Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Lu Han as Lu Han (Girl), Lay EXO as Zhang Yixing (Girl)

Rate: T

Length: chaptered [14/?]

Summary for chapter 14:

Sehun adalah orang yang paling tahu perasaan Kyungsoo yang sebenarnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk...'menyerah'. Lalu bagaimana dengan dua sahabatnya yang lain? Akankah mereka mengikuti jejak Sehun untuk 'menyerah' supaya tak menyakiti Kyungsoo lagi?

Previous chapter:

"Be-bekal itu untuk Joonmyeon hyung saja. Aku tidak apa-apa," suara Jongin memecah keheningan.

Ekpresi kekecewaan langsung hadir di wajah Kyungsoo ketika ia mendengar kalimat penolakan Jongin.

Lagi-lagi pria itu mengisyaratkan kata tidak.

Rasanya hati Kyungsoo tersayat. Apalagi kini Jongin pergi begitu saja keluar dari apartment itu, tanpa sedikitpun menoleh lagi ke arah Kyungsoo.

Sehun melihat itu semua. Ia melihat kepedihan di mata Kyungsoo, dan ia sedikit banyak merasa bersalah.

..

Chapter 14 (Give Up)

HAPPY READING!


Langit senja menggantung indah di atas Kota Seoul. Lukisan tangan Tuhan itu menjadi mahakarya sempurna yang memanjakan netra setiap manusia.

Saat senja menjemput, para manusia seharusnya bersyukur pada Tuhan karena Tuhan mengizinkan mereka bertemu sang senja. Yang artinya, satu hari telah terlewati dengan baik.

Tiga orang pria tampan terlihat menikmati nuansa langit senja. Mereka sedang menempati sebuah meja outdoor yang merupakan bagian dari sebuah cafe.

Di depan mereka masing-masing terdapat cangkir berisi cairan kopi kental yang sesekali disesap oleh mereka.

"Ada hal urgent apa lagi kali ini, Oh Sehun?" suara berat Chanyeol menyapa indera pendengaran.

Ya, di cafe itu terdapat Chanyeol, Sehun, dan Joonmyeon.

Sehun (lagi) yang mengajak mereka untuk berkumpul karena ada hal urgent yang perlu dibicarakan. Ini adalah kali kedua Sehun menyebut suatu hal dengan kata urgent dan mengajak dua sahabatnya berkumpul. Saat pertama Sehun mengajak mereka berkumpul dengan alasan hal urgent, mereka berakhir dengan bertengkar dan mendiamkan Jongin untuk beberapa waktu.

Kali ini hal urgent apa lagi yang ingin dibicarakan oleh Sehun? Tak pelak hal itu membuat Joonmyeon dan Chanyeol penasaran. Agaknya mereka trauma dengan hal urgent versi Oh Sehun.

Jadilah mereka menunda kepulangan mereka, dan lebih dulu berkumpul di tempat itu karena ingin tahu hal apa yang dimaksud Sehun kali ini.

Jangan tanyakan tentang Jongin, karena Jongin tidak diundang oleh Sehun dalam perkumpulan mereka sore itu.

"Aku ingin mengatakan sesuatu yang tidak kalian ketahui," ujar Sehun. Baik Chanyeol maupun Joonmyeon masih setia mendengarkan Sehun dengan serius. "Ini tentang Jongin," imbuh Sehun.

Jongin. Lagi-lagi Jongin menjadi pemeran utama disini.

"Kita bertiga ternyata memiliki permintaan yang sama untuk Jongin. Kalian pasti tidak tahu hal itu, 'kan?"

Mata Chanyeol dan Joonmyeon membulat. "M—maksudmu? Pe-permintaan tentang..."

"Ya, tentang Jongin yang harus menjauhi Kyungsoo noona. Kalian juga meminta hal itu pada Jongin, 'kan?" Sehun memotong kalimat Chanyeol dengan menggunakan kalimat tanya.

Chanyeol dan Joonmyeon kini terdiam. Mereka jujur saja merasa kaget. Mereka masing-masing tak tahu perihal permintaan mereka satu sama lain untuk Jongin.

Mereka masing-masing beberapa hari lalu bicara secara pribadi dengan Jongin, dan mereka tak tahu jika inti pembicaraan mereka adalah sama.

"Aku sudah mengambil kesimpulan bahwa kita bertiga sama-sama mencintai Kyungsoo noona, dan sama-sama menganggap Jongin sebagai ancaman. Aku benar?"

Pertanyaan Sehun tak mendapat respon dari dua sahabatnya. Mereka hanya diam. Meresapi setiap kalimat Sehun. Sungguh, Joonmyeon dan Chanyeol tak menduga jika Sehun selama ini menganalisis siatuasi dan sanggup mengambil kesimpulan yang mencengangkan.

"Tapi tahukah kalian bahwa disini justru Kyungsoo noona yang menderita? Justru Kyungsoo noona yang sedih karena Jongin menjauhinya?" Sehun bertanya lagi karena dua sahabatnya hingga kini terus diam. Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Sehun seolah menyudutkan Joonmyeon dan Chanyeol.

Sehun tidak buta. Ia juga tidak tuli. Tadi malam ia melihat adegan Jongin dan Kyungsoo. Ia juga mendengar pembicaraan mereka walaupun secara diam-diam.

Ia mengamati dari jauh saat Kyungsoo berusaha membujuk Jongin untuk makan malam. Meskipun dari kejauhan, tapi saat itu ia bisa melihat Kyungsoo menangis, dan saat itu pula lah ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar. Ia dan kedua sahabatnya telah menyakiti Kyungsoo.

"Jongin adalah sahabat yang baik. Ia menyanggupi permintaan kita meskipun ia tahu bahwa ia akan menyakiti Kyungsoo noona karena hal itu. Jongin hanya memikirkan kebahagiaan kita."

Diam. Chanyeol dan Joonmyeon masih diam. Mereka memikirkan semua perkataan Sehun.

Sehun benar. Jongin selama ini sangat mementingkan persahabatan, hingga ia sedikit mengabaikan kebahagiaannya sendiri. Ini bukan kali pertama Jongin mengalah, tapi baru kali ini semua terasa sangat menyakitkan.

"Tapi menurutku Jongin tidak menyukai Kyungsoo. Jadi tidak masalah 'kan jika ia harus menjauhi Kyungsoo?" tanya Chanyeol.

"Hyung hanya melihat dari satu sisi. Tak bisakah hyung melihat perkara ini dari sisi yang lain?" Sungguh. Sehun kali ini sangat bersikap dewasa. Entah hilang kemana sifat childish Sehun. "Kita gagal menjaga Kyungsoo noona. Kita justru membuat Kyungsoo noona bersedih," lanjut Sehun.

Chanyeol dan Joonmyeon kembali diam untuk berpikir. Ingatan keduanya melayang pada kejadian pagi tadi. Kejadian saat Jongin menolak bekal dari Kyungsoo. Saat itu Kyungsoo tampak sangat bersedih dan terluka.

Mungkin Chanyeol dan Joonmyeon selama ini berusaha untuk pura-pura buta dan tuli. Tapi mereka tak bisa. Jelas sekali terlihat bahwa Kyungsoo menyimpan kepedulian dan perhatian yang besar untuk Jongin. Hal itulah yang membuat mereka merasa iri pada Jongin dan menganggap Jongin sebagai ancaman.

"Permintaan Yifan hyung untuk menjaga Kyungsoo noona tidak bisa kita kabulkan. Kita gagal menjaga perasaan Kyungsoo noona. Kita juga gagal mengabulkan permintaan Yifan hyung untuk mencarikan pendamping hidup untuk Kyungsoo noona. Apa kita masih pantas disebut sebagai sahabat yang baik?"

Jika sudah membahas tentang Yifan, mereka semua merasa kalah. Hati mereka rasanya tertohok oleh benda tajam.

Sehun benar. Permintaan Yifan yang tertoreh dalam surat terakhirnya belum berhasil mereka wujudkan.

"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan, Hun? Jujur, aku belum bisa berpikir jernih," Joonmyeon menimpali. Pria yang biasanya selalu bersikap dewasa itu saat ini sedang kehabisan ide. Hatinya yang kalut mampu membuat pikiran jernihnya terbang melayang.

"Aku tidak tahu apa yang bisa kalian lakukan, tapi kalau aku, akau akan...menyerah."

Secara bersamaan Joonmyeon dan Chanyeol melebarkan mata. Mereka berdua tahu dengan pasti maksud dari kata menyerah itu.

Apakah mereka memang harus menyerah sekarang?

"Jika kalian memutuskan untuk mengikuti jejakku, maka aku bisa memberikan sebuah solusi untuk masalah ini," Sehun kembali bicara. "Solusi yang...satu dayung, dua tiga pulau terlampaui. Bagaimana?"


©The Letter


"Jongin, tolong gantikan tugasku untuk mencuci peralatan makan, ne? Aku ingin bermain dengan Jaera," Sehun langsung bicara setelah makanan di piringnya ludes tak bersisa.

Mereka baru selesai makan malam dan mereka masih berada di meja makan, tapi Sehun langsung berusaha melarikan diri dari tugas cuci-mencucinya.

"Kau curang, magnae!" Jongin memukul kepala Sehun dengan sendok. "Lagipula ini sudah malam. Jaera harus tidur."

Sehun mengusap-usap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Jongin. Selanjutnya pria berkulit putih itu menoleh pada Jaera. "Jaera belum mengantuk, 'kan? Nanti Jaera tidur dengan baba lagi, ya?"

Benar. Tadi malam Jaera tidur bersama Sehun dan Joonmyeon, meninggalkan sang ibu yang tidur berdua dengan Kyungsoo.

Dan malam ini sepertinya si kecil Jaera ingin tidur dengan ayah-nya lagi. Itu terbukti dari tingkah lucu Jaera saat menganggukkan kepalanya mantap guna menjawab pertanyaan Sehun.

"Oh ya, Kyungsoo," kini Chanyeol yang bersuara untuk memanggil Kyungsoo. "Bisakah kau setelah ini membuatkanku puding rasa pisang seperti yang kemarin? Aku sangat ingin makan puding."

"Ya! Park Chanyeol!" Luhan memukul pelan lengan Chanyeol. Kebetulan Luhan duduk tak jauh dari Chanyeol sehingga lengan Chanyeol masih berada dalam jangkauannya. "Kenapa kau seenaknya memerintah seorang wanita hamil untuk bekerja? Biar aku saja yang membuatkanmu puding."

Mata Chanyeol membulat saat ia sedang sibuk mengusap lengannya yang jadi korban pukul. "Aku ingin puding buatan Kyungsoo, noona. Lagipula Kyungsoo hari ini tak banyak bekerja. Tadi saja aku memasak makan malam sendirian," Chanyeol merajuk.

"Chanyeol oppa benar. Aku hari ini terlalu banyak istirahat, dan kurasa aku memang perlu menggerakkan tubuhku lagi. Aku akan membuatkan puding untuk Chanyeol oppa."

Chanyeol tersenyum penuh kemenangan, kemudian ia menjulurkan lidahnya ke arah Luhan. Meskipun baru kemarin saling kenal, namun Chanyeol dan Luhan sudah tak canggung lagi untuk saling melempar ejekan.


©The Letter


Suasana di dapur begitu sepi. Tak ada suara anak adam yang saling bicara, padahal di tempat itu ada dua manusia.

Yang terdengar disana hanyalah suara air keran yang berbenturan dengan piring maupun gelas.

Selain itu juga terdengar pula adukan sendok yang berbenturan dengan dinding bagian dalam panci.

Jongin benar-benar melakukan apa yang Sehun perintahkan. Pria bermata tajam itu saat ini sedang mencuci peralatan makan yang tadi digunakan.

Di sisi lain dapur terlihat Kyungsoo yang juga melaksanakan perintah Chanyeol untuk membuatkannya puding. Wanita itu kini sedang mengaduk adonan puding di dalam panci.

Jarak mereka berdua tidak terlalu jauh sebenarnya. Mungkin mereka hanya berjarak tiga meter satu sama lain —hanya saja, mereka berdiri saling membelakangi-. Tapi jarak yang tidak jauh itu rupanya tidak menyebabkan mereka saling buka suara.

Lama-lama Kyungsoo risih juga karena seperti terlibat perang dingin dengan Jongin. Jadilah ia memutuskan untuk mengajak Jongin bicara, walaupun ia tak membalikkan badannya untuk menghadap Jongin. "Maafkan aku," dua kata itulah yang meluncur dari bibir tebal Kyungsoo.

Sejenak Jongin berhenti bergerak, lalu mematikan keran air di bak cuci piring. "Kenapa noona meminta maaf padaku?" sebenarnya Jongin hampir memilih untuk mendiamkan Kyungsoo, tapi akhirnya ia tak tega dan memutuskan untuk menanggapi permintaan maaf Kyungsoo.

Tangan Kyungsoo masih bergerak untuk mengaduk isi panci di depannya. "Tadi malam aku memaksamu untuk makan malam, dan tadi pagi aku juga mengusikmu dengan memberikan bekal makan siang. Kau pasti marah padaku."

Jongin terpaku. Ia pada akhirnya meletakkan piring terakhir yang masih ada di tangannya, kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Ada rasa sesal dan sesak di hati pemuda itu. Tak seharusnya Kyungsoo meminta maaf padanya. Seharusnya Jongin yang harus meminta maaf. Perasaan bersalah menggerogoti hati Jongin. Tapi mau bagaimana lagi? Jongin sudah berjanji pada tiga sahabatnya untuk...menjauhi Kyungsoo.

Iya. Walaupun berat —untuk dirinya sendiri dan untuk Kyungsoo-, Jongin tetap memutuskan untuk memenuhi permintaan tiga sahabatnya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, noona," Jongin akhirnya mampu bicara. "Hanya saja, aku tidak bisa berdekatan dengan noona lagi karena aku tidak mau ada kesalahpahaman. Noona ingat saat aku mengantar noona ke rumah sakit? Saat itu dokter noona salah paham. Selain itu, tiga sahabatku juga sempat salah paham terhadap kita. Aku tidak mau itu terjadi lagi."

Kyungsoo mengeratkan pegangannya pada sendok di tangan kanannya. Hatinya seperti tertusuk saat mendengar pernyataan Jongin.

Jadi, intinya Jongin tidak ingin berdekatan dengan Kyungsoo lagi? Jongin sengaja menjauhi Kyungsoo?

Lutut Kyungsoo rasanya lemas, dan dunia seperti berputar-putar hingga membuatnya pusing.

Jongin tak bicara apa-apa lagi. Ia malah langsung pergi meninggalkan dapur. Meninggalkan Kyungsoo yang nyaris jatuh jika saja...

"Noona!"

...tidak ada Sehun yang dengan sigap menahan berat tubuh Kyungsoo.

Mungkin sebenarnya tidak sopan, tapi Sehun tadi menguping pembicaraan Jongin dan Kyungsoo.

Ia tadi berada di luar dapur, tapi begitu Jongin meninggalkan dapur, ia segera masuk ke dapur. Saat itulah ia mendapati Kyungsoo nyaris jatuh.

Sehun dengan cepat mematikan kompor, lalu mendekap tubuh lemas Kyungsoo.

"S—Sehun..." suara Kyungsoo juga terdengar sangat lemas. "Jo—Jongin...ia tak mau ber-berdekatan denganku lagi. A—aku harus bagaimana?"

Dan saat itulah tangis Kyungsoo pecah.

Suara tangis itu menyayat hati Sehun. Menusuk batin Sehun dengan rasa bersalah yang teramat besar.

Saat ini ia tak bisa berkata apapun. Ia juga tak bisa melakukan apapun. Hal yang bisa dilakukan oleh Sehun hanyalah memeluk Kyungsoo erat. Berusaha memberikan kekuatan pada tubuh lemas Kyungsoo yang bisa ambruk kapan saja.

Ia dan dua sahabatnya —Joonmyeon dan Chanyeol- tadi sengaja memberi waktu untuk Jongin dan Kyungsoo berduaan di dapur. Mereka berpikir bahwa mungkin dua manusia itu bisa saling bicara untuk memperbaiki hubungan mereka.

Tapi ternyata Sehun dan para sahabatnya salah. Seorang Kim Jongin ternyata tetap berpegang teguh pada prinsipnya untuk mengutamakan persahabatan di atas segalanya walaupun itu artinya, Jongin telah menyakiti Kyungsoo secara tidak langsung.


©The Letter


Pagi ini suasana apartment Kyungsoo tidak se-ramai kemarin. Jaera duduk diam di pangkuan sang ibu, sedangkan empat pria yang tinggal disana sibuk bersiap ke tempat kerja.

Kyungsoo mendudukkan tubuh mungilnya di samping Luhan.

Wanita itu mengenakan dress selutut berwarna sky blue yang dibalut oleh cardigan berwarna putih. Sepertinya Kyungsoo akan pergi hari ini. Jika tidak pergi kemana-mana, biasanya Kyungsoo hanya memakai celana kain —ia tak pernah memakai celana jeans lagi sejak hamil- yang dipadukan dengan kaos longgar. Khas penampilan wanita-wanita rumahan.

"Jiejie jadi pergi ke rumah eomma?" tanya Kyungsoo pada Luhan sembari mengusak rambut Jaera. Entah kenapa, pagi ini Jaera begitu tenang dan tidak liar seperti kemarin.

Luhan mengangguk. "Iya, bibi Wu sudah berkali-kali menelepon. Beliau ingin bertemu dengan Jaera."

"Kalau begitu, jiejie mungkin bisa menumpang mobil Joonmyeon oppa karena kantor Joonmyeon oppa searah dengan kediaman eomma."

"Ehm...kurasa itu tak bisa, Soo," Joonmyeon tiba-tiba menengahi obrolan Luhan dan Kyungsoo. "Hari ini aku ada meeting di kantor Yifan hyung."

"Mwo? Meeting di kantor Yifan oppa? Apa perusahaan oppa menjalin kerjasama dengan perusahaan kami?" tanya Kyungsoo kaget.

Joonmyeon mengangguk. "Ya, beberapa hari lalu paman Wu menghubungiku untuk menawarkan kerjasama. Perusahaanku membutuhkan beberapa barang elektronik baru karena kami baru membuka cabang baru di Busan."

Giliran Kyungsoo yang mengangguk. Kalau tidak salah, ini bukan kali pertama perusahaan Yifan dan Joonmyeon menjalin kerjasama.

Beberapa tahun lalu, perusahaan elektronik milik keluarga Wu sudah pernah bekerjasama dengan perusahaan asuransi tempat Joonmyeon bekerja.

"Kalau begitu, bisakah kau menyampaikan salamku untuk Yixing? Kalian pasti akan bertemu disana, 'kan?" Luhan sepertinya mulai melancarkan godaannya pada Joonmyeon. Hal itu terbukti dari sebuah wink yang dilayangkan oleh Luhan ke arah Joonmyeon.

Joonmyeon membulatkan mata. Ah tidak! Belakangan ini ia memang cukup dekat dengan Yixing, tapi ia bersumpah bahwa ia belum menjalin hubungan apapun dengan Yixing.

Mereka memang sering berkomunikasi, tetapi hanya melalui pesan singkat maupun telepon. Mereka pun hanya mengobrol biasa saja, dan sama sekali belum menjalin hubungan yang lebih lanjut.

Joonmyeon masih...ehem mencintai Kyungsoo. Tapi tentunya itu merupakan rahasia yang tidak harus diketahui oleh Luhan maupun oleh Kyungsoo sendiri.

"Akan kusampaikan salam dari noona untuk Yixing, asalkan noona pergi berkencan dengan Sehun hari ini," Joonmyeon membalas godaan Luhan. Joonmyeon barangkali mulai menjadi HunHan shipper? Mungkin.

Dan berhasil. Luhan merona seketika. "A—apa katamu? Ber—berkencan? Kau bercanda, ya?!"

Joonmyeon tertawa santai. Dalam hati ia merasa puas karena berhasil membalas Luhan. "Kalau begitu, tidak usah disebut berkencan. Cukup dengan Sehun mengantar Luhan noona ke rumah bibi Wu saja, maka aku akan menyampaikan salam dari noona untuk Yixing."

"Baik, aku akan mengantar Luhan noona ke rumah bibi Wu," suara Sehun tiba-tiba terdengar padahal dari tadi pria itu diam saja. Hal itu membuat semua orang mengarahkan pandangan padanya. "Tapi itu ada syaratnya," Sehun tersenyum licik. "Aku akan mengantar Luhan noona, asalkan Jongin mau mengantar Kyungsoo noona belanja hari ini."

Semua orang di ruangan itu tampak kaget. Iya, Kyungsoo hari ini memang akan berbelanja mingguan di supermarket, tapi bukan itu yang membuat semua orang kaget.

Yang membuat semua orang kaget adalah, kenapa saat ini terjadi pemberian syarat beruntun? Sungguh aneh.

Selain itu, semua orang juga kaget karena syarat yang diberikan oleh Sehun. Iya, syarat dari Sehun yang berkaitan dengan Jongin.

"A—apa?" Jongin yang sedari tadi diam kini tampak kaget. "A-aku tidak bisa. Aku harus bekerja hari ini."

"I—iya, aku bisa berangkat sendiri. Letak supermarket tidak terlalu jauh dari sini," Kyungsoo menimpali.

Ia masih merasa tak enak hati karena kejadian semalam. Tadi malam selama beberapa menit Kyungsoo menangis di pelukan Sehun, dan itu dikarenakan oleh seorang Kim Jongin. Hubungan Kyungsoo dan Jongin terasa semakin buruk karena kejadian semalam.

"Jongin baru memiliki jadwal kerja nanti siang, jadi ia masih bisa menemani Kyungsoo belanja," tiba-tiba suara berat Chanyeol muncul. "Kau harus menemani Kyungsoo, Jongin. Tidak baik jika Kyungsoo belanja sendirian."

Jongin mengerutkan dahinya sembari menatap Chanyeol intens. Ia seolah bertanya pada Chanyeol, kenapa sekarang ia justru diminta untuk menemani Kyungsoo?

Chanyeol menangkap maksud tatapan Jongin, tapi ia malah hanya mengangguk. Seolah memastikan pada Jongin bahwa itu memang kehendaknya, dan tak masalah jika Jongin menemani Kyungsoo berbelanja.

Jongin beralih menatap pada Joonmyeon, dan Joonmyeon juga menganggukkan kepalanya.

Jongin berpikir bahwa seperti ada konspirasi di balik ini semua.

Para sahabatnya sungguh aneh. Beberapa hari yang lalu mereka kompak meminta Jongin untuk menjauhi Kyungsoo, dan Jongin menuruti permintaan itu. Tapi sekarang apa? Kenapa mereka justru meminta Jongin berdekatan dengan Kyungsoo? Pasti ada hal yang tidak beres.

Jongin berpikir seperti itu, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk menyanggupi persyaratan Sehun. Ia bersedia mengantar Kyungsoo berbelanja karena ia tak ingin dipusingkan oleh para sahabatnya yang sangat membingungkan.


©The Letter


Sebuah troli bergerak di depan dua pasang langkah kaki. Dua pasang kaki itu melangkah beriringan, tapi sang pemilik hanya saling diam tanpa bersuara sedikitpun.

Kyungsoo asyik memperhatikan shopping list di tangannya, sedangkan Jongin fokus mendorong troli di depannya.

Dalam diam, Kyungsoo menghentikan langkahnya, dan mulai memilih ikan tuna segar yang ada di rak khusus ikan.

Jongin pun ikut berhenti berjalan, dan tetap diam tak berniat untuk bersuara.

Setelah selesai memilih ikan, Kyungsoo memasukkan beberapa pack ikan ke dalam troli, kemudian lanjut berjalan.

Dua manusia itu seperti tak saling kenal. Mereka seperti orang asing. Atau mungkin mereka seperti sepasang majikan dan anak buahnya, yang tidak perlu saling bicara. Hanya sekedar formalitas saja mereka berjalan beriringan seperti itu.

Kyungsoo dan Jongin masih terus berjalan dalam diam, tapi tiba-tiba langkah kaki Jongin terhenti, dan itu membuat Kyungsoo kaget. Mau tak mau, Kyungsoo ikut berhenti berjalan.

Kyungsoo memperhatikan Jongin yang kini sedang melihat-lihat pada sederetan susu kemasan yang ada di rak khusus susu bubuk.

Jongin meraih satu kardus susu, kemudian memperhatikan tulisan-tulisan yang tertera di kardus itu. "Kalau tidak salah, ini seperti susu noona yang ada di dapur, 'kan?" tanya Jongin tanpa memandang Kyungsoo. Ia masih sibuk membaca tulisan demi tulisan yang tertera pada kardus susu di tangannya.

Kyungsoo ikut memperhatikan susu di tangan Jongin dari kejauhan.

Benar. Itu adalah susu khusus untuk ibu hamil seperti yang ada di dapur apartment Kyungsoo. Susu yang selama ini dikonsumsi oleh Kyungsoo.

"Aku kemarin sempat melihat kemasan kosong susu ini di dapur. Susu noona sudah habis, ya?" kali ini Jongin bertanya sembari menatap Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk kecil. "Susu di dapur sudah habis sejak dua hari lalu. Aku lupa tidak membeli susu lagi."

Jongin menghela nafas, lalu memasukkan kardus susu yang dari tadi ia pegang ke dalam troli. "Susu ini penting untuk pertumbuhan bayi noona. Lain kali aku akan mengingatkan noona untuk rutin minum susu, dan kalau susu di dapur sudah habis, aku yang akan membelinya."

Kyungsoo mematung di tempatnya. "La—lain kali? Mengingatkanku? Mem—membeli susu?"

"Iya, aku akan mengingatkan noona untuk minum susu, dan aku juga akan membelikan susu untuk noona."

Kyungsoo rasanya ingin menangis mendengar perkataan Jongin. "K—kau sudah tidak marah padaku, Jongin?"

Jongin sebenarnya ingin menahan senyumnya, tapi ekspresi polos Kyungsoo sekarang benar-benar membuatnya ingin tersenyum. Jadilah senyum manis Jongin terkembang sempurna. Senyum yang jarang ia tunjukkan belakangan ini. "Aku tidak pernah marah pada noona. Maafkan sikapku belakangan ini, ne? Aku...hanya sedang sedikit stress."

Bruk. Tiba-tiba saja Kyungsoo memeluk Jongin dengan erat. Wanita itu menangis dalam pelukan Jongin. "Hiks...kukira kau marah padaku. Kukira kau membenciku."

Jongin sempat terperanjat, tapi berikutnya ia membalas pelukan Kyungsoo walaupun dengan sedikit ragu. "Aku tidak pernah membencimu, dan tidak akan bisa membencimu, noona," Jongin berbisik lembut di telinga Kyungsoo.

Jongin sudah mengambil keputusan. Ia akan menyudahi upayanya untuk menjauhi Kyungsoo. Lagipula ia merasa bahwa tiga sahabatnya sudah mengubah pikiran mereka. Walaupun nanti ia harus bertanya pada mereka tentang hal itu.

"Terimakasih, Jongin. Dan tolong jangan meninggalkanku lagi. Kau tak tahu 'kan jika aku menderita karena kau menjauhiku?"

Jongin kembali terperanjat. Ia tahu bahwa Kyungsoo sedih karena sikapnya, tapi ia tak menduga jika Kyungsoo sampai menderita karena ulahnya.

Setelah beberapa detik terperanjat, Jongin selanjutnya justru terkekeh halus. Ia mempererat pelukannya, walaupun tetap tak terlalu erat karena takut menekan perut buncit Kyungsoo.

Jongin merasa nyaman saat memeluk Kyungsoo. Ada sisi hatinya yang tergerak ingin selalu melindungi Kyungsoo. Mendekapnya, dan selalu ada di samping Kyungsoo.

Entah kenapa rasa itu tiba-tiba menyeruak di hati Jongin. Sebelum-sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal itu terhadap Kyungsoo.

Jongin tidak ingin membuat Kyungsoo menangis lagi. Ia tidak ingin jauh dari Kyungsoo, dan ia ingin selalu berada di sisi Kyungsoo. Menemani Kyungsoo...menjaga Kyungsoo.


©The Letter


"Ehm, apa Jaera berat? Sini biar aku saja yang menggendongnya," Luhan berujar lirih ketika dirinya dan Sehun baru saja masuk ke dalam apartment.

Sekedar informasi, seharian ini Luhan dan Sehun menghabiskan waktu bersama di kediaman keluarga Wu.

Jaera sama sekali tak ingin berpisah dengan Sehun, hingga akhirnya Sehun mengalah dan memilih untuk meminta izin libur kerja seharian penuh.

Kini tiga orang itu sudah pulang ke apartment Kyungsoo, dan Jaera saat ini sedang tidur nyenyak dalam gendongan Sehun. Hari sudah sore, jadi wajar jika si kecil Jaera lelah dan tertidur.

"Jaera tidak berat, noona," Sehun tersenyum tulus pada Luhan, dan mencium kening Jaera penuh sayang. "Malam ini Jaera tidur dimana, noona?"

"Jaera tidur di kamar Kyungsoo saja bersamaku. Sudah dua malam Jaera tidur denganmu, dan pasti ia mengusik tidurmu."

Sehun terkekeh, dan ia melangkahkan kakinya untuk memimpin jalan menuju kamar Kyungsoo di lantai dua. "Itu tidak benar, noona. Aku justru senang tidur bersama Jaera. Aku bisa menciumi wajah cantik Jaera sepanjang malam."

Wajah Luhan mulai merah karena emosi sekaligus merasa malu. "Y—ya! Kenapa kau jadi pedofil, huh?" Luhan memukuli punggung Sehun dari belakang, dan saat itulah kedua manusia dewasa itu bertemu Kyungsoo di tengah tangga.

"Hey, bisakah kalian bermesraan di tempat lain? Aku harus segera menyiapkan makan malam."

Luhan blushing parah mendengar godaan Kyungsoo, sedangkan Sehun malah mendengus dan berjalan melewati Kyungsoo.

"Uh, kau membuat Sehun marah, Kyungsoo!" Luhan menyempatkan diri untuk mencubit pipi Kyungsoo sebelum akhirnya berlari menyusul Sehun. Meninggalkan Kyungsoo yang hanya mengangkat bahunya cuek sembari terkekeh geli.

Ia yakin bahwa dua manusia itu tak akan marah padanya. Mereka hanya sedang bertingkah berlebihan saja, tapi justru itu jadi menggelikan di mata Kyungsoo. Sungguh lucu, dan membuat Kyungsoo ingin tertawa.

Tapi ngomong-ngomong, mood Kyungsoo memang membaik karena tadi pagi ia sudah berbaikan dengan Jongin. Rasanya Kyungsoo begitu bahagia karena hal itu.

Setelah tersadar dari lamunan singkatnya di tengah tangga, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk lanjut menuruni anak tangga. Begitu ia sampai di anak tangga terakhir, ia mendengar suara pintu depan terbuka.

Awalnya Kyungsoo ingin pergi ke dapur, tapi kini ia justru melangkahkan kakinya menuju ruang tamu karena merasa penasaran pada siapa orang yang membuka pintu depan apartment-nya.

Dan saat wanita itu sudah sampai di ruang tamu, matanya langsung melebar, dan bibirnya mengeluarkan pekikan keras. "Yixing eonni!"

..

..

TBC


Author's Note:

Annyeong~ di chapter ini KaiSoo sudah berbaikan! tapi chapter depan mereka akan mendapat satu ujian lagi buat menyadarkan Jongin atas perasaannya. dia kan selama ini masih cuek-cuek aja, nah chapter depan dia bakal disadarkan biar taubat. eh? :D

dua chapter lagi ending ya. prediksiku ini maksimal sampai chapter 15, tapi ternyata sampai chapter 16. hihihi, ternyata lebih panjang dari perkiraan.

oke, aku memutuskan untuk membuat side story dari couple-couple yang lain. tapi mungkin gak bisa cepet ya. soalnya ngetiknya harus nyari waktu luang. jadi mohon dimaklumi :)

terimakasih untuk yang masih setia meninggalkan review sampai FF ini menjelang akhirnya. kalian luar biasa!^^

salam sayang, rizdyo12 :*