Chapter 5. . .
.
.
.
.
.
.
.
"Hoam.." JongUp keluar dari kamarnya yang gelap gulita, ini masih jam 8 pagi dan dia sudah keluar kamar sambil menggaruk punggungnya.
JongUp bertujuan untuk ke meja makan, namun saat melewati kamar Daehyun. Ia tiba-tiba berhenti dan melirik ke dalam pintu yang sedikit terbuka.
"A-APA?" JongUp tersentak kaget.
JunHong? Dan Daehyun?
Di dalam kamar Daehyun?
JongUp melihat sosok JunHong yang sedang duduk di kasur Daehyun sambil menangis. Daehyun sedang duduk di pinggiran kasur sambil memakai kemejanya.
"Hiksss.. JongUppie.." isakan Junhong terdengar, namun JongUp tak sanggup untuk masuk ke kamar Daehyun dan melanjutkan jalannya ke ruang tengah.
'Pssshhh..'
JongUp duduk di sofa merah maroon di ruang santai. Ia menyederkan seutuhnya tubuhnya di sofa. Kepalanya mendangak dan melihat langit ruang tengah.
"Apa-apaan dia? Menusukku dari belakang?" Gumam JongUp kesal sambil mendecak sebal. Ia benci saat melihat tangisan Junhong, ia benci saat Junhong cemburu, ia benci saat Junhong dengan orang lain.
"JongUp, aku akan ke kantor. Ada urusan yang harus ku selesaikan, aku akan pulang sekitar jam 9 malam nanti. Bilang pada Daehyun juga ya.." jelas Yongguk sambil memakai mantel dinginnya.
'BRAAAGH!'
Pintu depan tertutup dengan kencang. JongUp tersenyum, rangkaian seringai terbuat di wajahnya yang polos.
"Aku akan melakukannya, ini giliranku.." ia terkekeh sendiri lalu terdiam dan memikirkan sesuatu.
Sesuatu rencana, rencana untuk membalas perbuatan Daehyun.
.
.
(Another Mask)
.
.
"Uwahh! Sudah jam 7 malam rupanya, aku lapaar, huh si Chubby YongJae itu kemana sih? Lagian Himchan Hyeong juga ngapain pergi-pergi?" Daehyun segera membongkar kulkas dan mencari makanan favoritnya, Cheese cake.
"Hemm.. it will be nyam-nyam.." ucapnya sambil menaruh cup berisi cheese cake di meja. Ia menggeser kursi dan duduk.
"Eh?" Daehyun celingak-celinguk mencari barang terpenting yaitu sendok. Ia mengeplak kepalanya sendiri dan berdiri untuk mengambil sendok di dapur.
"Nom.. Nom.." Daehyun berjalan sambil bersenandung riang. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat punggung seseorang di sana.
"Heh! Apa yang kau lakukan? Cheese cake-ku!" Daehyun segera berlari dan mengambil Cheese cakenya dari JongUp.
"Haaaihh! Habis!" Daehyun menatap JongUp sebal dan amarah. Ia mendekati JongUp dan menarik kerah bajunya.
"YAAAK! KENAPA KAU MAKAN CHEESE CAKE-KU?" Daehyun mengguncang tangannya dan membuat kepala JongUp tergerak menunduk dan mendanga.
"HENTIKAN!" JongUp membanting tangan Daehyun kasar. Daehyun kaget akan sikap JongUp. Kenapa adiknya bisa seperti ini? Apa salahnya?.
"Kau! Kau musibah!" Daehyun langsung mendorong JongUp hingga terjatuh di lantai.
"Kau tahu? Aku ini masih bersabar mau menjadi Hyeong-mu!" Daehyun sudah terbawa emosi dengan JongUp. Sudah jelas bukan dia tak melakukan apa-apa?.
JongUp berdiri ia menatap Daehyun geram. Namun perlahan sebuah senyum remeh terbentuk di wajahnya. Tanpa berucap apa pun dia meninggalkan Daehyun yang masih kesal.
"Bedebah!" Rutuk mereka berdua berbarengan.
"Sial sekali namja itu!" Geram JongUp sebal pada Daehyun. Junhong hanya duduk sambil tertunduk di kasur JongUp.
JongUp menatap Junhong dengan kesal.
"Betapa bodohnya.." gumamnya sambil bermaksud menyindir Junhong. Junhong makin tertunduk.
"Itu salahmu, kau tak melindungiku!" Sahutnya tak terima.
"Andaikan saja kau mendengarkanku! Bahkan aku membirkanmu membunuh Hyeongku!" Bentak JongUp balik Junhong menatapnya kaget, tak beberapa lama kemudian matanya berubah menjadi sedikit merah.
"Seharusnya aku tak mau denganmu! Brengsek!" Junhong menggebuk JongUp dengan bantal dan guling yang ada disana secara brutal.
"HENTIKAAN!"
'PLAAAKK!'
Tangan lebar JongUp menepak keras pipi Junhong yang putih mulus itu, membuatnya merah.
"Kau akan menyesali ini JongUp!" Ancam Junhong pada JongUp. JongUp kesal dan akhirnya keluar kamarnya sambil membanting pintu kasar.
Ia berjalan ke arah taman yang luas dimana diujung sana ada dua orang yang terkubur. JongUp berpikir sejenak, mungkin kali ini dia harus meminta maaf pada Daehyun. JongUp tidak mau lagi kalau Hyeongnya harus menjadi korban lagi.
JongUp melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan kearah kamar Daehyun.
"YAAA! APA YANG KAU LAKUKAN!" Daehyun menahan tangan lentik yang mendorong mata pisau kearahnya.
"YAAA! JONGUP HENTIKAAAN!" JongUp tersentak, apa yang Hyeongnya teriakan? JongUp? Tapi dia di depan pintu.
"JUNHONG!" Mata Daehyun membelalak. Ia melihat JongUp yang menindihnya menarik kembali pisau itu dan menjauh darinya.
'Praangg..'
"ARGHH!" JongUp menjambak rambutnya frustasi.
"Pergi kau Junhong! Sudah cukup aku menyesal denganmu!" JongUp mendorong Junhong yang sedang menindihnya.
"Tidak! Kau selamanya milikku!" Junhong menarik baju JongUp dan mempetkannya di tembok.
"KAU MILIKKU!"
'SRAAAKK!'
JongUp tak sengaja mencakar Wajah Junhong.
'PRAANK!'
Layaknya topeng wajah itu terjatuh dan hancur. Mata sipit JongUp menatap tak percaya.
" MATI KAU JONGUP!"
Wajahnya yang hancur karena baret dalam dan beberapa cabikan.
Sebelah Bola mata yg memutih dan memerah.
Singgungan mulut robek yang penuh darah.
'DEP!'
JongUp menatap Daehyun yang kaget. Ia segera menarik tangan Daehyun dan membawanya keluar rumah.
"JongUp! Apa yang kau lakukan!?" Daehyun membanting tangan JongUp kuat.
"Dengarkan aku Hyeong! Kita harus pergi!"
"Pergi kemana? Dasar kau anehh!" Sahut Daehyun balik kesal akan JongUp.
"Aku minta maaf Hyeong.." setelah mendengarkan ucapan JongUp, Daehyun merasa bersalah. Ia mendekat kearah JongUp.
'GRAAK!'
"GYAAAAAHH!"
"DAEHYUN HYEONG!"
"JONGUP-AH!"
Junhong disana menyerang tiba-tiba tanpa pengheliatan Daehyun. Ia menikam Daehyun dan menggeretnya ke arah semak-semak.
'KRAAAK!'
Tak lama kemudian suara patahan tulang terdengar. Junhong mematahkan leher Daehyun.
JongUp berlari sekuat tenaga untuk mencari jalan keluar.
"Ini sudah jam 9!" JongUp segera berlari kearah rumahnya lagi. Ia segera mencari Yongguk.
.
.
(Another Mask)
.
.
"Kemana anak-anak ini?" Yongguk segera mengacak pinggangnya setelah mengecek seluruh ruangan.
'BRAAAK!'
"Yongguk Hyeong!" Pekik JongUp yg sudah penuh keringat. Mata Yongguk melihatnya dengan tatapan jengkel.
"Kemana saja-"
"Kita harus pergi, Palli!"
"Tidak! Katakan apa yang terjadi!" Yongguk membantah.
"Hyeong! Dia akan membunuh kita percayalah!" Namun Yongguk tak percaya. Ia hanya menatap JongUp malas dan memutar balik badannya.
"Jangan mengkhayal" ia menyepelekan JongUp. Yongguk pergi meninggalkan JongUp yang masih mencoba merajuknya.
Mereka berhenti di dapur. Yongguk mengambil sebuah kaleng beer dan membukanya.
'DEP!'
'Sriiingg..'
Junhong mendekat pada Yongguk. Yongguk yang tidak sadar masih saja meneguk beernya.
'Kreeek!'
"Emphh!" Dengan keras Junhong merauk kaleng bir yang kokoh itu hingga remuk. Membuat Yongguk tersedak hingga tercekik.
"Eeghh!" 10 Jemari panjangnya menyekik leher Yongguk. Yongguk menangkap kedua pergelangan tangan itu dan mencoba menyingkirkannya.
Namun apa dayanya, jika ia pun juga merasa tercekik dari dalam.
"Heh.. hehh.." nafas Yongguk melemah. Matanya menatap sosok diatasnya dengan sayup.
"Apa- yang kau lakukan?" Ucapnya terbata-bata. Nafasnya makin pendek seiring lingkaran ungu yang menajam.
'GREEK!'
'DUGGHH..'
Badan Yongguk terjatuh. Segembong darah mengalir deras di lehernya setelah mata pisau yang tajam membelek tenggorokannya. Matanya masih terbuka sayup. Dan mulutnya masih terbuka.
"A-APA INI!" JongUp kaget. Tangannya penuh darah. Yongguk berada di bawahnya. Lehernya tergorok hingga terlihat daging dan organ dalamnya.
JongUp segera bangkit dari sana. Matanya mengedar ke sekeliling memastikan bahwa makhluk menyeramkan itu tak ada.
"SIAAAL!" JongUp segera pergi dengan badan yang terlumuri darah.
Himchan, YongJae, Daehyun, Dan Yongguk.
Lalu apa lagi yang ia inginkan?
Apa ia masih ingin memebunuh JongUp?
Dirinya? Junhong menginginkan dia?
'Tap..'
Langkah JongUp terhenti, ia berfikir.
Kata YongJae benar, dia hanya khayalan..
Junhong khayalan gilanya yang menghasutnya membunuh.
Junhong, adalah hantu yang terus menggerayanginya.
"Kau menyesal? Menyesal karena mencintaiku?" Suara bisikan serak tanpa suara melewati gandang telinga JongUp. Badan JongUp mengejang kaget.
'TIIIINN!
TIIIINN!
TIIIINN!'
"Ya.. aku menyesal"
'DDUUAAAAGGGHHH!'
Tubuh JongUp terpental beberapa puluh meter dengan tengkorak belakang kepala hancur menghantam aspal.
'ZRAAAAAK!'
Karena pengendara truk itu malah mengencangkan gasnya mencoba untuk lari. Wajah JongUp terlindas dan Hancur tak terbentuk.
.
.
.
.
.
.
.
.
'Aku pergi tanpa bertemu semua Hyeongku, aku tidak tenang, aku menghilang, dan semua Hyeong pergi tak ada kabar.'
'Aku hanya bisa melihat ruangan serba putih yang kosong hampa dengan banyak pajangan topeng disana'
'Beberapa disana seperti wajah menangis, sedih, dan tersiksa. Aku mengelilingi tempat itu dan terus memperhatikan semua ukiran topeng disana'
'Tap..'
"Kau merindukanku?" Suara ringan yang paling ku kenal membuatku menoleh kearahnya. Wajah manisnya masih terukir.
Namun tak lama kemudian ia menyingkirkan wajah manisnya dengan wajahnya yang hancur berantakan.
'DDUUUUAAAAAGGHHH!'
Aku mengingatnya, setelah terbentur keras dengan aspal, aku-
Aku merabah wajahku dan melihat tanganku yang kemudian di penuhi lumuran darah. Dan rasa menusuk menggerayangi wajahku.
.
.
.
"YOU CAN DO CHANGE MASK, BUT YOU CAN HIDE THAT WHAT YOU HIDE IN THAT MASK"
.
.
.
THE END
oke guys, ini chap terakhirnya.
gimana? Bagus gak?
maaf agak telat postnya, author bakal bikin lagi yang lebih seru dari ini, tapi jangan lupa review, fav, and follow yap!
- kecup manis
Author 3112..
