A/n: Hello, minna-san! ^^
Maaf soal kemarin ya, Minna-san. Muki emang galau kemarin (dan sekarang pun masih galau) tapi kemarin aku cuma pengen curhat aja, kok, nggak bermaksud bersikap childish karena aku suka Manga/Anime Naruto meskipun nggak suka ending pairing-nya. Maklumin aja ya, namanya juga orang yang lagi galau? Hehehe. Dan dengan ini aku memutuskan tidak akan sampai bikin fict-fict NaruSaku karyaku discontinued karena ternyata masih banyak NSL yang mau baca fict NaruSaku *terharu*. Terimakasih buat kalian semua yang udah memberiku semangat. Sedih juga sih karena pairing yang aku suka nggak jadi semua (baik itu NaruSaku maupun ShikaIno, bahkan aku juga suka NejiTen tapi Neji-nya malah mati. MinaKushi udah pasti suka, tapi mereka mati juga), tapi aku masih pengen bikin fict tentang mereka dan juga membaca semua fanfiction karya author lain tentang mereka, jadi semoga kalian nggak pada bosen dengan fict NaruSaku dan ShikaIno karyaku. Well, Happy Reading! ^^
.
.
Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto
Terinspirasi dari Korean Drama "You're All Surrounded"
You're All Surrounded (Director: Yoo In Sik, Screenwriter: Lee Jung Sun)
This Fanfiction belong to me
Tittle: Serendipity
Genre : Drama, Crime, Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Pairing : NaruSaku, ShikaIno, SasuHina.
Warning : AU, OOC, minim deskriptif, tyopo(s), abal, dll.
.
.
Sumarry : Yamato adalah pimpinan Tim 2 devisi kriminal. Ia tak menyangka bahwa tahun ini ia akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih merepotkan. Ia diminta untuk menjadi kapten tim rookie yang ternyata semua anggotanya adalah polisi pemula yang malah membuat kepalanya sakit. Mereka masih naïf dan amatir. Bagaimanakah kisah Yamato-Taichou dalam mendidik para polisi/detektif muda ini? (terinspirasi dari Kdrama "You're All Surrounded")
.
.
Chapter 4: Tidak ada detektif pemula
"Pemula bisa membuat kesalahan tapi seorang detektif tidak boleh membuat kesalahan. Kenapa? Karena satu kesalahan saja bisa berakibat fatal dan tidak bisa ditarik kembali. Jagan terlalu ambisius tapi juga jangan tidak peduli" —Yamato Tenzo—
ooOSerendipityOoo
.
.
Minato Namikaze masih mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan dokter psikiater di depannya. Dokter cantik itu mengela nafas panjang.
"Aku sebenarnya tidak ingin mengijinkannya pulang hari ini tetapi dia terus memaksaku!"
"Kenapa? Apa keadaannya seburuk 7 tahun yang lalu?"
"Minato-kun, puteramu meminta obat tidur lagi padaku. Dia bilang dia tidak bisa tidur karena dia terus bermimpi buruk. Dia terus-menerus memimpikan hal yang sama—saat Kushina meninggal di depan mata kepalanya sendiri."
"Dia masih tidak dapat melupakan kejadian itu?"
"Dia anak yang cerdas. Dia tidak akan bisa lupa."
Minato memijat keningnya. Pikirannya kalut dan hatinya tidak tenang memikirkan Naruto.
"Terlalu banyak mengkonsumsi obat tidur itu tidak baik, jadi aku tidak mau memberikannya. Sayangnya, gara-gara aku tidak memberikannya, Naruto masih lemah karena dia kurang tidur. Aku benar-benar tidak mau mengijinkannya pulang tetapi kau tahu dia, kan? Dia itu keras kepala sama seperti ibunya."
"Dia benar-benar berbeda dengan Ino-chan. Ino-chan tidak sampai memiliki trauma karena masa lalunya yang pahit…"
"Itu karena Ino-chan bisa menerima semuanya tetapi Naruto tidak. Ino-chan bahkan tidak memiliki rasa dendam di dalam hatinya karena kau benar-benar mendidiknya dengan baik."
Dokter cantik bernama Tsunade Senju itu mengambil nafas sebentar, sebelum melanjutkan. "Aku senang karena kau yang menjadi walinya. Kalau kau tidak menjadi walinya, Ino-chan mungkin tidak akan bisa tersenyum apalagi tertawa lagi. Aku ingat saat dia kehilangan kedua orang tuanya, dia sangat sedih dan depresi. Biarpun pemerintah memasukkannya ke panti asuhan, dia hanya menyendiri dan selalu menghindari teman-temannya. Itulah sebabnya aku memintamu untuk menjadi walinya. Dan akhirnya, Ino-chan bisa kembali normal karena kau berhasil menjadi pengganti ayahnya."
"Ini semua salahku. Aku tidak bisa melindungi keluargaku. Setelah aku kehilangan Naruko, aku juga kehilangan Kushina dan sekarang Naruto menjadi seperti ini. Aku benar-benar seorang ayah yang tidak berguna. Aku bahkan tidak percaya, orang sepertiku begitu dikagumi oleh Ino-chan?!"
"Minato-kun, sudah kubilang… Kau jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri! Kau sampai terlambat menjemput Naruko karena saat itu kau harus menyelamatkan seorang anak. Kau tidak bisa melindungi Kushina karena saat itu kalian sudah lama bercerai, dan saat itu mereka juga sedang berada jauh dari jangkauanmu. Meskipun Kushina pernah bilang kalau kau bukan ayah yang baik, kau sebenarnya adalah detektif yang hebat sekaligus ayah yang baik. Itulah sebabnya Ino-chan begitu respect terhadapmu. Apa yang terjadi pada Kushina dan Naruko, itu semua adalah takdir. Kejadian itu di luar kemampuan kita sebagai manusia." Nasihat Tsunade. Minato hanya menundukkan kepalanya sambil menahan tangis.
Tsunade menarik tangan Minato dan megenggamnya erat, menguatkannya. "Aku mengenalmu sejak kau masih kecil. Kau adalah orang yang baik, Minato-kun."
ooOSerendipityOoo
.
.
Yamato memberi keenam anak didiknya kasus selanjutnya. Mereka berenam terkejut. Tak mengira mereka akan diberi kasus lagi oleh Yamato.
Mereka semua dibagi menjadi 3 tim. Naruto dan Sakura diberi kasus penguntit. Shikamaru, Ino, dan Genma diberi kasus tentang seorang pria paruh baya yang ditemukan tewas di kamar mandi apartemennya. Sasuke dan Lee diberi kasus tentang orang hilang. Awalnya kasus itu hanya diserahkan kepada unit orang hilang tetapi ternyata kasus orang hilang tersebut juga dicurigai berhubungan dengan kasus kriminal, makanya Sasuke dan Lee diminta untuk bekerja sama dengan beberapa anggota tim unit orang hilang tersebut.
"Jangan pedulikan ini kasus besar atau kecil. Fokus dan dengarkan. Lakukan penyelidikan menyeluruh. Berusahalah menjauhi kekerasan dan selidiki dengan serius. Kalian menjadi detektif yang memimpin." Kata Yamato. Ia akan pergi selama tiga hari untuk memimpin pelatihan di kepolisian pusat bersama dengan Gai.
"Jika ada kesulitan atau kemajuan, kalian harus melapor pada Genma. Kalian bukan lagi pemula. Tidak ada yang namanya detektif pemula. Pemula bisa membuat kesalahan tapi seorang detektif tidak boleh membuat kesalahan. Kenapa? Karena satu kesalahan saja bisa berakibat fatal dan tidak bisa ditarik kembali. Jagan terlalu ambisius tapi juga jangan tidak peduli. Dan pastinya…" Yamato menatap anak-anak didiknya satu-satu. "Jangan pernah bertindak sendirian! Mengerti?"
"Hai! Wakarimashita!"
,
.
Naruto dan Sakura memulai penyelidikan pertama mereka. Sakura kesal karena dia yang malah disuruh menyetir. Tadinya Sakura mau protes, tetapi melihat sejak tadi Naruto tidak terlihat bersemangat seperti biasanya dan sesekali memijat keningnya membuat Sakura malah menjadi khawatir apalagi wajah Naruto agak pucat.
"Hei, hei, hei! Apa kau masih sakit? Wajahmu pucat…" kata Sakura.
"Aku hanya sedikit pusing, Sakura-chan. Kau tidak usah khawatir."
"Siapa yang khawatir? Aku hanya tidak mau kau mengacaukan misi pertama kita karena kau sedang dalam kondisi tidak fit!"
"Aku hanya kurang tidur, Sakura-chan."
"Kalau begitu, tidurlah!"
"Tidak bisa. Sebentar lagi kita akan segera sampai."
Mereka akhirnya tiba di Rumah si pelapor. Sakura meminta gadis itu menceritakan bagaimana ia mulai dikuntit.
Gadis pelapor yang bernama Tenten itu bercerita, ia bertemu dengan seorang pria dalam kencan buta. Ia hanya menemuinya dua kali dan berhenti menelponnya karena tidak tertarik pada pria itu. Tapi pria itu terus-menerus menelponnya dan mengirimnya SMS, bahkan mendatanginya ke rumah dan mengatakan ia mencintai gadis itu dan gadis itu adalah miliknya.
Puncaknya adalah ketika gadis itu mulai berkencan dengan orang lain beberapa hari lalu. Tindakan penguntit itu bertambah parah. Ia berkata akan datang malam hari saat tidak ada orang dan membunuh gadis itu. Pria itu mengancam dan menyiksanya secara verbal. Gadis itu merasa sangat menderita. Hanya mendengar suara dering telepon saja sudah membuat jantungnya berdebar kencang dan rasanya ia hampir gila.
Naruto bertanya, apakah gadis itu memiliki bukti bahwa pria itu mengancamnya dan menyiksanya secara verbal. Misalnya rekaman telepon atau video. Sayangnya tidak ada. Naruto berkata untuk saat ini mereka hanya bisa menyebut kasus ini adalah kasus penguntitan. Dan kasus penguntitan tergolong kejahatan ringan. Untuk bisa menangkap pria itu karena sudah mengancam dan mengganggu, gadis itu memerlukan bukti kuat.
"Penguntitan hanya kejahatan ringan?" tanya gadis yang bernama Tenten itu tidak percaya.
Dengan menyesal Sakura membenarkan. Gadis itu kecewa dan makin ketakutan.
"Memang tidak bisa dipercaya! Bagaimana bisa menguntit seseorang diberi hukuman sama seperti orang kencing sembarangan di jalan? Hukuman seperti apa itu?" oceh Sakura.
Naruto melirik partnernya dengan kesal. Mereka adalah petugas penegak hukum tetapi malah menjelek-jelekkan hukum.
"Bohong kalau hukum Negara kita melindungi rakyat!" ujar Sakura.
Naruto buru-buru menyudahi penyelidikan mereka dengan meminta gadis itu untuk menelpon mereka lagi jika sudah memiliki bukti. Ia lalu pamit karena tidak ada lagi yang bisa mereka katakan.
"Tunggu sebentar, Naruto! Mari kita tangani kasus ini sendiri! Kita bisa mendapatkan bukti ancaman!" Kata Sakura.
"Kalian bisa melakukan itu untukku?" tanya gadis itu penuh harap. Sakura mengangguk menenangkan.
Naruto meminta Sakura berbicara dengannya di luar. Ia langsung memarahi Sakura agar berpikir sebelum berbicara. Jika Sakura tidak berpikir maka sebaiknya Sakura tutup mulut. Ia menuduh Sakura berlebihan karena terlalu bersemangat. Mereka seharusnya bekerja sesuai buku.
"Bukankah ini pekerjaan kita? Kita detektif yang menangani kasus ini!"
Naruto berkata, Sakura hanya ingin dipuji karena menyelesaikan kasus pertamanya, tapi Sakura berkata ia tidak ingin dipuji. Ia benar-benar ingin membantu gadis itu.
"Kau belum pernah menjadi korban dan kau tidak akan mengerti karena kau seorang pria."
"Kau tidak dengar apa yang dikatakan Yamato-Taichou sebelum memberi kita misi ini? Jangan terlalu ambisius!"
"Kau sendiri juga tidak mendengarkan, buktinya kau tidak peduli!"
"Bukanya aku tidak peduli, Sakura-chan. Aku hanya tidak ingin bertindak gegabah." Kata Naruto yang kemudian berjalan pergi.
"Bayangkan kalau gadis itu adalah Ino-san! Kau mau diam saja meskipun kakakmu itu sudah diancam akan dibunuh?" teriak Sakura.
Naruto berhenti berjalan dan kembali berbalik pada Sakura. Sakura tersenyum karena akhirnya Naruto mau membantunya. "Kau adik yang baik." Kata Sakura.
Mereka pun menyelidiki akun SNS penguntit. Lalu menyelidiki rekaman CCTV di luar rumah Tenten. Sakura memberikan alat perekam pada Tenten untuk merekam percakapannya dengan si penguntit yang bernama Sora itu.
.
.
Shikamau, Ino, dan Genma tiba di Apartemen seorang pria paruh baya. Korban tersebut berusia 65 tahun. Dia tewas di dalam kamar mandi sambil mengenggam erat ponselnya. Dia memiliki dua orang anak kembar bernama Sagi dan Toki, dan tinggal bersama puterinya. Orang yang menelpon polisi adalah puteranya yang sedang berkunjung padahal selama ini adiknya—Toki— ada di rumah.
Genma memeriksa tubuh korban. Kepala korban terluka hingga mengeluarkan darah. Kornea matanya buram tetapi pupilnya jernih. Perutnya sudah mulai membusuk. Ada seekor belatung di dalam rongga hidungnya. Setidaknya korban telah mati sejak 24 jam yang lalu. Dari telapak kaki korban ditemukan sabun kering.
"Sabun? Dia pasti tepeleset! Aku yakin ini hanya kecelakaan!" kata Shikamaru.
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Shikamaru!" tegur Ino.
Tiba-tiba terdengar suara rebut-ribut di luar kamar mandi TKP. Kedua anak korban berkelahi dan saling menuduh bahwa saudaranya adalah pembunuh Ayah mereka. Shikamaru dan Ino segera memisahkan mereka. Ino menahan pergerakkan Toki sedangkan Shikamaru menahan gerakkan Sagi.
"Aku yakin pasti dia yang membunuh Ayahku!" teriak Sagi sambil terus berusaha melepaskan diri dari Shikamaru.
"Jangan bohong! Kau yang membunuhnya demi uang!" balas Toki penuh emosi.
"Demi uang? Siapa yang selama ini hidup memoroti uangnya? Apakah tidak cukup kau menghabiskan uangnya? Apakah kau akan mengambil semuanya setelah membunuh Otou-san?"
"Jangan bicara omong kosong! Kau yang selalu mengincar uang Otou-san! Dasar parasit!" si adik kembali menyerbu kakaknya.
Mereka kembali dipisahkan. Genma memarahi mereka. Apakah mereka tidak malu berkelahi seperti itu padahal Ayah mereka baru saja tiada? Akhirnya keduanya lebih tenang. Genma memerintahkan agar kakak beradik itu dibawa ke Kantor Polisi.
.
.
Sasuke dan Lee masih berada di Kantor. Seorang wanita paruh baya memohon pada seorang anggota unit orang hilang yang bernama Temari. "Tolong temukan puteraku!"
"Mereka harus menemukan si wanita nakal yang membunuh Haku terlabih dahulu, bibi!" kata seorang wanita yang sepertinya adalah keponakan si wanita paruh baya.
"Temukan puteraku, onegai!" kata si Ibu sambil memegangi tangan Temari. "Puteraku tidak akan pergi seperti itu karena ia tahu ibunya akan khawatir. Untuk apa ia meninggalkan rumah?"
Si keponakkan si Ibu mengatakan, ada banyak hal yang mencurigakan seputar menghilangnya saudara sepupunya itu. Ia curiga bahwa sepupunya itu telah dibunuh oleh calon istrinya.
Temari lalu mengalihkan kasus tersebut pada Sasuke dan Lee. Orang yang hilang itu bernama Haku Yuki, 26 tahun. Haku adalah seorang Manajer Restoran dan seharusnya menikah dengan Isaribi tanggal 31 Mei, tapi ibunya sudah sebulan tidak berhasil menghubungi puteranya.
Sang Ibu percaya pada perkataan calon menantunya yang mengatakan bahwa saat ini Haku sedang berpergian dan tidak bisa dihubungi selama beberapa waktu, tapi kemudian tagihan-tagihan kartu kredit mulai berdatangan, juga tagihan uang dari Internet dalam jumlah besar.
Si Ibu akhirnya pergi mencari puteranya ke Kanto, tapi Isaribi berkata, Haku sudah pergi dan uangnya menghilang tanpa jejak. Tepat sebelum Haku hilang, Isaribi mendaftarkan Apartemen mereka untuk dijual, tanpa sepengetahuan keluarga Haku. Dan karena adanya kemungkinan pembunuhan maka pimpinan tim mereka—Morino Ibiki— meminta bantuan tim Yamato.
Sasuke dan Lee akhirnya ditugaskan untuk menemui Isaribi, tunangan Haku. Isaribi tak nampak khawatir tunangannya menghilang. Ia mengakui ia hendak menjual Apartemen mereka, bukankah setidaknya ia berhak atas tunjangan ganti rugi? Tampaknya Isaribi marah pada Haku.
Ia bercerita suatu hari, Haku menelpon saat berada di tempat karaoke bersama teman-temannya. Haku berkata akan pulang terlambat karena teman-temanya meminta ditraktir minum setelah ia menyerahkan surat undangan pernikahan mereka. Isaribi mengingatkan agar Haku tidak minum terlalu banyak. Sejak itu Haku mendadak hilang. Hal itu terjadi sebulan sebelum pernikahan mereka.
Awalnya ia khawatir tetapi beberapa hari kemudian ia menemukan bahwa Haku sengaja menonaktifkan teleponnya. Saat itulah ia sadar Haku melarikan diri dari pernikahan mereka. Ia berkata sejak awal Haku memang tidak ingin menikah. Ia yang mengatur tanggal pernikahan dan mencari Apartemen untuk mereka. Isaribi yakin Haku benar-benar tidak pernah mencintainya dan akhirnya mengkhianatinya. Ia yakin Haku menghilang dengan sengaja.
"Sejak sebulan yang lalu aku sudah curiga kalau dia itu gay dan ingin menikah dengan pria yang bernama Zabuza itu! Itulah sebabnya dia menghilang dengan sengaja agar tidak jadi menikah denganku."
Sasuke bertanya apa pendapat Isaribi mengenai menghilangnya Haku setelah mendapat pinjaman banyak uang dari Internet, Isaribi berkata mungkin Haku menggunakannya untuk berjudi karena akhir-akhir ini Haku ketagihan berjudi dan pergi ke Kasino setiap kali ada kesempatan.
ooOSerendipityOoo
.
.
Tenten bersedia pergi menemui penguntitnya di sebuah Café, meski sebenarnya ia sangat takut. Naruto duduk di belakangnya dengan mengantungi alat perekam, sementara Sakura duduk di seberangnya dan diam-diam merekam video.
Penguntit Tenten datang dan duduk di depan Tenten. Ia memuji Tenten memakai parfum yang ia sukai dan Tenten adalah wanita sempurna. Tenten berkata ia memakai parfum yang disukai Hyuuga Neji, pria yang saat ini dikencaninya. Ia berkata bahwa ia mulai mencintai pria itu.
Penguntit Tenten yang bernama Sora itu menautkan jari-jemarinya erat di bawah meja untuk menutupi emosinya. Namun tutur katanya tetap lembut. Ia meminta Tenten tidak membohongi diri sendiri mengenai perasaannya. Ia berkata hanya dirinya yang ada di hati Tenten.
Demi mendapatkan bukti Tenten memprovokasi penguntitnya dengan lebih keras. Ia berkata ia sama sekali tidak menyukai Sora dan mereka tidak pernah berpacaran. Penguntit itu malah menuduh Neji telah mengancam Tenten. Mengapa Tenten berubah? Tenten yang dikenalnya tidaklah dingin seperti ini.
Tenten berkata ia mendapat kekuatan dari Neji hingga berani menghadapi sampah seperti Sora. Ia berkata ia tidak takut lagi. Ia juga mengatai Sora orang gila dan ini hari terakhir ia bertemu dengannya.
Melihat penguntit itu tidak ada tanda-tanda mengancam, Sakura mengirimkan email pada Naruto agar berpura-pura menjadi kekasih Tenten untuk memprovokasinya. Meski keberatan, Naruto akhirnya bangkit dan menaik Tenten, berpura-pura menjadi Neji.
"Jangan menyiksa kekasihku lagi! Tenten sama sekali tidak menyukaimu! Harus bagaimana lagi agar kau mengerti?" kata Naruto. Sora hanya diam, seperti hendak menangis lalu tersenyum. Creepy.
Naruto akhirnya membawa Tenten keluar. Sakura mengikuti mereka, tapi si penguntit itu tidak mengikuti keluar. Rencana mereka gagal. Mereka belum juga mendapatkan bukti. Tenten kecewa karena tidak berhasil mendapatkan bukti padahal ia sudah siap untuk dipukul sekalipun, demi mendapatkannya. Sakura menenangkannya. Ia berkata penguntit itu pasti terprovokasi dan mulai sekarang, mereka akan melindungi Tenten 24 jam sehari. Naruto hanya bisa menghela nafas kesal melihat Sakura memutuskan begitu saja tanpa membicarakan hal ini lebih dulu dengannya.
.
.
Di ruang interogasi, Shikamaru dan Ino menanyai si kakak. Ino bertanya apakah ia benar-benar berpikir bahwa Toki lah yang telah membunuh Ayah mereka. Sagi berkata ini bukanlah dugaan tapi ia tahu kalau ia benar.
Ia bercerita kalau adiknya seorang monster. Dulu adiknya tidak seperti itu dan hidup normal, tetapi sejak tidak mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah dan tunangannya membatalkan pernikahan mereka secara sepihak, adiknya itu jadi terobsesi dengan Games Online, hingga adiknya tidak bisa lagi membedakan kenyataan dan hidup dalam khayalan dunia games.
.
Ayah Sagi dan Toki membawakan makanan untuk puterinya yang sudah berjam-jam bermain game di dalam kamar. Tanpa sengaja, si Ayah menumpahkan sup hingga merusak mouse computer Toki. Toki mengamuk dan mendorong ayahnya hingga jatuh ke lantai, lalu memarahinya dengan kasar.
.
"Ia bahkan tidak sadar kalau ia telah membunuh Otou-san. Ia mungkin berpikir, ia hanya membunuh seseorang di dalam game. Ia pasti membunuh Otou-san seperti itu!" cerita Sagi.
Sementara si adik ditanyai oleh Genma. Ia berkata dengan penuh emosi bahwa kakaknya yang telah membunuh Ayah mereka. Hanya ada satu alasan kakaknya menemui Ayah mereka. Asuransi.
.
Sagi adalah agen asuransi. Ia menawarkan produk asuransi baru pada sang Ayah dan selalu menemui Ayah mereka setiap kali menghadapi kesulitan keuangan. Hingga suatu hari sang Ayah menolak. Sagi pun marah dan membentak-bentak Ayah mereka. Dan hal itu didengar oleh Toki yang asyik bermain games online di kamarnya.
Sagi berusaha mendapakan klien asuransi dan hutangnya terus menumpuk. Hingga suatu kali ia menonton berita di televisi tentang seorang pria yang ditangkap karena membunuh orang tuanya demi uang asuransi. Pria itu sempat mendapatkan uang ratusan ribu dollar dari pihak asuransi, setelah pura-pura membuat kecelakaan mobil.
Toki masuk ke dalam kamar mandi dan menemukan Sagi berjongkok di sisi tubuh Ayah mereka yang sudah meninggal.
.
"Dia meledak karena Otou-san tidak mau menurutinya. Satu-satunya cara untuk membayar hutangnya adalah dengan uang asuransi jiwa Otou-san. Dia tahu sistem asuransi jiwa lebih baik dari siapapun!" cerita Toki.
.
.
Sasuke dan Lee menanyai rekan-rekan kerja Haku. Mereka terakhir kali bertemu Haku malam itu di tempat karaoke. Beberapa orang pelayan Restoran mengatakan bahwa manajer mereka adalah pekerja yang rajin dan tidak pernah bolos. Tidak mungkin dia berjudi.
"Jadi apakah menurutmu, Isariba-san itu berbohong?" tanya Lee.
Sasuke menemukan Haku meminjam uang sebanyak 2 juta yen di Internet dari 5 tempat yang berbeda. Haku mengambil sendiri uang itu dalam waktu dua hari. Dan dalam beberapa bulan terakhir, Haku mengambil empat asuransi. Dan pihak tertanggung dari semua asuransi itu adalah Isaribi. Pada saat itu kecurigaan mengarah pada Isaribi.
Lee merasa kasus ini terlalu jelas. Sasuke berkata meski kasusnya terlihat jelas, tapi sulit untuk membuktikannya. Jika terjadi pembunuhan yang direncanakan dan mayatnya tidak ditemukan, maka akan sulit untuk mendapatkan putusan bersalah hanya dari bukti-bukti yang ada. Sulit menyelesaikan kasus pembunuhan tanpa mayat.
Lee setuju dengan pendapat Sasuke. Ia merinding menemukan kasus pembunuhan tanpa mayat. Sasuke berkata mereka belum bisa menyimpulkan. Untuk itu mereka harus menyelidiki jejak Haku pada malam itu. Sasuke kemudian mengirimkan email pada Naruto, meminta pendapatnya. Dia menceritakan kasus tersebut secara rinci. Beberapa menit kemudian email balasan dari Naruto tiba.
"Kalau menurutku itu bukan kasus pembunuhan. Haku memiliki motif tersendiri untuk meminjam semua uang itu lalu sengaja menghilang. Kalian harus menyelidikinya lebih lanjut. Pada dasarnya kasus di mana pelaku memfitnah orang lain untuk menjadi yang tertuduh sering terjadi."
"Kau menghubungi siapa, Sasuke? Yamato-Taichou?" tanya Lee saat melihat Sasuke serius membaca sebuah email.
"Naruto… Dia bilang, ada kemungkinan kalau ini bukanlah kasus pembunuhan."
"Benarkah?"
"Hn."
"Kalau begitu, ayo segera kita selidiki lebih lanjut!" ajak Lee.
"Hn."
.
.
.
Sakura dan Naruto duduk di dalam mobil di depan Rumah Tenten. Sakura berkata Tenten pasti mengalami masa yang sulit hingga mempersiapkan diri untuk dipukul. Ia jadi semakin bertekad menyelesaikan kasus ini.
"Bagaimana denganmu?" tanya Sakura, tetapi Naruto tak mendengarkan dan malah sibuk membalas email dari Sasuke.
"Naruto, apa yang sedang kau lihat?" tanyanya sewot.
Naruto tak menjawab. Setelah ia membalas email dari Sasuke. Ia menyalakan Laptop-nya.
"Apakah kau juga akan mengabaikan ini? Kau ini sedang apa?" tanya Sakura.
"Sampai kapan kita akan diam di tempat ini? Ini sudah malam!" kata Naruto.
"Kita akan tetap di sini sampai kita mendapatkan bukti kuat atas penguntit itu. Meski aku tidak tahu sampai berapa lama, makanya cepat kau lakukan sesuatu!" kata Sakura.
"Aku tahu. Aku sedang menganalisis pola pikir penguntit itu berdasarkan komentar SNS-nya."
"Benarkah? Harusnya kau mengatakannya dari tadi!" kata Sakura senang. "Baik, lanjutkanlah! Ayo cepat lanjutkan!" perintah Sakura.
Naruto kembali mengamati Laptop-nya. Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus. Sakura tertidur sambil bersandar ke kaca jendela. Naruto menghela nafas panjang dan mengamati Sakura. Sakura bergumam dalam tidurnya karena kedinginan. Naruto melepaskan jaketnya lalu menyelimuti badan Sakura dengan jaket tersebut. Ia tersenyum kecil. Sakura pasti lelah.
Naruto mengamati setiap komentar yang diposting si penguntit. Penguntit itu memang memuja Tenten. Setiap komentarnya bernada pujian, namun menakutkan karena terlalu berlebihan. Naruto juga mengamati rekaman CCTV yang ada di luar Rumah Tenten. Lalu ia menutup Laptop-nya.
Tepat pukul 12 malam, Naruto membangunkan Sakura. Sakura terbangun dan tersenyum malu. Ia mengatakan bahwa ia hanya tertidur sebentar.
"Itu jika kau menganggap 3 jam hanyalah waktu sebentar." Kata Naruto. "Aku sudah selesai menganalisisnya."
"Oh ya, bagaimana?" tanya Sakura.
"Hasil analisanya adalah si penguntit sangat ketat mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri. Setahun terakhir ini tidak ada satu komentar pun yang diposting setelah pukul satu pagi. Dari 5932 komentar yang ditinggalkan pada akun SNS Tenten-san, tidak ada satu komentar pun yang diposting setelah pukul satu pagi. Ejaan dalam setiap komentarnya selalu benar dan setiap spasi selalu sama. "
Sakura hanya mengangguk-ngangguk sambil mendengarkan dengan seksama. Dalam hati ia memuji kalau Naruto itu sangat keren dan dia jadi semakin mengagumi Naruto. Naruto juga menjelaskan bahwa si penguntit itu juga tertangkap kamera CCTV sebanyak 23 kali, tetapi tidak pernah melewati tengah malam. Kesimpulannya, kemungkinan besar si penguntit selalu tidur pukul 1 pagi. Dan karena sekarang telah melewati tengah malam, kemungkinan si penguntit menampakkan diri di Rumah Tenten adalah nol.
"Apa kau mengerti, Sakura-chan? Ayo kita pulang!"
"Tunggu! Kau benar-benar akan pulang?"
"Hn. Aku lelah, Sakura-chan."
"Tunggu sebentar! Apa kau yakin? Kau yakin dia tidak akan pernah muncul setelah tengah malam?" tanya Sakura lagi.
Naruto terdiam mencoba mengingat kembali apa tidak ada yang terlewat dari hasil analisisnya. Naruto memijat keningnya yang mulai terasa pening. "Beberapa hari ini aku kurang tidur, jadi aku takut ada yang terlewat dalam analisaku. Bisa saja otakku tidak bekerja dengan benar, sekarang."
"Jadi kau tidak yakin?"
"Kau tunggu sebentar, ya! Aku mau ke Minimarket untuk membeli kopi!"
"Hei, kau mau meninggalkanku sendirian di sini?"
"Gomen, Sakura-chan. Aku akan segera kembali."
"Jangan lupa ke Apotek untuk membeli parasetamol dan pil penambah darah, kau terlihat buruk!" kata Sakura yang kemudian menekan denyut nadi di lengan Naruto.
"Apa yang kau lakukan, Sakura-chan?"
"Ingat, nanti ke Apotek dulu! Aku benar-benar yakin kau sedang tidak fit saat ini!"
"Aku tidak punya banyak waktu, Sakura-chan."
"Kau harus mendengarkan doktermu ini!"
"Dokterku? Sejak kapan kau menjadi dokterku?"
"Sudah sana pergi! Aku titip minuman juga... Jangan lupa, ya!" kata Sakura. Naruto mengangguk lalu keluar dari mobil.
"Dia benar-benar masih sakit. Mungkin seharusnya tadi aku membiarkannya pulang untuk beristirahat dan menyelesaikan kasus ini sendirian." Gumam Sakura. Dia terlihat sangat khawatir.
Ponsel Sakura berbunyi. Ia mengangkat teleponnya. Ternyata telepon dari Ino.
"Ada apa Ino-san?"
"Apa kasus kalian belum selesai?"
"Belum, Ino-san. Ada Apa?"
"Perasaanku tidak enak. Ayah kami bilang, sebenarnya Tsunade-sensei belum mengijinkannya pulang dari rumah sakit. Dia masih lemah, jadi dia harus banyak istirahat. Aku benar-benar mengkhawatirkannya."
"Ya. Dia juga bilang kalau dia kurang tidur."
"Tolong jaga dia, ya, Sakura!"
"Ya. Serahkan saja padaku!"
Sakura yang sedang sibuk menelpon tidak menyadari sebuah mobil melewatinya. Dan pengemudi mobil tersebut ternyata adalah Sora.
Tenten melihat mobil Naruto di luar dan tersenyum lega. Ia mencoba menelepon Sakura tetapi teleponnya sibuk. Ia memutuskan mengirim SMS.
"Detektif Haruno, kau masih di sini? Pria itu meneleponku. Ia berkata semua sudah berakhir dan memohon untuk bertemu denganku terakhir kalinya. Aku menerima ajakannya. Aku ingin mendapatkan bukti. Tolong ikuti aku! Aku pergi sekarang. Aku akan pergi ke Coffee Shop 24 jam di persimpangan."
Tenten keluar dari rumahnya lalu naik ke mobil si penguntit. Namun saat mobil mereka melewati mobil Naruto, Tenten melihat Sakura sama sekali tidak melihat ke arahnya, melainkan sedang sibuk menelepon. Tenten terkejut dan mulai terlihat panik.
.
.
Genma, Shikamaru dan Ino masih menunggu hasil otopsi untuk mengetahui penyebab kematian Ayah Sagi dan Toki, tapi sepertinya korban tewas karena benturan di kepala. Berdasarkan potongan sabun di telapak kaki korban dan juga tidak ada tanda-tanda tubuh korban dipindahkan, kemungkinan besar kematian korban adalah sebuah kecelakaan. Anehnya, si pelapor dan saksi saling menuduh telah membunuh korban.
Kakashi datang dan melaporkan tidak ditemukan tulang patah di tubuh korban. Genma terkejut. Ia bertanya apakah salah satu anak korban memang telah membunuh korban.
Ino bingung, kenapa bisa disimpulkan bahwa ini pembunuhan. Kakashi menjelaskan bahwa saat seseorang terpeleset dan jatuh, secara spontan dia akan menahan jatuhnya dengan tangan. Dan karena berat tubuh orang tersebut, biasanya terjadi patah tulang dibagian pergelangan tangan. Pada kasus seperti ini, jika ada kerusakan tulang di tangan, maka kasus itu biasanya disimpulkan sebagai kasus kecelakaan.
"…tapi jika seseorang tiba-tiba didorong hingga jatuh, biasanya tidak ada kerusakan tulang. Kenapa? Karena terlalu tiba-tiba sehingga orang yang jatuh tidak sempat melindungi diri mereka." Kata Genma.
Meski begitu, Shikamaru berkata masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa kasus ini adalah sebuah kasus pembunuhan. Sambil menunggu penyebab dan waktu kematian, mereka harus menyelidiki bukti-bukti yang mereka temukan di TKP.
Kakashi setuju dengan Shikamaru. Ia akan menugaskan seorang anggota tim satu atau tim tiga untuk mencari bukti dari semua jalan masuk ke Apartemen itu. Ino ditugaskan untuk menanyai para tetangga mengenai hubungan korban dan kedua anaknya. Apakah mereka sering berkelahi?
"…tapi sebaiknya besok saja kau tanyakan kepada mereka karena sekarang sudah malam." Kata Kakashi. Ino mengangguk mengerti.
Genma ditugaskan memeriksa rekaman CCTV dari seluruh penjuru Apartemen selama seminggu ini. Dan Shikamaru ditugaskan megkonfirmasi, apakah si adik benar-benar tidak meninggalkan komputernya selama 36 jam seperti yang telah dikatakannya? Lalu Genma menyerahkan ponsel korban pada Kakashi untuk dikirimkan pada unit forensik.
Rapat selesai, Ino kembali ke meja kerjanya lalu menelpon Sakura karena perasaannya tidak enak, apalagi kemarin Minato bilang kalau sebenarnya Tsunade-sensei belum mengijinkan Naruto pulang dari rumah sakit karena kondisi fisiknya masih lemah dan dia harus banyak istirahat.
.
.
Sasuke dan Lee duduk bersama di sebuah Restoran sambil makan malam, yang sebenarnya sudah sangat telat karena mereka terlalu sibuk.
Lee bertanya-tanya cinta itu sebenarnya apa? Ia tak habis pikir pasangan yang telah berpacaran selama 6 tahun bisa berakhir seperti ini. Sasuke tahu jawabannya karena hubungannya dengan Hinata juga berakhir setelah berpacaran selama tiga tahun lamanya. Lee berkata, jika ini benar kasus pembunuhan, maka Isaribi sudah mengkhianati Haku. Jika Haku yang melarikan diri, maka dialah yang berkhianat.
"Itulah sebabnya orang bilang, bagaimana bisa cinta berubah?" tanya Lee.
"Bukan cinta yang berubah tetapi orangnya." Jawab Sasuke.
"Sama seperti kau yang berubah menjadi gay karena mantan kekasihmu yang bernama Hyuuga Hinata itu?" tanya Lee pula.
Sasuke tertegun. Hari itu ia tidak menjawab pertanyaan Hinata dan meminta waktu untuk memastikan perasaannya yang sesungguhnya.
Lee memperhatikan arlojinya. Ia masih menunggu laporan dari tim Morino Ibiki. Mereka masih menunggu telepon dari Temari yang tadi siang ditugaskan untuk pergi ke sebuah gedung tua tak terurus bersama rekan-rekannya, karena di tempat itulah terakhir kali sinyal ponsel Haku terlacak. Tiba-tiba ponsel Lee berbunyi, ia pun segera mengangkatnya.
"Aku sudah berhasil menemukan ponsel itu tadi sore dan sampai sekarang timku masih memeriksa rekaman CCTV tempat karaoke pada hari Haku terakhir kali terlihat. Kami melihat Haku pulang lebih dulu daripada teman-temannya. Kami juga mengumpulkan semua rekaman CCTV yang berada di sekitar tempat karaoke tersebut. Jumlahnya mencapai puluhan rekaman dan karena rekamannya terlalu banyak sampai sekarang kami belum berhasil menemukan bukti lain. Cepat kalian ke sini dan bantu kami! Bukankah ini misi kalian?"
"Baik! Kami akan segera ke sana, Temari-san!" kata Lee yang kemudian menutup ponselnya.
"Apa yang dikatakan wanita itu?" tanya Sasuke.
"Kita disuruh kembali untuk memeriksa rekaman CCTV di sekitar tempat karaoke tersebut dan jumlahnya ada puluhan!"
"Kalau begitu ayo kita pergi!" ajak Sasuke. Mereka pun segera kembali ke Kantor.
.
.
Naruto sudah ada di sebuah Minimarket. Saat ia melewati deretan kotak susu, ia membetulkan kotak susu yang ditempatkan tidak pada tempatnya. Hal itu membuatnya menyadari sesuatu. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek postingan SNS si penguntit hari ini. Dan ternyata ia menemukan beberapa salah eja. Si penguntit telah kehilangan ketenangannya.
Naruto berlari sekencang-kencangnya, kembali ke Rumah Tenten. Sakura yang baru saja selesai telepon-teleponan dengan Ino terkejut melihat Naruto kembali secepat ini. Ia segera turun dari mobil dan berlari menyusul Naruto.
Naruto menggedor pintu dan memanggil Tenten tapi pintu tidak dibuka. Ia menyuruh Sakura menelepon Tenten. Sakura bertanya ada apa?
"Komentar-komentar terbarunya salah eja dan peletakkan spasinya salah. Dia hancur."
Sakura baru melihat SMS dan telepon Tenten. Ia baru tahu kalau Tenten pergi bersama si penguntit untuk mendapatkan bukti. Rasa bersalah mulai menyelimuti dirinya. Tenten pergi pada saat ia sedang berbicara dengan Ino.
Mereka mengitari daerah tersebut untuk mencari Tenten. Sakura berusaha menelepon tetapi telepon Tenten tidak di angkat. Ia bertanya, apakah mereka perlu menelepon Yamato-Taichou atau Genma. Naruto yang juga sudah merasa bersalah karena salah menganlisa meminta Sakura diam dan jangan menganggunya dulu karena ia sedang berpikir. Melalui ingatan supernya, Naruto mengingat semua komentar yang pernah diposting si penguntit. Ia ingat tempat pertama si penguntit itu bertemu Tenten. Di Taman Kota.
Naruto segera memacu mobilnya ke sana. Mereka berteriak memanggil Tenten.
"Tolooongggg!" teriakan Tenten terdengar sayup-sayup di telinga mereka.
Naruto dan Sakura saling pandang dan berkonsentrasi mencari sumber suara. Mereka pun berlari menuju sumber suara itu berasal. Diliputi firasat buruk keduanya terus berlari, sampai akhirnya Tenten berlari ke arah mereka dan menabrak Sakura hingga terjatuh dan pingsan karena kelelahan berlari. Sakura tidak bisa bergerak untuk sesaat karena tertimpa badan Tenten.
Sora maju menghampir mereka, lebih tepatnya menghampiri Tenten. Naruto mencari-cari pistolnya. Ia langsung terbelalak kaget saat tidak menemukan pistol itu di pinggangnya, sepertinya ketinggalan.
"Tenten-chan, jika aku tidak bisa memilikimu, siapapun tidak boleh memilikimu!" teriaknya sambil mengacungkan sebuah belati.
"Turunkan senjatamu, Sora-san! Sudah kubilang jangan menganggu Tenten-san!" perintah Naruto.
"Semua ini gara-gara kau, Hyuuga! Kau juga harus mati!" teriaknya sambil menerjang Naruto.
Pisau belati itu hampir mengenai Naruto, untungnya Naruto berhasil menghindar. Ia langsung menyerang Sora, tapi serangan Naruto tidak sepadan dengan kekuatan Sora karena kondisi Naruto sendiri sedang tidak fit dan ia sudah kelelahan.
Sakura mengeluarkan pistolnya. Ia ingin menembak Sora tetapi takut mengenai Naruto. Sora berhasil menjatuhkan Naruto. Lalu ia mengayunkan pisaunya.
"Kau mencintai Tenten, bukan? Kalau begitu pergilah ke Neraka bersamanya!" teriak Sora lagi.
Untungnya Naruto sempat berguling sebelum pisau itu menghujam tubuhnya, hanya saja pisau itu sempat mengenai tangannya. Sakura masih mengarahkan pistolnya ke tangan Sora. Ia terus berusaha mencari celah agar bisa menjatuhkan pisau tersebut, tetapi ia sulit menemukan celah itu. Sora memukuli Naruto dengan membabi-buta. Naruto babak belur dipukuli dan ditendang Sora. Ia sekali lagi gagal membunuh Naruto karena Sakura langsung berlari dan menendangnya saat Sora hendak menikam Naruto. Pisaunya terjatuh bersamaan dengan dirinya yang terjatuh karena tendangan Sakura. Sora kembali bangkit dan mengambil sebuah batu besar dan hendak menghantamkannya ke kepala Sakura. Namun Naruto lekas bangkit dan menendang Sora. Sakura bergerak cepat dan menembakkan pistolnya ke kaki Sora. Sora berteriak kesakitan dan mencoba kabur tetapi Sakura menembak tangannya hingga akhirnya Sora ambruk.
"Naruto, cepat borgol di—" teriakan Sakura terhenti karena Naruto tiba-tiba collapse dan tidak sadarkan diri dengan tangannya yang berlumuran darah. "NARUTO!" teriak Sakura.
Sakura ingin menghampiri Naruto tetapi ia memutuskan untuk menangkap Sora terlebih dahulu. Sakura pun berlari ke arah Sora yang masih merintih kesakitan sambil mmegang tangannya yang terus mengeluarkan darah dan segera memborgolnya.
"Sora-san, kau ditangkap atas kasus penguntitan, percobaan pembunuhan, dan penyerangan terhadap petugas polisi!" ujarnya. Sakura pun lekas menelepon nomor darurat.
Ambulance dan dua mobil polisi datang. Sakura menyerahkan Sora dan beberapa bukti rekaman yang berhasil di dapatkan Tenten pada petugas polisi patroli yang baru saja datang itu. Polisi itu juga membawa Tenten yang masih tak sadarkan diri sebagai saksi. Sakura ikut masuk ke dalam ambulance yang membawa Naruto ke Rumah Sakit. Ia terus menunggui Naruto selama operasi dengan perasaan gelisah. Untunglah operasinya berhasil dan tidak ada luka fatal. Naruto akan pulih dalam seminggu.
Chief Namikaze tiba di Rumah Sakit saat Naruto sudah berada di kamar perawatan. Ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sakura yang awalnya merasa kaget karena Chief Namikaze tiba-tiba muncul langsung meminta maaf dan menceritakan semuanya.
"Terimakasih karena kau sudah menolong anakku!" kata Minato.
"Hah? Naruto adalah putera anda?" tanya Sakura kaget. Minato hanya mengangguk. Sakura yang masih syok langsung terduduk di lantai.
ooOSerendipityOoo
.
.
Keesokan harinya…
Kembali pada kasus yang ditangani oleh Shikamaru dan Ino. Menurut laporan salah satu anggota tim satu yang ditugaskan oleh Kakashi, debu di luar tidak tersentuh, artinya tidak ada bukti penyusupan dari luar.
Ino menanyai para tetangga mengenai keadaan korban dan anaknya. Para korban malah heran ketika diberitahu kalau korban tinggal bersama anaknya. Setahu mereka korban tinggal sendirian.
Shikamaru, Ino, dan Genma berkumpul di sebuah Coffe Shop untuk membahas apa saja yang sudah mereka temukan. Sejauh ini yang mereka ketahui adalah tidak ada penyusupan dari luar secara paksa. Ino menduga bahwa pelakunya adalah si adik. Alasannya adalah karena ia begitu tergila-gila pada game hingga tak ada orang yang tahu bahwa ia tinggal di rumah itu, tapi Shikamaru menemukan si adik tidak pernah meninggalkan komputernya selama 36 jam. Ia sudah mengecek data game yang dimainkan si adik.
Dari rekaman CCTV Genma menemukan bahwa si kakak datang ke Apartemen korban sekitar jam sembilan, pagi itu. Tapi ia baru melapor polisi pada jam 2 siang. Apa yang terjadi selama 5 jam itu? Menurut pengakuannya pada Ino dan Shikamaru, si kakak tidur di sofa begitu tiba di Apartemen. Ia menemukan Ayahnya setelah ia bangun dan hendak menggunakan kamar mandi.
Genma merasa kasus ini mengerikan. Bagaimana bisa seseorang membunuh Ayahnya sendiri demi uang? Shikamaru berkata, karena itulah ia berharap hasil otopsi menunjukkan kasus ini adalah kecelakaan. Ia berharap hal mengerikan seperti ini tidak terjadi. Itulah sebabnya, Ino sungguh-sungguh menyelidiki kemungkinan tersebut. Ia memeriksa text boxnya semalaman dan akhirnya memutuskan untuk mereka ulang jatuhnya si korban.
Pagi-pagi sekali, ia menggelar kasur di kamar mandi Kantor dan mengikatkan bantal di belakang kepalanya. Lalu ia melumuri kakinya dengan busa sabun dan memplesetkan dirinya hingga jatuh ke kasur. Ia melakukannya berkali-kali dan semuanya ia rekam dengan kamera.
Akhirnya ia menunjukkan video tersebut pada Genma. Genma berusaha keras menahan tawanya melihat tingkah Ino di kamera. Akhirnya ia tidak tahan lagi dan sudah cukup melihat video tersebut.
Ino berkata apa yang dikatakan Kakashi benar. Saat seseorang terpeleset, ia dengan spontan akan menahan jatuhnya dengan tangan untuk melindungi kepala membentur ke lantai, kecuali jika ia mendadak didorong. Ia sudah mencobanya lebih dari 10 kali.
"Lalu?" tanya Genma.
Ino berkata bukankah artinya kasus mereka adalah pembunuhan dan bukan kecelakaan. Mereka harus menyelidikinya lebih seksama. Tidakkah mereka memerlukan surat perintah penahanan? Bisa saja si tersangka melarikan diri.
Genma tampak memikirkan ucapan Ino. Ino lagi-lagi memperlihatkan videonya pada Genma untuk membutikan maksud ucapannya. Melihat besarnya semangat Ino, Genma tersenyum. Ia pasti akan menceritakan kegigihan Ino pada Yamato setelah dia kembali dari kantor pusat Tokyo.
"Andai ada Naruto di sini, dia pasti bisa memecahkan kasus ini dengan cepat… tapi aku sangat yakin kalau kasus ini hanya kecelakaan. Hanya saja aku masih butuh waktu untuk menyimpulkan kebenarannya." kata Shikamaru. Ino mengangguk. Ia belum sempat menghubungi Sakura lagi karena terlalu sibuk dengan kasusnya sendiri.
"Papa, bukankah itu kenalan papa?" tanya seorang gadis kecil.
Pria yang dipanggil papa itu tersenyum lalu menghampiri Genma.
"Genma-san, apa kabar?" Sapanya.
"Uchiha Itachi? Ah, kebetulan sekali!" kata Genma sambil tersenyum senang. Shikamaru dan Ino saling bertatapan bingung.
"Uchiha Itachi?" gumam mereka.
"Waa! Mizue-chan, kau sudah besar rupanya!" kata Genma sambil menepuk kepala Uchiha Mizue lembut. Gadis kecil itu tersenyum lebar. "Oh ya, kenalkan! Dia adalah kakak Uchiha Sasuke. Namanya Uchiha Itachi!" kata Genma pada Shikamaru dan Ino.
Mereka bertiga pun berkenalan. Genma mempersilakan Itachi dan puteri kecilnya duduk. Ia kemudian menceritakan pada Itachi tentang kasus yang sedang coba mereka pecahkan. Ia meminta Itachi untuk membantu mereka. Ia pun menjelaskan semua hal yang sudah mereka temukan.
"Baiklah, tapi seperti biasa tolong rahasiakan dari publik kalau aku yang membantu kalian memecahkan kasus ini!" kata Itachi.
"Hai. Kau tenang saja Itachi!" kata Genma.
Ponsel Genma berbunyi. Itu adalah telepon dari Kakashi yang menyatakan bahwa laporan otopsi sudah keluar. Genma meminta Kakashi menjelaskannya dan Kakashi segera menjelaskannya. Selesai menelpon ia menceritakan penjelasan Kakashi pada Itachi.
"Adakah bukti lain yang kalian temukan?" tanya Itachi.
"Sepatu! Ada sepatu yang telah dicuci bersih dan ada sidik jari korban dalam sepatu itu." Kata Ino.
"Bukti lainnya adalah ponsel korban—Galaxy S5— Panggilan terakhir adalah dari puteranya, Sagi. Hanya saja semuanya adalah panggilan tak terjawab." Sambung Shikamaru.
Itachi mengangguk. Ia mulai berpikir dan kemudian menyimpulkan. "Itu kecelakaan bukan pembunuhan!" tegas Itachi.
"Sudah kuduga…" kata Shikamaru.
"…tapi bagaimana runtutan kejadiannya?" tanya Genma. Itachi pun menjelaskan dugaannya.
.
Rupanya Ayah yang baik hati itu berubah pikiran dan menerima ponsel pemberian Sagi, tapi ia tidak bisa menerima telepon dari Sagi karena ia tidak bisa menggunakan ponsel Android model terbaru. Ia meminta bantuan puterinya tetapi puterinya tidak mau membantu karena sibuk bermain games online. Ayahnya pun keluar dari kamar Toki. Ia tidak mau puterinya marah lagi karena ia mengganggu.
Ayah Toki menemukan sepatu olahraga Toki sudah sangat kotor. Ia pun mencuci sepatu puterinya sambil tersenyum. Kamar mandi belum sempat dibersihkannya karena sang Ayah segera keluar untuk menjemur sepatu itu. Ketika ponsel kembali berdering, ia berlari ke kamar mandi untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di sana sekaligus mengangkat telepon tersebut. Lagi-lagi ia tidak bisa mengangkat telepon karena ia tidak tahu harus menggeser layar untuk menjawab telepon, sedangkan sang Ayah sejak tadi terus menyentuh tombol terima tanpa menggesernya. Sang Ayah yakin puteranya pasti ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting, makanya ia terus menelepon. Ia hendak memanggil puteri bungsunya tetapi malah terpeleset karena menginjak sabun… karena sedang memegang ponsel, tangannya tidak bisa menahan jatuhnya, sepertinya sang ayah tidak mau ponsel pemberian puteranya itu rusak. Kepalanya terjatuh membentur lantai terlebih dahulu. Darah terus merembes dari lukanya. Sementara Toki terus bermain game, tidak tahu bahwa ayah mereka sedang sekarat di kamar mandi dan akhirnya meninggal. Tragis.
.
"Jika ia melepas ponsel itu dan menggunakan tangannya untuk menahan, dia bisa menghindari luka serius di kepala. Ini adalah kasus anak yang tidak mempudilikan orang tuanya." Kata Itachi di akhir cerita.
Ino menangis mendengar cerita menyedihkan tersebut. Ia jadi teringat ayahnya dan juga Minato. Begitupula dengan Shikamaru yang langsung teringat dengan ayahnya.
"Terimakasih, Itachi-kun!" kata Genma yang kemudian menjabat tangan Itachi dan menyelipkan amplop berisi sejumlah uang.
"Senpai, tidak perlu!" Tolak Itachi halus. Ia pun pamit karena Hana sudah menunggu kopi pesanannya. Mizue tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada mereka.
Shikamaru langsung permisi ke Toilet. Ia menghubungi ayahnya. "Otou-san, apakah kau sibuk malam ini?"
"Ah, tidak aku hanya rindu pada Otou-san! Sudah lama kita tidak bermain shogi bersama. Otou-san ada waktu?"
"Bagus sekali. Kalau begitu malam ini aku akan pulang." Kata Shikamaru yang kemudian menutup teleponnya.
Ino menyeka air matanya dengan tissue, lalu menghubungi Minato.
"Otou-san, sibuk tidak? Sudah lama ya kita tidak dinner bareng? Bisakah kita makan di luar malam ini?"
"APA? Otou-san di Rumah Sakit? Iya, Ino akan segera ke sana!"
Akhirnya Genma, Ino, dan Shikamaru segera kembali ke Kantor untuk menyelesaikan kasus ini, membuat laporan sekaligus menjelaskan fakta yang sesungguhnya kepada Sagi dan Toki. Barulah setelah itu Ino dan Shikamaru akan meminta izin untuk pulang lebih awal. Itu juga kalau tidak ada kasus lain yang harus segera mereka selesaikan.
.
.
Sasuke dan Lee yang bergadang semalaman tanpa tidur sekejap pun, akhirnya berhasil menemukan Haku dalam sebuah rekaman CCTV yang baru saja mereka periksa. Ia terlihat masuk ke dalam sebuah toilet umum stasiun kereta api. Namun saat mereka memeriksa lebih lanjut, ada yang janggal dalam rekaman tersebut.
Haku terlihat masuk namun tidak pernah terlihat keluar dari toilet bahkan hingga 4 jam kemudian. Tetapi CCTV rusak setelah 4 jam itu hingga mereka tidak memiliki rekamannya. Temari dan partnernya— Kankurou, yang juga adalah adiknya sendiri— akhirnya lekas pergi ke toilet tersebut dan tempat itu hanya memiliki satu jalan masuk/keluar. Jadi tidak ada kemungkinan Haku keluar dari pintu lain.
Lee berkata, kemungkinan pertama Haku dibunuh di dalam toilet lalu tubuhnya dipindahkan ke tempat lain. Mata jeli Sasuke yang tajam akhirnya menemukan sesuatu. Ia melihat seorang wanita dengan postur aneh keluar dari toilet. Setelah diperiksa lebih lanjut, bahkan cara minumnya pun sama dengan Haku. Haku menyamar menjadi seorang wanita atau ia memang seorang waria? Foto dari ponsel yang ditemukan Temari mengukuhkan hal tersebut.
"Kemungkinan kedua, Haku memang gay dan dia ingin menjadi wanita seutuhnya. Akhirnya dia melakukan operasi kelamin karena mungkin pria yang dicintainya bukan seorang gay. Itulah sebabnya, dia membutuhkan banyak uang." Kata Sasuke. Lee mengangguk setuju.
"Kalau begitu, ayo kita selidiki lebih lanjut dan kita cari Haku hingga ke ujung dunia sekali pun, lalu tangkap dia dan ungkapkan kebenaran!" kata Lee bersemangat. Sasuke mengangguk.
.
.
Tsuzuku
.
A/n: Gomennasai minna, scene kasus-kasus dalam chapter kali ini masih sama dengan Dramanya cuma aku tambahin sedikit scene yang beda, soalnya aku masih galau dengan Naruto in Canon. Chapter depan baru akan aku buat scene yang berbeda dengan Dramanya, okay? ^^
Oh iya, aku juga mau minta maaf karena kali ini aku nggak bisa bales review kalian. Thanks buat yang udah review di chapter 3 kemarin; Ae Hatake, Namikaze KahFi ErZa, Kisota, DemonSan, Pixx, Crooo, Spekol, Ari, ohSehunnieKA, Lutfi, Ryuzaki Namikaze, Anto Borok, Itamani3, Guest, Saladin no jutsu. Terimakasih juga buat kalian semua yang masih memberiku semangat untuk tetap melanjutkan fict NaruSaku karyaku. Dan makasih juga buat yang udah nge-fav and nge-follow fict ini. ^^
Oke, REVIEW PLEASE! Arigatou. ^^
