Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Terinspirasi dari Korean Drama "You're All Surrounded"

Tittle: Serendipity

Genre : Drama, Crime, Romance, Hurt/Comfort

Rate: M

Pairing : NaruSaku, ShikaIno, SasuHina.

Warning : AU, OOC, minim deskriptif, tyopo(s), abal, dll.

.

.

Sumarry : Yamato adalah pimpinan Tim 2 devisi kriminal. Ia tak menyangka bahwa tahun ini ia akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih merepotkan. Ia diminta untuk menjadi kapten tim rookie yang ternyata semua anggotanya adalah polisi pemula yang malah membuat kepalanya sakit. Mereka masih naïf dan amatir. Bagaimanakah kisah Yamato-Taichou dalam mendidik para polisi/detektif muda ini? (terinspirasi dari Kdrama "You're All Surrounded")

.

.

Chapter 3: Team Work!

"Aku akhirnya menemukan sesuatu yang berharga tanpa disengaja. Itu adalah pekerjaanku yang awalnya aku jadikan sebagai pelarian semata. Aku cinta pekerjaanku dan aku tidak mau resign dari pekerjaan ini. Aku akan berusaha." —Sakura Haruno—

ooOSerendipityOoo

.

.

Gagal dalam pelatihan pengintaian, pelatihan ketiga pun terpaksa harus Naruto Cs jalani. Pelatihan kali ini adalah misi yang harus mereka kerjakan sendiri-sendiri. Siapa yang pertama kali menyelesaikannya berarti pelatihannya berakhir duluan.

Yamato memperlihatkan rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah gedung apartemen. Pria itu memakai asesoris serba hiu dan mengenakan topi yang menutupi wajahnya sehingga wajahnya tidak tertangkap jelas di kamera. Genma dan Gai berhasil mendapatkan informasi dari beberapa penghuni apartemen bahwa pria itu bernama Kisame, usianya sekitar 38 tahun. Pria itu adalah tersangka perampokan apartemen tersebut dan satu-satunya bukti yang bisa mengaitkan dirinya adalah DNA yang terdapat pada permen karet kunyahan pria tersebut. Pria itu membuang permen karet itu pada kertas pembungkusnya lalu membuangnya begitu saja ke trotoar. Seorang pria paruh baya yang merupakan petugas kebersihan memungut gumpalan kertas berisi permen karet tersebut lalu membuangnya ke kantung sampah.

Misi keenam polisi pemula adalah menemukan gumpalan kertas tersebut. Mereka menatap Yamato tak percaya.

"Tidak mau? Maka berhentilah!" kata Yamato.

.

Naruto Cs berdiri di depan tumpukan sampah gedung apartemen tersebut dengan wajah memelas seperti pengemis yang sudah tidak makan selama tiga hari. Masing-masing dari mereka mengenakan sarung tangan karet berwarna pink.

Lee dengan gagah berani mulai mengacak-ngacak sampah. Sementara kelima temannya tidak tahan membaui entah aroma apa saja yang di keluarkan sampah-sampah tersebut. Naruto sampai muntah-muntah. Shikamaru merengek, ia tidak mau melakukannya. Ia ingin ditransfer ke kepolisian daerah saja. Meski ia harus ditransfer ke pedesaan sekalipun ia tidak peduli. Sakura juga tidak mau.

"Hidup terlalu singkat. Untuk apa kita melakukan hal semacam ini?" rengek Sakura.

"Aku yang paling menderita karena penciumanku setajam seekor anjing!" sambung Ino.

"Sebenarnya aku juga tidak mau tapi mau bagaimana lagi?" sahut Lee.

Sasuke si anak orang kaya bahkan tidak berhasil membuka kantong sampah. Ia melepas sarung tangannya dan pergi dengan kesal. Ino menghentikannya.

"Tunggu! Apa yang kau lakukan, Sasuke-san? Kau tidak berhak pergi seperti ini! Jika kau tidak keluar dari mobil duluan, kita pasti sudah selesai dengan misi kita!" omelnya.

"Kau tidak perlu khawatir! Dia tidak bisa memecat kita semudah itu karena Chief Namikaze mendukung kita!" katanya. Ia berbalik pergi tapi Ino kembali menahannya.

"Pertama, aku benci tempat pembuangan sampah. Kedua, aku tidak mau lagi menjadi mainan orang sadis." Kata Sasuke kesal.

Ino melirik semua teman-temannya. Ekspresi mereka sudah seperti orang gelandangan yang sialnya malah tersesat di hutan. Naruto sudah pucat karena muntah-muntah terus.

"Kalau begitu, apa kau pikir kami suka sampah? Dasar egois! Kenapa kau tidak menjadi artis saja kalau tidak mau terlibat dengan semua ini?!" sergah Ino marah.

Shikamaru menengahi mereka dan berkata pendapat Sasuke ada benarnya. Yamato-Taichou tidak akan bisa memecat mereka selama Chief Namikaze melindungi mereka. Jadi ia mengusulkan agar mereka pulang saja sekarang lalu besok datang ke kantor dan melaporkan kalau mereka tidak bisa menemukan gumpalan itu.

"Dan lagi, bagaimana bisa kita menemukan gumpalan itu di TPS sebesar ini?" ujarnya.

Naruto mengangkat tangan setuju. "Sebaiknya kita tidak bertengkar lagi! Hidup sudah sulit, tidak perlu menambahkan dengan bertengkar." Ujarnya lemas.

"Benar! Setelah kupikir-pikir, masa mudaku yang berharga tidak untuk dihabiskan untuk sesuatu yang kemungkinan keberhasilannya hanya 10% seperti ini." Tambah Lee.

Sakura yang tidak tahan karena Ino yang juga seorang wanita sepertinya dipojokkan oleh para pria akhirnya membela Ino.

"Kalian pengkhianat! Kalian sebut diri kalian pria? Kalian tidak bisa mengatakannya langsung di depan orangnya, tapi membicarakannya di belakang? Dasar orang-orang tak setia dan labil! Apa aku salah? Cari terus gumpalan itu sekarang juga!" kata Sakura sambil memelototi mereka.

Naruto, Lee, dan Shikamaru menurut seperti anak kecil yang baru dimarahi ibunya. Sasuke tidak peduli dan berjalan pergi. Ino mengambil sekantung sampah lalu memukuli Sasuke dengan kantung tersebut.

"Dasar kau! Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau yang kentut? Aku tahu kau yang melakukannya!" teriak Ino sambil terus memukul-mukul Sasuke.

"Jadi kau yang melepaskan gas beracun?" tanya Lee pada Sasuke.

"Bukan aku!" sangkal Sasuke.

"Pantas saja pepatah mengatakan 'mereka yang kentut adalah yang paling marah'. Marah untuk menutupi bahwa mereka pelakunya." Sambung Shikamaru.

"Benar! Jadi kau marah karena kau kentut? Aku jadi semakin ilfeel padamu!" kata Sakura yang mengikuti jejak Ino dengan memukul Sasuke dengan kantung sampah yang dipegangnya. Sasuke akhirnya menangkis kantung sampah itu.

Kantung sampah robek dan isinya berhamburan. Salah satunya adalah gumpalan berisi permen karet yang mereka cari-cari.

Mereka berenam langsung berlari memperebutkan gumpalan itu. Mereka yang awalnya tidak mau memegang sampah, sekarang malah perang sampah demi mendapatkan gumpalan itu. Sampah berhamburan dan bertebaran di mana-mana. Gumpalan itu pun terlempar dan berhasil ditangkap oleh Shikamaru.

"Aku mendapatkannya!" seru Shikamaru.

Ino langsung menerjang Shikamaru dan menjambak rambut Shikamaru yang dikuncir, tetapi Shikamaru tidak mau menyerahkan gumpalan itu. Ino pun menimpa badan Shikamaru dan menekan dadanya kuat-kuat hingga Shikamaru yang mulai kehabisan nafas gara-gara ditimpa badan Ino sekaligus ditekan dadanya, menjatuhkan sampah itu.

Lee berlari kencang dan merebut gumpalan itu. "Aku mendapatkannya!" teriak Lee sambil tersenyum lebar.

Sakura harus mndapatkan gumpalan itu agar pelatihannya selesai duluan. Ia pun berlari menerjang Lee sambil mengepalkan tangan kanannya. "SHANNAROU!" teriak Sakura.

Pipi Lee langsung bengkak dan hidungnya mengeluarkan darah akibat pukulan Sakura yang terlalu kuat. Gumpalan itu terjatuh sekitar 60 centimeter. Naruto yang kebetulan berada di dekat sana langsung mengambil gumpalan itu dan berteriak kegirangan. "Horre! Aku mendapatkannya!"

Sasuke tidak terima dan langsung berlari ke arah Naruto. Sialnya dia malah tersandung sebuah batu hingga akhirnya jatuh tersungkur dan menimpa badan Naruto. Gumpalan itu terlempar cukup jauh dan Naruto langsung mendorong Sasuke, saat bibir Sasuke tak sengaja mengecup bibirnya akibat jatuh tadi.

"Huaaa! Aku akan mati karena terkena virus Sasuke!" teriak Naruto sambil terus menggosok-gosok bibirnya kasar. Sasuke malah tersenyum dan terasa jantungnya berdebar-debar.

"SAKURA-CHAAN… TOLONG AKU! Aku sekarat! Singkirkan virus mematikan ini dari bibirku!" teriaknya sambil memegang dada kirinya dan meringis kesakitan dengan nafas satu-satu seperti orang yang sekarat beneran.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sakura bingung.

Naruto pun berlari ke arah Sakura, memeluknya dan langsung mencium bibirnya. Jantungnya berdebar-debar jauh lebih kencang saat bibirnya dan bibir Sakura saling bersentuhan. Mata Sakura membulat. Dia kaget atas perlakuan Naruto yang tiba-tiba mencium bibirnya. Jantungnya berdebar kencang dan darahnya berdesir. Ia merasa seperti ada banyak kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Naruto malah tak peduli dengan reaksi Sakura dan menciumnya semakin dalam sambil memejamkan kedua matanya. Lee dan Shikamaru melongo tak percaya. Sasuke pundung karena patah hati untuk yang kedua kalinya.

"Aku selamat! Arigatou, Sakura-chan!" kata Naruto setelah melepas ciumannya. Ia pun tersenyum lega. Jantungnya masih berdebar-debar dengan kencang. Sakura masih terdiam seperti patung. Nampaknya ia masih syok.

Ino memanfaatkan suasana canggung itu. Ia pun mengambil gumpalan permen karet yang terlempar dari tangan Naruto tadi dan berteriak. "Horre! Aku yang dapat!"

Shikamaru, Lee, dan Sasuke menoleh pada Ino. Mereka bertiga kompak berlari ke arah Ino untuk bisa mendapatkannya. Ino memasukkan tangannya yang sudah memegang gumpalan itu ke balik mantelnya. Lee nosebleed membayangkan payudara Ino dibalik kemeja putih Ino hingga pingsan. Shikamaru dan Sasuke tidak berani mengambilnya. Ino tersenyum penuh kemenangan.

.

.

Keenam polisi pemula memasuki kantor dengan gagah. Para detektif di kantor langsung menyingkir menjauh sambil menutupi hidung mereka karena keenam detektif muda itu bau, bahkan ada seorang Polwan dari unit orang hilang yang langsung berlari menuju toilet untuk memuntahkan seluruh isi perutnya karena tidak tahan dengan bau busuk itu.

Dengan bangga Ino menghampiri meja Yamato dan mengulurkan tangannya yang memegang gumpalan tersebut. "Kami menemukannya, Yamato-Taichou!"

Yamato sampai tidak bisa bicara karena menahan bau dan juga karena kegigihan mereka. Ia tersenyum karena Ino sudah lulus dari predikat 'Tidak punya kegigihan', tetapi tetap saja ia tidak tahan dengan bau tubuh Ino Cs.

"Kalian benar-benar menemukannya? Wah, kalian menemukannya sama-sama, kan?" tanya Gai.

Mereka semua langsung mengiyakan. Hanya Sasuke yang tidak bicara apa-apa. Yamato pun menatap mereka semua.

"Mandi dan bersiaplah dalam 30 menit!" katanya. "Kita punya misi baru. Mari kita selesaikan kasus itu bersama-sama!" tambah Yamato.

Mereka semua tersenyum senang, tak terkecuali Sasuke. Sakura melompat kegirangan karena akhirnya pelatihan mereka yang menyebalkan sudah berakhir.

ooOSerendipityOoo

.

.

"Aku menerima laporan tentang kasus pria-pria yang tertipu dengan teman kencannya yang baru mereka kenal di Club." Kata Genma.

Genma kemudian menjelaskan bahwa pria-pria itu di bawa ke restoran oleh para gadis yang membeli wine dan makanan mahal dengan menggunakan kartu kredit mereka. Pembelian itu tentunya meningkatkan penjualan restoran. Dan setelah itu gadis-gadis itu menghilang tanpa kabar. Rata-rata pengeluaran kartu kredit antara 2 – 4 juta yen per kasus, yang terjadi di 8 restoran dan sudah ada 32 laporan yang masuk.

Yamato menyimpulkan kalau kasus ini seperti kasus pekerjaan paruh waktu di restoran yang sudah terorganisir. Gai bahkan menyampaikan dua laporan baru. Satu tentang tagihan kartu kredit yang terlalu tinggi dan satu lagi laporan pencurian jam tangan limited edition seharga 100 juta yen. Dan semua itu terjadi Club Koishitai tempat para pria itu bertemu dengan teman kencannya. Setelah itu teman kencannya itu menghilang.

"Ada seorang pria yang akan mengajak kencan salah satu gadis di sebuah restoran. Aku dan Genma pergi ke sana untuk menangkapnya tetapi baru saja gadis itu akan memasuki restoran, dia langsung lari setelah melihat kami. Nampaknya ada kata detektif yang tertulis di wajah kami, makanya gadis itu langsung tau dan kabur." Cerita Gai.

"Intinya, kalian yang masih muda tidak mungkin dikenali oleh para gadis matre itu. Jadi kuserahkan kasus ini kepada kalian berenam!" perintah Yamato.

"Ini adalah uji coba di lapangan kalian yang pertama tanpa Yamato-Taichou. Anggap saja ini sebagai pelatihan keempat ala Yamato-Taichou untuk menjadi mandiri!" kata Genma.

"SIAP!" teriak keenam polisi pemula lantang.

.

.

Malam hari, Naruto Cs sudah duduk manis di mobil van black metallic Yamato. Mereka juga sudah siap menyamar. Mereka melepas atribut polisinya, termasuk borgol dan pistol. Naruto memotong rambutnya menjadi lebih pendek (kayak di Naruto the movie The Last) agar tak dikira masih di bawah 19 tahun, sehingga tidak diperbolehkan masuk ke Club Malam. Ia memang sering sekali tidak diijinkan penjaga Club Malam untuk masuk karena penampilannya terlihat seperti anak dibawah umur meski sudah di atas 18 tahun, sehingga ia harus selalu memperlihatkan KTP-nya setiap kali ia ingin ke Club Malam untuk melepas penat. Ia juga mengenakan setelan serba hitam agar terlihat lebih dewasa, bahkan ia mengenakan Jacket bermerk seperti Sasuke.

Sakura sampai terkesima melihat penampilan Naruto yang berbeda dari biasanya. Jantung Sakura kembali berdebar kencang saat melihat bibir tipis Naruto. Dia kembali teringat kejadian tadi pagi. Sakura pun memalingkan wajahnya dari Naruto dan menggelengkan kepalanya keras-keras. Kali ini Sakura bahkan berdandan seperti Ino dan menambahkan scraft di leher agar terlihat lebih chic.

Yamato menjelaskan dasar-dasar penyamaran. "Dan yang paling penting, jangan lakukan apapun sehingga bisa menarik perhatian, apalagi terlibat perkelahian."

"Hai. Wakarimashita!" kata mereka berenam kompak.

Yamato juga menambahkan bahwa tugas ini adalah kesempatan pertama dan terakhir yang akan ia berikan kepada mereka. "Kalau kalian juga mengacaukan hal ini…"

Ekspresi panik muncul di wajah Naruto Cs saat Yamato meneruskan. "Aku tak sudi melihat wajah kalian lagi!"

.

Mereka pun masuk ke Club Koishitai. Tugas mereka hanyalah merekam wajah-wajah para cabe-cabean itu atau mendapatkan nomor telepon mereka atau membuat janji kencan dengan mereka. Sakura ditugaskan untuk masuk ke restroom wanita sesering mungkin untuk mendapatkan informasi. Dia menunggu di salah satu toilet dengan recorder di tangan. Dia akan membuktikan pada Yamato-Taichou bahwa dia memiliki ketulusan, makanya dia bertekad untuk tak pernah keluar dari toilet hingga misi itu selesai.

Ino ditugaskan untuk mengamati hal-hal mencurigakan di sofa-sofa yang ditempati Om-om kaya raya. Dia juga melayani Om-om tersebut saat mereka menggodanya. Dia tersenyum dan tertawa palsu pada mereka semua. Sebenarnya dia benci berakting untuk sesuatu yang sangat menyebalkan seperti ini, tapi semua ini ia lakukan untuk bisa memancing mereka bercerita tentang para gadis yang biasanya suka mengajak para pria kencan pada keesokan harinya. Shikamaru duduk di bangku panjang yang berhadapan dengan bartender untuk menggali informasi tentang gadis-gadis itu dari salah seorang bartender. Ia juga memesan segelas bir pada bartender tersebut. Sementara Lee mendekati seorang pelayan dan menyuapnya untuk memberi akses pada para cabe-cabean itu. Lee yang naïf pun memberikan uang suap sambil berkata, "Saya bisa minta bon untuk uang ini tidak? Pria sadis itu harus mengganti uangku!"

Sasuke? Dengan gayanya yang always cool, ia lebih mudah berbaur dengan para gadis dan bergoyang. Sementara itu ada dua orang pria seperti eksekutif muda yang duduk-duduk di salah satu sofa sambil mengamati orang-orang di lantai diskotik. Salah satu pria itu memegang handphone untuk merekam, khususnya pada dua orang pemuda yang ada dalam kerumunan. Dan hal itu tak luput dari penglihatan Ino.

'Siapa mereka? Polisi kah?' tanya Ino dalam hati.

Naruto malah sibuk melihat-lihat barang-barang mewah di Smartphone-nya, kemudian melihat ke orang-orang di depannya. Seakan Robocop, ia bisa menilai mereka-mereka dan apa yang dipakai oleh orang-orang itu lengkap dengan harga barangnya.

Sasuke mendekati Naruto. Naruto yang ketakutan gara-gara teringat kejadian tadi pagi tentu saja langsung menjauh. Ia bergeser ke kursi yang lain, tetapi Sasuke tak menyerah dan mendekatinya terus.

"Aku hanya ingin bertanya! Apa kau sudah menemukan target kita?"

Naruto menghela nafas lega dan menjawab. "Belum. Aku sedang mengidentifikasi gadis-gadis matre itu."

"Bagaimana caranya? Sejak tadi kau hanya diam?" tanya Sasuke.

"Kau lihat gadis bergaun merah itu?" tanya Naruto. Sasuke mengangguk.

"Dia tak bisa menari dengan bebas karena kakinya sakit, yang berarti dia jarang memakai sepatu berhak tinggi. Bajunya keren tetapi kukunya dipotong pendek. Mungkin dia bekerja di tempat yang membutuhkan higienitas tinggi."

"Maksudmu seperti di Rumah Sakit atau Apotek?"

"Hn. Kemungkinan gadis itu matrealistis menjadi rendah."

"Whoaa..! Aku jadi semakin menyukaimu. Kau tidak hanya kawaii tetapi juga mengagumkan." Sasuke terkesima mendengar analisa Naruto.

Naruto rasanya ingin sekali berlari dari sana. Ia takut di makan Sasuke tetapi ia sedang bertugas sekarang, jadi ia harus professional. Naruto kemudian menunjuk gadis yang memakai barang bermerk dari ujung rambut sampai ujung kaki, apalagi dia memakai gelang Chrysler yang limited edition. Gadis itu cantik. Iris matanya berwarna violet. Style rambutnya yang berwarna pirang pucat itu juga bagus. Dari jauh saja sudah terlihat kalau rambut gadis itu sangat terawat, pertanda bahwa dia sering pergi ke salon.

"Dia mungkin adalah puteri orang kaya yang tak pernah berkeringat. Dan dengan dia selalu mengambil jarak dengan speaker dan mendekati AC… Dia sepertinya pelanggan tetap di Club."

Sasuke terus terkesima. Ia membenarkan karena ia juga sering melihat gadis itu di Club ini. Naruto jadi semakin yakin kalau Sasuke memang putera salah satu orang terkaya di Jepang. Naruto pun menunjuk pada seorang gadis yang bergaun sederhana dan feminim.

"Dia memakai jam Brigue A00892 Navy, berarti dia—" Naruto berhenti berbicara. Ia mulai menyadari sesuatu. Begitu juga dengan Sasuke.

"Jam Brigue? Jam yang dicuri itu?" tanya Sasuke.

"Kuserahkan dia padamu!" kata Naruto.

Sasuke beranjak menemui gadis itu, tetapi Lee tiba-tiba muncul dan mengeluh, meminta Sasuke mengajarinya mendekati cabe-cabean. Naruto menutup muka, takut penyamaran mereka ketahuan karena ulah Lee yang bicara ceplas-ceplos begitu. Untungnya Sasuke langsung melepas jaketnya dan memberikannya pada Lee. Ia menyuruh Lee menukar jaket mereka.

"Merk jaket ini bagus untuk membuat si target terkesan. Aku sih tak perlu memanfaatkan jaket ini karena aku punya wajah yang tampan dan juga keren." Kata Sasuke. Lee langsung memutar bola matanya gara-gara narsis Sasuke kumat.

Sasuke pun mendekati gadis itu dan tak butuh waktu lama untuk Sasuke mendapatkan nomor telepon si gadis. Lee bertepuk tangan kegirangan melihat rekannya berhasil, begitu pula Naruto yang sekarang nampak tenang.

Di dalam toilet, Sakura sudah kesemutan karena duduk di atas toilet sejak tadi, tapi penderitaannya terganti saat ada dua gadis masuk dan bicara tentang korban yang mereka dapatkan. Sakura langsung menekan tombol record dan keluar toilet, pura-pura mabuk. Kedua gadis itu tak sadar kalau gadis mabuk disebelah mereka itu adalah polisi dan terus membicarakan 'bisnis' mereka sambil memperbaiki make up mereka yang mulai luntur.

Sakura membuntuti kedua gadis itu dari kejauhan. Ia melihat Ino duduk manis di salah satu sofa. Salah satu gadis yang dibuntuti Sakura tak sengaja menginjak kaki seorang gadis yang sedang minum wine tahun 1992. Rupanya gadis itu adalah gadis yang tadi kata Naruto adalah puteri orang kaya. Gadis kaya itu tak terima dan menyiramkan segelas wine yang tadi diminumnya pada gadis yang menabraknya. Dia bahkan mendorong gadis itu hingga terjatuh. Ino dan Sakura kaget melihat pemandangan panas di depannya. Si gadis kaya mengambil sepatu si gadis matre dan tersenyum sinis. Ia membanting sepatu itu hingga haknya patah.

Belum puas mematahkan sepatu, dia melempar segepok uang ke muka gadis matre itu. "Uang untuk mengganti sepatumu. Cukup, kan? Berani-beraninya kau menginjak kaki halus nan mulus Shion-sama ini!"

Gadis matre itu mau marah, tapi gadis kaya yang bernama Shion itu malah menyiram sisa wine dalam botol ke rambut si matre.

Sakura dan Ino terkesiap melihat si matre dipermalukan. Shion melepas sepatunya yang mirip dengan gadis mata duitan itu, hanya beda warna. Dia berkata menghina.

"Apa kau lihat ini? Crystal Louboutin SS Collection Limited Pink. Hanya ini satu-satunya sepatu di negeri ini. Sepatu ini tak bisa dibeli dengan gabungan gaji orang tuamu."

Ino mengepalkan tangannya kesal mendengar hinaan gadis kaya itu. Ia maju menghampiri Shion, tapi Shikamaru yang tadi berada di dekat sana muncul untuk mencegahnya. Shikamaru mengingatkan pesan Yamato sebelumnya. "Jangan ikut campur, Ino!" kata Shikamaru sambil memegang lengan Ino.

Mereka terkejut melihat si gadis kaya itu sekarang melewati batas. Dia memukul kepala gadis matre itu dengan tas bermerknya. Tak hanya sekali tetapi berkali-kali hingga berdarah. Ino mencoba melepaskan diri dari Shikamaru tetapi tenaga Shikamaru tak sebanding dengannya. Sakura yang melihat darah bercucuran dari dahi si gadis matre tidak ingin tinggal diam karena jiwa dokternya kembali. Ia ingin membantu gadis itu.

Tak disangka, ada seseorang mendahuluinya. Naruto. Ia memang selalu gentle. Shikamaru dan Ino terbelalak melihat Naruto mencengkram tangan si gadis kaya dan menguliahinya tentang hitung-hitungan ekonomi antara harga sepatu dan gaji orang tua yang bisa digunakan untuk membeli sepatu itu.

"Lantas, jika dia tak bisa membayarnya apa yang akan kau lakukan? Mempermalukannya lebih dari ini?" ujar Naruto. Kuliahnya terhenti saat si gadis kaya itu melepas tangannya dan menendang tulang kering Naruto lalu mendorongnya hingga jatuh.

Sakura masih mematung karena terkesan dengan sikap Naruto yang tidak segan membela seorang gadis yang teraniaya meskipun gadis itu adalah salah satu target mereka. Ino yang sudah menahan diri sejak tadi malah makin kalap dan meledak saat melihat Naruto terjatuh gara-gara dorongan gadis kaya yang kesetanan itu. Biar bagaimana pun Ino sudah menganggap Naruto sebagai adiknya sendiri. Ia terlepas dari Shikamaru dan langsung menyerang gadis itu, tapi gadis itu malah balik menjambak rambutnya.

Shikamaru mencoba melerai dan tak sengaja menginjak kaki si gadis. Reflek, si gadis melepaskan jambakannya pada rambut Ino dan melotot pada Shikamaru. Shikamaru dan Ino saling pandang dan mencoba kabur. Naruto sudah kembali berdiri, sedangkan Sakura langsung membersihkan darah gadis matre tadi dengan scraftnya lalu menempelkan plester pada luka goresan di dahi gadis matre itu.

Shikamaru menarik Ino agar gadis itu bisa berlari lebih cepat lagi, tapi tak semudah itu karena si gadis kaya itu mengejar mereka dan menjambak keduanya. Shikamaru menyimpulkan bahwa si gadis kaya itu sedang stress atau mungkin memang sudah gila. Keduanya dijambak dan didorong ke lantai diskotik hingga menabrak pengunjung, salah satunya Sasuke. Kacau! Semua menjadi kacau. Ada pengunjung yang tak terima di dorong dan seketika itu juga terjadilah perkelahian masal.

Dua pria eksekutif muda itu ternyata adalah polisi seperti dugaan Ino. Mereka sedang merekam transaksi jual beli Narkoba. Melihat kekacauan itu, mereka segera mengejar si pengedar Narkoba, tapi mereka malah terjebak dalam perkelahian masal itu. Naruto yang sudah tiba di lantai diskotik diikui oleh Sakura dan dua gadis matre di belakangnya, mencoba melerai mereka, tapi dia malah di dorong ke samping oleh salah seorang pengunjung berbadan tinggi besar.

Naruto mengernyit kesakitan, tetapi yang membuat ia panik adalah orang yang ada di dekatnya. Orang itu sekarang terduduk, sekarat dengan perut bersimbah darah gara-gara ditusuk dengan botol pecah dalam perkelahian sebelumnya oleh seseorang… entah siapa. Naruto hendak menghentikkan pendarahaan pria itu tetapi ia langsung gemetar ketakutan sambil menatap tangannya yang sudah berlumuran darah pria itu. Seketika itu juga aliran de javu mengalir deras di ingatannya.

Saat ia berumur 12 tahun, ia dan ibunya berlibur ke New York. Di malam hari, saat mereka pulang dari supermarket dan melewati sebuah gang menuju Hotel tempat mereka menginap, mereka dihadang oleh segerombolan pemuda mabuk yang merampok ibunya hingga ibunya berlumuran darah karena terkena tembakkan peluru salah seorang pemuda yang membawa pistol. Saat itu sama seperti pria ini, ibunya sekarat dengan perut bersimbah darah. Dan sejak saat itu Naruto jadi fobia darah. Sebenarnya fobianya sudah sembuh hingga ia bisa lulus menjadi seorang polisi, tetapi kejadian ini malah membuatnya kembali teringat masa lalunya yang pahit itu. Naruto terpaku, badannya mati rasa dan otaknya berhenti bekerja. Kepalanya mendadak pusing dan suasana bising di lantai diskotik membuatnya teringat akan keributan orang-orang yang berkerumun di TKP tempat ibunya sekarat. Dunia serasa berputar disekitarnya. Wajahnya pucat pasi dan penuh dengan keringat dingin. Ino langsung berlari mengampiri Naruto dan memeluknya.

"I-Ino… O- Onee-san…!" kata Naruto terbata-bata.

"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja! Tenanglah!" kata Ino.

Sasuke akhirnya melihat pria itu. Ia panik dan meminta Lee yang masih mencoba melerai perkelahian masal untuk menelpon ambulance. Waktu semakin sempit karena orang itu semakin sekarat. Ia tak bisa berteriak karena ruang diskotik sangat bising dan riuh oleh music yang berdentum-dentum. Ia melihat salah seorang pria yang sedang berkelahi membawa pistol. Maka ia pun segera mengambil pistol itu dan mengarahkannya ke kabel yang menghubungkan ke speaker, tapi saking gugupnya ia tak dapat menarik pelatuk pistol. Tiba-tiba pistolnya diambil oleh Shikamaru. Shikamaru mengarahkan pistol itu dan menembak ke sasaran. Seketika itu juga lantai diskotik sepi. Para pengunjung melihat ke arah Shikamaru dan akhirnya melihat pria yang terkapar sekarat.

Sasuke berteriak kalau ada keadaan darurat dan meminta seseorang untuk menelpon ambulance. Jeritan muncul dan suasana langsung panik. Sakura segera berlari dan melepas kardigannya, menahan darah si pria untuk tidak banyak keluar. Sementara Lee dengan panik menelpon nomor darurat untuk memanggil ambulance. Polisi itu mendatangi Shikamaru, meminta pistolnya kembali dan memukulnya dengan keras.

Diskotik pun bubar, membuat Yamato dan Gai heran. Mereka bertambah terkejut melihat keempat anak buahnya diborgol dan digiring ke mobil polisi bersama si gadis matre yang dianiaya si gadis kaya, sekaligus si gadis kaya itu sendiri.

"Apa yang terjadi?" tanya Gai.

Yamato langsung menghampiri Ino yang sedang memapah Naruto. Wajah Naruto semakin pucat dan penuh dengan keringat dingin. "Kenapa dengannya? Dan kenapa teman-temanmu yang lain digiring ke kantor polisi?" tanya Yamato marah.

"Dia sakit. Shikamaru dan yang lainnya… itu hanya kesalahpahaman, Taichou." Jawab Ino.

"Ya, sudah! Cepat bawa dia ke dokter? Gai, antarkan mereka!"

ooOSerendipityOoo

.

.

Polisi yang pistolnya diambil ternyata adalah polisi dari wilayah Beika. Polisi itu tak bersikap lunak pada mereka, apalagi Shikamaru tak mau menyebutkan namanya. Tak peduli polisi itu mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali, Shikamaru tetap tak mau menjawab. Polisi itu marah dan menjebloskan Shikamaru ke penjara.

Sakura, Sasuke, dan Lee berpandang-pandangan cemas. Sama seperti Shikamaru, Sakura pun bungkam, tak mau buka mulut. Begitu pula Sasuke dan Lee. Polisi itu menunjuk Lee dan Sakura.

"Kalian berdua akan segera bebas setelah menyebutkan nama kalian, karena kalian berdua hanya menolong pria itu dan memanggil ambulance." Kata polisi tersebut, tetapi mereka tetap tak mau menyebutkan namanya.

"Kau yang mengambil pistol itu dariku, kan? Izumo Kamizuki, cepat jebloskan dia ke penjara!" Kata pria itu sambil menunjuk Sasuke.

Di meja yang lain, seorang polisi bertanya. "Jadi namamu Shion dan kaulah yang memulai perkelahian itu?" tanyanya.

"Itu karena gadis brengsek ini! Dia menginjak sepatuku!" kata Shion sambil menunjuk si gadis matre.

"Siapa namamu?" tanya polisi itu pada si gadis matre.

"Namaku Tayuya dan bukan aku yang memulai! Dia saja yang sudah gila dan terlalu angkuh!" kata si gadis matre.

"Kau yang membuatku emosi! Dasar gadis pengemis!" hardik Shion sambil melotot.

"DIAAM!" teriak polisi yang mengiterogasi mereka berdua.

.

Yamato dan Genma akhirnya menemui polisi dan menjelaskan jati diri keempat anak buahnya. Polisi itu sangat kesal mendengarnya.

"Mereka itu adalah detektif? Kami tak makan, tidur atau mandi, dan kalian merusak operasi yang telah kami lakukan selama 2 bulan? Dua orang pemuda yang mengambil dan menggunakan pistolku itu juga detektif? Huh!"

Polisi yang bernama Kotetsu Hagane itu mengancam akan meneruskan kasus ini, membuat Yamato memohon dan membujuk polisi itu. Genma hanya bisa berdiri dengan oleh-oleh yang dia bawa untuk para polisi itu, tapi polisi itu tetap keras kepala. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi, hanya tinggal satu cara. Yamato berkata. "Kita harus hubungi Chief Sarutobi!"

.

Sakura Cs buru-buru menunduk memberi hormat pada Chief Sarutobi Asuma yang langsung membuang puntung rokoknya ke asbak. Asuma menatap sinis pada Shikamaru dan Sasuke yang sudah dikeluarkan dari dalam sel. Mereka semua pun kembali ke kantor mereka.

Di ruang devisi kriminal, Yamato marah luar biasa dan menggunakan tongkat kayu untuk menggebrak meja. Ia menyuruh Shikamaru Cs untuk bicara tanpa kebohongan sedikitpun. "Siapa yang memulai perkelahian? SIAPA?"

Sakura maju dan mengakuinya, tapi Shikamaru dan Sasuke juga maju, begitu juga Lee yang mengatakan kalau mereka memulainya bersama-sama. Yamato malah menganggap kesetiakawanan keempat anak didiknya itu adalah suatu pertunjukkan yang konyol. Ia sebelumnya sudah memberitahu kalau sekali lagi terlibat masalah, ia tak akan sudi melihat mereka lagi. Ino muncul dan langsung membungkuk hormat pada Yamato.

"Taichou, sebenaranya yang memulai perkelahian itu adalah aku!" kata Ino.

"Aku sudah tak peduli siapa yang memulai! Kalian sudah kularang untuk tak terlibat masalah, tapi kalian semua tak menghiraukan. Apa kalian pergi ke sana untuk berkelahi? Aku tak hanya mengirim satu, tapi kalian semua! Apa aku mengirim kalian untuk berkelahi seperti orang bodoh?" bentak Yamato.

Yamato menghela nafas lalu menunjuk Shikamaru Cs. "Kalian berlima, resign sekarang juga! Buat surat pernyataan pindah dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku! Jika sekali saja kalian muncul di depanku, hari itu adalah hari kematian kalian. Jangan pernah muncul lagi, kalian benar-benar bajingan idiot!" teriak Yamato berapi-api.

Yamato akan memukul meja dengan tongkat kayunya lagi, tapi akhirnya ia menjatuhkannya. Bersamaan dengan itu muncul suara.

"Jangan tanya aku. Aku hanya bisa mendapatkan dua korban. Hidan-sama pasti akan marah besar. O iya… kupikir aku melihat polisi."

"Di mana?"

"Saat aku mau masuk ke restoran dan saat aku melihatnya, aku dapat merasakannya."

Shikamaru memutarkan rekaman yang tadi didapat Sakura di Toilet. Yamato berbalik untuk mendengar lebih jelas. Genma merasa itu adalah suara target mereka.

"Apakah kalian yang merekamnya?" tanya Genma.

Lee menjawab sambil menangis. "Iya kami telah melakukannya. Kami bahkan berhasil membuat janji kencan dengan dua dari mereka. Besok jam tujuh malam di Restoran Pierrot. Naruto-kun yang berhasil menemukan gadis pencuri jam mahal itu dan Sasuke yang berhasil mengajak gadis itu kencan. Kami semua bekerja dengan keras. Sakura-chan tak bergerak sedikit pun di toilet wanita untuk merekam itu. Aku juga berhasil mengajak target lain kencan berkat jaket pinjaman Sasuke. Ino dan Shikamaru berhasil mendapatkan informasi tentang markas mereka. Kami semua sudah bekerja sama dengan baik."

Sakura menahan diri agar tak menangis, wajahnya merah dan matanya berkaca-kaca. Ino menghapus air matanya dengan telapak tangan. Sasuke hanya menatap langit-langit dan Shikamaru diam mematung saat Lee menambahkan,

"Bahkan saat di kantor polisi, kami tak memberitahukan identitas kami. Kami sembunyikan identitas kami hingga Shikamaru dan Sasuke dijebloskan ke penjara. Saat itu salah satu gadis itu ada di belakang kami. Kami tak dapat mengacaukan investigasi."

Yamato menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap kelima anak didiknya satu-satu. Sakura dengan cepat menghapus air matanya yang akhirnya keluar. Genma menghela nafas dan menepuk bahu Lee, menguatkannya.

Situasi menjadi canggung. Mereka semua salah tingkah akan situasi yang baru pertama kali terjadi. "Aku minta maaf. Aku bangga dengan pekerjaan kalian dan aku akan tetap mendidik kalian sebisaku." Kata Yamato pada akhirnya.

"Istirahatlah, besok kita akan menyelesaikan kasus gadis matre!" Tambah Yamato sambil tersenyum dan melanjutkan. "Sakura, kau lulus dari predikat tidak punya ketulusan. Begitu pula denganmu, Shikamaru. Aku senang karena ternyata kau bisa serius juga. Lee dan Sasuke, kalian juga. Begitu juga dengan Naruto. Kalian semua lulus. Aku bangga pada kalian berenam."

Sakura memeluk Ino dan tersenyum lebar. Dia senang sekali. Sasuke, Shikamaru, dan Lee juga tersenyum. Ino melirik ruang kosong di samping Sakura, biasanya Naruto ada di sana. Naruto juga pasti akan senang sekali karena mereka semua sudah mendapatkan pengakuan dari Yamato.

"Oh ya, Ino-san! Kenapa dengan Naruto-kun?" tanya Lee.

"Tidak apa-apa. Dia hanya sedang kurang sehat. Setelah istirahat selama beberapa hari dia pasti akan baik-baik saja dan kembali ceria seperti semula." Jawab Ino.

"Di mana dia sekarang?" tanya Shikamaru.

"Di rumah sakit."

"Kenapa kau meninggalkannya sendirian?" tanya Sasuke.

"Dia memintaku untuk kembali pada kalian dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi."

Sakura menoleh pada Ino. Dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ino sepertinya dekat sekali dengan Naruto. Sejak kapan mereka saling kenal. Dia jadi cemburu pada Ino. Beberapa detik kemudian Sakura menggeleng. 'Kenapa aku harus cemburu? Memangnya apa arti dia bagiku?'

.

.

Mereka menyerbu markas si gadis matre. Rupanya tempat itu semacam tempat kursus untuk melatih para gadis memikat para korbannya dan memoroti uang mereka. Dan si pemberi kursus adalah pria bernama Hidan. Sungguh ironis, ternyata pria yang mengajarkan cara untuk memoroti uang para pria.

Pria itu protes. Para polisi tidak memiliki surat ijin penggeledahan. Yamato berkata tempat ini bukanlah kantor melainkan TKP, jadi tidak perlu surat ijin. Yamato menemukan Laptop si pemberi kursus yang berisi modul-modul kursusnya dan menyitanya.

Hidan bersikeras mereka harus membawa surat penggeledahan. Yamato berkata ia akan datang dengan surat penggeledahan jika ia memang memerlukannya. Lalu ia membacakan bukti-bukti lain yang sudah dikumpulkan. Yamato juga mengatakan dasar hukum yang menyatakan bahwa mereka berhak menggeledah TKP tanpa surat penggeledahan. Dan tempat ini jelas adalah TKP tempat direncanakannya penipuan. Hidan langsung ditangkap. Sasuke pun memborgol kedua tangan Hidan.

Lee dan Sakura kagum melihat kerennya pemimpin tim mereka dalam menghadapi tersangka. Keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka menemukan sesuatu yang berharga tanpa disengaja, yaitu pekerjaan mereka yang ternyata menyenangkan setiap kali sebuah misi berhasil diselesaikan. Sakura tidak lagi melakukan pekerjaan ini sebagai pelarian. Ia bersumpah tidak akan pernah meninggalkan pekerjaan ini biarpun orang tuanya terus memaksanya untuk menjadi seorang dokter. Sekarang alasan Lee memilih pekerjaan ini juga sudah berubah. Ia bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan tetap dan menikah saja, tetapi dia bertekad akan mengungkapkan kebenaran apapun resikonya, biarpun nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.

Yamato memerintahkan kelima anak didiknya untuk mencari setiap bukti dalam ruangan tersebut. Ino menghampiri para gadis peserta kursus itu. Penciuman Ino yang tajam membaui sesuatu saat ia mendekati salah seorang gadis peserta kursus. Ia bertanya, apa gadis itu sedang menjalani pengobatan herbal untuk membasmi kutu? Gadis itu protes. Shikamaru mendekati gadis itu dan membaui bagian kepalanya. Lalu ia mengambil tas si gadis dan mengeluarkan seluruh isinya. Sasuke meyerahkan Hidan pada Lee dan mengambil ponsel si gadis yang terjatuh ke lantai. Ia membuka ponsel gadis itu dan melihat gadis itu berfoto bersama seorang pria berambut merah yang juga ada di Club malam saat itu.

Shikamaru menemukan lintingan marijuana di tempat rokok gadis itu. Gadis itu ditangkap, karena dia seorang wanita maka Ino yang memborgolnya. Yamato menggeledah lebih lanjut dan menemukan Narkoba di dalam pembalut cadangan wanita tersebut.

"Siapa pemasokmu?" tanyanya.

Sasuke kembali memandang foto di ponsel si gadis. Ia teringat bahwa pria ini adalah pemasok Narkoba yang sedang diincar oleh detektif yang menjebloskannya dan Shikamaru ke penjara.

"Kurasa pemasoknya adalah kekasih gadis ini…" Kata Sasuke. Ia memperlihatkan foto yang menjadi wallpaper ponsel si gadis. Di pinggir foto tersebut terdapat tulisan Yui Love Sasori.

"Saat di Club malam, pria ini sempat berbicara dengan pria berambut pirang panjang yang tertusuk saat perkelahian masal terjadi. Pria berambut pirang itu pasti pelanggan tetapnya." Kata Sasuke meneruskan perkataannya tadi.

"Oh, jadi si Deidara itu—" kata Yamato. Dia tersenyum karena sekarang hutang mereka pada detektif Kotetsu Hagane yang telah menjebloskan Shikamaru dan Sasuke ke panjara telah lunas. Mereka impas dan bisa kembali berdamai. Sasuke memeriksa ponsel gadis itu lagi. Catatan dalam ponsel itu juga menyatakan bahwa si gadis sempat berbicara dengan kekasihnya pagi ini. Sasuke pun menyerahkan ponsel itu pada Yamato.

Ino menyuruh si gadis yang sudah diborgol untuk berdiri. Mereka semua menangkap para gadis itu dan menggiring para gadis tersebut sekaligus Hidan ke mobil polisi. Yamato mengumpulkan semua bukti-bukti ke dalam kardus dengan dibantu oleh Shikamaru.

"Baiklah, mari kita semua kembali ke kantor polisi! Dan setelah itu aku akan mentraktir kalian semua makan sepuasnya..."

"YESS!" teriak Lee dan Sakura kompak. Mereka langsung tos.

ooOSerendipityOoo

.

.

Ino dan yang lainnya mengunjungi rumah sakit tempat Naruto dirawat. Di koridor rumah sakit, seorang pria muda dengan jas dokter yang tidak sengaja melihat Sasuke langsung berlari menghampirinya dan mencium bibirnya. Sasuke langsung mendorong dokter muda itu dan menatapnya tajam.

"Sasuke, kau kemana saja? Apa kau ke sini untuk kembali kepadaku?"

"Hubungan kita sudah lama berakhir, Suigetsu! Aku datang ke sini bukan untukmu!" bentak Sasuke.

Lee dan yang lainnya cengo melihat pemandangan itu. Seorang wanita muda berseragam perawat reflek menutup mulutnya dengan telapak tangan karena tak sengaja melihat pemandangan tersebut. Air mata mengalir membasahi wajah cantiknya. Mata Sasuke membulat melihat suster itu langsung berlari sambil menangis.

'Hinata-chan? Kenapa dia lari sambil menangis? Mungkinkah dia masih mencintaiku? Tidak! Itu tidak mungkin! Dialah yang memutuskan hubungan kami!' pikir Sasuke dalam hati.

"Oi, Sasuke! Siapa gadis itu? Mantan pacarmu semasa SMA?" tanya Shikamaru. Sasuke mengangguk membenarkan.

"Sebaiknya kau kejar dia, Sasuke! Kau membuatnya menangis!" sambung Lee. Sasuke pun mengangguk dan langsung berlari mengejar gadis itu.

"Dia menjadi gay karena wanita itu, kan? Tapi kalau memang wanita cantik itu yang minta putus dengan Sasuke-san, kenapa dia menangis saat melihat Sasuke-san berciuman dengan pria tadi?" tanya Ino bingung.

"Mungkin wanita itu hanya ingin lebih diperhatikan oleh Sasuke-san, makanya dia mengatai Sasuke-san terlalu dingin… padahal sebenarnya dia masih mencintai Sasuke-san dan mungkin ucapan putusnya itu hanya untuk menguji Sasuke-san saja?" kata Sakura.

"Ah, kuharap Sasuke sembuh setelah menyelesaikan masalahnya dengan gadis itu." Sambung Lee.

"Ayo pergi!" ajak Ino. Mereka pun mengikuti Ino menuju sebuah ruangan di mana Naruto dirawat.

Naruto duduk di ranjangnya sambil memandang ke luar jendela. Dia menoleh saat mendengar suara pintu di buka dan langsung tersenyum saat melihat teman-temannya yang datang. Sakura memberikan sebuket bunga Camelia Pink pada Naruto. Naruto tertawa kecil, ia ingat apa bahasa bunga Camelia Pink dari Ino. Itu artinya 'Aku merindukanmu'.

"Kenapa kau tertawa? Huh!" bentak Sakura sambil melotot. Naruto hanya tersenyum.

Shikamaru menaruh satu keranjang buah-buahan di atas meja dan Lee menyerahkan sebungkus bubur abalone pada Naruto.

"Arigatou, minna!" kata Naruto sambil tersenyum.

Ino duduk di samping Naruto. "Kau sudah baikan?" tanyanya.

"Hai. Besok aku juga sudah boleh pulang, Nee-san."

"Onee-san?" tanya Sakura heran. Sejak kapan Naruto memanggil Ino 'Onee-san'?

"Hai. Dia kakakku."

"Kakakmu? Bagaimana bisa dia jadi kakakmu, marga kalian jelas berbeda? Kalian juga tidak mirip sama sekali!" tanya Sakura dengan nada sinis.

"Ciee…! Ciee…! Kayaknya ada yang cemburu, nih?" goda Lee yang langsung mendapatkan deathglare dari Sakura.

"Ayah Naruto adalah waliku. Kedua orang tuaku sudah meninggal dan ayahnya menjadi ayah keduaku. Jadi dia adalah adikku, Sakura." jawab Ino.

"Oh, terus kenapa kemarin-kemarin kalian berdua pura-pura tidak saling mengenal?"

"Kapan kami begitu? Perasaan interaksi kami biasa saja..." kata Naruto polos. Sakura menghela napas. Dia benar-benar capek bicara dengan Naruto.

"Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau jatuh sakit saat sedang bertugas?" tanya Lee yang sudah penasaran dari kemarin-kemarin. Naruto melirik Ino.

"Dia memang sedang kurang sehat saat itu." Jawab Ino. Naruto tersenyum dan berterimakasih dalam hati.

"Kenapa? Rasanya ada yang ganjil?" tanya Lee lagi.

"Itu gara-gara sampah! Kau ingat, kan? Dia muntah-muntah saat di TPS?" kata Ino pula.

"Oh, jadi Naruto-kun punya penciuman setajam anjing juga?"

"Tidak! Lebih tepatnya dia ini hanya tuan muda manja yang tidak pernah mencium bau sampah."

"Ino-Neesan!" protes Naruto. Lee malah tertawa terbahak-bahak.

"Kupikir kau mengidap penyakit serius sampai sakit tiba-tiba begitu?" sambung Shikamaru.

"Kalau aku sakit parah, aku tidak mungkin menjadi polisi, Shikamaru-Nii! Kita kan harus benar-benar lulus test kesehatan sebelum masuk Academy Kepolisian."

"HEY! Atas dasar apa kau memanggilku kakak? Huh!" protes Shikamaru.

"Lho… bukanya kau itu calon kakak iparku?" tanya Naruto innocent.

"Siapa yang KAKAK IPARMU?" sahut Ino sambil mencubit lengan Naruto.

"Aoww, kenapa kau suka sekali mencubit orang, Onee-san?" teriak Naruto.

"Dasar, si bungsu!" kata Lee yang merupakan si sulung diantara mereka semua.

.

.

"Hinata-chan?" kata Sasuke yang kemudian duduk di samping Hinata yang sedang menghapus air matanya dengan tisu.

Hinata yang melihat Sasuke sudah duduk di sampingnya langsung beranjak pergi tetapi Sasuke menahan lengannya dan menatap Hinata dengan tatapan yang lembut. Tatapan yang sering Hinata peroleh dari Sasuke semasa SMA. Sasuke hanya memberikan tatapan seperti itu padanya. Tidak pernah pada orang lain dan hal itu langsung membuat moment-momentnya dengan Sasuke memenuhi kepalanya. Kenangan-kenangan membahagiakan itu seakan kembali terulang.

"Kenapa kau belum menikah atau menjalin hubungan dengan pria lain?" tanya Sasuke.

'Itu karena kamu, Sasuke-kun… karena aku masih mencintaimu dan menyayangimu sepunuh hatiku.'

"Baiklah, pertanyaannya aku ganti? Kenapa enam tahun yang lalu kau minta putus denganku?"

"Bukanya aku sudah bilang? Aku mencintai Inuzuka Kiba!" Jawab Hinata.

"Kalau begitu, kenapa? Kenapa kau tidak berkencan dengan pria itu setelah putus denganku?"

Hinata menatap Sasuke. Semuanya sudah terbongkar. Sasuke sudah tahu kalau ia berbohong.

"Kau sendiri? Kenapa kau jadi tidak normal begitu? Kenapa seleramu menjadi berubah? Kenapa kau menjalin hubungan dengan pria?"

"Itu karena kau. Aku sakit hati dan sempat membencimu karena kau memutuskan hubungan kita tanpa alasan. Kau memutuskan hubungan kita secara sepihak, Hinata! Sejak saat itu aku jadi benci wanita!"

Hinata tercengang, jadi itu alasannya. Sasuke membenci wanita karena kesalahannya. Sasuke jadi tidak normal seperti ini karena kesalahannya sendiri. Hinata tidak tahan lagi, ia pun mengakui semuannya.

"Aku hanya ingin mengujimu. Kau terlalu dingin, padahal aku ingin perhatian yang lebih darimu. Aku ingin sekali-sekali kau bersikap romantis kepadaku tapi kau tetap dingin, Sasuke-kun. Aku sempat berpikir kalau Sasuke-kun tidak mencintaiku, makanya aku minta putus. Kau tidak bilang apa-apa. Kau tidak bilang kalau kau tidak terima kita putus. Kau menerima keputusanku begitu saja dan menghilang. Sejak saat itu aku semakin yakin kalau kau memang tidak pernah mencintaiku."

'Astaga! Jadi semua itu hanya kesalahpahaman? Kenapa aku tidak pernah sadar? Sasuke kau bodoh! Kau idiot!' gerutu Sasuke dalam hati. Hinata kembali terisak. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.

"Maaf karena aku introvert, tapi Hinata sekarang aku sudah berubah. Aku bukan lagi orang yang dingin. Dan asal kau tahu Hinata… saat itu aku sangat mencintaimu! Kenapa kau tidak pernah menyadarinya? Kenapa kita menjadi pasangan yang bodoh?"

Hinata langsung tercenung. Ia sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi di masa lalu. Ia mulai menyadari kesalahannya. Saat itu ia memang terlalu egois dengan mengharapkan Sasuke akan selalu bersikap romantis padanya, padahal ia tahu kalau Sasuke itu orang yang tertutup. Hinata tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dan ia ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu.

"Sasuke-kun, maaf kalau aku egois. Nee, Sasuke-kun! Kalau aku meminta kesempatan kedua untuk kembali memulai hubungan kita dari awal dan memperbaiki semuanya… apa kau akan sembuh dan kembali menjadi pria normal?" tanya Hinata penuh harap.

.

.

Tsuzuku

.

.

A/n: Nah, sekarang alur ceritanya sudah mulai berubah walaupun masih ada beberapa scene yang sama dengan dramanya. Chapter kali ini author persembahkan untuk pecinta NaruSaku dan SasuHina. Semoga kalian semua suka dengan chapter kali ini! Atau ada yang masih kurang puas? Okay, Review Please! Arigatou. ^^

.

Blasan Review yang nggak log in:

.

Pixx: Iya, tapi fict ini nggak ada unsur misterinya seperti detective conan, karena fict ini lebih menceritakan tentang mereka berenam yang akhirnya mendapatkan sesuatu yang berharga sebagai seorang detektif. Dan aku emang sengaja pengen bikin Narutonya sekeren mungkin walaupun masih ada polosnya :D

Iya, ini ada ShikaIno dan SasuHina juga dan mungkin Lee juga bakalan aku kasih pasangan, tapi masih bingung juga. Siapa ya, chara yang kira-kira cocok dengan Lee? Arigatou for RnR. ^^

Tonton: Yeah, namanya juga Sasuke Uchiha, always cool everyday, hahaha. Nih udah dilanjut. Arigatou for RnR. ^^

Zooma: Hahaha… iya dong, daripada ketahuan sama Yahiko ntar. Iya ada SasuHina-nya juga. Arigatou for RnR. ^^

Kisota: Yup, makanya aku lebih memilih Yamato daripada Kakashi untuk menjadi pimpinan mereka. Sebenarnya Yamato bukan cuma pengen ngerjain Naruto Cs aja sih, tetapi detektif itu kalau dapat misi pengintaian emang harus betah di mobil sampai penjahatnya keluar. Ini udah dilanjut. Arigatou for RnR. ^^

DemonSan: Bukan. Kalau anaknya Itachi-Hana itu cewek dan masih kecil, umurnya baru dua tahun. Kalau Uchiha Akira itu anaknya Uchiha Obito sama Rin. ^^

Yah, Kushina kan seorang ibu jadi dia sedih banget setelah kehilangan Naruko. Dia nggak tahu harus nyalahin siapa hingga akhirnya malah Minato yang kena. Iya, Ino udah nggak punya Ortu lagi. Sekarang keluarganya cuma Minato sama Naruto. Hai! Arigatou for RnR. ^^