Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Lu Han as Lu Han (Girl), Lay EXO as Zhang Yixing (Girl/mentioned)

Rate: T

Length: chaptered [13/?]

Summary for chapter 13:

Kedatangan Luhan membuat semua orang di apartment Kyungsoo kaget. Apalagi Luhan tak sungkan untuk bercerita tentang masa lalunya yang sebenarnya merupakan masalah pribadi

Previous chapter:

Setelah puas berpelukan, Kyungsoo akhirnya mengajak Luhan untuk masuk ke dalam apartment.

Mereka bertiga akhirnya tiba di ruang tamu, dan mereka langsung menjadi pusat perhatian dari empat pria yang ada disana.

"Aku ingin memperkenalkan kalian pada wanita cantik ini. Namanya Luhan, ia adalah sepupu Yifan oppa. Usianya sama dengan Yifan oppa. Dan sosok kecil yang ada dalam gendongannya adalah putrinya, namanya Lee Jaera."

..

Chapter 13 (About Luhan)

HAPPY READING!


Luhan tersenyum manis pada empat pria tampan yang ada di hadapannya. Sosok cantik Jaera —yang tadi diperkenalkan oleh Kyungsoo sebagai putri Luhan- juga ikut tersenyum walaupun sebenarnya ia belum terlalu mengerti tentang keadaan yang sedang dihadapinya.

"Dan Luhan jie, empat pria ini adalah sahabat Yifan oppa. Yang duduk di single sofa itu Kim Jongin, lalu yang berada di ujung sofa panjang itu Kim Joonmyeon, di sebelahnya adalah Park Chanyeol, dan yang terakhir adalah Oh Sehun. Usia mereka semua lebih muda dari jiejie," Kyungsoo lanjut memperkenalkan dengan menunjuk satu persatu pria yang disebut namanya. Ia menyebutkan nama empat nama pria tampan yang kini masih belum bersuara.

Luhan mengangguk paham sembari berusaha menghafal nama-nama yang tadi disebut oleh Kyungsoo. "Jadi, pria tampan yang tadi membukakan pintu untukku itu bernama Sehun?" tanya Luhan pada Kyungsoo. Mata wanita itu membulat lucu karena ia terlalu bersemangat.

Di sisi lain, seorang Oh Sehun juga membulatkan mata karena ia baru saja mendengar pujian gratis. Jarang-jarang 'kan ia dipuji secara blak-blakan seperti itu oleh seorang wanita yang baru saja ia temui?

Sedangkan Kyungsoo kini tertawa melihat Luhan yang tampak antusias. "Benar, jie. Waeyo? Jiejie tertarik pada Sehun? Sekedar informasi, usia Sehun lebih muda empat tahun dibandingkan jiejie."

"Apa?" Luhan menampilkan mimik tak percaya. "J—jadi, Sehun itu seumuran dengan adikku yang ada di China? Astaga..."

"Logat bahasa Korea Luhan-ssi begitu lucu," Joonmyeon tiba-tiba nyeletuk di tengah obrolan Kyungsoo dengan Luhan, tapi kemudian ia sadar bahwa hal itu tidak sopan. Jadilah ia menutup rapat bibirnya dengan tangan kanannya.

"Iya. Aku memang belum bisa berbicara bahasa Korea dengan logat orang Korea asli, padahal aku sempat tinggal di Korea selama dua tahun," ujar Luhan. Kini matanya terfokus untuk menatap Joonmyeon. Bibir tipis wanita itu terangkat membentuk lengkungan senyum seolah menyatakan bahwa ia tak tersinggung oleh ucapan Joonmyeon.

"Itu benar. Luhan jie sempat tinggal di Korea selama dua tahun, sebelum akhirnya Luhan jie kembali tinggal di China setahun yang lalu," Kyungsoo ikut menambahkan pernyataan Luhan tadi.

Chanyeol yang dari tadi diam kini tampak tertarik untuk bergabung dalam pembicaraan seru itu. "Memangnya kenapa Luhan-ssi pindah lagi ke China setahun silam?"

Kali ini Kyungsoo diam. Sepertinya ia merasa tak enak hati jika harus mengungkit masa lalu Luhan.

Tapi Luhan tampak tenang, dan ia menjawab pertanyaan Chanyeol juga dengan tenang. "Setahun lalu aku bercerai dengan suamiku setelah kami menikah selama satu setengah tahun. Saat itu usia Jaera baru satu tahun, tapi ia sudah harus berpisah dengan ayahnya."

Wajah Chanyeol kini diliputi oleh rasa bersalah. Ia tadi hanya merasa ingin tahu, dan tak menduga jika pertanyaannya tadi menguak masa lalu Luhan. "M—maaf karena sudah mengungkit masa lalu."

"Tidak apa-apa," Luhan menggeleng. Dengan senyuman manisnya ia meyakinkan Chanyeol bahwa dirinya baik-baik saja. "Semua itu sudah aku lupakan. Mantan suamiku itu sekarang juga sudah memiliki istri baru. Kami berpisah dengan cara yang tidak baik, dan kami tidak saling berkomunikasi lagi."

Semua pria yang ada disana mengangguk paham. Tak ada yang berniat melontarkan pertanyaan seperti "Siapa nama suamimu?" atau seperti "Kenapa kalian bercerai?"

Mereka tak ingin membuka kembali kisah lama Luhan —lagipula mereka baru pertama kali bertemu, dan sangat aneh jika mereka sudah membicarakan masalah pribadi-. Yang jelas, mantan suami Luhan itu bermarga Lee. Hal itu terlihat dari nama putri Luhan yang juga bermarga Lee.

Tapi sangat banyak pria Lee di Korea, dan sepertinya mereka tak perlu menelusuri hal itu lebih lanjut. Itu sudah menjadi masa lalu bagi Luhan.

Meskipun mereka sebenarnya merasa aneh. Berdasarkan cerita Luhan tadi, mereka tahu bahwa Jaera berusia satu tahun ketika usia pernikahan Luhan dan suaminya baru satu setengah tahun. Apa itu artinya, Luhan menikah saat ia sudah lebih dulu hamil?

Entahlah. Rasanya mereka tak pantas bertanya-tanya lebih jauh mengenai hal itu.

Empat sahabat itu sebenarnya juga merasa heran kenapa Yifan tak pernah bercerita pada mereka tentang sepupunya yang bernama Luhan itu. Mungkin Yifan lupa? Mungkin.

Tiba-tiba saja Jaera menggeliat tak nyaman dalam gendongan Luhan. Gadis kecil berusia dua tahun itu tampaknya ingin turun dari gendongan sang ibu.

"Jaera mau turun, hm?" pertanyaan Luhan diangguki langsung oleh Jaera.

Luhan pun segera menurunkan sang putri.

"Aigoo~ dulu Jaera bahkan belum bisa berjalan saat jiejie meninggalkan Korea. Saat itu jiejie bahkan tidak datang ke acara pernikahanku dan Yifan oppa," ucap Kyungsoo.

Luhan menatap Kyungsoo penuh penyesalan. "Maaf, Soo. Aku memang bukan sepupu yang baik. Aku kembali ke China setahun lalu dan itu membuatku tidak bisa menghadiri pernikahanmu. Dan beberapa waktu lalu aku juga tidak datang ke pemakaman Yifan. Aku...aku minta maaf karena aku tidak bisa menemanimu saat itu."

Kyungsoo memberikan senyum penenang untuk Luhan. Ia memang sempat kecewa karena setahun lalu Luhan memutuskan untuk kembali ke China. Tapi mau bagaimana lagi? Itu adalah keputusan Luhan, dan akhirnya Kyungsoo menerima hal itu. "Tidak apa-apa, jie. Semua sudah berlalu. Aku baik-baik saja."

"Baba," suara anak kecil tiba-tiba terdengar di ruangan itu. Luhan dan Kyungsoo serentak menoleh ke sumber suara.

Mata keduanya membulat saat mereka melihat Jaera sedang berdiri di depan Sehun, dan gadis kecil itu meletakkan tangan mungilnya di atas pangkuan Sehun.

Jadi, yang tadi dipanggil ayah oleh Jaera adalah Sehun?

Semua orang langsung speechless. Apalagi Luhan. Ia tak tahu sejak kapan Jaera berjalan untuk mendekati Sehun —ia terlalu fokus mengobrol dengan Kyungsoo-. Dan setahunya, putrinya itu sulit dekat dengan orang asing.

Jangankan dengan orang asing. Dengan Kyungsoo —yang merupakan bibinya- saja Jaera seperti tak mengenal. Hal itu sebenarnya harus dimaklumi karena Jaera tidak pernah bertemu lagi dengan Kyungsoo sejak Luhan mengajak Jaera kembali ke China. Mungkin Jaera sudah melupakan wajah Kyungsoo.

Tak tahan lagi dengan atmosfer yang aneh, Luhan segera berjalan mendekati Jaera, dan ia menjauhkan Jaera dari Sehun. "Ia bukan baba Jaera. Panggil ia dengan sebutan paman. Jaera mengerti?" Luhan bicara dengan sang putri dengan bahasa Korea.

Luhan memang sengaja mengajari Jaera dua bahasa karena bagaimanapun juga, Jaera memiliki darah Korea yang mengalir di tubuhnya —darah dari ayahnya yang merupakan orang Korea-.

"Baba," Jaera tetap mengucapkan kata yang sama, sembari tangannya berusaha menggapai Sehun.

Sehun yang tidak tega akhirnya meraih tangan Jaera, kemudian mengangkat tubuh Jaera hingga kini gadis kecil itu duduk di atas pangkuannya.

Luhan menatap Jaera sendu. "Jaera tidak tahu wajah ayahnya karena aku tidak pernah menunjukkan foto ayahnya pada Jaera. Aku minta maaf karena tiba-tiba Jaera bertingkah aneh. Tidak biasanya ia seperti ini."

Sehun mendongak untuk menatap Luhan yang kini berdiri dua meter di depannya. Ia tersenyum maklum pada Luhan. "Tidak masalah, Luhan-ssi. Aku cukup menyukai anak kecil, jadi biarkan Jaera memanggilku sesuka hatinya."

Luhan memandang Sehun penuh kekaguman. Wanita berambut coklat madu itu tak percaya jika usia Sehun empat tahun di bawahnya. Sehun terlihat sangat dewasa dan berwibawa —ia hanya belum mengenal Sehun lebih lanjut dan melihat betapa kekanakannya sifat Sehun-.

"Terimakasih. Dan...kuharap kalian tidak usah bicara terlalu formal padaku. Panggil aku dengan sebutan noona saja, karena adik laki-lakiku di China saja memanggilku begitu." ujar Luhan. Ia sedikit tertawa mengingat adik laki-lakinya di China yang memaksa untuk memanggil Luhan dengan sebutan noona padahal mereka adalah orang China.

Semua pria yang ada disitu mengangguk seraya tersenyum maklum pada Luhan.

Kyungsoo tiba-tiba berjalan mendekati Luhan, kemudian menarik lengan Luhan untuk duduk di sebuah sofa kosong yang tersisa. "Ngomong-ngomong, kenapa jiejie tidak mengabariku kalau jiejie akan ke Korea? Aku 'kan bisa menjemput jiejie di bandara."

Luhan tersenyum manis pada Kyungsoo, kemudian mengarahkan pandangannya pada perut Kyungsoo yang membesar. Ia menggerakkan tangannya untuk membelai lembut perut Kyungsoo. "Aku ingin memberimu kejutan. Aku ingin menjenguk bayi Yifan yang kini masih ada di perutmu. Aku akan tinggal disini sampai kau melahirkan, Soo. Kau keberatan?"

Mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca, tapi berikutnya ia menggeleng. "Tentu aku tidak keberatan, jie. Aku senang jika jiejie bersedia menemaniku," Kyungsoo menggenggam tangan Luhan yang masih berada di perutnya. "Tapi apa tidak apa-apa jika selama disini, jiejie tidur bersamaku di kamarku? Karena dua kamar yang lain sudah ditempati oleh para pria."

"Kami bisa meninggalkan salah satu kamar agar bisa ditempati oleh Luhan noona," Chanyeol menimpali ucapan Kyungsoo.

Tapi Luhan dengan cepat menggeleng. "Aku justru senang jika bisa sekamar dengan Kyungsoo. Aku sudah mengenal Kyungsoo bahkan sebelum ia menikah dengan Yifan. Kami berdua sangat akrab. Benar 'kan, Soo?"

Kyungsoo mengangguk. "Benar. Luhan jie adalah sahabat dekatku selain Yixing eonni."

Uhuk. Joonmyeon tiba-tiba terbatuk. Sepertinya ia tersedak ludahnya sendiri.

Luhan sekilas menatap bingung pada Joonmyeon yang tiba-tiba saja salah tingkah, tapi akhirnya ia mengabaikan hal itu dan hanya mengangkat bahu, kemudian beralih menatap Kyungsoo lagi. "Yixing masih berkerja di perusahaan keluarga Wu? Ya Tuhan, aku rindu saat kita bertiga masih sering menghabiskan waktu bersama beberapa tahun silam."

Kyungsoo tersenyum dalam nostalgia. Ia berteman dengan Luhan dan Yixing sejak ia mulai bekerja di perusahaan keluarga Wu.

Kyungsoo bisa mengenal Yixing karena Yixing adalah rekan kerjanya di kantor. Sedangkan tentang Luhan, Kyungsoo pada awalnya berkenalan dengan Luhan saat tiga tahun lalu Luhan berkunjung ke perusahaan keluarga Wu.

Dapat disimpulkan bahwa Kyungsoo sudah mengenal Yixing dan Luhan sejak tiga tahun silam —sejak Kyungsoo menjadi bagian dari perusahaan keluarga Wu-.

Kyungsoo merasa sudah sangat lama mengenal Yixing dan Luhan, padahal faktanya mereka baru berteman sejak tiga tahun silam. Kyungsoo kini bahkan lupa perihal alasannya memanggil dua orang itu dengan sebutan yang berbeda. Yixing ia panggil dengan sebutan eonni, sedangkan Luhan ia panggil dengan sebutan jiejie. Ia lupa kenapa bisa begitu. Semuanya seperti mengalir begitu saja.

"Yixing eonni masih bertahan pada posisinya. Kurasa ia juga merindukan jiejie. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya, dan ia sangat senang," Kyungsoo kembali bicara setelah ia selesai bernostalgia.

"Benarkah? Kurasa kita bertiga harus berkumpul setelah ini!"

Kembali Kyungsoo tersenyum. Luhan merupakan pribadi periang dan aktif. Makanya tak heran jika ibu muda itu sering heboh sendiri. "Aku setuju. Tapi untuk sekarang, jiejie dan Jaera sebaiknya beristirahat dulu di kamar. Kalian berdua pasti lelah."

Luhan lalu mengalihkan pandangannya pada Jaera. Sudut bibirnya sedikit terangkat saat ia melihat Jaera tertawa-tawa di pangkuan Sehun. Sedari tadi Sehun mengajak Jaera mengobrol dan bercanda, dan sedari tadi pula suara tawa Jaera terdengar.

Hati Luhan menghangat. Tak dapat dipungkiri bahwa gadis sekecil Jaera memang masih sangat membutuhkan sosok seorang ayah. Tapi, apakah harus Sehun yang menjadi sosok ayah untuk Jaera? Entahlah. Itu terlalu cepat.

"Jaera-ya, ayo kita beristirahat di kamar bibi Kyungsoo. Kau pasti lelah, 'kan?"

Mendengar sang ibu memanggil, Jaera menoleh pada Luhan. Bibir mungil gadis itu mengerucut imut. "Tidul dengan baba."

Luhan tahu bahwa Jaera memang belum bisa berbicara dengan jelas, tapi ia bisa menangkap maksud ucapan Jaera barusan. "Jaera ingin tidur dengan baba?" Jaera mengangguk. "Tidak boleh, sayang. Jaera tidur dengan mama saja, ya?"

Dengan cepat Jaera menggeleng, lalu memeluk Sehun erat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sehun sambil berkali-kali meneriakkan kalimat "Tidul dengan baba".

Karena merasa tak tega, Sehun akhirnya mengusap punggung Jaera dengan lembut, kemudian ia berbisik di telinga kanan Jaera. "Jaera boleh tidur dengan baba. Kita tidur sekarang, ya?"

Setelah merasakan anggukan kepala Jaera, Sehun akhirnya berdiri, kemudian beranjak dari ruang tamu.

Seluruh pasang mata di ruang tamu mengikuti arah gerak Sehun. Bisa dipastikan bahwa Sehun membawa Jaera ke kamarnya.

"Kenapa bocah itu membawa Jaera ke kamar? Apa Sehun seorang pedofil?"

Pletak. Pertanyaan ngawur Chanyeol berbuah satu jitakan manis di kepalanya.

Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Joonmyeon. "Jangan asal bicara. Sehun bukan orang yang seperti itu!"

"Joonmyeon benar. Sehun pasti hanya ingin menemani Jaera tidur, sesuai dengan harapan Jaera. Aku yakin itu," Luhan menimpali. Meskipun ia baru mengenal Sehun, tapi entah kenapa Luhan langsung bisa memberi kepercayaan pada pria itu.

Chanyeol hanya bisa tersenyum canggung karena baru saja ia asal bicara.

"Joonmyeon-ah..." Luhan tiba-tiba memanggil Joonmyeon. Yang dipanggil tentu menoleh. "Tadi kau sempat terbatuk saat Kyungsoo menyebut nama Yixing. Apa ada hal yang salah?"

Skakmat. Joonmyeon menelan ludahnya gugup. Ia pikir ia akan terbebas dari pertanyaan itu karena tadi Luhan seperti mengabaikan tingkah anehnya, tapi rupanya tidak. Luhan hanya menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.

"Sebenarnya siapa itu Yixing? Dan apa hubungan kalian berdua, hyung?" tanya Chanyeol pada sang hyung tertua.

"K—kami tidak memiliki hubungan apapun. Kami hanya sekali bertemu di kantor Yifan hyung. Tidak lebih," dengan gugup Joonmyeon menjawab.

"Benarkah itu?" kini Luhan yang bertanya dengan nada menggoda.

Lagi-lagi Joonmyeon mengangguk dengan gugup.

Kyungsoo berusaha menahan tawanya. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kemarin Yixing meminta nomor ponsel Joonmyeon padanya, dan sepertinya Yixing sedang berusaha mendekati Joonmyeon.

Yixing benar-benar tertarik pada sang wakil direktur.

Tampaknya Joonmyeon jadi salah tingkah karena pendekatan frontal yang dilakukan oleh Yixing. Tak ada salahnya 'kan apabila seorang gadis yang lebih dulu mengambil inisiatif untuk melakukan pendekatan?

"Ya sudah kalau begitu," Luhan akhirnya berdiri dan meraih kopernya. "Aku akan beristirahat di kamar Kyungsoo."

"Kenapa harus di kamar Kyungsoo? Noona bisa beristirahat di kamar Sehun, BERSAMA SEHUN," nampaknya Joonmyeon balas dendam karena tadi ia sempat digoda oleh Luhan. Mereka baru saling kenal, tapi godaan demi godaan sudah tersaji layaknya mereka sudah lama saling mengenal.

Gulp. Kali ini Luhan yang menelan ludahnya gugup. Pipinya mulai terasa panas.

Tanpa berkata apapun lagi, Luhan mulai mengangkat kakinya dan pergi dari ruang tamu.

Ia hafal betul isi apartment itu karena Yifan sudah bertahun-tahun menempati apartment itu, dan ia sering mengunjungi sang sepupu selama ia masih tinggal di Korea.

Ia juga tahu letak kamar Kyungsoo, karena ia yakin Kyungsoo tidur satu kamar dengan Yifan sebelum Yifan tiada.

Joonmyeon dan Chanyeol tertawa keras melihat gelagat Luhan yang malu-malu kucing.

Sedangkan Kyungsoo kini menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua pria dewasa yang sangat kekanakan itu.

Tapi tiba-tiba Kyungsoo menyadari sesuatu. Ia menyadari bahwa di ruangan itu ada sesosok manusia yang sedari tadi diam dan seperti tak dianggap.

Sosok manusia itu tak lain adalah...Kim Jongin.

Sejak tadi Jongin hanya berperan sebagai penonton dan pendengar. Pria berkulit tan itu tak sedikitpun mengeluarkan suaranya. Sesekali ia hanya tersenyum tanpa berniat membuka suara dan bergabung dalam obrolan mereka semua.

Hal itu membuat Kyungsoo merasa sedih. Sikap Jongin padanya sama sekali belum berubah, dan ia tak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk mengubah sikap Jongin.


©The Letter


"Jaera-ya! Jangan berlarian begitu! Nanti kau bisa jatuh!"

Sudah setengah jam lamanya teriakan demi teriakan meluncur dari bibir tipis Sehun.

Saat ini sudah menjelang jam makan malam, tapi Sehun masih sibuk menjinakkan Lee Jaera yang asyik berlarian mengitari ruang tengah.

Seharian ini putri kecil Luhan itu terus menempel pada Sehun, mulai dari bangun tidur tadi siang, hingga sekarang.

Bukannya Sehun tidak suka pada Jaera. Sehun sangat menyukai si kecil Jaera yang sangat imut dan menggemaskan —dan wajahnya sangat mirip dengan Luhan-. Hanya saja, umur Sehun sudah tidak muda lagi, dan ia mulai kelelahan.

Tadi sore saja Sehun yang memandikan Jaera, memakaikan pakaian Jaera, dan akhirnya ia juga mengikat rambut Jaera yang panjangnya sebatas bahu. Sehun sudah mirip seperti sosok ayah yang sebenarnya bagi Jaera.

Sehun terus mengekori lari Jaera, yang saat ini memutuskan untuk menuju dapur, dan disanalah ia bertemu Kyungsoo yang sedang memasak menu makan malam.

"Bibi!" Jaera memanggil Kyungsoo yang memasak sendirian. Suara bocah kecil itu terdengar begitu lantang. Seperti suara Luhan saat sedang berteriak heboh.

Kyungsoo menoleh, sedikit menundukkan kepalanya, lalu tersenyum. "Hai, Jaera. Kau sudah lapar, hm?" tanya Kyungsoo.

Jaera dengan imutnya mengangguk, dan Kyungsoo dengan gemas mencubit pipi gemuk Jaera.

"Dimana Luhan noona? Aku sudah lelah mengasuh Jaera. Seharian ini Jaera justru terus bersamaku, dan Luhan noona sama sekali tak menampakkan batang hidungnya," keluh Sehun.

"Luhan jie ada di kamarku," jawab Kyungsoo. "Kau tahu, Sehun? Luhan jie itu sedikit memiliki masalah dengan pesawat. Tubuh Luhan jie akan lemas setelah melakukan perjalanan dengan pesawat. Jadi harap maklum jika Luhan jie sekarang membutuhkan waktu lama untuk istirahat."

Sehun tampak kaget. "Jadi begitu?"

Kyungsoo mengangguk. "Kuharap kau bisa mengerti. Lagipula tidak ada salahnya 'kan seorang ayah terus bersama putrinya?" goda Kyungsoo. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Jaera. "Benar 'kan, Jaera-ya?" dengan polosnya Jaera mengangguk.

"Jangan menggodaku, noona!"

Kyungsoo mengangkat kepalanya lagi untuk menatap Sehun, dan ia sejenak menjulurkan lidahnya. "Makan malam sudah siap. Bisa kau panggilkan Joonmyeon oppa untuk turun? Ehm...Chanyeol oppa hari ini tidak makan malam disini, 'kan?"

Sehun terlebih dulu menggendong tubuh Jaera sebelum ia menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Chanyeol hyung makan malam di luar dengan temannya," jawabnya. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa aku hanya diberi tugas untuk memanggil Joonmyeon hyung? Jongin tidak dipanggil turun?"

Kyungsoo memalingkan muka dari Sehun karena ia mulai merasa gugup. Dengan tangan yang bergetar ia melepas apron yang melekat di tubuh kecilnya. "Bi—biarkan aku yang memanggil Jongin. A—aku...aku ingin memperbaiki hubungan dengan Jongin."

Sehun menatap Kyungsoo sendu. Ia mengabaikan Jaera yang terus meronta dalam gendongannya. Gadis kecil itu sepertinya sangat tidak betah berada dalam gendongan, dan ia ingin terus berlarian dengan bebas.

Kembali lagi pada Kyungsoo. Kyungsoo rupanya tak jua menyerah meskipun Jongin sengaja menjauhinya.

Apa sekarang justru Sehun yang harus menyerah? Entahlah. Bendera putih tampaknya belum siap untuk dikibarkan dan ditancapkan di hati Sehun.

Kyungsoo tak mau ambil pusing melihat Sehun yang diam membatu. Ia segera beranjak dari dapur dan berjalan menuju lantai dua.

Ia berjalan menuju ke kamar yang selama dua minggu ini ditempati oleh Jongin dan Chanyeol.

Begitu wanita berparas ayu itu tiba di depan kamar yang menjadi tujuannya, ia langsung menarik nafas panjang sebagai penenang, kemudian mulai mengetuk pintu.

Butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya pintu coklat itu terbuka. Menampilkan sosok Jongin yang dibalut oleh kaos lengan pendek berwarna hitam dan celana pendek selutut dengan warna sama.

Jongin sejujurnya kaget karena tiba-tiba Kyungsoo ada di depan kamarnya. Tapi sebisa mungkin koreografer muda itu mempertahankan ekspresi datarnya.

"Makan malam sudah siap, Jongin. Ayo turun," ajak Kyungsoo dengan lembut. Tak lupa ia memamerkan senyuman berbentuk hati miliknya yang sangat menawan.

Jongin hanya sedikit membalas senyum Kyungsoo, kemudian ia balas bicara. "Aku tidak lapar, noona. Aku tidak usah makan malam."

Raut wajah Kyungsoo berubah kecewa. "Tapi kau bisa sakit jika tidak makan malam, Jongin. Lagipula aku sengaja memasak banyak malam ini untuk merayakan keberhasilanmu mendapatkan pekerjaan baru."

"Aku benar-benar tidak lapar, noona."

"Tapi, Jongin—"

"KUBILANG AKU BENAR-BENAR TIDAK LAPAR, NOONA!"

Bibir Kyungsoo terkatup rapat setelah ia mendengar Jongin membentaknya.

Selama 26 tahun Kyungsoo hidup di dunia, baru kali ini ia dibentak secara keras oleh seorang pria. Ayahnya saja tak pernah membentaknya seperti ini.

Yifan? Mendiang suaminya itu selalu memperlakukannya dengan ekstra lembut seolah Kyungsoo adalah barang langka yang sangat mahal. Tak sekalipun Yifan pernah membentak Kyungsoo.

Tapi ini apa? Ia tiba-tiba dibentak oleh Jongin yang belum lama dikenalnya?

Volume cairan bening di pelupuk mata Kyungsoo meningkat seiring dengan hatinya yang terasa dirobek berkeping-keping.

Dengan diiringi oleh derai air mata, Kyungsoo akhirnya berlalu dari hadapan Jongin.

Jongin memejamkan matanya dan mengusap wajahnya kasar. Ini adalah ketiga kalinya ia melihat Kyungsoo menangis. Ada rasa sesak di dada Jongin karena ia adalah orang yang membuat Kyungsoo menangis.

Jongin bukan hanya menyakiti Kyungsoo, tapi ia juga menyakiti dirinya sendiri dengan rasa bersalahnya.


©The Letter


Pagi hari yang ramai menyapa apartment Kyungsoo. Tambahan dua penghuni rupanya cukup untuk meningkatkan keramaian di tempat itu.

Lihatlah...saat ini para pria sedang sibuk bermain kejar-kejaran dengan Jaera. Gadis mungil itu pun hanya bisa tertawa-tawa senang karena berhasil mengerjai para orang dewasa.

Para pria itu padahal sebentar lagi harus pergi bekerja, tapi mereka masih sempat-sempatnya jogging mengelilingi apartment dengan dipandu oleh seorang gadis kecil.

Teriakan-teriakan ramai dari Jaera dan para pria terdengar sampai ke dapur. Dimana saat ini di tempat itu sedang ada Kyungsoo dan Luhan.

"Jaera sepertinya betah tinggal disini," tutur Luhan. Merasa amazing dengan suasana apartment Kyungsoo yang menyenangkan.

Kyungsoo tersenyum kecil. Tangannya masih sibuk berkutat dengan kotak bekal di depannya. "Mereka adalah pria yang menyenangkan, 'kan?"

Luhan mengangguk. "Aku sepertinya berhutang pada Sehun. Kemarin ia dengan sabar mengasuh Jaera seharian. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan Sehun, ya?"

"Sehun pada dasarnya memang pria baik," Kyungsoo menanggapi ucapan Luhan sembari ia menutup kotak bekal di depannya. "Mungkin jiejie bisa membuatkan bekal makanan untuk Sehun. Ia suka makanan rumahan."

"Benarkah? Apa kotak bekal itu untuk Sehun?" tanya Luhan seraya telunjuknya mengarah pada kotak bekal di tangan Kyungsoo.

"Ini bukan untuk Sehun. Jiejie saja yang membuatkan bekal untuk Sehun."

Setelah berkata begitu, Kyungsoo beranjak dari hadapan Luhan, dan keluar dari dapur.

Wanita mungil itu tersenyum sembari berjalan menuju ruang depan. Senyumnya tetap cantik meskipun mata Kyungsoo terlihat bengkak. Bisa ditebak bahwa wanita itu semalaman menangis.

Begitu sampai di ruang tamu, Kyungsoo mendapati para pria sedang tertawa bahagia bersama Jaera.

Saat ini mereka sudah tidak berlarian. Mereka kini duduk di sofa, dengan Jaera yang duduk di pangkuan Sehun.

"Sudah lelah berlarian, huh?" tanya Kyungsoo sembari berjalan mendekati orang-orang itu.

Sontak para pria plus Jaera menoleh pada Kyungsoo. Kotak bekal berwarna biru di tangan Kyungsoo tak luput dari perhatian mereka.

"Kotak bekal itu untuk siapa, Soo? Untukku, ya?" tanya Joonmyeon penuh harap.

Oh iya! Joonmyeon 'kan dulu pernah meminta Kyungsoo untuk membuatkannya bekal!

Tapi sayangnya, saat ini kotak bekal itu bukanlah untuk Joonmyeon. "M—maaf, oppa. Tapi kotak bekal ini untuk Jongin. Tadi malam Jongin melewatkan makan malam, jadi aku ingin memberinya bekal. Lagipula, ini adalah hari pertama Jongin bekerja lagi."

Semua orang yang ada di ruang tamu terdiam. Jaera yang tadi ribut pun kini ikut diam. Luhan, yang baru saja hadir di ruang tamu, juga ikut-ikutan diam.

"Be-bekal itu untuk Joonmyeon hyung saja. Aku tidak apa-apa," suara Jongin memecah keheningan.

Ekpresi kekecewaan langsung hadir di wajah Kyungsoo ketika ia mendengar kalimat penolakan Jongin.

Lagi-lagi pria itu mengisyaratkan kata tidak.

Rasanya hati Kyungsoo tersayat. Apalagi kini Jongin pergi begitu saja keluar dari apartment itu, tanpa sedikitpun menoleh lagi ke arah Kyungsoo.

Sehun melihat itu semua. Ia melihat kepedihan di mata Kyungsoo, dan ia sedikit banyak merasa bersalah.

..

..

TBC


Author's Note:

Good morning~

chapter ini full tentang Luhan karena aku kangen Luhan :(

sebenarnya memang ada rahasia tentang Luhan di FF ini, tapi aku gak ada rencana buat mengungkapnya. aku punya rencana lain yang mungkin bisa dipertimbangkan oleh para reader. ini berkaitan dengan couple-couple lain selain KaiSoo juga.

jadi gini, aku niatnya gak akan menjabarkan moment-moment sekaligus detail tentang kisah ChanBaek, HunHan, maupun SuLay, karena itu bakal bikin FF ini jadi super panjang, dan nanti malah bikin bingung. nah, niatnya aku bakal bikin side story dari FF ini, dengan memfokuskan pada ChanBaek, HunHan, dan SuLay secara bergantian. misalnya, side story pertama khusus buat ChanBaek, terus dua couple lain akan aku buatkan side story yang lain. kalau kayak gitu gimana? tapi ya aku gak bisa bikin side story-nya dalam waktu dekat. aku mau nyelesaiin FF ini dulu sampai tamat. aku butuh masukan yaa :)

oke. terimakasih untuk semua review yang masuk.

salam sayang, rizdyo12 :*