Title: The Letter

Cast for this chapter:

Wu Yifan as Wu Yifan (mentioned), Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Lu Han as Lu Han (Girl), Lay EXO as Zhang Yixing (Girl), Baekhyun EXO as Byun Baekhyun (Girl/mentioned), Bibi Wu (OC)

Rate: T

Length: chaptered [15/?]

Summary for chapter 15:

Jongin merasa iri pada sahabat-sahabatnya karena merasa bahwa mereka sudah menemukan wanita untuk dicintai dan yang mencintai mereka. Karena hal itu, sahabat-sahabat Jongin menganggap bahwa Jongin itu bodoh dan tidak peka

Previous chapter:

Setelah tersadar dari lamunan singkatnya di tengah tangga, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk lanjut menuruni anak tangga. Begitu ia sampai di anak tangga terakhir, ia mendengar suara pintu depan terbuka.

Awalnya Kyungsoo ingin pergi ke dapur, tapi kini ia justru melangkahkan kakinya menuju ruang tamu karena merasa penasaran pada siapa orang yang membuka pintu depan apartment-nya.

Dan saat wanita itu sudah sampai di ruang tamu, matanya langsung melebar, dan bibirnya mengeluarkan pekikan keras. "Yixing eonni!"

..

Chapter 15 (Stupid Jongin)

HAPPY READING!


Kyungsoo berjalan cepat dan menghambur dalam pelukan Yixing.

Baru beberapa detik memeluk sang sahabat, Kyungsoo langsung melepas pelukan itu karena ia menyadari sesuatu.

Kyungsoo menolehkan kepalanya ke arah kiri, dan saat itulah ia menemukan seorang pria yang —sepertinya- datang bersama Yixing. "Joonmyeon oppa?"

Joonmyeon menggaruk tengkuknya dengan ekspresi canggung yang terkesan malu-malu. "H—hai, Kyungsoo."

Sapaan yang dilayangkan oleh Joonmyeon pada Kyungsoo terdengar sangat aneh, dan Kyungsoo sama sekali tak membalas sapaan itu.

Dengan bingung Kyungsoo memandang Joonmyeon dan Yixing bergantian. Wajah bingung Kyungsoo secara perlahan berubah menjadi wajah penuh senyum kebahagiaan. "Kalian datang bersama?"

"Yixing ingin mengunjungimu dan Luhan noona."

Kyungsoo tampaknya mengabaikan penjelasan Joonmyeon, dan ia justru tersenyum licik ke arah Yixing. Ia merasa senang melihat Joonmyeon datang di apartment-nya bersama Yixing. Sungguh sebuah kemajuan. "Luhan jie sekarang mungkin sedang bermesraan dengan pria-nya. Kita ke dapur saja ya, eonni?"

Joonmyeon dan Yixing sebenarnya ingin bertanya mengenai siapa pria yang dimaksud oleh Kyungsoo. Tapi terlambat. Kyungsoo sudah lebih dulu menyeret Yixing ke dapur. Bisa dipastikan bahwa dapur itu akan menjadi saksi bisu dari gosip-gosip para wanita.


©The Letter


Di meja makan berbentuk persegi panjang itu kini telah berkumpul enam manusia dewasa.

Di satu sisi panjang meja terdapat Kyungsoo, Luhan, dan Sehun. Sementara di hadapan mereka ada Jongin, Joonmyeon, dan Yixing.

'Sepertinya akan ada dua couple baru,' pikir Kyungsoo sembari matanya menatap pada pasangan Luhan-Sehun dan Joonmyeon-Yixing secara bergantian. Ada rasa iri yang terselip di hatinya. Ia jadi teringat pada kebersamaannya dengan Yifan.

Ada secuil sisi hatinya yang menyuarakan keinginan untuk kembali menemukan pasangan hidup, tapi menurutnya itu masih terlalu cepat. Belum ada satu bulan Yifan meninggalkan dunia, jadi rasanya tak adil jika Kyungsoo cepat-cepat mencari pengganti Yifan.

Kyungsoo cepat-cepat menepis pemikirannya dan juga rasa irinya pada sahabat-sahabatnya yang saat ini terlihat bahagia. Ia seharusnya merasa senang jika sahabat-sahabatnya juga merasa senang.

Tiga puluh menit lalu sebenarnya para wanita masih asyik menggosip di dapur —Luhan akhirnya bergabung dengan Yixing dan Kyungsoo setelah memastikan Jaera tidur dengan baik di kamar-. Tapi asyiknya kegiatan para wanita itu diinterupsi oleh suara perut keroncongan para pria.

Jadilah para wanita mengalah, dan mereka akhirnya mau memasak untuk para pria yang kelaparan. Ya...meskipun menu masakan mereka hanya seadanya karena mereka hanya punya waktu singkat untuk memasak.

"Tunggu dulu," suara Kyungsoo menahan gerak tangan Sehun yang baru akan mengambil nasi. "Dimana Chanyeol oppa?"

"Chanyeol hyung pergi makan malam dengan temannya," jawab Sehun malas-malasan.

Sepertinya pria bermarga Oh itu masih sedikit kesal karena godaan Kyungsoo tadi sore.

Mentang-mentang Kyungsoo sudah berbaikan dengan Jongin, lalu Kyungsoo bisa seenaknya menggoda Luhan dan Sehun? Begitu?

Sehun dan dua sahabatnya yang lain sudah tahu tentang Kyungsoo yang sudah berbaikan Jongin, dan mereka merasa lega sekaligus senang. Mereka berjanji tak akan melakukan hal bodoh yang bisa menyakiti hati Kyungsoo lagi.

"Kenapa Chanyeol oppa sering makan malam di luar bersama temannya? Memangnya siapa teman Chanyeol oppa itu?"

"Kau terlalu banyak bertanya, Kyungsoo. Kau cemburu, huh?" tanya Joonmyeon.

"Uh? Tentu saja tidak. Aku 'kan hanya bertanya," Kyungsoo menjawab pertanyaan Joonmyeon dengan sedikit kesal.

Jelas ia sama sekali tidak cemburu, jadi wajar jika ia merasa kesal.

Sehun dan Joonmyeon terkekeh melihat tingkah Kyungsoo. Mereka tahu bahwa Kyungsoo tak akan cemburu karena Chanyeol bukanlah pria yang mengisi hati Kyungsoo sekarang.

"Aku sudah lapar. Bisakah kita mulai makan sekarang?" tanya Luhan juga dengan sebal.

Ternyata lapar bisa membuat manusia menjadi mudah emosi.

Jadi, daripada nanti akan ada insiden bunuh-membunuh, maka Joonmyeon segera memimpin doa, dan acara makan malam pun bisa dimulai.


©The Letter


Sudah cukup lama kamar Sehun dan Joonmyeon tidak dijadikan basecamp oleh empat sahabat.

Agaknya mereka merindukan saat-saat berkumpul mereka, jadi malam ini mereka memutuskan untuk berkumpul disana.

Sayangnya, sampai saat ini Chanyeol belum pulang, dan belum bergabung dengan mereka.

"Sehun-ah," Jongin tiba-tiba memanggil Sehun yang sedang sibuk dengan ponselnya. Sesekali Sehun tersenyum saat memandang ponselnya, dan itu membuat Jongin penasaran. "Kau sedang melihat apa, sih? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"

Joonmyeon yang duduk di sebelah Sehun berusaha mencuri lihat ke arah ponsel Sehun, dan pria Kim itu menemukan sesuatu. "Sedang memandangi foto Jaera, atau foto ibu Jaera?"

Mendengar godaan Joonmyeon, Sehun refleks menyembunyikan ponselnya dan menggeser duduknya menjauhi Joonmyeon.

Tiga sahabat itu sedang duduk di atas ranjang. Joonmyeon dan Sehun duduk bersebelahan dengan menyandar pada kepala ranjang, sedangkan Jongin duduk bersila menghadap mereka berdua.

"Hah? Sehun sedang memandangi foto Luhan noona?" tanya Jongin.

Seketika sebuah bantal empuk dilempar oleh Sehun, dan mendarat di wajah Jongin. "Jangan ngawur. Tadi siang Luhan noona memintaku untuk memfoto dirinya saat menggendong Jaera. Aku tadi memandangi foto Jaera, bukan foto Luhan noona."

"Memandangi foto Luhan noona juga tak masalah, Hun. Sebaiknya kau mengaku saja," Joonmyeon dengan iseng menyenggol lengan Sehun sebagai bentuk godaannya.

"Geez. Kau juga sebaiknya mengaku saja kalau kau tadi blushing gara-gara pujian Yixing noona saat di meja makan, hyung," Sehun yang tak terima kini balas menggoda.

Tingkah kekanakan Sehun dan Joonmyeon membuat Jongin tertawa keras. "Astaga! Aku iri pada kalian karena kalian menemukan wanita untuk dicintai," ucap Jongin ketika tawanya reda.

"A—apa kau bilang?" dengan tergagap Joonmyeon melempar pertanyaan pada Jongin. "Aku tidak mencintai Yixing!" sanggahnya.

"Aku juga tidak mencintai Luhan noona," Sehun ikut-ikutan menyanggah.

Jongin hanya tersenyum mendengar sanggahan dua sahabatnya. "Tapi kurasa, lama-lama kalian akan mencintai mereka," ujarnya. "Aaah~ aku tetap iri pada kalian. Kapan ya aku bisa menemukan wanita yang tepat? Yang bisa kucintai dan juga mencintaiku..."

Sehun dan Joonmyeon speechless. Mereka hanya bisa menatap Jongin nanar.

Jongin itu tampan, berkharisma, sexy, dan baik. Tapi kenapa Jongin begitu bodoh?

Agaknya pertanyaan itu yang hadir di kepala Sehun dan Joonmyeon.

Klek. Keheningan di kamar itu pecah ketika suara pintu terbuka mengusik indera pendengaran.

Terlihat pria berjaket kulit memasuki kamar itu. Pria itu —Park Chanyeol- menatap tiga sahabatnya bingung. "Kalian sedang apa? Kenapa saling diam begitu?" tanyanya sembari mendudukkan tubuhnya di samping Jongin.

Dilihat dari penampilannya yang masih kusut, kita bisa langsung tahu bahwa Chanyeol belum mandi.

Mungkin tadi ia sudah masuk ke kamarnya —yang ia tempati bersama Jongin-, tapi ia langsung keluar lagi dan akhirnya masuk ke kamar Sehun-Joonmyeon karena kamarnya sendiri tak berpenghuni.

"Kami sedang meratapi sahabat kami yang begitu bodoh," itu Sehun yang bicara.

Kini terlihat Chanyeol menggaruk kepalanya dengan ekspresi bingung. "Siapa yang bodoh?" tanyanya.

Sehun tak menjawab pertanyaan Chanyeol secara verbal. Ia hanya menggerakkan dagunya ke arah Jongin. Memberitahu Chanyeol bahwa...Jongin lah yang bodoh.

Jongin menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi penuh tanya.

Tapi Jongin tak bertanya, dan justru Chanyeol yang melontarkan pertanyaan. "Kenapa kalian menganggap Jongin bodoh?"

Joonmyeon akhirnya menghela nafas lelah. Berurusan dengan sahabat-sahabatnya benar-benar menguras energi. "Jongin berpikir bahwa kami sudah menemukan wanita untuk dicintai. Ia iri karena menurutnya, ia belum menemukan wanita yang mencintainya dan bisa ia cintai."

Kepala Chanyeol segera tertoleh ke arah Jongin, dan tangannya melayang untuk memukul kepala sang pemuda tampan. "Ya! Kenapa kau bodoh sekali, hah?"

Jongin meringis sembari tangannya mengusap kepalanya yang cukup sakit. "Kenapa kalian menganggapku bodoh?"

"Jika menyangkut masalah persahabatan, kau adalah yang paling peka diantara kami. Tapi jika menyangkut masalah cinta, kau seperti mati rasa dan pikiran, Kim Jongin!" lagi-lagi Jongin mendapat hujatan, dan yang tadi itu dari Sehun.

"Aku benar-benar tak mengerti apa maksud kalian. Bisa kalian bicara dengan lebih jelas?"

Ekspresi Jongin terlihat sangat bodoh saat bertanya begitu, dan itu membuat tiga sahabatnya geram. Jika mereka lupa bahwa Jongin adalah sahabat mereka sejak kecil, pasti mereka tak segan untuk memutilasi Jongin sekarang juga.

"Dengarkan aku, Jongin," Joonmyeon, sebagai yang tertua dari mereka, kini merupakan sosok yang paling terlihat sabar. "Kami bertiga memutuskan untuk menyerah, dan kau bisa memiliki wanita itu."

Bukannya mengerti, Jongin justru semakin bingung.

Menyerah? Wanita itu? Memangnya apa maksudnya? Dan siapa wanita itu?

Sehun tahu jika sahabat bodoh-nya itu belum juga mengerti. Maka dari itu, sang magnae menambahi penjelasan sang kakak tertua. "Kami sudah memutuskan untuk menyerah. Kami ingin berhenti mencintai Kyungsoo noona, dan kami ingin mempersatukan dirimu dengan Kyungsoo noona. Dengan begitu, kita bisa memenuhi dua wasiat Yifan hyung sekaligus. Menjaga Kyungsoo noona, dan menemukan pendamping hidup untuknya."

Bibir Jongin terbuka lebar. Penjelasan Sehun membuatnya tak sanggup berkata-kata.

"Kau harus tahu satu hal, Jongin," kini Chanyeol yang bersuara, dan dengan lemah Jongin menoleh pada Chanyeol. "Kyungsoo mencintaimu. Hiduplah bersamanya, dan jaga ia selamanya."

Otak Jongin rasanya berhenti bekerja. Ia kini bagaikan zombie tanpa pikiran, dan segalanya terasa kosong bagi pria itu.

Pertanyaan Jongin tentang sikap aneh para sahabatnya hari ini terjawab sudah. Mereka menyerah atas Kyungsoo, dan mereka justru ingin menjodohkan Kyungsoo dengan Jongin.

Tapi realita itu merupakan kejutan maha dahsyat untuk Jongin.

Apalagi tentang realita bahwa Kyungsoo mencintainya. Tak sedikitpun terlintas di benak Jongin mengenai hal itu.

Jongin tak pernah ingin memiliki Kyungsoo, karena baginya, memiliki Kyungsoo berarti mengkhianati Yifan.

Jongin juga yakin bahwa dirinya tidak jatuh hati pada Kyungsoo. Ia memang merasa nyaman dan bahagia bersama Kyungsoo, tapi bukan berarti ia mencintai istri sahabatnya itu —setidaknya Jongin beranggapan begitu-.

Ia terlalu menyayangi dan menghargai Yifan, dan ia tak ingin merebut istri tercinta sahabatnya.

"Tidak," suara Jongin terdengar bergetar, dan saat itu pula setetes air mata mengalir di pipinya. "A—aku tidak akan melakukan hal itu. Aku sangat menyayangi Yifan hyung, dan aku tak mau merebut Kyungsoo noona darinya. AKU TIDAK MAU!"

Setelah berteriak keras, Jongin beranjak dari posisi duduknya, kemudian berlari meninggalkan kamar.

Kepergian Jongin menyisakan kepedihan di hati tiga sahabatnya. Kini ketiganya hanya bisa menunduk pasrah.

"Jongin benar-benar menempatkan persahabatan di atas segalanya," Joonmyeon berbisik lirih.

Dua sahabatnya yang lain mengangguk. Di satu sisi mereka kagum atas kesetiaan Jongin pada Yifan, tapi di sisi lain mereka mengasihani prinsip bodoh Jongin itu.

Bagaimanapun juga Yifan telah tiada, dan Kyungsoo tak lagi terikat dengan Yifan.


©The Letter


Suasana panik mendera apartment Kyungsoo pagi ini. Pasalnya, sejak tadi malam Jongin menghilang, dan sampai pagi ini belum ada yang tahu kemana perginya si pria tan.

Seluruh penghuni apartment kini berada di ruang tamu. Tiga orang pria tampak berkutat dengan ponselnya dengan wajah panik, sementara dua wanita dewasa plus satu gadis kecil hanya memandang bingung pada tiga pria itu.

Semua orang tiba-tiba dikejutkan oleh dering ponsel, dan rupanya ponsel Chanyeol yang berbunyi.

Pria tinggi itu melihat caller ID yang tertera di layar, kemudian memutuskan untuk menjawab panggilan masuk. "Halo?"

Dan akhirnya Chanyeol terlibat obrolan panjang dengan seseorang di ujung telepon.

Kata-kata menonjol yang diucapkan Chanyeol pada seseorang di line telepon adalah seperti: "Iya, aku bahagia tadi malam" atau seperti "Lain kali kita bisa makan malam bersama lagi".

Sungguh mencurigakan. Jadi jangan heran jika Sehun langsung melontarkan pertanyaan pada Chanyeol sesaat setelah Chanyeol mengakhiri sambungan teleponnya. "Telepon dari siapa? Mesra sekali?"

Chanyeol cepat-cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. "Dari teman," jawabnya singkat.

"Teman yang semalam makan malam bersamamu?" kini Joonmyeon yang bertanya, dan Chanyeol mengangguk ragu. "Siapa namanya? Ia...seorang gadis, 'kan?"

Sirine berwarna merah seperti menyala di atas kepala Chanyeol. Posisi Chanyeol sekarang tersudut karena dua sahabatnya seperti memojokkan dirinya.

"Y—ya, ia adalah seorang gadis. Tapi ia hanya rekan kerjaku. Namanya...Byun Baekhyun."

Jawaban Chanyeol menghadirkan senyum jahil di bibir Sehun. "Hanya rekan kerja, tapi sudah berapa kali makan malam bersama, ya?"

Chanyeol, Sehun, dan Joonmyeon akhirnya saling melempar godaan. Mereka lupa bahwa beberapa menit lalu mereka sedang panik mencari Jongin.

Kyungsoo hanya menatap datar kelakuan tiga sahabat itu. Ia masih mengkhawatirkan Jongin.

Tadi saat hari masih sangat pagi, Chanyeol tiba-tiba berteriak heboh karena Jongin menghilang sejak tadi malam, dan hingga pagi belum kembali.

Kyungsoo sudah bertanya pada Chanyeol dan yang lain tentang alasan Jongin pergi, tapi mereka tak menjawab pertanyaan Kyungsoo. Hal itu tak pelak menambah kekhawatiran di hati Kyungsoo...

'Kau dimana, Jongin?'


The Letter


Di bingkai foto ukuran 10R itu terdapat wajah lima anak laki-laki. Usia mereka mungkin masih belasan tahun. Masih remaja dan masih fresh.

Kelima anak lelaki itu tersenyum ke arah kamera sambil saling berangkulan. Terlihat sangat bahagia menikmati kebersamaan mereka.

Di ujung paling kiri foto terdapat seorang anak dengan tubuh tinggi dengan mata besar, senyuman lebar, dan rambut sedikit ikal. Di sampingnya terdapat lelaki yang badannya paling pendek, sedang tersenyum lembut tanpa memamerkan deretan giginya. Di sebelahnya, seorang anak yang kulitnya paling gelap juga tersenyum memamerkan eyesmile-nya. Di sebelah anak itu terdapat anak lelaki dengan kulit paling putih, hanya memamerkan senyum kecil. Dan di ujung paling kanan, terdapat anak lelaki dengan tubuh paling tinggi, juga sedang tersenyum dengan gummy smile-nya.

Sepasang tangan besar memegangi bingkai foto berwarna keemasan itu. Satu diantara dua tangan itu kini bergerak mengusap permukaan bening kaca bingkai.

Usapan tangan itu bergerak dari sisi kiri, menuju sisi kanan. Mengusap satu demi satu wajah di dalam foto. Mulai dari wajah si pria berambut ikal, pria pendek, pria berkulit kecoklatan, pria berkulit paling cerah, hingga usapan itu terhenti pada wajah pria pemilik gummy smile.

Usapan itu terus bergerak di area wajah sang pria, dan sesekali bergerak keluar mengusap rambut pirang pria itu.

"Hyung..." suara sang pria yang dari tadi mengusap permukaan foto itu terdengar bersamaan dengan suara pintu kamar yang dibuka dari luar.

Si pria menoleh ke arah pintu, dan disana ia menemukan seorang wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad, sedang berjalan ke arahnya.

"Saatnya sarapan, Jongin," ucap si wanita, yang tak lain dan tak bukan adalah bibi Wu.

Ya, Kim Jongin sejak semalam berada di kediaman keluarga Wu.

Rumah mewah itu bukanlah rumah Yifan saat ia masih kecil. Seluruh anggota keluarga Wu —minus Yifan karena Yifan menempati apartment-nya sendiri- berpindah ke rumah itu baru sekitar tujuh tahun sliam.

Meskipun Yifan tidak tinggal di rumah itu, tapi Yifan memiliki kamar pribadi disana. Alasannnya adalah karena Yifan sangat sering berkunjung ke rumah itu, dan ia pun sering menginap. Dalam sebulan, Yifan bisa menginap di rumah itu untuk waktu seminggu. Hal itu dikarenakan Yifan begitu menyayangi orang tuanya, dan sering merasa rindu saat ia tinggal di apartment-nya sendiri.

Tapi semua sedikit berubah sejak Yifan menikah dengan Kyungsoo setahun silam. Yifan tak lagi sering merasa kesepian di apartment-nya, sehingga ia cukup jarang mengunjungi rumah orang tuanya.

Namun bukan berarti Yifan melupakan orang tuanya. Setiap bulan Yifan masih menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah orang tuanya, meskipun ia jarang sampai menginap disana.

"Aku tidak lapar, bibi," Jongin membalas ucapan bibi Wu dengan lemah.

Bibi Wu prihatin melihat Jongin. Semalam Jongin datang dalam diam, dan bibi Wu mengerti bahwa Jongin sedang tak ingin bicara.

Makanya bibi Wu langsung mengantar Jongin ke kamar Yifan, dan meminta Jongin untuk beristirahat disana.

Ini bukan kali pertama Jongin berkunjung ke kediaman keluarga Wu. Sebelumnya Jongin beberapa kali berkunjung kesana walaupun di rumah itu tidak ada Yifan. Hal itu karena Jongin sudah menganggap orang tua Yifan seperti orang tuanya sendiri.

Biasanya bibi Wu meminta Jongin untuk beristirahat di kamar tamu, karena kamar Yifan kadang masih ditempati oleh pemiliknya.

Tapi kali ini lain. Tadi malam adalah kali pertama Jongin berkunjung semenjak kepergian Yifan, dan bibi Wu justru meminta Jongin untuk menempati kamar Yifan.

Bibi Wu punya firasat bahwa Jongin sedang merindukan Yifan.

"Apa kau sedang merindukan Yifan?" bibi Wu duduk di tepi ranjang. Matanya menatap pada bingkai foto yang sampai sekarang masih berada di tangan Jongin.

Jongin ikut menatap bingkai foto itu, kemudian ia tersenyum. "Aku sangat merindukan Yifan, hyung. Jika ia masih ada disini, maka aku ingin menanyakan sesuatu padanya."

"Apa yang ingin kau tanyakan padanya, Jongin?" tanya bibi Wu.

Jongin mengangkat kepalanya untuk menatap bibi Wu. "Aku ingin bertanya. 'Apa yang harus aku lakukan sekarang, hyung?' Kira-kira apa jawaban Yifan hyung ya, bibi?"

Bibi Wu tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan Jongin. "Yifan akan menyuruhmu untuk melakukan hal yang sesuai dengan kata hatimu."

"Hatiku mengatakan bahwa aku tak boleh mengecewakan Yifan hyung. Aku tak boleh merebut apa yang menjadi milik Yifan hyung."

"Memangnya apa yang menjadi milik Yifan, Jongin?" tanya bibi Wu. "Kau harus tahu satu hal, Jongin. Sejak Yifan menghembuskan nafas terakhirnya, Yifan tak lagi memiliki apapun di dunia ini. Harta, perusahaan, bahkan istri. Ia tak lagi menjadi pemilik atas semua itu."

Istri. Kata itu yang terputar secara berulang di benak Jongin.

Pria tan itu hanya menatap bibi Wu dengan tatapan nanar. Dua matanya bengkak, dan bisa dipastikan pria itu menangis semalam. Sebut saja Jongin cengeng, karena memang itulah faktanya. Jongin begitu rapuh jika sudah menyangkut masalah persahabatan.

"Satu-satunya hal yang masih dimiliki oleh Yifan adalah harapan, yang tertuang dalam permintaan-permintaan terakhirnya," bibi Wu kembali bicara. "Bibi tidak tahu keseluruhan isi surat Yifan yang diberikan untuk kalian. Tapi bibi yakin bahwa di dalam surat itu ada permintaan-permintaan terakhir Yifan. Apa bibi benar?"

Dengan ragu Jongin menganggukkan kepalanya. Mengingat tentang permintaan-permintaan terakhir Yifan membuat hatinya nyeri.

Ia merasa gagal menjadi sahabat yang baik karena tak bisa mengabulkan permintaan-permintaan Yifan.

"Sebelum Yifan pergi, ia juga mengatakan permintaan-permintaan terakhirnya pada bibi, dan salah satunya adalah tentang kalian," suara bibi Wu terdengar lagi karena Jongin hanya diam. "Yifan meminta bibi untuk memastikan kebahagiaan kalian. Yifan berkata pada bibi bahwa kalian selama ini sudah membuatnya bahagia, dan ia ingin kalian semua mendapatkan kebahagiaan. Jadi bibi mohon padamu, Jongin. Raihlah kebahagiaanmu supaya Yifan merasa tenang di surga."

Jongin meneteskan air mata saat ia mendengar rentetan kalimat bibi Wu. Yifan benar-benar sahabat yang baik. Bahkan hingga maut hampir menjemputnya, ia masih mengingat sahabat-sahabatnya, dan masih memikirkan kebahagiaan mereka.

"Kau masih ingin merenung, 'kan? Kalau begitu bibi akan keluar dulu. Bibi akan menyisihkan sarapan untukmu, jadi nanti kau harus tetap makan. Mengerti?"

Jongin mengangguk. Bibi Wu mengusap sejenak helai rambut Jongin, sebelum akhirnya keluar dari kamar itu.

Jongin masih diam. Matanya mengarah pada bingkai foto di tangannya, tapi tatapannya tampak kosong.

Ia memikirkan tentang semua hal. Utamanya tentang Yifan dan Kyungsoo.

Yifan adalah sosok sahabat sekaligus kakak bagi Jongin, dan Jongin tak sekalipun ingin mengecewakan Yifan.

Kyungsoo adalah sosok yang sangat dicintai Yifan, dan Kyungsoo pun sangat mencintai Yifan. Jongin yakin akan hal itu.

Tapi sekarang semua telah berubah. Kyungsoo telah ditinggalkan oleh Yifan, dan Kyungsoo justru jatuh cinta pada Jongin.

Apakah itu benar? Apa Kyungsoo benar-benar mencintai Jongin, atau itu hanya sekedar hipotesis dari para sahabatnya?

Jongin menghela nafasnya lelah. Ingatannya melayang pada senyuman Kyungsoo saat mereka baru pertama bertemu.

Dug dug. Jantung Jongin tiba-tiba berpacu kencang, dan Jongin tersentak karena hal itu. Ia bahkan sampai menggerakkan tangan kanannya untuk menyentuh dada sebelah kirinya.

"Ada apa denganku?" Jongin bertanya pada dirinya sendiri.

Ingatan Jongin juga melayang pada saat Kyungsoo menggenggam tangannya saat mereka berada di rumah sakit.

Dug dug. Kembali jantung Jongin berdetak kencang.

Jongin juga ingat bagaimana ekspresi sedih Kyungsoo saat dirinya menjauhi Kyungsoo. Ia ingat saat itu Kyungsoo merasa terluka, bahkan sampai meneteskan air mata.

Ingatannya yang terakhir itu membuat dada Jongin nyeri. Ia bahkan meringis karena merasakan sakit yang mendalam, seolah ia merasakan sakit hati Kyungsoo ketika itu.

"Sebenarnya ada apa denganku?" kembali Jongin bertanya pada dirinya sendiri, kali ini dengan nada yang jauh lebih frustasi dari sebelumnya.


©The Letter


Pagi mulai beranjak menuju siang. Perjalanan sang mentari untuk melintasi langit Kota Seoul mungkin sudah mencapai seperempat jalan.

Setelah sarapan, Kyungsoo rupanya tetap tak ingin beranjak dari meja makan.

Wanita yang sedang hamil lima bulan itu duduk sendirian di meja makan, dengan hanya ditemani oleh secangkir teh yang bisa dipastikan isinya sudah tak panas lagi.

Tatapan Kyungsoo terlihat kosong, seolah separuh nyawanya hilang entah kemana.

Mungkin ekspresi Kyungsoo saat ini sama seperti ekspresinya saat hari pertama kepergian Yifan. Kyungsoo terlihat...kosong.

Suara derap langkah kaki tiba-tiba terdengar di ruangan itu, disusul oleh masuknya tiga pria tampan ke ruangan itu.

Tapi Kyungsoo tetap tak bergeming dari posisinya. Ia tak berniat menggerakkan kepalanya untuk menatap para pria tampan itu.

Merasa diabaikan, ketiga pria tampan itu akhirnya mendudukkan tubuh mereka pada tiga kursi yang berseberangan dengan kursi Kyungsoo.

"Kyungsoo..." itu suara Chanyeol. Ya, tiga pria yang baru saja datang adalah Chanyeol, Sehun, dan Joonmyeon. Karena Kyungsoo tak kunjung bergeming, Chanyeol kembali berbicara. "Kami sudah tahu dimana keberadaan Jongin sekarang."

Perkataan lanjutan Chanyeol mampu menyita atensi Kyungsoo. "Di—dimana Jongin sekarang?"

Ketiga pria itu tersenyum penuh kemenangan. Memang hanya Jongin yang mampu menarik perhatian Kyungsoo.

"Kami akan memberitahu keberadaan Jongin padamu, setelah kau menjawab satu pertanyaan kami," kali ini Joonmyeon yang bicara. Kyungsoo menatap Joonmyeon dengan serius, seolah menunggu pertanyaan dari pria itu. "Jawab pertanyaan ini, Soo. Apa kau menyukai Jongin?"

Ini adalah keempat kalinya Kyungsoo mendengar pertanyaan itu. Tiga kali Kyungsoo tak menjawab pertanyaan itu, tapi kali ini sepertinya Kyungsoo diwajibkan untuk menjawab pertanyaan itu, agar ia mendapatkan informasi tentang keberadaan Jongin.

"Aku...aku tidak tahu," itu adalah jawaban pertama Kyungsoo. "Saat pertama bertemu dengan Jongin, aku tak merasakan apapun padanya. Aku menganggapnya sama seperti kalian, yaitu sebagai sahabat Yifan oppa. Tapi setelah aku dekat dengan kalian berempat, aku mulai merasa bahwa Jongin berbeda."

Kyungsoo mengambil nafas sejenak. Jemari lentiknya menyelimuti cangkir putih di depannya.

Tiga pria di hadapan Kyungsoo juga masih diam. Mereka menanti kelanjutan ucapan Kyungsoo.

"Perlakuan kalian bertiga padaku sering membuatku teringat pada Yifan oppa, tapi perlakuan Jongin padaku selalu berbeda dengan perlakuan Yifan oppa padaku. Cara Jongin menutupi pahaku dengan jaketnya, cara Jongin memelukku penuh dengan keluguan, bahkan cara Jongin membentakku. Semua itu tak membuatku teringat pada Yifan oppa. Jongin adalah sosok yang berbeda, dan aku selalu takut kehilangan dirinya."

Kyungsoo mengakhiri penjelasan panjangnya dengan sebuah tetesan air mata di pipinya.

Joonmyeon, Chanyeol, dan Sehun tampak takjub mendengar penjelasan Kyungsoo. Mereka tak menyangka jika Kyungsoo sangat memperhatikan detail tentang mereka berempat, hingga ia bisa menyimpulkan bahwa Jongin berbeda.

Dari situlah mereka bertiga menyimpulkan bahwa...Jongin adalah orang yang tepat.

"Sepertinya kau tidak menyukai Jongin, Soo. Tapi kau jatuh cinta padanya."

Perkataan Chanyeol membuat Kyungsoo refleks membulatkan matanya yang sebenarnya sudah bulat. "Aku...jatuh cinta pada Jongin? T—tapi aku baru tiga minggu mengenal Jongin secara dekat."

Tatapan mata Kyungsoo sarat akan rasa tidak percaya. Dulu ia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk jatuh cinta pada Yifan. Jadi bagaimana bisa sekarang dirinya jatuh cinta pada Jongin dalam waktu yang relatif singkat?

"Ingat tentang perkataanmu padaku bahwa cinta tidak mengenal waktu? Kurasa itu berlaku untuk dirimu, Soo," ucap Chanyeol lagi.

Kyungsoo tak membalas ucapan Chanyeol. Ia masih bertanya-tanya pada hatinya sendiri tentang perasaannya pada Jongin.

Ketiga sahabat kini tersenyum puas. Benar dugaan mereka. Kyungsoo memang jatuh hati pada sahabat mereka.

Kini mereka tinggal memikirkan cara untuk mempersatukan Kyungsoo dengan si bodoh Jongin, agar mereka bisa menunaikan wasiat Yifan dengan sempurna.

Tiba-tiba saja si magnae yang dari tadi diam menemukan sebuah ide.

"Kau tahu, noona?" suara Sehun merenggut atensi Kyungsoo. "Alasan Jongin kabur dari apartment ini adalah karena...ia jatuh cinta padamu, tapi ia takut kau tidak membalas perasaannya."

Joonmyeon dan Chanyeol serentak menolehkan kepala mereka pada Sehun yang kebetulan duduk di tengah-tengah mereka.

Mereka tak mengerti jalan pikiran Sehun. Sudah jelas tadi malam Jongin mengatakan bahwa ia tak punya rasa lebih pada Kyungsoo, tapi kenapa Sehun justru berkata sebaliknya?

"Jongin pergi karena ia tak ingin merasakan patah hati, noona. Sungguh pengecut, 'kan?"

"Be—benarkah itu?"

Joonmyeon dan Chanyeol sudah bersiap untuk menjawab pertanyaan Kyungsoo, tapi mereka justru berakhir meringis karena tiba-tiba Sehun mencubit paha mereka. Meminta mereka untuk tetap diam.

"Itu benar, noona. Apa...noona ingin bertemu dengan pengecut sialan itu?"

Kyungsoo berpikir sejenak, tapi kemudian ia mengangguk. "Bisakah aku bertemu dengannya?"

Sehun menyeringai tipis. Sangat tipis hingga Kyungsoo tak mampu melihat seringai iblis itu. Sejauh ini, rencana Sehun berjalan lancar. Iya, rencana mendadak seorang Oh Sehun. Tidak ada yang tahu jalan pikiran pemuda tampan itu.

"Noona bisa bertemu Jongin, tapi dengan satu syarat," Sehun menatap Kyungsoo serius, dan Kyungsoo membalas tatapan itu dengan keseriusan yang sama. "Saat nanti noona bertemu dengan Jongin, noona harus..."

..

..

TBC


Author's Note:

Annyeong~ satu chapter menjelang ending nih. haha, Jongin emang gak peka banget kan?

rencana Sehun bisa dipastikan merupakan hal gila yg mengejutkan. jadi di chapter depan akan ada hal konyol dan memalukan yg terjadi karena rencana Sehun itu. dia emang nakal banget kan? :D

oke, terimakasih untuk semuanya. sampai jumpa di last chapter! last chapter bakal banyak KaiSoo dong~ walaupun gak banyak2 banget soalnya ya nanti ada bagian di saat para sahabat berkumpul bersama, cuma mereka berempat. karena pada dasarnya, FF ini bertema persahabatan :)

oh iya. kalau mau menghubungiku dgn jalan tercepat, kalian bisa contact aku di twitter: rizdyo12. itu twitter khusus fangirling yg isinya cuma gila-gilaan aja :D. follow instagram juga boleh nih: rizkadif. trs kalo mau minta pin BB juga boleh, tapi lewat PM aja yaa^^

salam sayang, rizdyo12 :*