Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Terinspirasi dari Korean Drama "You're All Surrounded"

Tittle: Serendipity

Genre : Drama, Crime, Romance, Hurt/Comfort

Rate: M

Pairing : NaruSaku

Warning : AU, OOC, minim deskriptif, tyopo(s), abal, dll.

.

.

Sumarry : Yamato adalah pimpinan Tim 2 devisi kriminal. Ia tak menyangka bahwa tahun ini ia akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih merepokan. Ia diminta untuk menjadi kapten tim rookie yang ternyata semua anggotanya adalah polisi pemula yang malah membuat kepalanya sakit. Mereka masih naïf dan amatir. Bagaimanakah kisah Yamato-Taichou dalam mendidik para polisi/detektif muda ini? (terinspirasi dari Kdrama "You're All Surrounded")

.

.

Chapter 2: Hostage

.

"Seorang detektif tak dapat menghidupkan orang mati tetapi dapat membunuh orang yang hidup! Satu kesalahan, sedikit salah analisa dapat menghancurkan hidup seseorang, maka jangan pernah bertindak sendirian." —Minato Namikaze—

ooOSerendipityOoo

.

.

Sakura dan Naruto tiba di rumah makan Ichiraku Ramen. Sakura jadi ragu, apa benar ramen di sini sangat enak? Kalau memang ramen di sini sangat enak seharusnya rumah makan ini penuh tetapi dia hanya melihat 7 orang pengunjung; tiga anak SMA, Ino dan Shikamaru, dan dua orang pria. Bersama dia dan Naruto berarti hanya ada sembilan orang pelanggan.

Naruto heran melihat seorang pria berambut orange yang sepertinya sedang stress. Pria itu terus menghindari telepon dari tukang tagih dan mengeluh tentang makanan yang tidak sesuai dengan pesanannya.

"Orang tua, sudah kubilang aku ingin naruto bukan menma!" teriak pria itu.

"Maaf, tuan... narutonya habis dan yang tersisa hanya menma."

"APA?" Naruto sendiri ikut berteriak karena topping kesukaannya habis.

"Eh, Naruto-kun, selamat datang!" sapa Ayame, puteri paman Teuchi.

"Aku tidak mau tahu, cepat singkirkan semua menma ini!" teriak pria itu pula.

"Baik, akan saya buatkan yang baru untukmu." Kata Paman Teuchi yang lekas mebuatkan ramen yang baru.

Belum reda kemarahan si pria, Gai yang baru saja datang malah tak sengaja menendang barang bawaan si pria.

"Gomennasai." kata Gai yang kemudian duduk di salah satu bangku, berhadapan dengan seorang pria lainnya.

"Genma, kenapa kau tidak bilang kalau kau juga mau ke Ichiraku Ramen?" kata Gai yang kemudian memanggil Ayame yang langsung menghampirinya dan membawakan daftar menu.

Sakura menyeret Naruto ke salah satu meja dengan empat buah kursi. Sakura pun langsung menyapa orang-orang yang duduk dihadapannya.

"Ino-san, Shikamaru-san, kalian makan siang di sini juga?"

"Ya, Shikamaru bilang ingin makan ramen." Jawab Ino.

"Paman, bawakan dua botol sake untukku!" kata Gai pula.

"Hey, senpai! Kau tidak boleh minum sake saat sedang bertugas!" tegur Genma.

"Mengawasi para bayi bukan tugas yang berat!" kata Gai yang kemudian tertawa terbahak-bahak karena mengatai Naruto dan Sakura bayi.

Naruto melirik pria berambut orange itu lagi. Pria itu terlihat kesal dan mengepalkan kedua tangannya, sepertinya pria itu merasa terganggu dengan Gai yang berisik. Di dekat bangku yang pria itu duduki, tiga murid SMA juga malah berisik.

"Ya ampun, Hanabi! Kau itu buta atau apa? Bagaimana bisa kau menyukai cowok macam Konohamaru?" tanya seorang gadis berambut merah ikal pada seorang gadis berambut hitam panjang dan memiliki sepasang mata amethyst.

"Iya, padahal kau itu kan cantik! Si Konohamaru itu pembuat onar di kelas, sama seperti kedua temannya. Mereka hanya kumpulan orang-orang payah dan idiot! Apalagi tadi pagi, mereka tadinya mau mengerjai Iruka-sensei tetapi malah kena Anko-sensei. Tentu saja mereka langsung dihukum. Hahaha…." Sambung gadis berambut peach yang diikat twin tail. Gadis itu kemudian tertawa terbahak-bahak dan si gadis berambut merah ikal ikut tertawa.

"Kalian jangan mengatai orang seperti itu, Miru, Tokiko! Itu tidak baik!" tegur si gadis bernama Hanabi. "Lagipula, memang butuh alasan untuk menyukai seseorang?" tambahnya.

"Kau itu aneh, padahal hampir semua siswi di kelas menyukai Uchiha Akira." Kata si gadis berambut merah ikal yang bernama Tokiko.

"Iya, termasuk aku dan Tokiko." Kata si gadis berambut peach yang ternyata bernama Miru.

"Hey, orang tua! Kau itu niat mengganti ramenku atau tidak sih? Lambat sekali!" teriak si pria berambut orange itu pula.

"Gomennasai. Saya bukan hanya harus membuatkan ramen untuk anda tetapi untuk tiga pelanggan saya yang lain juga." Kata Paman Teuchi yang kemudian meminta Ayame untuk mengantarkan ramen pesanan Shikamaru, Ino, dan juga Genma.

"Cepat sedikit!" protes pria itu. Paman Teuchi pun segera mengantarkan dua botol sake pada Gai dan juga ramen pesanannya. Dia kemudian berjalan menuju bangku si pria berambut orange dan meletakkan satu porsi ramen yang baru. Tak lupa dia juga membawa kembali ramen yang ditambahkan menma tadi.

Setelah meletakkan ramen pesanan Shikamaru dan Ino di atas meja, Ayame menyerahkan buku menu pada Naruto dan Sakura.

"Aku pesan Jigoku Ramen Sausage Beef Frank Jumbo!" kata Naruto.

"Aku pesan Jigoku Ramen Chicken Terriyaki level tujuh!" sambung Sakura.

"Ano, Sakura-chan! Apa itu tidak kepedesan?" tanya Naruto.

"Tidak. Aku sangat suka makanan pedas!" jawab Sakura. Ayame mengangguk dan mencatat pesanan Naruto dan Sakura.

"Minumanya?" tanya Ayame pula.

"Lemon Mojito saja." kata Sakura.

"Aku sebotol air mineral saja." Sambung Naruto. Ayame pun lekas pergi dari sana.

"Kau pesan apa, Ino-san?" tanya Sakura.

"Oh, ini Jigoku Ramen Spicy Wings level lima dan juga Mango Mojito."

"Mendokusai! Apa semua wanita sangat suka makanan pedas? Tidak takut diare apa?" sambung Shikamaru.

"Kita lihat saja, apa nanti mereka berdua bisa menghabiskannya atau tidak?" kata Naruto yang langsung mendapat death glare dari Sakura.

"Urusai! Suka-suka kita dong!" sahut Sakura. Ino mengangguk setuju.

Shikamaru bengong sambil memandang Miso Ramen pesanannya. "Astaga, mendokusai! Dengan tangan kananku yang terikat bagaimana aku bisa makan?" katanya.

"Pakai tangan kiri dong!" ketus Ino.

"Kau sih enak karena tangan kirimu yang terikat."

"Terus kenapa? Mau protes? Kalau mau protes pada Yamato-Taichou saja sana!" teriak Ino.

Naruto kembali melirik pria berambut orange tadi. Pria itu terlihat semakin kesal. Tidak hanya Gai yang sudah agak mabuk yang berisik tetapi juga tiga murid SMA tadi ditambah Ino dan Shikamaru.

'Kenapa perasaanku tidak enak, ya? Sudahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja!' ujarnya dalam hati.

Naruto melirik Sakura. Sakura terlihat gelisah dan wajahnya agak pucat. Naruto jadi khawatir.

"Sakura-chan, kau kenapa? Sakit?" tanyanya.

"Aku tidak tahan ingin buang air kecil. Sudah kutahan sejak beberapa jam yang lalu dan sekarang puncaknya." Jawab Sakura.

"Kalau mau pipis tidak usah kau tahan. Itu tidak baik untuk kesehatan."

"Tentu saja harus kutahan, baka! Mana mungkin aku buang air kecil di depanmu!" bentak Sakura.

Naruto menghela nafas. Jadi itu masalahnya?

"Berdiri, Sakura-chan! Aku punya solusinya…" kata Naruto. Sakura menurut.

Naruto dan Sakura berjalan menghampiri Ayame yang sedang membuat minuman. Paman Teuchi sudah selesai menyajikan ramen pesanan mereka.

"Ayame-Nee, apa kau punya kain?"

"Kain untuk apa?" tanya Ayame.

"Untuk menutup kedua mataku. Sakura-chan ingin pipis." Kata Naruto polos. Sakura mendelik tajam pada Naruto, bisa-bisanya dia bicara begitu pada orang lain. Ayame sampai terlihat menahan tawa. Dia kemudian menyerahkan selembar kain pada Naruto.

"Tolong pasangkan, Ayame-Nee!" Kata Naruto pula.

Ayame melipat kain tersebut. Awalnya dia mencobanya sendiri. Setelah memastikan tidak terlihat apa-apa, dia pun memasangkan kain tersebut pada Naruto.

"Toiletnya disebelah sana!" kata Ayame pada Sakura.

"Arigatou…" kata Sakura dengan wajah merona malu. Dia kemudian menuntun Naruto menuju toilet.

Ayame mengantarkan pesanan Naruto dan Sakura. Paman Teuchi menerima telepon dan membuat beberapa ramen lagi. Selesai meletakkan ramen sekaligus minuman pesanan Naruto dan Sakura di atas meja, Ayame pun membantu ayahnya. Beberapa menit kemudian Sakura dan Naruto sudah kembali dari toilet. Ayame lekas membuka kain yang menutupi mata Naruto.

"Ayame, aku pergi dulu untuk mengantar pesanan." Kata Paman Teuchi.

"Iya, hati-hati di jalan Otou-san!"

Paman Teuchi mengangguk dan segera pergi. Dia tidak sengaja menendang kardus yang merupakan barang bawaan pria berambut orange dan meminta maaf. Pria itu bertambah kesal tetapi ia masih bisa menahan kesabarannya karena Paman Teuchi sudah meminta maaf.

Naruto menyuapi Sakura karena Sakura tidak bisa makan dengan tangan kirinya. Pipi Sakura merona merah. Ino tersenyum melihat ekspresi Sakura.

"Sudah cukup! Kau makan saja ramenmu sendiri!" kata Sakura.

Naruto pun menyantap ramen pesanannya. Sakura sendiri berusaha menggunakan sumpit dengan tangan kirinya. Awalnya dia terlihat kesulitan seperti Shikamaru tetapi akhirnya Sakura dan Shikamaru berhasil menyuapkan ramen tersebut ke mulut mereka meskipun kuah ramennya sampai berceceran di meja.

"Hey! Bukankah itu Uchiha Akira?" seru Miru sambil melihat sosok dua orang remaja yang lewat di depan rumah makan Ichiraku Ramen dari balik kaca jendela.

"Mana… mana?" tanya Tokiko yang langsung melompat-lompat kegirangan saat melihat Uchiha Akira. Hanabi hanya menggeleng memperhatikan kedua temannya.

Kedua temannya semakin heboh saat Uchiha Akira menoleh pada mereka dan tersenyum kecil, padahal sebenarnya dia hanya tersenyum pada Hanabi. Miru dan Tokiko semakin histeris bahkan mereka terus berteriak meskipun Uchiha Akira dan temannya sudah menghilang dibelokkan. Tiba-tiba saja karena terlalu heboh, Tokiko tersandung dan jatuh tersungkur. Dia tidak sengaja menabrak kardus si pria berambut orange hingga barang-barang bawaannya berserakkan di lantai. Rupanya kardus tersebut berisi puluhan kaleng pengharum ruangan. Bukannya meminta maaf, Tokiko malah bersikap tak acuh dan kembali berdiri. Dia duduk kembali di kursinya.

Pria itu menggebrak meja dengan keras hingga mangkuk ramen pesanannya tumpah. Ayame yang sedang mengiris sayuran tersentak. Pria itu mengunci pintu depan dan menyembunyikan kunci tersebut di kantongnya. Setelah itu ia merebut pisau dapur dari Ayame lalu menarik Tokiko dan mengacungkan pisau tersebut ke leher Tokiko. Ia berteriak.

"Jangan ada yang bergerak atau akan kubunuh kalian semua! Angkat tangan kalian dan berkumpul disebelah sana!"

Anak-anak SMA itu dan juga Ayame berteriak panik dan mulai menangis sedangkan keempat polisi pemula mengangkat tangannya yang tidak terikat borgol tetapi tetap waspada.

"Kubilang, cepat kalian semua duduk yang manis disebelah sana!" teriak pria itu pula. Semua sandera pun mengangguk patuh dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk si pria tadi. Mereka semua pun lekas duduk sejajar di dekat Ayame yang sudah lebih dulu berada di tempat tersebut.

Gai yang masih mabuk dan juga Genma menyusul patuh sambil ikut mengangkat tangan mereka. Genma berdecak kesal karena ia lupa membawa pistolnya dan hanya membawa borgol, begitu juga dengan Gai yang juga lupa membawa senjatanya. Keempat polisi pemula sendiri tidak membawa senjata mereka karena mereka masih bebas tugas dan yang lebih buruk tangan mereka berempat masih terikat dengan borgol.

Paman Teuchi akhirnya kembali ke rumah makannya dan melihat pintu depan terkunci, dia pun mengintip ke dalam ruangan. Betapa kagetnya dia melihat kejadian di dalam. Dia lekas pergi ke tempat telepon umum terdekat dan langsung memanggil polisi.

Ino memberi isyarat mata pada Shikamaru, begitu juga dengan Sakura yang memberi isyarat mata pada Naruto untuk melakukan sesuatu. Si pria yang melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan kembali berteriak.

"Kubilang angkat semua tangan kalian dan jangan bergerak apalagi mencoba melawan! Atau akan kubunuh gadis ini!"

"Aku tidak bermaksud begitu. Sakura-chan dan aku saling mencintai." Celetuk Naruto.

Sakura awalnya kaget tetapi ia langsung menambahkan. "Benar, karena itulah kumohon lepaskan kami semua, tuan! Hari ini adalah perayaan 100 hari kami pacaran."

Mereka berdua pun membuat lambang hati dengan kedua tangan mereka yang bebas.

"Tolong beri kami selamat!" tambah Naruto.

Shikamaru dan Ino bengong, apalagi saat Sakura pura-pura sesak nafas dan Naruto meminta agar ia dapat memegang tangan Sakura.

"Boleh, kan, aku terus memegang tangannnya? Kekasihku ini memiliki jantung yang lemah." Kata Naruto. Shikamaru dan Ino makin melongo melihat tingkah Naruto dan Sakura tetapi Sakura malah menendang lutut Ino dan reflek Ino langsung menyanyi dengan diikuti Shikamaru.

"Selamat hari jadi…. Selamat hari jadi yang ke 100! Teruslah saling mencintai sampai akhir hayat, Oh NaruSaku..."

Shikamaru pun mengajak si penyandera itu bicara. "Aku sudah lupa rasanya merayakan 100 hari. Apakah kau juga punya pacar atau kau sudah menikah? Perkenalkan wanita ini namanya Ino, dia adalah istriku. Dia sedang hamil muda, karena itulah kumohon lepaskan kami!"

Ino hanya tersenyum walaupun sebenarnya dia tak terima Shikamaru mengaku-ngaku sebagai suaminya dan malah mengatainya sedang hamil muda, tetapi ia memutuskan untuk menahan diri karena sekarang mereka sedang dalam kondisi yang genting.

"Aku hanya punya kamar yang sempit. Tagihan kartu kredit dan tabungan yang minus. Dan kau malah menyuruhku untuk bicara tentang wanita sialan itu, yang sudah menikahi seorang pengacara yang juga adalah sahabatku?" kata Yahiko semakin marah.

"Gawat, mereka berempat malah memprovokasi pelaku." Gumam Genma.

"Apa boleh buat. Mereka hanya seorang pemula yang bahkan tidak tahu apa-apa." Bisik Gai.

'Sial, kami malah gagal mendapatkan simpatinya.' Pikir Naruto dalam hati.

'Shikamaru, kau bodoh!' pikir Ino.

Salah seorang gadis, yaitu Miru langsung berdiri dan berkata meremehkan. Dia menawari pria itu dengan banyak uang. Ino menarik gadis itu dan berbisik kalau mereka tak boleh memprovokasi pelaku lebih dari ini, tetapi gadis itu tak mendengarkan dan malah mengatakan kalau dia akan meminta ayahnya untuk membawakannya segepok uang.

"Berapa yang kau inginkan 200 ribu yen? 500 ribu? Sejuta?"

Pria itu marah mendengar kesombongan gadis itu yang menganggap uang begitu mudah dicari padahal ia hanya bisa mendapatkan beberapa ribu yen untuk menjual satu kaleng pengharum ruangan. Gadis yang disandera malah ikut-ikutan menawari uang ayahnya agar mau melepaskan mereka. Dianggap seperti pengemis, pria itu kalap dan menyeret gadis itu ke dapur lalu mencabut pipa gas yang tergantung di tembok.

Genma dan Gai mencoba mencegah pria itu tapi terlambat. Pria itu sudah memutus pipa gas itu. Semua berteriak dan pria itu kembali menempelkan pisau di leher Tokiko.

"Ayo, kita mati bersama!" ajak pria itu. Tangannya yang lain mengambil pemantik api dari dalam saku jaketnya lalu mengacungkan pemanik api tersebut ke pipa gas itu. Para polisi pemula berteriak mencegahnya.

"DAMEEE!"

.

.

Yamato, Lee, dan Sasuke tiba di TKP. Dari laporan polisi patroli, si penyandera itu bernama Yahiko, 27 tahun. Dia seorang pegawai magang dari perusahaan distributors 'Clear Cosmetics' yang menjual aneka ragam kosmetik, obat nyamuk, dan juga parfum ruangan. Yamato membuka kunci borgol yang mengikat Sasuke dan Lee. Ia kemudian menyuruh Sasuke untuk menyelidiki latar belakang Yahiko ke perusahaan tersebut. Ia juga menyuruh Lee untuk mencari celah agar bisa masuk ke dalam rumah makan diam-diam, tetapi Paman Teuchi berkata kalau rumah makannya tidak memiliki pintu belakang jadi tidak mungkin ada celah lain. Yamato menghela napas lalu meminta Lee untuk mencari tahu seberapa banyak gas yang sudah bocor.

Sasuke lekas pergi ke perusahaan tersebut dengan diantar salah satu polisi patroli dan Lee segera bergerak. Dia menembus garis polisi, lalu menaiki atap rumah makan untuk memastikan berapa banyak gas yang sudah bocor sekaligus bertekad untuk mencari celah sekecil apapun itu, untuk bisa membebaskan semua sandera.

Kabar bahwa keenam sandera tersebut adalah petugas polisi mulai menyebar hingga ke kantor. Yamato hanya bisa menghela nafas melihat kemunculan Sarutobi Asuma yang merupakan Kepala Bagian Kriminalitas di TKP. Asuma mulai mengomel karena anak buah Yamato ikut tersandera.

"Kau ini pimpinan macam apa? Harusnya kau bisa mendidik anak buahmu untuk tidak ceroboh!" bentak Asuma. Ia tidak mungkin menyuruh semua anak buahnya untuk menerjang masuk dengan cara memecahkan kaca jendela atau apapun itu karena keselamatan para sandera bisa terancam. Orang-orang disekitar sana mulai berkerumun di TKP.

Okigen semakin tipis. Shikamaru dan rekan-rekannya mencari cara untuk keluar dari masalah ini. Kondisi ini semakin berbahaya karena Yahiko membawa pemantik api. Sekali nyala, tamatlah riwayat mereka semua. Naruto mengusulkan pendekaan persuasif dan menimbulkan rasa empati dari diri Yahiko. Ia langsung teringat bahwa tadi saat ia melewati bangku Yahiko, ia melihat buku catatan Yahiko sekilas. Di sana tertulis kalau lusa adalah hari peringatan kematian ibunya.

Salah seorang gadis, yaitu Hanabi terbatuk-batuk dan Sakura menyadari kalau gadis itu memiliki asma dan itu akan membahayakan nyawanya karena gas sudah menyebar. Terdengar suara dari megafon memanggil Yahiko. Keempat polisi pemula langsung mengenali suara itu. Suara kapten mereka, Yamato.

"Yahiko-san, tolong hentikan kejahatanmu dan cepatlah menyerahkan diri! Kau bisa membunuh mereka semua dan hal itu akan membuat hukumanmu bertambah berat!" kata Yamato.

"Hentikan Yamato-Taichou! Kita gunakan pendekatan persuasif. Bicaralah baik-baik dengannya dan lebih baik di telepon saja." kata seseorang yang ternyata adalah Chief Namikaze.

"Bagaimana anda bisa berada di sini, Chief?" tanya Yamato heran.

"Ada seseorang yang sangat berharga bagiku di sana." jawab Chief Namikaze.

'Naruto… Ino-chan… bertahanlah!' ujarnya dalam hati.

"Apa yang harus kukatakan, Chief?"

"Kita tunggu laporan dari Sasuke-kun dulu!Seorang detektif tak dapat menghidupkan orang mati tetapi dapat membunuh orang yang hidup! Satu kesalahan, sedikit salah analisa dapat menghancurkan hidup seseorang, maka jangan pernah bertindak sendirian!" ujarnya. Yamato mengangguk mengerti.

Ponsel Yamato bordering. Yamato bergegas mengangkatnya. Telepon tersebut adalah laporan langsung dari Sasuke.

"Taichou, Yahiko-san sudah dipecat dari perusahaan tersebut setelah dia bekerja magang selama setahun. Lusa adalah hari peringatan kematian ibunya. Saya rasa dia sedang stress saat ini."

"Terimakasih, Sasuke. Oh ya, hubungi orang tua para siswi SMA itu! Menurut Teuchi-san —pemilik rumah makan tersebut. Ketiga siswi itu dari keluarga Hyuuga, Sawada dan Yamamoto."

"Hyuuga? Hyuuga Hanabi?" suara Sasuke terdengar cemas.

"Ya, salah satu diantara mereka namanya Hanabi. Cepat hubungi keluarga mereka!"

"Baik, Taichou!"

Yamato menutup ponselnya. Para wartawan mulai berdatangan dan meliput kejadian di TKP. Yamato rasanya ingin sekali menghajar para wartawan itu, tetapi hal itu tidak mungkin karena meliput kejadian kriminal adalah salah satu pekerjaan mereka. Paman Teuchi terlihat semakin khawatir karena puteri satu-satunya masih terjebak di dalam sana.

"Yahiko-san, aku mengerti perasaanmu yang dipecat setelah setahun bekerja magang. Mari kita bicara lewat telepon!" kata Yamato dari megafon.

Mendengar dering telepon, malah membuat Yahiko kesal dan mengancam akan membunuh gadis yang ada di tangannya. Genma dan Gai berdiri mencegahnya.

"Jangan lakukan itu, Yahiko-san! Tenanglah!" kata Gai.

"Yahiko-san, kau boleh melakukan apa yang kau suka. Tak apa-apa jika kau tak ingin bicara." Sambung Genma.

"Lusa adalah hari kematian ibumu, kan, Yahiko-san? Dan tentunya kau ingin pergi ke makamnya dengan masih bekerja. Ibuku juga sudah meninggal saat usiaku 12 tahun. Aku mengerti perasaanmu." Tambah Naruto.

Sakura dan Shikamaru terkejut mendengar fakta pribadi Naruto yang baru mereka ketahui. Ino menunduk sedih. Kematian Kushina adalah hal yang paling membuat walinya dan juga Naruto menderita.

"Kakakku Naruko juga sudah meninggal. Kalau aku mati juga, ayahku bisa hancur… begitu juga keluarga mereka semua. Keluarga mereka akan sedih jika kehilangan orang-orang yang disayanginya, karema itulah kumohon lepaskan kami, Yahiko-san!"

Shikamaru terbelalak kaget mendengar nama Naruko. Ia memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia terlihat sangat menyesal. Dulu ibunya dibunuh karena ibunya adalah satu-satu saksi mata kejadian pembunuhan seorang pelajar SMA 16 tahun yang lalu. Ibunya dibunuh oleh pelaku kejahatan tersebut agar beliau tidak dapat memberikan kesaksian. Saat itu Shikamaru baru berusia 8 tahun dan ayahnya sedang ada bisnis di luar negeri. Shikamaru sendiri juga terancam dibunuh karena ia adalah saksi pembunuhan ibunya. Untunglah ia berhasil meloloskan diri, tetapi hal itu tidak bertahan lama karena pembunuh itu terus mengejarnya. Saat itu Namikaze Minato yang masih menjabat sebagai detektif biasa menyelamatkan nyawanya tetapi hal itu malah dibayar oleh kematian puteri sulungnya—Naruko— karena dia terlambat menjemput puterinya yang masih duduk di bangku TK tersebut. Istrinya Minato—Uzumaki Kushina— saat itu sedang dirawat di rumah sakit karena terkena usus buntu sehingga tidak bisa menjemput Naruko. Sejak saat itu rumah tangga Minato dan Kushina hancur. Kushina menyalahkan Minato atas kematian puterinya karena Minato malah sibuk bekerja dan mengabaikan permintaannya untuk menjemput Naruko secepatnya, hingga akhirnya Naruko yang saat itu baru berusia 5 tahun pulang sendirian dan menjadi korban tabrak lari hingga tewas karena terlambat mendapatkan pertolongan. Kushina pun menuntut perceraian dengan Minato dan mengambil hak asuh puteranya bungsunya yang saat itu baru berusia tiga tahun.

'Jadi kau benar-benar putera Chief Namikaze?' kata Shikamaru dalam hati.

"Kau pasti bohong! Aku tidak akan tertipu!" teriak Yahiko.

"Aku tidak mungkin berbohong dalam keadaan seperti ini!" tegas Naruto.

"Kau pasti punya alasan untuk melakukan hal ini. Angkatlah telepon itu! Katakan apa yang kau inginkan karena Yamato-Taichou dan yang lainnya pasti ingin mendengarkan permintaanmu!" lanjut Naruto.

"Benar, katakan pada dunia yang tak pernah mendengarkan keinginanmu." tambah Ino.

Yamato tersenyum pada Minato karena akhirnya mereka berhasil terhubung dengan Yahiko.

"Suruh Presdir Clear Cosmitics ke sini dalam waktu tiga jam untuk meminta maaf padaku!"

"Baik! Akan kami seret Presdir itu ke sini!" kata Yamato yang kemudian menghubungi Sasuke.

"Presdir itu sedang di Amerika. Kita tidak mungkin bisa mendatangkannya dalam waktu tiga jam, Taichou." Kata Sasuke. Yamato terlihat frustasi. Wajah Minato dan Paman Teuchi terlihat semakin khawatir.

Ibu dari kedua murid itu muncul bersamaan dengan seorang wanita muda. Mereka semua berteriak panik dan menangis, bahkan mereka hampir menerobos garis polisi. Untung saja tiga orang petugas polisi berhasil menahan mereka.

"Miru...! Tolong, lepaskan puteriku!"

"Kumohon, lepaskan Tokiko!"

"Hanabi…! Pak polisi, kumohon selamatkan adikku! Dia menderita asma. Dia bisa mati."

Teriakan ketiga wanita itu terdengar dari dalam, membuat ketiga gadis itu menangis. Hanabi yang sesak nafas itu akhirnya jatuh tersungkur. Gai langsung menghampiri Hanabi dan menyuruh Genma untuk mencari inhaler di tas gadis itu. Setelah beberapa kali semprot, kondisi gadis itu kembali membaik.

"Hal itu pasti tidak akan bertahan lama karena kondisi gadis itu akan terus memburuk jika terus berada di dalam ruangan." Kata Sakura mulai menangis.

"Ternyata kau memang calon dokter." Sambung Ino yang juga mulai meneteskan air mata seperti Sakura.

"Yahiko-san, tolong lepaskan mereka!" bujuk Yamato.

"Yahiko-san, lepaskan ketiga siswi itu dan juga Ayame-Nee! Biar aku saja yang menjadi sandera sebagai pengganti mereka semua!"

Mendengar Naruto yang merelakan diri untuk disandera, Shikamaru mengacungkan tangannya yang diborgol dan mengaku kalau mereka adalah polisi. Dia juga bersedia menjadi sandera.

"Jangan mempermainkanku!" teriak Yahiko.

"Aku serius!"

"Aku tidak percaya! Kau hanya ingin aku lengah hingga nanti kalian bisa menangkapku!"

Gai mengeluarkan borgol dari saku jaket kulitnya dan memborgol salah satu tangannya dan memasangkan borgol satunya ke salah satu tiang besi. "Aku juga bersedia menjadi sandera untuk menggantikan mereka." Kata Gai yang sepertinya sudah benar-benar tersadar dari mabuknya.

Genma pun mengeluarkan borgolnya. "Percaya atau tidak percaya, aku juga adalah seorang polisi." Katanya yang kemudian memborgol kedua tangannya. "Aku juga bersedia menjadi sandera. Sekarang kami semua sudah terikat. Kau bisa mempercayai kami." Tambah Genma.

"Genma, kenapa kau malah ikut-ikutan?" teriak Gai.

"Tidak apa-apa, senpai!" kata Genma. Ia menarik nafas sebentar lalu melanjutkan. "Aku sudah pernah merasakan sebelumnya bagaimana menjadi sandera. Jadi aku tahu bagaimana rasanya. Lepaskan anak itu dan biar aku saja yang menggantikannya!" kata Genma yang kemudian mengajarkan pada Yahiko, bagaimana cara meletakkan pisau yang benar di leher.

"Kami juga bersedia menggantikan mereka! Lepaskan Ayame-san dan ketiga gadis itu!" sahut Ino.

"Aku juga bersedia!" Tambah Sakura.

Semua yang ada di dalam ataupun luar rumah makan, menunggu kata-kata dari Yahiko. Hingga akhirnya terdengar ucapan Yahiko di telepon.

"Aku akan melepaskan mereka." Kata Yahiko. Semua berseru lega, tapi Yahiko mengancam akan menyalakan pemantik dan keenam detektif itu akan mati bersamanya jika polisi bertindak macam-macam dan tidak menuruti perintahnya.

Ketiga siswi itu dan juga Ayame dibebaskan. Mereka langsung berlari keluar. Ayame menangis dan langsung memeluk ayahnya, begitu juga ketiga siswi itu yang langsung memeluk ibu dan kakak mereka sambil menangis.

"Hinata-neechan, aku takut!" kata Hanabi. Seorang petugas polisi langsung membawa Hanabi ke salah satu ambulance yang sudah mereka panggil sebelumnya untuk mendapatkan pelayanan medis. Hinata menoleh ke rumah makan tersebut.

"Terimakasih banyak. Kuharap kalian semua selamat." Kata Hinata yang kemudian menyusul Hanabi yang sudah masuk ke dalam ambulance.

"Mereka melakukan hal yang benar. Ternyata anak buahmu tidak buruk juga." Kata Asuma.

Minato memejamkan matanya. Ia masih terlihat cemas tetapi ia juga bangga dengan tindakan para anak buah Yamato.

Berita penyanderaan itu menjadi headline news secara Nasional. Lee yang sejak tadi mencari celah tetapi tidak menemukan celah sedikit pun, diam-diam masuk ke lubang udara untuk menyelidiki kadar gas dalam ruangan. Tak sengaja Shikamaru melihat Lee di lubang udara dan mengisyaratkan kalau Yahiko ada di dekatnya. Lee pun lekas mundur. Lalu ia kembali kepada Yamato dan yang lainnya.

"Taichou, kadar udara di dalam ruangan yang mengandung gas beracun sangat pekat. Bagaimana dengan Presdir itu?"

"Sasuke bilang, orang itu sedang berada di Amerika."

Mereka semua pun mencari cara lain tapi semua itu tak mungkin bisa dilakukan tanpa membahayakan nyawa. Menurut Asuma, 80% sandera akan terluka dengan cara penyelamatan seperti itu tetapi mereka juga tak bisa menjamin keselamatan gedung dengan gas yang akan semakin menyebar.

Yamato meminta waktu sedikit lagi untuk berpikir, karena seberapa cepat pun mereka melakukan penyelamatan dengan cara meminta semua polisi yang sudah mengepung rumah makan untuk menerjang masuk, jika pemantik dinyalakan maka misi mereka akan gagal.

"Lagipula mereka adalah detektif. Mereka mungkin akan memiliki sebuah kesempatan. Alasan mengapa keempat sandera yang lain diselamatkan juga karena jasa mereka." Ujar Yamato.

'Lakukan sesuatu, Naruto! Aku percaya kau bisa melakukannya!' Kata Minato dalam hati.

.

.

Di dalam Yahiko sudah putus asa. Ia menduga kalau Presdir tak mungkin datang karena ini sudah 2 jam, tetapi Ino membantah karena dia percaya pada atasannya. Yahiko yakin kalau Presdir itu tak akan mau datang untuk pegawai temporer sepertinya. Ia meletakkan pemantik api untuk minum air. Ia pun bercerita tentang produk jualannya, Parfum ruangan, yang hanya beberapa puluh ribu yen yang bisa ia dapatkan jika berhasil menjual semuanya. Masih dengan melingkarkan salah satu lengannya yang memegang pisau di leher Genma, ia menggunakan tangannya yang lain untuk memasukkan kembali parfum-parfum yang tadi berserekkan di lantai gara-gara ulah salah satu siswi SMA yang angkuh itu.

Gai mengintai pemantik api itu, mencari celah untuk dapat mengambilnya. Ia masih terus mencoba meloloskan tangannya dari borgol yang terpasang di tiang, tetapi belum bisa walaupun pergelangan tangannya mulai terasa sakit karena luka gesekkan.

"Apa kalian pikir orang brengsek seperti dia akan sudi menemuiku apalagi meminta maaf?" kata Yahiko.

"Kalau begitu, kenapa kau malah meminta kedatangannya jika kau tahu kalau Presdir itu tak mungkin datang? Harusnya kau meminta uang saja!" kata Sakura.

"Aku hanya ingin agar dia memperkerjakanku kembali!"

"Jika itu tujuanmu yang sebenarnya, harusnya kau mengatakan itu tadi." Kata Shikamaru heran.

"Aku juga ingin mendengar ucapan permintaan maaf darinya. Kalian semua adalah pegawai negeri. Kalian pasti tidak akan mengerti bagaimana rasanya jadi pegawai sementara." Kata Yahiko.

Yahiko pun kembali kalap mengetahui keberuntungan mereka berenam jika dibanding dirinya. Ia mulai mengiriskan pisau itu ke leher Genma yang rela menggantikan posisi Tokiko tadi dan meraih pemantik api. Ia pun kembali mengancam mereka semua. Genma meringis saat darah merembes dari luka di lehernya. Meskipun goresan itu tidak dalam tetap saja rasa sakit di lehernya terasa perih.

Ino pun bangkit berdiri, begitu juga dengan Shikamaru yang terpaksa ikut berdiri karena gerakkan Ino.

"Kau jangan menyerah, Yahiko-san! Kau masih punya kesempatan untuk melamar kerja di tempat lain. Aku juga tidak mudah untuk mendapatkan posisi ini. Aku telah kehilangan masa remajaku karena sibuk belajar agar bisa masuk fakultas hukum. Biar kuberitahu sebuah rahasia, gara-gara aku kehilangan masa remajaku aku belum pernah merasakan cinta pertama semasa sekolah. Aku juga telah menyiapkan ujian Negara selama masa kuliahku sehingga aku tak sempat pacaran dan aku pernah gagal dua kali dalam ujian pegawai negeri tersebut. Kau benar-benar tidak boleh menyerah!" cerita Ino panjang lebar.

"Aku sudah melamar kerja di banyak tempat tetapi tak satupun yang mau menerimaku. Aku sudah benar-benar putus asa sampai aku bosan menulis CV terus-menerus!"

"Judo! Apa kau tahu Judo? Pamanku adalah seorang instruktur Judo dan yang dia ajarkan pertama kali adalah bagaimana jatuh dengan benar, karena itu adalah satu-satunya cara untuk bangkit dan menyerang kembali. Dan sekarang adalah jatuhmu yang pertama." Sambung Sakura.

"Uhuk…! Uhuk…!" Naruto mulai terbatuk-batuk karena terlalu banyak mnghirup gas hingga ia mulai sesak nafas. Ino memandang Naruto khawatir, begitu juga dengan Sakura.

"Dunia mungkin kejam tetapi di dunia ini juga masih banyak orang-orang baik. Seseorang juga pernah menyelamatkan nyawaku hingga ia harus kehilangan puterinya di waktu yang sama. Ia bahkan harus bercerai dengan istrinya yang sangat ia cintai karena kejadian itu. Kau tidak boleh sampai membunuh puteranya juga karena aku berhutang budi pada orang itu." Sambung Shikamaru.

Ino, Sakura, Gai, dan Genma menatap Shikamaru bingung. Sementara Naruto masih sibuk batuk-batuk. Ia bahkan tak sadar siapa yang Shikamaru bicarakan.

"Aku… aku berhenti menjadi dokter karena ingin menghindari meja maut tetapi sekarang meja maut itu malah menghampiriku. Saat aku masih menjadi dokter magang, aku pernah sekali kehilangan pasienku makanya aku berhenti. Apa aku harus kehilangan teman-temanku juga? Aku tahu ini sudah menjadi resiko pekerjaan kami tetapi tetap saja aku tidak tahan!" Kata Sakura terisak. Dia kembali teringat pada Hanabi, lalu dia melihat leher Genma yang terus mengalirkan darah dan Naruto yang masih terbatuk-batuk.

Shikamaru dan Ino menatap Sakura tidak percaya. Jadi karena itu Sakura lebih memilih pekerjaan ini, karena dulu dia trauma gara-gara pernah kehilangan salah seorang pasiennya?

Naruto sudah berhenti terbatuk-batuk dan menatap Sakura. Ia menggenggam tangan Sakura erat. "Harusnya kau tidak boleh menyerah menjadi dokter, Sakura-chan! Jika kau terus berusaha, kau pasti akan menjadi dokter yang hebat. Jadi meski kau pernah satu kali kehilangan pasien, kau bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa." Katanya.

"Ini sudah menjadi pilihanku dan setelah mengalami kejadian ini, keputusanku untuk menjadi seorang polisi semakin bulat. Aku tidak akan menyerah kali ini. Aku pasti akan menjadi detektif yang hebat dan aku… aku harus kuat!" balas Sakura. Kelima rekannya tersenyum.

Yahiko menaruh pemantiknya di atas kardus parfum ruangan yang tadi sudah ia rapikan sebelumnya. Ia berkata kalau ia tidak mengerti apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Namun Naruto tersenyum karena ia yakin kalau apa yang mereka bicarakan tadi sudah berhasil menarik rasa empati Yahiko.

Ino diam-diam melangkah mendekati Yahiko untuk mengambil pemantik api di atas kardus. Tak sengaja dia menginjak salah satu kaleng parfum ruangan yang tidak sempat Yahiko masukkan ke dalam kardus tersebut. Dia pun terjatuh menabrak kardus parfum ruangan tersebut. Pemantik api dan parfum-parfum itu berjatuhan. Reflek Yahiko dan Shikamaru maju untuk menangkap pemantik itu sebelum pemantik tersebut terlempar ke tabung gas dan meledakkan mereka semua. Sayang sekali, Shikamaru malah mendapat salah satu parfum dan Yahiko mendapat pemantik, tetapi Shikamaru yang memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata tak hilang akal dan menyemprotkan parfum itu ke wajah Yahiko. Yahiko langsung berteriak perih sambil memegangi matanya dengan tangan kanannya hingga pisau yang dipegangnya terjatuh dan Genma terbebas. Genma langsung merebut pemantik dari tangan kiri Yahiko dan langsung menyerangnya.

Gai berusaha sekuat tenaga menarik tangannya. Naruto berlari untuk mengunci gerakkan Yahiko dan membuat Sakura jatuh tersungkur karena ditarik Naruto. Alhasil Yahiko jadi tertimpa badan Genma yang sudah mengunci gerakkannya lebih dulu dan Genma tertimpa badan Naruto. Naruto sendiri juga tertimpa badan Sakura. Shikamaru dan Ino menahan tawa melihat kejadian konyol tersebut. Gai yang sudah berhasil terlepas dari borgol mencari-cari borgol lain di saku Jacket Shikamaru. Ia pun menghampiri Yahiko dan berteriak.

"Jangan bergerak, Yahiko-san! Kau benar-benar terkepung!" Gai pun memborgol tangan Yahiko. Berhasil!

Di luar para polisi masih berdebat. Saat Asuma melihat kejadian itu dari teropong, ia pun berteriak. "Mereka berhasil menangkap Yahiko!"

Para polisi pun menyerbu masuk dan melihat ketujuh orang itu sudah kelelahan. Shikmaru dan Ino ikut berbaring karena merasa lelah dan sesak nafas. Gai juga langsung berbaring di samping Yahiko yang tertimpa Genma, Naruto, dan Sakura. Wajah-wajah ketujuh orang itu sudah pucat pasi karena terus menghirup gas. Yamato tersenyum bangga melihat mereka. Dia pun membuka kunci borgol keempat anak didiknya. Chief Namikaze bersyukur karena mereka semua selamat.

Keenam orang itu mendapat terapi oksigen. Mereka saling melempar senyum dan toss. Yamato menghampiri dan memuji Naruto-Sakura dan Shikamaru-Ino yang kelihatannya sudah baikan. Sakura tersenyum dan berterimakasih.

Sasuke yang sudah kembali dari perusahaan Clear Cosmetics dan juga Lee menghampiri keempat rekan mereka. Lee senang karena mereka semua selamat. Sasuke juga sebenarnya senang tetapi ia bersikap jaim. Ia tidak mau menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.

"Dasar, sepertinya kalian itu terlahir untuk menciptakan masalah. Bagaimana bisa kalian mampir ke restoran itu? Merepotkan saja!" ujar Sasuke.

"Mana kami tahu kalau restoran itu akan dibajak!" balas Shikamaru.

"Kau sudah merasa baikan, sekarang?" tanya Sakura pada Naruto. Naruto tersenyum dan mengangguk. Chief Namikaze menghampiri mereka.

"Lain kali jangan membuatku cemas lagi! Aku hampir terkena serangan jantung, tahu." Ujarnya. Sasuke dan yang lainnya tidak paham ucapan itu ditujukan kepada siapa. Akhirnya Lee menyimpulkan bahwa ucapan itu ditujukan untuk mereka semua, tetapi Ino dan Shikamaru tahu ucapan itu ditujukan untuk siapa apalagi Naruto sendiri yang duluan menjawab.

"Gomennasai…"

Sakura, Genma, dan Gai ikut meminta maaf dalam waktu bersamaan.

"Maafkan kami, Chief. Kami tidak akan ceroboh lagi!"

ooOSerendipityOoo

.

.

Hari ini keenam polisi pemula bersama Yamato dan Gai berhasil menangkap para preman yang membajak sebuah bus hingga membuat beberapa orang penumpang terluka hanya karena mereka tidak mau menyerahkan uang mereka. Setelah berhasil menangkap ketiga pelaku kejahatan tersebut, mereka pun kembali ke kantor yang penuh dengan pelapor dan terlapor. Ini adalah kasus yang sering terjadi di Jepang. Kasus dari anak-anak orang kaya hingga perkelahian dari cewek-cewek kpopers tentang bintang pujaannya yang sering menggelar konser di Jepang.

"Para members Infinite jauh lebih keren daripada para members Exo!"

"Enak saja! Oppaku jauh kebih keren daripada oppamu!"

Tapi kedua kubu fangirls yang sedang berseteru itu langsung menjadi satu saat melihat kedatangan keempat polisi pemula. Mereka pun menjerit-jerit dan memotretnya.

"Kyaa! Onii-sama kau sangat tampan sekali!"

Lee yang mulanya kegeeran mengira cewek-cewek remaja labil itu memujinya, langsung cemberut setelah ia disuruh minggir karena ia menutupi Sasuke.

"Oh, Ya ampun! Mereka benar-benar tak tahu bagaimana pria sejati itu!" ujar Lee.

Sasuke tersenyum kecil dan memuaskan keinginan mereka. Hanya dengan menunduk dan menyentuh tanaman, para cewek itu histeris dan berebut memotret Sasuke.

Sakura yang risih melihat cewek-cewek itu, langsung berdiri dari tempat duduknya dan berkomentar. "Hei, hei, hei! Apa orang tua kalian mengetahui tabiat kalian yang seperti ini?"

Bukanya marah, cewek-cewek itu malah berteriak kegirangan melihat ada detektif wanita secantik Sakura. Sakura pun tak luput dari jepretan kamera. Bukanya marah, pada akhirnya Sakura malah megikuti jejak Sasuke, bergaya narsis saat kilatan kamera menerpanya.

Naruto yang melirik tajam pada mereka yang teriak-teriak karena sudah mengganggu konsentrasinya yang sedang membuat laporan kejahatan tadi juga terkena imbasnya. Salah satu dari mereka berteriak.

"Aww…! Lihatlah mata Onii-sama yang satu ini!"

Cewek-cewek itu langsung berebut memotret Naruto sambil terus menjerit. Kondisi makin tak terkendali saat Ino dan Shikamaru yang baru saja selesai memjebloskan para preman tadi ke dalam sel masuk, dan beberapa anak orang kaya yang sedang diinterogasi juga ikut narsis dengan membuka baju mereka dan ikut bergaya. Shikamaru terus berguman "Mendokusai!" sedangkan Ino malah mengikuti jejak Sakura, Sasuke, dan para anak orang kaya tersebut. Dia pun bergaya bak model yang sedang tampil di catwalk. Lee tak ketinggalan ikut berpose dengan menunjukkan perutnya yang six pack. Menyisakan Yamato yang frustasi melihat semua ini. Kantor mereka benar-benar kacau balau sekarang.

Yamato melempar bantal lehernya dan pergi menemui Asuma. Ia diminta agar diperbolehkan mengganti anak-anak baru itu.

"Setidaknya tiga dari mereka. Aku akan ganti ke staf yang sudah bertugas di tahun kedua atau ketiga. Sialan, baru saja aku merasa bangga pada mereka!"

Chief Sarutobi Asuma tak terpengaruh oleh kekesalan Yamato. "Kenapa kau datang padaku? Ruang Chief Namikaze ada di ujung lorong sebelah kanan."

Makian Yamato sudah diujung lidah tapi ia bisa menahan diri. Meski begitu tetap saja Asuma bisa mendengarnya. "Tak tahu aturan! Apa kau tak bisa membaca ini?" Ia menunjuk ke papan namanya yang menunjukkan jabatannya, yaitu Kepala Bagian Kriminalitas.

Yamato bertanya balik, "Apa aku tak usah bekerja saja? Bagaimana mungkin aku melakukan investigasi criminal dengan enam bayi yang tak bisa membedakan kotoran dengan sambal kacang? Apa anda tahu kalau keahlian investigasi criminal itu benar-benar berasal dari pengalaman di lapangan?"

Asuma merasa tersinggung karena Yamato terus-menerus menyebut pengalaman di lapangan. "Aku ini berasal dari patroli perbatasan. Jadi apakah aku, si patroli perbatasan yang membawa bayi-bayi itu? Chief Namikaze yang membawa mereka semua! Maka dari itu, tadi aku sudah memberikan nasihat, ruang Chief Namikaze ada di ujung lorong!"

Yamato menatap atasannya dan mengangguk-angguk. Ia meninggalkan ruangan tetapi tak lupa untuk menendang tempat sampah hingga terlempar ke jendela. Ia benar-benar kesal.

Keenam anak baru itu berdiri berbaris, menunggu. Gai bertanya pada Yamato, apakah ada yang ingin Yamato ucapkan sebelum mereka mendapat panggilan kasus lain.

"Aku tidak pernah membimbing anak-anak sebelumnya, jadi sudah seharusnya kalian berinisiatif sendiri untuk mengundurkan diri!" tegas Yamato yang kemudian menunjuk Sasuke, Ino, dan Sakura.

"Demi penduduk Kanto dan demi kesehatan jiwaku, kuminta kalian segera mengundurkan diri!" Tegas Yamato. Ino dan Sakura saling pandang. Sasuke berdecak kesal.

Yamato menunjuk Sasuke, "Kau tidak punya keseriusan! Kau hanya bermain-main seakan-akan kantor ini adalah Tokyo Dome dan kau artisnya!"

Naruto mengangguk-angguk pertanda setuju. Yamato menunjuk Ino. "Kau tidak punya kegigihan!"

Ino menunduk mendengar perkataan Yamato. Yamato beralih menunjuk Sakura. "Dan kau tidak punya ketulusan! Aku ingat kau memilih pekerjaan ini karena kau tidak mau menjadi dokter sebab itu adalah paksaan orang tuamu, hmm?"

Sakura ingin sekali membantah tetapi dia tidak mau dianggap pembakang oleh Yamato. Dia pun hanya menunduk menatap lantai sama seperti Ino. Yamato kemudian menunjuk Naruto.

"Kau masih lebih baik dari mereka bertiga tetapi yang kulihat kau hanya ingin bermain detektif-detektifan, bocah!"

Naruto menghela nafas karena ia jadi ikut terkena imbasnya. Yamato beralih menunjuk Lee.

"Saat kasus pembajakkan tadi, kau benar-benar ceroboh! Bagaimana bisa kau langsung menerobos masuk biarpun kau sudah tahu bahwa para preman itu membawa senjata?"

"Maafkan aku. Aku hanya terlalu bersemangat tadi." Kata Lee. Selanjutnya Yamato menunjuk Shikamaru.

"Kau tidak punya kesungguhan! Tahukah kau bahwa ketua tim tiga memiliki partner yang tewas tiga tahun lalu?"

Shikamaru hanya diam mendengar perkataan Yamato.

"Dengar, baik-baik! Sebagai seorang detektif, kalian tidak boleh terlalu antusias dalam menangani sebuah kasus apalagi terlalu acuh! Dari yang kulihat, kalian semua hanya melakukan pekerjaan ini untuk bersenang-senang." Lanjut Yamato.

"Itu tidak benar!" sanggah Naruto yang langsung mematung setelah mendapatkan death glare dari Yamato.

"Jangan bertindak seenaknya! Kalau kalian ingin berakting seperti polisi, pergi saja ke arena bermain! Untuk anak baru seperti kalian, tempat yang paling aman adalah di kantor!" kata Yamato yang kemudian meninggalkan ruangan, diikuti oleh Gai.

Naruto hanya bisa menghela nafas kesal. Ia menyalahkan Sasuke yang terlalu narsis, tetapi Sasuke yang tidak terima malah mengatai Naruto.

"Diam kau, dobe!"

"Teme! Semua ini gara-gara kau, tahu!"

Sasuke masih membantah dan Naruto terus menuduh Sasuke.

"DIAM!" bentak Lee. "Apakah sekarang hal itu penting? Yang penting sekarang adalah, Yamato-Taichou pergi menangani kasus lain tanpa kita!" lanjutnya.

Naruto dan Sasuke menunduk, nampak merasa bersalah.

"Mendokusai!" gumam Shikamaru yang kemudian menguap malas. Saat itu juga pinggangnya langsung dicubit oleh Ino.

"Aow! Apa-apaan kau?" bentaknya sambil mendelik tajam pada Ino.

"Kau tidak sadar juga apa kekuranganmu meski barusan Yamato-Taichou sudah mengatakannya?" sahut Ino. Sakura hanya menghela nafas panjang. Dia benar-benar lelah dengan sikap semua rekannya.

.

.

Yamato yang sejak awal menentang penerimaan pemula di unit kriminal sudah tidak punya keinginan untuk mendidik mereka lagi. Ia mengajukan protes pada Chief Namikaze agar mereka berenam dipindahkan ke unit patroli atau polisi lalu lintas. Tidak masalah jika mereka dihukum lebih berat atau dipindahkan ke kepolisian daerah.

"Meski begitu, berikan mereka waktu tiga bulan! Kau boleh melatih mereka habis-habisan jika kau mau. Aku baru akan membuat keputusan setelah melihat perkembangan mereka dalam waktu tiga bulan ini. Menurutku mereka semua memiliki potensi, makanya aku memasukkan mereka dalam unit kriminal. Bukankah mereka sudah pernah membuktikannya padamu, saat kasus penyanderaan beberapa hari yang lalu?" kata Chief Namikaze panjang lebar.

"Aku mengerti. Aku akan melatih mereka sebelum mereka memutuskan keluar atas keinginan mereka sendiri atau sebelum mereka semua dipecat!" jawab Yamato. Chief Namikaze tersenyum.

"Alasan aku memberi kesempatan pada anak-anak baru yang masih hijau dan bodoh itu adalah untuk membuktikan bahwa mereka semua tidak akan pernah bisa menjadi detektif!" lanjut Yamato.

"Aku percaya kau bisa mendidik mereka menjadi seorang detektif yang hebat karena kau juga mempunyai pengalaman sebagai detektif pemula di bawah bimbinganku!" kata Chief Namikaze masih dengan senyuman yang terlukis di wajah tampannya. Yamato tidak bisa membantah lagi dan segera undur diri.

ooOSerendipityOoo

.

.

Keesokan harinya, Yamato memberi mereka pelatihan kedua. Latihan kedua adalah pengintaian.

"Ada dua cara menangkap rakun (penjahat). Pertama, pergi ke sarang rakun. Kedua, pura-pura mati dan menunggu hingga rakun keluar sendiri. Dan kalian akan berlatih yang kedua. Kuberi kalian waktu dua belas jam. Cepat masuk mobil!" Perintah Yamato.

Mereka berenam masuk ke dalam mobil van milik Yamato. Mereka tidak boleh keluar sebelum waktunya habis. Jika ada salah satu dari mereka yang keluar, maka mereka harus langsung meneruskan ke latihan berikutnya tanpa istirahat.

Sebelum mengurung mereka di mobil, Gai berbisik supaya mereka bertahan saja. Dengan begitu latihan mereka bisa cepat selesai.

Sakura mulai menyesal karena mendaftar jadi detektif kriminal. Shikamaru mengusulkan agar mereka berpura-pura sedang dalam perjalanan panjang di pesawat menuju London atau Paris. Ino hendak meminum air mineral dalam botol tetapi Shikamaru merebutnya.

"Troublesome Women, apa kau sudah lupa bahwa kita akan terkurung di sini selama 12 jam?" ujarnya ketus.

"Gomen…" kata Ino.

Shikamaru mulai menguap dan memutuskan untuk tidur.

.

Empat jam kemudian, penderitaan mulai terasa.

Lee merasakan dorongan untuk pergi ke kamar kecil. Ino mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menanyakan kenapa Lee mau menjadi polisi.

"Aku ingin memiliki karir tetap dan menikah. Menjadi pegawai pemerintah adalah pilihan terbaik." Jawab Lee.

"Bagaimana denganmu, Naruto?" tanya Ino pula.

"Aku ingin menegakkan hukum, melindungi keadilan dan melayani rakyat." Jawab Naruto.

"Itu sih jawaban pelajaran PPKN, Naruto no baka!" teriak Sakura.

"Menyebalkan, aku tidak mau bicara lagi!" gerutu Ino.

Sasuke memejamkan matanya, berusaha untuk tetap tenang. Sakura mulai bergerak-gerak gelisah karena pegal.

"Aku tidak biasa naik penerbangan di bawah kelas bisnis." Keluh Sasuke. Lee dan Ino berkomentar kalau mereka bahkan tidak pernah pergi ke luar negeri.

Shikamaru terbangun karena merasakan dorongan untuk pergi ke toilet.

.

Setelah tujuh jam…

Hanya Sasuke yang bisa tetap memasang wajah tenang, walau jelas di dalam ia tidak setenang itu. Dalam sebuah gerakkan cepat, ia menyilangkan kakinya.

Kelima temannya terdiam. Lalu kompak menutup hidung mereka dan menatap Sasuke dengan pandangan menuduh. Sasuke stay cool, pura-pura tidak tahu.

'Sialan, jelas-jelas dia yang kentut!' kata Naruto dalam hati.

.

Setelah sebelas jam…

Wajah keenamnya sudah pucat karena menahan berbagai dorongan dalam tubuh mereka.

"Ini pelanggaran HAM." Gumam Sasuke kesal. "Aku akan mengajukan protes ke Komnas HAM."

"Bertahanlah sebentar lagi! Hanya satu jam lagi… satu jam." Kata Lee menyemangati diri sendiri.

Naruto bergerak ke pintu karena sudah tak tahan lagi. Kelima temannya menahannya. Sasuke menjulurkan kakinya untuk menghalangi Naruto, tetapi tangan Naruto tidak sengaja menekan perut Sasuke hingga Sasuke yang akhirnya tak tahan dan membuka pintu.

Yamato dan Gai sudah menunggu mereka tetapi keenam anak buahnya tak peduli lagi. Dengan susah payah mereka semua mencari toilet. Yamato tersenyum dan bersiul menang.

.

.

Tsuzuku

.

.

Okay, karena di review pada minta di lanjutin, fictnya nggak jadi author delete. ^^

Arigatou buat yang udah Read and Review, juga buat yang udah nge-follow dan nge-fav. Gomen, adegan dalam chapter kali ini sama dengan dramanya cuma author bedain sedikit di beberapa scene. Pada chapter-chapter selanjutnya akan author usahakan untuk membuat scene yang berbeda dengan dramanya. Minna-san, REVIEW PLEASE! Arigatou.

.

Balasan Review yang nggak log in :

Uchiharuno: Iya. Kalau menurutku sih bagus, apalagi pemeran utamanya Seung Gi oppa, makanya aku nonton sampai tamat. Arigatou for RnR. ^^

Red devils, NamikazeARES: Arigatou for RnR. Nih udah dilanjut. ^^