Title: The Letter
Cast for this chapter:
Wu Yifan as Wu Yifan, Suho EXO as Kim Joonmyeon, Chanyeol EXO as Park Chanyeol, Kai EXO as Kim Jongin, Sehun EXO as Oh Sehun, D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Lu Han as Lu Han (Girl/mentioned), Lay EXO as Zhang Yixing (Girl/mentioned), Baekhyun EXO as Byun Baekhyun (Girl/mentioned), Bibi Wu (OC)
Rate: T
Length: chaptered [16/16]
Summary for chapter 16:
Kyungsoo sudah mendapatkan pasangan baru pengganti Yifan! Itu berarti, saatnya empat sahabat membaca surat kedua Yifan. Kira-kira apa isi surat kedua itu?
Previous chapter:
Sehun menyeringai tipis. Sangat tipis hingga Kyungsoo tak mampu melihat seringai iblis itu. Sejauh ini, rencana Sehun berjalan lancar. Iya, rencana mendadak seorang Oh Sehun. Tidak ada yang tahu jalan pikiran pemuda tampan itu.
"Noona bisa bertemu Jongin, tapi dengan satu syarat," Sehun menatap Kyungsoo serius, dan Kyungsoo membalas tatapan itu dengan keseriusan yang sama. "Saat nanti noona bertemu dengan Jongin, noona harus..."
..
Chapter 16 (2nd Letter)
THIS IS THE ENDING!
Jongin beranjak dari kamar Yifan karena kerongkongannya terasa kering.
Beberapa menit yang lalu bibi Wu memasuki kamar itu untuk kembali mengingatkan Jongin tentang sarapan, tapi sampai sekarang Jongin tak kunjung mengisi perutnya dengan makanan walaupun hanya sesuap.
Padahal Jongin itu dikenal sebagai pria yang sangat doyan makan, tapi saat ini pria itu sepertinya kehilangan nafsu makan.
Ia saja sebenarnya malas untuk keluar kamar. Tapi ia tak ingin mati karena dehidrasi, jadi ia terpaksa berjalan ke dapur untuk mengambil minum.
Begitu sampai di dapur, Jongin meraih gelas, lalu menuju ke kulkas dan membukanya. Ia mengambil sebotol air putih dingin, kemudian menuangnya ke dalam gelas.
Dengan penuh nafsu Jongin menghabiskan air dingin di dalam gelas itu. Begitu isi gelas itu habis dan dahaga Jongin pun hilang, Jongin meletakkan gelas itu ke atas meja.
Dan saat itulah telinga Jongin mendengar suara bel.
Awalnya Jongin mendiamkan suara bel itu, karena ia mengira bahwa akan ada maid yang membukakan pintu.
Tapi beberapa menit berlalu, dan suara bel masih saja terdengar. Jongin jadi ingat pada perkataan bibi Wu tadi pagi bahwa bibi Wu dan maid di rumah itu akan pergi berbelanja.
Ah~ pantas saja dari tadi tidak ada yang membukakan pintu. Di rumah itu hanya ada Jongin seorang.
Dengan terpaksa Jongin melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Rasanya kaki Jongin jadi seberat batu karena ia amat sangat malas berjalan.
Setelah beberapa saat berjalan, Jongin akhirnya tiba di pintu utama kediaman keluarga Wu.
Dengan gerakan malas Jongin membuka handle pintu. Begitu pintu sudah terbuka, Jongin langsung dikagetkan oleh sebuah pelukan erat di pinggangnya, dan disusul oleh sebuah ciuman di bibirnya.
Tentu saja Jongin kaget setengah mati. Apalagi setelah ia tahu bahwa orang yang menciumnya adalah...
.
.
.
Do Kyungsoo.
Ya, Kyungsoo melakukan apa yang disyaratkan oleh Sehun.
"Saat nanti noona bertemu dengan Jongin, noona harus langsung mencium bibir Jongin. Karena semalam Jongin berkata pada kami bahwa jika noona membalas cinta Jongin, maka noona akan mencium bibirnya."
Jongin sejenak masih mematung. Tapi karena Kyungsoo terus melumat bibirnya dengan lembut, Jongin akhirnya membalas lumatan itu.
Dan saat Jongin masih menikmati bibir lembut Kyungsoo, tiba-tiba matanya menemukan sosok tiga sahabatnya sedang berdiri di pintu gerbang sambil menyeringai padanya. Saat itu pula Jongin menyadari bahwa ulah Kyungsoo saat ini pasti ada hubungannya dengan tiga sahabatnya itu.
Setelah beberapa menit berciuman, Kyungsoo akhirnya melepas pagutan bibir itu. Wajahnya benar-benar merah karena malu.
Jongin mengulum senyum melihat pemandangan di depannya. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya Jongin masih shock karena aksi extreme Kyungsoo.
"K—kau sekarang sudah tahu 'kan, Jongin?" tanya Kyungsoo ragu-ragu. Kepalanya menunduk. Mungkin memandangi perutnya yang semakin besar. Intinya, ia tak berani menatap mata Jongin.
Jongin yang tadi tersenyum kini mengerutkan dahi.
Sejak Kyungsoo menciumnya, ia sudah merasa bingung. Dan kini pertanyaan Kyungsoo membuatnya bertambah bingung.
"T-tahu apa, noona?" Jongin malah balas bertanya.
Kyungsoo memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya. Dengan malu-malu ia menatap mata Jongin yang tampak kebingungan. "Kau tidak perlu malu dan pura-pura tidak tahu, Jongin. A—aku...aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu," kembali Kyungsoo menundukkan kepalanya.
Dahi Jongin tetap berkerut karena ia masih belum mengerti. Ia mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo ke arah para sahabatnya yang berdiri kira-kira tujuh meter di belakang Kyungsoo.
Para sahabatnya itu masih menyeringai. Ditambah dengan Sehun yang tiba-tiba melayangkan sebuah wink menjijikkan untuk Jongin.
Jongin yakin, semua ini pasti ulah sahabatnya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Jongin memegang dua bahu sempit Kyungsoo. Membuat Kyungsoo berjengit kaget dan mengangkat kepalanya.
"Katakan padaku..." suara Jongin mengalun lembut menembus indera pendengaran Kyungsoo. "Bagaimana perasaan noona padaku?"
Mata bulat Kyungsoo menatap mata Jongin malu-malu. Mata bulat itu menatap mata Jongin penuh kerinduan.
Belum ada dua puluh empat jam mereka tak bertemu, tapi kerinduan Kyungsoo membuncah dalam hatinya.
"A—aku..." dengan suara lirih Kyungsoo menjawab. "Aku mencintaimu, Jongin."
Tes. Air mata Kyungsoo menetes seiring dengan keluarnya kalimat pengakuan dari bibirnya.
Beban di dalam hati Kyungsoo seakan terbang setelah ia berhasil mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
Perasaan itu belum lama hadir di hati Kyungsoo, tapi sudah cukup membebani Kyungsoo.
Jongin belum menanggapi pengakuan Kyungsoo. Ia masih setia menatap mata Kyungsoo. Mencoba menyelami apa yang ada di dalam mata bulat itu.
Dan ia bisa melihat perasaan cinta Kyungsoo di mata itu. Sahabatnya benar. Kyungsoo memang mencintainya.
Semakin lama menatap mata bulat Kyungsoo, semakin kencang jantung Jongin berdetak.
Sudah lama ia tak merasakan sensasi ini. Sudah lama ia tak merasa...jatuh cinta.
"Noona, kenapa kau membuat pengakuan cinta seperti ini?" tanya Jongin.
Terlihat kekagetan terpancar di mata Kyungsoo. "A—apa maksudmu, Jongin? A-aku melakukan ini karena sahabat-sahabatmu berkata padaku bahwa kau...mencintaiku, tapi kau takut aku tak membalas perasaanmu."
Kepala Jongin refleks tertoleh menuju arah belakang Kyungsoo. Pandangan matanya tertuju ke arah gerbang, tempat dimana sahabat-sahabatnya berdiri beberapa menit lalu.
Iya, beberapa menit lalu, karena saat ini tempat itu sudah kosong. Sahabat-sahabat Jongin sudah pergi entah sejak kapan.
'Sial!' Jongin memaki dalam hati. Sahabat-sahabat terbaik-nya menjebak dirinya dalam situasi rumit ini —Jongin hanya tidak tahu saja bahwa sebenarnya ini semua adalah ulah adik kecilnya, Oh Sehun-.
"Jongin..." lamunan Jongin pudar ketika Kyungsoo memanggilnya. Ia tatap lagi mata Kyungsoo yang juga sedang menatapnya. "A—apa kau tidak mencintaiku? Apa...apa sahabat-sahabatmu membohongiku?"
Jongin diam. Ia menatap nanar mata Kyungsoo yang kini mulai diliputi kabut kekecewaan.
Jongin bingung. Ia belum meyakini perasaannya pada Kyungsoo. Ia merasa Kyungsoo itu special, tapi ia belum yakin.
Ia takut salah mengartikan perasaannya, dan ia kini tak tahu harus bicara apa pada Kyungsoo. Lagipula, Jongin masih berpikir bahwa mencintai Kyungsoo berarti pengkhianatan terhadap Yifan.
Di sisi lain, mata Kyungsoo kini mulai digenangi liquid bening. Diamnya Jongin membawa luka di hatinya.
Jadi, ia hanya dibohongi oleh para sahabat Jongin? Jongin tidak mencintainya? Kyungsoo merasa bodoh karena sudah bertindak sejauh ini, padahal Jongin tak memiliki rasa yang sama dengannya.
Dengan perasaan yang campur aduk, Kyungsoo mengangkat dua tangannya, lalu melepaskan dua tangan Jongin yang sejak tadi masih bertengger di bahunya.
"M—maaf..." satu tetes air mata Kyungsoo jatuh di pipinya. "Maaf karena aku begitu bodoh dan mengira bahwa kau juga mencintaiku, Jongin. Maaf karena telah seenaknya menciummu. Maafkan aku."
Karena tak kuasa lagi menahan sakitnya, Kyungsoo akhirnya membalik tubuhnya hingga ia membelakangi Jongin, dan ia mulai melangkah pergi menjauhi Jongin.
Baru beberapa langkah berjalan...
Grep.
...langkah Kyungsoo dihentikan oleh sepasang lengan yang kini melingkari tubuhnya. Memeluknya dari belakang. Seseorang memeluknya dari belakang.
"Aku hanya belum yakin pada perasaanku sendiri, noona. Dan aku pun takut dianggap sebagai sahabat yang buruk jika aku mencintai istri mendiang sahabatku," si pemeluk —Kim Jongin- kini melesakkan kepalanya di perpotongan leher Kyungsoo. "Tapi begitu aku melihatmu berbalik membelakangiku dan mulai berjalan menjauhiku, aku merasa tak ingin kehilanganmu, noona. Kurasa aku jatuh cinta padamu."
kyungsoo terpaku. Tubuhnya menegang ketika ia merasakan lehernya basah. Jongin menangis?
Hati Kyungsoo menghangat ketika ia merasakan sensasi hangat yang lain yaitu di lehernya. Air mata hangat Jongin bersentuhan dengan epidermisnya, dan itu menghantarkan rasa hangat ke sekujur tubuh Kyungsoo.
Kyungsoo mengangkat tangannya, lalu dengan ragu ia menjatuhkan dua tangannya itu ke atas tangan Jongin yang bertengger di perut besarnya.
Kyungsoo mengusap tangan Jongin dengan lembut. Berusaha menenangkan Jongin yang masih sesenggukan di lehernya.
"Kau adalah sahabat yang baik, Jongin. Tadi malam Yifan oppa datang ke mimpiku. Ia hanya berkata satu kalimat saja, lalu menghilang dari hadapanku. Ia hanya berkata: 'Jongin adalah sahabatku yang paling baik'. Aku percaya pada ucapannya itu, Jongin. Kau bukan sahabat yang buruk."
Jongin masih menangis. Membahas tentang Yifan membuat air matanya semakin deras mengalir.
"Aku tidak akan pernah melupakan Yifan oppa, tapi kurasa untuk saat ini aku membutuhkanmu di sisiku, Jongin. Tolong jangan tinggalkan aku."
Nada memohon Kyungsoo membuat Jongin mengangkat kepalanya. Ia memandangi wajah Kyungsoo dari samping. Pipi Kyungsoo juga basah karena tadi Kyungsoo juga sempat menangis.
Lagi-lagi Jongin membuat Kyungsoo menangis.
Dengan pelan Jongin mendekatkan kepalanya ke pipi Kyungsoo, lalu dengan lembut bibir Jongin menyentuh pipi Kyungsoo. "Aku akan selalu di sisimu, noona. Dan aku tak akan membuatmu menangis lagi. Aku janji," bisik Jongin di dekat pipi Kyungsoo ketika ia sudah tidak mencium pipi itu.
Kyungsoo tersenyum penuh haru, kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Jongin. Perbedaan tinggi badan mereka begitu sempurna, seolah mereka memang ditakdirkan untuk melengkapi satu sama lain.
Kyungsoo memejamkan matanya. Menikmati moment-nya bersama pria pemilik hatinya yang baru. 'Yifan oppa, kuharap kau mengizinkanku untuk bersama Jongin,' batin Kyungsoo.
Jongin pun menikmati moment manis itu. Ia juga memejamkan matanya, dan berkali-kali menciumi puncak kepala Kyungsoo. 'Yifan hyung, kuharap kau tidak membenciku karena hal ini,' ujar Jongin dalam hati.
Dua manusia yang sama-sama menutup mata itu tak menyadari bahwa kini ada empat pasang mata yang menatap mereka penuh rasa haru.
Pemilik empat pasang mata itu berdiri di dekat pintu gerbang. Mereka adalah Joonmyeon, Sehun, Chanyeol, dan bibi Wu.
Bibi Wu tahu tentang Kyungsoo. Tiga sahabat itu menceritakan hal yang sebenarnya tentang Kyungsoo kepada bibi Wu.
Bibi Wu sangat menyayangi Kyungsoo sebagai menantunya, tapi ia kini rela melepas Kyungsoo karena ia tahu bahwa Kyungsoo berhak bahagia dan menemukan pendamping hidup yang baru setelah Yifan tiada.
'Semoga kalian bahagia,' doa bibi Wu di dalam hati.
The Letter
"Kalian tahu? Drama yang tadi siang itu benar-benar buruk. Apalagi pemeran prianya. Mana ada pemeran pria yang menangis sesenggukan? Buruk sekali!"
Jongin melayangkan deathglare pada Sehun yang baru saja menyindirnya. Mereka duduk bersebelahan, dan mudah sebenarnya bagi Jongin untuk menghajar sahabatnya itu.
"Ah, ya! Pemeran prianya benar-benar buruk! Tapi pemeran wanitanya sangat cantik. Aku menyukainya."
Kali ini Chanyeol yang mendapat deathglare dari Jongin setelah perkataannya membuat Jongin naik darah. Dari bawah meja makan, kaki Jongin menendang kaki Chanyeol yang duduk berseberangan dengannya.
Joonmyeon memutar bola matanya melihat kelakuan para sahabatnya. "Ngomong-ngomong, kenapa Jongin marah karena ucapan Chanyeol? Memangnya Jongin berhak marah? Memangnya si pemeran pria dan pemeran wanita di drama itu sudah resmi menjalin hubungan?"
Uhuk. Kyungsoo tersedak air putih yang baru diminumnya.
Ia mengutuk para pria yang ribut sekali padahal mereka baru selesai makan malam.
Ia juga sedikit kesal karena sekarang ini tidak ada Luhan yang membelanya. Luhan menemani Jaera tidur di kamar karena hari ini Jaera sedikit tidak enak badan.
Agaknya Kyungsoo merasa tertohok oleh ocehan Joonmyeon barusan hingga ia tersedak.
"Gwaenchana, Soo?" Chanyeol yang duduk di samping Kyungsoo langsung menepuk-nepuk pelan punggung Kyungsoo.
Jongin lagi-lagi melayangkan tatapan mematikan pada Chanyeol. "Jauhkan tanganmu darinya, hyung!"
Chanyeol tersenyum evil. "Memangnya kenapa, huh? Apa hubunganmu dengan Kyungsoo? Kalian belum resmi berhubungan, 'kan?"
Jongin mulai geram. Dengan sedikit emosi ia berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju sisi lain dari meja makan persegi panjang itu.
Jongin berjalan mendekati tempat Kyungsoo duduk, dan segera ia menyingkirkan tangan Chanyeol dari punggung Kyungsoo begitu ia sampai di samping Kyungsoo.
Setelah sukses menyingkirkan tangan Chanyeol, Jongin langsung berlutut di samping kursi Kyungsoo. Hal itu tak pelak membuat Kyungsoo terkejut.
Sedangkan tiga sahabat Jongin sedang cekikikan tidak jelas di tempat duduk mereka masing-masing.
Kyungsoo semakin kaget ketika tiba-tiba Jongin menggenggam sebelah tangannya, dan Kyungsoo saat itu langsung mengubah arah duduknya menjadi menghadap Jongin.
Dengan gugup Kyungsoo menatap Jongin yang kini sedang mendongak untuk menatapnya.
"N—noona, aku tidak tahu kenapa aku tidak rela melihatmu digoda oleh pria lain," Jongin membuka suara dengan gugup. Backsound suara cekikikan semakin keras terdengar. "A—apa noona mau menjalin hubungan denganku? Hanya menjadi milikku dan tak ada pria lain di hati noona? Kita akan menikah, dan aku akan menyayangi anak Yifan hyung seperti anakku sendiri."
Suasana ruang makan sekejap menjadi hening. Tidak ada lagi suara tawa para sahabat Jongin, karena kini semua orang sedang menanti jawaban Kyungsoo.
"K—kau mau menjalin hubungan dengan wanita hamil sepertiku? Mau menerimaku apa adanya?" Jongin tanpa ragu mengangguk, dan itu membuat Kyungsoo tersenyum. "Kalau begitu...aku mau, Jongin."
Kini Jongin yang tersenyum. Ia berdiri dari posisi berlututnya, kemudian memeluk tubuh Kyungsoo penuh sayang.
Tiga sahabat Jongin tersenyum tipis. Meskipun berat, mereka akan berusaha menerima kenyataan bahwa kini Kyungsoo telah menjadi milik Jongin. Sekarang, mereka sudah menunaikan wasiat Yifan dengan sempurna. Itu yang membuat mereka lega.
'Semoga kalian bahagia. Jongin pantas mendapatkan Kyungsoo. Sedangkan aku? Ah~ status single sejak lahir belum juga bisa diubah.' —Joonmyeon.
'Padahal kukira aku bisa menggantikan posisi Yifan hyung di hati Kyungsoo, tapi ternyata aku salah. Berbahagialah dengan Kyungsoo, Jongin.' —Chanyeol.
'Bukankah aku hebat karena berhasil menyatukan mereka berdua? Seharusnya Jongin berterimakasih padaku. Ideku sangat sempurna.' —Sehun.
The Letter
Klek. Sebuah pintu kamar dibuka dari luar, dan dua pria tinggi memasuki kamar itu. Pintu kembali tertutup setelahnya —salah satu dari dua pria tinggi itu yang menutupnya-.
Dua pria tinggi itu tadinya tersenyum cerah, tapi ekspresi mereka berubah ketika melihat dua penghuni kamar yang sedang sibuk sendiri.
Joonmyeon sedang duduk di sofa sembari bertelepon ria dengan seseorang, sementara Sehun sedang tiduran di ranjang sembari tangannya sibuk dengan ponselnya. Sepertinya sedang berbalas pesan dengan seseorang.
"Mereka berdua sedang berpacaran," Chanyeol berbisik di dekat telinga Jongin —iya, dua pria tinggi yang baru saja memasuki kamar adalah Chanyeol dan Jongin-. "Joonmyeon hyung pasti sedang mengobrol dengan Yixing noona. Lalu Sehun pasti sedang berbalas pesan dengan Luhan noona. Padahal Luhan noona ada di kamar sebelah. Kenapa tidak langsung bertemu saja, ya?"
"Kau pikir dirimu tidak seperti itu, hyung? Siapa yang selalu asyik berbalas pesan dengan Baekhyun noona, padahal ia dan Baekhyun noona berada di ruangan yang sama yaitu di ruang latihan vocal?"
Skakmat. Chanyeol justru mati langkah karena Jongin menyindirnya. Mau tak mau wajah Chanyeol memerah karena malu.
Ia sendiri tak tahu kenapa ia jadi sangat dekat dengan Baekhyun. Mereka belum menjalin hubungan khusus sampai sekarang. Hanya sangat dekat saja.
Sehun dan Joonmyeon juga sama. Mereka belum menjalin hubungan dengan Luhan dan Yixing. Mungkin mereka masih berada pada tahap pendekatan.
"Sedang apa kalian berdua disitu?" pertanyaan Joonmyeon membuat Chanyeol dan Jongin menoleh padanya.
Pria pendek itu baru selesai bertelepon ria. Mungkin sambungan teleponnya terputus karena pulsanya habis.
Sehun pun sudah meletakkan ponselnya, acaranya berkirim pesan singkat juga sudah berakhir.
Chanyeol dan Jongin nyengir polos. Mereka berlari kecil mendekati ranjang, lalu melompat menaiki ranjang itu.
Joonmyeon akhirnya ikut berpindah ke ranjang. Duduk bersama ketiga sahabatnya dengan membentuk lingkaran di atas ranjang.
"Ini adalah saatnya, hyung!" Chanyeol memekik heboh sembari tangan kanannya mengangkat tinggi-tinggi sebuah amplop berukuran sedang.
Sehun menatap amplop di tangan Chanyeol dengan bingung. Pandangannya lalu berpindah ke arah Jongin, dan ternyata Jongin juga memegang amplop yang sama. "Amplop apa itu?" tanyanya seraya menunjuk pada amplop Jongin.
"Kau lupa pada amplop ini?" Jongin balas bertanya, tangannya kini mengangkat amplop putihnya ke depan wajah Sehun.
Dan saat itulah Sehun bisa mengenali amplop yang dibawa Jongin. "I—itu...amplop kedua dari Yifan hyung, 'kan?"
Benar. Amplop yang dibawa oleh Chanyeol dan Jongin adalah amplop kedua dari Yifan. Pada amplop itu tertulis angka 2, jadi mereka bisa mengenali amplop itu dengan mudah.
"Iya, ini adalah surat kedua dari Yifan hyung. Kurasa kita sudah bisa membuka amplop ini sekarang. Bagaimana menurut kalian?" tanya Jongin.
Joonmyeon beberapa kali menganggukkan kepalanya. "Benar juga, ya? Hari ini Kyungsoo resmi menemukan pendamping hidupnya yang baru."
Jongin sedikit merona. Baru tadi setelah makan malam ia resmi menjadi kekasih Kyungsoo. Jujur, Jongin sebenarnya ingin cepat meminang Kyungsoo sebelum Kyungsoo melahirkan. Ia tentu tidak ingin melihat anak Yifan lahir tanpa sosok ayah.
Tapi mungkin terlalu cepat jika Jongin ingin segera meminang Kyungsoo. Belum lama keduanya menjalin hubungan, belum lama juga Yifan meninggal. Agaknya Jongin perlu menunggu hingga saat yang tepat untuk meminang Kyungsoo.
"Iya, hyung! Kita buka sekarang ya surat ini? Aku penasaran pada isinya!" Chanyeol yang sudah tak sabar kini mulai bergerak-gerak brutal.
"Tenanglah, Yeol," tegur Joonmyeon. Pemuda itu selanjutnya bangkit dari ranjang dan berjalan menuju lemari pakaian. "Aku ambil dulu amplop milikku. Kau juga, Hun. Ambil amplop milikmu."
Sehun sempat mendengus sebelum akhirnya mematuhi perintah sang hyung. Ia menyusul Joonmyeon ke lemari pakaian dan mencari amplop miliknya.
Beberapa menit berlalu, dan Joonmyeon serta Sehun sudah kembali ke atas ranjang dengan amplop putih di tangan mereka masing-masing.
Empat sahabat itu diam untuk beberapa saat dengan ekspresi yang sama seriusnya. Mereka tentu merasa penasaran pada isi surat Yifan.
"Kalian sudah siap?" tanya Joonmyeon. Ketiga sahabatnya mengangguk. "Baiklah...kita buka dalam hitungan ketiga. Satu...dua...tiga..."
Krek. Suara amplop yang dirobek terdengar di kamar itu.
Empat amplop sudah dibuka, dan empat pria itu mengambil kertas yang ada di dalamnya.
Kertas dari dalam amplop sudah ada di tangan mereka masing-masing, dan mereka pun menggerakkan mata mereka untuk melihat kertas mereka satu sama lain yang masih terlipat rapi.
"Kertas milik kita bertiga berwarna putih, tapi kenapa kertas milik Jongin berwarna kuning?" tanya Sehun.
Tiga orang yang diberi pertanyaan hanya bisa mengangkat bahu. Mereka tak tahu jawaban dari pertanyaan sang magnae.
"Daripada penasaran, kita langsung baca saja isi suratnya. Bagaimana?" usul Chanyeol.
Usulan Chanyeol itu diangguki oleh tiga sahabatnya. Mereka berempat akhirnya membuka lipatan kertas di tangan masing-masing, kemudian mulai membaca surat kedua dari Yifan...
Isi surat putih (untuk Joonmyeon, Chanyeol, Sehun):
Jika kalian sudah membaca surat keduaku ini, maka kalian pasti sudah menemukan pendamping hidup untuk Kyungsoo-ku.
Ah, tidak! Ia sudah bukan milikku lagi, tapi ia sudah menjadi milik pria yang kalian pilih untuknya.
Aku ingin mengucapkan terimakasih karena kalian bersedia memenuhi permintaanku. Aku percaya jika pria pilihan kalian adalah yang terbaik. Ia pasti tulus mencintai Kyungsoo, 'kan?
Jujur, aku sedikit merasa khawatir saat aku meminta kalian untuk menjaga Kyungsoo. Bukannya aku tidak percaya pada kalian, tapi aku merasa kalian akan jatuh hati pada Kyungsoo, karena Kyungsoo adalah sosok wanita yang sangat pintar membuat pria jatuh hati. Apa aku benar?
Tapi hari ini kalian sudah membuka suratku. Itu berarti, kalian telah memilih satu pria saja, dan kalian akhirnya mengalah.
Terimakasih karena kalian mau mengalah. Ingatlah kata-kataku ini. Mengalah bukan berarti kalah. Aku yakin jika kalian kelak akan menemukan wanita yang kalian cintai dan mencintai kali dengan tulus.
Sekali lagi, terimakasih. Aku sekarang bisa tenang di surga. Aku akan mengawasi kalian sambil tersenyum.
Selamat tinggal, sahabat-sahabatku...
Salam sayang,
Wu Yifan
Isi surat kuning (untuk Jongin):
Hai, adik kecilku. Apa kau tahu bahwa warna surat untukmu ini berbeda dengan warna surat untuk sahabat-sahabat kita yang lain?
Aku memang sengaja memilih kertas dengan warna yang berbeda. Kenapa? Karena kau istimewa.
Kau pasti sudah hafal dengan ucapanku itu karena aku sering mengucapkan itu padamu atau pada yang lainnya. Tapi ucapanku tadi bukan seperti yang biasanya. Kau istimewa, tapi kali ini bukan bagiku. Kau istimewa bagi...Kyungsoo.
Kau kaget karena aku bicara seperti itu? Percaya atau tidak percaya, aku sudah tahu tentang semua itu satu minggu sebelum aku menulis surat ini.
Saat itu aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku itu ada Kyungsoo dan dirimu. Kalian berdua ada di atas ayunan kayu yang begitu indah. Kalian saling melempar senyum bahagia satu sama lain. Kau mengusap rambut panjang Kyungsoo, dan Kyungsoo terus menatapmu.
Aku juga ada di dalam mimpiku itu. Aku melihat kebersamaan kalian dengan mata kepalaku sendiri. Tapi anehnya, aku sama sekali tak marah dan cemburu. Dalam mimpiku itu aku justru tersenyum bahagia melihat kalian berdua.
Percaya atau tidak, aku tahu bahwa takdir akan menyatukan dirimu dan Kyungsoo.
Dalam surat pertamaku aku meminta kalian untuk mencarikan pendamping hidup bagi Kyungsoo, tapi sebenarnya aku tahu bahwa kau yang akan menjadi pendamping terakhir Kyungsoo.
Prediksiku benar, 'kan? Sekarang kau bersama Kyungsoo, 'kan?
Jika aku benar, maka aku sangat bahagia, Jongin. Jika kau berpikir bahwa aku akan marah karena kau mengambil Kyungsoo dariku, maka kau salah besar. Aku justru merasa bahagia, karena kau adalah yang terbaik untuk Kyungsoo-ku. Ah, tidak! Sekarang ia sudah menjadi Kyungsoo-mu.
Jongin...kumohon jaga Kyungsoo selamanya. Bukan untukku, tapi untuk Kyungsoo dan untuk dirimu sendiri.
Jika kau bersedia mengabulkan permohonanku itu, maka aku sangat berterimakasih padamu. Aku akan sangat merasa bahagia.
Aku akan semakin bahagia jika aku boleh menitipkan sebuah nama untuk anakku. Ah, tidak. Anakku akan menjadi anakmu. Tapi aku sangat ingin memberinya nama. Bolehkah, Jongin? Kuharap boleh.
Firasatku mengatakan bahwa bayi yang dikandung oleh Kyungsoo berjenis kelamin laki-laki. Jadi, aku ingin memberinya nama...Kim Tae Oh. Iya, aku ingin bayiku bermarga Kim, karena mulai sekarang, ayahnya adalah Kim Jongin.
Tae artinya adalah 'hebat', dan Oh artinya adalah 'lima'. Kita adalah lima sahabat hebat, dan kuharap anak yang dikandung oleh Kyungsoo akan menjadi hebat seperti kita berlima, yaitu seperti Wu Yifan, Kim Joonmyeon, Park Chanyeol, Kim Jongin, dan Oh Sehun. Bukankah itu adalah nama yang sempurna?
Maaf karena aku terlalu banyak meminta, tapi izinkan aku meminta satu hal lagi. Kumohon, sayangi Do Kyungsoo dan Kim Taeoh untuk selamanya, dan berjanjilah bahwa kalian akan selalu bahagia.
Satu lagi, Jongin. Dalam surat pertamaku aku meminta kau dan sahabat-sahabat kita untuk menjaga Kyungsoo selama tiga bulan, padahal maksud dari angka tiga bulan itu adalah aku ingin kau menikahi Kyungsoo setelah tiga bulan kepergianku. Apa kau bersedia, Jongin?
Sekian saja suratku ini. Terimakasih untuk semuanya, Jongin. Aku sangaaaat menyayangimu.
Salam sayang,
Wu Yifan
Jongin mengangkat kepalanya begitu ia selesai membaca surat Yifan. Matanya sudah basah karena air matanya membanjir.
Saat ia sudah mengangkat kepalanya, ia mendapati tiga sahabatnya sedang memandangnya dalam diam. Sepertinya mereka sudah lebih dulu selesai membaca surat dari Yifan. Mata mereka juga basah, mereka juga menangis.
"Bodoh sekali," Jongin tertawa miris sembari mengusap air mata di pipinya. "Yifan hyung sudah tahu tentang segalanya, tapi tetap mengerjai kita dengan surat pertamanya."
"Apa maksudmu, Jongin? Apa isi surat kita berbeda?" tanya Chanyeol.
Jongin mengangguk. "Ya, isi surat kita berbeda," ia tersenyum. "Seminggu sebelum Yifan hyung menulis surat untuk kita, ia bermimpi melihatku bersama Kyungsoo noona. Dari situlah Yifan hyung seperti mendapat petunjuk bahwa aku akan berjodoh dengan Kyungsoo noona."
"Apa?" karena penasaran, dengan cepat Sehun merebut surat Yifan dari tangan Jongin, kemudian membaca surat itu bersama Joonmyeon dan Chanyeol.
Begitu selesai membaca surat itu, tiga pria itu langsung menatap Jongin dengan mulut menganga.
"Kita dipermainkan oleh sepucuk surat," Joonmyeon tertawa.
Jongin ikut tertawa. "Tapi surat itu yang membawaku pada takdir cintaku, dan mungkin juga takdir cinta kalian."
Empat sahabat itu tertawa. Benar juga apa yang dikatakan oleh Jongin.
Lewat surat pertama, Yifan meminta empat sahabatnya untuk menjaga Kyungsoo dengan tinggal di apartment-nya.
Karena permintaan dalam surat itu, Jongin bisa mengenal Do Kyungsoo, saling jatuh cinta, dan akhirnya saling memiliki.
Karena permintaan dalam surat itu, pada suatu ketika Joonmyeon jadi harus menjemput Kyungsoo di kantor, dan di tempat itu ia bertemu dan berkenalan dengan Zhang Yixing.
Karena permintaan dalam surat itu, Sehun bisa bertemu dengan Luhan di apartment Kyungsoo. Sehun juga bisa mengenal Lee Jaera yang menganggapnya sebagai sosok ayah.
Karena permintaan dalam surat itu, pada suatu hari Chanyeol mengajak Kyungsoo ke tempat kerjanya, dan bertemu dengan Byun Baekhyun. Karena godaan Kyungsoo, Chanyeol akhirnya dekat dengan Baekhyun.
"Walaupun menyebalkan, tapi surat Yifan hyung berhasil mengubah hidup kita," ujar Sehun.
"Tapi ada satu yang tidak berubah dari hidup kita," Jongin menimpali.
Chanyeol mengernyit sebelum bertanya. "Apa itu?"
Jongin tersenyum sebelum menjawab. "Yang tidak berubah adalah..." Jongin memberi isyarat pada sahabat-sahabatnya untuk mendekat, kemudian ia memeluk tiga sahabatnya itu. Kini mereka berpelukan layaknya teletubies. "Persahabatan kita. Kita mendapat banyak ujian persahabatan, tapi pada akhirnya semua tidak ada yang berubah. Persahabatan tetap di atas segalanya dan menjadi pemenang."
Empat sahabat itu saling melempar senyum, kemudian mengeratkan pelukan mereka.
Surat Yifan berhasil mengubah kehidupan mereka. Mengubah jalan cerita cinta dalam hidup mereka.
Tapi surat Yifan tak mengubah persahabatan mereka. Surat Yifan justru membuat tali persahabatan mereka terikat semakin kuat.
Sungguh indah kisah persahabatan mereka. Semua merasa bahagia. Yifan pun merasa bahagia. Ia kini memandang empat sahabatnya dari balik jendela kamar. Ia tersenyum sangat bahagia. "Aku sangat menyayangi kalian. Kuharap kalian selalu bahagia dan selalu bersama," setelahnya, bayang-bayang Yifan menghilang bersamaan dengan hembus angin di luar kamar...
..
..
END
Author's Note:
Akhirnya tamat jugaaaaa~
apa ini mengecewakan? pasti bakal ada yang berkomentar kalau moment KaiSoo-nya kurang. hehe. emang di chapter ini aku lebih menonjolkan perihal surat Yifan karena itulah judul FF ini. jadi mohon dimaafkan ya kalau aku gak bisa ngasih banyak moment KaiSoo :(
mohon maaf juga kalau selama perjalanan FF ini aku banyak salah. maaf kalau tidak bisa memuaskan para reader. aku akan belajar menulis lagi setelah ini :)
side story-nya mungkin gak bisa dalam waktu dekat, tapi aku usahain gak bakal terlalu lama juga. semoga aku ada waktu luang buat ngetik.
oke, terimakasih untuk semua reader yang setia mengikuti FF ini. aku mencintai kaliaaaaan~ sampai jumpa di FF lainnya yaaa.
salam sayang, rizdyo12 :*
