Chapter 2..

.

.

.

.

.

.

.

.

JongUp membuka matanya yang terusik akan cahaya matahari yang memngetuk kelopak matanya agar terbuka. JongUp membuka matanya perlahan lalu mengedipkannya beberapa kali agar ia bisa membiasakan cahaya yang masuk ke dalam matanya.

"Ugh" ia meregangkan badannya. Ia menghelah nafas dan menatap kearah langit-langit kamarnya. Eh? JunHong?- pikirnya sekilas lalu ia menoleh ke sampingnya.

Ia tak menemukan namja bertopeng itu. Betapa kecewanya muka JongUp saat melihat ketiadaan JunHong di sampingnya. Ia mendudukan dan menggaruk kepalanya yang gatal. Ia melirik jam dinding dikamarnya.

"Eumh.. masih jam 9 pagi" ia segera mandi dan turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama Hyeong-Hyeongnya.

"Hai JongUp" sapa Himchan ramah. JongUp menatap Himchan datar namun Himchan tahu bahwa adiknya dalam hati menyapanya. JongUp duduk pertengahan Yongguk dan Daehyun. Himchan duduk disebelah Yongguk dan Yongjae di sebelah Daehyun.

"Kau sudah mengangkat koki baru?" Tanya Yongguk pada Himchan yang sedang meneguk minumannya. Ia menggeleng pelan.

"Aku yang masak, lagipula aku juga tak ada kerjaan. Kau dan Daehyun mengurusi perusahaan, YongJae juga. Lagipula aku ingin menemani JongUp" Himchan berhenti dengan senyuman angelicnya. Yongguk menatapmya kaget.

"Terimakasih Hyeong" ucap JongUp tiba-tiba. Semuanya menatap JongUp kaget, terkecuali Himchan ia menatap JongUp lembut.
"Sama-sama" balasnya dengan senyum. Tanpa mereka sadari Yongguk yang ditengah mereka memasang wajah kesal.

"Aku berangkat" Yongguk keluar rumah bersama Daehyun dan Yongjae untuk berkerja.

"Kau mau ke kamar lagi?" Tanya Himchan saat JongUp beranjak dari kursinya. JongUp mengangguk pelan lalu berjalan ke kamarnya.

Kamarnya masih gelap, karena gorden kamarnya belum ia buka.

"Jangan dibuka!"

Suara JunHong tiba-tiba saja muncul. Mata JongUp menoleh ke belakangnya.

JunHong sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan wajah. JongUp mengurungkan niatnya untuk membuka gordennya.

"Kau kemana saja? Aku mencarimu tau!" Ucap JongUp kesal. JunHong tersenyum mendengar ucapan kesal JongUp. Ia duduk dikasur JongUp.

"Tadi kau kemana?" Tanya JongUp penasaran, namun JunHong tak menjawab dan malah memainkan kakinya yang tergantung.

"Kau masih tidak membuka topeng itu?" Lagi-lagi JongUp bertanya. Namun kali ini ia menyita perhatian JunHong.
"Kenapa? Kau mau lihat wajahku? Kujamin kau tak akan mau melihatnya" tolak JunHong sambil mamalingkan pandangannya. Namun bukan Moon JongUp kalau menyerah.

"Tak apa, aku ingin melihatnya, apa tak boleh? Kita kan teman?" Ucapan JongUp membuat JunHong tertawa.

"Iya akan kubuka,"

'Sreett..'

Tangan lentiknya membuka topeng itu dengan lambat.

"Hey! Ayolah jangan bercanda!"

'Sreet..'

JunHong langsung membuka topeng itu dengan sekali tarik.

"Astaga!" Kagum JongUp dengan pelan.
Wajah manisnya yang seperti barbie itu tertutup dengan topeng yang mewah. Haih.. kenapa aku bisa merasa takut tadinya- umpat JongUp.

"Wajahmu manis, kenapa tidak kau buka terus topeng mu itu?" JongUp mengambil topeng JunHong. Namun JunHong secepat kilat mengambilnya kembali.

"Karena topengku 'yang ini' sangat berharga untukku.." balas JunHong dengan nada penekanan di kata tersebut.
"Hanya orang spesial yang dapat melihat wajah asliku" ucapnya sambil tersenyum pada JongUp. JongUp mengangguk mengerti, sesungguhnya tidak terlalu mengerti.

"Jadi aku spesial?" JunHong segera memutar bola matanya malas. Apakah dia lamban mengerti- pikir JunHong.

"Hemh.." dehemnya sambil mengangguk malas. JongUp sangat senang lalu mengambil topeng mewah JunHong dan segera berbaring sambil mengangkat topeng itu dengan kedua tangannya yang lurus keatas. JunHong juga merebahkan dirinya disamping JongUp dan memeluknya.

"Istimewah ya?" Himchan yang tak sengaja melewati kamar JongUp sedikit tersentak saat melihat JongUp yang sendiri sambil memegangi topeng cantik dan klasik itu. Ruangan kamarnya juga gelap, ia layaknya berbicara dengan orang lain.

"Kemarin aku tak lihat ada yang memkai topeng itu" ucap Himchan lalu bergidik dan cepat-cepat untuk melakukan beres-beres rumah.

Malam pun tiba. Akhirnya Yongguk, Daehyun, dan YongJae pulang dari kantor. Himchan dan JongUp sudah menunggu di meja makan.

"Selamat datang.. makan dulu baru kalian bersih-bersih" dengan tutur lembut Himchan, mereka bertiga duduk. Mereka makan dalam diam hanya ada suara gesekan garpu, sendok dan piring.

"Aku kenyang.." Ucap JongUp dengan wajah datarnya.
"Tapi kau masih ada setengah" Himchan setengah kecewa mendengar kata adiknya. JongUp langsung berdiri dan meninggalkan mereka.

..

Himchan dan Yongguk sekarang berada di kamar mereka. Himchan terduduk dipinggiran kasur sambil berfikir keras kejadian tadi.

"Yongguk"
"Ehm?" Yongguk baru saja memakai kaos tidurnya menoleh kearah Himchan yang menatapnya dalam.

"Apa?" Yongguk mendudukan dirinya disamping Himchan. Himchan menundukan kepalanya berfikir apakah ia harus menceritakannya pada Yongguk?.

"Ehm.. tadi siang aku melihat JongUp bertingkah aneh, ia seperti berbicara pada seseorang padahal ia sendiri di kamarnya yang gelap.." Jelas Himchan sambil menggigiti kukunya. Yongguk yang malas melihat kelakuan Himchan melepaskan tangannya dari gigi kelincinya.

"Dan.. aku melihat ia memegang sebuah masker putih dengan corak mawar emas, aku tak tau itu milik siapa, tapi aku yakin kemarin tidak ada yang pakai itu!" Himchan mulai ketakutan sekarang. Himchan mengambil bantal dan memeluknya erat.

"Kita akan cari tahu nanti, kau tidur saja oke?" Himchan mengangguk dan mulai tertidur dengan lelap.

.
.

(Another Mask)

.

.

"Pagi ini sangat segar" Himchan segera membangunkan dirinya yang sebenarnya sudah telat bangun karena Yongguk, Daehyun, dan YongJae meninggalkannya kerja duluan.

"Aku harus bangunkan JongUp!" Himnchan segera keluar kamarnya dan masuk tanpa mengetuk pintu kamar JongUp terdahulu.

"JongUp-ah, kau harus- kau sudah bangun ruapanya.." Himchan tersenyum manis.

Di kamar yg gelap itu JongUp sedang membuka lemari pakaiannya, bersama JungHong disampingnya.

"Aku akan membuka gordennya" Himchan berjalan kearah jendela kamar JongUp yg tertutup rapat.

"TIDAK!"

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued . . .