Chapter 4
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini YongJae memiliki waktu senggang untuk liburannya dari kantor sebagai asisten kerja Yongguk. YongJae mendudukan dirinya di sofa kamarnya sambil menyelonjorkan kakinya.
"Sudah lama aku tidak membaca buku komikku, ckk.. sudah numpuk semua lagi komik mingguanku" YongJae berdecak sebal lalu berdiri mengambil kardus yang berisi komik langganannya yang kebanyakan berceritakan misteri.
Ia mengambil buku bertuliskan 'sick illusion' ia membuka page pertama buku itu.
'Ini diambil dari kisah nyata seorang pria muda yang memiliki kecerdasan luar biasa namun ia memiliki sebuah ilusi yang hebat' YongJae membaca kalimat itu dengan suara manisnya.
"Apa ini? Sepertinya seru, lagi pula tak ada serinya.. aku bisa membacanya hingga habis.." YongJae membuka halaman ke 1 dan membacanya hingga habis.
.
.
.
.
.
'Ia cenderung mengunci diri di kamar, ia suka melakukan hal aneh, dan ia juga pendiam' kata-kata itu membenak di otak YongJae. Ia terus berfikir akan kisah yang baru ia baca.
YongJae sadar bahwa itu seperti tingkah adiknya sekarang. JongUp jarang keluar kamar, ia juga pendiam, Himchan juga mengatakkan bahwa ia suka berbicara sendiri.
"Astaga! Apa yang harus ku lakukan? Aku harus mengatakan kepada Yongguk Hyeong!" YongJae segera keluar kamarnya dan ia memasang jaket sembari berjalan ke pintu depan.
"Hai Hyeong mau kemana?" YongJae bergidik. Seluruh tubuhnya merinding merasakan hawa dingin di belakangnya.
Klek.
Mata YongJae terbelalak.
Pintunya terkunci!
YongJae membalikkan badannya dan melihat sosok adiknya yang berantakan.
Mata sipitnya merah dan berkantung, kausnya dan rambutnya acak-acakan, dan wajahnya sedikit bengkak karena terlaku banyak tidur.
Namun YongJae mengingat lagi apa yang barusan ia baca. Ia segera mencari ide yg cemerlang. JongUp masih diam di sana, tapi pancaran matanya memperlihatkan api membara.
"Kau belum mandi? Kau terlihat berantakan" YongJae berusaha tersenyum tulus. JongUp menatap sekeliling.
Bukannya menjawab ia malah menggaruk kepalanya yang gatal karena belum mandi. Tak lama kemudian ia berhenti menggaruk dan mencongkel-congkel selipan kukunya.
"Tidak berguna" ucapnya sambil melirik YongJae yang tersentak kaget. Matanya tersirat hasrat membunuh yang mematikan. YongJae memundurkan langkahnya perlahan.
'Tidak! Aku tak boleh mati! Aku harus memberitahu hyeong yang lain!' Batinnya lalu segera menggapai Handphonenya di saku jaketnya.
BRRAAKKHH!
"Akh!" Tubuh ringkih YongJae terduduk pasrah di lantai setelah punggungnya membentur keras tembok luas di dekat pintu.
Handphonenya terlempar jauh. YongJae perlahan membuka matanya setelah menahan sakit di punggungnya. Manik cokelatnya menatap JongUp yang berdiri di depannya dengan wajah datar.
"Kau- Percayalah! Dia tidak ada JongUp!" YongJae berusaha bangkit dari duduknya. Ia mencengkram pundak JongUp kencang dan menggoyangkannya.
"Lihat dia! Dia tidak ada! Aku tak bisa melihatnya!" JongUp menoleh ke kirinya. JunHong menundukan kepalanya, ia tak menunjukkan wajahnya.
"Kumohon JongUp, sadarlah.. " YongJae menangis di dada JongUp, ia takut, ia gelisah, ia tak mau adiknya sengsara, ia tak mau mati.
"J-JunHong.." panggil JongUp. Junhong masih terisak dalam tundukannya.
YongJae terduduk lagi di lantai. JongUp tergerak menghampiri JunHong yang menangis. Ia mengusap kepala JunHong yang terisak.
"JongUp hentikan! Ia tak nyata.." YongJae masih bersih keras untuk menyadarkan YongJae.
"Kau, kau hanya bercanda.. Iya kan Hyeong?" Nada JongUp sangat dingin. YongJae dengan matanya yang sedikit buram karena air mata melihat tangan JongUp yang bergerak kosong diudara.
"Jawab aku Hyeong!"
"Akhh!" JongUp menjambak rambut karamel YongJae dengan kasar. YongJae terpaksa mendangakan kepalanya dan menatap JongUp.
"Kau bohong! Lihat dia disana! Ia menangis karena mu!" YongJae mengikuti arah tangan JongUp, namun ia tak melihat apapun.
"Aku bersumpah JongUp, kau terkena sindrom Sick Illussion, sadarlah!" JongUp melepas cengkaramannya dari rambut YongJae.
PLAAK!
YongJae tersungkur ke samping. Tamparan keras JongUp menerpa pipi chubbynya. YongJae memgangi pipinya yang memerah.
"JongUp! Dia bohong! Dia menyukaimu! Dia mau mengambil dirimu dariku!" JunHong segera berlari cepat. JongUp segera menyusulnya. Mereka berhenti di dapur.
Sriingg..
JunHong mengambil pisau daging. JongUp mencegah tangannya.
"Semua bisa dilakukan dengan baik-baik!" JunHong menatap JongUp geram.
"Tidak! Kau tidak mengerti!"
"Cukup JunHong!" JongUp memeluk tubuh JunHong yang ringkih. JunHong menangis di dalam pelukannya.
YongJae yang merasa ada kesempatan segera mengambil ponselnya.
Ia segera membuka pesan dan mengetik huruf.
To : Yongguk Hyeong..
'Hyeong cepat pulang! Aku memohon padamu, sungguh kau harus pulang!' Ia menyentuh tombol send dan mengirimi pesan itu berulang kali.
Tak puas dengan sms, YongJae segera menggeser tombol kontak Yongguk ke kanan.
Tuutt.. Tuttt.. Tutt..
"Hyeong ayo angkat!" YongJae menggerutu sebal.
SRRRAAKK!
"GYAAAHH!" JongUp menggeret YongJae kearah taman belakang dengan kaki sebagai bahan tarikannya.
"JongUp hentikan!" YongJae berusaha memegang apapun yang ada di lantai agar memperlambatnya.
"Hentikaaaan!" Pekik YongJae. Air matanya mengucur tak tahan menahan sakit.
ZRRRUKKK!
YongJae mencakar tanah rerumputan taman. Ia tak peduli dengan kotoran apapun yang memasukki kukunya.
BRUG!
JungHong membanting kaki YongJae di depan bongkahan tanah yang ia gali.
"Hentikaaaan!" Jerit YongJae dengan nada melengking. Namun JongHong tak memberi ampun baginya. JungHong mengambil pisau di saku celananya.
Srreeekkhh!
"Aaaakkhh!" YongJae menjerit. JunHong menggesekkan mata pisau tajamnya ke urat nadi YongJae.
"Ekhh.. heengghh.. hengghh" YongJae mulai sesak nafas. Pergelangan tangannya mengeluarkan banyak darah.
JREAAAKK!
"GYAAAAHHH!"
"Ahahahaha" JunHong tertawa. Tertawa melihat YongJae yg tersiksa. YongJae belum mati walaupun tangannya sudah buntung sekarang, walau urat nadi tangan kanannya sudah putus semua.
"Eekghh!" JunHong menggeret YongJae dengan menarik rambutnya ke dalam bongkahan galian tanah yang ia buat.
Brughh..
Tubuh YongJae yang sudah tak berdaya itu terjatuh.
"Hehh.." dengan nafas yang terengah YongJae menolehkan kepalanya kesamping.
DEG!
Itu...
Kim Himchan!
Himchan yang sudah pucat dan membusuk.
"Ekhh" hujan tanah mulai menghujamnya.
"YAA! Emmphh!" Terlambat untuknya menolong diri, JunHong sudah mulai menimbun tanah itu kembali tanah itu. Ia mengubur YongJae hidup-hidup.
"Makan itu! Dasar kau tidak berguna! Masalah besar!" JunHong menginjak-injak gumapalan tanah itu dengan sekuat tenaga agar tanah itu rata kembali.
"Mati kau di dalam sana! Bedebah!" JunHong meninggalkan YongJae yang sudah kehabisan nafas dan mati di dalam sana.
.
.
(Another Mask)
.
.
Drrrttt! Drrrttt!
Sebelum Yongguk mengengkat panggilan telfonnya, panggilan itu sudah di matikan terdahulu.
From : YongJae
'Hyeong cepat pulang! Aku memohon padamu, sungguh kau harus pulang!'
Dia kenapa?- pikir Yongguk.
To : YongJae
'Ada apa? Kenapa mendesak?' Ia mengirim pesan balik pada YongJae.
From : YongJae.
'Tak apa, tadi aku hanya butuh sedikit bantuan untuk mengemas pakaian tadi. Aku akan pergi menemani Himchan Hyeong'
"Menemani HimChan? Baiklah tak apa, lagipula masih ada Daehyun" gumamnya pelan.
To : YongJae
'Tak apa.. jaga dia baik-baik ne?'
From : YongJae
'Kami akan segera "mengajakmu nanti"
"Sama saja dengan Himchan haha.." Yongguk terkekeh dengan gemas atas kedua adiknya yg telah pergi berwisata ke tempat tak berujung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued...
oke sesuai janji chap 4 udah kebuat, jangan lupa reviewnya yaa..
