengan Kim Minseok, mantan kekasih Jongdae ketika ia masih kuliah jenjang strata 1 di Korea. Minseok merupakan senior Jongdae di kampus lamanya.

Jongdae dan Minseok putus saat Jongdae akan berangkat ke China untuk melanjutkan studinya. Minseok merasa tak bisa menjalin hubungan jarak jauh, hingga akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Jongdae.

Dua tahun berlalu, namun cinta mereka masih sama seperti sebelumnya. Itulah yang membuat mereka memutuskan untuk kembali bersama. Cinta memang rumit.

"Aku lega karena ternyata kau baik-baik saja, Kyungsoo," tukas Joonmyeon. "Kukira kau jatuh hati pada sepupuku."

Tawa halus Kyungsoo terdengar di dalam mobil mewah itu. "Tidak, oppa. Aku hanya menganggap Jongdae oppa sebagai teman ataupun sahabat. Aku tidak memiliki rasa lebih padanya. Terlalu cepat untukku jatuh cinta setelah kepergian Yifan oppa."

"Terlalu cepat? Apa itu tandanya, kau belum ingin menemukan pengganti Yifan hyung?"

Tawa Kyungsoo lenyap ketika mendengar nama mendiang suaminya disebut saat Joonmyeon membicarakan masalah pengganti. Tak dapat dipungkiri bahwa ia masih sangat mencintai Yifan.

"Aku tak berniat untuk mencari pengganti Yifan oppa," jawaban dari Kyungsoo terdengar lirih dan lemas. Membuat Joonmyeon merasa bersalah karena sudah mengangkat tema tentang Yifan ke permukaan.

"Maaf karena membuatmu bersedih, Kyungsoo," ucap Joonmyeon penuh penyesalan.

Tapi Kyungsoo justru tersenyum. "Aku tidak bersedih, oppa. Mengingat Yifan oppa justru membuat hatiku hangat."

Joonmyeon diam. Ia kini yakin bahwa cinta Kyungsoo untuk Yifan begitu besar.

Yifan benar-benar beruntung karena berhasil mendapatkan hati Kyungsoo sepenuhnya. Ketika Yifan sudah tak ada di dunia, Kyungsoo masih sepenuhnya mencintai Yifan.

"Oppa..." suara panggilan Kyungsoo mengusik lamunan Joonmyeon. "Aku selalu menganggap oppa sebagai pria yang dewasa dan bijak. Dan aku sangat berharap oppa mampu memperbaiki hubungan persahabatan kalian berempat."

Joonmyeon diam. Dalam hati ia merasa terkejut karena Kyungsoo mengalihkan topik pembicaraan dengan sangat tiba-tiba.

Parahnya lagi, topik baru yang diangkat oleh Kyungsoo adalah topik tentang Jongin.

Sebenarnya Kyungsoo memang memiliki rencana untuk turun tangan guna memperbaiki hubungan Jongin dengan tiga sahabatnya. Itulah alasan mengapa Kyungsoo bicara secara pribadi dengan Chanyeol, kemudian dengan Sehun, dan terakhir adalah dengan Joonmyeon.

"Mungkin Jongin salah karena ia tak jujur pada kalian bertiga, tapi tak bisakah oppa melihat sisi positif dari tindakan Jongin itu?" tanya Kyungsoo penuh harap.

Joonmyeon menginjak pedal rem perlahan karena lampu lalu lintas di depannya berganti warna menjadi merah. Selanjutnya, pria pendek itu menoleh pada Kyungsoo setelah mobilnya sudah berhenti sempurna. "Kau membelanya?"

Lagi. Pertanyaan itu lagi-lagi didengar oleh Kyungsoo. Dalam sehari, sudah tiga kali Kyungsoo mendengar pertanyaan itu.

"Kau menyukainya?"

Lagi. Lagi-lagi Kyungsoo mendengar satu pertanyaan yang sama. Dan lagi-lagi Kyungsoo hanya bisa diam.

Joonmyeon menatap Kyungsoo sendu, sebelum akhirnya ia kembali fokus ke jalanan dan kembali melajukan mobilnya setelah lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.

Joonmyeon pikir Kyungsoo akan menjawab tegas seperti saat ia bertanya perihal Jongdae.

Tapi ternyata ia salah. Kyungsoo justru tak memberikan jawaban apapun, dan itu membuat Joonmyeon merasa sedih.

Ia tak tahu sejak kapan ia mulai merasakan perasaan ini, tapi barangkali ia sudah mulai memendam rasa pada Kyungsoo.

Barangkali sekarang Joonmyeon merasakan kesakitan yang sama seperti yang dirasakan oleh Chanyeol dan Sehun.


©The Letter


Klek. Chanyeol membuka pintu kamar malam itu. Hari sudah larut ketika Chanyeol pulang ke apartment.

Ia memang mendapat kenaikan gaji sejak kemarin. Tapi imbalannya adalah, ia harus rela sering pulang larut malam, hingga melewatkan jam makan malam.

Kamar itu masih terang benderang, dan Chanyeol bisa melihat sosok Jongin sedang sibuk dengan ponselnya. Selalu saja begitu. Jongin selalu sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dilakukannya dengan ponsel pintar itu.

Chanyeol akhirnya melepas sepatunya, kemudian berjalan menuju lemari, mengambil beberapa helai pakaian, dan beranjak ke kamar mandi.

Ia tak sedikitpun menyapa Jongin maupun menatap pria itu barang sebentar.

Begitu pintu kamar mandi ditutup dari dalam, Jongin menghela nafas dan meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Ia belum juga menemukan pekerjaan baru, dan ia belum juga berbaikan dengan para sahabatnya.

Mungkin baru 24 jam ia memiliki masalah dengan tiga sahabatnya, tapi waktu 24 jam itu terasa sangat lama bagi Jongin. Ia ingin berbaikan dengan mereka, tapi ia tak tahu bagaimana caranya.

Klek. Pintu kamar mandi kembali terbuka. Terhitung, hanya tujuh menit saja Chanyeol berada di kamar mandi. Pria itu sepertinya tidak mandi, dan hanya sekedar membersihkan diri saja.

Chanyeol berjalan ke arah ranjang, lalu duduk di tepiannya. Di kamar itu hanya ada satu ranjang king size, dan itu biasa ditiduri oleh Chanyeol-Jongin.

Rasanya aneh jika dua manusia yang sedang marahan tidur di ranjang yang sama.

Chanyeol melirik Jongin yang kembali berkutat dengan ponsel putihnya. "Kau tidak ingin berbaikan denganku?" tanya Chanyeol.

Jongin mengangkat kepalanya, lalu meletakkan ponselnya di atas meja nakas lagi. "Aku ingin berbaikan denganmu, hyung. Sangat ingin."

Chanyeol menatap intens mata Jongin. Mata itu memancarkan kesungguhan dan harapan. Tiba-tiba saja Chanyeol merasa bersalah pada Jongin karena kemarin ia terlalu emosi.

Mungkin perkataan Kyungsoo tadi pagi benar. Sebenarnya Jongin tidak bersalah dan hanya ingin menjaga kebahagiaan para sahabatnya. Kemarin ia terlalu dikuasai oleh emosi sehingga ia marah hanya karena masalah sepele.

"Kemarilah," Chanyeol menggerakkan sebelah tangannya untuk meminta Jongin mendekat.

Dengan ragu Jongin merangkak di atas ranjang, kemudian duduk di depan Chanyeol.

Jongin kaget bukan main ketika Chanyeol tiba-tiba memeluknya. "Aku juga harus minta maaf karena kemarin terlalu emosi padamu. Aku harusnya mengerti kesedihanmu, dan bukannya semakin menyudutkanmu. Aku sahabat yang buruk," tukas Chanyeol.

Jongin menggelengkan kepalanya, lalu balas memeluk sang sahabat. "Tidak, hyung. Kau sahabat yang baik. Aku yang salah karena tidak jujur pada kalian. Maafkan aku..."

Rasa lega menyelimuti hati Jongin dan Chanyeol. Sahabat seharusnya memang selalu terbuka, dan wajar jika Chanyeol marah karena Jongin sempat bersikap tertutup.

Tapi sahabat juga harus selalu memaafkan. Dan itulah yang dilakukan oleh Chanyeol. Ia memilih untuk memaafkan Jongin karena ia adalah seorang sahabat yang baik.

"Kita lupakan saja masalah yang kemarin, oke?" tanya Chanyeol sembari melepas pelukan mereka.

Jongin tersenyum dan mengangguk. "Oke, hyung. Terimakasih banyak karena telah memaafkanku."

Chanyeol mengusak sayang rambut hitam Jongin. "Baru satu hari bertengkar dengan kami saja penampilanmu sudah seburuk ini, Kim Jongin."

Jongin mengerucutkan bibir tebalnya. "Aku sangat sedih, hyung. Kalian bertiga adalah orang yang paling berharga untukku. Aku tak ingin kehilangan kalian, seperti saat aku kehilangan Yifan hyung."

"Jadi, aku ini berharga untukmu, Jongin?" Jongin tanpa ragu menganggukkan kepalanya. "Kau ingin melihatku bahagia, Jongin?" kembali Jongin menganggukkan kepalanya tanpa keraguan sedikitpun. "Jadi, kau mau mengabulkan permintaanku agar aku bahagia, 'kan?" kali ini Jongin berpikir sebentar, kemudian mengangguk lagi.

Chanyeol tersenyum senang. Ia kembali memberi isyarat pada Jongin untuk mendekat, dan ia kemudian berbisik lirih di telinga Jongin untuk menyuarakan permintaan rahasianya.

Bisikan itu hanya bisa didengar oleh Jongin. Bisikan itu membuat mata Jongin terbelalak. Permintaan Chanyeol itu...sangat mengejutkan.


©The Letter


Sang mentari kembali mengkudeta sang rembulan. Ia kembali bertahta di singgasananya untuk membawa sang pagi.

Seperti biasa, seluruh penghuni apartment Kyungsoo sedang sarapan.

Jongin kali ini bergabung di meja makan meskipun masih dengan wajah tegang yang kentara. Pasalnya, pria itu baru berbaikan dengan Chanyeol, dan belum berbaikan dengan Sehun maupun Joonmyeon.

Ia berharap bisa segera berbaikan dengan dua sahabatnya itu meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya. Tapi di dalam hatinya yang terdalam, Jongin yakin bahwa dua sahabatnya yang lain juga akan membukakan pintu maaf untuknya.

"Hari ini aku ingin ke kantor," Kyungsoo berbicara di sela-sela acara sarapan mereka.

"Kau ingin ke kantor? Apa ada masalah di kantor sehingga kau harus kesana lagi?" tanya Joonmyeon.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Semua baik-baik saja, oppa. Hanya saja, sahabatku memintaku untuk mengunjunginya di kantor. Ia bekerja di kantor yang sama denganku. Katanya ia merindukanku."

Sehun menghentikan kegiatan makannya dan memberi atensi penuh pada Kyungsoo. "Sahabatmu itu pria atau wanita?"

Kyungsoo sedikit terkejut mendengar pertanyaan Sehun. Joonmyeon, Jongin, dan Chanyeol juga terkejut. Pasalnya, nada bicara Sehun terdengar posesif dan agak aneh.

"Ehm...sahabatku itu wanita. Usianya dua tahun lebih tua daripada aku."

"Uh? Usianya sama dengan Joonmyeon hyung? Mungkin kau bisa memperkenalkan sahabatmu itu pada Joonmyeon hyung, Soo. Siapa tahu mereka berjodoh," timpal Chanyeol dengan nada penuh canda.

Joonmyeon memutar bola matanya malas. Ia tak tertarik dengan wanita manapun, kecuali Kyungsoo —tanpa sadar Joonmyeon mengakui hal itu di dalam hatinya-. Jadi sia-sia saja kalau ingin menjodohkan Joonmyeon dengan wanita lain.

"Nanti kau ingin pergi dengan siapa, Soo?" tanya Joonmyeon. Ia memilih untuk mengabaikan candaan Chanyeol.

Pertanyaan Joonmyeon membuat Kyungsoo mendadak salah tingkah. "Bi—bisakah aku pergi dengan Jongin?"

Empat pasang mata di tempat itu menatap Kyungsoo tak percaya. Apalagi mereka bisa melihat bahwa Kyungsoo sedang menatap mereka bergantian dengan tatapan penuh harap.

Sebegitu besarnya keinginan Kyungsoo untuk pergi bersama Jongin? Sekiranya pertanyaan itu yang menguar di hati Joonmyeon, Sehun, dan Chanyeol.

"M-maaf, noona. Kurasa aku tidak bisa pergi denganmu karena aku ada urusan hari ini," Jongin dengan ragu menyuarakan penolakannya.

Hati kecilnya merasa tidak tega jika harus menolak permintaan Kyungsoo, tapi ia sendiri harus melakukan hal itu. Ia tak ingin keadaan akan menjadi buruk jika ia tetap nekat menyanggupi permintaan Kyungsoo.

Penolakan Jongin agaknya mengecewakan Kyungsoo. Wanita itu kini menekuk wajahnya karena rasa kecewa. Ia juga tak mengerti kenapa dirinya sangat ingin pergi bersama Jongin. Semua keinginan itu tiba-tiba muncul di hatinya. Barangkali Kyungsoo sedang ngidam seorang Kim Jongin? Mungkin.

"Ah, itu benar, Kyungsoo," Chanyeol mulai bicara. "Hari ini aku akan mengajak Jongin ke agensiku. Siapa tahu ia disana akan menemukan pekerjaan baru."

Sehun dan Joonmyeon menatap Chanyeol kaget. Mereka tidak tahu jika Chanyeol sudah berbaikan dengan Jongin.

Mendengar kata pekerjaan baru yang tadi diucapkan Chanyeol, rasa kecewa Kyungsoo perlahan pudar. Ia tentu berharap Jongin akan segera menemukan pekerjaan baru.

"Oh, begitu rupanya," ucap Kyungsoo seraya tersenyum meskipun sesungguhnya ia masih merasa sedkit kecewa. Ia kemudian beralih menatap Sehun. "Kalau begitu, bisakah aku pergi bersamamu, Sehun-ah?" tanya Kyungsoo.

Sehun langsung menganggukkan kepalanya senang. "Tentu saja bisa, noona! Aku justru senang jika noona ingin pergi denganku."

Kyungsoo tersenyum lega. Tak ada salahnya jika ia pergi bersama Sehun. Sebelum-sebelumnya ia juga selalu pergi bersama Sehun.

"Nanti jika kau ingin pulang, kau bisa menghubungiku, Kyungsoo. Aku akan menjemputmu seperti kemarin," Joonmyeon menimpali ucapan Sehun.

"Apa aku tidak merepotkanmu, oppa?" tanya Kyungsoo.

Dengan mantap Joonmyeon menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku nanti akan menjemputmu di kantor Yifan hyung. Arraseo?"

Dan akhirnya Kyungsoo hanya bisa mengangguk paham. Tak ada buruknya juga jika ia pulang dengan Joonmyeon.


©The Letter


Mentari sedang bersinar terik siang ini. Jam makan siang di tengah hari sudah terlewati, tapi sinar mentari masih saja terik.

Joonmyeon baru saja memarkir mobilnya di basement sebuah perusahaan besar. Perusahaan itu tak lain dan tak bukan adalah perusahaan milik keluarga Wu.

Sudah lama sekali ia tak mengunjungi perusahaan milik mendiang sahabatnya itu. Terakhir ia datang kesini mungkin sekitar satu tahun lalu, setelah Yifan resmi meminang Kyungsoo. Itupun ia hanya sekedar mampir, dan hanya sebentar saja.

Andai letak perusahaan Yifan dan perusahaan tempatnya bekerja relatif berdekatan, pasti Joonmyeon akan sering-sering mengunjungi tempat ini sebelum Yifan tiada.

Takdir lah yang membuat letak perusahaan mereka saling berjauhan, hingga mereka tak bisa sering bertemu.

Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa hari ini Joonmyeon dengan mudahnya mendatangi perusahaan keluarga Wu di saat jam kerja? Kenapa ia dengan mudahnya meninggalkan pekerjaannya hanya demi menjemput Kyungsoo?

Dalam hati Joonmyeon meminta maaf pada Yifan karena dulu ia jarang mengunjunginya di kantor, tapi sekarang ia dengan mudahnya bisa mengunjungi Kyungsoo meskipun harus menempuh perjalanan selama satu jam lebih.

Saat ini sang wakil direktur sedang berjalan menuju lobby. Begitu ia sampai di lobby, senyumnya langsung terkembang indah saat ia mendapati wanita yang ia cari sedang duduk di salah satu kursi.

Wanita itu tidak sendirian, melainkan sedang bersama seorang wanita berambut coklat sebahu. Dua wanita cantik itu asyik mengobrol dan sesekali tertawa keras. Meskipun disana ada dua wanita cantik, tapi tatapan mata Joonmyeon hanya terkunci pada Kyungsoo.

Sungguh pemandangan yang indah di mata Joonmyeon. Ia selalu menyukai tawa Kyungsoo. Bibir pink wanita itu akan menjadi berbentuk hati ketika tertawa. Sungguh indah.

"Hai, Soo," Joonmyeon menyapa Kyungsoo saat ia sudah tiba di dekat Kyungsoo.

Kyungsoo dan teman wanitanya menoleh pada Joonmyeon. Kyungsoo tersenyum, sedangkan teman wanita Joonmyeon seperti terpana ketika melihat Joonmyeon. Sepertinya ada kekaguman yang teramat besar di mata teman wanita Kyungsoo.

"Hai, oppa," Kyungsoo balas menyapa Joonmyeon. Wanita itu berdiri, kemudian meraih lengan temannya untuk ikut berdiri juga. "Ini adalah sahabatku, oppa. Namanya Zhang Yixing. Ia sama seperti Yifan oppa, berasal dari China. Dan Yixing eonni, pria tampan di depan kita ini bernama Kim Joonmyeon."

Kyungsoo memperkenalkan dua manusia beda gender itu. Kedua manusia yang diperkenalkan oleh Kyungsoo saling berjabat tangan sebentar.

Seperti biasa, Joonmyeon terlihat ramah pada orang baru. Sedangkan Yixing justru terlihat malu-malu. Pipi wanita yang dihiasi single dimple itu kini sedikit merona. Pemandangan itu membuat Kyungsoo tertawa dalam hati.

"Eonni, sepertinya aku harus pulang sekarang. Joonmyeon oppa setelah ini harus kembali ke kantor," Kyungsoo berpamitan pada Yixing.

Si wanita China tersenyum kikuk pada Kyungsoo. "A—ah, terimakasih karena sudah mengunjungiku hari ini, Soo. Sering-seringlah datang kemari. Aku kesepian jika tidak ada dirimu."

"Eonni meminta seorang wanita hamil untuk sering-sering mengunjungi eonni? Apa itu tidak terbalik, huh? Harusnya eonni yang sering-sering mengunjungiku."

Joonmyeon tersenyum lembut melihat percakapan Kyungsoo dan Yixing. Jelas terlihat bahwa Kyungsoo sangat dekat dengan Yixing.

"Baiklah, aku akan lebih sering mengunjungi apartment-mu. Kau senang?" tanya Yixing.

Kyungsoo tertawa sebentar. "Eonni yang akan merasa senang, karena sekarang di apartment-ku ada empat pria tampan yang bisa eonni temui tiap kali mengunjungiku."

Yixing sedikit merona, tapi ia tak membalas ucapan Kyungsoo. Ia malah langsung memeluk tubuh Kyungsoo, lalu mencium dua belah pipi Kyungsoo sebagai salam perpisahan.

Itu memang kebiasaan mereka berdua. Yixing dan Kyungsoo sudah bersahabat sejak awal Kyungsoo bekerja di perusahaan keluarga Wu. Tak heran jika mereka sangat dekat.

Bisa dibilang, Yixing adalah satu-satunya sahabat dekat Kyungsoo. Kadang Kyungsoo bahkan menganggap Yixing sebagai kakaknya karena saking dekatnya ia pada wanita manis itu.

Setelah puas berpamitan, akhirnya Kyungsoo dan Joonmyeon pergi meninggalkan Yixing di lobby. Mereka berdua harus segera pulang.


©The Letter


"Yixing eonni itu single sejak lahir," sebuah kalimat sederhana Kyungsoo membuat Joonmyeon tersentak di atas kursi pengemudi.

Ia dan Kyungsoo kini sedang berada dalam perjalanan pulang.

"Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu, Soo?" tanya Joonmyeon.

Kyungsoo tersenyum singkat mendengar pertanyaan Joonmyeon. "Seperti kata Chanyeol oppa tadi pagi. Yixing eonni dan oppa seumuran, jadi barangkali kalian bisa cocok dan berjodoh."

Joonmyeon tak berkata apapun. Lagi-lagi ia mendengar kata jodoh.

Jujur, Joonmyeon tak merasakan apapun saat tadi bertemu dengan Yixing. Dari situlah Joonmyeon merasa bahwa ia tak akan berjodoh dengan Yixing. Ia tak memiliki perasaan pada Yixing, jadi bagaimana ia bisa berjodoh dengan Yixing?

Tapi ternyata Kyungsoo mengharapkan hal lain. Wanita itu berharap Joonmyeon dan Yixing berjodoh.

"Aku ini juga single sejak lahir, Soo. Aku tidak berpengalaman dalam menjalin hubungan."

Kyungsoo tampak tak terkejut mendengar pengakuan Joonmyeon. Faktanya, ia sudah tahu mengenai hal yang diakui Joonmyeon itu. Yifan pernah memberitahunya bahwa Joonmyeon adalah satu-satunya sahabatnya yang belum pernah berpacaran sama sekali.

Joonmyeon belum pernah berpacaran padahal kini usianya sudah 28 tahun.

Meskipun belum pernah berpacaran, tapi bukan berarti Joonmyeon itu tidak normal dan tidak menyukai wanita. Sebelum ini Joonmyeon sudah beberapa kali menyukai wanita meskipun tidak sampai berpacaran.

"Aku tahu hal itu, oppa," dengan santai Kyungsoo menanggapi pengakuan Joonmyeon. "Makanya aku berpikir bahwa mungkin oppa cocok dengan Yixing eonni. Dan kurasa, Yixing eonni tertarik pada oppa."

Lagi-lagi Joonmyeon hanya bisa diam. Memangnya kenapa jika wanita bernama Yixing itu tertarik padanya? Toh ia sendiri tak memiliki ketertarikan yang sama.

Meskipun mereka berdua seumuran dan sama-sama single, tapi ia tak bisa apa-apa 'kan jika ia sendiri tak memiliki perasaan khusus untuk Yixing? Cinta itu tak bisa dipaksakan.


©The Letter


Kyungsoo dan Joonmyeon sudah tiba di apartment. Keduanya kini sudah sampai di ruang tamu, dan mereka mendapati Jongin sedang duduk di sofa.

Sepertinya pria berusia 25 tahun itu juga baru kembali ke apartment.

"Jongin? Kau sudah pulang?" Kyungsoo berjalan mendekati Jongin, lalu duduk di sampingnya.

Secara perlahan Jongin menggeser duduknya menjauhi Kyungsoo, tapi Kyungsoo tak terlalu peka pada pergerakan Jongin itu. "I—iya, noona. Aku baru saja pulang."

"Chanyeol oppa mengantarmu pulang?" tanya Kyungsoo lagi. Ia melirik sekilas pada Joonmyeon yang berjalan mendekat ke arahnya.

"Tidak, noona. Aku tadi pulang naik taksi karena Chanyeol hyung sibuk."

Tadi pagi Chanyeol benar-benar membawa Jongin ke agensinya. Jongin saja kaget karena ternyata Chanyeol bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Chanyeol mencarikan pekerjaan untuk Jongin di agensinya.

"Lalu, apa kau mendapat pekerjaan di agensi tempat kerja Chanyeol oppa?"

Jongin menggelengkan kepalanya lemah. "Aku belum mendapatkan pekerjaan, tapi aku tadi bertemu langsung dengan CEO YG Entertainment. Beliau kaget melihatku berada di agensinya."

Jongin tertawa kecil, membuat Kyungsoo tersenyum melihatnya. Meskipun Jongin masih tampak sedih, tapi ia tetap bisa tertawa.

"Tapi tadi CEO itu berkata padaku bahwa beliau akan mencarikan posisi koreografer di YG. Beliau memintaku menunggu sampai beliau bisa merekrut koreografer baru di agensinya," Jongin bicara lagi.

Tambahan kalimat dari Jongin itu membuat Kyungsoo tersenyum lebar. "Benarkah? Kau memiliki peluang untuk bekerja di YG?"

Jongin mengangguk malu-malu. "CEO YG berkata padaku bahwa beliau sudah lama mengincarku untuk menjadi koreografer di YG, jadi beliau tak ingin membuang kesempatan saat sekarang aku sedang menganggur."

Kyungsoo merasa sangat senang. Ia sudah menggerakkan tangannya untuk memeluk Jongin, tapi tiba-tiba saja perutnya terasa sakit dan ia menghentikan gerakan tangannya. Dua tangannya sekarang justru memegangi perutnya.

Joonmyeon panik karena sekarang Kyungsoo tampak kesakitan. "Kyungsoo-ya, apa perutmu sakit? Kita ke rumah sakit saja, ya?"

Kyungsoo menggeleng lemah. "Sepertinya aku hanya kelelahan, oppa. Aku hanya perlu istirahat saja."

"Kau yakin, Soo?" Kyungsoo mengangguk. "Kalau begitu, kau istirahat di kamar saja. Mau aku antar?"

Kali ini Kyungsoo menggeleng. "Aku bisa sendiri, oppa. Terimakasih karena sudah mengantarku pulang hari ini."

Kyungsoo tersenyum simpul, kemudian ia berdiri dan beranjak secara pelan menuju kamarnya.

Kini yang tertinggal di ruang tamu hanyalah Jongin dan Joonmyeon.

Joonmyeon seharusnya cepat-cepat kembali ke kantor, tapi saat ini ia justru mendudukkan tubuhnya di samping Jongin. Tentu Jongin merasa kaget karenanya.

"Sepertinya kau sudah baikan dengan Chanyeol," Joonmyeon membuka pembicaraan.

Jongin mengangguk canggung. "Y—ya, tadi malam kami sudah berbaikan. Chanyeol hyung sudah memaafkanku."

Suara helaan nafas tiba-tiba terdengar, dan Jongin menatap Joonmyeon dengan bingung. Sepertinya sahabatnya itu sedang merasa bersalah atau semacamnya.

"Aku adalah yang tertua diantara kita, tapi aku tidak bisa bersikap bijak," Joonmyeon berucap penuh penyesalan. "Seharusnya aku mencari solusi terbaik. Mengajak kalian semua berdiskusi supaya kita tidak berselisih paham seperti tempo hari. Tapi kemarin aku justru ikut-ikutan termakan emosi."

"Apa ini tandanya...hyung sudah memaafkanku?" tanya Jongin penuh harap.

Joonmyeon tersenyum pada sosok sahabat yang sudah ia anggap seperti adiknya itu. "Tidak ada hal yang perlu dimaafkan, Jongin."

Tatapan haru terpancar di mata Jongin. Ia dengan segera memeluk Joonmyeon erat. "Go-gomawo, hyung. Aku sangat menyayangi Joonmyeon hyung, dan rasanya sangat sakit ketika hyung marah padaku."

Dengan lembut Joonmyeon menepuk-nepuk punggung Jongin. Ia merasa bersalah karena sempat menyakiti hati Jongin.

Sikapnya kemarin sama sekali tidak mencerminkan kedewasaan. Perkataan Kyungsoo kemarin membuatnya sadar. Ia adalah yang tertua, dan seharusnya ia bersikap bijaksana. Seharusnya pertengkaran yang kemarin itu tak terjadi jika Joonmyeon mampu bersikap bijaksana.

"Jongin..." Joonmyeon memanggil sahabatnya sembari melepas pelukan mereka. "Aku juga sangat menyayangimu. Kau tahu hal itu, 'kan?"

Jongin mengangguk. "Tentu saja, hyung. Aku adalah dongsaeng kesayangan hyung, 'kan?" tanya Jongin penuh percaya diri.

Joonmyeon mendengus dan memukul pelan perut Jongin. "Ya, terserahmu saja," jawabnya. "Tapi ngomong-ngomong, apa dongsaeng kesayanganku ini bersedia mengabulkan satu permintaanku?"

Pertanyaan Joonmyeon terdengar sangat serius, dan Jongin hanya bisa menatap sahabatnya itu penasaran.

Semalam Chanyeol juga meminta sesuatu padanya, dan ia menyanggupinya. Apa kali ini ia bisa menyanggupi permintaan Joonmyeon?

"Apa permintaanmu itu, hyung?" akhirnya Jongin bertanya.

Joonmyeon tersenyum sekilas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jongin. "Aku ingin kau..."

..

..

TBC


Author's Note:

Selamat pagi~

aku gak tega bikin Jongin dimusuhi sama sahabat-sahabatnya terlalu lama, jadi dalam waktu 24 jam saja dia udah baikan sama Chanyeol, dan hari berikutnya dia baikan sama Joonmyeon. nah, kapan dia baikan sama Sehun? kapan-kapan deh yaaa~ hehehe.

disini aku udah munculin Yixing lho. pasti udah bisa ditebak kan dia bakal dipasangin sama siapa? yaa..walaupun si cowok masih belum ada rasa sama dia, tapi tidak ada yang tak mungkin kan?

besok akan ada cast baru lagi yang muncul. kira-kira siapa yaaa? ditunggu aja next chapter^^

terimakasih untuk teman-teman yang masih setia memberi support.

salam sayang, rizdyo12 :*