Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Baekhyun EXO as Byun Baekhyun (Girl), Lu Han as Lu Han (Girl)

Rate: T

Length: chaptered [12/?]

Summary for chapter 12:

Sahabat kadang memang memiliki ikatan batin yang kuat. Mungkin hal itu yang membuat tiga sahabat Jongin meminta satu hal yang sama kepada Jongin. Satu hal yang membuat Jongin merasa bingung, tapi ia tak memiliki pilihan lain selain mengabulkannya

Previous chapter:

Pertanyaan Joonmyeon terdengar sangat serius, dan Jongin hanya bisa menatap sahabatnya itu penasaran.

Semalam Chanyeol juga meminta sesuatu padanya, dan ia menyanggupinya. Apa kali ini ia bisa menyanggupi permintaan Joonmyeon?

"Apa permintaanmu itu, hyung?" akhirnya Jongin bertanya.

Joonmyeon tersenyum sekilas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jongin. "Aku ingin kau..."

..

Chapter 12 (One Thing)

HAPPY READING!


Senyuman manis seorang Kim Jongin kembali terlihat malam ini. Senyum yang cukup lama hilang itu akhirnya bisa terkembang lagi. Pasalnya, sekarang hubungannya dengan Chanyeol dan Joonmyeon sudah kembali baik.

Jongin senang karena hal itu. Terlepas dari aneh-nya permintaan dua hyung-nya itu, ia tetap merasa senang.

Ngomong-ngomong tentang permintaan itu, sebenarnya Jongin merasa janggal. Dua sahabatnya itu meminta satu hal yang sama pada Jongin. Mereka berdua sama-sama tak memberi penjelasan tentang permintaan mereka. Hal itu cukup untuk membuat Jongin merasa penasaran.

Tapi Jongin tak ingin ambil pusing. Meskipun permintaan mereka aneh, tapi Jongin sudah berjanji untuk mengabulkannya. Walaupun sebenarnya Jongin tak yakin jika keputusannya itu adalah yang terbaik atau bukan. Untuk sekarang, semoga hal yang dipilih oleh Jongin merupakan hal terbaik.

Jongin sudah berkomitmen untuk meletakkan kepentingan persahabatan di atas segalanya. Jadi tak masalah walaupun kini ia harus mengabulkan permintaan aneh Chanyeol dan Joonmyeon. Demi persahabatan tentunya.

Saat ini Jongin sedang mencuci peralatan makan yang tadi digunakan saat makan malam. Mereka memang membagi tugas untuk urusan cuci-mencuci, dan malam ini adalah giliran Jongin.

Saat sedang asyik mencuci, tiba-tiba Jongin dikejutkan oleh tepukan ringan di bahu kirinya. Ia menolehkan kepalanya ke kiri, dan ia menemukan sosok cantik Do Kyungsoo sedang tersenyum tulus padanya.

"Butuh bantuan?" tanya Kyungsoo.

Jongin tersenyum kaku, selanjutnya ia menjauhkan tangan Kyungsoo dari bahunya.

Kyungsoo sempat mengernyit bingung karena sikap Jongin. Tak biasanya Jongin menolak skin ship dengannya. Mereka berdua sudah cukup akrab, dan biasanya mereka tak masalah dengan skin ship kecil semacam itu.

"Ti—tidak perlu, noona. Lebih baik noona istirahat saja. Tidak baik jika noona kelelahan seperti siang tadi."

Kyungsoo masih terlihat bingung. Biasanya Jongin tak menolak bantuannya saat sedang mencuci alat makan seperti itu. Mereka berdua sering melakukan tugas itu bersama sebelumnya.

Tapi kenapa hari ini Jongin berbeda? Padahal Kyungsoo sudah sehat lagi setelah tadi ia tidur selama setengah hari. Sudah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari Kyungsoo.

"Kau baik-baik saja, Jongin?" Kyungsoo bertanya lagi. Ada nada cemas terselip dalam kalimat tanya Kyungsoo. Ia mengkhawatirkan Jongin. Barangkali telah terjadi sesuatu pada Jongin sehingga pria itu berubah, 'kan?

Jongin sedari tadi tak berani menatap Kyungsoo —padahal Kyungsoo sejak tadi menatapnya-. Ia fokus pada piring yang saat ini sedang ia cuci, tapi terlihat sekali jika tangan Jongin gemetaran. "A—aku baik-baik saja, noona. Memang—"

Prang. Ucapan Jongin terpotong oleh suara piring yang pecah. Piring yang tadi sedang dicuci Jongin tiba-tiba jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Tangan Jongin terlalu gemetaran sampai-sampai piring itu terlepas dari genggamannya.

Jongin segera berjongkok untuk membersihkan pecahan piring itu.

"Aw!" Jongin memekik keras saat satu pecahan piring menusuk jari telunjuknya.

Kyungsoo ikut berjongkok di depan Jongin. "Jarimu berdarah, Jongin," Kyungsoo mengulurkan tangan untuk meraih jari Jongin, tapi Jongin menjauhkan jarinya dari jangkauan Kyungsoo.

"Aku baik-baik saja, noona. Lebih baik noona beristirahat. Aku akan membereskan kekacauan ini."

Tatapan mata penuh rasa sakit milik Kyungsoo menghujam telak mata Jongin. Membuat Jongin memalingkan wajahnya agar tak harus bersitatap dengan mata Kyungsoo yang penuh kepedihan.

Kyungsoo merasa terluka karena Jongin seperti menolak kehadirannya. Jongin seperti tak menginginkan Kyungsoo ada di sisinya. Hal itu membuat hati Kyungsoo tercabik nyeri.

Biasanya Jongin sangat welcome pada Kyungsoo. Ia akan sangat senang menyambut kehadiran Kyungsoo walaupun dengan sikap malu-malu kucing yang menjadi ciri khasnya. Tapi sejak tadi pagi, Jongin sepertinya berubah.

Karena tak ingin terlalu lama merasa sesak, Kyungsoo akhirnya berdiri, dan saat itulah air matanya menetes tanpa diketahui oleh Jongin. Tanpa bicara apapun lagi pada Jongin, Kyungsoo akhirnya meninggalkan dapur itu.

Sepeninggal Kyungsoo, Jongin menatap sendu pecahan piring yang masih berserakan di depannya. 'Maafkan aku, noona...'


©The Letter


Suasana hati Jongin sedikit tidak baik semenjak kejadian di dapur beberapa menit lalu. Ia sudah menyakiti Kyungsoo, dan itu berarti ia gagal menjaga Kyungsoo. Jongin merasa berdosa pada Yifan.

Tak ingin terlalu lama larut dalam lubang kesedihan, Jongin akhirnya berjalan keluar dari dapur setelah ia selesai membersihkan pecahan piring di lantai.

Tapi sebelum ia benar-benar meninggalkan dapur, ia bertemu dengan Sehun di ambang pintu dapur.

"Aku ingin bicara denganmu," ucap Sehun.

Jongin berpikir positif tentang Sehun. Saat ini ia hanya belum berbaikan dengan Sehun, dan mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan mereka.

Jongin mengangguk, dan ia kembali memasuki dapur. Sehun mengekor di belakangnya.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jongin saat ia dan Sehun sudah berdiri berhadapan.

Sehun menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya menjawab kalimat tanya Jongin. "Aku ingin berbaikan denganmu. Kau adalah sahabat terbaikku, Jongin. Rasanya tak adil jika aku terus marah padamu."

Senyum Jongin terkembang lebar. Ternyata pikiran positifnya membuahkan hasil. Akhirnya ia bisa berbaikan dengan sang magnae.

"Jadi, kita kembali bersahabat?" tanya Jongin.

Sehun terkekeh, lalu meninju lengan Jongin sekilas. "Kita memang masih bersahabat, dan selamanya akan terus bersahabat."

Senyuman lega terpampang di wajah Jongin.

"Hey, Jongin," panggilan Sehun hanya ditanggapi oleh Jongin dengan gumaman. "Boleh aku meminta satu permintaan padamu?"

Senyum Jongin perlahan pudar. Kenapa tiga sahabatnya selalu meminta satu permintaan setelah hubungan mereka membaik? Apa mereka sengaja merencanakan itu semua?

"Apa permintaanmu itu sama dengan permintaan Chanyeol hyung dan Joonmyeon hyung?"

Sehun mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Jongin. Ia tampak sangat bingung, dan Jongin kini bisa menyimpulkan bahwa tiga sahabatnya tidak merencanakan itu semua bersama-sama.

"Memangnya Chanyeol hyung dan Joonmyeon hyung meminta apa padamu?"

Jongin menatap mata Sehun yang kini memancarkan rasa penasaran. Jongin semakin yakin bahwa tiga sahabatnya tidak sedang bersekongkol untuk mengerjainya.

"Chanyeol hyung dan Joonmyeon hyung memintaku untuk..." Jongin menggantung ucapannya, dan hal itu membuat Sehun semakin penasaran. "...untuk menjauhi Kyungsoo noona."

Mata dan bibir Sehun membulat bersama-sama. Sehun tampak sangat shock mendengar perkataan Jongin. "A—apa? Me—mereka sama-sama memintamu untuk menjauhi Kyungsoo noona?"

"Mereka tidak secara bersamaan meminta hal itu padaku. Chanyeol hyung memintaku untuk melakukan hal itu tadi malam, sedangkan Joonmyeon hyung baru tadi siang."

Sehun kini diam. Matanya sudah kembali menjadi sipit, dan bibirnya pun sudah tidak membulat lagi.

Ia sedang menyimpulkan bahwa ternyata dua sahabatnya itu memiliki pemikiran yang sama dengannya. Sehun, Chanyeol, dan Joonmyeon ternyata sama-sama menilai Jongin sebagai...ancaman.

Mungkin ketiganya berpikir seperti itu setelah semua kejadian yang terjadi belakangan ini. Belakangan ini Kyungsoo dan Jongin cukup dekat dan cukup sering menghabiskan waktu bersama. Apalagi Jongin memberi kepercayaan pada Kyungsoo dengan bercerita tentang masalah pemecatannya.

Kyungsoo pun sepertinya merespon baik kehadiran Jongin. Dari situ lah barangkali tiga sahabat itu sama-sama menilai Jongin sebagai ancaman.

Jika ketiga orang itu berpikir demikian, maka artinya, Sehun, Chanyeol, dan Joonmyeon sama-sama...memendam rasa terhadap Kyungsoo.

"Apa kau menyukai Kyungsoo noona?" tanya Sehun setelah ia berpikir untuk beberapa saat. Tak bisa dipungkiri jika Sehun sendiri kaget karena ternyata ia dan kedua sahabatnya memikirkan hal yang sama.

Pertanyaan Sehun barusan terdengar tidak nyambung dengan hal yang baru saja dibahas olehnya dan Jongin. Dan itu membuat Jongin mengangkat sebelah alisnya bingung.

Tapi tak berselang lama, Jongin memutuskan untuk menjawab pertanyaan Sehun dengan jujur. "Aku hanya menganggap Kyungsoo noona sebagai sosok teman sekaligus kakak. Aku tidak memiliki perasaan lebih padanya."

Sejujurnya Sehun kaget karena Jongin termasuk cepat dalam memberikan jawaban, dan Jongin pun tampak yakin atas jawabannya itu.

Semua itu tentu berbeda dengan saat dimana Sehun memberikan pertanyaan yang sama pada Kyungsoo. Jangankan menjawab dengan yakin, Kyungsoo saja sama sekali tak mampu menjawab apa-apa.

Dari situlah Sehun bisa mendapatkan satu kesimpulan terkait dengan romantika Jongin dan Kyungsoo.

"Jika kau tidak menyukai Kyungsoo noona, maka tidak masalah 'kan kalau kau harus menjauhinya?" tanya Sehun lagi.

Kali ini Jongin tak langsung menjawab. Ia tak mengerti kenapa semua sahabatnya bertingkah aneh terkait masalah Kyungsoo.

Jongin sebenarnya sudah cukup lama merasa janggal pada tingkah ketiga sahabatnya, tapi apa yang terjadi sekarang ini membuat semuanya jadi terlihat lebih aneh. Jongin si polos benar-benar tak mengerti.

Jongin mungkin merasa tidak masalah untuk menjauhi Kyungsoo demi sahabat-sahabatnya, tapi ia hanya merasa tidak enak pada Kyungsoo. Ia takut Kyungsoo akan merasa sedih.

"Apa itu artinya, satu permintaanmu padaku juga berkaitan dengan aku yang harus menjauhi Kyungsoo noona?" Jongin balik bertanya setelah beberapa menit terdiam. Sehun tanpa ragu menganggukkan kepalanya. "Tapi kenapa kalian bertiga ingin aku menjauhi Kyungsoo noona? Apa salahku padanya?" akhirnya Jongin menanyakan hal yang mengganjal di benaknya.

Ia berpikir bahwa ia melakukan kesalahan pada Kyungsoo hingga sahabat-sahabatnya itu memintanya untuk menjauhi Kyungsoo.

Jongin itu sungguh polos, 'kan? Sedikit banyak Sehun merasa bersalah karena ia sekarang seolah menjadi tokoh antagonis terhadap sahabatnya sendiri.

"Kau tidak salah, Jongin," Sehun mulai memberi jawaban. "Hanya saja..." kini Sehun yang memberi jeda pada ucapannya, dan Jongin tampak tak sabar mendengar lanjutan ucapan Sehun. "...sepertinya kami bertiga sama-sama menyukai Kyungsoo noona, dan lebih baik kau mundur jika kau tidak menyukai Kyungsoo noona."

Dan jawaban Sehun sukses untuk membuat bibir Jongin menganga lebar. Jadi, itu adalah fakta di balik keanehan ketiga sahabatnya selama ini? Kenapa Jongin selama ini tidak pernah berpikir ke arah sana?


©The Letter


Hari telah berganti pagi. Seperti biasa, seluruh penghuni apartment Kyungsoo mengawali hari ini dengan sarapan bersama.

Hari ini keempat sahabat sudah kembali akur. Tak heran jika sesekali mereka bercanda ataupun berebut makanan. Pemandangan itu membuat Kyungsoo tersenyum.

Tapi senyum Kyungsoo berubah miris ketika ia mengingat bahwa Jongin terus mendiamkannya sejak tadi malam.

Sejak kejadian di dapur tadi malam, tak sekalipun Jongin dan Kyungsoo saling bicara.

Kyungsoo semakin merasa sedih. Ia bahkan menduga-duga perihal alasan kenapa Jongin mendiamkannya. Salah satu alasan yang terlintas di pikirannya adalah...Jongin marah pada Kyungsoo karena kasus pemecatannya.

Bagaimanapun juga Kyungsoo sadar diri bahwa Jongin dipecat karena dirinya. Jadi wajar saja jika Jongin kini acuh padanya.

Tapi jujur, Kyungsoo merasa sedih karena terus diacuhkan oleh Jongin. Ada bagian hatinya yang terasa kosong karena Jongin terus menjauhinya.

"Kyungsoo..." Chanyeol mengibaskan tangannya di depan wajah Kyungsoo karena sejak tadi wanita itu tampak blank. Kyungsoo akhirnya mengedipkan matanya dan menatap Chanyeol. "Apa kau baik-baik saja, Soo? Kau melamun sejak tadi."

"A—aku baik-baik saja, oppa. Aku hanya sedang berpikir saja," jawab Kyungsoo.

"Memangnya apa yang noona pikirkan? Apa ada hal yang mengganggu pikiran noona?" kali ini Sehun yang bertanya.

Kyungsoo menggeleng ragu. "Ti-tidak ada. Aku baik-baik saja."

Akhirnya tiga kepala yang ada di meja makan itu mengangguk. Sedangkan Jongin tampak makan dengan tenang, seolah ia hanya sendirian di tempat itu.

"Oh ya, Soo. Hari ini sebenarnya aku mendapat libur, tapi bagaimana kalau kita mengunjungi agensiku? Siapa tahu nanti kau bisa bertemu dengan artis-artis terkenal disana," usul Chanyeol.

"Mengunjungi agensi oppa?" tanya Kyungsoo memastikan. Chanyeol mengangguk menjawab pertanyaan itu. "Apa Jongin akan ikut? Ia mencari pekerjaan di agensi oppa, 'kan?"

Merasa namanya disebut, Jongin akhirnya mengangkat kepalanya. Pemuda 25 tahun itu menatap Chanyeol dan Kyungsoo bergantian, dan akhirnya tatapannya tertahan pada Kyungsoo. "Aku tidak akan ikut, noona. CEO YG belum memberiku kabar, jadi aku tidak enak jika sering pergi kesana," setelah selesai bicara, Jongin kembali berkutat pada makanannya.

Hal itu membuat tatapan mata Kyungsoo berubah semakin sendu. Pupus sudah harapannya untuk memperbaiki hubungan dengan Jongin.

"Jadi bagaimana, Soo? Kau mau tidak pergi ke tempat kerjaku berdua saja denganku?" tanya Chanyeol.

Sebenarnya Kyungsoo sedang tidak mood, dan ia ingin berdiam diri di rumah saja seharian ini.

Tapi tatapan mata anak anjing yang ditunjukkan oleh Chanyeol membuatnya merasa iba. Jadi, wanita itu memutuskan untuk menganggukkan kepalanya.


©The Letter


Kyungsoo dan Chanyeol berjalan bersama memasuki gedung besar YG Entertainment.

Ini adalah kali pertama Kyungsoo mengunjungi sebuah agensi artis, dan ia merasa gugup. Ia tampak kurang percaya diri saat melangkah di gedung yang banyak mengorbitkan artis-artis terkenal itu.

Kyungsoo merasa rendah diri karena penampilannya. Kyungsoo hanya memakai dress warna hijau muda yang sangat sederhana. Perutnya terlihat cukup besar di balik balutan gaun itu.

Tentu penampilan Kyungsoo akan kalah jauh jika dibandingkan dengan penampilan artis-artis Korea. Wajah Kyungsoo memang cantik, tapi ia terlalu tampil sederhana hingga penampilannya kalah dengan artis-artis itu.

"Hey, kau kenapa, Soo?" Chanyeol yang menyadari kegugupan Kyungsoo akhirnya bertanya.

"Ti—tidak, oppa. Aku hanya sedikit gugup," jawab Chanyeol.

Chanyeol tersenyum simpul. Tanpa berkata apapun, Chanyeol menautkan jemarinya dengan jemari Kyungsoo.

Hal itu membuat Kyungsoo tercengang. Apalagi ketika Chanyeol menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap punggung tangan Kyungsoo, seolah berusaha menenangkan Kyungsoo. Dan memang itulah tujuan Chanyeol menggenggam jemari Kyungsoo. Ia ingin menenangkan Kyungsoo.

Dua manusia itu terus berjalan bersama. Kini mereka ada di lantai dua gedung, dan Chanyeol terus menunjukkan ruangan ini dan itu pada Kyungsoo.

"Chanyeol-ah!" suara panggilan seorang gadis yang sangat nyaring membuat langkah kaki Chanyeol dan Kyungsoo terhenti.

Dua orang itu serempak membalikkan badan, dan mereka menemukan seorang wanita cantik berlarian ke arah mereka. Pasti wanita itu yang tadi memanggil Chanyeol.

Begitu wanita itu sudah sampai tepat di depan Chanyeol dan Kyungsoo, segera saja Kyungsoo mengamati dengan intens wanita muda itu.

Wanita itu sangat cantik dengan mata sipitnya yang dipoles dengan eyeliner tebal. Kulit wanita itu putih bersih, dan tinggi badan wanita itu mungkin sama dengan Kyungsoo. Rambut wanita itu berwarna coklat muda, sepanjang punggung, dan sedikit ikal.

Wanita itu tetap terlihat sempurna meskipun hanya memakai hot pants yang dipadukan dengan kaos longgar berwarna pink.

"Halo, Baekhyun noona," Chanyeol menyapa si wanita.

Namun wanita bernama Baekhyun itu malah mendengus. "Bukankah aku sudah berkata padamu untuk menanggalkan sebutan 'noona', huh? Lagipula, disini aku berstatus sebagai hoobae-mu."

Baekhyun memutar bola matanya. Dan saat itulah ia baru menyadari bahwa Chanyeol sedang menggenggam tangan seorang wanita.

Saat itulah ekspresi ceria Baekhyun mulai berubah. Ia tersenyum, tapi senyumnya tak terlihat manis. Justru terkesan pahit dan dipaksakan.

"Baiklah, Baekhyun-ah," Chanyeol mengalah. "Ngomong-ngomong, ini adalah Do Kyungsoo. Dan Kyungsoo, ini adalah Byun Baekhyun. Ia adalah pelatih vocal disini sejak satu minggu yang lalu."

Baekhyun dan Kyungsoo saling berjabat tangan. Mereka saling melempar senyum canggung.

"Kami baru mengenal selama satu minggu, tapi kami sudah langsung dekat dan akrab. Karakter kami sangat mirip soalnya," Chanyeol terkekeh.

"Benarkah? Menurutku Chanyeol oppa serasi sekali dengan Baekhyun-ssi."

Blush. Baekhyun merona, dan saat itulah Kyungsoo menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan wanita bernama Byun Baekhyun itu. Dan barangkali, sesuatu yang berbeda pada diri Baekhyun itu berkaitan dengan Chanyeol.

"A—ah, kau bisa saja, Kyungsoo-ssi," sedikit banyak Baekhyun merasa lega karena sepertinya Chanyeol tidak memiliki hubungan yang istimewa dengan Kyungsoo. Jika mereka memiliki hubungan, tentu Kyungsoo tidak akan melontarkan godaan seperti itu. "Kurasa aku harus pergi. Aku ada jadwal melatih para trainee sekarang. Sampai jumpa, Kyungsoo-ssi."

"Ya! Kau hanya berpamitan pada Kyungsoo saja, huh? Tidak berpamitan denganku?" Chanyeol tak terima karena Baekhyun seolah melupakan kehadirannya.

"Aku sudah bosan melihat wajahmu, Park. Jadi kurasa aku tak perlu berpamitan padamu dan harus segera pergi dari sini. Bye," Baekhyun berlari dengan lincah meninggalkan Chanyeol dan Kyungsoo. Sesekali wanita mungil itu menolehkan kepalanya ke belakang dan menjulurkan lidah ke arah Chanyeol.

Pemandangan live yang tadi tersaji di depan Kyungsoo membuat wanita itu tersenyum lembut. Ia bisa melihat bahwa Chanyeol dan Baekhyun memang dekat, dan barangkali mereka berpotensi untuk menjalin hubungan yang lebih lanjut.

"Padahal wanita itu usianya beberapa bulan lebih tua dariku, tapi kenapa tingkahnya bisa begitu menggemaskan, ya?" Chanyeol menggumam lirih.

Tapi Kyungsoo mendengar gumaman itu. Telinga Kyungsoo rupanya terlalu peka. "Oppa menyukainya?" tanyanya.

Chanyeol sontak melebarkan matanya karena kaget. "A—apa? Me-menyukainya? Tentu tidak, Kyungsoo! Kami bahkan belum lama saling kenal."

"Cinta tidak mengenal waktu, oppa," Kyungsoo melepas genggaman tangan Chanyeol dan lanjut berjalan. Lama-lama ia merasa risih bergandengan tangan dengan Chanyeol.

Chanyeol sebenarnya kecewa karena Kyungsoo melepaskan genggaman tangan mereka. Ia merasa hangat dan nyaman bergandengan tangan dengan Kyungsoo. Tapi ia bisa apa jika Kyungsoo tak berkehendak bergandengan tangan dengannya? Pada akhirnya ia hanya bisa pasrah dan menyusul langkah Kyungsoo.

"Oppa, apa Jongin benar-benar bisa bekerja disini?" tanya Kyungsoo.

Ekspresi Chanyeol berubah datar ketika mendengar nama sahabatnya disebut. "Aku harap ia bisa bekerja disini. Kasihan juga kalau dia terlalu lama menganggur," Kyungsoo mengangguki ucapan Chanyeol. "Tampaknya kau sangat peduli pada Jongin, Soo?"

Kyungsoo diam untuk sesaat. Pertanyaan Chanyeol ada benarnya. Kyungsoo memang sangat peduli pada Jongin. Ia sendiri tak tahu kenapa ia bisa sangat peduli seperti itu.

"Mungkin karena aku merasa bersalah padanya, oppa. Ia kehilangan pekerjaannya karena aku. Dan kurasa sekarang ia marah padaku karena hal itu."

Untuk sejenak Chanyeol terperanjat mendengar pernyataan Kyungsoo. "Ke—kenapa kau berpikir bahwa Jongin marah padamu, Soo?"

Suara helaan nafas Kyungsoo terdengar berat. "Sudah dua hari ini Jongin menjauhiku. Ia acuh sekali padaku. Kurasa ia marah padaku dan membenciku."

Chanyeol memperhatikan wajah Kyungsoo dari samping. Ia bisa melihat dari samping bahwa mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca.

Dalam hatinya yang terdalam, Chanyeol merasa bersalah. 'Ia tidak membencimu, Soo. Aku yang salah. Maafkan aku,' sayangnya permintaan maaf itu hanya bisa ia ungkapkan di dalam hatinya.


©The Letter


Malam semakin larut. Tibalah saatnya bagi para manusia untuk beristirahat setelah mereka menikmati makan malam.

Tapi Kyungsoo belum ingin membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk. Wanita berbadan dua itu kini masih duduk diam di meja makan.

Belasan menit lalu ia selesai mencuci peralatan makan sendirian. Seharusnya hari ini adalah jadwal Joonmyeon untuk mencuci peralatan makan. Tapi karena Joonmyeon sedang tidak enak badan, Kyungsoo akhirnya menawarkan diri sebagai relawan untuk mencuci piring.

Seharusnya bisa saja maid yang melakukannya, tapi tadi Kyungsoo memilih untuk melakukan pekerjaan itu sendirian.

Bisa dibilang, maid di apartment Kyungsoo memang jarang menyentuh pekerjaan yang berhubungan dengan dapur. Hal itu disebabkan oleh Kyungsoo yang ingin bertanggung jawab sendiri pada segala hal yang menyangkut dapur.

Maid disana biasanya hanya mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan kebersihan rumah.

Jika biasanya ada lima piring makan yang harus dicuci setelah acara makan malam, maka malam ini rupanya tidak biasa.

Jongin tadi tidak ikut makan malam, karena hari ini Jongin memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.

Joonmyeon tadi berkata bahwa Jongin sedang merindukan orang tuanya, makanya hari ini Jongin memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

Tapi entah kenapa Kyungsoo justru berpikir bahwa sebenarnya Jongin sedang berusaha menghindarinya. Jongin tak ingin bertemu Kyungsoo, makanya ia tak kembali ke apartment Kyungsoo malam ini.

Pemikirannya itu membuat dirinya galau. Ia tiba-tiba ingin sekali bertemu dengan Jongin dan bertanya pada pria itu kenapa ia menjauhi Kyungsoo.

"Noona sedang apa?" sebuah suara menginterupsi pemikiran Kyungsoo.

Kyungsoo menoleh ke sumber suara. "Sehun? Kau belum tidur?"

Sehun berdecak karena Kyungsoo justru balik bertanya. Pria berkulit putih itu mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di depan Kyungsoo. "Tak bisakah noona menjawab pertanyaanku lebih dulu?"

Kyungsoo nyengir polos. "Mianhae, Hun-ah. Aku belum mengantuk, jadi aku memilih untuk duduk disini lebih dulu."

"Jongin tidak akan pulang kesini malam ini, noona. Jadi noona tidak perlu menunggunya."

Kini mata Kyungsoo melebar. "A—apa? Aku tidak sedang menunggu Jongin. Aku tahu ia tidak akan pulang malam ini."

Kyungsoo bicara jujur. Ia memang tidak sedang menunggu Jongin, melainkan sedang memikirkan Jongin.

Eh? Memikirkan Jongin?

Sehun tidak bereaksi, dan Kyungsoo memutuskan untuk bicara lagi. "Apa Jongin marah padaku, Hun-ah? Ia terus acuh padaku. Aku jadi bingung, apa aku berbuat salah padanya?"

Lagi-lagi Sehun tidak bereaksi. Ia hanya terus menatap nanar sosok wanita cantik di depannya.

Sehun jatuh cinta pada wanita itu, tapi tampaknya wanita itu tidak bisa memberikan hatinya untuk Sehun.

Sehun tidak buta. Sehun tahu segalanya. Tapi haruskah Sehun menyerah? Atau haruskah Sehun memaksa Kyungsoo untuk memberikan hatinya untuk Sehun?

"Noona tidak salah. Mungkin Jongin sedang sedikit stress karena ia belum juga mendapatkan pekerjaan baru, noona."

Kali ini giliran Kyungsoo yang tidak bereaksi. Dalam hati ia berharap semoga apa yang dikatakan oleh Sehun merupakan kebenaran.


©The Letter


Tak terasa saat ini sudah hari Minggulagi. Seluruh penghuni apartment Kyungsoo sedang berkumpul karena mereka semua libur bekerja.

"Syukurlah, Jongin. Akhirnya kau mendapatkan pekerjaan lagi," ujar Joonmyeon.

Jongin akhirnya mendapat panggilan kerja dari YG Entertainment. Jongin akan bekerja sebagai koreografer lagi.

Tentu Jongin merasa sangat senang karena hal itu. Oh iya, Jongin sudah kembali ke apartment Kyungsoo lagi sejak tadi pagi pukul 7.

Baru saja Jongin akan mengucap terimakasih, tapi hal itu tidak jadi ia lakukan karena tiba-tiba bel pintu di apartment itu berbunyi.

Karena mereka semua sedang berkumpul di ruang tamu, maka salah satu dari mereka memutuskan untuk membukakan pintu.

Kyungsoo sudah hampir berdiri, namun Sehun memberi isyarat pada Kyungsoo untuk tetap duduk, dan ia yang akhirnya membukakan pintu.

Klek. Pintu coklat tua itu sudah dibuka oleh Sehun. Dan saat itulah Sehun mendapati seorang wanita cantik sedang berdiri di depannya, sambil menggendong seorang gadis kecil yang mungkin usianya sekitar dua tahunan.

Jangan lupakan sebuah koper besar yang bertengger manis di sebelah wanita cantik bermata indah itu.

"Hi," si wanita cantik menyapa Sehun yang terbengong di depannya.

Sehun mengerjap polos, lalu membalas sapaan si wanita. "Uh, h—hello."

"Ehm...ini tempat tinggal Kyungsoo, 'kan?" tanya si wanita.

Sehun mengangguk tanpa menjawab pertanyaan si wanita. Sehun merasa sedikit kaget karena logat wanita di depannya itu berbeda, dan ia pun baru sadar bahwa wajah wanita di depannya juga tidak seperti orang Korea.

"Siapa, Hun-ah?" kepala Kyungsoo tiba-tiba menyembul dari balik punggung Sehun, dan saat itulah Kyungsoo melihat siapa tamu yang datang ke apartment-nya. "Luhan jie!" pekik Kyungsoo heboh.

Dengan cepat Kyungsoo mendorong tubuh Sehun untuk menyingkir, dan ia segera memeluk Luhan —si wanita dewasa- beserta gadis kecil dalam gendongan Luhan.

"Kyungsoo! Kukira aku salah apartment karena tiba-tiba pintu terbuka, dan memunculkan seorang pria tampan di depanku!" Luhan balas memeluk Kyungsoo.

Sehun sedikit blushing karena tadi ia sempat disebut tampan. Tapi berikutnya, pria bermarga Oh itu memilih untuk menyingkir dan kembali ke ruang tamu.

Setelah puas berpelukan, Kyungsoo akhirnya mengajak Luhan untuk masuk ke dalam apartment.

Mereka bertiga akhirnya tiba di ruang tamu, dan mereka langsung menjadi pusat perhatian dari empat pria yang ada disana.

"Aku ingin memperkenalkan kalian pada wanita cantik ini. Namanya Luhan, ia adalah sepupu Yifan oppa. Usianya sama dengan Yifan oppa. Dan sosok kecil yang ada dalam gendongannya adalah putrinya, namanya Lee Jaera."

..

..

TBC


Author's Note:

Hai~ sesuai janjiku kemarin, hari ini aku membawa cast baru. tak tanggung-tanggung, aku membawa dua cast baru sekaligus. hehe.

Baekhyun sama Luhan jadi GS ya. sama kayak Yixing kemarin.

duh~ disini ada Luhan dan bikin aku kangen sama dia :(

tapi ya sudahlah...kita doakan saja supaya Luhan tetap sehat di China :)

aku baca salah satu review yg minta pairing disini jgn KaiSoo soalnya udah mainstream. tapi maaf permintaan itu tdk bisa aku kabulkan soalnya beberapa waktu lalu aku udah minta pendapat dari para reader dan memutuskan ini berakhir dengan official couple :(

oke, terimakasih banyak untuk semua reader, baik yang meninggalkan review maupun tidak. aku menghargai semua yang bersedia membaca FF ini^^

salam sayang, rizdyo12 :*